- Beranda
- Stories from the Heart
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
...
TS
tabernacle69
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Siapa tokoh yang paling kamu benci?
Freya
0%
Arang
0%
Burnay
0%
Asbun
0%
Dedew
0%
Diubah oleh tabernacle69 29-11-2020 17:52
makgendhis dan 50 lainnya memberi reputasi
49
49.5K
632
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tabernacle69
#378
24 — Gue, kehidupan baru, dan bencong di masa lalu.
Ingin rasanya langsung melompatkan jurnal ini ke saat dimana gue sudah selesai dengan semuanya. Karena tidak mudah juga, apalagi harus bertahap dan berproses seperti itu, dari waktu ke waktu. Dari hari ke hari, dari jam ke detik, dan seterusnya.
Berbekal uang yang simpan bersama gue dari Bandung, gue mencari makanan di sekitar rumah, entah makanan apa yang gue makan, mungkin seperti bubur dan semacamnya, kunci pintu rumah, cabut makan, dan setelah itu, gue ingat gue ada beli tabloid Pulsa. Betul, gue punya rencana untuk berganti ponsel.
Karena ada satu ponsel terbaik yang gue punya, disita oleh bapak gue karena gue keasikan bermain ponsel itu, bilang saja gue keasikan ber sms dengan Nirwana, apa susah nya sih. Hahahahahaha.
Jadi kesepakatan nya begini, ponsel gue disita, lalu dibelikan ponsel baru yang tidak ada nomor handphone milik Nirwana didalamnya. Yah, mau bagaimana lagi, begitulah cara kerja dan jalan pikir bapak gue. gue posisinya sebagai anak hanya bisa menurut saja di kala itu.
Yang jelas, beberapa bulan kemudian gue kembali memiliki nomor ponsel milik Nirwana, anda mungkin terheran heran, bagaimana kecerdikan gue bekerja disini. Jujur, itu bukan cerdik, itu namanya bandel, ponsel disita, karena gue simpan uang sendiri, ya tinggal beli ponsel lagi, yang murah meriah dulu saja, agar bisa sms an lagi dengan Nirwana.
.....
Sesampainya di rumah singgah, ada panggilan masuk ke ponsel gue, nomornya tidak dikenal, gue coba angkat saja karena takutnya penting, lalu setelah diangkat, ada suara orang yang berkata, "Yo, Arang!"
.....
"Yo, Arang, Rang!" teriak orang yang menelfon gue, agak jauh dari sana.
"Halo Rang..." Ucap seseorang lagi yang menelfon gue ini, suaranya terasa dekat.
"Frey?" gue langsung kenal dengan suaranya.
"Hehehe, kok malah balik nanya? Kan nomer gue harusnya muncul waktu incoming call." dia terkekeh.
"Lagi apa lo..." dia pun bertanya.
"Baru beres makan dari luar, Frey. Itu siapa yang teriak²?"
"Biasa, lagi sama Palma Dedew, Lody.. lagi ngumpul di Newton." jelasnya lagi.
"Oh... iya, ada apa, maaf nggak ada nama lo di phonebook hape ini, hapenya baru beli, sejak lo banting waktu itu gue jadi pake hape butut Reng, hahaha." jawab gue hanya berbasa basi.
"Waduh... Hahaha." Ciri khas seorang Freya, jangan harap lahhh bisa dapat ucapan sorry atau permohonan minta maaf dari dia.
"Tapi gue udah kasih hadiah ke elo kan.." sindir Freya lagi.
"Nggak minta maaf dulu ni? Iya udah, bareng Dedew sama Lody ke BEC. Gue beliin Grado gapapa ya." jelas gue.
"He... oh iya, santai aja." pungkasnya.
"Makasih Reng."
"Gimana, sendal swallow dari gue, enak kan?"
"Iya, enak banget. Tapi kemarin kemarin putus, Rang..." keluhnya ringan.
"Yaudah, beli baru lagi aja. Pake 6 bulan, nanti juga jadi empuk sendiri." Tutur gue mengarahkan.
"Iya." Jawabnya singkat.
"Gimana Kalimantan, nyaman lo disana?" tanya dia cuma basabasi juga.
"Belum ada seminggu Frey... santai lah." Jawab gue lagi.
"Hehehe, oke."
"Rang, gimana ya ngomongnya, gue takut salah ngomong nih, mending gue suruh Palma aja yang ngomong ke elo, ya?"
"Oke, mana sini suruh dia ngomong." ujar gue.
"Oke bentar, ini gue panggilin, Palllll, ini Arang mau ngobrol, terus tolong bilangin yang gue suruh itu ke Arang ya..."
"Okayyyy, siniii." ada jawaban jauh disana.
Suara panggilan bergemuruh.
"My man!" Ashburn tiba-tiba menyapa gue.
"Naon anjing. Mong Sunda we." (apa anjing? ngomong bahasa Sunda aja) Balas gue singkat.
"Anjis, kasar lahhhh." Balasnya lagi.
"My man, we plan on going to your place, actually, Freya planned this, tapi jangan bilang bilang ke dia."
"Saha wae?" tanya gue penasaran.
"Yang bakal ikut Freya, myself, Lodya and your cousin, Poppy." jawab si Asbun.
"Si Dedew ga anda ajak?" tanya gue.
"Nope, Dinta belum tentu katanya."
"I'll get my Encore there, yuhuuuuuu!"
"Kalem dud, jadi maneh moal bakal via laut deui?" iseng gue bertanya.
"Fuck you, Rangkuti. Udah cukup dong ah menderita kemaren-kemaren." tolaknya beralasan.
"Nih ngomong sama Freya lagi ya—eh BENDILLLL, udah yaaaa udah gue jelasinnn ke Aranggg." teriak Ashburn di ujung sana.
.....
"Halo, Rang..." Freya kembali berbicara di telepon. "Udah dijelasin ya, hehe, boleh kan?" tanya Freya.
"Boleh apa?" tanya gue.
Mampir kesana?" tanya dia.
"Kenapa sih." jawab gue sewot.
"Gue ketagihan waktu di Mentawai, gue pengen lagi Rang.. yang penting ada elo nya."
"Oh... gitu, bilang lah dari tadi. Ya sini aja nanti kalau Liburan."
"Okey." jawabnya.
"Jadi pindah ke Jakarta lo?" tanya gue.
"Jadi, papi udah enroll gue, jadinya ke Beacon." jelasnya.
"Good... ga usa panjang lebar nanti juga ketemu lagi.
"Udahan dulu ngobrolnya, ogut mau mandi." jawab gue.
"Okey, be good ya..." jawab Freya.
"Ya." jawab gue, kemudiann panggilan telefon kami pun akhirnya berakhir.
.....
Setelah itu gue mandi dan bermeditasi, bercanda friends, gue mengecek ini itu yang penting, urusan gue dengan Ateu Malta. Cuma sekedar bilang, "Teh A'al, damang? (sehat kabarnya?) gimana itu si Nandar, coba tolong di cek." Dan lain sebagainya, sampai Bapak gue kembali pulang dari kantornya. Dan as always, dia ngamuk ngamuk, biasalah, bawa urusan kantor...
....
Sebelum kembali storytell, gue mau bahas ini dulu sedikit. Mungkin sekedar cuit cuitan ringan atau semacamnya.
gue tahu, orang kalau sudah pandai berbahasa tertentu pasti keren, misalnya ngomong bahasa Belanda.
Tapi kalau di Indonesia, yang bikin gue heran, mereka yang sudah jago berbahasa, suka menuntut kita untuk langsung nyemplung seolah kita juga sama fasihnya persis seperti mereka.
Kan tidak begitu dong...
Beda saat sedang berada di Belanda, saat gue tidak bisa holand spreken pun keluarga gue yang berdarah full belanda tidak memaksa gue untuk 'maksain' ngomong Belanda, bahkan ada yang rela ngobrol sama gue pakai bahasa dan gestur tubuh saja.
Amazing nggak sih, hospitality nya?
Brengsek, amazing banget.
Sedangkan kalau gue mampir ke balai bahasa Belanda di kota gue, gue langsung diusir kalau gue malah coba komunikasi pakai bahasa Indonesia dulu dengan mereka.
Alasan nya? regulasi. Aturan.
Ha, angkuh sekali. Dasar kudis lepra.
Padahal di Valkenburg pun nggak begitu begitu amat. gue tersesat di jalan, native disana tidak ada yang insult gue dengan sebut gue je ben hek atau semacamnya, seperti Gaijin, saat gue dengar cerita dari Burnay yang baru saja pulang dari Yokohama, Jepang.
Inilah yang menjadi penghambat bagi para beginner yang mau coba kuasai suatu bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung bisa jadi bikin mereka minder. Ensey, walaupun dia jago ngomong Inggris, dia nggak galak sama gue soal bahasa. Jangan salah, ini orang jago.
gue tanya kenapa? ya dia katakan untuk apaaaa. Kalau memang belum lancar ya dibantu. So does the other person in my social sphere, termasuk ang Maddie, terus yang jago tuh siapa lagi ya.
Brother Abe, teteh Malta, jago Hebrew nya, huahahahaha, ang Solo jago ngomong Portuguese.
.....
Gue bukan lah, yang seperti itu. He..
Of so many tales that exist, within this universe, i have one that tells my story.. dari sekian banyak kisah yang pernah hadir di muka bumi ini, gue punya satu kisah yang menceritakan tentang kisah gue...
Berbekal uang yang simpan bersama gue dari Bandung, gue mencari makanan di sekitar rumah, entah makanan apa yang gue makan, mungkin seperti bubur dan semacamnya, kunci pintu rumah, cabut makan, dan setelah itu, gue ingat gue ada beli tabloid Pulsa. Betul, gue punya rencana untuk berganti ponsel.
Karena ada satu ponsel terbaik yang gue punya, disita oleh bapak gue karena gue keasikan bermain ponsel itu, bilang saja gue keasikan ber sms dengan Nirwana, apa susah nya sih. Hahahahahaha.
Jadi kesepakatan nya begini, ponsel gue disita, lalu dibelikan ponsel baru yang tidak ada nomor handphone milik Nirwana didalamnya. Yah, mau bagaimana lagi, begitulah cara kerja dan jalan pikir bapak gue. gue posisinya sebagai anak hanya bisa menurut saja di kala itu.
Yang jelas, beberapa bulan kemudian gue kembali memiliki nomor ponsel milik Nirwana, anda mungkin terheran heran, bagaimana kecerdikan gue bekerja disini. Jujur, itu bukan cerdik, itu namanya bandel, ponsel disita, karena gue simpan uang sendiri, ya tinggal beli ponsel lagi, yang murah meriah dulu saja, agar bisa sms an lagi dengan Nirwana.
.....
Sesampainya di rumah singgah, ada panggilan masuk ke ponsel gue, nomornya tidak dikenal, gue coba angkat saja karena takutnya penting, lalu setelah diangkat, ada suara orang yang berkata, "Yo, Arang!"
.....
"Yo, Arang, Rang!" teriak orang yang menelfon gue, agak jauh dari sana.
"Halo Rang..." Ucap seseorang lagi yang menelfon gue ini, suaranya terasa dekat.
"Frey?" gue langsung kenal dengan suaranya.
"Hehehe, kok malah balik nanya? Kan nomer gue harusnya muncul waktu incoming call." dia terkekeh.
"Lagi apa lo..." dia pun bertanya.
"Baru beres makan dari luar, Frey. Itu siapa yang teriak²?"
"Biasa, lagi sama Palma Dedew, Lody.. lagi ngumpul di Newton." jelasnya lagi.
"Oh... iya, ada apa, maaf nggak ada nama lo di phonebook hape ini, hapenya baru beli, sejak lo banting waktu itu gue jadi pake hape butut Reng, hahaha." jawab gue hanya berbasa basi.
"Waduh... Hahaha." Ciri khas seorang Freya, jangan harap lahhh bisa dapat ucapan sorry atau permohonan minta maaf dari dia.
"Tapi gue udah kasih hadiah ke elo kan.." sindir Freya lagi.
"Nggak minta maaf dulu ni? Iya udah, bareng Dedew sama Lody ke BEC. Gue beliin Grado gapapa ya." jelas gue.
"He... oh iya, santai aja." pungkasnya.
"Makasih Reng."
"Gimana, sendal swallow dari gue, enak kan?"
"Iya, enak banget. Tapi kemarin kemarin putus, Rang..." keluhnya ringan.
"Yaudah, beli baru lagi aja. Pake 6 bulan, nanti juga jadi empuk sendiri." Tutur gue mengarahkan.
"Iya." Jawabnya singkat.
"Gimana Kalimantan, nyaman lo disana?" tanya dia cuma basabasi juga.
"Belum ada seminggu Frey... santai lah." Jawab gue lagi.
"Hehehe, oke."
"Rang, gimana ya ngomongnya, gue takut salah ngomong nih, mending gue suruh Palma aja yang ngomong ke elo, ya?"
"Oke, mana sini suruh dia ngomong." ujar gue.
"Oke bentar, ini gue panggilin, Palllll, ini Arang mau ngobrol, terus tolong bilangin yang gue suruh itu ke Arang ya..."
"Okayyyy, siniii." ada jawaban jauh disana.
Suara panggilan bergemuruh.
"My man!" Ashburn tiba-tiba menyapa gue.
"Naon anjing. Mong Sunda we." (apa anjing? ngomong bahasa Sunda aja) Balas gue singkat.
"Anjis, kasar lahhhh." Balasnya lagi.
"My man, we plan on going to your place, actually, Freya planned this, tapi jangan bilang bilang ke dia."
"Saha wae?" tanya gue penasaran.
"Yang bakal ikut Freya, myself, Lodya and your cousin, Poppy." jawab si Asbun.
"Si Dedew ga anda ajak?" tanya gue.
"Nope, Dinta belum tentu katanya."
"I'll get my Encore there, yuhuuuuuu!"
"Kalem dud, jadi maneh moal bakal via laut deui?" iseng gue bertanya.
"Fuck you, Rangkuti. Udah cukup dong ah menderita kemaren-kemaren." tolaknya beralasan.
"Nih ngomong sama Freya lagi ya—eh BENDILLLL, udah yaaaa udah gue jelasinnn ke Aranggg." teriak Ashburn di ujung sana.
.....
"Halo, Rang..." Freya kembali berbicara di telepon. "Udah dijelasin ya, hehe, boleh kan?" tanya Freya.
"Boleh apa?" tanya gue.
Mampir kesana?" tanya dia.
"Kenapa sih." jawab gue sewot.
"Gue ketagihan waktu di Mentawai, gue pengen lagi Rang.. yang penting ada elo nya."
"Oh... gitu, bilang lah dari tadi. Ya sini aja nanti kalau Liburan."
"Okey." jawabnya.
"Jadi pindah ke Jakarta lo?" tanya gue.
"Jadi, papi udah enroll gue, jadinya ke Beacon." jelasnya.
"Good... ga usa panjang lebar nanti juga ketemu lagi.
"Udahan dulu ngobrolnya, ogut mau mandi." jawab gue.
"Okey, be good ya..." jawab Freya.
"Ya." jawab gue, kemudiann panggilan telefon kami pun akhirnya berakhir.
.....
Setelah itu gue mandi dan bermeditasi, bercanda friends, gue mengecek ini itu yang penting, urusan gue dengan Ateu Malta. Cuma sekedar bilang, "Teh A'al, damang? (sehat kabarnya?) gimana itu si Nandar, coba tolong di cek." Dan lain sebagainya, sampai Bapak gue kembali pulang dari kantornya. Dan as always, dia ngamuk ngamuk, biasalah, bawa urusan kantor...
....
Sebelum kembali storytell, gue mau bahas ini dulu sedikit. Mungkin sekedar cuit cuitan ringan atau semacamnya.
gue tahu, orang kalau sudah pandai berbahasa tertentu pasti keren, misalnya ngomong bahasa Belanda.
Tapi kalau di Indonesia, yang bikin gue heran, mereka yang sudah jago berbahasa, suka menuntut kita untuk langsung nyemplung seolah kita juga sama fasihnya persis seperti mereka.
Kan tidak begitu dong...
Beda saat sedang berada di Belanda, saat gue tidak bisa holand spreken pun keluarga gue yang berdarah full belanda tidak memaksa gue untuk 'maksain' ngomong Belanda, bahkan ada yang rela ngobrol sama gue pakai bahasa dan gestur tubuh saja.
Amazing nggak sih, hospitality nya?
Brengsek, amazing banget.
Sedangkan kalau gue mampir ke balai bahasa Belanda di kota gue, gue langsung diusir kalau gue malah coba komunikasi pakai bahasa Indonesia dulu dengan mereka.
Alasan nya? regulasi. Aturan.
Ha, angkuh sekali. Dasar kudis lepra.
Padahal di Valkenburg pun nggak begitu begitu amat. gue tersesat di jalan, native disana tidak ada yang insult gue dengan sebut gue je ben hek atau semacamnya, seperti Gaijin, saat gue dengar cerita dari Burnay yang baru saja pulang dari Yokohama, Jepang.
Inilah yang menjadi penghambat bagi para beginner yang mau coba kuasai suatu bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung bisa jadi bikin mereka minder. Ensey, walaupun dia jago ngomong Inggris, dia nggak galak sama gue soal bahasa. Jangan salah, ini orang jago.
gue tanya kenapa? ya dia katakan untuk apaaaa. Kalau memang belum lancar ya dibantu. So does the other person in my social sphere, termasuk ang Maddie, terus yang jago tuh siapa lagi ya.
Brother Abe, teteh Malta, jago Hebrew nya, huahahahaha, ang Solo jago ngomong Portuguese.
.....
Gue bukan lah, yang seperti itu. He..
Of so many tales that exist, within this universe, i have one that tells my story.. dari sekian banyak kisah yang pernah hadir di muka bumi ini, gue punya satu kisah yang menceritakan tentang kisah gue...
Diubah oleh tabernacle69 06-04-2020 03:21
pulaukapok memberi reputasi
1


