TS
biadabcuk
You

BODOH
Nilai yang berupa tulisan dapat membuat mereka menilai kemampuan otak seseorang.
PRESTASI
Sebuah trofi dapat membuat mereka tersenyum, bangga dari hasil yang mereka capai
CINTA
Itulah yang gue butuhkan, gue akan lakukan apapun itu untuk mendapatkan cinta, gue nggak butuh nilai, gue nggak butuh trofi, karena bagi gue cintalah segalanya.
Salah..
Iya gue salah, motivasi gue untuk mendapatkan cinta ternyata salah, gue terlalu melukai mereka dengan cinta gue, hingga akhirnya sesosok malaikat bagi gue, membuat gue sadar.
Cinta adalah kasih dan sayang
Kasih adalah keindahan dan sayang adalah ketulusan
Hingga akhirnya gue paham, kasih membuat gue hilang arah, dan sayang membuat gue tau arah.
INDEX
PART 1 SALAH
PART 2 SEPI
PART 3 TEMAN
PART 4INDAHNYA HIDUP
PART 5 SALSA
PART 6 RUMIT
PART 7 KELUARGA KECIL
PART 8 WANITA
FLASHBACK
PART 9CIUMAN
PART10 LIBURAN
PART 11 JOMBLO KAMPRET
PART 12 ROHIS
PART 13 ELUSAN SAKTI
PART 14 MEREKA
PART 15 KATROK
PART 16
PART 17 AYE AYE
16+
PART 18 DUA WANITA
PART 19 WANITA
PART 20 RUTINITAS
PART 21 PERNYATAAN
PART 22 MINGGAT
PART 23 WANITA LAGI
PART 24 LIA PONAKAN SEREM
PART 25 HIDUP KEMBALI
PART 26 GUNUNG UNGARAN BAGIAN 1
PART 27 GUNUNG UNGARAN BAGIAN 2
PART 28 GUNUNG UNGARAN BAGIAN 3
PART 29 PESONA GUNUNG UNGARAN
PART 30 PULANG DAN TRAGEDI
POV Ratna
PART 31 MULAI BERBICARA
PART 32 TANGIS NADIA
PART 33 BIRU MUDA
PART 34 BERSAMAMU
PART 35 BERSAMAMU
KEHIDUPAN BARU
LEMBARAN BARU
PART 36 ES TEH MANIS
PART 37 MATA
PART 38 TANGIS RATNA
PART 38 APALAH AKU
PART 39 HARI
PART 40 HELM
PART 41 MALAM YANG INDAH
PART 42 ROTI DAN SENYUMMU
PART 43 MUDIK
PART 44 PAGI
PART 45 MEREKA
PART 46 CURHAT INDRI
PART 47 LIA
PART 48 BRIAN
PART 49 KENTANG
PART 50 PERANG
PART 50 VOKALIS
PART 51 JAZ
PART 52 ULANG TAHUN
PART 53 Bingung
PART 54 SECERCAH KEPASTIAN
Diubah oleh biadabcuk 06-06-2023 20:06
nwansaa dan 73 lainnya memberi reputasi
72
124.1K
797
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
biadabcuk
#520
Lia
Nafsu wanita amatlah sangat besar jika sudah di hidupkan
Hasrat wanita sangatlah kuat jika tercurah.
Menolak rasanya sulit jika keadaan seperti ini, nafsu terus bersuara bersuara, menggema menjadi pendorong hasrat cinta
Dingin, tenang, air mata, suasana ruang hampa.
................
Dalam pelukan ini suhu tubuh gue meningkat, pikiran gue campur aduk. Indri menggoyang goyangkan badannya terus menerus. Gue dorong pelan tubuhnya namun tenaga wanita sangatlah kuat hingga tubuh mulai bersatu kembali, beberapa detik mata bertemu, bibir tak kuasa menari lagi, lagi, dan lagi..
PLAKKK....
Tangan tiba tiba bergerak menampar diri ini sendiri.
"Cukup mbak, pleaseee" air mata gue tak kuasa menetes
"Lu kenapa" Indri menatap nanar wajah gue
Gue segera menghapus air mata gue
"Gue kotor mbak, gue ba*ngan, gue nggak sanggup..
"GUE NGGAK PEDULI" Indri pun menangis dalam dekapan
Malam ini begitu banyak cerita yang telah terjadi.. cerita dua insan manusia biasa, hati yang terluka oleh goresan cerita masa lalu. Air mata menjadi bukti sakit ini. Masa lalu yang pernah menjadi masa kini seakan ingin memutar dan memperbaiki tiap bait cerita yang terjadi, namun drama ini bukanlah gambar pensil yang bisa di hapus untuk dilukis lagi.
Keluarkan semua air matamu wanita, curahkan semua sakitmu, tidurlah dalam tangis kelegaanmu.
Gue menggendong Indri menuju kamar atas kamar gue, mata gue menangkap pemandangan yang selama ini menjadi sinyal terkuat para lelaki, dalam batin gue cuma bisa berkata keras GEDE. Setelah gue selimutin gue tutup pelan pintu kamar, gue turun ke dapur menyeduh teh goceng.
Memandang langit sambil memutar memori hari ini. Fuaahhhh... Asap rokok keluar dari mulut gue, betapa melelahkannya hari ini. Kenapa gue bisa menangis! Kenapa nggak gue sikat Indri, kenapa kenapa kenapa.. senyum terukir dari bibir gue saat pikiran gue campur aduk. Gue hanyalah manusia biasa yang sangat gampang tenggelam dalam hitam.
Tersenyum mengingat hanya satu sosok yang bisa membuat gue tenggelam dalam nafsu. Seseorang yang telah lama menyimpan hasrat se**al. Entah gue bisa bertahan dengan kebaikan gue saat ini atau tidak itu semua akan menjadi cerita esok di mana semua jawaban akan terukir oleh satu nama. Gue pijak rokok yang telah habis.
Pukul 04.00 Semarang, gue terbangun. Menaiki tangga, memutar gagang pintu, melihat betapa nyenyaknya wanita yang telah menjadi partner ayah gue.
Gue turun menuju dapur. Menyiapkan makanan dari bahan makanan yang telah gue beli kemarin dan Memasak nasi secukupnya.
Adzan berkumandang, gue berjalan menuju masjid, sepulang dari masjid gue kembali menunggu Jihan.. tak lama berselang Jihan pun datang.
Aaahh betapa indahnya wanita ini, nggak pernah bosen.
"Jihan" panggil gue
"Iya Andi" tatapan yang begitu tulus tanpa benci dari janji seorang biadab yang mengingkari.
Gue pun menggaruk garuk kepala yang nggak gatal sambil cengengesan.
"Maaf gue lupa kalo mau jajanin lu bakso tadi malem" ucap gue
"Nggak papa kok ndi, lagian tadi malem aku juga maen sama rehan" ucap Jihan malu malu sekaligus membuat hati gue nggak karuan rasanya.
"Widiiiih pacaran nih Eneng" goda gue, sambil jalan pelan menuju rumah Jihan. masih dengan hati yang nggak karuan.
"Enggak kok" ucap Jihan malu malu
"Cieee mukanya merah, lagi kasmaran nih Yee" goda gue lagi
"Mbb, sebagai gantinya, gimana kalo lu gue jajanin di Samin" ajak gue
"Nggak usah ndi, maaf aku mau pergi sama rehan ke simpang lima" ucap Jihan yang membuat gue berantakan, yahh secara tidak langsung hati gue nggak bisa bohong, namun gue pengecut yang hanya bisa menyembunyikan rasa suka karena alasan gue sendiri. Gue pun hanya sebatas mengantar Jihan sampai rumahnya.
"Yaudah jihan sukses ya, sama rehan" ucap gue masih menutupi luka yang ada.
"Ndi, kamu nggak papa kan" kini muka Jihan menunjukkan ekspresi kekhawatiran.
"Udaaah tenang, kapan kapan dah kita jalan lagi, cerita cerita lagi, eh ya Jihan gue sekalian pamit nanti sore balik Jakarta, assalamualaikum" ucap gue putar balik. nah, andai lu tau nah.. aahh sudahlah. Gue emang pengecut.
Gue berjalan dengan perasaan campur aduk. Gue baru sadar kalo banyak tujuan gue untuk pulang, banyak yang gue harapkan, namun terlalu banyak malah membuat sakit.
Sebelum sampai rumah gue melihat Anis yang sangat tumben bangun pagi, memakai jersey real Madrid khas cewek yang suka sama cowok ganteng. Dan real Madrid identik dengan itu kala itu, Makanya banyak cewek yang demen. Beda sama gue yang dari kenal bola udah demen sama the profesor Arsene Wenger. The Gunners boooo hahaha.
Gue
"Heh, tumben bangun pagi lu"
"Yeee pak ustad, giat bener dah pagi pagi udah pake sarung" goda Anis
Gue
"Hahahaha, ndasmu, mau joging lu"
Anis
"Iya, ikut yuk, ke tri lomba juang"
Gue
"Ogah, ntar gue jadi tukang foto hahaha"
Anis
"Emang itu tujuan gue ngajak lu"
Gue pun menjewer pelan telinga Anis
"Ntar gue susul, gue mau sarapan dulu" balas gue diikuti suara motor empat tak yang tak lama datang, sangar.. Ninin euyyy... Empiz apakabaaar.. di gass pasti melempem lah.
Gue masuk rumah, suara klotek klotek membuat gue kaget..
Gue pun mengucap salam, assalamualaikum.
"WAALAIKUM SALAM" balas suara dari arah dapur, gue segera menuju dapur. Pemandangan yang istimidut membuat denyut gue berkedut, dimana mbak Indri memakai stelan gemesnya sedang membuat teh, namun gue kembali ke depan ke ruang tv. Bahaya nih mode istri on.
Selang beberapa menit Indri keluar membawa dua gelas teh panas.
"Diminum sayang tehnya" wuhahahasuuu.. ngerrii dada gue berdetuk kencang syekalii
Gue
"Sayang palalu peang, hahahaha"
"Yee, dibilang sayang malah ngata'in" Indri ikut ikutan ngakak
"Mbak, jalan jalan yok" ajak gue
"Kemana" balas Indri riang banget, senyumnya merekah rekah.
Gue
"Simpang Lima, kalo pagi gini enak banyak yang jualan, jualan celana panjang juga ada"
Ekspredi Indri membuat gue ngakak, hahaha, sindiran gue membuat paha gue terkena cubitan dahsyat. ASem..
"Mbak ikut ke kamar bentar deh" ajak gue
"Ngapain" ekspresi berlebihan yang di tunjukkan indri membuat gue ngeri, gue pun gandeng dia menuju kamar gue. Gue buka lemari baju gue, nampak banyak banget kaos lengan pendek bergambar Arsenal.
Saat Indri memakai kaos Arsenal gue mata gue dibuat takejub, edaan cakep banget, bisa pas gitu, aaah wajarlah lagian Indri juga lumayan tinggi. wajar kalo cukup pakai kaos laki.
"Cakep ya ndi" Indri mengedipkan matanya, gue mengacungkan jempol
Saat memilih celana gue dibuat bingung, mana yang panteees coba, masak iya pake kolor, bisa terbang burung burung antum. Sampai akhirnya Indri bersuara
"Aku bawa celana yang segini kok" ucap Indri, dan ternyata yang dimaksud celana tiga perempat hitam yang tipis, macam kostum sepeda. Tapi cakep kok.
Setelah Indri memakai setelan nya, gue menuju kamar mandi, namun tangan gue ditahan Indri
"Ganti disini aja, penasaran kayak apa" ucap Indri sambil menggigit pelan bibirnya, gue tonyor pelan jidadnya
Ndasmu...
Setelah dari kamar mandi, gue dan Indri menghadap cermin, mata kita saling bertemu, senyuman nampak terukir dari dia dan gue, couple Sam. Huahaha.. bedanya dada gue rata punya dia dandol(singkatannya coba tebak di kolom komentar).
Gue dan Indri pun berfoto bersama, foto alay njirr, berbagai foto kita peragakan menggunakan kamera yang di setel timernya..
INI KAPAN BERANGKATNYA, FOTO MULU NYAI RONGGENG.
Treng teng teng teng... Suara empiz menggema di sepinya perumahan ini, sang wanita duduk mesum di belakang, tangan memeluk erat sang biadab hingga membuat sang rudal terus memberontak.
Gue kendorkan sedikit pelukannya.
Gue
"Sesak mbaaaak"
Indri
"Lu bisa nggak sih jangan panggil gue mbak"
Gue
"Susah kalo udah ngecap di lidah"
Indri
"Ya di lancarin dong, atau lu panggil gue sayang aja biar enakan dengernya"
Gue
"Ogah, ntar gue di suruh nikahin lu hancur masa sekolah gue"
Indri
"Hahaha, ya kalo gue malah seneng bisa nikah sama lu"
Sambil menikmati pagi di jalan yang rame orang orang berolahraga menuju tempat tempat favorit kota Semarang gue memikirkan nama yang pas buat manggil Indri, biar lidah gue nggak terus terusan panggil dia mbak.
Akhirnya satu nama nyleneh gue temukan dalam ribuan nama yang ada di otak sengklek gue.
Gue
"Gimana kalo lu gue panggil Ninin"
Indri
"Ihh, masaka kayak dedemit manggilnya "
Hahaha gue ngakak njir
Gue mikir lagi, saking lamanya gue mikir tanpa sadar kita sampai di bundaran Simpang Lima.
Disini di simpang lima, kebanyakan warga Semarang berkumpul disini saat Minggu pagi, meskipun banyak tempat lain juga buat kumpul kumpul seminggu sekali, misalnya aja stadion tri lomba juang, Citarum, jatidiri tugu muda dll. Tapi yang jadi maskot tetep simpang 5. Sering kali gue ketemu banyak temen temen gue dari temen gue sd sampai SMA.
Setelah memarkir empiz di parkiran sebelah mol matahari, kita berdua berjalan berdua, tangan Indri menggenggam erat tangan gue, gue melihatnya, wanita yang tingginya hampir sejajar dengan gue, perfect sangat wanita ini. Rasanya nggak pantes buat anak SMA sableng biadab macam gue bersanding dengan wanita se aduhai dia huahaha..
Olah raga?
Tidak. Orang gue pakai celana jeans
Joging?
Tidak. Gue pakai sendal biasa
Tebar pesona?
Tidak, mau tebar pesona gimana orang nih tangan di genggam Mulu.
Terus? Pdkt mungkin setelah dua kali ajakan gue di tolak afuuu hahaha.
Disimpang lima dalam seminggu sekali rame orang orang dengan berbagai tujuan, ada yang jualan, ada yang wisata naik delman, yang olahraga juga ada. Tapi gue pasti'in kebanyakan olahraga buat pantes pantes kalaupun bener bener olahraga paling sangat lebih sedikit ketimbang yang jalan jalan, karena seminggu sekali ramenya edan. Pasti macet parah
Berjalan berdua menyebrangi jembatan penyebrangan, turun menuju jalan utama bundaran Simpang Lima. Tak mau lama lama akhirnya gue mendapat nama yang pas buat manggil Indri
"Ndi, naik delman yok" ucap Indri di beberapa langkah kita berdua berjalan
"Jalan aja ah lup, mending di tengah yok, beli jajanan dulu" ucap gue yang mengagetkan indri
"Lup?" Indri bengong
"Iya, Lupi " jawab gue malu malu
Indri
"Hahaha, apa'an tuh artinya"
"Ada lah, udah yuk lup" entah kenapa nama Lupi tiba tiba muncul di otak gue, gue merasa emang gue nggak pantes pacaran sama cewek sepantaran gue, dan LUPI adalah LUPIYU. Love yu,
Kenapa?
Entah, gue mulai yakin kalo gue mulai suka sama indri, fisik? Mungkin bonus. tapi gue lebih suka orang dengan banyak cerita yang dia punya. Nampak berguna gue sebagai laki, sebagai tameng saat badai menghantam dia, sebagai bantal saat dia lelah dalam masalah.
Apa karena lu patah hati sama Jihan?
Mungkin. Mungkin itu juga yang membuat gue langsung menyimpulkan bahwa gue akan memulai petualangan cinta gue.
Emang lu yakin bakal di terima !!
Gue cuma bisa berharap dan berusaha.
...
Memutari simpang lima bersama wanita yang baru dua hari gue kenal, wanita yang sekaligus membangkitkan rasa cinta gue terhadap wanita.
Setelah membeli siomay, kerak telor, dan satu teh tong ji kita berdua berjalan ke lapangan tengah. Diatas rerumputan ini, bersama wanita ini gue melihat kebahagiaan Dimatanya
"Eh, Lupi tuh apa'an sih" ucap Indri sambil mengunyah siomay
"Lupi itu lucu pipi lu" gue menutupi singkatan LUPI, karena gue takut kalo cepet cepet ngungkapin gue takut di tolak, no ambyar ambyaran.
Gue cubit pelan pipi Indri,
"Ah bisa aja lu, tapi gue suka kok hahaha" ucap Indri sambil mengunyah makanan.
"Enak ya ndi disini, nggak ngebosenin, banyak banget noh" Indri menunjuk berbagai aktivitas yang dilakukan warga Semarang di pagi hari, anak anak kecil pada mainan, ada yang pacaran, ada yang kumpul gelar karpet. Macem macem lah.
"Iyalah hahaha" siomay yang dimakan Indri habis, saat gue mencomot kerak telor mulut indri terbuka, aahh romantis, saling membagi senyuman namun bukan makanan karena pada hakikatnya dalam hati wanita berkata
"Milikmu milikku, milikku milikku" huahaha. Tapi itulah gunanya laki "mengalah"
Berasa jadi wisatawan. Mungkin! Inilah yang terjadi sama Indri.. why?
"Kak, foto'in kita berdua dong" Indri menyerahkan iPhone nya ke gerombolan cewek yang lewat
Dunia emang sempit dan yang gue katakan adalah kenyataan saat disini di simpang lima gue sering ketemu orang orang yang gue kenal, terbukti saat Indri minta tolong seseorang untuk memfoto kita berdua, yang di minta'in tolong adalah SYIFA. Syifa keliatan kaget saat melihat gue, namun temen temen Syifa yang heboh, gue pun menepuk jidad gue.
"Lu Andi kan" ucap salah satu temen Syifa
Segera gue ambil ponsel Indri dari tangan syifa.
"Maaf biar gue foto'in sendiri" gue gelagapan.. asem dunia kok sempit banget ya
Segera gue menggandeng Indri menjauh.
"Lu kenapa sih ahh" ucap Indri jengkel.
"Ntar gue cerita'in di rumah, yuk ke tri lomba juang, ada soto enak lho disana" ajak gue
Indri
"Udah nggak mood gue"
Gue menghela nafas... Kita berdua diam sambil jalan menuju tempat empiz di parkir, gue masih belum mau cerita sama orang kalo gue ada masalah sama Siska, gue ngehindarin banget ketemu dia, ya gue masih benci saat siska bela'in Danu di masalah yang lalu.. gue emang suka secara wajah, penampilan, tutur kata saat dia bicara di depan anggota rohis, tapi saat dia bela'in danu yang notabene salah malah dia bela'in. Segitunya kah cinta sampai membela kesalahan. Alayy tuh cowok.
Kembali saat di parkiran simpang lima, seketika emosi gue meluap saat mengingat masa lalu.
Gue
"Lup, ayolah naik"
Rencana hanyalah rencana, semua gara gara pertemuan tanpa sengaja, Indri gagal foto foto di simpang lima, gue juga udah nggak mood ngajak dia ke tri lomba juang..
"Lu kenapa sih tiba tiba bt" tanya Indri setibanya kita di rumah.
Hanfone gue berdering, namun tanpa ba Bu bu, gue lempar hanfone gue sampai batrenya lepas..
"GILA LU YA, ANEH DEH LU" Indri marah marah
Gue berjalan kearah kamar, melemparkan badan gue ke kasur, derap kaki terdengar, Indri mendekatkan badannya.
Tanpa aba aba gue raih tubuh Indri.
Cup cup cup... Setan menguasai gue sepenuhnya..
PLAKKK... Tamparan keras dari Indri membuat gue tersenyum.
"GILA LU"
"Gue emang gila" gue pun turun ke bawah, mengambil jaket lalu menstater empiz..
Satu satunya orang yang bisa membuat gue hati gue plong adalah Lia ponakan gue, sebelum sampai rumahnya Lia, gue sempetin buat beli Krip Krip kesuka'an dia. Kalo nggak ada sesajennya mana mau dia dengerin gue, di suruh balik iya. Kejam? Sangat. Bawa'an lahir huahaha
Tiga kilometer roda empiz berputar sampailah gue di rumah Lia. Sesampainya di rumah Lia gue Salim sama papahnya Lia yang kebetulan nggak nugas.
"Lhoh katanya kamu di Jakarta le(panggilan halus untuk anak laki laki)" ucap papahnya Lia yang sedang ngasih makan burung.
"Pulang om, beli rumah hahaha" ucap gue gaya
"Lianya dimana om" tanya gue
"Di kamar lagi asik maen game online tuh" ucap papahnya Lia
Gue pun berjalan menuju kamarnya.
"Saya mencium bau bau manusia dalam masalah" ucap tuh bocah sambil klotek klotek neken kyboard, njirr gue jadi kesian sama keyboardnya.
Gue
"Nggak pacaran lu malah maen game"
Lia
"Nih lagi maen sama cowok gue, kado gue mana"
Makjlebbb... Gue lupa nih algojo kemaren ulang tahun.
"Lupa gue hahaha" ketawa gue nggak enak, asli gue merinding kalo Lia ulang tahun gue lupa ngasih kado, dulu pernah gue lupa ngasih kado dan yang terjadi. DUIT JAJAN GUE SEMINGGU LENYAP.
"Yank aku mau jalan jalan dulu ya daa" ucap Lia lewat heaspone yang dia gunakan.
Hnahh kan... Tekor tekor dah...
"Yuk mas" ajak Lia dengan suara yang teramat sangat manis pake mas. Panggilan itu hanya berlaku saat dia ada maunya.
Lia nyengir sambil menyerahkan kunci motor yang ujungnya masih ada karetnya dengan logo Z
"Edaaan satria cuyyy" gue kaget
"Hahaha, yuk mas sekalian isiin bensin merah " ucap Lia enteng
Kaaan... Baru beberapa langkah bensin merah.
Cekrikrikkrik bremmmm
Kagok?
Pastilah, empiz giginya maju nggak mundur mundur, hna ini maju mundur enem speed juga.
Cekkkiiit... Cubitan algojo amatlah perih
"Lu nyari kesempatan sama adeklu sendiri dasar"
"Ndasmu, ini beda Ama empiz, lu aja yang depan sakit pinggang gue lu cubitin" keluh gue
"Mana gue bisa, gue kan biasa pake metic" ucap Lia enteng
"Kenapa lu beli ini" keluh gue
"Liat temen gue pake nih motor keren gitu, trus papah nawarin kado ya gue minta ini"
Terserah lu yaa, terserah luuu, salah gue kemari, mending ke Tante intan tadi.. percuma ya lu beli tapi nggak ada yang ngajarin.
"Niatnya gue mau kerumah lu minta ajarin naek nih motor, eh malah lu keburu dimari, yaudah sekalian" ucap Lia lagi dengan entengnya
"Hlahh elu salah minta tolong oneeeng, gue nggak pernah pakai motor laki yang giginya maju mundur, empiz giginya maju nggak mundur mundur" ucap gue di barengi ngakaknya sang algojo.
Beberapa ratus meter motor ini berjalan gue mulai terbiasa pakai efyu.. enak sih, tapi kecil joknya bikin pegel fantat.
......
Pukul 11 siang gue pulang ke rumah setelah gue merawanin efyunya lia dan menguras uang jajan gue buat main Timezone sama makan seafud yang bikin dompet cenut cenud, gue pulang dengan hati gembira huahaha, Lia emang ekstream tapi dia tau semua tentang gue, dia satu satunya orang yang bisa nerima curhatan gue dan ngasih solusi yang tepat buat gue. Bahkan saat dia curhat sama gue yang awalnya Lia pengen curhat malah Lia bisa dapat jawaban sendiri, benarnya benar mungkin kata yang tepat buat gambarin ponakan gue ini.
Ucapan terakhir dari lia yang membuat gue mantap bakal ngejar satu wanita, bener emang ucapan Lia, nggak percuma lima lembar gue lenyap, jajan gue sebulan njirr habis sehari, hiks hiks hiks,
Hasrat wanita sangatlah kuat jika tercurah.
Menolak rasanya sulit jika keadaan seperti ini, nafsu terus bersuara bersuara, menggema menjadi pendorong hasrat cinta
Dingin, tenang, air mata, suasana ruang hampa.
Quote:
................
Dalam pelukan ini suhu tubuh gue meningkat, pikiran gue campur aduk. Indri menggoyang goyangkan badannya terus menerus. Gue dorong pelan tubuhnya namun tenaga wanita sangatlah kuat hingga tubuh mulai bersatu kembali, beberapa detik mata bertemu, bibir tak kuasa menari lagi, lagi, dan lagi..
PLAKKK....
Tangan tiba tiba bergerak menampar diri ini sendiri.
"Cukup mbak, pleaseee" air mata gue tak kuasa menetes
"Lu kenapa" Indri menatap nanar wajah gue
Gue segera menghapus air mata gue
"Gue kotor mbak, gue ba*ngan, gue nggak sanggup..
"GUE NGGAK PEDULI" Indri pun menangis dalam dekapan
Malam ini begitu banyak cerita yang telah terjadi.. cerita dua insan manusia biasa, hati yang terluka oleh goresan cerita masa lalu. Air mata menjadi bukti sakit ini. Masa lalu yang pernah menjadi masa kini seakan ingin memutar dan memperbaiki tiap bait cerita yang terjadi, namun drama ini bukanlah gambar pensil yang bisa di hapus untuk dilukis lagi.
Keluarkan semua air matamu wanita, curahkan semua sakitmu, tidurlah dalam tangis kelegaanmu.
Gue menggendong Indri menuju kamar atas kamar gue, mata gue menangkap pemandangan yang selama ini menjadi sinyal terkuat para lelaki, dalam batin gue cuma bisa berkata keras GEDE. Setelah gue selimutin gue tutup pelan pintu kamar, gue turun ke dapur menyeduh teh goceng.
Memandang langit sambil memutar memori hari ini. Fuaahhhh... Asap rokok keluar dari mulut gue, betapa melelahkannya hari ini. Kenapa gue bisa menangis! Kenapa nggak gue sikat Indri, kenapa kenapa kenapa.. senyum terukir dari bibir gue saat pikiran gue campur aduk. Gue hanyalah manusia biasa yang sangat gampang tenggelam dalam hitam.
Tersenyum mengingat hanya satu sosok yang bisa membuat gue tenggelam dalam nafsu. Seseorang yang telah lama menyimpan hasrat se**al. Entah gue bisa bertahan dengan kebaikan gue saat ini atau tidak itu semua akan menjadi cerita esok di mana semua jawaban akan terukir oleh satu nama. Gue pijak rokok yang telah habis.
Pukul 04.00 Semarang, gue terbangun. Menaiki tangga, memutar gagang pintu, melihat betapa nyenyaknya wanita yang telah menjadi partner ayah gue.
Gue turun menuju dapur. Menyiapkan makanan dari bahan makanan yang telah gue beli kemarin dan Memasak nasi secukupnya.
Adzan berkumandang, gue berjalan menuju masjid, sepulang dari masjid gue kembali menunggu Jihan.. tak lama berselang Jihan pun datang.
Aaahh betapa indahnya wanita ini, nggak pernah bosen.
"Jihan" panggil gue
"Iya Andi" tatapan yang begitu tulus tanpa benci dari janji seorang biadab yang mengingkari.
Gue pun menggaruk garuk kepala yang nggak gatal sambil cengengesan.
"Maaf gue lupa kalo mau jajanin lu bakso tadi malem" ucap gue
"Nggak papa kok ndi, lagian tadi malem aku juga maen sama rehan" ucap Jihan malu malu sekaligus membuat hati gue nggak karuan rasanya.
"Widiiiih pacaran nih Eneng" goda gue, sambil jalan pelan menuju rumah Jihan. masih dengan hati yang nggak karuan.
"Enggak kok" ucap Jihan malu malu
"Cieee mukanya merah, lagi kasmaran nih Yee" goda gue lagi
"Mbb, sebagai gantinya, gimana kalo lu gue jajanin di Samin" ajak gue
"Nggak usah ndi, maaf aku mau pergi sama rehan ke simpang lima" ucap Jihan yang membuat gue berantakan, yahh secara tidak langsung hati gue nggak bisa bohong, namun gue pengecut yang hanya bisa menyembunyikan rasa suka karena alasan gue sendiri. Gue pun hanya sebatas mengantar Jihan sampai rumahnya.
"Yaudah jihan sukses ya, sama rehan" ucap gue masih menutupi luka yang ada.
"Ndi, kamu nggak papa kan" kini muka Jihan menunjukkan ekspresi kekhawatiran.
"Udaaah tenang, kapan kapan dah kita jalan lagi, cerita cerita lagi, eh ya Jihan gue sekalian pamit nanti sore balik Jakarta, assalamualaikum" ucap gue putar balik. nah, andai lu tau nah.. aahh sudahlah. Gue emang pengecut.
Gue berjalan dengan perasaan campur aduk. Gue baru sadar kalo banyak tujuan gue untuk pulang, banyak yang gue harapkan, namun terlalu banyak malah membuat sakit.
Sebelum sampai rumah gue melihat Anis yang sangat tumben bangun pagi, memakai jersey real Madrid khas cewek yang suka sama cowok ganteng. Dan real Madrid identik dengan itu kala itu, Makanya banyak cewek yang demen. Beda sama gue yang dari kenal bola udah demen sama the profesor Arsene Wenger. The Gunners boooo hahaha.
Gue
"Heh, tumben bangun pagi lu"
"Yeee pak ustad, giat bener dah pagi pagi udah pake sarung" goda Anis
Gue
"Hahahaha, ndasmu, mau joging lu"
Anis
"Iya, ikut yuk, ke tri lomba juang"
Gue
"Ogah, ntar gue jadi tukang foto hahaha"
Anis
"Emang itu tujuan gue ngajak lu"
Gue pun menjewer pelan telinga Anis
"Ntar gue susul, gue mau sarapan dulu" balas gue diikuti suara motor empat tak yang tak lama datang, sangar.. Ninin euyyy... Empiz apakabaaar.. di gass pasti melempem lah.
Gue masuk rumah, suara klotek klotek membuat gue kaget..
Gue pun mengucap salam, assalamualaikum.
"WAALAIKUM SALAM" balas suara dari arah dapur, gue segera menuju dapur. Pemandangan yang istimidut membuat denyut gue berkedut, dimana mbak Indri memakai stelan gemesnya sedang membuat teh, namun gue kembali ke depan ke ruang tv. Bahaya nih mode istri on.
Selang beberapa menit Indri keluar membawa dua gelas teh panas.
"Diminum sayang tehnya" wuhahahasuuu.. ngerrii dada gue berdetuk kencang syekalii
Gue
"Sayang palalu peang, hahahaha"
"Yee, dibilang sayang malah ngata'in" Indri ikut ikutan ngakak
"Mbak, jalan jalan yok" ajak gue
"Kemana" balas Indri riang banget, senyumnya merekah rekah.
Gue
"Simpang Lima, kalo pagi gini enak banyak yang jualan, jualan celana panjang juga ada"
Ekspredi Indri membuat gue ngakak, hahaha, sindiran gue membuat paha gue terkena cubitan dahsyat. ASem..
"Mbak ikut ke kamar bentar deh" ajak gue
"Ngapain" ekspresi berlebihan yang di tunjukkan indri membuat gue ngeri, gue pun gandeng dia menuju kamar gue. Gue buka lemari baju gue, nampak banyak banget kaos lengan pendek bergambar Arsenal.
Saat Indri memakai kaos Arsenal gue mata gue dibuat takejub, edaan cakep banget, bisa pas gitu, aaah wajarlah lagian Indri juga lumayan tinggi. wajar kalo cukup pakai kaos laki.
"Cakep ya ndi" Indri mengedipkan matanya, gue mengacungkan jempol
Saat memilih celana gue dibuat bingung, mana yang panteees coba, masak iya pake kolor, bisa terbang burung burung antum. Sampai akhirnya Indri bersuara
"Aku bawa celana yang segini kok" ucap Indri, dan ternyata yang dimaksud celana tiga perempat hitam yang tipis, macam kostum sepeda. Tapi cakep kok.
Setelah Indri memakai setelan nya, gue menuju kamar mandi, namun tangan gue ditahan Indri
"Ganti disini aja, penasaran kayak apa" ucap Indri sambil menggigit pelan bibirnya, gue tonyor pelan jidadnya
Ndasmu...
Setelah dari kamar mandi, gue dan Indri menghadap cermin, mata kita saling bertemu, senyuman nampak terukir dari dia dan gue, couple Sam. Huahaha.. bedanya dada gue rata punya dia dandol(singkatannya coba tebak di kolom komentar).
Gue dan Indri pun berfoto bersama, foto alay njirr, berbagai foto kita peragakan menggunakan kamera yang di setel timernya..
INI KAPAN BERANGKATNYA, FOTO MULU NYAI RONGGENG.
Treng teng teng teng... Suara empiz menggema di sepinya perumahan ini, sang wanita duduk mesum di belakang, tangan memeluk erat sang biadab hingga membuat sang rudal terus memberontak.
Gue kendorkan sedikit pelukannya.
Gue
"Sesak mbaaaak"
Indri
"Lu bisa nggak sih jangan panggil gue mbak"
Gue
"Susah kalo udah ngecap di lidah"
Indri
"Ya di lancarin dong, atau lu panggil gue sayang aja biar enakan dengernya"
Gue
"Ogah, ntar gue di suruh nikahin lu hancur masa sekolah gue"
Indri
"Hahaha, ya kalo gue malah seneng bisa nikah sama lu"
Sambil menikmati pagi di jalan yang rame orang orang berolahraga menuju tempat tempat favorit kota Semarang gue memikirkan nama yang pas buat manggil Indri, biar lidah gue nggak terus terusan panggil dia mbak.
Akhirnya satu nama nyleneh gue temukan dalam ribuan nama yang ada di otak sengklek gue.
Gue
"Gimana kalo lu gue panggil Ninin"
Indri
"Ihh, masaka kayak dedemit manggilnya "
Hahaha gue ngakak njir
Gue mikir lagi, saking lamanya gue mikir tanpa sadar kita sampai di bundaran Simpang Lima.
Disini di simpang lima, kebanyakan warga Semarang berkumpul disini saat Minggu pagi, meskipun banyak tempat lain juga buat kumpul kumpul seminggu sekali, misalnya aja stadion tri lomba juang, Citarum, jatidiri tugu muda dll. Tapi yang jadi maskot tetep simpang 5. Sering kali gue ketemu banyak temen temen gue dari temen gue sd sampai SMA.
Setelah memarkir empiz di parkiran sebelah mol matahari, kita berdua berjalan berdua, tangan Indri menggenggam erat tangan gue, gue melihatnya, wanita yang tingginya hampir sejajar dengan gue, perfect sangat wanita ini. Rasanya nggak pantes buat anak SMA sableng biadab macam gue bersanding dengan wanita se aduhai dia huahaha..
Olah raga?
Tidak. Orang gue pakai celana jeans
Joging?
Tidak. Gue pakai sendal biasa
Tebar pesona?
Tidak, mau tebar pesona gimana orang nih tangan di genggam Mulu.
Terus? Pdkt mungkin setelah dua kali ajakan gue di tolak afuuu hahaha.
Disimpang lima dalam seminggu sekali rame orang orang dengan berbagai tujuan, ada yang jualan, ada yang wisata naik delman, yang olahraga juga ada. Tapi gue pasti'in kebanyakan olahraga buat pantes pantes kalaupun bener bener olahraga paling sangat lebih sedikit ketimbang yang jalan jalan, karena seminggu sekali ramenya edan. Pasti macet parah
Berjalan berdua menyebrangi jembatan penyebrangan, turun menuju jalan utama bundaran Simpang Lima. Tak mau lama lama akhirnya gue mendapat nama yang pas buat manggil Indri
"Ndi, naik delman yok" ucap Indri di beberapa langkah kita berdua berjalan
"Jalan aja ah lup, mending di tengah yok, beli jajanan dulu" ucap gue yang mengagetkan indri
"Lup?" Indri bengong
"Iya, Lupi " jawab gue malu malu
Indri
"Hahaha, apa'an tuh artinya"
"Ada lah, udah yuk lup" entah kenapa nama Lupi tiba tiba muncul di otak gue, gue merasa emang gue nggak pantes pacaran sama cewek sepantaran gue, dan LUPI adalah LUPIYU. Love yu,
Kenapa?
Entah, gue mulai yakin kalo gue mulai suka sama indri, fisik? Mungkin bonus. tapi gue lebih suka orang dengan banyak cerita yang dia punya. Nampak berguna gue sebagai laki, sebagai tameng saat badai menghantam dia, sebagai bantal saat dia lelah dalam masalah.
Apa karena lu patah hati sama Jihan?
Mungkin. Mungkin itu juga yang membuat gue langsung menyimpulkan bahwa gue akan memulai petualangan cinta gue.
Emang lu yakin bakal di terima !!
Gue cuma bisa berharap dan berusaha.
...
Memutari simpang lima bersama wanita yang baru dua hari gue kenal, wanita yang sekaligus membangkitkan rasa cinta gue terhadap wanita.
Setelah membeli siomay, kerak telor, dan satu teh tong ji kita berdua berjalan ke lapangan tengah. Diatas rerumputan ini, bersama wanita ini gue melihat kebahagiaan Dimatanya
"Eh, Lupi tuh apa'an sih" ucap Indri sambil mengunyah siomay
"Lupi itu lucu pipi lu" gue menutupi singkatan LUPI, karena gue takut kalo cepet cepet ngungkapin gue takut di tolak, no ambyar ambyaran.
Gue cubit pelan pipi Indri,
"Ah bisa aja lu, tapi gue suka kok hahaha" ucap Indri sambil mengunyah makanan.
"Enak ya ndi disini, nggak ngebosenin, banyak banget noh" Indri menunjuk berbagai aktivitas yang dilakukan warga Semarang di pagi hari, anak anak kecil pada mainan, ada yang pacaran, ada yang kumpul gelar karpet. Macem macem lah.
"Iyalah hahaha" siomay yang dimakan Indri habis, saat gue mencomot kerak telor mulut indri terbuka, aahh romantis, saling membagi senyuman namun bukan makanan karena pada hakikatnya dalam hati wanita berkata
"Milikmu milikku, milikku milikku" huahaha. Tapi itulah gunanya laki "mengalah"
Berasa jadi wisatawan. Mungkin! Inilah yang terjadi sama Indri.. why?
"Kak, foto'in kita berdua dong" Indri menyerahkan iPhone nya ke gerombolan cewek yang lewat
Dunia emang sempit dan yang gue katakan adalah kenyataan saat disini di simpang lima gue sering ketemu orang orang yang gue kenal, terbukti saat Indri minta tolong seseorang untuk memfoto kita berdua, yang di minta'in tolong adalah SYIFA. Syifa keliatan kaget saat melihat gue, namun temen temen Syifa yang heboh, gue pun menepuk jidad gue.
"Lu Andi kan" ucap salah satu temen Syifa
Segera gue ambil ponsel Indri dari tangan syifa.
"Maaf biar gue foto'in sendiri" gue gelagapan.. asem dunia kok sempit banget ya
Segera gue menggandeng Indri menjauh.
"Lu kenapa sih ahh" ucap Indri jengkel.
"Ntar gue cerita'in di rumah, yuk ke tri lomba juang, ada soto enak lho disana" ajak gue
Indri
"Udah nggak mood gue"
Gue menghela nafas... Kita berdua diam sambil jalan menuju tempat empiz di parkir, gue masih belum mau cerita sama orang kalo gue ada masalah sama Siska, gue ngehindarin banget ketemu dia, ya gue masih benci saat siska bela'in Danu di masalah yang lalu.. gue emang suka secara wajah, penampilan, tutur kata saat dia bicara di depan anggota rohis, tapi saat dia bela'in danu yang notabene salah malah dia bela'in. Segitunya kah cinta sampai membela kesalahan. Alayy tuh cowok.
Kembali saat di parkiran simpang lima, seketika emosi gue meluap saat mengingat masa lalu.
Gue
"Lup, ayolah naik"
Rencana hanyalah rencana, semua gara gara pertemuan tanpa sengaja, Indri gagal foto foto di simpang lima, gue juga udah nggak mood ngajak dia ke tri lomba juang..
"Lu kenapa sih tiba tiba bt" tanya Indri setibanya kita di rumah.
Hanfone gue berdering, namun tanpa ba Bu bu, gue lempar hanfone gue sampai batrenya lepas..
"GILA LU YA, ANEH DEH LU" Indri marah marah
Gue berjalan kearah kamar, melemparkan badan gue ke kasur, derap kaki terdengar, Indri mendekatkan badannya.
Tanpa aba aba gue raih tubuh Indri.
Cup cup cup... Setan menguasai gue sepenuhnya..
PLAKKK... Tamparan keras dari Indri membuat gue tersenyum.
"GILA LU"
"Gue emang gila" gue pun turun ke bawah, mengambil jaket lalu menstater empiz..
Satu satunya orang yang bisa membuat gue hati gue plong adalah Lia ponakan gue, sebelum sampai rumahnya Lia, gue sempetin buat beli Krip Krip kesuka'an dia. Kalo nggak ada sesajennya mana mau dia dengerin gue, di suruh balik iya. Kejam? Sangat. Bawa'an lahir huahaha
Tiga kilometer roda empiz berputar sampailah gue di rumah Lia. Sesampainya di rumah Lia gue Salim sama papahnya Lia yang kebetulan nggak nugas.
"Lhoh katanya kamu di Jakarta le(panggilan halus untuk anak laki laki)" ucap papahnya Lia yang sedang ngasih makan burung.
"Pulang om, beli rumah hahaha" ucap gue gaya
"Lianya dimana om" tanya gue
"Di kamar lagi asik maen game online tuh" ucap papahnya Lia
Gue pun berjalan menuju kamarnya.
"Saya mencium bau bau manusia dalam masalah" ucap tuh bocah sambil klotek klotek neken kyboard, njirr gue jadi kesian sama keyboardnya.
Gue
"Nggak pacaran lu malah maen game"
Lia
"Nih lagi maen sama cowok gue, kado gue mana"
Makjlebbb... Gue lupa nih algojo kemaren ulang tahun.
"Lupa gue hahaha" ketawa gue nggak enak, asli gue merinding kalo Lia ulang tahun gue lupa ngasih kado, dulu pernah gue lupa ngasih kado dan yang terjadi. DUIT JAJAN GUE SEMINGGU LENYAP.
"Yank aku mau jalan jalan dulu ya daa" ucap Lia lewat heaspone yang dia gunakan.
Hnahh kan... Tekor tekor dah...
"Yuk mas" ajak Lia dengan suara yang teramat sangat manis pake mas. Panggilan itu hanya berlaku saat dia ada maunya.
Lia nyengir sambil menyerahkan kunci motor yang ujungnya masih ada karetnya dengan logo Z
"Edaaan satria cuyyy" gue kaget
"Hahaha, yuk mas sekalian isiin bensin merah " ucap Lia enteng
Kaaan... Baru beberapa langkah bensin merah.
Cekrikrikkrik bremmmm
Kagok?
Pastilah, empiz giginya maju nggak mundur mundur, hna ini maju mundur enem speed juga.
Cekkkiiit... Cubitan algojo amatlah perih
"Lu nyari kesempatan sama adeklu sendiri dasar"
"Ndasmu, ini beda Ama empiz, lu aja yang depan sakit pinggang gue lu cubitin" keluh gue
"Mana gue bisa, gue kan biasa pake metic" ucap Lia enteng
"Kenapa lu beli ini" keluh gue
"Liat temen gue pake nih motor keren gitu, trus papah nawarin kado ya gue minta ini"
Terserah lu yaa, terserah luuu, salah gue kemari, mending ke Tante intan tadi.. percuma ya lu beli tapi nggak ada yang ngajarin.
"Niatnya gue mau kerumah lu minta ajarin naek nih motor, eh malah lu keburu dimari, yaudah sekalian" ucap Lia lagi dengan entengnya
"Hlahh elu salah minta tolong oneeeng, gue nggak pernah pakai motor laki yang giginya maju mundur, empiz giginya maju nggak mundur mundur" ucap gue di barengi ngakaknya sang algojo.
Beberapa ratus meter motor ini berjalan gue mulai terbiasa pakai efyu.. enak sih, tapi kecil joknya bikin pegel fantat.
......
Pukul 11 siang gue pulang ke rumah setelah gue merawanin efyunya lia dan menguras uang jajan gue buat main Timezone sama makan seafud yang bikin dompet cenut cenud, gue pulang dengan hati gembira huahaha, Lia emang ekstream tapi dia tau semua tentang gue, dia satu satunya orang yang bisa nerima curhatan gue dan ngasih solusi yang tepat buat gue. Bahkan saat dia curhat sama gue yang awalnya Lia pengen curhat malah Lia bisa dapat jawaban sendiri, benarnya benar mungkin kata yang tepat buat gambarin ponakan gue ini.
Quote:
Ucapan terakhir dari lia yang membuat gue mantap bakal ngejar satu wanita, bener emang ucapan Lia, nggak percuma lima lembar gue lenyap, jajan gue sebulan njirr habis sehari, hiks hiks hiks,
Diubah oleh biadabcuk 02-04-2020 21:06
khodzimzz dan 21 lainnya memberi reputasi
22