- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
Setelah beberapa tahun memutuskan untuk beristirahat, akhirnya Beavermoon kembali untuk menyelesaikan apa yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat.
Sedikit bercerita bahwa cerita ini adalah akhir dari serial Aku, Kamu, dan Lemon. Cerita ini tidak lagi mengisahkan tentang Bram, Widya, Dinda, dan yang lainnya. Cerita ini akan mengisahkan tentang sang penulis dari Aku, Kamu, dan Lemon setelah seri Buku Harian Airin berakhir. Bagaimana ia harus menjalani hidup setelah semuanya berakhir, bagaimana ia harus menyelesaikan dan menjelaskan semua cerita yang sudah ia tulis.
Lalu kenapa cerita ini masih menjadi bagian Aku, Kamu, dan Lemon jika sudah tidak ada lagi para tokoh utama dari cerita tersebut? Mungkin, apa yang dirasakan oleh sang penulis bisa menjadi penutup dari serial ini, dengan catatan telah mendapatkan izin dari beberapa orang yang "namanya" pernah tercantum di cerita sebelumnya.
Untuk kalian yang baru bergabung, mungkin bisa baca seri sebelumnya terlebih dahulu sebelum membaca seri terakhir ini.
AKU, KAMU, DAN LEMON
AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Dan bagi kalian yang sudah mengikuti dari seri pertama, selamat datang kembali. Semoga apa yang menjadi pertanyaan selama ini bisa terjawab, jika tidak terjawab maka lebih baik bertanya di kolom komentar. Satu info terakhir, seri ini akan update 3X dalam seminggu (Senin, Rabu, Jum'at) agar tidak terlalu lama. Enjoy!

Spoiler for Index:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Diubah oleh beavermoon 27-06-2020 18:27
i4munited dan 31 lainnya memberi reputasi
32
27.3K
Kutip
395
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#209
Spoiler for Episode 28:
"Ka Bulan baru pulang apa gimana?" Tanya Bella.
"Iya tadi sore aku baru mendarat, dan kebetulan besok libur jadi aku mampir ke sini aja deh." Jawab Bulan.
"Gimana sih Ka rasanya jadi pramugari yang harus terbang mulu?" Tanya Rara.
Aku membuatkan minuman untuk Bulan selagi mereka dengan serunya bertanya bagaimana tentang pekerjaannya. Tanpa ragu pun Bulan menjawab pertanyaan mereka satu persatu dengan jelas, aku hanya bisa menganggukkan kepala tanpa mereka ketahui. Setelah selesai, aku memberikan minuman tersebut kepada Bulan.
"Oh capek juga ya Ka ternyata, aku kira selama ini pramugari tuh enak jalan-jalan mulu." Kata Gigi.
"Terlihat nyaman oleh orang lain sih, mungkin aku juga ngerasa kayaknya kerjaan kamu enak daripada aku." Ucap Bulan.
Tak terasa sudah dipenghujung waktu untuk kedai ini buka, kami pun mulai membereskan semua perlengkapan sebelum mengakhiri hari Sabtu ini. Sesekali aku melihat ke arah Bulan yang sedang menunggu di luar sana bersama dengan Bella.
Dan semuanya pun beres, satu persatu dari kami pun meninggalkan tempat ini. Aku dan Bulan sedang berdiri di samping motor sementara aku mengenakan helm kepadanya.
"Serius nggapapa Yi? Aku bawa koper loh." Ucapnya.
"Tenang aja, percaya sama Syailendra." Kataku.
Ku letakkan koper milik Bulan di atas tangki Syailendra setelah mengalasinya dengan pelindung, kemudian aku mulai mengikat koper tersebut di beberapa celah yang memang sudah biasa ku lakukan. Bulan nampak terkejut karena memang bisa saja membawa koper miliknya dengan motorku, dan akhirnya kami pun meninggalkan tempat ini.
Selama di perjalanan cukup banyak yang kami perbincangkan, sekiranya setelah lima hari tidak bertemu. Sesekali kami mentertawakan hal-hal yang sudah kami bicarakan.
"Aku mau nanya deh, kamu emang ngga kedinginan kalau naik motor ngga pake sweater?" Tanya Bulan.
"Santai aja, udah biasa kok." Kataku.
Perjalanan pun berlanjut hingga kami memasuki kompkek perumahan Bulan, dan akhirnya kami dikejutkan setelah sampai di rumahnya.
"Kok gelap Bu?" Tanyaku.
Keadaan rumah Bulan gelap tanpa ada penerangan, hanya ada cahaya dari lampu jalan satu-satunya sumber penerangan. Bulan pun turun menuju ke gerbang rumahnya.
"Kok dikunci ya?" Tanyanya.
Aku pun ikut turun untuk menghampirinya dan benar saja ada gembok yang terkunci. Bulan pun mengeluarkan handphone miliknya, namun belum sempat ia melakukan sesuatu dengan handphonya ia pun menepuk dahinya pelan.
"Aku bener-bener lupa Yi kalau Ayah sama Ibu lagi pergi ke x sampai minggu depan." Ucapnya.
"Kamu mau ke rumah aku aja?" Tanyaku.
"Emang nggapapa? Aku jadi tambah ngerepotin kamu lagi." Katanya.
"Nggapapa kok kalau kamu mau." Kataku.
Kami pun kembali menaiki motor untuk menuju ke rumahku. Selesai memasukkan Syailendra ke dalam garasi, kami pun masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, aku mengambil minuman dari kulkas dan ku berikan satu kepada Bulan. Kami pun naik ke lantai atas menuju kamarku, ku letakkan koper Bulan di samping tas milikku.
"Aku beneran nggapapa di sini Yi?" Tanyanya.
Aku menganggukkan kepala, "Nggapapa kok, kalau kamu mau ke kamar mandi ada di sana. Nanti kamu tidur di kasur aja, aku bisa di sini kok."
Bulan mengangguk beberapa kali, aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sementara Bulan membereskan barang-barangnya di dalam koper.
Beberapa menit berlalu, aku pun selesai. Bulan pun bergantian masuk ke kamar mandi sementara aku memutuskan untuk menyalakan sebatang rokok di balkon kamar. Ku buka handphone yang sudah ku genggam, ada pesan masuk dari Bella yang menanyakan perihal kopi dan teman-temannya. Aku mulai membalas pesan tersebut, beberapa menit berlalu hingga rokok di tanganku habis.
"Eh mana ya?" Tanyaku seorang diri.
Aku mencari di mana bungkus rokok milikku, namun tidak ada di sini. Pasti ada di samping TV di mana aku biasa menaruhnya, aku pun membalikkan badanku. Aku berjalan masuk bersamaan dengan keluarnya Bulan dari kamar mandi, sempat terjadi kebisuan setelah kami saling beradu pandang. Sebuah senyuman berhasil merubah kebisuan itu, kami pun bertemu di depan TV.
"Kamu kalau mau ngeringin rambut di situ aja." Kataku.
Bulan mengangguk lalu duduk di kursi yang biasa ku duduki, ia pun mulai mengeringkan rambutnya. Aku pun mengambil bungkus rokok di depan TV.
"Kamu masih suka baca juga?" Tanya Bulan.
"Kayaknya itu doang yang ngga ngebosenin meskipun udah pernah ditamatin, jadi sampai sekarang pun aku masih suka baca." Jawabku.
"Kamu ngga ada niatan buat nulis cerita kayak di Wattp*dgitu?" Tanyanya lagi.
"Mungkin nanti, aku belum punya cukup keberanian buat nulis." Kataku berbohong.
Bulan pun selesai mengeringkan rambutnya, aku membatalkan untuk kembali merokok di luar dan kami pun akhirnya duduk di sofa. Aku pun menyalakan TV untuk menonton re-run pertandingan yang ku lewatkan tadi pagi.
"Kamu mau makan ngga? Kalau mau aku sekalian pesenin." Tanyanya.
Aku mengangguk pertanda setuju. Pertandingan dimulai, tak lama berselang pesanan kami pun datang. Sesekali ada perbincangan mengenai basket yang Bulan tanyakan padaku, aku pun menjawabnya dengan sangat serius. Dan tak terasa pertandingan pun selesai bersamaan dengan habisnya makanan kami, kemudian kami pun membereskan sisa makanan kami untuk dibuang di halaman depan.
"Kamu mau ngga?" Tanyaku menyerahkan minuman botolan.
Ia mengangguk kemudian tersenyum, kami pun kembali ke kamarku. Aku memutuskan untuk menyalakan sebatang rokok di balkon lalu diikuti oleh Bulan.
"Kamu kenapa ngga ngerokok di dalem aja?" Tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku, "Ada kamu di dalem, ngga enak aku kalau ngerokok di sana. Mending di sini aja biar langsung kesapu sama angin."
"Yi, kamu pernah ngga sih suka sama orang yang baru kamu kenal?" Tanyanya.
"Kalau aku pikir bukannya kita emang selalu suka sama orang yang baru kita kenal?..." aku menghadap ke arah Bulan, "semisal gini, kayak kita ketemu sama orang baru terus kita mau jadi temennya dia. Bukannya itu udah termasuk suka dulu sama seseorang sekalipun temen?"
"Bener juga ya kata-kata kamu." Ucap Bulan.
"Tapi kalau yang kamu maksud itu suka yang lebih dari temen sih bisa aja, mungkin aku pernah kayaknya ngalamin kayak gitu." Kataku.
"Salah ngga sih?" Tanyanya padaku.
"Ngga ada yang salah dong, isi hati orang yang sebenernya ngga ada yang tau. Aku selalu berpegang pada kata-kata itu sih, jadi ngga bisa disalahin..." ku kernyitkan dahiku, "kamu lagi suka sama siapa emangnya?"
"Hm... mungkin kamu kenal sama orangnya." Jawabnya ragu.
Aku cukup terkejut setelah mendengar perkataannya, "Serius aku kenal? Bentar deh, orang baru... Ferdi?"
Bulan menggelengkan kepalanya, "Nanti kamu juga tau kok siapa orangnya, ngga tau sebentar lagi atau mungkin masih lama."
Aku mencoba berpikir lebih cepat dari biasannya, namun tidak ada satu pun petunjuk yang muncul di pikiranku. Tik! Tik! Tik! Aku dan Bulan secara bersamaan melihat ke arah langit malam ini, tak ku sangka malam ini akan turun hujan. Kami pun masuk ke dalam kamar, Bulan duduk di atas sofa sementara aku menutup pintu.
"Kok bisa ujan ya?..." aku duduk di sampingnya, "padahal cerah dari pagi."
"Ngga melulu cerah berarti ngga ujan Yi. Mungkin sama kayak kata-kata yang kamu pegang, bedanya ini cuaca aja." Jawab Bulan.
Aku menganggukkan kepala beberapa kali. Hujan turun semakin deras, dapat terlihat dari kaca pintu kamarku. Bulan mengajakku untuk menonton film karena ia belum mengantuk malam ini.
"Kamu udah nonton film ini?" Tanyanya.
Sebuah film yang tidak asing bagiku, 500 Days of Summer. Sebuah film yang berhasil ku tonton setelah aku membaca sebuah catatan di buku harian yang sudah ku simpan dalam-dalam. Dan akhirnya kami pun menonton film tersebut. Hujan masih terus turun menemani kami yang tidak mengalihkan pandangan dari film yang sedang diputar.
"Kamu pernah kayak gitu Yi?" Tanya Bulan.
"Kalau maksud kamu adegan di kamar mandi itu belum sih." Kataku.
Perbincangan kami terhenti begitu saja. Beberapa menit berlalu hingga film yang kami tonton pun habis, begitu juga dengan Bulan yang sudah tertidur menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku memutuskan untuk menggendongnya lalu memindahkannya ke atas tempat tidur.
"Ayi..."
Aku cukup terkejut dengan bangunnya Bulan sementara aku masih menggendongnya menuju ke atas tempat tidur, dan hal ini pula yang membuatku terdiam beberapa saat.
"Kamu... ketiduran tadi, jadi... aku pindahin." Kataku.
Bulan mengangguk secara perlahan, aku pun berjalan menuju tempat tidur. Tepat di pinggir tempat tidur, aku kembali terdiam karena Bulan yang melihat ke arahku. Ku baringkan tubuhnya secara perlahan, namun nampaknya tangannya yang mengalung di leherku seperti menarikku juga. Tubuhnya terbaring dengan nyaman di atas tempat tidur, begitu juga dengan kepalaku yang berhasil ia tarik.
Entah sudah berapa lama, aku pun tidak tau. Bibir kami saling bersentuhan satu sama lain, masih diiringi oleh hujan yang tak kunjung reda entah sudah jam berapa. Terhenti sejenak, kami saling beradu pandang dalam jarak yang dekat. Tangan Bulan yang masih mengalung di leherku pun kembali mendekatkan bibir kami untuk ke dua kalinya, rasanya aku seperti melupakan semua yang ada di dalam kepalaku dan larut pada malam yang semakin menjadi.
*
Drrt! Drrt! Drrt! Secara perlahan aku membuka mataku, pagi pun mulai menyambut dengan sejuknya setelah semalaman hujan turun. Aku menoleh ke arah kiri, Bulan masih tertidur dengan dada kiriku sebagai bantalannya. Jika kalian berharap sesuatu yang lebih terjadi setelah ciuman semalam, lebih baik lupakan saja karena tidak terjadi apa-apa setelah itu.
Ku ambil handphone yang ku letakkan di meja samping, ku lihat ada beberapa pemberitahuan di dalamnya. Setelah ku balas beberapa yang menurutku penting, aku kembali meletakannya di tempat sebelumnya. Mungkin karena pergerakanku pula yang membuat Bulan membuka matanya tanpa ku ketahui.
"Ayi." Katanya dengan nada pelan.
"Eh, kamu udah bangun Bu? Apa kebangun? Tanyaku.
Ia tidak menjawab pertanyaanku, namun ia memelukku cukup erat. Tangan kananku bergerak untuk menyeka rambut yang menutupi wajahnya. Ia pun mengarahkan tanganku lalu meletakan telapak tanganku di pipinya. Beberapa saat kami saling diam satu sama lain, hingga Bulan menaikan badannya dan mendekat ke arah wajahku.
"Ayi, kamu inget ngga apa yang aku bilang kemarin?" Tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku tanpa melepas pandanganku darinya.
"Kemarin aku nanya ke kamu soal suka orang yang baru, aku kira bakalan kejadian di waktu yang lama. Tapi kenyataannya, cepet banget buat semuanya. Yang aku maksud itu kamu." Jelasnya.
"Bentar deh, kemarin kan orang yang baru kamu kenal pertanyaannya. Aku kan bukan orang baru yang kamu kenal." Kataku.
Bulan tidak merubah posisinya, "Sebenernya kalimatnya aku potong takut kamu tau. Seharusnya itu orang yang baru aku kenal lagi, aku rubah biar ngga terlalu ketahuan. Tapi sekarang malah kejadian yang ngga aku sangka."
Aku mengangguk secara perlahan, kemudian Bulan kembali menciumku meskipun hanya sesaat. Kami kembali beradu pandang satu sama lain.
"Aku suka sama kamu..."
Aku kembali terdiam setelah mendengar apa yang baru saja ia katakan.
"...Kedengarannya aneh ya? Kita baru aja ketemu lagi setelah sekian lama tapi aku bisa dengan cepat bilang suka ke kamu. Tapi setelah denger jawaban kamu kemarin, rasanya cukup untuk bilang ke kamu sekarang." Jelasnya.
"Kamu mau tau jawabannya?" Tanyaku.
Dengan cepat Bulan menutup mulutku dengan tangannya, "Aku ngga mau tau jawaban kamu apa, aku ngga mau ngerubah semuanya Yi. Mending kayak gini aja."
Aku mengangguk, Bulan pun melepas tangannya lalu kembali menciumku. Benar-benar pagi yang berbeda kali ini, ketika aku dapat mendengar sebuah pengakuan dari orang yang tidak aku duga sebelumnya.
Jika aku bisa berbicara jujur, mungkin benar saja tentang Bulan. Kedatangannya kembali di kehidupanku merubah semuanya setelah apa yang terjadi antara aku dan Renata, tidak terlalu berperan penting namun dapat menguatkan perasaanku untuk melupakan Renata.
Hari pun berlanjut tanpa perlu memikirkan apa-apa, aku dan Bulan melakukan kegiatan seadanya untuk mengisi hari libur kami. Kami telah kembali setelah membeli beberapa bahan yang dibutuhkan Bulan untuk membuat kue, salah satu kelebihan yang aku sudah tau sedari dulu. Dari mulai persiapan satu dan yang lainnya, aku mulai membantunya sebisa yang aku bisa.
"Kamu taburin tepungnya di atas meja." Katanya.
Aku hanya bisa mengikuti instruksi yang Bulan berikan, tak jarang pula karena bosan menunggu aku bermain dengan tepung yang masih tersisa. Bulan yang melihat kelakuanku pun memasukan beberapa jarinya ke dalam tepung dan dengan cepat mencoret mukaku. Ia pun tertawa, aku pun tidak mau kalah. Alhasil wajah kami pun sudah bertaburan tepung yang tersisa.
Selagi menunggu adonan matang di dalam oven, Bulan mencoba membersihkan wajahku dengan tangannya. Beberapa saat berlalu, Bulan memajukan tubuhnya seraya berjinjit kepadaku.
Ting! Suara yang berasal dari oven pertanda adonan sudah matang, "Bu, adonannya udah selesai tuh."
"Just give me another second." Jawabnya.
Ia pun kembali mendekatkan wajahnya untuk beberapa saat ke depan. Akhirnya adonan pun ku keluarkan dari dalam oven. Beberapa persiapan berlalu hingga akhirnya kue yang ia buat pun selesai. Tok! Tok! Tok! Aku pun berjalan mendekat ke arah pintu.
"Mas Adrian!" Ucap Bella dengan nada yang cukup tinggi.
"Astaga!..." aku sedikit menjauh dari pintu, "bisa ngga sih pagi-pagi ngga ngagetin orang? Eh, rame ternyata kirain kamu doang."
Di belakang Bella sudah berdiri juga Rara, Mita, Gigi, dan juga Ferdi. Aku mempersilahkan mereka untuk masuk, mereka pun disambut juga oleh Bulan dan juga kue buatannya yang baru saja selesai.
"Mau dong Ka Bulan kuenya." Ucap Rara.
Bulan pun membagikan kue tersebut kepada mereka, pujian demi pujian dilontarkan oleh mereka setelah merasakan kue buatannya. Hanya butuh beberapa menit untuk menghabiskan kue tersebut, kami pun beranjak menuju ruang tamu untuk berkumpul.
"Ngomong-ngomong tumben banget bisa semuanya begini." Kataku.
"Kebetulan aja Mas jadinya bisa kayak gini." Ucap Gigi.
"Eh ngomongin si Echa lagi nih, gue punya..."
"Bajing*n pagi-pagi udah gosip aja." Kataku memotong pembicaraan Ferdi.
"Ah peduli amat, gue udah ngga tahan buat cerita. Jadi beredar kabar kalau..."
Seperti itulah kegiatan pergunjingan kami pada pagi menjelang siang ini. Kabar burung bertebangan dari mulut Ferdi, ada yang di rasa benar dan ada yang tampak mengada-ada saja agar memberikan keseruan yang lebih.
Siang menyambut, kami pun sudah memesan makanan untuk makan siang kali ini ditemani dengan tontonan sebuah serial yang sedang naik daun belakangan. Tak jarang, kami membicarakan tentang serial tersebut dan beradu pendapat satu sama lain hingga makanan kami pun habis.
Lambat laun perdebatan ini semakin ricuh karena pendapat kami yang tidak mau kalah dengan yang lain, aku pun memutuskan untuk mengambil kartu permainan yang ada di bawah meja. Beruntungnya semua perdebatan itu bisa teralihkan oleh kartu yang ku berikan, akhirnya kami pun memulai permainan ini.
Permainan yang ternyata seru ini berhasil membunuh waktu libur kami, tak terasa sore pun menjelang. Bulan sudah turun membawa koper miliknya dari kamarku, ia akan segera kembali dan bersiap untuk perjalanan esok hari.
"Ka Bulan sama kita aja mau ngga? Kita sekalian mau ke x soalnya." Ucap Mita.
"Boleh deh kalau ngga ngerepotin." Kata Bulan.
Mereka pun keluar dari rumahku menuju teras depan, aku segera mengikuti mereka untuk keluar. Bulan sudah meletakkan kopernya di bagasi Mobil Mita, kemudian mereka pun pergi meninggalkan kami.
"Berdua lagi." Ucap kami bersamaan.
Bukan hanya perkataan, kami pun duduk di teras secara bersamaan pula. Sebatang rokok sudah berhasil kami nyalakan masing-masing, asap yang dihembuskan pun berhasil tersapu oleh semilir angin ditambah dengan sinar matahari yang sudah siap akan tenggelam.
"Jadi..." Ferdi menghebuskan asap rokok, "Bulan nih?"
Ku gelengkan kepala sambil menghembuskan asap rokok, "Sebenernya ngga paham gue sama maksud pertanyaan lu, cuma gue jawab aja deh. Gue pun ngga tau arahnya mau ke mana, Bulan itu temen kecil gue."
"Emang kenapa kalau di dia temen kecil? Ngga boleh suka sama temen masa kecil lu?" Tanyanya.
"Kan udah gue bilang barusan kalau gue ngga tau arahnya mau kemana Fer." Kataku.
"Lu sampai sekarang masih keingetan Renata?" Tanyanya.
Ferdi berhasil membuatku menoleh ke arahnya, "Terlalu banyak persimpangan Fer, setiap belokan dari tiap persimpangan itu punya tujuan yang berbeda meskipun tandanya mirip. Dan semuanya bisa punya resiko masing-masing, Butterfly Effect."
Ferdi pun menoleh juga ke arahku, "Kalau gue inget-inget, kok cerita hidup lu bisa mirip sama cerita yang lu bikin sih?"
***
"Iya tadi sore aku baru mendarat, dan kebetulan besok libur jadi aku mampir ke sini aja deh." Jawab Bulan.
"Gimana sih Ka rasanya jadi pramugari yang harus terbang mulu?" Tanya Rara.
Aku membuatkan minuman untuk Bulan selagi mereka dengan serunya bertanya bagaimana tentang pekerjaannya. Tanpa ragu pun Bulan menjawab pertanyaan mereka satu persatu dengan jelas, aku hanya bisa menganggukkan kepala tanpa mereka ketahui. Setelah selesai, aku memberikan minuman tersebut kepada Bulan.
"Oh capek juga ya Ka ternyata, aku kira selama ini pramugari tuh enak jalan-jalan mulu." Kata Gigi.
"Terlihat nyaman oleh orang lain sih, mungkin aku juga ngerasa kayaknya kerjaan kamu enak daripada aku." Ucap Bulan.
Tak terasa sudah dipenghujung waktu untuk kedai ini buka, kami pun mulai membereskan semua perlengkapan sebelum mengakhiri hari Sabtu ini. Sesekali aku melihat ke arah Bulan yang sedang menunggu di luar sana bersama dengan Bella.
Dan semuanya pun beres, satu persatu dari kami pun meninggalkan tempat ini. Aku dan Bulan sedang berdiri di samping motor sementara aku mengenakan helm kepadanya.
"Serius nggapapa Yi? Aku bawa koper loh." Ucapnya.
"Tenang aja, percaya sama Syailendra." Kataku.
Ku letakkan koper milik Bulan di atas tangki Syailendra setelah mengalasinya dengan pelindung, kemudian aku mulai mengikat koper tersebut di beberapa celah yang memang sudah biasa ku lakukan. Bulan nampak terkejut karena memang bisa saja membawa koper miliknya dengan motorku, dan akhirnya kami pun meninggalkan tempat ini.
Selama di perjalanan cukup banyak yang kami perbincangkan, sekiranya setelah lima hari tidak bertemu. Sesekali kami mentertawakan hal-hal yang sudah kami bicarakan.
"Aku mau nanya deh, kamu emang ngga kedinginan kalau naik motor ngga pake sweater?" Tanya Bulan.
"Santai aja, udah biasa kok." Kataku.
Perjalanan pun berlanjut hingga kami memasuki kompkek perumahan Bulan, dan akhirnya kami dikejutkan setelah sampai di rumahnya.
"Kok gelap Bu?" Tanyaku.
Keadaan rumah Bulan gelap tanpa ada penerangan, hanya ada cahaya dari lampu jalan satu-satunya sumber penerangan. Bulan pun turun menuju ke gerbang rumahnya.
"Kok dikunci ya?" Tanyanya.
Aku pun ikut turun untuk menghampirinya dan benar saja ada gembok yang terkunci. Bulan pun mengeluarkan handphone miliknya, namun belum sempat ia melakukan sesuatu dengan handphonya ia pun menepuk dahinya pelan.
"Aku bener-bener lupa Yi kalau Ayah sama Ibu lagi pergi ke x sampai minggu depan." Ucapnya.
"Kamu mau ke rumah aku aja?" Tanyaku.
"Emang nggapapa? Aku jadi tambah ngerepotin kamu lagi." Katanya.
"Nggapapa kok kalau kamu mau." Kataku.
Kami pun kembali menaiki motor untuk menuju ke rumahku. Selesai memasukkan Syailendra ke dalam garasi, kami pun masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, aku mengambil minuman dari kulkas dan ku berikan satu kepada Bulan. Kami pun naik ke lantai atas menuju kamarku, ku letakkan koper Bulan di samping tas milikku.
"Aku beneran nggapapa di sini Yi?" Tanyanya.
Aku menganggukkan kepala, "Nggapapa kok, kalau kamu mau ke kamar mandi ada di sana. Nanti kamu tidur di kasur aja, aku bisa di sini kok."
Bulan mengangguk beberapa kali, aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sementara Bulan membereskan barang-barangnya di dalam koper.
Beberapa menit berlalu, aku pun selesai. Bulan pun bergantian masuk ke kamar mandi sementara aku memutuskan untuk menyalakan sebatang rokok di balkon kamar. Ku buka handphone yang sudah ku genggam, ada pesan masuk dari Bella yang menanyakan perihal kopi dan teman-temannya. Aku mulai membalas pesan tersebut, beberapa menit berlalu hingga rokok di tanganku habis.
"Eh mana ya?" Tanyaku seorang diri.
Aku mencari di mana bungkus rokok milikku, namun tidak ada di sini. Pasti ada di samping TV di mana aku biasa menaruhnya, aku pun membalikkan badanku. Aku berjalan masuk bersamaan dengan keluarnya Bulan dari kamar mandi, sempat terjadi kebisuan setelah kami saling beradu pandang. Sebuah senyuman berhasil merubah kebisuan itu, kami pun bertemu di depan TV.
"Kamu kalau mau ngeringin rambut di situ aja." Kataku.
Bulan mengangguk lalu duduk di kursi yang biasa ku duduki, ia pun mulai mengeringkan rambutnya. Aku pun mengambil bungkus rokok di depan TV.
"Kamu masih suka baca juga?" Tanya Bulan.
"Kayaknya itu doang yang ngga ngebosenin meskipun udah pernah ditamatin, jadi sampai sekarang pun aku masih suka baca." Jawabku.
"Kamu ngga ada niatan buat nulis cerita kayak di Wattp*dgitu?" Tanyanya lagi.
"Mungkin nanti, aku belum punya cukup keberanian buat nulis." Kataku berbohong.
Bulan pun selesai mengeringkan rambutnya, aku membatalkan untuk kembali merokok di luar dan kami pun akhirnya duduk di sofa. Aku pun menyalakan TV untuk menonton re-run pertandingan yang ku lewatkan tadi pagi.
"Kamu mau makan ngga? Kalau mau aku sekalian pesenin." Tanyanya.
Aku mengangguk pertanda setuju. Pertandingan dimulai, tak lama berselang pesanan kami pun datang. Sesekali ada perbincangan mengenai basket yang Bulan tanyakan padaku, aku pun menjawabnya dengan sangat serius. Dan tak terasa pertandingan pun selesai bersamaan dengan habisnya makanan kami, kemudian kami pun membereskan sisa makanan kami untuk dibuang di halaman depan.
"Kamu mau ngga?" Tanyaku menyerahkan minuman botolan.
Ia mengangguk kemudian tersenyum, kami pun kembali ke kamarku. Aku memutuskan untuk menyalakan sebatang rokok di balkon lalu diikuti oleh Bulan.
"Kamu kenapa ngga ngerokok di dalem aja?" Tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku, "Ada kamu di dalem, ngga enak aku kalau ngerokok di sana. Mending di sini aja biar langsung kesapu sama angin."
"Yi, kamu pernah ngga sih suka sama orang yang baru kamu kenal?" Tanyanya.
"Kalau aku pikir bukannya kita emang selalu suka sama orang yang baru kita kenal?..." aku menghadap ke arah Bulan, "semisal gini, kayak kita ketemu sama orang baru terus kita mau jadi temennya dia. Bukannya itu udah termasuk suka dulu sama seseorang sekalipun temen?"
"Bener juga ya kata-kata kamu." Ucap Bulan.
"Tapi kalau yang kamu maksud itu suka yang lebih dari temen sih bisa aja, mungkin aku pernah kayaknya ngalamin kayak gitu." Kataku.
"Salah ngga sih?" Tanyanya padaku.
"Ngga ada yang salah dong, isi hati orang yang sebenernya ngga ada yang tau. Aku selalu berpegang pada kata-kata itu sih, jadi ngga bisa disalahin..." ku kernyitkan dahiku, "kamu lagi suka sama siapa emangnya?"
"Hm... mungkin kamu kenal sama orangnya." Jawabnya ragu.
Aku cukup terkejut setelah mendengar perkataannya, "Serius aku kenal? Bentar deh, orang baru... Ferdi?"
Bulan menggelengkan kepalanya, "Nanti kamu juga tau kok siapa orangnya, ngga tau sebentar lagi atau mungkin masih lama."
Aku mencoba berpikir lebih cepat dari biasannya, namun tidak ada satu pun petunjuk yang muncul di pikiranku. Tik! Tik! Tik! Aku dan Bulan secara bersamaan melihat ke arah langit malam ini, tak ku sangka malam ini akan turun hujan. Kami pun masuk ke dalam kamar, Bulan duduk di atas sofa sementara aku menutup pintu.
"Kok bisa ujan ya?..." aku duduk di sampingnya, "padahal cerah dari pagi."
"Ngga melulu cerah berarti ngga ujan Yi. Mungkin sama kayak kata-kata yang kamu pegang, bedanya ini cuaca aja." Jawab Bulan.
Aku menganggukkan kepala beberapa kali. Hujan turun semakin deras, dapat terlihat dari kaca pintu kamarku. Bulan mengajakku untuk menonton film karena ia belum mengantuk malam ini.
"Kamu udah nonton film ini?" Tanyanya.
Sebuah film yang tidak asing bagiku, 500 Days of Summer. Sebuah film yang berhasil ku tonton setelah aku membaca sebuah catatan di buku harian yang sudah ku simpan dalam-dalam. Dan akhirnya kami pun menonton film tersebut. Hujan masih terus turun menemani kami yang tidak mengalihkan pandangan dari film yang sedang diputar.
"Kamu pernah kayak gitu Yi?" Tanya Bulan.
"Kalau maksud kamu adegan di kamar mandi itu belum sih." Kataku.
Perbincangan kami terhenti begitu saja. Beberapa menit berlalu hingga film yang kami tonton pun habis, begitu juga dengan Bulan yang sudah tertidur menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku memutuskan untuk menggendongnya lalu memindahkannya ke atas tempat tidur.
"Ayi..."
Aku cukup terkejut dengan bangunnya Bulan sementara aku masih menggendongnya menuju ke atas tempat tidur, dan hal ini pula yang membuatku terdiam beberapa saat.
"Kamu... ketiduran tadi, jadi... aku pindahin." Kataku.
Bulan mengangguk secara perlahan, aku pun berjalan menuju tempat tidur. Tepat di pinggir tempat tidur, aku kembali terdiam karena Bulan yang melihat ke arahku. Ku baringkan tubuhnya secara perlahan, namun nampaknya tangannya yang mengalung di leherku seperti menarikku juga. Tubuhnya terbaring dengan nyaman di atas tempat tidur, begitu juga dengan kepalaku yang berhasil ia tarik.
Entah sudah berapa lama, aku pun tidak tau. Bibir kami saling bersentuhan satu sama lain, masih diiringi oleh hujan yang tak kunjung reda entah sudah jam berapa. Terhenti sejenak, kami saling beradu pandang dalam jarak yang dekat. Tangan Bulan yang masih mengalung di leherku pun kembali mendekatkan bibir kami untuk ke dua kalinya, rasanya aku seperti melupakan semua yang ada di dalam kepalaku dan larut pada malam yang semakin menjadi.
*
Drrt! Drrt! Drrt! Secara perlahan aku membuka mataku, pagi pun mulai menyambut dengan sejuknya setelah semalaman hujan turun. Aku menoleh ke arah kiri, Bulan masih tertidur dengan dada kiriku sebagai bantalannya. Jika kalian berharap sesuatu yang lebih terjadi setelah ciuman semalam, lebih baik lupakan saja karena tidak terjadi apa-apa setelah itu.
Ku ambil handphone yang ku letakkan di meja samping, ku lihat ada beberapa pemberitahuan di dalamnya. Setelah ku balas beberapa yang menurutku penting, aku kembali meletakannya di tempat sebelumnya. Mungkin karena pergerakanku pula yang membuat Bulan membuka matanya tanpa ku ketahui.
"Ayi." Katanya dengan nada pelan.
"Eh, kamu udah bangun Bu? Apa kebangun? Tanyaku.
Ia tidak menjawab pertanyaanku, namun ia memelukku cukup erat. Tangan kananku bergerak untuk menyeka rambut yang menutupi wajahnya. Ia pun mengarahkan tanganku lalu meletakan telapak tanganku di pipinya. Beberapa saat kami saling diam satu sama lain, hingga Bulan menaikan badannya dan mendekat ke arah wajahku.
"Ayi, kamu inget ngga apa yang aku bilang kemarin?" Tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku tanpa melepas pandanganku darinya.
"Kemarin aku nanya ke kamu soal suka orang yang baru, aku kira bakalan kejadian di waktu yang lama. Tapi kenyataannya, cepet banget buat semuanya. Yang aku maksud itu kamu." Jelasnya.
"Bentar deh, kemarin kan orang yang baru kamu kenal pertanyaannya. Aku kan bukan orang baru yang kamu kenal." Kataku.
Bulan tidak merubah posisinya, "Sebenernya kalimatnya aku potong takut kamu tau. Seharusnya itu orang yang baru aku kenal lagi, aku rubah biar ngga terlalu ketahuan. Tapi sekarang malah kejadian yang ngga aku sangka."
Aku mengangguk secara perlahan, kemudian Bulan kembali menciumku meskipun hanya sesaat. Kami kembali beradu pandang satu sama lain.
"Aku suka sama kamu..."
Aku kembali terdiam setelah mendengar apa yang baru saja ia katakan.
"...Kedengarannya aneh ya? Kita baru aja ketemu lagi setelah sekian lama tapi aku bisa dengan cepat bilang suka ke kamu. Tapi setelah denger jawaban kamu kemarin, rasanya cukup untuk bilang ke kamu sekarang." Jelasnya.
"Kamu mau tau jawabannya?" Tanyaku.
Dengan cepat Bulan menutup mulutku dengan tangannya, "Aku ngga mau tau jawaban kamu apa, aku ngga mau ngerubah semuanya Yi. Mending kayak gini aja."
Aku mengangguk, Bulan pun melepas tangannya lalu kembali menciumku. Benar-benar pagi yang berbeda kali ini, ketika aku dapat mendengar sebuah pengakuan dari orang yang tidak aku duga sebelumnya.
Jika aku bisa berbicara jujur, mungkin benar saja tentang Bulan. Kedatangannya kembali di kehidupanku merubah semuanya setelah apa yang terjadi antara aku dan Renata, tidak terlalu berperan penting namun dapat menguatkan perasaanku untuk melupakan Renata.
Hari pun berlanjut tanpa perlu memikirkan apa-apa, aku dan Bulan melakukan kegiatan seadanya untuk mengisi hari libur kami. Kami telah kembali setelah membeli beberapa bahan yang dibutuhkan Bulan untuk membuat kue, salah satu kelebihan yang aku sudah tau sedari dulu. Dari mulai persiapan satu dan yang lainnya, aku mulai membantunya sebisa yang aku bisa.
"Kamu taburin tepungnya di atas meja." Katanya.
Aku hanya bisa mengikuti instruksi yang Bulan berikan, tak jarang pula karena bosan menunggu aku bermain dengan tepung yang masih tersisa. Bulan yang melihat kelakuanku pun memasukan beberapa jarinya ke dalam tepung dan dengan cepat mencoret mukaku. Ia pun tertawa, aku pun tidak mau kalah. Alhasil wajah kami pun sudah bertaburan tepung yang tersisa.
Selagi menunggu adonan matang di dalam oven, Bulan mencoba membersihkan wajahku dengan tangannya. Beberapa saat berlalu, Bulan memajukan tubuhnya seraya berjinjit kepadaku.
Ting! Suara yang berasal dari oven pertanda adonan sudah matang, "Bu, adonannya udah selesai tuh."
"Just give me another second." Jawabnya.
Ia pun kembali mendekatkan wajahnya untuk beberapa saat ke depan. Akhirnya adonan pun ku keluarkan dari dalam oven. Beberapa persiapan berlalu hingga akhirnya kue yang ia buat pun selesai. Tok! Tok! Tok! Aku pun berjalan mendekat ke arah pintu.
"Mas Adrian!" Ucap Bella dengan nada yang cukup tinggi.
"Astaga!..." aku sedikit menjauh dari pintu, "bisa ngga sih pagi-pagi ngga ngagetin orang? Eh, rame ternyata kirain kamu doang."
Di belakang Bella sudah berdiri juga Rara, Mita, Gigi, dan juga Ferdi. Aku mempersilahkan mereka untuk masuk, mereka pun disambut juga oleh Bulan dan juga kue buatannya yang baru saja selesai.
"Mau dong Ka Bulan kuenya." Ucap Rara.
Bulan pun membagikan kue tersebut kepada mereka, pujian demi pujian dilontarkan oleh mereka setelah merasakan kue buatannya. Hanya butuh beberapa menit untuk menghabiskan kue tersebut, kami pun beranjak menuju ruang tamu untuk berkumpul.
"Ngomong-ngomong tumben banget bisa semuanya begini." Kataku.
"Kebetulan aja Mas jadinya bisa kayak gini." Ucap Gigi.
"Eh ngomongin si Echa lagi nih, gue punya..."
"Bajing*n pagi-pagi udah gosip aja." Kataku memotong pembicaraan Ferdi.
"Ah peduli amat, gue udah ngga tahan buat cerita. Jadi beredar kabar kalau..."
Seperti itulah kegiatan pergunjingan kami pada pagi menjelang siang ini. Kabar burung bertebangan dari mulut Ferdi, ada yang di rasa benar dan ada yang tampak mengada-ada saja agar memberikan keseruan yang lebih.
Siang menyambut, kami pun sudah memesan makanan untuk makan siang kali ini ditemani dengan tontonan sebuah serial yang sedang naik daun belakangan. Tak jarang, kami membicarakan tentang serial tersebut dan beradu pendapat satu sama lain hingga makanan kami pun habis.
Lambat laun perdebatan ini semakin ricuh karena pendapat kami yang tidak mau kalah dengan yang lain, aku pun memutuskan untuk mengambil kartu permainan yang ada di bawah meja. Beruntungnya semua perdebatan itu bisa teralihkan oleh kartu yang ku berikan, akhirnya kami pun memulai permainan ini.
Permainan yang ternyata seru ini berhasil membunuh waktu libur kami, tak terasa sore pun menjelang. Bulan sudah turun membawa koper miliknya dari kamarku, ia akan segera kembali dan bersiap untuk perjalanan esok hari.
"Ka Bulan sama kita aja mau ngga? Kita sekalian mau ke x soalnya." Ucap Mita.
"Boleh deh kalau ngga ngerepotin." Kata Bulan.
Mereka pun keluar dari rumahku menuju teras depan, aku segera mengikuti mereka untuk keluar. Bulan sudah meletakkan kopernya di bagasi Mobil Mita, kemudian mereka pun pergi meninggalkan kami.
"Berdua lagi." Ucap kami bersamaan.
Bukan hanya perkataan, kami pun duduk di teras secara bersamaan pula. Sebatang rokok sudah berhasil kami nyalakan masing-masing, asap yang dihembuskan pun berhasil tersapu oleh semilir angin ditambah dengan sinar matahari yang sudah siap akan tenggelam.
"Jadi..." Ferdi menghebuskan asap rokok, "Bulan nih?"
Ku gelengkan kepala sambil menghembuskan asap rokok, "Sebenernya ngga paham gue sama maksud pertanyaan lu, cuma gue jawab aja deh. Gue pun ngga tau arahnya mau ke mana, Bulan itu temen kecil gue."
"Emang kenapa kalau di dia temen kecil? Ngga boleh suka sama temen masa kecil lu?" Tanyanya.
"Kan udah gue bilang barusan kalau gue ngga tau arahnya mau kemana Fer." Kataku.
"Lu sampai sekarang masih keingetan Renata?" Tanyanya.
Ferdi berhasil membuatku menoleh ke arahnya, "Terlalu banyak persimpangan Fer, setiap belokan dari tiap persimpangan itu punya tujuan yang berbeda meskipun tandanya mirip. Dan semuanya bisa punya resiko masing-masing, Butterfly Effect."
Ferdi pun menoleh juga ke arahku, "Kalau gue inget-inget, kok cerita hidup lu bisa mirip sama cerita yang lu bikin sih?"
***
Diubah oleh beavermoon 10-04-2020 18:37
oktavp dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas