- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Terima karena Allah
...
TS
syrmey
Aku Terima karena Allah


Quote:
Quote:
PROLOG
Hiruk pikuk orang-orang berlalu lalang dalam rumah mempersiapkan segala keperluan untuk acara akad nikahku yang akan dilaksanakan hari ini. Sebenarnya batinku masih merontak, tidak hendak menuruti kehendak ayah dan ibu. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku benci situasi ini, aku benci suasana ini. Tiba-tiba air mataku jatuh. “Pengantin prianya sudah datang!” terdengar suara itu samar-samar. Tidak lama ibu pun masuk dan membimbingku keluar. Aku sudah duduk di samping Azzam, dan bapak penghulu sepertinya juga sudah siap.
“Bismillahirrahmanirrahim
Ankahtuka wazawwajtuka maktubataka binti Syafahira Dhanisa alal mahri bi mahrin mushafin hallan” suara Pak Ahsan
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi wallahu waliyu taufiq” suara Azzam yang tak kalah lantang dari suara ayah.
“Sah!”
“Sah!”
“Alhamdulillah”
Tak terasa air mataku mengalir. Kini aku resmi menjadi istri Azzam. Aku tidak tahu bagaimana perjalanan hidupku selanjutnya.
Ibu memberikan kode agar aku mencium tangan suamiku.
Aku menurut dan mencium tangan Azzam, harum. Setelah aku mencium tangannya ia berbalik mencium keningku dengan lembut.
Ayah menepuk pundak Azzam sambil mengatakan sesuatu. “Azzam, ayah titip Nisa dengan kau, tolong jaga dia”
Azzam mengangguk. “Iya ayah. Aku akan menjaganya”
Ayah menepuk kembali pundak Azzam pertanda ia yakin kalau Azzam akan menjalankan kewajibannya.
Malam ini bintang bertaburan dilangit, mereka seolah-olah berlomba-lomba untuk menampakkan sinarnya yang paling terang. Aku masih duduk dikursi sambil menghadap jendala, kepalaku menengadah ke langit. Hembusan lembut angin malam menerpa wajahku membuat rambutku yang terurai sebahu, tersibak.
Clek
Suara pintu kamarku terbuka. Aku yakin itu pasti Abang Azzam. Aku hanya diam tidak menggubrisnya. Meskipun kami berdua di kamar ini, tapi belum ada percakapan yang berlangsung. Hening!. Sunyi! hanya terdengar suara jangkrik memecah kesunyian.
Aku merubah posisiku, menghadap Abang Azzam yang duduk di tempat tidur. Ada sesuatu yang aku hendak tanyakan.
“Abang kenapa abang terima?” kataku memulai. Aku menanyakan itu karena batin masih saja menolak.
“Saya terima karena Allah...”
“Maksudnya karena Allah?” tanyaku tidak paham.
Lama abang Azzam diam, lalu berbicara lagi menjawab pertanyaanku. Aku merubah posisiku kembali seperti semula, menengadahkan kepala menghadap ke langit dengan jendela kamar yang masih terbuka.
“Saya terima karena Allah subhanahuwata’ala. Kita ini ijab dan qabul maknanya bahwa saya memanglah ditakdirkan untuk berjodoh dengan Nisa. Itu maksud saya karena Allah. Kalau Allah tidak mengizinkan, tentu kita tidak akan menikah. Sesungguhnya Allah itu Maha Adil. Jodoh, maut semuanya sudah diatur oleh Allah.”
Suara Abang Azzam terputus.
“Mungkin begitulah ketentuannya Nisa. Kalau jodoh saya memang dengan Nisa, tentu mau menunggu sampai kapan pun kita pasti akan tetap menikah. Kalau Nisa masih belum ikhlas bersuamikan saya. Tidak apa. Saya iklas, sampai suatu saat nanti Nisa mau menerima saya sebagai suami Nisa. Dan Nisa juga bisa menerima saya karena Allah.
“Bismillahirrahmanirrahim
Ankahtuka wazawwajtuka maktubataka binti Syafahira Dhanisa alal mahri bi mahrin mushafin hallan” suara Pak Ahsan
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi wallahu waliyu taufiq” suara Azzam yang tak kalah lantang dari suara ayah.
“Sah!”
“Sah!”
“Alhamdulillah”
Tak terasa air mataku mengalir. Kini aku resmi menjadi istri Azzam. Aku tidak tahu bagaimana perjalanan hidupku selanjutnya.
Ibu memberikan kode agar aku mencium tangan suamiku.
Aku menurut dan mencium tangan Azzam, harum. Setelah aku mencium tangannya ia berbalik mencium keningku dengan lembut.
Ayah menepuk pundak Azzam sambil mengatakan sesuatu. “Azzam, ayah titip Nisa dengan kau, tolong jaga dia”
Azzam mengangguk. “Iya ayah. Aku akan menjaganya”
Ayah menepuk kembali pundak Azzam pertanda ia yakin kalau Azzam akan menjalankan kewajibannya.
***
Malam ini bintang bertaburan dilangit, mereka seolah-olah berlomba-lomba untuk menampakkan sinarnya yang paling terang. Aku masih duduk dikursi sambil menghadap jendala, kepalaku menengadah ke langit. Hembusan lembut angin malam menerpa wajahku membuat rambutku yang terurai sebahu, tersibak.
Clek
Suara pintu kamarku terbuka. Aku yakin itu pasti Abang Azzam. Aku hanya diam tidak menggubrisnya. Meskipun kami berdua di kamar ini, tapi belum ada percakapan yang berlangsung. Hening!. Sunyi! hanya terdengar suara jangkrik memecah kesunyian.
Aku merubah posisiku, menghadap Abang Azzam yang duduk di tempat tidur. Ada sesuatu yang aku hendak tanyakan.
“Abang kenapa abang terima?” kataku memulai. Aku menanyakan itu karena batin masih saja menolak.
“Saya terima karena Allah...”
“Maksudnya karena Allah?” tanyaku tidak paham.
Lama abang Azzam diam, lalu berbicara lagi menjawab pertanyaanku. Aku merubah posisiku kembali seperti semula, menengadahkan kepala menghadap ke langit dengan jendela kamar yang masih terbuka.
“Saya terima karena Allah subhanahuwata’ala. Kita ini ijab dan qabul maknanya bahwa saya memanglah ditakdirkan untuk berjodoh dengan Nisa. Itu maksud saya karena Allah. Kalau Allah tidak mengizinkan, tentu kita tidak akan menikah. Sesungguhnya Allah itu Maha Adil. Jodoh, maut semuanya sudah diatur oleh Allah.”
Suara Abang Azzam terputus.
“Mungkin begitulah ketentuannya Nisa. Kalau jodoh saya memang dengan Nisa, tentu mau menunggu sampai kapan pun kita pasti akan tetap menikah. Kalau Nisa masih belum ikhlas bersuamikan saya. Tidak apa. Saya iklas, sampai suatu saat nanti Nisa mau menerima saya sebagai suami Nisa. Dan Nisa juga bisa menerima saya karena Allah.
Diubah oleh syrmey 13-04-2020 06:28
0
1.2K
8
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
syrmey
#2
Aku Terima karena Allah
CHAPTER 2
Nasi dengan lauk pauk yang banyak terhidang di depan meja. Ibu, ayah dan juga aku telah siap untuk menyantap makan malam ini. Suap demi suap aku nasi masuk ke dalam mulut, begitu nikmat rasanya. Tak ada lagi aku hiraukan perkataan ibu dan ayah tentang perjodohan itu. Tiba-tiba saja di penghujung makanku, ayah dan ibu mengatakan harus pergi ke Singapura karena ada beberapa urusan pekerjaan ayah di sana.
“Nisa, Ibu dan Ayah seminggu lagi akan bertolak ke Singapura”
“Hem, berapa hari Ayah dan Ibu tinggal disana?” tanyaku sembari menyuapkan nasi masuk ke dalam mulut.
“Bukan satu dua hari, tapi mungkin lima bulan Nisa”
“Hah! lama sekali Bu. Kenapa tidak selepas idul fitri saja, karena sekitar dua minggu lagi kitakan juga akan menjalankan ibadah puasa”
“Yang namanya pekerjaan mana bisa ditunda Nisa. Lagi pula bukan hanya urusan kerja di sana. Tapi ada juga beberapa proyek almarhum abangmu yang masih hendak dilanjutkan! dan kita tidak mungkin juga akan membawa Nisa ikut karena Nisa akan mengikuti ujian kelulusan kan sebentar lagi?”
Aku mengangguk. Sembari dalam hati aku berpikir berarti niat ayah dan ibu untuk perjodohan itu pasti akan dibatalkan. Raut wajahku berubah senang.
“Nggak apa-apalah, Ibu dan Ayah nggak usah gelisah begitu. Nisa bisa kok jaga diri” kata Dhanisa sambil tersenyum.
“Tidak! Nisa tidak akan tinggal sendiri di sini.”
“Terus dengan siapa?”
“Dengan Abang Azzam-lah. Lagi pula Ibu tidak akan tenang hendak pergi kalau membiarkan Nisa tinggal sendiri dalam rumah ini!” kata ibu.
Aku melihat ibu mengerlingkan mata ke arah ayah. Tampak olehku ayah menarik napas dalam-dalam.
“Nisa! Ibu, Ayah juga keluarga paman Hamzah telah berunding untuk menyegerakan pernikahan Nisa dengan Azzam”
Seketika aku tersedak karena nasi yang aku telan belum sepenuhnya melewati kerongkonganku, ditambah lagi dengan perkataan ibu tadi. Namun, aku masih mencoba untuk tenang. Aku menggapai gelas berisikan air putih yang berada di depanku lalu meneguknya.
“Ha-ha, Ibu dan Ayah bercandakan? Ibu janganlah berlebihan kalau bercanda nih” ucapku, yang aku kira ayah dan ibu hanya melempar lelucon.
“Siapa yang bercanda, kami serius Nisa” ibu bersuara.
Berkerut dahiku mendengar perkataan ibu barusan. Sepertinya mereka sangat ingin agar aku segera menikah dengan Abang Azzam.
“Bu, Ibu tahukan menikah itu tidak bisa dianggap main-main?”
“Ya, ibu tahu”
“Nah, ini soal masa depan Nisa Ibu. Biarlah dulu Nisa selesaikan studi. Ibu juga tahukan kalau Abang Azzam sepupu Nisa. Abang Azzam tuh juga guru di sekolah Nisa, mengajar di kelas Nisa juga. Dia mengajar bidang agama, tepatnya mata pelajaran Alqur’an Hadist. Mata pelajaran yang Nisa tidak kuasai.”
Berbicara tentang abang Azzam. Dia adalah ustadz di sekolahku, ustadz yang bisa dibilang sangat populer di sekolah. Dia belum beristri, mungkin karena itulah banyak wanita yang terpesona selalu berusaha menarik perhatiannya, termasuk juga guru di sana dan bahkan anak muridnya sendiri. Tapi kalau dibilang tampan, menurutku dia biasa-biasa saja. Mungkin karena dalam pandangan aku dia bukalah lelaki idamanku, sehingga tidak pula aku tertarik dengannya. Sampai-sampai mareka yang mengagumi Ustadz Azzam membentuk sebuah kelompok yang mereka sebut “Fans Club Ustadz Azzam”.
Aku hanya mendiamkan diri sejenak sewaktu mendengarkan pekataan ibu. Kemudian nasi yang masih tersisa di dalam piring aku habiskan. Untung saja nasi yang tersisa di piring tinggal sedikit lagi. Malas aku lama-lama mendengar celotehan ibu dan ayah di atas meja makan ini. Panas rasanya telingaku mendengarnya. Sebaiknya aku segera menyelesaikan makanku dan beranjak dari meja makan.
“Ibu percayalah, Nisa pasti bisa jaga diri. Okey” kataku masih berusaha meyakinkan ibu.
“Heh! Ibu tidak percaya Nisa. Kalau ada si Azzam tentu sudah tenanglah hati Ibu dan Ayah nih. Kalau Nisa nikah dengan Azzam sudah pasti Azzam akan menjaga Nisa.”
“Sudahlah Bu! jangalah terlalu mengkhawatirkan Nisa”
“Bagaimana Ibu tidak khawatir Nisa!” nadanya mulai meninggi. “Sedangkan kami yang selalu memantau Nisa, menasehati Nisa setiap hari tetap saja membebal. Entah keluar ke mana, dengan lelaki mana. Balik selalu larut malam” jelas Ibu yang selalu menerangkan tentang perilakuku.
Aku diam sejenak. Setelah memastikan nasi yang ada dipiring telah habis aku lahap. Aku langsung pergi meninggalkan meja makan karena kuping sudah begitu panas mendengar celotehan ibu.
“Hah! lihat itu! belum juga orang tua selesai berbicara langsung main pergi saja dia! Nisa! Nisa kamu dengar tidak apa yang ibu bilang tadi?” teriak ibu dengan nada suara meninggi.
Aku kemudian berhenti. Menatap raut wajah ibu yang terus memandangku. Namun, aku hanya memandang dan bertingkah seolah tak bersalah. Aku melihat ayah menggelengkan kepala ke arah ibu.
“Sudahlah Bu, nanti lagi kita bicarakan” kata ayah berusaha menenangkan ibu.
Aku bernapas lega. Ku lanjutkan kembali langkah kakiku menuju dapur.
'Yes, selamat! selamat! untung ada ayah yang membelaku tadi' ucapku dalam hati.
Aku duduk sofa empuk, sambil menyalakan LED TV yang terpampang di depanku. Ku lihat ayah dan ibu juga ikut bergabung denganku untuk menonton tayangan.
Ayah memulai pembicaraan.
“Nisa!”
“Hmm”
“Setuju atau tidak. Yang jelas kami sudah menganggap kalau Nisa sudah setuju dengan keputusan tadi”
“Setuju! Setuju apa? kapan Nisa bilang setuju?”, ujarku kesal.
‘Kenapa tiba-tiba ayah berkata seperti itu?’ pikirku. Aku kira ayah tadi diam karena ia berpihak dengan aku. Ternyata ayah diam karena malas hendak bertengkar. Aku masih duduk di sofa dengan tangan kanan menopang dagu. Mataku masih lekat memandang televisi yang menyala di depan. Melihat aku yang tidak mereaksi lagi ibu mengambil remotetelevisi yang ada ditanganku. Seketika saja layar televisi berubah menjadi gelap. Aku menghela napas panjang.
Kalau saat ini, orang tua sibuk menyuruh anak perawannya yang sudah berumur tiga puluhan untuk menikah. Tapi lain halnya dengan ini, belum juga masuk dua puluh tahun sudah diminta untuk menikah. Ishh! jika memang diminta untuk menikah, baguslah kalau disuruh menikah dengan seorang dokter, atau dosen atau paling tidak dengan seorang pengacara-lah. Baru aku semangat dan setuju untuk menerima pertunangan itu. Nah ini! aku dijodohkan dengan seorang ustadz dan tidak tahannya saudara sepupu lagi!. Histt, malas sekali!.
Aku benar-benar kesal mendengar keputusan ayah dan ibu. Jika aku menikah sebelum ujian kelulusan dilaksanakan bisa-bisa sekolah mengeluarkan aku, dan melarang aku untuk ikut melaksanakan ujian kelulusan madrasah.
“Kalau Ayah dan Ibu hanya menyuruh supaya abang Azzam menjaga Nisa, sebaiknya Ibu dengan Ayah minta saja abang Azzam supaya sesekali datang untuk melihatku dan menjengukku di rumah” usulku.
“Alah! kita orang tuamu saja yang selalu mengawasi selama 24 jam, tapi sikap tuh tidak juga berubah. Capek ibu dan ayah nasihati Nisa terus, tapi Nisa tidak pernah mau merubah sikap dan perilaku Nisa” bantah Ibu.
Aku mencoba membela diri. “Ibu dan Ayah menjaga Nisa 24 jam apanya? Ibu dan Ayah saja sibuk dengan pekerjaan yang banyak, pulang kadang juga malam.”
Aku diam sebentar, kemudian menyambung pembicaraan sebelumnya, “Jadi, kalau begitu tidak ada bedanya kan kalau Nisa menikah atau tidak?,” sambungku.
Ibu berdiam, terlihat mengatur napasnya.
“Ya, setidak-tidaknya, Ibu tenanglah kalau meninggalkan Nisa karena tidak sendirian di rumah, karena Nisa tidak akan bisa berbuat semau Nisa. Ibu tidak mau ketika kami pulang nanti Nisa tiba-tiba hamil sembilan bulan. Hah! setelah itu barulah timbul rasa penyesalan karena tidak mau mendengar perkataan orang tua. Nisa juga tidak boleh terlalu percaya dengan teman laki-laki Nisa itu. Kalau dia itu laki-laki yang baik, tentu dia tidak akan membawa jalan anak gadis orang sampai larut malamkan?”
Kaget aku mendengar apa yang dikatakan ibu. Tidak aku sangka pikiran ibu bisa sampai ke sana. “Ih, Ibu nih bicara apalah?”. Aku menjeda pembicaraanku kemudian melanjutkannya kembali. “Ibu, selama ini Nisa-lah yang selalu mengajak Fey untuk keluar. Bukan dia!. Janganlah Ibu tuh salah sangka dulu dan menuduh orang yang tidak-tidak. Itu tidak baik Bu!”
“Hah! kalau Nisa keluar rumah terus pulang sampai larut malam itu, apakah baik?” celah ibu.
“Nisa! apa Nisa tahu kalau tingkah Nisa sudah menjadi bahan perbincangan warga”
Aku hanya diam. Aku sempat tak menyangka jika kebiasaanku keluar sampai laut malam manjadi perhatian orang-orang sekitar. Ah! aku nggak peduli dengan semua itu!. Yang jelas aku harus mencari jalan keluar sepaya bisa mengagalkan rencana ayah dan ibu. Aku memainkan rambutku sambil berpikir keras.
“Ibu”
“Hmm”
“Bu, Ibu nggak usah bersusah payah sampai menyuruh Nisa untuk menikah. Biarlah! Nisa sudah bisa jaga diri sendiri. Ibu tidak perlu khawatir. Nisa sudah dewasa, sudah 18 tahun” godaku kepada ibu sambil memelas, berharap keputusan itu bisa berubah.
“Meskipun sekarang kau sudah dewasa tetap saja menjadi tanggungan Ayah dan Ibu. Kalau memang Nisa sudah dewasa tentulah Nisa tahu mana sikap yang baik dan mana yang tidak baik. Tapi ini masih juga belum sadar diri, jalan dengan laki-laki sampai larut malam, nongkrong di warung Mak Silah sampai tengah malam. Apakah sikap yang seperti itu yang dikatakan bersikap dewasa. Kalau orang tua menasehati, Nisa buat seolah-olah tidak mendengar. Sudah itu kalau salah selalu saja mencela dan membela diri. Kalau dulu ibu selalu menurut dengan apa yang dikatakan orang tua, tidak melawan seperti Nisa ini” ucap Ibu panjang lebar, menerangkan.
Aku berpikir sebenarnya memang betul apa yang dikatakan ibu tentang perilaku aku yang jarang di rumah. Bagaimana bisa aku betah di rumah. Aku selalu bosan bila terus berada dalam rumah tidak ada teman untuk berbagi cerita. Ingin berbagi cerita dengan ayah dan Ibu. Tapi apa daya ayah dan ibu selalu sibuk, aku belum bangun ayah dan ibu sudah sibuk mau berangkat kerja kemudian pulang pukul 9 malam kadang sampai pukul 12 malam barulah mereka sampai rumah.
Dengan begitupun aku sering nongkrong bersama geng De Langit di warung Mak Silah yang kami sebut sebagai basecamp kami, sambil membawa laptopku karena di warung Mak Silah ada Wi-Fi. Aku juga kadang-kadang makan malam di sana. Siapa lagi yang mau aku ajak keluar malam, hanya Fey, Sadam atau Jovan kalau Jihan sekarang sepertinya sudah sulit hendak di ajak jalan keluar malam. Biasalah sama seperti dengan ayah dan ibuku yang juga melarang cuman bedanya kalau Jihan menurut, kalau aku agak melanggar sedikit perkataan ayah dan ibu. Lagian aku juga tidak mungkin di rumah terus hanya menatap LED TV dan dinding rumah 24 jam. Bosanlah.
Pernah suatu ketika aku diajak Fey, Jovan dan Sadam untuk ikut lomba memancing. Jarak kolam pemacingan itu juga tidak jauh dari rumah. Aku sampai rumah pukul 2 malam karena aku ikut mereka. Ibu juga masih sering mengungkit hal ini. Bukannya aku sengaja untuk pulang larut malam, karena memang waktu itu ada lomba memancing, orang disana begitu riuh, meriah. Karena takut dimarah Ibu aku meminta Fey untuk menemaniku pulang sambil menjelaskan semuanya pada ayah dan ibu di rumah.
“Maaf Bu,” nadaku pelan, karena merasa bersalah pulang terlambat.
Ibu hanya diam, namun matanya yang berbicara. “Hem, iya ibu maafkan”
Dada akan terasa lapang jika mendengar jawaban ibu.
“Nisa, Ibu dan Ayah seminggu lagi akan bertolak ke Singapura”
“Hem, berapa hari Ayah dan Ibu tinggal disana?” tanyaku sembari menyuapkan nasi masuk ke dalam mulut.
“Bukan satu dua hari, tapi mungkin lima bulan Nisa”
“Hah! lama sekali Bu. Kenapa tidak selepas idul fitri saja, karena sekitar dua minggu lagi kitakan juga akan menjalankan ibadah puasa”
“Yang namanya pekerjaan mana bisa ditunda Nisa. Lagi pula bukan hanya urusan kerja di sana. Tapi ada juga beberapa proyek almarhum abangmu yang masih hendak dilanjutkan! dan kita tidak mungkin juga akan membawa Nisa ikut karena Nisa akan mengikuti ujian kelulusan kan sebentar lagi?”
Aku mengangguk. Sembari dalam hati aku berpikir berarti niat ayah dan ibu untuk perjodohan itu pasti akan dibatalkan. Raut wajahku berubah senang.
“Nggak apa-apalah, Ibu dan Ayah nggak usah gelisah begitu. Nisa bisa kok jaga diri” kata Dhanisa sambil tersenyum.
“Tidak! Nisa tidak akan tinggal sendiri di sini.”
“Terus dengan siapa?”
“Dengan Abang Azzam-lah. Lagi pula Ibu tidak akan tenang hendak pergi kalau membiarkan Nisa tinggal sendiri dalam rumah ini!” kata ibu.
Aku melihat ibu mengerlingkan mata ke arah ayah. Tampak olehku ayah menarik napas dalam-dalam.
“Nisa! Ibu, Ayah juga keluarga paman Hamzah telah berunding untuk menyegerakan pernikahan Nisa dengan Azzam”
Seketika aku tersedak karena nasi yang aku telan belum sepenuhnya melewati kerongkonganku, ditambah lagi dengan perkataan ibu tadi. Namun, aku masih mencoba untuk tenang. Aku menggapai gelas berisikan air putih yang berada di depanku lalu meneguknya.
“Ha-ha, Ibu dan Ayah bercandakan? Ibu janganlah berlebihan kalau bercanda nih” ucapku, yang aku kira ayah dan ibu hanya melempar lelucon.
“Siapa yang bercanda, kami serius Nisa” ibu bersuara.
Berkerut dahiku mendengar perkataan ibu barusan. Sepertinya mereka sangat ingin agar aku segera menikah dengan Abang Azzam.
“Bu, Ibu tahukan menikah itu tidak bisa dianggap main-main?”
“Ya, ibu tahu”
“Nah, ini soal masa depan Nisa Ibu. Biarlah dulu Nisa selesaikan studi. Ibu juga tahukan kalau Abang Azzam sepupu Nisa. Abang Azzam tuh juga guru di sekolah Nisa, mengajar di kelas Nisa juga. Dia mengajar bidang agama, tepatnya mata pelajaran Alqur’an Hadist. Mata pelajaran yang Nisa tidak kuasai.”
Berbicara tentang abang Azzam. Dia adalah ustadz di sekolahku, ustadz yang bisa dibilang sangat populer di sekolah. Dia belum beristri, mungkin karena itulah banyak wanita yang terpesona selalu berusaha menarik perhatiannya, termasuk juga guru di sana dan bahkan anak muridnya sendiri. Tapi kalau dibilang tampan, menurutku dia biasa-biasa saja. Mungkin karena dalam pandangan aku dia bukalah lelaki idamanku, sehingga tidak pula aku tertarik dengannya. Sampai-sampai mareka yang mengagumi Ustadz Azzam membentuk sebuah kelompok yang mereka sebut “Fans Club Ustadz Azzam”.
Aku hanya mendiamkan diri sejenak sewaktu mendengarkan pekataan ibu. Kemudian nasi yang masih tersisa di dalam piring aku habiskan. Untung saja nasi yang tersisa di piring tinggal sedikit lagi. Malas aku lama-lama mendengar celotehan ibu dan ayah di atas meja makan ini. Panas rasanya telingaku mendengarnya. Sebaiknya aku segera menyelesaikan makanku dan beranjak dari meja makan.
“Ibu percayalah, Nisa pasti bisa jaga diri. Okey” kataku masih berusaha meyakinkan ibu.
“Heh! Ibu tidak percaya Nisa. Kalau ada si Azzam tentu sudah tenanglah hati Ibu dan Ayah nih. Kalau Nisa nikah dengan Azzam sudah pasti Azzam akan menjaga Nisa.”
“Sudahlah Bu! jangalah terlalu mengkhawatirkan Nisa”
“Bagaimana Ibu tidak khawatir Nisa!” nadanya mulai meninggi. “Sedangkan kami yang selalu memantau Nisa, menasehati Nisa setiap hari tetap saja membebal. Entah keluar ke mana, dengan lelaki mana. Balik selalu larut malam” jelas Ibu yang selalu menerangkan tentang perilakuku.
Aku diam sejenak. Setelah memastikan nasi yang ada dipiring telah habis aku lahap. Aku langsung pergi meninggalkan meja makan karena kuping sudah begitu panas mendengar celotehan ibu.
“Hah! lihat itu! belum juga orang tua selesai berbicara langsung main pergi saja dia! Nisa! Nisa kamu dengar tidak apa yang ibu bilang tadi?” teriak ibu dengan nada suara meninggi.
Aku kemudian berhenti. Menatap raut wajah ibu yang terus memandangku. Namun, aku hanya memandang dan bertingkah seolah tak bersalah. Aku melihat ayah menggelengkan kepala ke arah ibu.
“Sudahlah Bu, nanti lagi kita bicarakan” kata ayah berusaha menenangkan ibu.
Aku bernapas lega. Ku lanjutkan kembali langkah kakiku menuju dapur.
'Yes, selamat! selamat! untung ada ayah yang membelaku tadi' ucapku dalam hati.
***
Aku duduk sofa empuk, sambil menyalakan LED TV yang terpampang di depanku. Ku lihat ayah dan ibu juga ikut bergabung denganku untuk menonton tayangan.
Ayah memulai pembicaraan.
“Nisa!”
“Hmm”
“Setuju atau tidak. Yang jelas kami sudah menganggap kalau Nisa sudah setuju dengan keputusan tadi”
“Setuju! Setuju apa? kapan Nisa bilang setuju?”, ujarku kesal.
‘Kenapa tiba-tiba ayah berkata seperti itu?’ pikirku. Aku kira ayah tadi diam karena ia berpihak dengan aku. Ternyata ayah diam karena malas hendak bertengkar. Aku masih duduk di sofa dengan tangan kanan menopang dagu. Mataku masih lekat memandang televisi yang menyala di depan. Melihat aku yang tidak mereaksi lagi ibu mengambil remotetelevisi yang ada ditanganku. Seketika saja layar televisi berubah menjadi gelap. Aku menghela napas panjang.
Kalau saat ini, orang tua sibuk menyuruh anak perawannya yang sudah berumur tiga puluhan untuk menikah. Tapi lain halnya dengan ini, belum juga masuk dua puluh tahun sudah diminta untuk menikah. Ishh! jika memang diminta untuk menikah, baguslah kalau disuruh menikah dengan seorang dokter, atau dosen atau paling tidak dengan seorang pengacara-lah. Baru aku semangat dan setuju untuk menerima pertunangan itu. Nah ini! aku dijodohkan dengan seorang ustadz dan tidak tahannya saudara sepupu lagi!. Histt, malas sekali!.
Aku benar-benar kesal mendengar keputusan ayah dan ibu. Jika aku menikah sebelum ujian kelulusan dilaksanakan bisa-bisa sekolah mengeluarkan aku, dan melarang aku untuk ikut melaksanakan ujian kelulusan madrasah.
“Kalau Ayah dan Ibu hanya menyuruh supaya abang Azzam menjaga Nisa, sebaiknya Ibu dengan Ayah minta saja abang Azzam supaya sesekali datang untuk melihatku dan menjengukku di rumah” usulku.
“Alah! kita orang tuamu saja yang selalu mengawasi selama 24 jam, tapi sikap tuh tidak juga berubah. Capek ibu dan ayah nasihati Nisa terus, tapi Nisa tidak pernah mau merubah sikap dan perilaku Nisa” bantah Ibu.
Aku mencoba membela diri. “Ibu dan Ayah menjaga Nisa 24 jam apanya? Ibu dan Ayah saja sibuk dengan pekerjaan yang banyak, pulang kadang juga malam.”
Aku diam sebentar, kemudian menyambung pembicaraan sebelumnya, “Jadi, kalau begitu tidak ada bedanya kan kalau Nisa menikah atau tidak?,” sambungku.
Ibu berdiam, terlihat mengatur napasnya.
“Ya, setidak-tidaknya, Ibu tenanglah kalau meninggalkan Nisa karena tidak sendirian di rumah, karena Nisa tidak akan bisa berbuat semau Nisa. Ibu tidak mau ketika kami pulang nanti Nisa tiba-tiba hamil sembilan bulan. Hah! setelah itu barulah timbul rasa penyesalan karena tidak mau mendengar perkataan orang tua. Nisa juga tidak boleh terlalu percaya dengan teman laki-laki Nisa itu. Kalau dia itu laki-laki yang baik, tentu dia tidak akan membawa jalan anak gadis orang sampai larut malamkan?”
Kaget aku mendengar apa yang dikatakan ibu. Tidak aku sangka pikiran ibu bisa sampai ke sana. “Ih, Ibu nih bicara apalah?”. Aku menjeda pembicaraanku kemudian melanjutkannya kembali. “Ibu, selama ini Nisa-lah yang selalu mengajak Fey untuk keluar. Bukan dia!. Janganlah Ibu tuh salah sangka dulu dan menuduh orang yang tidak-tidak. Itu tidak baik Bu!”
“Hah! kalau Nisa keluar rumah terus pulang sampai larut malam itu, apakah baik?” celah ibu.
“Nisa! apa Nisa tahu kalau tingkah Nisa sudah menjadi bahan perbincangan warga”
Aku hanya diam. Aku sempat tak menyangka jika kebiasaanku keluar sampai laut malam manjadi perhatian orang-orang sekitar. Ah! aku nggak peduli dengan semua itu!. Yang jelas aku harus mencari jalan keluar sepaya bisa mengagalkan rencana ayah dan ibu. Aku memainkan rambutku sambil berpikir keras.
“Ibu”
“Hmm”
“Bu, Ibu nggak usah bersusah payah sampai menyuruh Nisa untuk menikah. Biarlah! Nisa sudah bisa jaga diri sendiri. Ibu tidak perlu khawatir. Nisa sudah dewasa, sudah 18 tahun” godaku kepada ibu sambil memelas, berharap keputusan itu bisa berubah.
“Meskipun sekarang kau sudah dewasa tetap saja menjadi tanggungan Ayah dan Ibu. Kalau memang Nisa sudah dewasa tentulah Nisa tahu mana sikap yang baik dan mana yang tidak baik. Tapi ini masih juga belum sadar diri, jalan dengan laki-laki sampai larut malam, nongkrong di warung Mak Silah sampai tengah malam. Apakah sikap yang seperti itu yang dikatakan bersikap dewasa. Kalau orang tua menasehati, Nisa buat seolah-olah tidak mendengar. Sudah itu kalau salah selalu saja mencela dan membela diri. Kalau dulu ibu selalu menurut dengan apa yang dikatakan orang tua, tidak melawan seperti Nisa ini” ucap Ibu panjang lebar, menerangkan.
Aku berpikir sebenarnya memang betul apa yang dikatakan ibu tentang perilaku aku yang jarang di rumah. Bagaimana bisa aku betah di rumah. Aku selalu bosan bila terus berada dalam rumah tidak ada teman untuk berbagi cerita. Ingin berbagi cerita dengan ayah dan Ibu. Tapi apa daya ayah dan ibu selalu sibuk, aku belum bangun ayah dan ibu sudah sibuk mau berangkat kerja kemudian pulang pukul 9 malam kadang sampai pukul 12 malam barulah mereka sampai rumah.
Dengan begitupun aku sering nongkrong bersama geng De Langit di warung Mak Silah yang kami sebut sebagai basecamp kami, sambil membawa laptopku karena di warung Mak Silah ada Wi-Fi. Aku juga kadang-kadang makan malam di sana. Siapa lagi yang mau aku ajak keluar malam, hanya Fey, Sadam atau Jovan kalau Jihan sekarang sepertinya sudah sulit hendak di ajak jalan keluar malam. Biasalah sama seperti dengan ayah dan ibuku yang juga melarang cuman bedanya kalau Jihan menurut, kalau aku agak melanggar sedikit perkataan ayah dan ibu. Lagian aku juga tidak mungkin di rumah terus hanya menatap LED TV dan dinding rumah 24 jam. Bosanlah.
Pernah suatu ketika aku diajak Fey, Jovan dan Sadam untuk ikut lomba memancing. Jarak kolam pemacingan itu juga tidak jauh dari rumah. Aku sampai rumah pukul 2 malam karena aku ikut mereka. Ibu juga masih sering mengungkit hal ini. Bukannya aku sengaja untuk pulang larut malam, karena memang waktu itu ada lomba memancing, orang disana begitu riuh, meriah. Karena takut dimarah Ibu aku meminta Fey untuk menemaniku pulang sambil menjelaskan semuanya pada ayah dan ibu di rumah.
“Maaf Bu,” nadaku pelan, karena merasa bersalah pulang terlambat.
Ibu hanya diam, namun matanya yang berbicara. “Hem, iya ibu maafkan”
Dada akan terasa lapang jika mendengar jawaban ibu.
~Bersambung...
Diubah oleh syrmey 12-04-2020 00:53
0