Kaskus

Story

suwokotumdexAvatar border
TS
suwokotumdex
Menikahlah Denganku! (Episode 1)
Menikahlah Denganku! (Episode 1)

Menikahlah Denganku! (Episode 1)


Spoiler for DAFTAR EPISODE:


Cerita ini sudah tamat Volume 1, so nantiin update Volume ke-2, ya! Kalau mau kasih kritik dan saran, monggo silakan emoticon-Shakehand2

Bagi yang mau baca novel ringan ini dalam bentuk komik Webtoon, bisa klik aja di sini

~~~ Selamat Membaca ~~~


EPISODE 1 - Kehidupan Baru di Dunia Lain

Bagaimana bisa aku menerima permintaan konyol seperti itu? Menikah? Arghhh! Aku bahkan belum pernah sekalipun menyentuh wanita. Berada di dekatnya saja sudah cukup membuatku berkeringat dingin. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa menikah dan melakukan hal tabu di malamnya.

Tidak! Tidak! Tidak!

Aku masih terlalu muda untuk ternodai, aku terlalu naif untuk mengerti, aku masih terlalu kekanakan untuk menjadi seorang suami, apalagi ayah.

TIDAK!!!

Membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi.

Crasss!

Sebatang anak panah menusuk punggung. Seketika tubuhku limbung, sebelum akhirnya jatuh saat kaki tersangkut akar. Mencium tanah berlumpur, pandanganku mengabur. Rasanya ada yang mengalir di bahu, semakin lama semakin banyak, ditambah rasa nyeri yang kian menjalar. Namun, aku harus terus berlari atau kawanan wanita haus berahi itu berhasil menangkapku. Harus!

Sekelebat bayangan manusia mendadak muncul di depanku. Meski tak terlalu jelas sosoknya. Namun, dia seperti perempuan berasurai panjang berkibar mengikuti gerakannya yang cepat. Tangannya lembut mengangkat kepalaku pelan, lantas sedikit menghentakan telapaknya ke dahiku.
Setelahnya hanya kegelapan yang menutup kesadaran.

***


Aku terlonjak, mengangkat tubuh yang penuh dengan peluh. Dada berdebar tak keruan, dunia serasa berputar, membuat kepala ini pening. Namun, bukan itu yang menjadi masalahnya.
Sekarang di mana aku?

Tempat ini sangat asing. Aku terduduk di atas ranjang kayu, di sebuah ruangan yang berdinding kayu juga.
Lengang, tak ada siapapun, hanya nakas yang di atasnya terdapat jendela dengan gorden terbuka, membuat cahaya dapat masuk, memberikan kehangatan pagi. Selain itu, tak ada apapun lagi.

Sebenarnya apa yang terjadi? Tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat yang aneh ini. Terakhir kali yang kuingat, aku mendadak berada di tengah-tengah sebuah pasar yang seluruhnya berisi wanita saja. Namun, yang lebih mengerikan dari semua itu adalah, mereka mengejarku layaknya zombie haus darah. Namun, mereka lebih menginginkan hubungan badan daripada menyedot darahku. Apa-apaan itu?

Kuusap peluh di wajah, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya hingga aku bisa sampai ke sini. Ya, sebelum aku mendadak terbangun di pasar mengerikan itu.

***


Sebelumnya

Malam yang dingin memaksaku memasukan tangan ke kantung hoodie oranye ini. Meski sudah memakai pakaian rangkap, tetap saja dingin malam ini berhasil menembus sampai ke kulit. Tidak biasanya, padahal Jakarta yang kukenal adalah kota yang panas dan memuakan bagi para pecundang sepertiku.

Haah! Aku jadi ingat lagi tentang sosok payah ini.

Setiap hari kulewati hanya dengan berdiam diri di dalam kamar. Mencari pekerjaan tak pasti lewat dunia maya sudah menjadi rutinitas.

Kadang aku menawarkan jasa kepada para ‘penulis’ malas yang hanya ingin mencari nama tanpa mau berusaha. Mengakui setiap ketikanku sebagai karyanya, tentu saja setelah mereka membayar jasaku sebagai 'penulis hantu'. Penulis yang bekerja di balik bayangan, tanpa mengharapkan namanya dikenal oleh banyak orang. Ya, setidaknya mereka membayar dengan harga yang sesuai. Lagi pula hanya pekerjaan seperti inilah yang bisa dilakukan penunggu kamar sepertiku. Tanpa harus beradu dengan panasnya Jakarta, atau mendapat tekanan dari bos besar, aku sudah cukup bahagia.

Akan tetapi, jika sudah berada di luar seperti ini ... rasanya aku seperti tengah berada di tempat yang sangat asing. Seolah ada mata yang terus mengikuti setiap kaki melangkah. Rasa tidak nyaman yang selalu membawa aura negatif.

Memang, jarak minimarket ini dengan indekos tidak terlalu jauh. Namun, jujur saja tidak ada manusia yang kukenal baik di sini, kecuali pria tua yang bekerja sebagai kasir itu.

Sekantung kresek berisi tiga bungkus mie instan, beberapa butir telur, dan serenteng kopi saset, kuangkat. Setidaknya makanan sederhana ini bisa menemaniku bergadang sampai tiga hari ke depan.

Aku berdiri di bawah lampu jalan, tempat yang sepi membuat otak kembali mengingat kejadian lima tahun silam. Ah, tidak ... aku tidak ingin mengingat akhir dari pertikaian keluarga itu. Hanya luka yang bisa kudapat.

Aku menghela napas panjang membuang segala pikiran negatif. Menoleh ke kanan-kiri, jalanan kecil ini tampak sepi. Tak ada tanda-tanda kendaraan lain yang akan melintas.
Kumelangkah, tapi batinku masih diam. Ada yang tengah memperhatikan dari belakang, seperti sedang mengikuti. Aku berhenti dan memutar tubuh, tak ada siapapun kecuali tiang lampu jalan yang baru kulewati.

Mungkin hanya perasaanku saja.
Namun, saat kembali menghadap ke depan, sesosok perempuan berjubah putih penuh darah dan tanah merah, berambut panjang menutupi muka, dan bau anyir memualkan. Sesaat waktu seperti berhenti, sementara mataku terpaku pada makhluk itu.

"KUNTILANAK!"

Spontan aku meloncat ke arah jalan, dan dengan cepat sebuah benda keras menghantamku. Aku merasakan tubuh ini melayang beberapa detik di udara sebelum akhirnya jatuh menghempas aspal.

Bunyi gemeletak terdengar keras, tulang punggungku seperti remuk.
Aku berusaha bangkit sambil menahan rasa nyeri. Namun, sia-sia. Aku tak mampu bergerak sedikitpun, bahkan untuk berteriak pun tak bisa.
Apa aku akan mati?! Aku sudah tidak kuat lagi.

"Ikutlah denganku!" Suara itu berdengung bersamaan dengan seorang gadis yang tampak siluet berjongkok di sampingku. Ia berambut panjang ... baunya wangi ... mungkinkah dia sesosok malaikat?

Aku meringis, mencoba mengeluarkan suara. "Ka-kamu ... siapa?"

Tak ada jawaban kecuali hentakan pelan di dahi, membuatku hilang kesadaran.

***


"Perempuan itu ... dia yang menolongku dua kali."

Derit suara pintu terbuka, membuat lamunanku seketika buyar. Seorang gadis bergaun hijau, surai kecoklatan menjuntai hingga punggung, berdiri di ambang pintu. Mata indah berbulu lentik, dan manik hazel, beradu dengan mataku.

Seulas senyum terlukis di bibirnya yang ranum.

"Anda sudah bangun?" tanyanya seraya mendekat.

Tunggu, dia perempuan, 'kan? Apa dia akan memaksaku untuk menikahinya seperti sekumpulan wanita mengerikan tadi malam.

"Tidak! Jangan! Aku tidak ingin menikah denganmu!" Spontan aku berteriak.

Aku harus pergi, bagaimana pun juga, aku harus lolos dari tempat ini. Celah, celah ... di mana kau? Ah, di sana. Jendela.

Aku meloncat dari ranjang dan hendak ke luar tapi tangan gadis itu berhasil menahan, dan menarikku ke belakang hingga kami jatuh bersamaan.

Sialan! Kenapa dia lebih kuat.

"Lepaskan aku!"

"Tidak!" teriaknya. Semakin mengetatkan dekapan.

"Aku tidak mau melakukannya, tidak, sampai aku ingin sendiri. Jangan memaksaku untuk menikahimu!"

"Saya tidak akan memaksa Tuan untuk menikah saya, atau melakukan mating dengan Anda. Saya hanya ingin kesehatan Anda kembali pulih!"

Ha?

Aku terdiam sesaat mendengar ucapannya. "A-apa maksudmu? Kau tidak ingin menikahiku?"

"Tenangkan diri Anda, Tuan, biar saya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Ia meyakinkanku.

Meski aku tidak melihat wajahnya, tapi aku bisa mendengar kejujuran dari mulut gadis ini.

Akhirnya aku mengalah, dan duduk di tepi ranjang. Mendadak aku merasakan nyeri di bahu yang kini berlapis perban.

“Anak panah yang menancap di bahu Anda lumayan dalam, Tuan, membuat lukanya semakin sulit disembuhkan,” jelas gadis itu, ia berdiri di depanku. Senyumnya tak lekang jua.

“Heem ….” Aku mencoba tidak peduli. "Jadi, apa yang ingin kau jelaskan tadi?" Aku memalingkan wajah, tidak terbiasa menatap perempuan.

Gadis itu tak segera menjawab, membuatku harus melirik ke arahnya. Dia berdiri sembari tersenyum simpul ke arahku. Menjinjing sedikit rok lebarnya, menyilangkan kaki, dan sedikit membungkukan badannya. "Izin memperkenalkan diri. Nama saya adalah Reina, penyihir hijau dari daratan Alfterin, siap melayani Anda."

Dia ... kenapa harus melayaniku. Lagi pula apa-apaan pengakuannya itu, penyihir di zaman semodern ini. Jangan bercanda, memang masih ada?

"Tentu Tuan akan menganggap saya hanya bercanda," ucapnya.

Dia bisa membaca pikiranku?

"Jika Anda berpikir saya sedang membaca pikiran Anda. Anda keliru. Saya hanya menebak dari raut wajah Anda." Dia tersenyum simpul, dan sialnya kenapa tampak manis.

Aku menelan ludah, mendadak otak ini memikirkan hal-hal aneh saat mata tak sengaja melirik dadanya yang … wah. Namun, aku harus tetap fokus.

Alfterin ... kira-kira itu nama daerah mana. Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, atau Papua? Sepertinya tidak ada nama seaneh itu di Nusantara.

"Saya mengerti perasaan Anda, Tuan Alex."

Aku mengerutkan dahi. "Ka-kamu tau namaku?"

Gadis itu mangangguk yakin. "Nama Anda, tempat tinggal, keseharian, bahkan masa lalu ... saya tahu semuanya."

Apa dia benar-benar penyihir yang mampu membaca semua tentang diriku?

"Ja-jadi, selama ini kau memata-mataiku?" Wajahku memanas. Rasanya aneh jika ada seorang gadis yang harus repot-repot melihat keseharianku yang membosankan.

"Bukankah terlalu kasar jika Anda memfitnah seseorang yang baru saja menyelamatkan nyawa Anda dengan kata-kata seperti itu?" Reina murung, "sudah menjadi tugas saya untuk mengetahui seluk beluk pria terpilih yang nantinya akan menikahi sang Ratu," lanjutnya.

"Menikahi Ratu? Pria terpilih? Aku?"
Apakah itu tidak berlebihan?

"Benar, Anda lah orangnya, Tuan. Satu-satunya pria yang saat ini bisa memberikan keturunan—"

"Tunggu, tunggu sebentar! Bukannya terlalu cepat jika membicarakan soal pernikahan? Aku masih di bawah umur—"

“Tidak! Justru umur Anda yang sekarang cukup ideal."

Dia malah ganti memotong ucapanku.

"18 tahun, adalah umur yang ideal untuk segera menikah dan membuat keturunan. Demi keberlangsungan negeri ini." Ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah jendela. Membiarkanku dengan segala pertanyaan yang sudah mau meledakan isi kepala.

"Kau bilang demi keberlangsungan negeri ini? Maksudmu apa?"

Reina menghela napas kasar. “Saya ingin menceritakan semuanya kepada Anda, tapi rasanya terlalu mendadak.

"Lebih baik Anda beristirahat dahulu. Jika kondisi Anda sudah lebih baik, saya pasti akan menceritakan semuanya.

“Tentang diri Anda yang masuk ke dunia ini, soal pernikahan, dan juga tentang negeri yang di ambang kepunahan. Semuanya, akan saya jelaskan kepada Anda."
Reina berjongkok dan meraih tanganku. Menggenggamnya erat hingga aku bisa merasakan kulitnya yang hangat dan lembut. Rasa ini, seperti genggaman lembut dari tangan perempuan yang menyelamatkanku malam itu.

“Kau—”

“Tuan.” Reina memotong ucapanku.
Wajahku semakin memanas, mungkin sekarang sudah semerah buah apel. Dadaku berdebar hebat saat Reina mendekatkan wajahnya. Suara yang lembut berbisik ke kupingku.

“Hanya Anda satu-satunya harapan kami.” Sentuhan hangat napas Reina membiusku. Aku hanya mampu menelan ludah.

Perasaan macam apa ini, aku tak bisa menekan otak untuk bekerja secara normal. Mendadak tubuh ini kaku. Fokus hilang.

Reina kembali berdiri, membungkukan badan lantas meminta izin untuk keluar. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkanku di kamar ini, ia berpesan, "Selamat datang di tanah Fasia yang diberkati ini, Tuan."

***
Diubah oleh suwokotumdex 07-04-2020 23:59
Gimi96Avatar border
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 36 lainnya memberi reputasi
35
11.2K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
suwokotumdexAvatar border
TS
suwokotumdex
#81
EPISODE 11 - Pertemuan di Kota Lyx
Akhirnya aku bertemu lagi dengan mereka. Kelompok bandit Iblis Merah yang sangat mengerikan.

Aku mundur menyeret bokong. Melihat kondisi Mella yang berantakan, tak mungkin kami bisa menang dengan mudah.

Telapak dingin terasa menggenggam lenganku. Aku menoleh, ternyata Violet. Wajahnya tegang bahkan matanya tak berkedip menatap sosok itu.

Violet yang lebih baik dariku pun sampai berkeringat dingin, apalagi aku?

Tamat sudah!

"Tenanglah, Tuan. Selama sekat ini belum hancur, mereka tidak akan bisa melihat kita." Penjelasan Reina sedikit membuatku bisa bernapas lega.

Namun, dada masih berdebar kuat saat gadis kecil yang berdiri paling depan menatap ke arahku tanpa berkedip. Apa dia bisa melihat kami, tapi Reina bilang kami tertutupi sekat. Setidaknya aku harus mempercayai ucapan gadis itu.

"Apa Tuan melihat tanduk di kepala gadis itu?" bisik Violet, "itulah alasan kenapa dia dijuluki Gadis Iblis."

Aku menajamkan penglihatan, dan baru kusadari. Memang terdapat benjolan tumpul berbentuk seperti tanduk berwarna kecoklatan di balik rambut tebal gadis itu. Bahkan, jika lebih diperhatikan, ujung telinga gadis itu juga lebih lancip, mirip dengan telinga Violet.

"Wanita penyihir itu tidak ada di sini, kita kembali saja!" Suara datar keluar dari mulut Gadis Iblis. Ia kembali menutup kepalanya dengan tudung jubah, kemudian memutar badan dan pergi diikuti kelima temannya.

Mereka berjalan lurus masuk ke hutan, hingga cahaya rembulan tak lagi dapat menjangkau. Mereka pergi.

Luruh seketika. Badanku rasanya lemas, tapi juga lega.

"Untuk sekarang kita masih aman." Reina tampak menghela napas. "Tuan, bisa tolong bantu saya membopong Bibi Mella?"

Aku segera membantunya meski kaki masih sedikit lemas. Seperti baru menonton film horor saja. Haah!

***


Penyembuhan dengan sihir memang luar biasa efeknya. Mella yang tadi sekarat kini sudah mulai bisa bergerak, meski pergerakannya hanya sebatas di atas ranjang. Namun, luka lebar yang ada di lengan, wajah, dan perutnya sudah disembuhkan oleh Reina dengan sihir, sampai-sampai mana(¹) gadis itu menipis.

Jika sampai kehabisan 'mana' seperti itu, biasanya butuh waktu dua sampai tiga jam, bahkan bisa sehari penuh untuk mengisinya kembali.

Maka dari itu, Reina memilih untuk tidur. Ya, itu salah satu cara mengembalikan 'mana' paling sederhana.

Merepotkan juga.

Aku menyandarkan punggung ke dinding kayu, melihat ke sekeliling ruangan kecil ini yang dipenuhi rak-rak ramuan. Padahal, jika diingat, gubuk ini bukanlah tempat yang cocok untuk menginap, apalagi untuk empat orang.

"Alex!" Suara Mella menyadarkanku dari lamunan. Aku berdiri dan menghampirinya. Wanita itu duduk di tengah ranjang, dengan kaki berselimut jubah.

"Tolong ambilkan tas milikku yang ada di atas meja itu."

Aku mengikuti perintahnya, dan kembali menenteng tas selempang yang sedikit berat miliknya. Aku penasaran dengan isinya, apa mungkin peralatan kosmetik. Umumnya wanita kan memang begitu?

Tangan Mella merogoh isi tas itu setelah kuberikan.

Sebuah lencana berbentuk perisai kecil dengan simbol bergambar tetes air di tengahnya, diberikan padaku. "Ini adalah lencana alkemis."

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, menelisik setiap sudut benda kecil itu. "Dari mana kamu mendapatkannya?"

"Kamu tak perlu tau, yang pasti, benda ini bisa sangat berguna nanti buatmu," jelas wanita itu. "Ambillah, dan simpan dengan baik."

"Untuk apa?"

"Besok, kamu dan Reina akan pergi ke kota Lyx untuk membeli bahan makanan, dan saat di sana ... aku ingin kamu menemui seseorang."

"Untungnya bagiku?"

"Kau ingin pedang, 'kan?"

Aku mengangguk cepat, peka juga dia.

"Belilah dengan ini." Mella kembali menyodorkan lencana itu ke arahku. "Dan bilang, bahwa lencana ini milikku, Mella Zeyn, si Penyihir Hitam."

Aku menerima lencananya, meski belum terlalu paham dengan ucapan Mella. Namun, kuyakin dia tidak akan berbohong di situasi seperti ini.

Aku jadi tidak sabar menunggu besok.

Ayo, malam, cepatlah berlalu!

Namun, tiba-tiba Mella menarik lenganku, membisikan sesuatu yang membuatku menelan ludah.

Dia hanya mewanti-wanti, agar aku berhati-hati jika bertemu dengan-'nya'. Karena penampilan bisa saja menipu.

***


Aku dan Reina, berjalan beriringan melewati hutan ini. Aku dengan jubah seperti biasanya, tak lupa sebelum berangkat tadi, Reina memantraiku dengan bau perempuan, untuk kamuflase, karena sekarang aku akan menuju ke tempat paling rawan—bagiku.

"Anda bisa mendengarnya, bukan?" tanya Reina, membuatku menajamkan pendengaran. Sebuah dengung keramaian, terdengar tak jauh di depan sana. Di bawah bukit, aku bisa melihat peradaban yang selama ini menjadi ketakutanku.

Sebuah pasar kota yang ramai dengan perempuan, mereka mengingatkanku saat awal sampai di sini. Mendadak aku bisa merasakan nyeri di punggung, teringat pernah ada anak panah yang menancap di sini.

"Tidak perlu khawatir, Tuan, Anda akan aman selama tidak membuka jubah atau berbicara terlalu keras." Reina menyadarkanku.

Aku menghela napas panjang, mencoba lebih tenang, itu baik untukku sendiri. Jika bukan karena permintaan Mella, mungkin aku tidak akan ikut dengan Reina mendatangi pasar itu, untuk membeli pelbagai makanan.

Ya, lagipula memang tak ada pilihan lain. Untuk membeli pedang, aku harus memilih sendiri, dan jika tanpaku, lencana yang diberikan Mella tak akan berguna.

Sungguh merepotkan.

Selain itu, aku juga memang butuh persenjataan sekarang. Hidup di zaman abad pertengahan seperti ini, akan sulit jika hanya mengandalkan tangan kosong saja. Ini adalah pengalaman bertahan hidup yang bisa kutulis nanti, ya, itupun jika aku hidup kembali.

Langkah kaki membawa kami menuruni bukit, sampai di depan gapura. Terdapat papan besar di atas sana, entah tulisannya dibaca apa.

Melewati gapura yang dijaga oleh dua orang ber-armor lengkap di kanan-kiri, membuatku teringat terakhir kali bertemu mereka. Ya, mereka malah mengejarku.

"Ada apa, Nona?"

"Nona?" Aku mengerutkan dahi, seraya menoleh ke arah Reina.

Gadis itu mengedipkan sebelah matanya, dan menggenggam erat tanganku. Sejak kapan ia memegang tanganku?

"Ada apa, Nona, memegang tangan saya kuat-kuat?" tanyanya.

Ha?

"Ma-maaf." Karena terlalu memikirkan tentang penjaga tadi, hingga membuatku tanpa sadar menggenggam tangan Reina. Bergegas aku melepaskannya. Jika sadar begini, rasanya aneh juga.

"Setelah kita membeli bahan makanan, kita akan langsung menuju ke toko perlengkapan senjata saja, Na," saranku.

Reina berhenti, lantas menoleh ke arahku. Jelas raut tak mengerti yang tergambar di mukanya. Mungkin dia terkejut karena saranku itu, terlebih dia memang tidak diberi tahu oleh Mella alasan kenapa aku harus ikut ke pasar dengannya.

"Nanti aku jelaskan, sekarang kamu beli bahan makanan saja dulu." Aku berjalan mendahuluinya dengan semangat. Kau tahu, rasanya masih sama dengan semalam, aku sudah tak sabar ingin mendapatkan perlengkapan armor dan pedang.

Namun, sejauh aku melangkah ... Reina tak mengekor.

Aku berhenti dan menoleh ke belakang, gadis itu masih di tempatnya. Ia menepuk dahi, dan menelengkan kepalanya ke arah toko sayuran tak jauh dari ia berdiri.

Oh, jadi aku kebablasan, ya, he-he-he ... maaf.

***


Seorang bocah perempuan dengan rambut diikat dua, memakai pakaian lusuh dan kotor karena debu, tampak berlari kesana-kemari dengan riangnya. Saat gadis itu terjatuh, gadis lain yang terlihat lebih tua darinya membantu berdiri. Tawa keduanya pecah saat mata mereka bertemu.

Aku mengalihkan pandangan, ganti menyorot seorang wanita tua yang duduk di emperan toko penjual berbagai macam buah segar. Wanita yang seluruh rambutnya sudah memutih itu memegang tongkat untuk menyangga tubuh, dan tangan lainnya mengacungkan wadah kecil berisi beberapa koin.

Kaki-kaki yang berlalu-lalang agaknya tak terlalu peduli dengan wanita dan anak-anak itu.

Memperhatikan mereka, mengingatkanku lagi dengan kota metropolitan yang belasan tahun aku tinggali sebelumnya. Pemandangan yang sama hanya saja dengan sentuhan zaman yang berbeda.

Miris.

"Nona sedang memperhatikan apa?" Suara Reina menyadarkanku dari lamunan. Gadis itu berdiri di sampingku dengan tangan memegang keranjang berisi makanan yang sudah penuh. "Belanjanya sudah, ayo, kita pergi ke tempat Nona ingin kunjungi, toko perlengkapan senjata, 'kan?"

Seulas senyum tergambar di bibirku, mungkin. Akhirnya, waktu yang telah kutunggu tiba. Cekatan aku berdiri, membersihkan debu di jubah, kemudian melangkah pasti ke tempat yang sudah diarah-arahkan oleh Mella sebelumnya.

"Apa Nona sudah tahu di mana letaknya, secara Nona masih pertama kali ke sini, 'kan?" Pertanyaan Reina seolah meragukanku.

Aku terus berjalan dengan tenang. "Tenang saja, Na, aku pasti akan menemukannya. Memakai ini." Aku menunjuk kepala.

"Maksudnya otak?"

"Insting ... maksudku insting, Na."

Reina mengangguk saja.

Aku masih ingat dengan arah yang diberikan Mella. Letak tokonya berada di ujung pasar, dekat dengan gerbang memasuki istana. Artinya, tak butuh waktu lama untuk sampai.

Langkah kami berhenti saat berada di depan sebuah bangunan persegi, dengan pedang yang disilangkan di pintunya. Tidak salah lagi, inilah toko yang dimaksud itu.

"Selamat datang!" seruku penuh semangat. Tiba-tiba Reina menyenggol bahuku keras, lantas memasang wajah kesal, dan memainkan matanya menunjuk ke arah sekitar.

Seorang prajurit yang berdiri di pintu gerbang menatap kami dengan curiga, tampak dari alis pirang yang bertautan.

"Hati-hati, Tuan, suara Anda sangat rawan diketahui oleh mereka!"

Aku menutup mulut dan menarik lengan Reina agar berjalan lebih cepat, kemudian masuk ke toko. Setidaknya, aku bisa menghindari tatapan dari para penjaga.

"Selamat datang di toko perlengkapan senjata terbaik di kota Lyx." Seorang wanita berpostur tinggi, berkacamata bulat besar, serta memakai pakaian dengan bahu terbuka. Ia berdiri di belakang meja kasir. "Kalian ingin membeli apa?"

Mataku masih terpaku pada wanita itu.

Dia, seperti yang Mella katakan. Aku menelan ludah.

Semoga apa yang dikatakan Mella tidak benar.

~ Bersambung ~
mamaketerbang12
aryatanarjha87
hazzzzzzz
hazzzzzzz dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.