- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Terima karena Allah
...
TS
syrmey
Aku Terima karena Allah


Quote:
Quote:
PROLOG
Hiruk pikuk orang-orang berlalu lalang dalam rumah mempersiapkan segala keperluan untuk acara akad nikahku yang akan dilaksanakan hari ini. Sebenarnya batinku masih merontak, tidak hendak menuruti kehendak ayah dan ibu. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku benci situasi ini, aku benci suasana ini. Tiba-tiba air mataku jatuh. “Pengantin prianya sudah datang!” terdengar suara itu samar-samar. Tidak lama ibu pun masuk dan membimbingku keluar. Aku sudah duduk di samping Azzam, dan bapak penghulu sepertinya juga sudah siap.
“Bismillahirrahmanirrahim
Ankahtuka wazawwajtuka maktubataka binti Syafahira Dhanisa alal mahri bi mahrin mushafin hallan” suara Pak Ahsan
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi wallahu waliyu taufiq” suara Azzam yang tak kalah lantang dari suara ayah.
“Sah!”
“Sah!”
“Alhamdulillah”
Tak terasa air mataku mengalir. Kini aku resmi menjadi istri Azzam. Aku tidak tahu bagaimana perjalanan hidupku selanjutnya.
Ibu memberikan kode agar aku mencium tangan suamiku.
Aku menurut dan mencium tangan Azzam, harum. Setelah aku mencium tangannya ia berbalik mencium keningku dengan lembut.
Ayah menepuk pundak Azzam sambil mengatakan sesuatu. “Azzam, ayah titip Nisa dengan kau, tolong jaga dia”
Azzam mengangguk. “Iya ayah. Aku akan menjaganya”
Ayah menepuk kembali pundak Azzam pertanda ia yakin kalau Azzam akan menjalankan kewajibannya.
Malam ini bintang bertaburan dilangit, mereka seolah-olah berlomba-lomba untuk menampakkan sinarnya yang paling terang. Aku masih duduk dikursi sambil menghadap jendala, kepalaku menengadah ke langit. Hembusan lembut angin malam menerpa wajahku membuat rambutku yang terurai sebahu, tersibak.
Clek
Suara pintu kamarku terbuka. Aku yakin itu pasti Abang Azzam. Aku hanya diam tidak menggubrisnya. Meskipun kami berdua di kamar ini, tapi belum ada percakapan yang berlangsung. Hening!. Sunyi! hanya terdengar suara jangkrik memecah kesunyian.
Aku merubah posisiku, menghadap Abang Azzam yang duduk di tempat tidur. Ada sesuatu yang aku hendak tanyakan.
“Abang kenapa abang terima?” kataku memulai. Aku menanyakan itu karena batin masih saja menolak.
“Saya terima karena Allah...”
“Maksudnya karena Allah?” tanyaku tidak paham.
Lama abang Azzam diam, lalu berbicara lagi menjawab pertanyaanku. Aku merubah posisiku kembali seperti semula, menengadahkan kepala menghadap ke langit dengan jendela kamar yang masih terbuka.
“Saya terima karena Allah subhanahuwata’ala. Kita ini ijab dan qabul maknanya bahwa saya memanglah ditakdirkan untuk berjodoh dengan Nisa. Itu maksud saya karena Allah. Kalau Allah tidak mengizinkan, tentu kita tidak akan menikah. Sesungguhnya Allah itu Maha Adil. Jodoh, maut semuanya sudah diatur oleh Allah.”
Suara Abang Azzam terputus.
“Mungkin begitulah ketentuannya Nisa. Kalau jodoh saya memang dengan Nisa, tentu mau menunggu sampai kapan pun kita pasti akan tetap menikah. Kalau Nisa masih belum ikhlas bersuamikan saya. Tidak apa. Saya iklas, sampai suatu saat nanti Nisa mau menerima saya sebagai suami Nisa. Dan Nisa juga bisa menerima saya karena Allah.
“Bismillahirrahmanirrahim
Ankahtuka wazawwajtuka maktubataka binti Syafahira Dhanisa alal mahri bi mahrin mushafin hallan” suara Pak Ahsan
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi wallahu waliyu taufiq” suara Azzam yang tak kalah lantang dari suara ayah.
“Sah!”
“Sah!”
“Alhamdulillah”
Tak terasa air mataku mengalir. Kini aku resmi menjadi istri Azzam. Aku tidak tahu bagaimana perjalanan hidupku selanjutnya.
Ibu memberikan kode agar aku mencium tangan suamiku.
Aku menurut dan mencium tangan Azzam, harum. Setelah aku mencium tangannya ia berbalik mencium keningku dengan lembut.
Ayah menepuk pundak Azzam sambil mengatakan sesuatu. “Azzam, ayah titip Nisa dengan kau, tolong jaga dia”
Azzam mengangguk. “Iya ayah. Aku akan menjaganya”
Ayah menepuk kembali pundak Azzam pertanda ia yakin kalau Azzam akan menjalankan kewajibannya.
***
Malam ini bintang bertaburan dilangit, mereka seolah-olah berlomba-lomba untuk menampakkan sinarnya yang paling terang. Aku masih duduk dikursi sambil menghadap jendala, kepalaku menengadah ke langit. Hembusan lembut angin malam menerpa wajahku membuat rambutku yang terurai sebahu, tersibak.
Clek
Suara pintu kamarku terbuka. Aku yakin itu pasti Abang Azzam. Aku hanya diam tidak menggubrisnya. Meskipun kami berdua di kamar ini, tapi belum ada percakapan yang berlangsung. Hening!. Sunyi! hanya terdengar suara jangkrik memecah kesunyian.
Aku merubah posisiku, menghadap Abang Azzam yang duduk di tempat tidur. Ada sesuatu yang aku hendak tanyakan.
“Abang kenapa abang terima?” kataku memulai. Aku menanyakan itu karena batin masih saja menolak.
“Saya terima karena Allah...”
“Maksudnya karena Allah?” tanyaku tidak paham.
Lama abang Azzam diam, lalu berbicara lagi menjawab pertanyaanku. Aku merubah posisiku kembali seperti semula, menengadahkan kepala menghadap ke langit dengan jendela kamar yang masih terbuka.
“Saya terima karena Allah subhanahuwata’ala. Kita ini ijab dan qabul maknanya bahwa saya memanglah ditakdirkan untuk berjodoh dengan Nisa. Itu maksud saya karena Allah. Kalau Allah tidak mengizinkan, tentu kita tidak akan menikah. Sesungguhnya Allah itu Maha Adil. Jodoh, maut semuanya sudah diatur oleh Allah.”
Suara Abang Azzam terputus.
“Mungkin begitulah ketentuannya Nisa. Kalau jodoh saya memang dengan Nisa, tentu mau menunggu sampai kapan pun kita pasti akan tetap menikah. Kalau Nisa masih belum ikhlas bersuamikan saya. Tidak apa. Saya iklas, sampai suatu saat nanti Nisa mau menerima saya sebagai suami Nisa. Dan Nisa juga bisa menerima saya karena Allah.
Diubah oleh syrmey 13-04-2020 06:28
0
1.2K
8
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
syrmey
#1
Aku Terima karena Allah
CHAPTER 1
Menjelang tengah malam, motor gede Fey melanju kencang menyusuri jalanan kota metropilitan yang sekarang telah mulai sepi. Tak perlu waktu lama Fey sudah berbelok ke salah satu warung makan sederhana, tempat biasa kami berkumpul dengan in the geng. Aku senang hari ini karena bisa berkumpul lagi dengan mereka, teman-temanku. Maklum saja sudah hampir seminggu aku hanya berbaring di kasur karena sakit. Huh! sangat tidak mengasyikkan, dan membuatku jenuh dan tentunya rindu dengan mereka.
Rembulan terlihat begitu temaram, menerangi setiap sudut malam. Teman-temanku terlihat juga begitu asyik tak mau melewatkan moment ini. Terlihat Sadam dan Jovan masih sibuk bermain catur di sudut meja sebelah kanan. Sementara aku duduk di meja sebelahnya sambil meneguk minuman berwarna merah. Fey yang barusan tiba langsung memesan ice Coffie dan berbincang denganku.
Handphoneberdering
Ibu calling .....
Nama yang tertera di layar handphone Dhanisa.
Ibu
Assalamualaikum.
Dhanisa
Wa’alaikumsalam Bu.
Ibu
Nisa kenapa belum pulang, sudah jam berapa ini? Kau ini anak perempuan, tidak baik pulang larut-larut malam.
Dhanisa
Bu, sebentarlah lagi yah Nisa pulang,karena teman-teman masih banyak dan belum juga ada yang pulang.
Ibu
Tidak ada nanti-nanti! Sekarang cepat pulang!
Dhanisa
Ssh! Iya-iya ...
Ibu
Benar ya! Ibu tunggu dalam waktu 5 menit. Assalamu’alaikum
Dhanisa
Wa’alaikumsalam
Telepon terputus.
Aku mulai mengemas barang-barang dan siap-siap untuk segera beranjak pulang ke rumah.
“Fey, aku mau pulang sekarang! Tolong antar aku yah!” pintaku pada laki-laki yang duduk denganku barusan.
“Eh, kenapa cepat sekali Nisa? lagian ini masih jam berapa? nggak seru banget!” ucap Fey sambil melirik arloji yang melekat di tangan kirinya.
“Sudahlah jangan banyak tanya. Sekarang mau antar aku atau tidak!” kataku ketus.
“Iya. Oke-oke. Sebentar aku ambil motor dulu.” menyegerakan langkahnya untuk mengambil motor yang terparkir di depan warung Mak Silah, tempat ini sudah kami anggap sebagai basecamp. Tempat aku dan teman-teman biasa kumpul.
Aku melihat Jihan masih sibuk juga dengan aktivitasnya membaca buku. Memanglah di antara kami dia memang yang paling pandai di kelas. Jangan tanya perihal aku. Aku sangat malas orangnya. Tapi itulah, belum ada inisiatifku untuk mencontoh sifat Jihan, padahal sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan tingkat sekolah menengah atas.
“Jihan, aku pulang dululah” pamitku pada Jihan.
“Hah! benarkah! terus aku ditinggal sendiri”
“Siapa bilang kau sendirian, itu masih ada Sadam, Jovan.”
“Hem, ya sudahlah nanti aku pulang bareng Sadam. Hati-hati di jalan ya Nisa!” nasihatnya.
“Okey. Bye. Sampai jumpa besok di sekolah ya!”
“Okey!”
Aku mendengar suara deru mesin motor Fey. Aku segera berjalan keluar. Fey memberikan helm yang telah dipegangnya kepadaku. “Nah, pakai!” pintanya. Deru mesin motor pelahan mulai menghilang meninggalkan warung Mak Silah.
Tok...tok...
“Assalamu’alaikum!”
Kreekk
Suara itu terdengar seperti orang yang sedang membuka kenop pintu dari dalam.
“Wa’alaikumsalam. Ayo masuklah” kata Ahsan─ayah Dhanisa.
“Mana ibu, Yah!”
Ayah tidak menjawab namun menunjuk ke sebuah kursi sofa berwarna coklar cream, disanakah ibu duduk sambil menatap layar televisi.
Ayah membimbingku dengan lembut untuk gabung dengan ibu di sana. Ayah memang orang yang tidak pernah kasar dengan aku, sedikit berbeda dengan ibu yang memiliki watak agak keras dan juga tegas, akupun tak berani membantah dibuatnya. Lagi pula mana mungkin aku bisa membantah karena semenjak orang tua kandungku meninggal enam tahun lalu. Aku kemudian diangkat anak olehnya. Mungkin karena selama ini, mereka belum lagi dikaruniai anak.
Dulu sebenarnya mereka pernah punya anak, namanya Khalid. Ia anak yang pandai dan memiliki prestasi yang gemilang. Maka tidak heran setelah tamat kuliah berlomba-lomba perusahaan yang ingin menggunakan jasanya. Kenangan lain tentang dia adalah sewaktu aku masih SMP pernah dikeluarkan sekolah, karena kerap membolos waktu belajar. Abang Khalid yang tahu tentang perangaiku itu akhirnya mengurus segala perpindahan sekolah ke sini. Dia sangat baik dan selalu menolongku. Namun siapa sangka, diusianya yang masih sangat muda ia harus menemui ajalnya. Khalid meninggal dalam insiden kecelakaan. Memanglah maut, jodoh tidak ada yang tahu.
Aku yakin keluarga ini begitu sedih kala ia harus meratapi kemalangan ditinggal mati oleh sang anak laki-laki satu-satunya. Mungkin kesedihan seperti itulah yang mereka rasakan saat aku juga harus merelakan orang tuaku pergi untuk selama-lamanya dalam kecelakaan itu pula.
Masa itu ayah dan ibu kandungku serta abang Khalid baru saja menghadiri pesta pernikahan Paman Hamzah─saudara kandung dari Ibuku. Paman Hamzah, Ibuku, dan juga Pak Ahsan, mereka adik beradik, saudara.
Kisah itu bermula ketika Khalid yang pada saat itu mengendarai mobil, tiba-tiba saja ban mobil itu pecah hingga membuat mobil itu oleng lalu menabrang beton pembatas dengan begitu kencang dan keras. Abang Khalid meninggal seketika di tempat, sementara ibu dan ayah masih sempat ditolong orang sekitar. Tapi takdir berkata lain. Keduanya meninggal ketika diperjalanan menuju rumah sakit.
Bagai dentuman yang keras, ketika aku mendengar perihal berita mengenaskan itu. Keluarga Pak Ahsan, selalu berada di samping aku dan selalu pula menguatkan aku agar tetap sabar dan tabah. Hingga suatu ketika mereka berpikir untuk mengambil aku sebagai anak angkatnya. Perlahan-lahan aku mencoba untuk mengiklaskan karena memang aku yakin itu adalah takdir Tuhan yang sudah tertulis di lauful mahfuz.
Ibu Hamidah, itulah nama ibu angkatku. Ia sudah duduk dikursi sofa berwarna coklat cream begitu juga dengan aku. Tidak tahu ada apa. Sepertinya ada sesuatu yang ingin mereka katakan. Aku melihat mereka ragu-ragu dan saling menatap satu sama lain.
“Ayah! Ibu! kenapa sih?”
Keduanya masih diam. Binggung harus memulainya.
“Huss, ayah mulailah”
“Saya!” tanya Pak Ahsan sambil menunjuk dirinya.
“Iyalah! siapa lagi.”
“Ih! Kenapa sih ini?” tanya Dhanisa binggung.
“Ahm, begini Nisa. Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan. Ini mungkin sedikit mengejutkan Nisa”
Nisa mengernyitkan dahi. “Apa? bilanglah?”
Ayah merogoh sesuatu dari kantong bajunya. Terlihat selembaran kertas putih yang terlipat-lipat. Perlahan dan dengan hati-hati ayah membuka lembaran kertas putih itu.
“Ini” ucap ayah sembari menyodorkan kertas itu kepadaku.
“Apa ini Yah?”
“Baca saja!” katanya dengan singkat.
Bola mata Dhanisa mulai bergerak dari sudut kiri kertas kemudian sampai ke kanan kertas, begitu terus, hingga bacaan di kertas itu selesai dibaca.
“Hah!!!”
Mendengar teriakan Dhanisa membuat keduanya sontak kaget.
“Apa! Nggak! Dhanisa nggak mau!”
“Nisa itu adalah permintaan keluarga paman Hamzah, beliau meminta agar menyampaikan surat ini pada Nisa” kata Ibu, menyahut.
“Tapi Ibu haruskah secepat itu! Nisa nggak mau! lagian masih harus sekolah Bu dan mengejar cita-citaku yang masih panjang”
“Iya, Ibu tahu. Tapikan bisa kau jalani sambil bersekolah!”
“Nggaklah ibu! Ibu, Ayah, tolonglah minta sama keluarga paman Hamzah tuh untuk batalkan semuanya.” rengek Dhanisa.
“Tidak bisa Nisa! Ibu dan Ayah punya alasan sendiri, kenapa Ibu dan Ayah setuju dengan pemintaan keluarga mereka”
Aku sudah malas dengan situasi yang seperti ini. Aku pun memutuskan untuk masuk kamar saja. Tidak mau memikirkan tentang semua ini.
Di kamar aku hanya ditemani dentingan jarum jam yang terus bekerja. Ia berberak mula dari detik ke detik, lalu menit ke menit dan jam ke jam begitu seterusnya. Suaranya terdengar nyaring.
Aku masih belum tidur, masih menaruh rasa kesal dengan sikap ayah dan ibu. Terkadang ada sedikit terbesit dipikiranku untuk pergi dari rumah. Tapi, sepertinya naluriku menolak. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka karena aku hanya memiliki mereka sebagai keluarga. Setelah orang tua kandungku meninggal merekalah satu-satunya keluargaku saat ini.
Rembulan terlihat begitu temaram, menerangi setiap sudut malam. Teman-temanku terlihat juga begitu asyik tak mau melewatkan moment ini. Terlihat Sadam dan Jovan masih sibuk bermain catur di sudut meja sebelah kanan. Sementara aku duduk di meja sebelahnya sambil meneguk minuman berwarna merah. Fey yang barusan tiba langsung memesan ice Coffie dan berbincang denganku.
Handphoneberdering
Ibu calling .....
Nama yang tertera di layar handphone Dhanisa.
Ibu
Assalamualaikum.
Dhanisa
Wa’alaikumsalam Bu.
Ibu
Nisa kenapa belum pulang, sudah jam berapa ini? Kau ini anak perempuan, tidak baik pulang larut-larut malam.
Dhanisa
Bu, sebentarlah lagi yah Nisa pulang,karena teman-teman masih banyak dan belum juga ada yang pulang.
Ibu
Tidak ada nanti-nanti! Sekarang cepat pulang!
Dhanisa
Ssh! Iya-iya ...
Ibu
Benar ya! Ibu tunggu dalam waktu 5 menit. Assalamu’alaikum
Dhanisa
Wa’alaikumsalam
Telepon terputus.
Aku mulai mengemas barang-barang dan siap-siap untuk segera beranjak pulang ke rumah.
“Fey, aku mau pulang sekarang! Tolong antar aku yah!” pintaku pada laki-laki yang duduk denganku barusan.
“Eh, kenapa cepat sekali Nisa? lagian ini masih jam berapa? nggak seru banget!” ucap Fey sambil melirik arloji yang melekat di tangan kirinya.
“Sudahlah jangan banyak tanya. Sekarang mau antar aku atau tidak!” kataku ketus.
“Iya. Oke-oke. Sebentar aku ambil motor dulu.” menyegerakan langkahnya untuk mengambil motor yang terparkir di depan warung Mak Silah, tempat ini sudah kami anggap sebagai basecamp. Tempat aku dan teman-teman biasa kumpul.
Aku melihat Jihan masih sibuk juga dengan aktivitasnya membaca buku. Memanglah di antara kami dia memang yang paling pandai di kelas. Jangan tanya perihal aku. Aku sangat malas orangnya. Tapi itulah, belum ada inisiatifku untuk mencontoh sifat Jihan, padahal sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan tingkat sekolah menengah atas.
“Jihan, aku pulang dululah” pamitku pada Jihan.
“Hah! benarkah! terus aku ditinggal sendiri”
“Siapa bilang kau sendirian, itu masih ada Sadam, Jovan.”
“Hem, ya sudahlah nanti aku pulang bareng Sadam. Hati-hati di jalan ya Nisa!” nasihatnya.
“Okey. Bye. Sampai jumpa besok di sekolah ya!”
“Okey!”
Aku mendengar suara deru mesin motor Fey. Aku segera berjalan keluar. Fey memberikan helm yang telah dipegangnya kepadaku. “Nah, pakai!” pintanya. Deru mesin motor pelahan mulai menghilang meninggalkan warung Mak Silah.
***
Tok...tok...
“Assalamu’alaikum!”
Kreekk
Suara itu terdengar seperti orang yang sedang membuka kenop pintu dari dalam.
“Wa’alaikumsalam. Ayo masuklah” kata Ahsan─ayah Dhanisa.
“Mana ibu, Yah!”
Ayah tidak menjawab namun menunjuk ke sebuah kursi sofa berwarna coklar cream, disanakah ibu duduk sambil menatap layar televisi.
Ayah membimbingku dengan lembut untuk gabung dengan ibu di sana. Ayah memang orang yang tidak pernah kasar dengan aku, sedikit berbeda dengan ibu yang memiliki watak agak keras dan juga tegas, akupun tak berani membantah dibuatnya. Lagi pula mana mungkin aku bisa membantah karena semenjak orang tua kandungku meninggal enam tahun lalu. Aku kemudian diangkat anak olehnya. Mungkin karena selama ini, mereka belum lagi dikaruniai anak.
Dulu sebenarnya mereka pernah punya anak, namanya Khalid. Ia anak yang pandai dan memiliki prestasi yang gemilang. Maka tidak heran setelah tamat kuliah berlomba-lomba perusahaan yang ingin menggunakan jasanya. Kenangan lain tentang dia adalah sewaktu aku masih SMP pernah dikeluarkan sekolah, karena kerap membolos waktu belajar. Abang Khalid yang tahu tentang perangaiku itu akhirnya mengurus segala perpindahan sekolah ke sini. Dia sangat baik dan selalu menolongku. Namun siapa sangka, diusianya yang masih sangat muda ia harus menemui ajalnya. Khalid meninggal dalam insiden kecelakaan. Memanglah maut, jodoh tidak ada yang tahu.
Aku yakin keluarga ini begitu sedih kala ia harus meratapi kemalangan ditinggal mati oleh sang anak laki-laki satu-satunya. Mungkin kesedihan seperti itulah yang mereka rasakan saat aku juga harus merelakan orang tuaku pergi untuk selama-lamanya dalam kecelakaan itu pula.
Masa itu ayah dan ibu kandungku serta abang Khalid baru saja menghadiri pesta pernikahan Paman Hamzah─saudara kandung dari Ibuku. Paman Hamzah, Ibuku, dan juga Pak Ahsan, mereka adik beradik, saudara.
Kisah itu bermula ketika Khalid yang pada saat itu mengendarai mobil, tiba-tiba saja ban mobil itu pecah hingga membuat mobil itu oleng lalu menabrang beton pembatas dengan begitu kencang dan keras. Abang Khalid meninggal seketika di tempat, sementara ibu dan ayah masih sempat ditolong orang sekitar. Tapi takdir berkata lain. Keduanya meninggal ketika diperjalanan menuju rumah sakit.
Bagai dentuman yang keras, ketika aku mendengar perihal berita mengenaskan itu. Keluarga Pak Ahsan, selalu berada di samping aku dan selalu pula menguatkan aku agar tetap sabar dan tabah. Hingga suatu ketika mereka berpikir untuk mengambil aku sebagai anak angkatnya. Perlahan-lahan aku mencoba untuk mengiklaskan karena memang aku yakin itu adalah takdir Tuhan yang sudah tertulis di lauful mahfuz.
Ibu Hamidah, itulah nama ibu angkatku. Ia sudah duduk dikursi sofa berwarna coklat cream begitu juga dengan aku. Tidak tahu ada apa. Sepertinya ada sesuatu yang ingin mereka katakan. Aku melihat mereka ragu-ragu dan saling menatap satu sama lain.
“Ayah! Ibu! kenapa sih?”
Keduanya masih diam. Binggung harus memulainya.
“Huss, ayah mulailah”
“Saya!” tanya Pak Ahsan sambil menunjuk dirinya.
“Iyalah! siapa lagi.”
“Ih! Kenapa sih ini?” tanya Dhanisa binggung.
“Ahm, begini Nisa. Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan. Ini mungkin sedikit mengejutkan Nisa”
Nisa mengernyitkan dahi. “Apa? bilanglah?”
Ayah merogoh sesuatu dari kantong bajunya. Terlihat selembaran kertas putih yang terlipat-lipat. Perlahan dan dengan hati-hati ayah membuka lembaran kertas putih itu.
“Ini” ucap ayah sembari menyodorkan kertas itu kepadaku.
“Apa ini Yah?”
“Baca saja!” katanya dengan singkat.
Bola mata Dhanisa mulai bergerak dari sudut kiri kertas kemudian sampai ke kanan kertas, begitu terus, hingga bacaan di kertas itu selesai dibaca.
“Hah!!!”
Mendengar teriakan Dhanisa membuat keduanya sontak kaget.
“Apa! Nggak! Dhanisa nggak mau!”
“Nisa itu adalah permintaan keluarga paman Hamzah, beliau meminta agar menyampaikan surat ini pada Nisa” kata Ibu, menyahut.
“Tapi Ibu haruskah secepat itu! Nisa nggak mau! lagian masih harus sekolah Bu dan mengejar cita-citaku yang masih panjang”
“Iya, Ibu tahu. Tapikan bisa kau jalani sambil bersekolah!”
“Nggaklah ibu! Ibu, Ayah, tolonglah minta sama keluarga paman Hamzah tuh untuk batalkan semuanya.” rengek Dhanisa.
“Tidak bisa Nisa! Ibu dan Ayah punya alasan sendiri, kenapa Ibu dan Ayah setuju dengan pemintaan keluarga mereka”
Aku sudah malas dengan situasi yang seperti ini. Aku pun memutuskan untuk masuk kamar saja. Tidak mau memikirkan tentang semua ini.
Di kamar aku hanya ditemani dentingan jarum jam yang terus bekerja. Ia berberak mula dari detik ke detik, lalu menit ke menit dan jam ke jam begitu seterusnya. Suaranya terdengar nyaring.
Aku masih belum tidur, masih menaruh rasa kesal dengan sikap ayah dan ibu. Terkadang ada sedikit terbesit dipikiranku untuk pergi dari rumah. Tapi, sepertinya naluriku menolak. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka karena aku hanya memiliki mereka sebagai keluarga. Setelah orang tua kandungku meninggal merekalah satu-satunya keluargaku saat ini.
~Bersambung...
Diubah oleh syrmey 12-04-2020 00:49
0