- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
Setelah beberapa tahun memutuskan untuk beristirahat, akhirnya Beavermoon kembali untuk menyelesaikan apa yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat.
Sedikit bercerita bahwa cerita ini adalah akhir dari serial Aku, Kamu, dan Lemon. Cerita ini tidak lagi mengisahkan tentang Bram, Widya, Dinda, dan yang lainnya. Cerita ini akan mengisahkan tentang sang penulis dari Aku, Kamu, dan Lemon setelah seri Buku Harian Airin berakhir. Bagaimana ia harus menjalani hidup setelah semuanya berakhir, bagaimana ia harus menyelesaikan dan menjelaskan semua cerita yang sudah ia tulis.
Lalu kenapa cerita ini masih menjadi bagian Aku, Kamu, dan Lemon jika sudah tidak ada lagi para tokoh utama dari cerita tersebut? Mungkin, apa yang dirasakan oleh sang penulis bisa menjadi penutup dari serial ini, dengan catatan telah mendapatkan izin dari beberapa orang yang "namanya" pernah tercantum di cerita sebelumnya.
Untuk kalian yang baru bergabung, mungkin bisa baca seri sebelumnya terlebih dahulu sebelum membaca seri terakhir ini.
AKU, KAMU, DAN LEMON
AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Dan bagi kalian yang sudah mengikuti dari seri pertama, selamat datang kembali. Semoga apa yang menjadi pertanyaan selama ini bisa terjawab, jika tidak terjawab maka lebih baik bertanya di kolom komentar. Satu info terakhir, seri ini akan update 3X dalam seminggu (Senin, Rabu, Jum'at) agar tidak terlalu lama. Enjoy!

Spoiler for Index:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Diubah oleh beavermoon 27-06-2020 18:27
i4munited dan 31 lainnya memberi reputasi
32
27.4K
Kutip
395
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#242
Spoiler for Episode 31:
Ku hentikan motorku di pinggir jalan dengan cepat, kemudian aku menengok ke arah Bulan dan ia pun membalas tatapanku. Aku terdiam beberapa saat sementara Bulan menampakan senyumnya, "Kamu ngomong apa barusan?"
"Aku? Oh tadi aku ngomong gimana ya pas Fahri ngomong will you marry meke Arinda..." Bulan menatap heran, "emang kenapa Yi?"
Aku pun salah tingkah, "Oh nggapapa kok, tadi aku ngga begitu denger kamu ngomong apa makanya aku sampai berhenti dulu."
Aku pun melanjutkan perjalanan yang tersisa sebentar lagi dengan berusaha sekuat mungkin untuk menutupi salah tingkahku, dan akhirnya kami pun kembali tiba di rumahku. Bulan sudah berganti baju terlebih dahulu sementara aku masih berada di lantai bawah untuk memeriksa isi kulkas. Setelah mengambil dua minuman botolan, aku pun berlalu menuju kamarku di atas.
Ku buka pintu kamar, ku lihat Bulan sudah berganti baju dan sedang membereskan koper miliknya. Ku letakkan minuman botolan di samping kopernya yang ia balas dengan, "Terima kasih." Aku mengangguk lalu duduk di sampingnya, "Lusa kamu terbang ke mana?"
Bulan sempat terdiam beberapa saat, "Bentar deh aku lupa, oh aku lusa ke x. Nah seterusnya aku lupa ke mana lagi, jadwalnya bisa berubah kapan aja semau perusahaannya."
Bulan pun sudah selesai, ku bukakan botol minuman yang sedang ku pegang lalu ku berikan kepadanya. Ku ambil botol yang ada di samping kopernya lalu krek! Beberapa tegukan sudah ku lakukan. Bulan melihat ke arah handphone miliknya, sementara aku memandangi ke arahnya dalam diam.
Aku kembali mengingat tentang apa yang tadi Bulan katakan hingga aku menghentikan motorku di tepi jalan, sebuah kalimat yang sebenarnya hanya ia pertanyakan. Bukan tentangku, bukan tentangnya, bukan tentang dia, namun semuanya menjadi pikiranku saat ini. Apa lebih baik aku memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih dari saat ini bersama Bulan?
"Jangan melamun..."
Pandanganku kembali fokus kepada Bulan, lalu aku tersenyum sambil menggelengkan kepala secara perlahan. Entah apakah masih ada pertimbangan yang membuatku hanya akan berada di posisi saat ini, aku sendiri pun tidak tau. Aku tidak tau kapan aku harus melangkah, semuanya nampak benar di pikiranku saat ini.
*
Satu hari berlalu, satu minggu berganti, satu bulan terlewati, satu tahun pun sudah dijajaki. Perubahan akan selalu ada, baik itu kecil tak terasa hingga besar dengan penampakannya yang jelas. Seperti saat ini, keadaan kedai sudah ramai sedari pagi. Entah mengapa, rasanya cukup banyak pekerja yang memutuskan untuk bekerja di kedai ini.
"Meja 7 ya Tri." Kata Gigi.
Astri pun membawa minuman tersebut ke meja pelanggan, secara bersamaan Mita kembali dengan membawa gelas kotor ke tempat cucian. Bella pun sudah kembali dari gudang lalu mendekat ke arah Rara berada.
"Ra, nanti coba hubungin supplier buah sama susu." Kata Bella.
Rara mengambil catatan tersebut, "Oke, nanti siang aku coba hubungin. Ngomong-ngomong soal tambahan display di sebelah gimana jadinya? Kalau mau mending sekalian aku hubungin orangnya siang ini."
"Mas Adrian udah setuju kok kemarin, kalau Bang Fer gimana?" Tanya Bella.
"Udah juga..." Rara mengembalikan catatan ke Bella, "yaudah kalau gitu siang ini aku hubungin orangnya biar sekalian."
"Ka Bella..." Astri mendekat ke arah Bella, "ada yang mau ketemu sama Bang Ferdi, katanya mau nanya jadwal buat ngeliput di website mereka."
"Oh biar aku aja yang ngomong ke Bang Fer." Kata Bella.
Bella meninggalkan meja bar, ia berlalu menuju di mana Ferdi berada. Ditemuinya Ferdi sedang berkutat dengan laptopnya, "Bang Fer, ada yang nyariin katanya mau nanya jadwal ngeliput."
"Ngeliput? Oke, sebentar lagi mindahin data ke laptop." Kata Ferdi.
"Ngomong-ngomong, tempat ini jadi kelewatan luasnya Bang Fer." Kata Bella.
"Maksudnya gimana Bel?" Tanya Ferdi tanpa berpaling dari laptop.
"Aku mau nyamperin Bang Fer berasa dua kali lebih jauh sekarang." Kata Bella.
Ferdi menatap ke arah Bella, "Abis kan Adrian ngga setuju kalau kita bikin lantai dua, takutnya ngga kekontrol nanti yang di atas dan kasian kalian juga. Mau ngga mau ekspansinya ya ke samping, jadinya makin jauh deh. Tapi tenang aja, bentar lagi dateng kok meja pesenan kita buat karyawan aja di sebelah pintu yang mau ke halaman belakang, jadi kita bisa istirahat di situ juga."
Bella mengangguk kemudian tersenyum. Beberapa menit berlalu dan akhirnya Ferdi Bella meninggalkan meja tersebut, "Oh iya kabarin kalau si Monster udah dateng."
Bella mengangguk lalu kembali ke belakang meja bar. Meninggalkan mereka yang sedang beraktifitas di kedai, saat ini aku masih berada di rumah. Aku mencium bau yang cukup aneh hingga berhasil membuka mataku, aku melihat sekeliling dan semuanya terasa sepi. Ku lihat pintu ke arah balkon terbuka sedikit, mungkin dari situlah sumber bau itu berasal.
Aku bangun dari tidurku, ku sempatkan untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu aku berlalu ke arah pintu balkon, kemudian aku tersenyum setelah mengetahui darimana sumber bau tersebut. Bulan sedang menggerakkan tangannya secara lihai, sesekali ia memandang jauh entah melihat ke objek apa. Aku pun mendekat secara perlahan, "Pemandangan bukan?"
"Eh Ayi..." Bulan menengok dengan cepat, "kaget, aku kira siapa tau."
Aku memeluknya dari belakang, "Ya siapa lagi yang tinggal di sini, kan cuma ada aku sama kamu doang. Tapi bener kan ini kamu mau lukis pemandangan?"
Bulan tersipu malu, "Iya bener ini pemandangan yang ada di depan aku aja. Kayaknya bisa kalau mau diolah jadi lukisan sama tema yang aku pilih. Ngomong-ngomong kamu mau ke kedai jam berapa? Ini udah mau siang loh nanti dicariin yang lain."
"Just a moment..." aku mendekapnya lebih erat, "kayaknya aku mau bolos aja hari ini."
"Kamu jangan gitu dong Yi, kasian sama yang lain. Ayo siap-siap sana abis itu berangkat, kalau mau sarapan aku bikinin dulu di bawah." Kata Bulan.
"Ngga usah, aku bikin sendiri aja." Kataku.
Aku sempat mencium pipinya sebelum aku berlalu ke dalam dan bersiap-siap untuk pergi. Setelah semuanya siap, aku pun berlalu menuju garasi dan mengendarai Syailendra untuk menuju kedai. Beberapa menit berlalu, akhirnya aku tiba di kedai. Aku masuk ke dalam lalu menyapa teman-temanku yang sedang dalam jam santai.
"Ferdi di mana?" Tanyaku.
"Lagi ada urusan tuh Mas di sana." Jawab Bella.
Aku sempat melihat ke arah Ferdi sesaat lalu aku mengangguk. Kemudian aku berlalu menuju di mana Bella berdiri, "Gimana Bel semuanya? Aman?"
"Aman kok Mas. Persediaan bahan nanti sore di kirim, terus meja pesenan lagi di perjalanan, sama barang display lusa di kirim pakai mobil box." Jelas Bella.
Aku mengarahkan tangan Bella untuk menjabat tanganku yang tentu saja membuatnya kebingungan. Aku pun tersenyum, "Selamat ya Bel, kamu udah semakin menguasai semuanya."
Bella pun membalas senyumanku, "Bisa karena terbiasa Mas, dan juga didikan Mas Adrian selama ini yang bisa bikin aku sampai di titik sekarang. Makasih banyak ya Mas."
Aku mengangguk beberapa kali kemudian kami menatap ke seisi ruangan ini. Beberapa tahun lalu, kedai ini hanya bisa untuk menyewa satu ruko berukuran sedang, tempat duduk yang tidak terlalu banyak untuk menampung pelanggan, dan suasana yang seadanya saja. Namun saat ini semuanya berubah, kami akhirnya memutuskan untuk langsung menyewa dua ruko, tempat duduk yang lebih banyak, dan juga suasana yang sudah bisa kami sesuaikan dengan kemauan kami. Seiring berjalannya waktu, akhirnya semakin terlihat apa yang kami mau.
"Ngomong-ngomong..."
Bella berhasil membuatku untuk menatapnya, "Mas Adrian sama Bang Ferdi jadi mau mindahin kedai ini?"
Aku mengangguk beberapa kali, "Kembali ke rencana awal aja sih sebenernya, aku sama Ferdi maunya buka kedai pakai rumah aja bukan ruko. Cuma karena kondisi dan lainnya akhirnya kita pakai ruko dulu untuk sementara, tapi semuanya berjalan lebih baik dari yang kita kira sampai titik ini. Jadi kalau ditanya mau mindahin kedai ini ke rumah, mungkin aja."
Sore pun tiba, kami sedang sibuk dengan urusan kami masing-masing. Aku sedang memasang meja yang dipesan untuk kami sendiri, setelah menyatukan beberapa penyangga, akhirnya meja ini berhasil berdiri dengan kokoh meskipun aku dan Ferdi sudah berdiri di atasnya.
"Akhirnya gue punya meja kerja sendiri." Kata Ferdi.
"Jadi kita ngga perlu nyamperin Bang Fer ke pojokan sana lagi." Kata Mita.
"Dan Ka Bulan juga bisa duduk di sini." Kata Bella.
Bulan pun tersenyum menanggapinya. Kami sempat berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya Bulan memutuskan pergi meninggalkan kedai ini untuk kembali ke asrama sebelum besok kembali bekerja. Setelah mengantarkan Bulan ke depan, aku kembali masuk ke dalam kedai.
"Loh cuk, lu nganterin Bulan ke mana?" Tanya Ferdi.
"Ke depan doang, temennya jemput ke sini tadi naik mobil." Kataku.
Ferdi pun duduk di sampingku sambil membawa laptopnya, "Ngomong-ngomong gimana pendapat lu tentang ini? Gue butuh pendapat jujur lu kali ini."
"Apaan sih?..." aku melihat ke arah laptopnya, "anj*ng gue kira soal kerjaan, taunya soal cewe. Lu ngga capek apa nanyain itu mulu ke gue?"
"Lu ngomong gitu mah enak soalnya udah ada yang nemenin, nah gue dari jaman lu sendiri sampai sekarang masih aja sendiri terus. Bosen juga gue Dri lama-lama." Jelas Ferdi.
"Bosen kenapa sih? Kan di sini juga ada orang-orang." Kataku.
"Gobl*k juga nih masih ngga ngerti omongan gue..." Ferdi mendorong kepalaku pelan, "maksudnya tuh gue mau gitu kalau nonton ada yang nemenin, makan ada yang nemenin, jalan gandengan tangan, pacaran-pacaran gitu loh."
"Oh ngomong dong, gampang itu mah." Kataku.
Aku memanggil Bella dengan isyarat. Bella pun duduk di hadapan kami, "Kenapa Mas?"
"Kamu single kan?" Tanyaku.
Bella menganggukkan kepalanya kemudian aku menjentikkan jariku, "Nah cocok! Bella jomblo, lu jomblo. Kenapa ngga coba buat pdkt aja dulu? Kalau cocok kan bisa jadian."
"Matamu sempal!..." Ferdi kembali mendorong kepalaku, "mana ada kayak gitu."
"Eh brengs*k, gue kasih tau ya..." aku bergantian mendorong kepalanya, "selama ini lu tuh nyari yang ngga jelas, yang ini lah, itu lah, sampai akhirnya sama aja kan semuanya. Dan sekarang udah ada yang deket, lu tau karakteristiknya gimana, lu tau sifatnya gimana, apa lagi yang lu cari? Ojo ngadi-ngadi dadi uwong cuk!" (Jangan kebanyakan gaya jadi orang.)
Ferdi dan Bella tertawa mendengar perkataan terakhirku. Aku pun berdiri dari duduk, "Udah gue ngga mau tau, kalian atur sendiri gimana kalian mau pdkt. Mau nonton kek, dinner kek, gue tinggal terima beres aja."
Aku pun meninggalkan mereka menuju ruangan belakang, aku akan menyangrai beberapa jenis biji kopi untuk dijual beberapa hari ke depan. Beberapa menit berlalu, pintu terbuka dan masuklah Bella ke dalam. Ia pun mendekat ke arahku, "Mas Adrian."
"Kenapa Bel?" Tanyaku.
"Mas sengaja ya tadi manggil aku ke meja?" Tanyanya.
"Sebenarnya sih sengaja aja biar si Ferdi mikir gitu kalau kamu tuh pernah suka sama dia, tapi kenapa dia selalu nyari yang ngga jelas di luar sana..."
Bella menatapku dalam diam.
"...tapi maaf ya Bel, aku jadi harus ngelibatin kamu. Padahal aku tau kalau kamu udah mutusin buat ngga ngejar Ferdi lagi." Kataku.
Bella tersenyum, "Nggapapa kok Mas."
Hari terus berlanjut, saat ini aku sudah kembali ke rumah dan bersantai di kamar. Layar laptop sudah menyala, aku sedang melihat-lihat harga barang-barang di situs belanja online. Halaman demi halaman aku periksa satu-persatu untuk ku bandingkan harganya, setelah itu aku kembali mengambil pensil lalu mencoret-coret selembar kertas di samping laptop.
"Mahal juga ya ternyata..." aku mencoret daftar di kertas, "kalau gitu gantinya yang ini aja deh."
Sketsa sederhana mulai ku buat, aku mulai menggambarkan bagaimana jika akhirnya aku dan Ferdi akan memindahkan kedai ke sebuah rumah. Meskipun hanya sebatang angan-angan untuk saat ini, namun aku tetap mengerjakannya dengan sepenuh hati.
*
"Loh Mas Adrian?..." Bella mendekat ke arahku, "kok tumben pagi-pagi udah ke sini?"
Ku letakkan tas di tempat biasa, "Loh emang kenapa kalau aku dateng pagi Bel? Jadi aku udah ngga boleh dateng pagi lagi nih? Oke kalau kamu maunya begitu."
"Bukan itu maksudnya Mas, kan biasanya juga dateng siang. Terlebih Mas Adrian udah beneran owner sekarang, agak aneh aja kalau Mas dateng samaan kayak kita." Kata Bella.
"Sebenernya lagi bosen aja di rumah terus mentok ngga ada ide, jadi aku ke sini aja lah pagi-pagi." Jelasku.
"Ide? Ide apaan Mas?" Tanya Bella.
Aku mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas, "Nih, angan-angan yang coba aku gambarin aja di kertas."
"Eh apaan sih..." Rara berlari ke arah kami, "mau liat juga dong."
Dan akhirnya Rara, Mita, Gigi dan Astri pun mendekat ke arah kami. Secara bersamaan mereka melihat hasil gambarku, hingga kertas itu dipegang terakhir oleh Gigi.
"Gila sih Mas Adrian, ini udah oke banget." Katanya.
"Iya bener Mas, padahal baru gambar aja aku udah bisa ngebayangin enaknya tempat ini kayak gimana." Kata Rara.
Kling! Ferdi masuk ke dalam kedai dan memandang heran ke arah kami, "Eh ada apaan nih pagi-pagi udah ngumpul? Kali ini siapa nih yang digosipin sama kalian?"
"Emang deh kalau hatinya udah keruh tuh pikirannya gosipin orang terus. Tobat lah nak sebelum ajal menjemput." Kataku.
Ferdi tertawa sambil mendekat ke arah kami. Ia pun mengambil kertas yang sedang menjadi bahan tontonan, "Bajil*k! Gambar siapa nih, kok keren banget?"
"Gambarnya Mas Adrian." Kata Mita singkat.
Ferdi menggenggam tanganku, "Memang ngga diragukan lagi deh Adrian Prawira kalau soal ide briliannya. Tapi ngga buru-buru kan? Soalnya kita kan baru ekspansi tempat ini, nunggu balik modal dulu bentar baru kita lanjutkan rencana awal kita."
"Iya tau gue..." aku memandang malas ke arahnya, "tapi bisa ngga dilepas tangannya? Apa kata orang nanti kalau ada yang liat kita kayak gini."
Kami pun tertawa. Hari pun berlanjut, mereka melakukan tugasnya masing-masing. Begitu juga dengan aku yang masih berkutat dengan biji kopi di ruangan belakang. Aku masuh memeriksa dengan teliti agar konsistensi kualitas terjaga dan pelanggan merasa puas dengan produk yang kami jual.
"Aman semuanya." Kataku seorang diri.
Aku mulai membereskan alat-alat yang baru saja ku gunakan agar kembali pada tempat asalnya. Setelah selesai, aku membuka pintu lalu keluar dari dalam ruangan. Ku temukan Bella sedang duduk seorang diri sambil menghisap rokoknya, aku pun menyalakan sebatang rokok lalu berjalan mendekat ke arahnya.
Bella menegakkan kepalanya dan sedikit terkejut dengan kedatanganku, "Eh Mas Adrian, aku kira siapa."
Aku tersenyum lalu duduk di sampingnya. Beberapa saat kami hanya saling diam, sesekali kebulan asap keluar dari mulut kami masing-masing.
"Bang Ferdi ngajak aku nonton hari Senin depan." Kata Bella.
Sengaja aku tidak menanggapi perkataan Bella, aku hanya diam sambil menatap ke arahnya. Bella kembali menghembuskan asap dari mulutnya lalu menatap ke arahku, "Aku masih bisa berubah pikiran soal waktu itu kan Mas?"
Aku kembali tersenyum, Bella pun sudah mengetahui apa jawaban dari pertanyaannya barusan. Tak terasa rokok kami pun sudah habis, kami matikan di dalam asbak.
"Ka Bulan..." Bella menyandarkan kepalanya di bahuku, "minta izin bentar ya."
Aku kembali tersenyum untuk ke sekian kalinya. Pertanyaan Bella barusan mungkin adalah ketakutan untuk sebagian orang bagi yang pernah merasakan. Mereka takut untuk kembali menarik perkataan mereka dan memilih untuk kembali melakukan hal yang sudah mereka lupakan.
Apakah salah? Bagiku tidak ada yang salah, hanya beberapa orang butuh waktu yang lebih untuk berfikir tentang jalan hidupnya. Semua pilihan mungkin masih bisa kita rubah sebelum waktunya habis atau terlambat.
Plin-plan? Tidak punya pendirian? Bagiku kembali lagi kepada pribadi itu sendiri dan lingkungannya tentang tanggapan mereka akan hal tersebut. Kadang social judgement terlalu berlebihan hingga kita takut untuk merubah apa yang sudah kita pilih. Padahal yang tau baik dan buruk tentang pilihan kita meskipun selalu berubah-ubah adalah kita sendiri.
Menjelang sore hari ini kami semua sedang berkumpul di belakang meja bar dan berbincang-bincang santai. Ting! Ku ambil handphone dari saku celanaku, ku baca pesan masuk di sana.
"Jadi gimana Dri, menurut lu mending..." Ferdi menatap ke arahku, "Dri?"
Mereka semua menatap ke arahku, aku hanya diam terpaku menatap layar handphone dengan mata yang sedikit melebar. Bella pun mendekat ke arahku, "Mas Adrian kenapa?"
Beberapa kedipan mata berhasil menyadarkanku, aku sempat melihat ke arah sekeliling. Aku berlalu mengambil tas milikku, "Eh sorry cabut duluan ya."
"Mau ke mana Dri?" Tanya Ferdi.
Pertanyaan Ferdi pun ku abaikan begitu saja. Aku berlalu menuju parkiran lalu mengemudikan Syailendra dengan kecepatan di atas rata-rata. Aku kembali tiba di rumah, ku masukkan Syailendra ke dalam garasi. Tak lama kemudian taksi online yang ku pesan tiba, aku masuk ke dalam lalu meminta pengemudinya untuk lebih cepat mengemudinya.
Beberapa jam berlalu, aku pun tiba di tujuan. Setelah membayar taksi tersebut, aku keluar dan berjalan lebih cepat. Aku tiba di depan pintu, bersama dengan beberapa orang yang sama-sama menunggu. Aku lihat ke kiri dan ke kanan, namun aku tidak melihat apa-apa. Pundak kananku ditepuk dengan pelan beberapa kali, aku pun membalikkan badanku dengan cepat.
"Renata."
***
"Aku? Oh tadi aku ngomong gimana ya pas Fahri ngomong will you marry meke Arinda..." Bulan menatap heran, "emang kenapa Yi?"
Aku pun salah tingkah, "Oh nggapapa kok, tadi aku ngga begitu denger kamu ngomong apa makanya aku sampai berhenti dulu."
Aku pun melanjutkan perjalanan yang tersisa sebentar lagi dengan berusaha sekuat mungkin untuk menutupi salah tingkahku, dan akhirnya kami pun kembali tiba di rumahku. Bulan sudah berganti baju terlebih dahulu sementara aku masih berada di lantai bawah untuk memeriksa isi kulkas. Setelah mengambil dua minuman botolan, aku pun berlalu menuju kamarku di atas.
Ku buka pintu kamar, ku lihat Bulan sudah berganti baju dan sedang membereskan koper miliknya. Ku letakkan minuman botolan di samping kopernya yang ia balas dengan, "Terima kasih." Aku mengangguk lalu duduk di sampingnya, "Lusa kamu terbang ke mana?"
Bulan sempat terdiam beberapa saat, "Bentar deh aku lupa, oh aku lusa ke x. Nah seterusnya aku lupa ke mana lagi, jadwalnya bisa berubah kapan aja semau perusahaannya."
Bulan pun sudah selesai, ku bukakan botol minuman yang sedang ku pegang lalu ku berikan kepadanya. Ku ambil botol yang ada di samping kopernya lalu krek! Beberapa tegukan sudah ku lakukan. Bulan melihat ke arah handphone miliknya, sementara aku memandangi ke arahnya dalam diam.
Aku kembali mengingat tentang apa yang tadi Bulan katakan hingga aku menghentikan motorku di tepi jalan, sebuah kalimat yang sebenarnya hanya ia pertanyakan. Bukan tentangku, bukan tentangnya, bukan tentang dia, namun semuanya menjadi pikiranku saat ini. Apa lebih baik aku memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih dari saat ini bersama Bulan?
"Jangan melamun..."
Pandanganku kembali fokus kepada Bulan, lalu aku tersenyum sambil menggelengkan kepala secara perlahan. Entah apakah masih ada pertimbangan yang membuatku hanya akan berada di posisi saat ini, aku sendiri pun tidak tau. Aku tidak tau kapan aku harus melangkah, semuanya nampak benar di pikiranku saat ini.
*
Satu hari berlalu, satu minggu berganti, satu bulan terlewati, satu tahun pun sudah dijajaki. Perubahan akan selalu ada, baik itu kecil tak terasa hingga besar dengan penampakannya yang jelas. Seperti saat ini, keadaan kedai sudah ramai sedari pagi. Entah mengapa, rasanya cukup banyak pekerja yang memutuskan untuk bekerja di kedai ini.
"Meja 7 ya Tri." Kata Gigi.
Astri pun membawa minuman tersebut ke meja pelanggan, secara bersamaan Mita kembali dengan membawa gelas kotor ke tempat cucian. Bella pun sudah kembali dari gudang lalu mendekat ke arah Rara berada.
"Ra, nanti coba hubungin supplier buah sama susu." Kata Bella.
Rara mengambil catatan tersebut, "Oke, nanti siang aku coba hubungin. Ngomong-ngomong soal tambahan display di sebelah gimana jadinya? Kalau mau mending sekalian aku hubungin orangnya siang ini."
"Mas Adrian udah setuju kok kemarin, kalau Bang Fer gimana?" Tanya Bella.
"Udah juga..." Rara mengembalikan catatan ke Bella, "yaudah kalau gitu siang ini aku hubungin orangnya biar sekalian."
"Ka Bella..." Astri mendekat ke arah Bella, "ada yang mau ketemu sama Bang Ferdi, katanya mau nanya jadwal buat ngeliput di website mereka."
"Oh biar aku aja yang ngomong ke Bang Fer." Kata Bella.
Bella meninggalkan meja bar, ia berlalu menuju di mana Ferdi berada. Ditemuinya Ferdi sedang berkutat dengan laptopnya, "Bang Fer, ada yang nyariin katanya mau nanya jadwal ngeliput."
"Ngeliput? Oke, sebentar lagi mindahin data ke laptop." Kata Ferdi.
"Ngomong-ngomong, tempat ini jadi kelewatan luasnya Bang Fer." Kata Bella.
"Maksudnya gimana Bel?" Tanya Ferdi tanpa berpaling dari laptop.
"Aku mau nyamperin Bang Fer berasa dua kali lebih jauh sekarang." Kata Bella.
Ferdi menatap ke arah Bella, "Abis kan Adrian ngga setuju kalau kita bikin lantai dua, takutnya ngga kekontrol nanti yang di atas dan kasian kalian juga. Mau ngga mau ekspansinya ya ke samping, jadinya makin jauh deh. Tapi tenang aja, bentar lagi dateng kok meja pesenan kita buat karyawan aja di sebelah pintu yang mau ke halaman belakang, jadi kita bisa istirahat di situ juga."
Bella mengangguk kemudian tersenyum. Beberapa menit berlalu dan akhirnya Ferdi Bella meninggalkan meja tersebut, "Oh iya kabarin kalau si Monster udah dateng."
Bella mengangguk lalu kembali ke belakang meja bar. Meninggalkan mereka yang sedang beraktifitas di kedai, saat ini aku masih berada di rumah. Aku mencium bau yang cukup aneh hingga berhasil membuka mataku, aku melihat sekeliling dan semuanya terasa sepi. Ku lihat pintu ke arah balkon terbuka sedikit, mungkin dari situlah sumber bau itu berasal.
Aku bangun dari tidurku, ku sempatkan untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu aku berlalu ke arah pintu balkon, kemudian aku tersenyum setelah mengetahui darimana sumber bau tersebut. Bulan sedang menggerakkan tangannya secara lihai, sesekali ia memandang jauh entah melihat ke objek apa. Aku pun mendekat secara perlahan, "Pemandangan bukan?"
"Eh Ayi..." Bulan menengok dengan cepat, "kaget, aku kira siapa tau."
Aku memeluknya dari belakang, "Ya siapa lagi yang tinggal di sini, kan cuma ada aku sama kamu doang. Tapi bener kan ini kamu mau lukis pemandangan?"
Bulan tersipu malu, "Iya bener ini pemandangan yang ada di depan aku aja. Kayaknya bisa kalau mau diolah jadi lukisan sama tema yang aku pilih. Ngomong-ngomong kamu mau ke kedai jam berapa? Ini udah mau siang loh nanti dicariin yang lain."
"Just a moment..." aku mendekapnya lebih erat, "kayaknya aku mau bolos aja hari ini."
"Kamu jangan gitu dong Yi, kasian sama yang lain. Ayo siap-siap sana abis itu berangkat, kalau mau sarapan aku bikinin dulu di bawah." Kata Bulan.
"Ngga usah, aku bikin sendiri aja." Kataku.
Aku sempat mencium pipinya sebelum aku berlalu ke dalam dan bersiap-siap untuk pergi. Setelah semuanya siap, aku pun berlalu menuju garasi dan mengendarai Syailendra untuk menuju kedai. Beberapa menit berlalu, akhirnya aku tiba di kedai. Aku masuk ke dalam lalu menyapa teman-temanku yang sedang dalam jam santai.
"Ferdi di mana?" Tanyaku.
"Lagi ada urusan tuh Mas di sana." Jawab Bella.
Aku sempat melihat ke arah Ferdi sesaat lalu aku mengangguk. Kemudian aku berlalu menuju di mana Bella berdiri, "Gimana Bel semuanya? Aman?"
"Aman kok Mas. Persediaan bahan nanti sore di kirim, terus meja pesenan lagi di perjalanan, sama barang display lusa di kirim pakai mobil box." Jelas Bella.
Aku mengarahkan tangan Bella untuk menjabat tanganku yang tentu saja membuatnya kebingungan. Aku pun tersenyum, "Selamat ya Bel, kamu udah semakin menguasai semuanya."
Bella pun membalas senyumanku, "Bisa karena terbiasa Mas, dan juga didikan Mas Adrian selama ini yang bisa bikin aku sampai di titik sekarang. Makasih banyak ya Mas."
Aku mengangguk beberapa kali kemudian kami menatap ke seisi ruangan ini. Beberapa tahun lalu, kedai ini hanya bisa untuk menyewa satu ruko berukuran sedang, tempat duduk yang tidak terlalu banyak untuk menampung pelanggan, dan suasana yang seadanya saja. Namun saat ini semuanya berubah, kami akhirnya memutuskan untuk langsung menyewa dua ruko, tempat duduk yang lebih banyak, dan juga suasana yang sudah bisa kami sesuaikan dengan kemauan kami. Seiring berjalannya waktu, akhirnya semakin terlihat apa yang kami mau.
"Ngomong-ngomong..."
Bella berhasil membuatku untuk menatapnya, "Mas Adrian sama Bang Ferdi jadi mau mindahin kedai ini?"
Aku mengangguk beberapa kali, "Kembali ke rencana awal aja sih sebenernya, aku sama Ferdi maunya buka kedai pakai rumah aja bukan ruko. Cuma karena kondisi dan lainnya akhirnya kita pakai ruko dulu untuk sementara, tapi semuanya berjalan lebih baik dari yang kita kira sampai titik ini. Jadi kalau ditanya mau mindahin kedai ini ke rumah, mungkin aja."
Sore pun tiba, kami sedang sibuk dengan urusan kami masing-masing. Aku sedang memasang meja yang dipesan untuk kami sendiri, setelah menyatukan beberapa penyangga, akhirnya meja ini berhasil berdiri dengan kokoh meskipun aku dan Ferdi sudah berdiri di atasnya.
"Akhirnya gue punya meja kerja sendiri." Kata Ferdi.
"Jadi kita ngga perlu nyamperin Bang Fer ke pojokan sana lagi." Kata Mita.
"Dan Ka Bulan juga bisa duduk di sini." Kata Bella.
Bulan pun tersenyum menanggapinya. Kami sempat berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya Bulan memutuskan pergi meninggalkan kedai ini untuk kembali ke asrama sebelum besok kembali bekerja. Setelah mengantarkan Bulan ke depan, aku kembali masuk ke dalam kedai.
"Loh cuk, lu nganterin Bulan ke mana?" Tanya Ferdi.
"Ke depan doang, temennya jemput ke sini tadi naik mobil." Kataku.
Ferdi pun duduk di sampingku sambil membawa laptopnya, "Ngomong-ngomong gimana pendapat lu tentang ini? Gue butuh pendapat jujur lu kali ini."
"Apaan sih?..." aku melihat ke arah laptopnya, "anj*ng gue kira soal kerjaan, taunya soal cewe. Lu ngga capek apa nanyain itu mulu ke gue?"
"Lu ngomong gitu mah enak soalnya udah ada yang nemenin, nah gue dari jaman lu sendiri sampai sekarang masih aja sendiri terus. Bosen juga gue Dri lama-lama." Jelas Ferdi.
"Bosen kenapa sih? Kan di sini juga ada orang-orang." Kataku.
"Gobl*k juga nih masih ngga ngerti omongan gue..." Ferdi mendorong kepalaku pelan, "maksudnya tuh gue mau gitu kalau nonton ada yang nemenin, makan ada yang nemenin, jalan gandengan tangan, pacaran-pacaran gitu loh."
"Oh ngomong dong, gampang itu mah." Kataku.
Aku memanggil Bella dengan isyarat. Bella pun duduk di hadapan kami, "Kenapa Mas?"
"Kamu single kan?" Tanyaku.
Bella menganggukkan kepalanya kemudian aku menjentikkan jariku, "Nah cocok! Bella jomblo, lu jomblo. Kenapa ngga coba buat pdkt aja dulu? Kalau cocok kan bisa jadian."
"Matamu sempal!..." Ferdi kembali mendorong kepalaku, "mana ada kayak gitu."
"Eh brengs*k, gue kasih tau ya..." aku bergantian mendorong kepalanya, "selama ini lu tuh nyari yang ngga jelas, yang ini lah, itu lah, sampai akhirnya sama aja kan semuanya. Dan sekarang udah ada yang deket, lu tau karakteristiknya gimana, lu tau sifatnya gimana, apa lagi yang lu cari? Ojo ngadi-ngadi dadi uwong cuk!" (Jangan kebanyakan gaya jadi orang.)
Ferdi dan Bella tertawa mendengar perkataan terakhirku. Aku pun berdiri dari duduk, "Udah gue ngga mau tau, kalian atur sendiri gimana kalian mau pdkt. Mau nonton kek, dinner kek, gue tinggal terima beres aja."
Aku pun meninggalkan mereka menuju ruangan belakang, aku akan menyangrai beberapa jenis biji kopi untuk dijual beberapa hari ke depan. Beberapa menit berlalu, pintu terbuka dan masuklah Bella ke dalam. Ia pun mendekat ke arahku, "Mas Adrian."
"Kenapa Bel?" Tanyaku.
"Mas sengaja ya tadi manggil aku ke meja?" Tanyanya.
"Sebenarnya sih sengaja aja biar si Ferdi mikir gitu kalau kamu tuh pernah suka sama dia, tapi kenapa dia selalu nyari yang ngga jelas di luar sana..."
Bella menatapku dalam diam.
"...tapi maaf ya Bel, aku jadi harus ngelibatin kamu. Padahal aku tau kalau kamu udah mutusin buat ngga ngejar Ferdi lagi." Kataku.
Bella tersenyum, "Nggapapa kok Mas."
Hari terus berlanjut, saat ini aku sudah kembali ke rumah dan bersantai di kamar. Layar laptop sudah menyala, aku sedang melihat-lihat harga barang-barang di situs belanja online. Halaman demi halaman aku periksa satu-persatu untuk ku bandingkan harganya, setelah itu aku kembali mengambil pensil lalu mencoret-coret selembar kertas di samping laptop.
"Mahal juga ya ternyata..." aku mencoret daftar di kertas, "kalau gitu gantinya yang ini aja deh."
Sketsa sederhana mulai ku buat, aku mulai menggambarkan bagaimana jika akhirnya aku dan Ferdi akan memindahkan kedai ke sebuah rumah. Meskipun hanya sebatang angan-angan untuk saat ini, namun aku tetap mengerjakannya dengan sepenuh hati.
*
"Loh Mas Adrian?..." Bella mendekat ke arahku, "kok tumben pagi-pagi udah ke sini?"
Ku letakkan tas di tempat biasa, "Loh emang kenapa kalau aku dateng pagi Bel? Jadi aku udah ngga boleh dateng pagi lagi nih? Oke kalau kamu maunya begitu."
"Bukan itu maksudnya Mas, kan biasanya juga dateng siang. Terlebih Mas Adrian udah beneran owner sekarang, agak aneh aja kalau Mas dateng samaan kayak kita." Kata Bella.
"Sebenernya lagi bosen aja di rumah terus mentok ngga ada ide, jadi aku ke sini aja lah pagi-pagi." Jelasku.
"Ide? Ide apaan Mas?" Tanya Bella.
Aku mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas, "Nih, angan-angan yang coba aku gambarin aja di kertas."
"Eh apaan sih..." Rara berlari ke arah kami, "mau liat juga dong."
Dan akhirnya Rara, Mita, Gigi dan Astri pun mendekat ke arah kami. Secara bersamaan mereka melihat hasil gambarku, hingga kertas itu dipegang terakhir oleh Gigi.
"Gila sih Mas Adrian, ini udah oke banget." Katanya.
"Iya bener Mas, padahal baru gambar aja aku udah bisa ngebayangin enaknya tempat ini kayak gimana." Kata Rara.
Kling! Ferdi masuk ke dalam kedai dan memandang heran ke arah kami, "Eh ada apaan nih pagi-pagi udah ngumpul? Kali ini siapa nih yang digosipin sama kalian?"
"Emang deh kalau hatinya udah keruh tuh pikirannya gosipin orang terus. Tobat lah nak sebelum ajal menjemput." Kataku.
Ferdi tertawa sambil mendekat ke arah kami. Ia pun mengambil kertas yang sedang menjadi bahan tontonan, "Bajil*k! Gambar siapa nih, kok keren banget?"
"Gambarnya Mas Adrian." Kata Mita singkat.
Ferdi menggenggam tanganku, "Memang ngga diragukan lagi deh Adrian Prawira kalau soal ide briliannya. Tapi ngga buru-buru kan? Soalnya kita kan baru ekspansi tempat ini, nunggu balik modal dulu bentar baru kita lanjutkan rencana awal kita."
"Iya tau gue..." aku memandang malas ke arahnya, "tapi bisa ngga dilepas tangannya? Apa kata orang nanti kalau ada yang liat kita kayak gini."
Kami pun tertawa. Hari pun berlanjut, mereka melakukan tugasnya masing-masing. Begitu juga dengan aku yang masih berkutat dengan biji kopi di ruangan belakang. Aku masuh memeriksa dengan teliti agar konsistensi kualitas terjaga dan pelanggan merasa puas dengan produk yang kami jual.
"Aman semuanya." Kataku seorang diri.
Aku mulai membereskan alat-alat yang baru saja ku gunakan agar kembali pada tempat asalnya. Setelah selesai, aku membuka pintu lalu keluar dari dalam ruangan. Ku temukan Bella sedang duduk seorang diri sambil menghisap rokoknya, aku pun menyalakan sebatang rokok lalu berjalan mendekat ke arahnya.
Bella menegakkan kepalanya dan sedikit terkejut dengan kedatanganku, "Eh Mas Adrian, aku kira siapa."
Aku tersenyum lalu duduk di sampingnya. Beberapa saat kami hanya saling diam, sesekali kebulan asap keluar dari mulut kami masing-masing.
"Bang Ferdi ngajak aku nonton hari Senin depan." Kata Bella.
Sengaja aku tidak menanggapi perkataan Bella, aku hanya diam sambil menatap ke arahnya. Bella kembali menghembuskan asap dari mulutnya lalu menatap ke arahku, "Aku masih bisa berubah pikiran soal waktu itu kan Mas?"
Aku kembali tersenyum, Bella pun sudah mengetahui apa jawaban dari pertanyaannya barusan. Tak terasa rokok kami pun sudah habis, kami matikan di dalam asbak.
"Ka Bulan..." Bella menyandarkan kepalanya di bahuku, "minta izin bentar ya."
Aku kembali tersenyum untuk ke sekian kalinya. Pertanyaan Bella barusan mungkin adalah ketakutan untuk sebagian orang bagi yang pernah merasakan. Mereka takut untuk kembali menarik perkataan mereka dan memilih untuk kembali melakukan hal yang sudah mereka lupakan.
Apakah salah? Bagiku tidak ada yang salah, hanya beberapa orang butuh waktu yang lebih untuk berfikir tentang jalan hidupnya. Semua pilihan mungkin masih bisa kita rubah sebelum waktunya habis atau terlambat.
Plin-plan? Tidak punya pendirian? Bagiku kembali lagi kepada pribadi itu sendiri dan lingkungannya tentang tanggapan mereka akan hal tersebut. Kadang social judgement terlalu berlebihan hingga kita takut untuk merubah apa yang sudah kita pilih. Padahal yang tau baik dan buruk tentang pilihan kita meskipun selalu berubah-ubah adalah kita sendiri.
Menjelang sore hari ini kami semua sedang berkumpul di belakang meja bar dan berbincang-bincang santai. Ting! Ku ambil handphone dari saku celanaku, ku baca pesan masuk di sana.
"Jadi gimana Dri, menurut lu mending..." Ferdi menatap ke arahku, "Dri?"
Mereka semua menatap ke arahku, aku hanya diam terpaku menatap layar handphone dengan mata yang sedikit melebar. Bella pun mendekat ke arahku, "Mas Adrian kenapa?"
Beberapa kedipan mata berhasil menyadarkanku, aku sempat melihat ke arah sekeliling. Aku berlalu mengambil tas milikku, "Eh sorry cabut duluan ya."
"Mau ke mana Dri?" Tanya Ferdi.
Pertanyaan Ferdi pun ku abaikan begitu saja. Aku berlalu menuju parkiran lalu mengemudikan Syailendra dengan kecepatan di atas rata-rata. Aku kembali tiba di rumah, ku masukkan Syailendra ke dalam garasi. Tak lama kemudian taksi online yang ku pesan tiba, aku masuk ke dalam lalu meminta pengemudinya untuk lebih cepat mengemudinya.
Beberapa jam berlalu, aku pun tiba di tujuan. Setelah membayar taksi tersebut, aku keluar dan berjalan lebih cepat. Aku tiba di depan pintu, bersama dengan beberapa orang yang sama-sama menunggu. Aku lihat ke kiri dan ke kanan, namun aku tidak melihat apa-apa. Pundak kananku ditepuk dengan pelan beberapa kali, aku pun membalikkan badanku dengan cepat.
"Renata."
***
oktavp dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas