Kaskus

Story

suciasdhanAvatar border
TS
suciasdhan
Cinta Bersemi di Kedai Serabi
Kumpulan Cerita Romantis Bikin Baper

Cinta Bersemi di Kedai Serabi

Sumber: gambar di sini

Sepagi ini kedai Mak Otih sudah penuh sesak. Serabi buatan Mak Otih memang yang paling terkenal di desa Cipedes ini. Penganan yang terbuat dari campuran tepung terigu yang gurih dan air kelapa, banyak diburu oleh warga desa ini dan menjadi alternatif pilihan untuk sarapan. Cara memasaknya yang masih tradisional—menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat serta kayu bakar di bawahnya untuk mematangkan serabinya—membuat serabi ini memiliki rasa dan aroma yang khas. Varian serabinya hanya dua macam, yaitu topping oncom sangrai untuk rasa asin, dan serabi disiram kuah gula merah atau kinca untuk yang rasa manis. Bahkan, untuk serabi topping oncom bisa ditambahkan telur agar rasanya semakin gurih.

Sopi mengamati tangan Mak Otih yang menyendok adonan serabi ke dalam wajan tanah liat dengan cekatan. Adonan yang masih cair itu kemudian ditaburi oncom sangrai. Asap mengepul dari sana. Aroma serabi yang hampir matang membuat gadis itu menelan saliva berulang kali. Perutnya semakin keroncongan. Terbayang di mulutnya rasa legit kuah kinca bercampur dengan kue serabi yang gurih, lezat rasanya.

Empat orang pemuda iseng mulai melirik nakal ke arah Sopi yang terlihat cantik. Salah satu dari mereka mulai menggodanya.

"Hai, Neng geulis, sendirian aja nih. Boleh Akang temenin?"

"Akang mah mau langsung kenalan aja, boleh enggak?" Seorang pemuda lainnya mulai mendekati Sopi. Sementara dua pemuda yang lainnya hanya tertawa-tawa.

Sopi mulai jengah dengan gangguan dari keempat pemuda itu. Bahkan salah satunya yang tadi minta kenalan mulai berani mencolek lengannya. Segera saja Sopi menepis tangan jahil pemuda jangkung berambut keriting itu. Memangnya aku ini sabun colek apa? pikir Sopi, kesal.

"Widih, si Eneng meuni sombong ih. Belum tahu ya kita ini siapa? Kita teh F4, tapi bukan pemeran di drama Meteor Garden ya. Saya Firman, itu Fikri, Farid, dan Ferdi." Pemuda berkaus biru donker berlogo salah satu superhero terkenal di dunia, menunjuk ke arah ketiga temannya sambil ikut mendekat ke arah Sopi.

Sopi masih membisu, dalam hati ia geram dengan tingkah para pemuda itu. Perempuan di kedai ini kan banyak, kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini? gumamnya.

Melihat gadis itu beranjak dari tempat duduknya, hendak berlalu dari kedai, keempat pemuda itu malah semakin gencar menggodanya.

"Mau ke mana Neng? Buru-buru amat. Kita kan belum saling mengenal. Tukeran nomor hp aja belum, udah mau pergi. Rumahnya di mana sih? Akang antar ya. Tenang, dijamin aman, selamat sampai tujuan." Pemuda berkaus hitam bergambar logo band Linkin Park mengejar Sopi dan menggenggam tangan gadis itu.

Sopi berusaha melepaskan diri, tetapi genggaman tangan pemuda itu malah semakin kuat. Ia meringis kesakitan. Keempat pemuda itu tertawa puas.

"Heii, kalian! Lepaskan gadis itu. Belum tahu ya kalau dia itu pacar saya? Seenaknya main antar pacar orang. Yuk, Neng Akang antar." Suara seorang lelaki tampan berdandan ala Kabayan berhasil menghalau keempat pemuda itu. Mereka pun menjauh dari Sopi. Setelah berpamitan pada Emaknya yang tengah membalikkan serabi dari wadah, pemuda itu pun berjalan beriringan dengan sang gadis.

"Yuk, Neng. Enggak usah takut, saya mah bukan lelaki cunihin seperti mereka. Kalau mau jahil ke perempuan, saya selalu ingat sama Emak. Gimana kalau Emak juga digodain kayak gitu? Saya pasti marah besar," ucap lelaki itu setelah agak menjauh dari kedai.

Dalam hati, Sopi memuji ucapan pemuda di sampingnya yang sangat santun dan hormat memperlakukan ibunya. Yang jadi istrinya, sudah pasti akan diperlakukan dengan baik juga. Sopi malu sendiri, dan buru-buru menepis pikiran yang baru saja terlintas di benaknya. Mereka berjalan berdampingan. Keduanya sama-sama merasa canggung, tak ada yang berani membuka percakapan. Hanya sesekali mereka saling beradu pandang, kemudian sama-sama tersenyum dan menunduk, malu. Hingga tiba di tempat tujuan pun, mereka masih diam seribu bahasa.

Sementara itu, Pak Asep yang sedari tadi merasakan perasaannya tak enak, selalu terbayang wajah putri cantiknya. Rasa kuatir menggelayuti pikirannya, takut sesuatu menimpa Sopi. Sesekali ia menatap ke arah jalan, mencari sosok yang membuat hatinya gelisah. Tidak berapa lama, ia melihat gadis itu. Namun, ia tidak sendirian, seorang pemuda jangkung terlihat berjalan di sampingnya.

"Hei, pemuda, siapa kamu? Kenapa tampang anakku seperti ketakutan begitu? Hmm, mau macam-macam ya sama anak Jawara Pencak Silat ini? Hayu lah, Bapak mah enggak takut. Kita tandang di lapang sebelah!" Pak Asep sudah pasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang sosok yang terlihat sebagai ancaman bagi putri tersayangnya. Sopi dan Aden pun bengong.

Dengan kekuatan penuh, Pak Asep bersiap melayangkan pukulan ke arah pemuda tampan yang sedang berdiri di samping putrinya.

“Daddy—Daddy, calm down.” Sopi menghalangi serangan ayahnya dengan menggenggam tangan pria paruh baya itu yang sudah bulat terkepal dengan sempurna.

“Minggir, Sopi. Biar dia merasakan bogem mentah Bapak. Walau Bapakmu ini sudah tua, tapi Bapak masih kuat. Ayo sini, pemuda, lawan!” Pak Asep menghempaskan tangan Sopi yang menghalanginya.

“Pak Asep? Ini benar Pak Asep kan? Alhamdulillah, akhirnya kita ketemu juga.” Aden mencium punggung tangan pria di hadapannya yang napasnya masih tak beraturan. Emosi memenuhi rongga dadanya. Kedua matanya memelotot ke arah pemuda itu.

“Apa-apaan kamu? Diajak tanding malah cium tangan? Nyalimu ciut, Jang?” Pak Asep menghempaskan tangan Aden dengan kasar.

“Bapak lupa ya? Ini teh Aden, putranya Mak Otih. Dulu waktu SD Aden kan belajar pencak silat dari Bapak. Wah senangnya masih bisa berjumpa dengan guru bela diri favorit Aden.”

Mendengar penuturan pemuda yang berdiri di hadapannya, perlahan-lahan emosi Pak Asep menurun. “Jadi, ini Aden? Masya Allah, meuni kasep. Maafkan Bapak yang terlalu kuatir dengan keselamatan putri Bapak satu-satunya. Maklum, sejak Ibunya meninggal, hanya dia yang Bapak miliki di dunia ini. Bapak enggak mungkin lupa, hanya tadi mah pangling aja, sampai-sampai enggak ngenalin. Kamu kan yang pernah ngompol, ketakutan karena Bapak bentak, hahaha. Terus kamu itu terkenal paling cengeng di antara murid-murid Bapak yang lain. Kesenggol sedikit saja nangis kejer.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak bekas murid pencak silatnya itu.

Aden tersipu malu sambil melirik gadis cantik di sampingnya yang sedang bengong menyaksikan percakapan antara dirinya dan Pak Asep. “Jadi, Eneng ini teh putrinya Bapak?” lanjutnya.

“Iya, ini namanya Sopi, anak Bapak. Hayu atuh masuk, kita ngobrol-ngobrol di dalam. Sopi suguhkan makanan sama minuman.”

Sopi beranjak menuju dapur menyiapkan suguhan untuk sang tamu. Sementara itu Aden dan sang Ayah sudah duduk di kursi ruang tamu. Sesekali, Pak Asep melirik Aden yang mencuri pandang ke arah Sopi. Sepertinya pemuda itu tertarik pada putrinya. Sebuah senyuman tersungging di bibir lelaki paruh baya itu. Sementara Aden, yang kepergok sedang curi-curi pandang, jadi salah tingkah. Hatinya mengakui perempuan itu memang cantik, hanya dandanannya saja yang menurutnya terlalu berlebihan alias menor. Andai gadis itu berdandan sederhana, aura kecantikannya akan terpancar alami. Tidak berapa lama, Sopi muncul dengan baki berisi dua gelas teh manis dan beberapa stoples berisi kue kering juga makanan ringan.

“Ayo—ayo dimakan, Den,” tawar Pak Asep setelah Sopi menaruh semua bawaannya di atas meja.

“Eh iya, ngomong-ngomong serabi pesanan Bapak mana?” Kali ini pandangan mata pria itu beralih pada Sopi.

“My mood is going down, Daddy. So maafkan Sovia yang tak jadi membelinya.”
Aden menatap heran gadis yang duduk di samping Pak Asep. Buset, bukan hanya dandanannya yang lain, cara bicaranya juga aneh, gumamnya.

“Kok bisa?” Kening Pak Asep berkerut. Tak mengerti dengan kalimat yang diucapkan putrinya barusan. Sejurus kemudian, lelaki itu manggut-manggut menyimak cerita putrinya.

“Duh, Den. Maafkan Bapak yang sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Terima kasih telah menyelamatkan putri Bapak." Sudah waktunya Sopi punya pendamping hidup, yang akan melindunginya dari marabahaya, gumam Pak Asep dalam hati sambil menatap lekat-lekat Aden yang sedang mencuri pandang ke arah wajah Sopi. Untung saja, pemuda ini baik hati, jadi dia tetap membiarkan Aden memandang wajah Sopi sampai puas. Kalau pemuda culas yang melakukannya, pasti sudah dia gibas tanpa ampun sampai kapok.
***
“Daddy, ini kopinya.”

“Terima kasih, Sopi.” Gadis cantik itu mengangguk dan beranjak hendak menuju kamarnya.

“Sopi, mau ke mana? Sini duduk dulu sebentar, Bapak mau bicara.”

“Daddy, Sovia mau ke kamar, belum beres merapihkan alis.”

“Bentar doang kok. Enggak nyampe lima belas menit.” Pak Asep menyeruput kopinya. “Sopi, kopi buatan kamu mengingatkan Bapak sama almarhumah Ibumu. Racikannya sama-sama enak. Rasa kopi dan gulanya seimbang, pas.”
Sopi tersenyum melihat Ayahnya yang begitu penuh penghayatan menyeruput kopinya, terlihat sekali pria paruh baya itu menikmati setiap tegukan cairan hitam itu yang masuk ke kerongkongannya.

“Jadi begini, Geulis. Kamu sekarang sudah besar. Kuliah pun sudah selesai.” Pak Asep menatap wajah putri tersayangnya sebelum ia melanjutkan bicara. Pria itu tampak memutar otak mencari kalimat yang pas untuk menyampaikan maksudnya pada Sopi. “Sudah saatnya Bapak melepasmu, Sopi,” lanjutnya.

“Maksud Daddy?” Sopi tercengang mendengar ucapan lanjutan dari Ayahnya. Dahinya berkerut, tak paham dengan arah pembicaraan sang Ayah.

“Begini, Neng. Maksud Bapak—kamu—sudah waktunya kamu punya pendamping hidup.”

“What? Jadi maksud Daddy Sovia harus segera married? Menikah begitu? No, Daddy!”

“Dengar dulu Sopi. Bapak sudah pikirkan matang-matang hal ini. Bapak ....”

“Tapi, Daddy. Sovia enggak mau berpisah dari Daddy.” Sopi mulai terisak.

“Jangan nangis atuh, Neng. Bapak kan jadi ikut sedih. Setelah menikah nanti Sopi boleh kok tinggal di sini. Lagian calon kamu juga tinggalnya deket-deket sini kok.” Pak Asep mengelus lembut punggung putri tercintanya itu.

“Memangnya siapa orangnya, Daddy?” tanya Sopi, heran. Keningnya berkerut, seolah mencari siapa sosok pemuda yang tinggal di dekat sini. Ia menggelengkan kepalanya, nihil. Tak satu pun wajah lelaki yang bisa terbayang di benaknya.

“Kamu mau kan Bapak nikahkan sama Aden?” Pak Asep malah balik bertanya.
Sopi terperanjat mendengar Ayahnya menyebut nama itu. “What? Daddy enggak salah jodohin Sovia sama dia? Orangnya ganteng sih, tapi dandanannya persis seperti si Kabayan. Jangan-jangan dia juga pemalas, sama seperti Kabayan itu.”

“Sopi, kamu ingat waktu dia melindungi kamu dari pemuda-pemuda yang mengganggu?” Sopi mengangguk. “Nah, Bapak rasa dia bisa menjaga kamu dengan baik. Kesan pertama melihat dia, Bapak yakin dia anak yang baik, tidak seperti kebanyakan pemuda lainnya.”

Sopi tertegun. Pak Asep membiarkan gadis itu hanya diam saja, mungkin putrinya sedang mencoba meresapi semua ucapannya. Hanya helaan napas gadis cantik itu yang sesekali terdengar.
Setelah hening beberapa saat, tak lama kemudian, Sopi pun buka suara, “Baiklah, Daddy, beri Sovia waktu untuk berpikir.” Gadis itu menyeret langkahnya menuju kamar, meninggalkan Pak Asep yang di hatinya tengah berharap sang putri mau menerima rencana perjodohan ini.
Satu jam berlalu. Namun, tak ada tanda-tanda Sopi keluar dari kamarnya. Pak Asep pun merasa heran. Ia mulai mengetuk pintu kamar Sopi.

“Sopi, Neng, sarapan yuk.” Tak ada sahutan. “Geulis, Bapak udah bikinin telor ceplok kesukaan kamu. Kita makan bareng yuk.” Tetap tak ada sahutan. “Sopi, lagi apa di dalam? Masih dandan atau lanjutin mimpi? Masa baru juga bangun udah tidur lagi.”

Karena tak terdengar juga sahutan dari Sopi, Pak Asep membuka pintu kamar yang ternyata tak dikunci oleh pemiliknya. Namun, betapa kagetnya Pak Asep saat ia tak menemukan putrinya di dalam kamar itu. Ia mendapati jendela kamar putrinya terbuka lebar.

“Sopi? Kamu di mana, Nak? Ini mah ngajak Bapak main petak umpet ya?” Pak Asep mulai berkeliling ke seluruh ruangan, tetapi tetap saja ia tak menemukan putrinya. “Duh, Sopi. Kamu teh ke mana atuh? Bapak jadi kuatir.” Pak Asep memutuskan kembali ke kamar Sopi, siapa tahu di sana dia bisa menemukan petunjuk. Netra Pak Asep jatuh pada secarik kertas di atas nakas yang berisi tulisan tangan Sopi.

Daddy, maaf, Sovia gak bermaksud bikin Daddy cemas. Sovia hanya kesal mendengar rencana Daddy. Biarlah Sovia bertemu jodoh Sovia dengan sendirinya. Dan Sovia akan menikah setelah benar-benar merasa siap. Don’t worry Daddy, saat Daddy membaca surat ini, Sovia sudah berada di rumah Grandma.

Setelah membaca surat itu, Pak Asep yang sedari tadi pikirannya kalut, kini merasa lega. Bergegas lelaki itu melangkah ke luar hendak menyusul Sopi ke rumah Mak Onah. Wanita itu tampak sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya. Ia merasa heran saat dari kejauhan tampak putranya sedang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Wanita itu pun menyuruh putranya masuk dan menyodorkan segelas air putih yang langsung diteguk habis oleh Pak Asep.

“Heh, nyari apaan kamu teh? Tuh minum udah Emak ambilin. Kalau cemilan mah kebetulan lagi kosong.” Mak Onah memandang heran putranya yang mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumahnya.

“Mak, Sopi ada di sini?” Kembali Pak Asep mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di rumah Emaknya.

Kening Mak Onah berkerut, heran dengan pertanyaan putranya. “Kalian kan tinggal serumah, kok nanya Sopi ke Emak?”
“Jadi, Sopi enggak ada di sini?” Pak Asep malah balik bertanya. Wajahnya mulai terlihat panik. Ia pun bangkit dari duduknya.

“Mau ke mana, Sep? Ada apa sebenarnya?” Asep menyerahkan surat yang ditulis Sopi kepada Mak Onah. Sejurus kemudian wanita itu membacanya dengan saksama. Raut wajahnya tampak serius.

“Seharusnya sudah sejam yang lalu dia tiba di sini,” ucap Mak Onah pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

“Duh, Sopi teh ke mana atuh ya, Mak?” Hati Pak Asep semakin diliputi rasa kuatir. Peluh mulai bercucuran di pelipisnya. Raut wajah Mak Onah pun sama-sama tegang, ikut merasakan kegelisahan yang sedang melanda putranya.

“Makanya, ini kan bukan zaman Siti Nurbaya. Kamu teh meuni seenaknya jodoh-jodohin Sopi.”

Pak Asep menyesali tindakannya, hingga membuat gadis itu pergi dari rumah. Kini entah di mana putrinya berada. Tak berapa lama, ia pun pamit untuk mencari putri kesayangannya. Namun, Mak Onah yang juga merasa sangat kuatir akan keberadaan cucunya, minta untuk ikut mencari. Akhirnya, mereka berdua berjalan menyusuri desa, berharap menemukan sosok cantik yang sangat dicintai.

“Sep, ngapain kamu bawa Emak ke kedai ini? Kamu belum sarapan? Kenapa tadi enggak makan di rumah Emak atuh?!” Mak Onah tampak kesal saat putranya membawa dia ke kedai serabi milik orang yang sangat dibencinya. Dulu, Mak Otih pernah berusaha merebut sang suami. Untunglah almarhum suaminya itu setia, sehingga tidak tergoda sedikit pun. Matanya menerawang, senyumnya terkembang ketika membayangkan sosok gagah perkasa sang suami yang mirip Gatotkaca.

Pak Asep memandang heran Mak Onah yang memasang muka cemberut. Sungguh, ia tak mengerti mengapa Ibunya begitu membenci Mak Otih dan sama sekali tak mau makam kue serabi yang terkenal lezat ini.

“Assalamuaalaikum, Mak. Aden ada?” Pak Asep mencium takzim punggung tangan Mak Otih. Mak Onah memalingkan wajah melihatnya. Sebal.

“Waalaikumsalam, ada, sebentar ya, Den, Aden, ada yang nyari nih!” teriak Mak Otih. Tidak berapa lama, Aden pun keluar.

“Eh, Pak Asep, ada apa Pak?” Aden mencium tangan Pak Asep, kemudian ia hendak mencium punggung tangan Mak Onah, namun Neneknya Sopi itu tak membalas uluran tangan pemuda ganteng itu.

“Sep, Emak mah pulang aja ya, panas lama-lama berada di sini. Kabari Emak kalau Sopi sudah ditemukan.” Mak Onah melangkahkan kakinya lebar-lebar, bergegas meninggalkan kedai itu, diiringi tatapan bengong Pak Asep dan pandangan heran Aden juga Mak Otih.
“Maafin Emak saya, ya. Beliau lagi sakit gigi, jadinya agak sensitif begitu.” Pak Asep mencoba mencari alasan atas sikap Mak Onah.

Aden memandang heran ke wajah mantan guru pencak silatnya yang kelihatan tegang itu. Pak Asep menceritakan tentang kepergian Sopi dari rumah yang katanya mau minggat ke rumah Nenek, tetapi gadis itu tak diketahui ke mana rimbanya. Setelah pamit pada Mak Otih, mereka berdua pun berangkat menyusuri setiap sudut desa mencari keberadaan gadis cantik itu.
***
“Duh, Den, kita harus cari ke mana lagi ya? Belum terlihat tanda-tanda keberadaan Sopi. Kamu di mana atuh Geulis? Baik-baik aja kan di sana?” Pak Asep terlihat sangat cemas. Wajahnya membiaskan kelelahan. Namun, ia tepiskan rasa itu. Kuatir akan keadaan putrinya lebih besar dibandingkan apapun juga.

“Sabar, Pak, kita belum menyusuri seluruh ruas jalan desa ini. Udah Zuhur, Pak. Kita salat dulu di masjid itu yuk, sambil memanjatkan doa buat Neng Sopi juga.” Aden menunjuk sebuah mesjid besar yang terletak di ujung gang.

Pak Asep mengangguk lemah. Tidak berapa lama, mereka berdua sudah berbaur dengan orang-orang, khusyuk menunaikan salat Zuhur berjamaah di mesjid itu serta memanjatkan doa untuk Sopi.

“Den, kita istirahat sebentar di sini.” Pak Asep menenggak air mineral di dalam botol, kemudian ia menyodorkan satu botol lagi pada Aden. “Nih, minum dulu, Den.”

“Terima kasih, Pak. Oh, ya, boleh Aden tanya-tanya tentang Neng Geulis?” ucap Aden dengan nada ragu dan malu-malu.

“Tentu saja, biar lebih tahu tentang calon istrimu.” Pak Asep memandang wajah pemuda calon menantunya itu, yang raut wajahnya sedang tampak merah jambu itu.

Pipi Aden bersemu merah, hatinya berdesir aneh. “Pak, ngomong-ngomong sejak kapan Ibunya Neng Sopi meninggal?”

“Ibunya meninggal saat melahirkan dia. Makanya Bapak selalu berusaha membahagiakan dia, kasihan sejak kecil dia enggak merasakan kasih sayang seorang Ibu.” Netra Pak Asep berkaca-kaca. Sekelebat bayang wajah sang istri muncul di pelupuk matanya.

Aden manggut-manggut, “Lantas, Pak—maaf sebelumnya kalau Aden lancang, tetapi Aden penasaran sama dandanan juga gaya bicara Neng Geulis yang—maaf, terlihat aneh.”

“Hahaha, iya dia memang unik. Logat bicaranya dan dandanannya seperti itu sejak lulus kuliah jurusan sastra Inggris. Bapak juga enggak tahu dia dapat pengaruh dari mana.” Pak Asep tergelak membayangkan style dandanan dan gaya bicara putri semata wayangnya itu.
Oh, pantesan atuh si Eneng teh begitu. Sekali lagi Aden manggut-manggut.

“Makanya, Den, kalau memang kalian ditakdirkan berjodoh, Bapak titip Sopi ya. Selama ini Bapak belum maksimal membimbing dia, terutama dalam hal agamanya. Tolong, bimbing dia untuk lebih mengenal Islam.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak Aden.

Aden mengangguk. “Pak, udah enggak capek kan? Kita lanjutkan mencari Neng Sopi yuk.”

Pak Asep mengangguk, kemudian dua laki-laki itu beranjak dari teras mesjid. Berdua mereka melangkah meninggalkan mesjid, melanjutkan pencarian.
***
Baca cerpen lainnya di sini:
[Link DISINI[URL=]link di sini[/URL]

Cinta Bersemi di Kedai Serabi
Diubah oleh suciasdhan 30-06-2020 09:33
lianasari993Avatar border
firdainayahAvatar border
novianalindaAvatar border
novianalinda dan 79 lainnya memberi reputasi
80
14.3K
634
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
suciasdhanAvatar border
TS
suciasdhan
#129
Give Me A Little Love
Rindu Kasih Sayang Mama

kaskus-image
Sumber Gambar


“Afiiikaaa!!!” terdengar lengkingan suara Bu Rizka memanggil putrinya yang sedang berada di dalam kamarnya.

Dengan tergesa, ia menghampiri ibunya. Dari nada suaranya memanggil tadi, Afika sudah bisa menebak, Ibu pasti sedang marah lagi padanya, namun dalam hati, ia masih menebak-nebak, kesalahan apa yang telah ia perbuat?

“Apa ini?” ucap Bu Rizka sambil melemparkan beberapa lembar kertas ke hadapan Afika sesampainya ia di depan ibunya.

Afika tak sanggup menatap wajah ibunya. Ia hanya tertunduk, namun ia tadi dapat melihat sekilas raut wajah ibunya yang merah padam pertanda sedang murka. Ia hanya menelan ludah dan sesekali menghela nafas, lelah rasanya. Bukan sekali ini Ibu marah padanya. Mungkin hampir setiap hari bahkan untuk hal yang sepele pun yang menurutnya salah, ia pasti akan marah besar. Entah mengapa Ibu seperti membencinya.

“Jawab, Afika, kamu punya mulut kan?! Jangan cuma diem aja kayak patung!”

Duh, perih rasanya hati Afika, air matanya mulai menetes. Dengan pandangan agak kabur, ia membaca kalimat-kalimat dalam kertas yang tadi dilemparkan Ibu ke hadapannya, surat penerimaan sebagai mahasiswa baru di fakultas sastra, jadi ini yang membuat ia marah, batin Afika dalam hati.

“Kamu ini kenapa sih, gak pernah nurut apa kata Ibu? Gak mau ikutin kemauan Ibu? Yang paling tahu yang terbaik buat kamu itu siapa hah?! Kamu sendiri? Ayahmu atau nenekmu? Ibu yang paling tahu mana yang terbaik buat kamu!!” suara ibu meninggi, nafasnya terengah-engah menahan emosi, Afika hanya mampu menangis.

“Kamu tahu kesalahan kamu apa? Ibu ingin kamu masuk fakultas kedokteran, kamu malah diam-diam daftar ke fakultas sastra, diterima lagi, mau jadi apa kamu?!” Ibu menatap tajam Afika yang masih tertunduk.

Setelah hening sejenak, Ibu melanjutkan bicaranya, namun kali ini suaranya sedikit merendah, “sekarang terserah kamu, urus semuanya sendiri, Ibu gak mau tahu, toh kamu sudah pandai mengambil keputusan sendiri, kamu pun pasti mampu menjalaninya sendiri, Ibu gak akan ikut campur lagi.”

Afika menatap punggung ibunya yang berlalu dari hadapannya, pergi menuju kamarnya. Braak! Terdengar suara pintu kamar yang dibanting dengan keras. Bu Laras, nenek Afika, memandang cucunya dengan tatapan iba. Dirangkulnya tubuh cucu perempuannya yang sedang sesenggukan itu.

“Nek, kenapa Ibu begitu membenci Afika? Apa salah Afika?” tanya Afika di sela isak tangisnya.

“Sabar, Cu. Kamu harus bisa membuktikan bahwa kamu bisa menjadi orang sukses, Nenek yakin, di lubuk hatinya yang terdalam, ibumu sangat sayang padamu,” hibur Nenek sambil mengelus lembut rambut dan punggung Afika yang masih sesenggukan. Ada rasa nyaman menjalari dada Afika, namun itu tak bertahan lama, seketika rasa perih mendera lambungnya.

“Nek, Afika mau istirahat di kamar ya,” katanya.

“Wajahmu pucat, Cu, kamu yakin gak apa-apa?” tanya Nenek menyelidik.

Afika menggeleng dan beranjak masuk ke kamarnya. Mungkin dengan memejamkan mata, ia akan bisa mengusir kegundahan hatinya dan menghilangkan sakit di lambungnya, ia berharap saat bangun nanti, semua akan baik-baik saja.
***
Pagi yang cerah, namun mendung masih menggelayuti hati dan raut wajah Afika. Pikirannya kalut, setelah kejadian kemarin sore. Bila saja ibunya tidak marah kemarin, mungkin kakinya akan sangat ringan melangkah. Ya, hari ini ia akan ke kampus mengurus administrasi sebagai mahasiswa baru. Hal yang membuatnya tak menyurutkan semangat sedikit pun, ia sangat bahagia bisa diterima di fakultas sastra ini.

Sejak duduk di bangku SMA, ia sangat suka menulis, sayangnya Ibu tidak mengizinkan ia masuk jurusan Bahasa, Ibu malah memaksanya masuk jurusan IPA, agar kelak ia bisa menjadi seorang dokter, seperti keinginan Ibu. Alhasil, nilai raportnya selalu jelek di pelajaran-pelajaran eksak, sementara di pelajaran berbau sastra, nilainya selalu menonjol. Hal ini selalu memicu amarah Ibu. Membayangkannya, membuat ia tersenyum sambil menatap bayangan dirinya di depan cermin. Pikirannya menerawang, membayangkan akan banyak kegiatan menyenangkan yang ia jalani di kampus nanti.

Setelah selesai berdandan, ia melenggang keluar kamar menuju meja makan. Disana sudah ada Ibu, Nenek, dan Pak Aldi, ayahnya, tengah sarapan bersama.

“Ayo, Cu, sini sarapan dulu, wah sudah rapi dan wangi, mau berangkat kuliah ya? Gak kerasa cucuku sekarang sudah jadi mahasiswa,” ucap Nenek antusias, dan ini menjadi penyemangat buat Afika.

Priing! Sebuah suara berasal dari gelas yang tersenggol sikut Afika karena ia tak hati-hati saat mengambil nasi goreng dari tempat nasi. Duuh, ada aja yang bisa bikin marah Ibu, bisa merusak moodnya jika mendengar amarah Ibu meledak pagi ini, ia sudah siap kok, sudah biasa, untuk kesalahan seperti ini pun, emosi Ibu pasti pecah, batinnya lirih.
Namun, dugaan Afika salah, Ibunya diam, tak berkata sepatah pun. Ia malah bersiap berangkat ke kantor. Sambil membereskan pecahan gelas, ia melirik ke arah Nenek. Bu Laras hanya mengedikkan bahu.

“Ayah pergi kerja dulu ya, ini uang buat kamu, kalau kurang, telepon Ayah, nanti ayah transfer ke rekeningmu, seminggu ini pasti Ayah gak pulang, kerjaan lagi numpuk, kamu hati-hati di jalan, baik-baik juga di rumah ya,” ucap Ayah sambil mengelus kepala Afika yang tertutup jilbabnya.

Afika hanya menghela nafas, ia masih punya Ayah dan Ibu, namun tak ubahnya ia seperti seorang yatim piatu, hanya kasih sayang Nenek yang ia rasakan sejak dulu. Kedua orang tuanya selalu saja sibuk.
***
Tak terasa sudah tiga bulan lamanya ia menjalani kuliah, ia sudah punya sahabat, Adelia namanya, teman berbagi suka dan duka, rasanya seperti saudara sendiri.

“Afikaa, sini!” tampak Adelia melambaikan tangan ke arah Afika di depan masjid kampus. Segera ia menghampiri sahabatnya itu.

“Selamat ya, kelak kamu pasti jadi penulis hebat,” ujar Adelia sambil menyalami dan memeluk Afika.

“Adel, apaan sih?” tanya Afika keheranan sambil berusaha melepaskan pelukan sahabatnya itu.

“Nih baca, karya-karya tulismu dimuat di beberapa majalah, aku sengaja kumpulkan, nih.”

“Eh, mana, mana, sini aku lihat,” Afika membaca beberapa hasil karyanya yang terpampang di majalah. Matanya berbinar, kini ia yang balik memeluk Adel.

“Eh, dapat kabar baik kok malah nangis?”

Afika tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya itu, ia menyeka air matanya. Bersamaan dengan itu terdengar sebuah suara milik Bu Widya, memanggil namanya. Bu Widya adalah salah satu dosen di kampus.

“Afika, nanti ke ruangan Ibu sebentar ya,” ucap Bu Widya.

Afika mengangguk dan mengikuti langkah kaki Bu Widya ke ruangannya.

“Afika, Ibu sangat bangga dengan prestasi dan bakatmu, Ibu harap kamu jangan berhenti berkarya, teruslah berlatih dan praktik menulis agar menghasilkan banyak karya yang bermanfaat untuk orang banyak, Ibu yakin suatu saat nanti kamu akan menjadi penulis hebat, Ibu percayakan mading kampus sama kamu ya, mulai saat ini kamu ketuanya, siap mengemban tugasnya Afika?” terang Bu Widya panjang lebar.

“Terima kasih Bu atas kepercayaannya, Insya Allah saya siap Bu,” ujarnya mantap.

Alhamdulillah, senang rasanya mendengar kabar baik yang datangnya bertubi-tubi. Di rumah mungkin hanya neneknya yang akan bahagia mendengar ini, ayahnya? Hal ini mungkin tak terlalu penting dibandingkan dengan pekerjaannya. Ibunya? Ibu ... sejak membaca surat penerimaan itu hingga detik ini, ia sudah tak mendengar lagi kata-kata Ibu, bahkan omelannya pun ikut hilang, ditelan rasa kecewanya terhadap keputusan yang Afika ambil.

Untuk bangga pun rasanya tak mungkin, karena sepertinya Ibu sudah tak peduli dengan apa pun yang Afika lakukan. Jujur, Afika sangat merindukan Ibu, kangen dengan marahnya, dengan ocehan-ocehannya, tiba-tiba bulir bening hangat merembes di pipinya.
***
“Wah pagi-pagi begini, cucu Nenek sudah rapi sekali, mau kemana nih? Sarapan dulu ya,” ucap Nenek melihat Afika yang hendak pergi tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun.

“Ayah sama Ibu kemana?” Afika tak menghiraukan ucapan Nenek nya.

“Sudah berangkat dari tadi, ayo sarapan dulu, lho Cu mukamu pucat begitu, kamu gak apa-apa?” tanya Nenek kuatir.

“Afika gak apa-apa, Nek, Afika nanti sarapan di kampus saja, takut terlambat,” ucapnya sambil berusaha menutupi rasa sakit di lambung, ia tak ingin Nenek kuatir dan pasti ia akan dilarang berangkat ke kampus.

“Ya sudah hati-hati di jalan ya,” ujar Nenek masih dengan raut yang menyiratkan kekhawatiran.

Afika mengangguk dan mencium punggung tangan Neneknya. Bu Laras menatap punggung cucunya dengan tatapan sedih, sudah saatnya ia menyadarkan putri dan menantunya.

“Rizka, Aldi Ibu mau bicara, penting sama kalian, soal Afika, dimana hati nurani kalian sebagai orang tua? Ia butuh kasih sayang kalian, bukan hanya sekedar limpahan materi saja, dan kamu Rizka, Ibu minta maaf dulu Ibu salah mendidikmu, hingga kamu jadi pribadi yang seperti ini, jangan didik Afika seperti aku dulu padamu, jangan buat Afika tumbuh menjadi perempuan kaku sepertimu! Perbaiki semuanya, sebelum terlambat,” nasihat Bu Laras panjang lebar.

Bu Rizka dan Pak Aldi hanya diam terpaku. Tiba-tiba mereka rindu pada putri mereka. Bu Rizka masuk ke kamar Afika. Disana banyak sekali lukisan dan puisi buatan Afika. Air mata mengalir deras di kedua pipinya. Timbul rasa penyesalan menyelinap di hatinya. Ia berjanji akan memperbaiki semuanya. Ia sudah melewatkan masa kanak-kanak hingga remajanya Afika, ia tak ingin melewatkan lagi masa usia Afika sekarang sebelum Afika kelak menikah.

Tiba-tiba terdengar dering ponselnya berbunyi. "Apaaa?? Iya, iya Ibu segera ke sana, ayo kita ke rumah sakit, Afika dirawat ...” bergetar suara Bu Rizka menyampaikan berita pada Ibu dan suaminya yang didengar melalui ponselnya.

Setibanya di rumah sakit, air mata tak henti-hentinya mengalir, menyaksikan putrinya terbaring lemah dengan wajah pucat pasi. Ibu macam apa ia hingga tak tahu bahwa selama ini putrinya mengidap penyakit maag.

“Maafkan Ibu, Nak, maaf, Ibu sayang padamu Nak, sembuh ya, Ibu janji akan memperbaiki semuanya, Ibu akan menuruti apa pun yang kamu mau, Nak,” ucap Bu Rizka sambil menggenggam jemari Afika.

Perlahan Afika membuka kedua matanya, ia tersenyum lemah, namun ia bahagia, dalam hati merasa yakin kehidupannya bersama keluarganya akan seindah warna-warni pelangi.

Baca cerpennya: Klik di sini
Diubah oleh suciasdhan 06-04-2020 09:10
trifatoyah
embunsuci
abellacitra
abellacitra dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.