Kenyataannya, tentu saja tidak!! Kalau jadi, mungkin gue sudah berada di penjara sekarang.
Gue dan Dick tuker pikiran soal motivasi kuliah dan masa depan, sayangnya tu orang enggak bisa diajak ngomong serius, nah ini dia nih, ketemu juga gue tipikal orang dengan pola pikir jadul:
SD---SMP---SMA---KULIAH---LULUS---CARI KERJA (entah ke mana, enggak usah sesuai dengan title kelulusan yang penting kerja)---MARRIED---PUNYA ANAK---PUNYA CUCU---TUA---SAKIT---BATUK-BATUK---MENCRET---MATE DENGAN TENANG…
“Dick! Eloe kuliah di sini lama-lama, terus nanti lulus mau ngapain?” tanya gue.
“Nyari cewe…” jawabnya singkat.
“…”
“Ya kerja lah…” balas Dick.
“Lo ada gambaran mo kerja apa?” tanya gue lagi.
“Mana gue tau lah yang penting cari aja kerja lah… Hari gini S1 bisa jadi sopir taksi mah enggak usah heran Rik. Ada koq, pegawai yang bersihin kandang kebun binatang ragunan itu lulusan ITB.”
“Ah, gile lu, denger dari mana?”
“Gak usah jauh-jauh, waktu itu bokap gue pesen Taksi, sopirnya lulusan UI. Apalagi kita nanti, lulusan Kampus swasta pinggiran kota…” lanjut Dick ngomong, “Makanya, udah, puas-puasin aja nyari cewek di sini… Ni kampus isinya cewek melulu tiap tahun, kita jadi girldigger mumpung masih muda!”
Gue: “…(speechless lagi)”
***
Anjrit, gue udah hampir dua tahun di kampus dan belum jadi apa-apa. Udah gitu ketemu temen enggak ada yang bisa membangun sesuatu, bener-bener suram gue di Kampus pinggiran ini. Thanks to my parents yang memaksa gue untuk kuliah di kampus ini…
***
Quote:
Berikut, gue mau sertakan sebuah intermezzo dalam postingan ini, hanya sekedar bahan pemikiran,
Gue mendapat kuliah tentang kehidupan yang mengejutkan dari cowok ini,
Katanya, mumpung masih muda, puas-puasin cari cewek, cowok itu cepet tuanya, jadi kalau dari muda spermanya enggak terlatih, nanti tuanya cepet peyot, alias loyo. Jadi kalau dari muda udah jadi pendekar ranjang, tuanya bakal makin tokcer. Dalam hati gue pikir, ni orang dapet teori dari mana sih, mungkin baru ngalamin masa puber kali ya.
Tapi ngomong-ngomong soal masa puber, gue sesungguhnya enggak ngerti, apa sih masa puber itu? Seperti apa sih rasanya? Banyak orang cerita puber itu selalu identik dengan seks, katanya itu adalah saat-saat kita harus melepas keperjakaan atau keperawanan kita. Gue jadi inget waktu graduation SMA kemarin, beberapa temen pada ngadain pesta di sebuah kamar hotel, yang katanya di pesta itu semua saling melepas keperawanan dan keperjakaan.
Terutama cowok, kalau lewat pubernya masih perjaka, bakal dianggap culun, bakal enggak ada cewek yang mau sama cowok itu. Gue sampai sekarang enggak tahu teori itu berlaku di belahan dunia mana, mungkinkah terjadi di tanah air kita atau hanya terjadi di kalangan dunia barat… tak tahulah…
Kalau gue disuruh merenung, kenapa kemarin gue dicampakkan? Apakah karena gue ini pria perjaka? Tidak punya pengalaman? Jadi payah di ranjang??…(lho koq, nyambungnya jadi gini…)
Gue selalu mencoba meng-analisa, kenapa cewek selalu gampang jatuh cinta pada cowok brengsek? Cowok yang jago ngerayu, kata-katanya dahsyat, membangkitkan fantasi.
Meskipun banyak cewek yang curhat, “Ah, gue mah enggak bakalan kena rayu sama cowok macam begituan. Gue maunya cowok yang baik, yang bisa menjamin masa depan gue, dan yang penting setia…”
Kenyataannya, terjadi pada temen gue sendiri yang tergila-gila pada cowok alay, kalo udah jatuh dalam pelukan tu cowok udah deh, klepek-klepek udah kayak cacing digoreng gak mati-mati…
Sedangkan kala itu gue berusaha jadi pria baik, menyentuh saja gue minta ijin dulu, berusaha melakukan pendekatan dengan mengobrol baik-baik. Bahkan gue berusaha lebih dulu memperlihatkan kalau gue pantas jadi cowok baik-baik dan mudah-mudahan tidak akan mengecewakan jika nanti jadian. Ternyata gue kalah dengan cowok alay, tukang rayu kampungan, petualang cinta.
Sekali lagi, gue hanya bisa geleng-geleng kepala aja deh…
Sepertinya gue masih kekanakan dan jauh dari bisa mencerna pola pikir seperti di atas…
Akhirnya gue tanya sama temen gue yang cewek, “Tipe cowok impian cewek itu kaya apa sih?”
Jawabannya simple, ada cowok yang diimpikan bak seorang pangeran tampan yang akan membawa sang gadis berkuda menuju matahari terbenam. Yang kedua adalah cowok pekerja yang siap menafkahi masa depan.
Jadi… Kesimpulannya…??? Gue enggak ngerti…
Ada lain kasus,
Ada cowok A yang berusaha mendapatkan cinta seorang wanita dengan cara bekerja keras, hingga lelah, tak kenal waktu, bau pabrik, jelek, enggak bisa merayu, enggak romantis, tapi dalam pikirannya, yang penting investasi masa depan buat anak istri.
Hasilnya…
Kalah pamor sama cowok B yang ganteng, jobless, tukang rayu, enggak punya masa depan.
Hanya karena, cowok B itu mampu menjadi pemuas fantasi cewek mengenai pangeran cinta yang siap membawa si cewek berkuda, memberi belaian hangat, tatapan romantis dan kecupan mesra mengiringi matahari terbenam.
Gue pernah lihat ada buku, “Why Men Marry a Bitches”. Harusnya ada juga versi cowoknya, “Why Women Fall in Love with Fuckin Asshole”. Mungkin nanti ada di toko buku terdekat dengan nama gue sebagai pengarangnya.
Yang namanya cerita dunia percintaan mah enggak ada habisnya, entah itu tentang selingkuh, pengkhianatan, pengorbanan, diputusin, diboongin, dsb… Ujung-ujungnya, hasrat, nafsu, ego.
Di mana sih perbatasan antara cinta dan seks? Apa cinta identik sama seks, tapi seks ga selalu ada cinta…
Akhir kata,
Semua itu balik lagi ke diri masing-masing deh…