- Beranda
- Stories from the Heart
(Kisah Nyata) Rumah Dinas
...
TS
kagurovenommq
(Kisah Nyata) Rumah Dinas

Quote:
Quote:
Quote:

RUMAH DINAS
BAGIAN SATU - PERKENALAN
Tahun 2007... tepatnya saat aku berumur 10 tahun dan disaat itu juga aku sedang menempuh jenjang pendidikan sekolah dasar kelas 5 di salah satu sekolah swasta yang ada di kotaku, Padang, Sumatera Barat. Sebelumnya aku tinggal bersama keluargaku yang terdiri dari Mamaku, Papaku dan adik perempuanku yang rumahnya berada di pinggiran kota. Ya, memang rumahku pada saat itu cukup jauh dari kantor papaku dan sekolahku yang berada di pusat kota. Untuk perjalanannya saja bisa-bisa menempuh satu sampai satu setengah jam itupun kalau tidak macet. Bagiku untuk kota kecil seperti ini, satu jam itu sudah terasa cukup lama untuk berada di mobil tua ini. Karena bosannya, terkadang aku menyempatkan waktu berhargaku untuk menyambung mimpiku di mobil itu, hingga saat aku terbangun dari mimpi itu, aku tidak sadar sudah sampai di sekolah saja.
Tapi saat-saat membosankan itu tidak lah berlangsung lama, karena oomku yang dari Bandung membawa berita baik untukku dan keluargaku. Beliau mengatakan bahwa senin lusa dia akan pergi ke Padang seorang diri untuk urusan dinasnya, dan beliau juga meminta kepada keluargaku untuk menemaninya selama dia di Padang, mengingat rumah dinas yang beliau tempati saat itu sangat besar bagiku. Awalnya keluargaku lumayan berat untuk menerimanya, karena kalau rumah ini ditinggalkan, siapa yang akan mengurusnya? Namun keluargaku juga ada pertimbangan-pertimbangan lainnya, yaitu rumah dinas oomku itu ternyata berada di pusat kota yang sangat dekat dengan kantor papaku dan juga sekolahku. Setelah perdebatan batin yang cukup lama, pada akhirnya keluargaku menyanggupi untuk tinggal sementara bersama oomku di rumah dinasnya kurang lebih selama 3 tahun lamanya.
Esoknya... aku dan keluargaku bersiap-siap untuk berkemas, dan membuat sebuah spanduk yang cukup besar lalu menempelkannya di depan rumah dengan bertuliskan"Rumah Ini Dikontrakan, hubungi nomor ini untuk info lebih lanjut.." Setelah itu kami pun meninggalkan rumah itu dengan cukup berat hati. Namun tidak dengan mamaku, beliau terlihat senang karena bebannya (mungkin?) cukup berkurang. Bagaimana tidak, lingkungan rumahku ini menurut mamaku kurang baik untukku karena selama aku tinggal disini, aku sangat suka keluyuran keluar rumah hingga matahari terbenam, yang terkadang hal itu membuat mamaku risau. Ya bagaimana tidak, seumuran aku dulu kalau pulang larut maghrib pasti sudah dicari-cari oleh orang tuanya kan. "Anak kecil mana ada yang masih keluyuran maghrib-maghrib, yang ada nanti diculik sama hantu!" Begitulah kira-kira ancaman orang tua jaman dulu untuk menakut-nakuti anaknya jika pulangnya telat.
Aku bukanlah tipe anak yang percaya akan hal-hal berbau mistis seperti itu, tapi semua mindsetku itu berubah seketika, ketika aku dan adik perempuanku telah benar-benar mengalaminya sendiri. Bukan, bukan hanya aku dan adik perempuanku saja yang mengalaminya. Aku yakin.. mama dan papaku pasti juga menyadari akan hal itu. Namun, sepertinya mereka mencoba untuk tidak memperdulikan hal itu? atau mencoba untuk merahasiakannya dari kami agar kami tidak ketakutan pada saat itu? Entahlah.. Dan inilah awal kisah nyataku berawal, bagaimana aku dan adik perempuanku mencoba untuk survive dari hal-hal ghaib yang menganggu kami selama satu tahun lamanya.
Akhirnya kami pun tiba di rumah dinas oomku dan seketika itu aku takjub melihat rumah dinas ini, karena jauh sangat berbeda dari rumah yang biasa aku tinggali. Rumah dinas ini begitu besar dari bayanganku, perkarangan depannya yang luas, terdapat rumput-rumput, tanaman lidah buaya serta tanaman-tanaman berukuran sedang yang menghiasi perkarangan tersebut, pagar yang berukuran kecil minimalis namun tetap terlihat elegan, dan di depan perkarangan tersebut dikelilingi pohon-pohon beringin yang begitu besar seakan menghalangi cahaya matahari masuk ke rumah tersebut. Tidak sampai disitu saja, setelah aku dan keluargaku masuk ke dalam rumah, aku masih tidak henti-hentinya untuk takjub! ternyata di dalam ini jauh lebih terlihat besar daripada apa yang terlihat dari luar. Kesan pertama yang aku dapatkan dari rumah ini adalah mewah namun diselimuti oleh kehampaan yang sangat mendalam.
Entah mengapa, dirumah yang sebesar ini aku merasa sangat-sangat hampa. "Apa karena sepi? atau apa karena sunyi? atau mungkin karena aku masih belum terbiasa dengan suasana rumah yang sebesar ini?", gumamku dalam hati. Tapi.. sampai saat ini.. hari pertamaku di dalam rumah ini, tidak ada hal-hal yang aneh yang aku rasakan. Benar, tidak ada.. sampai dimana pada hari itu datang, hari dimana sepupu laki-lakiku datang secara diam-diam. Keesokan harinya, aku mulai menjelajahi rumah ini seorang diri, namun hanya setengah bagiannya saja. Yang aku tahu pada saat itu, dirumah dinas oomku ini ada enam ruangan utama, yaitu satu ruang tamu, dua kamar tidur yang ditempati oleh oomku, satu kamar tidur lagi yang ditempati oleh kami sekeluarga dan satu lagi kamar tidur kosong. Kamar tidur disini begitu besar, hingga kami berempat pun masih terasa lapang.
Di bagian belakang terdapat satu ruang dapur minimalis ala-ala bar gitu, disamping dapur terdapat satu kamar tidur untuk pembantu dan jika kita berjalan ke belakangnya lagi terdapat satu ruangan dapur lagi yang lumayan besar namun tidak terpakai lagi. Itu terbukti karena ruangan dapur ini sangat-sangat kotor dan berdebu, sarang laba-laba menyelimuti dapur ini. Dan jika kita berjalan lagi terus ke belakangnya, terdapat satu pintu yang terkunci rapat lengkap dengan gemboknya yang lumayan besar. Pada saat itu, aku belum tahu ruangan apa itu dan aku pun pada saat itu tidak ingin mencari tahunya, karena suasana disini saja menurutku sudah lumayan menyeramkan. Walau begitu, aku tetap saja tidak terlalu memperdulikan hal itu, dan ketika itu aku kembali lagi menjelajahi bagian belakang samping rumah tersebut. Ternyata, dibagian belakang samping rumah ini juga terdapat halaman perkarangan yang begitu luas, bahkan lebih luas dari perkarangan yang ada di depan.
Di halaman belakang ini terdapat satu pohon beringin yang sangat besar, disamping pohon beringin itu juga terdapat satu ayunan yang jika dilihat pada malam hari menjadi sangat menyeramkan, ayunannya seperti bergoyang-goyang dengan sendirinya karena pada malam pertamaku disana aku mendengar suara ayunan tersebut. Diseberang pohon beringin tersebut, juga terdapat kolam ikan buatan yang berukuran tidak terlalu besar lengkap dengan ikan-ikan hiasnya. Oomku itu ketika hari liburnya selalu memberikan makanan-makanan ikan tersebut dengan pelet ikan yang dibelinya. Sekilas membuat suasana dirumah yang seram ini menjadi berkurang. Tidak sampai disitu saja, jika kita berjalan lagi ke belakang perkarangan ini, kita akan menemukan satu lapangan tennis dan diseberangnya terdapat gudang yang berisi dokumen-dokumen yang tak terpakai lagi.
Dan disamping gudang itu, lagi-lagi aku menemukan sebuah pintu yang dikunci rapat lengkap dengan gembok yang lumayan besar. Tapi aku tidak ingin mencari tahu, apa yang ada di dibalik pintu itu. Oh iya, aku tidak tahu apakah rumah dinas ini termasuk ke dalam kompleks perumahan atau bukan karena sepertinya rumah dinas ini berdiri sendiri tidak seperti komplek-komplek perumahan pada umumnya. Benar, disamping rumah ini juga terdapat rumah-rumah besar lainnya namun dengan pagar yang tinggi-tinggi, tidak seperti dengan rumah ini yang pagarnya pendek padahal rumahnya sangat besar. Dari segi keamanan menurutku ini sangat-sangat kurang. Satpam pun disini tidak ada, padahal lingkungan disini sangat-sangat sepi hampir tidak ada mobil atau motorpun yang melintasi lingkungan ini. Maling pun pasti akan senang berkeliaran di sekitar sini.
Bagian satu, selesai..
Diubah oleh kagurovenommq 27-06-2021 16:24
anwaranwar93 dan 51 lainnya memberi reputasi
50
36.3K
123
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kagurovenommq
#2
BAGIAN KETIGA - MISTERI DIBALIK RUANGAN YANG TERKUNCI
updated: tanggal 04/04/2020 pada 08.43
Sehari setelah kasus kejadian tamu yang tak diundang itu selesai, papaku pada akhirnya memaafkan apa yang bang ewo itu perbuat dan tidak ingin memperpanjang masalah lagi, karena papa pun sama-sama mengerti bagaimana kondisi bang ewo tersebut. Apalagi bang ewo itu sudah cukup dekat dengan kami sewaktu kami masih tinggal di pinggiran kota, ya walaupun aku dan bang ewo sering bertengkar untuk masalah-masalah sepele. Karena seperti yang aku bilang tadi, bang ewo walau umur dan postur badannya besar namun pikirannya masih lah seperti anak-anak karena penyakit "step" nya tersebut. Bang ewo adalah sepupu laki-laki dari adik papaku, dia sering membuat masalah di lingkungan rumahnya bahkan orangtua nya saja sudah angkat tangan melihat perilakunya. Kerjanya di rumah hanya lah tidur-tiduran saja seharian, di suruh sekolah tidak mau, di suruh kerja di bengkel nya sendiri pun juga tidak mau. Tapi, siapa sangka dia sangat ahli dalam urusan pekerjaan bengkel, jika diasah lebih jauh lagi pasti dia akan menjadi ahlinya. Namun karena malas nya itu lah, dia menyia-nyiakan kesempatan itu. Makanya tidak heran, dia dengan mudah membobol pintu rumah dinas ini. "Katanya, orang-orang tertentu bisa melihat hantu lho.." begitulah pikiranku terlintas setiap aku melihat bang ewo, entah mengapa firasatku mengatakan bahwa bang ewo ini bisa melihat atau merasakan hal-hal yang tak bisa dilihat oleh manusia pada umumnya.
Buktinya, dia tidak takut sedikitpun dengan apa yang dia lakukan pada ruangan yang terkunci rapat itu. Orang normal mana yang berani melakukan hal gila itu? bahkan oom dan papaku saja tidak pernah menyentuh ruangan yang terkunci itu, mereka menganggapnya seolah tak pernah ada. Bang ewo diizinkan menginap oleh papaku untuk beberapa hari disini, itung-itung sebagai teman mainku disini karena memang semenjak aku tinggal dirumah ini, aku tak pernah keluar selangkah pun kecuali untuk urusan sekolah. Apalagi dengan situasi lingkungan yang sepi ini, berharap ada anak yang seumuranku bermain di luar? mana mungkin ada. Pada akhirnya bang ewo lah yang menemaniku bermain di rumah ini walau terkadang kami pun masih sering bertengkar dalam memperebutkan bola misalnya. Seharian bermain bola terasa sangat melelahkan. Ketika aku sedang asik-asiknya untuk ber-istirahat sejenak sambil memandangi pohon beringin yang kokoh itu, tanpa aku sadar bang ewo sudah menghilang saja, padahal tadi dia berada tepat disampingku. "Val, siko lah.." (Val, sini lah..) terdengar suara bang ewo yang memanggilku dari arah lapangan tenis. "Ngapain bang?" lantas aku pun segera menjawab panggilan itu dan bergegas untuk pergi ke tempat bang ewo itu. "Gudang a ko val?" (Ini gudang apa val?) tanya bang ewo sembari mengacak-acak dokumen yang ada pada gudang tersebut. "Gak tau bang.." jawabku sambil melihat apa yang dilakukan bang ewo.
Seketika aku melamun sejenak ketika itu dan setelah itu aku melihat ada kabel listrik yang sudah sobek namun masih terhubung dengan kontaknya. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, tiba-tiba terbesit saja dibenakku untuk memegang kabel yang sudah sobek itu. Ketika aku memegangnya "....." aku diam karena terkejutnya, ternyata aliran listrik yang ada pada kabel ini masih menyala dan membuatku kesentrum ringan seketika. Mungkin karena dulu aku masih anak-anak jadi suka coba-coba buat megang karena penasaran, atau mungkin karena ada "hal yang lain" yang membuatku terdorong untuk menyentuh kabel-kabel ber-listrik itu? Ketika itu bang ewo hanya melihatku sambil tertawa ringan dan berkata, "Haha.. kanai karajoan yo?" ((Haha.. dikerjain ya?) ketika itu aku sedikit kesal karena bang ewo mengejekku. Tapi aku tidak ambil pusing, kata-katanya itu hanyalah lanturan-lanturan yang tidak bermakna. Karena kondisinya itu terkadang apa yang dia bicarakan seperti melantur sana-sini, menghayal ngalong tidur. Setelah itu, bang ewo mengajakku untuk pergi ke sebuah pintu yang terkunci rapat itu. Lalu akupun menolaknya, tapi entah kenapa aku seperti tidak dianggap olehnya pada saat itu. Karena walau aku menolaknya, dia tetap pergi kesana dan itu membuatku terpaksa untuk mengikutinya. Lalu bang ewo pun mengeluarkan skill "bengkel" nya untuk membuka pintu yang terkunci itu.
Setelah beberapa lama dia mengutak-ngatik kunci itu akhirnya terbuka juga, aku sempat takjub seketika, "wah gila keren juga nih bang ewo bisa buka kunci kayak gitu" pujiku dalam hati. Tapi sayangnya, hal gila itu tidak cukup sampai disitu. Belum sempat aku melarangnya untuk tidak memasuki ruangan yang terkunci itu, bang ewo sudah memasukinya saja tanpa ragu sedikit pun. Dan lagi-lagi aku terpaksa untuk mengikutinya, "Yaudahlah, untung masih siang juga" keluhku dalam hati. Tapi walaupun pada saat itu matahari masih tegak diatas kepala, entah mengapa mendadak ketika aku memasuki ruangan tersebut aku merasakan perasaan yang sangat-sangat men-janggal. Jauh lebih men-janggal dari perasaan-perasaanku pada saat pertama aku mendatangi rumah dinas ini. Semakin aku menjauh melangkah ke dalam ruangan ini, semakin berdiri lah bulu kudukku satu per satu. "Bang, ndak takuik?" (Bang, gak takut apa ya? bang ewo pun tidak merespon apa yang aku tanyakan padanya dan lebih memilih untuk fokus melihat-lihat ruangan ini, seperti sedang mencari-cari sesuatu tapi apa itu aku pun tidak tahu. Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang sembari was-was entah apa yang akan terjadi nantinya, karena jujur pada saat itu aku benar-benar merasa sangat takut. Sepintas aku melihat ruangan ini, ternyata disini sangat banyak sekali kamarnya. Ada dua ruangan disini, dan di dalam ruangan ini terdapat lagi ruangan lainnya, yaitu ruang kamar tidur yang sudah tidak terurus lagi.
Dalam satu ruangan ini terdapat dua ruang kamar tidur, berarti ada empat kamar tidur yang ada pada ruangan ini. "Tu val, bang manjek tu malompek lewat situ kapatang.." (Itu val, bang manjat lalu melompat lewat sana kemarin..) sambil menunjukkan atap tempat dia melompat. "Oh pantes, dia bisa lompat ternyata jarak dari atap ke tanah tidak terlalu jauh" gumamku dalam hati. "Tu kapatang bang lalok kamar ko.." (Terus kemarin, bang tidur di kamar ini) sambil menunjukkan salah satu ruangan yang ada disana. "Hah? gila gak tuh, jadi selama seminggu kemarin bang ewo ini tidur disini? gak takut sedikit pun?" dan ternyata ruangan ini terhubung dengan ruangan dapur yang sudah tidak terpakai itu. Lepas sudah rasa penasaranku dengan apa yang ada di balik pintu-pintu yang terkunci itu kemarin. Tapi, ada satu hal yang membuatku sangat penasaran di ruangan ini. Tepat di depan atap yang terbuka ketika bang ewo melompat kemarin itu, ada sebuah tanah kosong yang ukurannya tidak terlalu besar serta pohon bekas ditebang yang lumayan besar dan dikelilingi oleh pagar-pagar berkawat tinggi yang lagi-lagi digembok. Sepertinya pohon tersebut sangat dilindungi bahkan pagar berkawat ini lebih kokoh daripada pagar yang ada di depan rumahku ini. Entah mengapa seketika perhatianku hanya tertuju pada pohon ini, seperti ada daya tariknya tersendiri. Lalu tiba-tiba bang ewo menegurku, "Jan di caliak bana.." (Jangan terlalu dilihat kali..) aku pun yang agak melamun karena memperhatikan pohon tersebut, terkejut dengan teguran bang ewo.
Setelah puas kami meihat-lihat ruangan tersebut, kami pun menuju ke dalam lalu menutup pintu-pintu tersebut namun tidak kami kunci kembali. Aku yang masih penasaran dengan pohon itu, aku pun bertanya kepada bang ewo, "Bang, pohon a tu yang disitu tadi tu?" (Bang, pohon apa yang ada disitu tadi?) bang ewo hanya diam dan tidak menghiraukan tanyaku seolah dia tidak ingin membahasnya. Yang membuatku penasaran dari pohon itu adalah daya tariknya yang membuatku seolah-olah ingin melihat pohon itu terus, memang yang aku rasakan ketika aku melihat pohon tersebut adalah rasa hampa sekaligus menaikkan bulu-bulu kudukku satu per satu. Seperti sumber dari rasa hampa yang ada di rumah ini berasal dari pohon tersebut, paling tidak itulah pikirku setiap kali aku memikirkan mengenai pohon tersebut. Dan lagi, yang membuatku tambah penasaran adalah mengapa pohon yang sudah ditebang itu dipagari oleh kawat yang tinggi-tinggi? seperti sedang menyegel sesuatu, tapi apa? entah mengapa beberapa hari setelah kami memasuki ruangan itu, aku hanya terpikir akan pohon itu. Dan lagi, setelah pintu-pintu itu terbuka dari kuncinya, aku merasakan ada yang tidak beres terjadi dirumah ini. Terlebih lagi ketika bang ewo itu sudah tidak lagi berada di rumah ini.
Bagian ketiga... selesai.
Ayo gan ramaikan, nanti malem saya update lagi.. mau ngurus kerjaan dulu, hehe.
updated: tanggal 04/04/2020 pada 08.43
Sehari setelah kasus kejadian tamu yang tak diundang itu selesai, papaku pada akhirnya memaafkan apa yang bang ewo itu perbuat dan tidak ingin memperpanjang masalah lagi, karena papa pun sama-sama mengerti bagaimana kondisi bang ewo tersebut. Apalagi bang ewo itu sudah cukup dekat dengan kami sewaktu kami masih tinggal di pinggiran kota, ya walaupun aku dan bang ewo sering bertengkar untuk masalah-masalah sepele. Karena seperti yang aku bilang tadi, bang ewo walau umur dan postur badannya besar namun pikirannya masih lah seperti anak-anak karena penyakit "step" nya tersebut. Bang ewo adalah sepupu laki-laki dari adik papaku, dia sering membuat masalah di lingkungan rumahnya bahkan orangtua nya saja sudah angkat tangan melihat perilakunya. Kerjanya di rumah hanya lah tidur-tiduran saja seharian, di suruh sekolah tidak mau, di suruh kerja di bengkel nya sendiri pun juga tidak mau. Tapi, siapa sangka dia sangat ahli dalam urusan pekerjaan bengkel, jika diasah lebih jauh lagi pasti dia akan menjadi ahlinya. Namun karena malas nya itu lah, dia menyia-nyiakan kesempatan itu. Makanya tidak heran, dia dengan mudah membobol pintu rumah dinas ini. "Katanya, orang-orang tertentu bisa melihat hantu lho.." begitulah pikiranku terlintas setiap aku melihat bang ewo, entah mengapa firasatku mengatakan bahwa bang ewo ini bisa melihat atau merasakan hal-hal yang tak bisa dilihat oleh manusia pada umumnya.
Buktinya, dia tidak takut sedikitpun dengan apa yang dia lakukan pada ruangan yang terkunci rapat itu. Orang normal mana yang berani melakukan hal gila itu? bahkan oom dan papaku saja tidak pernah menyentuh ruangan yang terkunci itu, mereka menganggapnya seolah tak pernah ada. Bang ewo diizinkan menginap oleh papaku untuk beberapa hari disini, itung-itung sebagai teman mainku disini karena memang semenjak aku tinggal dirumah ini, aku tak pernah keluar selangkah pun kecuali untuk urusan sekolah. Apalagi dengan situasi lingkungan yang sepi ini, berharap ada anak yang seumuranku bermain di luar? mana mungkin ada. Pada akhirnya bang ewo lah yang menemaniku bermain di rumah ini walau terkadang kami pun masih sering bertengkar dalam memperebutkan bola misalnya. Seharian bermain bola terasa sangat melelahkan. Ketika aku sedang asik-asiknya untuk ber-istirahat sejenak sambil memandangi pohon beringin yang kokoh itu, tanpa aku sadar bang ewo sudah menghilang saja, padahal tadi dia berada tepat disampingku. "Val, siko lah.." (Val, sini lah..) terdengar suara bang ewo yang memanggilku dari arah lapangan tenis. "Ngapain bang?" lantas aku pun segera menjawab panggilan itu dan bergegas untuk pergi ke tempat bang ewo itu. "Gudang a ko val?" (Ini gudang apa val?) tanya bang ewo sembari mengacak-acak dokumen yang ada pada gudang tersebut. "Gak tau bang.." jawabku sambil melihat apa yang dilakukan bang ewo.
Seketika aku melamun sejenak ketika itu dan setelah itu aku melihat ada kabel listrik yang sudah sobek namun masih terhubung dengan kontaknya. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, tiba-tiba terbesit saja dibenakku untuk memegang kabel yang sudah sobek itu. Ketika aku memegangnya "....." aku diam karena terkejutnya, ternyata aliran listrik yang ada pada kabel ini masih menyala dan membuatku kesentrum ringan seketika. Mungkin karena dulu aku masih anak-anak jadi suka coba-coba buat megang karena penasaran, atau mungkin karena ada "hal yang lain" yang membuatku terdorong untuk menyentuh kabel-kabel ber-listrik itu? Ketika itu bang ewo hanya melihatku sambil tertawa ringan dan berkata, "Haha.. kanai karajoan yo?" ((Haha.. dikerjain ya?) ketika itu aku sedikit kesal karena bang ewo mengejekku. Tapi aku tidak ambil pusing, kata-katanya itu hanyalah lanturan-lanturan yang tidak bermakna. Karena kondisinya itu terkadang apa yang dia bicarakan seperti melantur sana-sini, menghayal ngalong tidur. Setelah itu, bang ewo mengajakku untuk pergi ke sebuah pintu yang terkunci rapat itu. Lalu akupun menolaknya, tapi entah kenapa aku seperti tidak dianggap olehnya pada saat itu. Karena walau aku menolaknya, dia tetap pergi kesana dan itu membuatku terpaksa untuk mengikutinya. Lalu bang ewo pun mengeluarkan skill "bengkel" nya untuk membuka pintu yang terkunci itu.
Setelah beberapa lama dia mengutak-ngatik kunci itu akhirnya terbuka juga, aku sempat takjub seketika, "wah gila keren juga nih bang ewo bisa buka kunci kayak gitu" pujiku dalam hati. Tapi sayangnya, hal gila itu tidak cukup sampai disitu. Belum sempat aku melarangnya untuk tidak memasuki ruangan yang terkunci itu, bang ewo sudah memasukinya saja tanpa ragu sedikit pun. Dan lagi-lagi aku terpaksa untuk mengikutinya, "Yaudahlah, untung masih siang juga" keluhku dalam hati. Tapi walaupun pada saat itu matahari masih tegak diatas kepala, entah mengapa mendadak ketika aku memasuki ruangan tersebut aku merasakan perasaan yang sangat-sangat men-janggal. Jauh lebih men-janggal dari perasaan-perasaanku pada saat pertama aku mendatangi rumah dinas ini. Semakin aku menjauh melangkah ke dalam ruangan ini, semakin berdiri lah bulu kudukku satu per satu. "Bang, ndak takuik?" (Bang, gak takut apa ya? bang ewo pun tidak merespon apa yang aku tanyakan padanya dan lebih memilih untuk fokus melihat-lihat ruangan ini, seperti sedang mencari-cari sesuatu tapi apa itu aku pun tidak tahu. Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang sembari was-was entah apa yang akan terjadi nantinya, karena jujur pada saat itu aku benar-benar merasa sangat takut. Sepintas aku melihat ruangan ini, ternyata disini sangat banyak sekali kamarnya. Ada dua ruangan disini, dan di dalam ruangan ini terdapat lagi ruangan lainnya, yaitu ruang kamar tidur yang sudah tidak terurus lagi.
Dalam satu ruangan ini terdapat dua ruang kamar tidur, berarti ada empat kamar tidur yang ada pada ruangan ini. "Tu val, bang manjek tu malompek lewat situ kapatang.." (Itu val, bang manjat lalu melompat lewat sana kemarin..) sambil menunjukkan atap tempat dia melompat. "Oh pantes, dia bisa lompat ternyata jarak dari atap ke tanah tidak terlalu jauh" gumamku dalam hati. "Tu kapatang bang lalok kamar ko.." (Terus kemarin, bang tidur di kamar ini) sambil menunjukkan salah satu ruangan yang ada disana. "Hah? gila gak tuh, jadi selama seminggu kemarin bang ewo ini tidur disini? gak takut sedikit pun?" dan ternyata ruangan ini terhubung dengan ruangan dapur yang sudah tidak terpakai itu. Lepas sudah rasa penasaranku dengan apa yang ada di balik pintu-pintu yang terkunci itu kemarin. Tapi, ada satu hal yang membuatku sangat penasaran di ruangan ini. Tepat di depan atap yang terbuka ketika bang ewo melompat kemarin itu, ada sebuah tanah kosong yang ukurannya tidak terlalu besar serta pohon bekas ditebang yang lumayan besar dan dikelilingi oleh pagar-pagar berkawat tinggi yang lagi-lagi digembok. Sepertinya pohon tersebut sangat dilindungi bahkan pagar berkawat ini lebih kokoh daripada pagar yang ada di depan rumahku ini. Entah mengapa seketika perhatianku hanya tertuju pada pohon ini, seperti ada daya tariknya tersendiri. Lalu tiba-tiba bang ewo menegurku, "Jan di caliak bana.." (Jangan terlalu dilihat kali..) aku pun yang agak melamun karena memperhatikan pohon tersebut, terkejut dengan teguran bang ewo.
Setelah puas kami meihat-lihat ruangan tersebut, kami pun menuju ke dalam lalu menutup pintu-pintu tersebut namun tidak kami kunci kembali. Aku yang masih penasaran dengan pohon itu, aku pun bertanya kepada bang ewo, "Bang, pohon a tu yang disitu tadi tu?" (Bang, pohon apa yang ada disitu tadi?) bang ewo hanya diam dan tidak menghiraukan tanyaku seolah dia tidak ingin membahasnya. Yang membuatku penasaran dari pohon itu adalah daya tariknya yang membuatku seolah-olah ingin melihat pohon itu terus, memang yang aku rasakan ketika aku melihat pohon tersebut adalah rasa hampa sekaligus menaikkan bulu-bulu kudukku satu per satu. Seperti sumber dari rasa hampa yang ada di rumah ini berasal dari pohon tersebut, paling tidak itulah pikirku setiap kali aku memikirkan mengenai pohon tersebut. Dan lagi, yang membuatku tambah penasaran adalah mengapa pohon yang sudah ditebang itu dipagari oleh kawat yang tinggi-tinggi? seperti sedang menyegel sesuatu, tapi apa? entah mengapa beberapa hari setelah kami memasuki ruangan itu, aku hanya terpikir akan pohon itu. Dan lagi, setelah pintu-pintu itu terbuka dari kuncinya, aku merasakan ada yang tidak beres terjadi dirumah ini. Terlebih lagi ketika bang ewo itu sudah tidak lagi berada di rumah ini.
Bagian ketiga... selesai.
Ayo gan ramaikan, nanti malem saya update lagi.. mau ngurus kerjaan dulu, hehe.
Diubah oleh Kaguro.Venom.MQ 04-04-2020 11:39
BALI999 dan 23 lainnya memberi reputasi
24