Kaskus

Story

suwokotumdexAvatar border
TS
suwokotumdex
Menikahlah Denganku! (Episode 1)
Menikahlah Denganku! (Episode 1)

Menikahlah Denganku! (Episode 1)


Spoiler for DAFTAR EPISODE:


Cerita ini sudah tamat Volume 1, so nantiin update Volume ke-2, ya! Kalau mau kasih kritik dan saran, monggo silakan emoticon-Shakehand2

Bagi yang mau baca novel ringan ini dalam bentuk komik Webtoon, bisa klik aja di sini

~~~ Selamat Membaca ~~~


EPISODE 1 - Kehidupan Baru di Dunia Lain

Bagaimana bisa aku menerima permintaan konyol seperti itu? Menikah? Arghhh! Aku bahkan belum pernah sekalipun menyentuh wanita. Berada di dekatnya saja sudah cukup membuatku berkeringat dingin. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa menikah dan melakukan hal tabu di malamnya.

Tidak! Tidak! Tidak!

Aku masih terlalu muda untuk ternodai, aku terlalu naif untuk mengerti, aku masih terlalu kekanakan untuk menjadi seorang suami, apalagi ayah.

TIDAK!!!

Membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi.

Crasss!

Sebatang anak panah menusuk punggung. Seketika tubuhku limbung, sebelum akhirnya jatuh saat kaki tersangkut akar. Mencium tanah berlumpur, pandanganku mengabur. Rasanya ada yang mengalir di bahu, semakin lama semakin banyak, ditambah rasa nyeri yang kian menjalar. Namun, aku harus terus berlari atau kawanan wanita haus berahi itu berhasil menangkapku. Harus!

Sekelebat bayangan manusia mendadak muncul di depanku. Meski tak terlalu jelas sosoknya. Namun, dia seperti perempuan berasurai panjang berkibar mengikuti gerakannya yang cepat. Tangannya lembut mengangkat kepalaku pelan, lantas sedikit menghentakan telapaknya ke dahiku.
Setelahnya hanya kegelapan yang menutup kesadaran.

***


Aku terlonjak, mengangkat tubuh yang penuh dengan peluh. Dada berdebar tak keruan, dunia serasa berputar, membuat kepala ini pening. Namun, bukan itu yang menjadi masalahnya.
Sekarang di mana aku?

Tempat ini sangat asing. Aku terduduk di atas ranjang kayu, di sebuah ruangan yang berdinding kayu juga.
Lengang, tak ada siapapun, hanya nakas yang di atasnya terdapat jendela dengan gorden terbuka, membuat cahaya dapat masuk, memberikan kehangatan pagi. Selain itu, tak ada apapun lagi.

Sebenarnya apa yang terjadi? Tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat yang aneh ini. Terakhir kali yang kuingat, aku mendadak berada di tengah-tengah sebuah pasar yang seluruhnya berisi wanita saja. Namun, yang lebih mengerikan dari semua itu adalah, mereka mengejarku layaknya zombie haus darah. Namun, mereka lebih menginginkan hubungan badan daripada menyedot darahku. Apa-apaan itu?

Kuusap peluh di wajah, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya hingga aku bisa sampai ke sini. Ya, sebelum aku mendadak terbangun di pasar mengerikan itu.

***


Sebelumnya

Malam yang dingin memaksaku memasukan tangan ke kantung hoodie oranye ini. Meski sudah memakai pakaian rangkap, tetap saja dingin malam ini berhasil menembus sampai ke kulit. Tidak biasanya, padahal Jakarta yang kukenal adalah kota yang panas dan memuakan bagi para pecundang sepertiku.

Haah! Aku jadi ingat lagi tentang sosok payah ini.

Setiap hari kulewati hanya dengan berdiam diri di dalam kamar. Mencari pekerjaan tak pasti lewat dunia maya sudah menjadi rutinitas.

Kadang aku menawarkan jasa kepada para ‘penulis’ malas yang hanya ingin mencari nama tanpa mau berusaha. Mengakui setiap ketikanku sebagai karyanya, tentu saja setelah mereka membayar jasaku sebagai 'penulis hantu'. Penulis yang bekerja di balik bayangan, tanpa mengharapkan namanya dikenal oleh banyak orang. Ya, setidaknya mereka membayar dengan harga yang sesuai. Lagi pula hanya pekerjaan seperti inilah yang bisa dilakukan penunggu kamar sepertiku. Tanpa harus beradu dengan panasnya Jakarta, atau mendapat tekanan dari bos besar, aku sudah cukup bahagia.

Akan tetapi, jika sudah berada di luar seperti ini ... rasanya aku seperti tengah berada di tempat yang sangat asing. Seolah ada mata yang terus mengikuti setiap kaki melangkah. Rasa tidak nyaman yang selalu membawa aura negatif.

Memang, jarak minimarket ini dengan indekos tidak terlalu jauh. Namun, jujur saja tidak ada manusia yang kukenal baik di sini, kecuali pria tua yang bekerja sebagai kasir itu.

Sekantung kresek berisi tiga bungkus mie instan, beberapa butir telur, dan serenteng kopi saset, kuangkat. Setidaknya makanan sederhana ini bisa menemaniku bergadang sampai tiga hari ke depan.

Aku berdiri di bawah lampu jalan, tempat yang sepi membuat otak kembali mengingat kejadian lima tahun silam. Ah, tidak ... aku tidak ingin mengingat akhir dari pertikaian keluarga itu. Hanya luka yang bisa kudapat.

Aku menghela napas panjang membuang segala pikiran negatif. Menoleh ke kanan-kiri, jalanan kecil ini tampak sepi. Tak ada tanda-tanda kendaraan lain yang akan melintas.
Kumelangkah, tapi batinku masih diam. Ada yang tengah memperhatikan dari belakang, seperti sedang mengikuti. Aku berhenti dan memutar tubuh, tak ada siapapun kecuali tiang lampu jalan yang baru kulewati.

Mungkin hanya perasaanku saja.
Namun, saat kembali menghadap ke depan, sesosok perempuan berjubah putih penuh darah dan tanah merah, berambut panjang menutupi muka, dan bau anyir memualkan. Sesaat waktu seperti berhenti, sementara mataku terpaku pada makhluk itu.

"KUNTILANAK!"

Spontan aku meloncat ke arah jalan, dan dengan cepat sebuah benda keras menghantamku. Aku merasakan tubuh ini melayang beberapa detik di udara sebelum akhirnya jatuh menghempas aspal.

Bunyi gemeletak terdengar keras, tulang punggungku seperti remuk.
Aku berusaha bangkit sambil menahan rasa nyeri. Namun, sia-sia. Aku tak mampu bergerak sedikitpun, bahkan untuk berteriak pun tak bisa.
Apa aku akan mati?! Aku sudah tidak kuat lagi.

"Ikutlah denganku!" Suara itu berdengung bersamaan dengan seorang gadis yang tampak siluet berjongkok di sampingku. Ia berambut panjang ... baunya wangi ... mungkinkah dia sesosok malaikat?

Aku meringis, mencoba mengeluarkan suara. "Ka-kamu ... siapa?"

Tak ada jawaban kecuali hentakan pelan di dahi, membuatku hilang kesadaran.

***


"Perempuan itu ... dia yang menolongku dua kali."

Derit suara pintu terbuka, membuat lamunanku seketika buyar. Seorang gadis bergaun hijau, surai kecoklatan menjuntai hingga punggung, berdiri di ambang pintu. Mata indah berbulu lentik, dan manik hazel, beradu dengan mataku.

Seulas senyum terlukis di bibirnya yang ranum.

"Anda sudah bangun?" tanyanya seraya mendekat.

Tunggu, dia perempuan, 'kan? Apa dia akan memaksaku untuk menikahinya seperti sekumpulan wanita mengerikan tadi malam.

"Tidak! Jangan! Aku tidak ingin menikah denganmu!" Spontan aku berteriak.

Aku harus pergi, bagaimana pun juga, aku harus lolos dari tempat ini. Celah, celah ... di mana kau? Ah, di sana. Jendela.

Aku meloncat dari ranjang dan hendak ke luar tapi tangan gadis itu berhasil menahan, dan menarikku ke belakang hingga kami jatuh bersamaan.

Sialan! Kenapa dia lebih kuat.

"Lepaskan aku!"

"Tidak!" teriaknya. Semakin mengetatkan dekapan.

"Aku tidak mau melakukannya, tidak, sampai aku ingin sendiri. Jangan memaksaku untuk menikahimu!"

"Saya tidak akan memaksa Tuan untuk menikah saya, atau melakukan mating dengan Anda. Saya hanya ingin kesehatan Anda kembali pulih!"

Ha?

Aku terdiam sesaat mendengar ucapannya. "A-apa maksudmu? Kau tidak ingin menikahiku?"

"Tenangkan diri Anda, Tuan, biar saya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Ia meyakinkanku.

Meski aku tidak melihat wajahnya, tapi aku bisa mendengar kejujuran dari mulut gadis ini.

Akhirnya aku mengalah, dan duduk di tepi ranjang. Mendadak aku merasakan nyeri di bahu yang kini berlapis perban.

“Anak panah yang menancap di bahu Anda lumayan dalam, Tuan, membuat lukanya semakin sulit disembuhkan,” jelas gadis itu, ia berdiri di depanku. Senyumnya tak lekang jua.

“Heem ….” Aku mencoba tidak peduli. "Jadi, apa yang ingin kau jelaskan tadi?" Aku memalingkan wajah, tidak terbiasa menatap perempuan.

Gadis itu tak segera menjawab, membuatku harus melirik ke arahnya. Dia berdiri sembari tersenyum simpul ke arahku. Menjinjing sedikit rok lebarnya, menyilangkan kaki, dan sedikit membungkukan badannya. "Izin memperkenalkan diri. Nama saya adalah Reina, penyihir hijau dari daratan Alfterin, siap melayani Anda."

Dia ... kenapa harus melayaniku. Lagi pula apa-apaan pengakuannya itu, penyihir di zaman semodern ini. Jangan bercanda, memang masih ada?

"Tentu Tuan akan menganggap saya hanya bercanda," ucapnya.

Dia bisa membaca pikiranku?

"Jika Anda berpikir saya sedang membaca pikiran Anda. Anda keliru. Saya hanya menebak dari raut wajah Anda." Dia tersenyum simpul, dan sialnya kenapa tampak manis.

Aku menelan ludah, mendadak otak ini memikirkan hal-hal aneh saat mata tak sengaja melirik dadanya yang … wah. Namun, aku harus tetap fokus.

Alfterin ... kira-kira itu nama daerah mana. Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, atau Papua? Sepertinya tidak ada nama seaneh itu di Nusantara.

"Saya mengerti perasaan Anda, Tuan Alex."

Aku mengerutkan dahi. "Ka-kamu tau namaku?"

Gadis itu mangangguk yakin. "Nama Anda, tempat tinggal, keseharian, bahkan masa lalu ... saya tahu semuanya."

Apa dia benar-benar penyihir yang mampu membaca semua tentang diriku?

"Ja-jadi, selama ini kau memata-mataiku?" Wajahku memanas. Rasanya aneh jika ada seorang gadis yang harus repot-repot melihat keseharianku yang membosankan.

"Bukankah terlalu kasar jika Anda memfitnah seseorang yang baru saja menyelamatkan nyawa Anda dengan kata-kata seperti itu?" Reina murung, "sudah menjadi tugas saya untuk mengetahui seluk beluk pria terpilih yang nantinya akan menikahi sang Ratu," lanjutnya.

"Menikahi Ratu? Pria terpilih? Aku?"
Apakah itu tidak berlebihan?

"Benar, Anda lah orangnya, Tuan. Satu-satunya pria yang saat ini bisa memberikan keturunan—"

"Tunggu, tunggu sebentar! Bukannya terlalu cepat jika membicarakan soal pernikahan? Aku masih di bawah umur—"

“Tidak! Justru umur Anda yang sekarang cukup ideal."

Dia malah ganti memotong ucapanku.

"18 tahun, adalah umur yang ideal untuk segera menikah dan membuat keturunan. Demi keberlangsungan negeri ini." Ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah jendela. Membiarkanku dengan segala pertanyaan yang sudah mau meledakan isi kepala.

"Kau bilang demi keberlangsungan negeri ini? Maksudmu apa?"

Reina menghela napas kasar. “Saya ingin menceritakan semuanya kepada Anda, tapi rasanya terlalu mendadak.

"Lebih baik Anda beristirahat dahulu. Jika kondisi Anda sudah lebih baik, saya pasti akan menceritakan semuanya.

“Tentang diri Anda yang masuk ke dunia ini, soal pernikahan, dan juga tentang negeri yang di ambang kepunahan. Semuanya, akan saya jelaskan kepada Anda."
Reina berjongkok dan meraih tanganku. Menggenggamnya erat hingga aku bisa merasakan kulitnya yang hangat dan lembut. Rasa ini, seperti genggaman lembut dari tangan perempuan yang menyelamatkanku malam itu.

“Kau—”

“Tuan.” Reina memotong ucapanku.
Wajahku semakin memanas, mungkin sekarang sudah semerah buah apel. Dadaku berdebar hebat saat Reina mendekatkan wajahnya. Suara yang lembut berbisik ke kupingku.

“Hanya Anda satu-satunya harapan kami.” Sentuhan hangat napas Reina membiusku. Aku hanya mampu menelan ludah.

Perasaan macam apa ini, aku tak bisa menekan otak untuk bekerja secara normal. Mendadak tubuh ini kaku. Fokus hilang.

Reina kembali berdiri, membungkukan badan lantas meminta izin untuk keluar. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkanku di kamar ini, ia berpesan, "Selamat datang di tanah Fasia yang diberkati ini, Tuan."

***
Diubah oleh suwokotumdex 07-04-2020 23:59
Gimi96Avatar border
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 36 lainnya memberi reputasi
35
11.2K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
suwokotumdexAvatar border
TS
suwokotumdex
#101
EPISODE 14 - Sesuatu yang Tak Bisa Dia Pahami
Kami--aku dan Reina, duduk termenung di samping ranjang Mella dan Violet berbaring. Napas Mella sudah lebih teratur sejak semalam. Kondisi Violet juga semakin membaik. Luka di tubuhnya sudah sembuh total berkat sihir penyembuh Reina. Namun, gadis itu masih belum juga siuman dari tidurnya. Aku benar-benar kagum dengan mereka berdua. Bisa bertahan setelah mendapat luka seperti itu.

"Tuan, apa Anda lapar?" Reina membuyarkanku dari lamunan.

Aku tersenyum tipis. Daripada menanyakanku, bukankah dia sendiri belum makan sejak tadi pagi. Bahkan di situasi seperti sekarang pun dia masih memprioritaskanku daripada dirinya sendiri.

Aku menghela napas. "Bisa minta tolong ambilkan semangkuk sup?"

Reina mengangguk lantas berlalu. Tak lama kemudian ia kembali dengan semangkuk sup yang masih mengepulkan asap tipis.

"Terima kasih."

"Sudah menjadi kewajiban saya, Tuan." Reina tersenyum ramah seperti biasanya dan kembali duduk diam.

"Reina."

Gadis itu menoleh. Matanya membulat saat tahu aku sedang mengacungkan sendok ke arahnya. "Aku tahu kamu sedang mengkhawatirkan mereka. Namun, kamu juga harus memperhatikan dirimu sendiri, Na. Dan makan adalah salah satu caranya."

Reina masih diam dalam posisinya. Mungkin terkejut dengan tindakanku. Namun, dia memang perlu makan untuk memulihkan tenaganya.

"Tuan ...."

"Aaa ...." Aku mendekatkan sesendok sup hangat itu ke mulutnya. Namun, justru tawa yang kudapat. Reina terkekeh. Memangnya aku salah?

"Kenapa malah ketawa? Aku sudah berusaha." Aku murung.

"Eum!" Reina melahap sesendok sup itu. Pipinya bersemu merah serta senyum yang semakin lebar. Untuk sesaat, dia terlihat seperti sesuatu yang kucintai ... Eh! Pemikiran macam apa itu?!

"Eum, Tuan, terima kasih." Reina menggeser duduknya menghadapku.

"Ah, itu bukan apa-apa." Mungkin wajahku sudah memerah sekarang. Lagipula aku yang memulainya bukan. Aku mengalihkan pandangan.

"Hanya satu suapan?" ucap Reina menyadarkanku.

Aku melirik ke arah Reina. Dia membuka mulutnya sedikit sembari memejam. Aku yang memulai harus mengakhirinya. Namun, aku tak berniat menyuapinya dengan sup lagi sekarang.

Kutarik dagu Reina, sedikit mengangkatnya, dan mengecup bibir indah itu. Rasanya manis. Ini adalah ciuman pertama kami.

Reina menarik bibirnya membuat ciuman kami terlepas. Dia terdiam. Matanya membulat menatapku aneh. "Tuan...."

Aku tersenyum simpul dan kembali menarik dagunya mendekat. Reina hanya mengikuti gerakanku. Semakin dekat wajah kami, ia memejam. Deru napasnya terasa hangat. Bibir kami kembali bertemu. Menciptakan sentuhan lembut yang membuatku ingin terus seperti ini meski itu mustahil.

Aku menarik kepala, pun Reina. Gadis itu menyentuh bibirnya dan terdiam.

"Aku hanya berpikir kamu masih memikirkan apa yang dikatakan Keeva kemarin, Na."

Reina menatapku.

"Jujur saja, aku hanya ingin kamu tahu ... tak ada yang benar-benar ingin aku cium kecuali dirimu."

Aku sadar Reina berubah sejak saat itu. Dia jadi terlihat terbebani. Aku memang tak bakat saat menebak isi kepala perempuan. Namun, bodoh rasanya jika sampai tidak menyadari hal sebesar itu.

Reina mungkin tak ingin melepasku ke siapapun, bahkan Ratu sekalipun. Dia hanya tak bisa jujur dengan dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang kutemukan saat dia hanya diam setelah sadar aku menciumnya dua kali. Namun, kenapa dia hanya diam saja sekarang?

"Reina kamu tidak apa-apa—"

Setetes air yang mengalir di pipi gadis itu menghentikan suaraku. Reina menyeka air mata itu seraya menunduk. "Salah! Benar-benar salah!"

Eh? Aku mengerjapkan mata berkali-kali. "Apa maksudmu salah?"

"Aku ceroboh...."

"Reina ada apa—"

"Tuan!" Reina mengangkat kepalanya. "Apakah Tuan merasakan sesuatu yang membuat Anda tertarik dengan saya?"

"Apa maksudmu?"

"Cinta. Apakah Anda mencintai saya?"

Deg. Dadaku terasa dipukul dari dalam.

"Apa itu salah?"

"Tentu saja!" Reina meninggikan suaranya. "Aku gagal."

Aku tidak tahu maksudnya tapi mengapa? Saat hatiku sudah berusaha jujur, tapi mengapa sekarang tingkahnya seperti itu?

"Reina aku memang menyukaimu. Aku mencintaimu—"

"Maaf, tapi saya tidak bisa menerima cinta Anda, Tuan." Reina mengambil mangkuk yang kuletakan di ranjang Mella seraya memutar duduknya. Dia menatap ke arah Mella dan Violet di sampingnya yang masih terlelap. "Kami tidak bisa menerima rasa seperti itu."

Wajahku memanas. Aku buntu, benar-benar tak paham dengan maksudnya. Dengan sengaja dia membuatku jatuh cinta, sekarang dengan sadar dia menolaknya.

Aku berdiri. Entah apa yang harus kulakukan sekarang. "Tapi kenapa?"

Aku hanya membutuhkan alasan yang masuk akal.

"Seorang seperti kami, tidak bisa menerima cinta saat mengetahui kutukan itu tak akan bisa diangkat karenanya. Prioritas kami hanyalah mencarikan kandidat yang tepat untuk mendampingi Ratu—"

"Persetan dengan kutukan!" Suaraku meninggi. Wajahku memanas. Alasan yang kudengar sangat tak masuk akal. Dia tak perlu melakukan itu jika hatinya saja tak bisa jujur. "Kau hanya perlu jujur dengan perasaanmu sendiri—"

"Apa yang Anda ketahui tentang kami? Kesengsaraan kami karena kutukan itu, kematian yang selalu menghantui kami yang tak memiliki masa depan, semuanya ... terasa menyiksa kami." Reina diam setelahnya, hanya desahan lirih yang tak bisa ia bendung.

"Sebagai orang yang mampu melakukannya, setidaknya biarkan saya menebus dosa besar itu." Reina melirik sekilas sebelum akhirnya benar-benar menyembunyikan wajahnya.

Sementara aku hanya terdiam. Aku memang tak tahu apapun tentang mereka. Bodohnya diriku.

Aku melenggang pergi meninggalkan mereka. Apa yang dikatakan Reina memang jauh dari apa yang coba kupahami. Mereka lebih rumit dari yang kuduga.

Sialan! Akhirnya aku tak dapat mempelajari apapun darinya.

~ BERSAMBUNG ~
alvicenasanjaya
mamaketerbang12
hazzzzzzz
hazzzzzzz dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.