Kaskus

Story

memedruhimatAvatar border
TS
memedruhimat
Cerita Masa Kuliah Sebuah Kenangan Yang Terkubur
Quote:


Spoiler for cover:


Quote:


Quote:
Diubah oleh memedruhimat 01-08-2025 14:04
alizazetAvatar border
nomoreliesAvatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan 25 lainnya memberi reputasi
26
48.5K
176
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
memedruhimatAvatar border
TS
memedruhimat
#137

Chapter 33

Selalu ada hari esok, dan esoknya lagi, juga esoknya lagi...


Hari ini gue harus melakukan pengisian KRS (Kartu Rencana Studi). Gue berangkat dari pagi-pagi banget untuk sarapan dulu di warung Ma'oi. Tadinya gue pikir pagi itu akan menjadi hari-hari yang seperti biasanya. Namun kali ini, gue harus menerima kabar yang mengejutkan.

"Nah, ni dia anaknya dateng." Mak langsung negor begitu melihat gue yang nongol di warung pagi-pagi.

"Ada apa Mak?" dengan polosnya gue bertanya.

"Emang Ari belum tau? Si Kun..."

"Si Kun kenapa?"

"Kemarin malem si Kun ngomong sama Mak, katanya dia pamit mau pulang kampung. Pantesan aja, tiba-tiba dia ngelunasin semua hutang-hutang makannya." kata Mak.

Harusnya gue nggak perlu terkejut lagi, ternyata Kun bener-bener serius dengan apa yang diucapkannya. Tapi, ya ini artinya... lagi-lagi gue harus kehilangan seorang teman, yang bisa membantu gue untuk terus bertahan dan tetap menemukan motivasi dalam melanjutkan kuliah dan bertahan di kampus ini.

"Yah, Mak kehilangan juga sih sama tuh anak." kata Mak ke gue.

Siang itu gue dan Mak jadi ngomongin kenangan tentang si Kun.

Iya sih, anak itu emang ngeselin dan sering ngutang sana-sini (cuma gue doank yang nggak pernah mau diutangin), tapi pada dasarnya dia orang yang baik dan setia kawan.

Gue jadi inget komik yang dia tinggalin buat gue kemarin itu. Gue jadi ngerasa nggak enak, karena gue sendiri malah nggak ngasih dia apa-apa.

\

Tepat jam sembilan gue cabut ke kampus. Jaman dulu belom ada yang namanya mengisi KRS secara online, nggak kayak mahasiswa jaman sekarang yang apa-apa serba praktis dan bisa online. Di jaman gue ini segalanya serba manual.
Pokoknya masih jamannya ribet dan repot; di mana lu kudu bolak-balik kesana kemari; turun ke ruang sekret administrasi, naik ke ruang dosen, turun lagi ke ruang sekret administrasi.

Quote:


Selesai dengan urusan kesana kemari---masih di gedung fakultas---gue ketemu sama Dick, dia lagi bareng sama si Cahyadi.

Omong-omong kostum si Dick sama Cahyadi hari itu asli gue melihat penampilan mereka---mulai dari kostum sampai keseluruhan dari ujung rambut sampe mata kaki---SAMA BANGET PERSIS. Pokoknya udah kaya anak kembar, bak pinang dibelah somplak. Gue bener-bener sampe sekarang masih bisa inget dengan jelas; baju kaos sama-sama warna biru, sama-sama pake celana jins kedodoran, dan sepatu sendal juga dengan merk yang sama. Tampang sama-sama berkaca mata bahkan dengan model frame yang sama persis, belahan pinggir dengan arah yang sama, potongan model juga rambut yang sama.

"Eh, Dick... pas banget ketemu sama lo." langsung aja gue panggil dia.

Gue juga menyapa si Cahyadi, tapi di sini gue masih belum deket banget sama dia.

"Lo lagi ngisi KRS juga Ri?" tanya Dick ke gue.

"Iye lah biasa. Lo udah?"

"Udah nih, baru selese."

"Terus lo mo ke mana?"

"Pulang lah, kan udah nggak ada kegiatan lagi."

"Ya elah, lo udah semester segini masih KUPU-KUPU aja sih? Kuliah--Pulang--Kuliah--Pulang. Nongkrong dulu lah sebentar, kita ngobrol-ngobrol, ada yang pengen gue omongin."

"Ya udah kita ke kantek aja kalo gitu." kata Dick.

Si Cahyadi tadinya mau pamit pulang duluan. Tapi Dick langsung nahan, dan ngajak Cahyadi buat ikut bareng kita aja. Si Cahyadi kelihatan kayak orang gelisah gitu dan pengen pulang, tapi akhirnya dia nurut juga ngikut sama gue dan Dick. Di sini gue masih belum begitu deket sama Cahyadi. Si Cahyadi ini orangnya juga lebih banyak diam. Kayaknya sih dia tipe yang introvert kayak gue, tapi dia jauh lebih tertutup.

Singkat cerita, siang itu kita nongkrong bareng di Kantek (kantin Fakultas Teknik). Gue cuma pernah makan di sini sekali doank, itu dulu waktu awal gue baru masuk semester satu. Tapi kali ini gue dikenalin sama yang namanya Bude Bagus. Doi satu-satunya di warung ini yang dipanggil "Bude".

Bude Bagus ini orangnya asik kalo diajak ngobrol, dia ramah dan selalu tersenyum sama para pembeli.

"Wah dapet temen baru lu Dick? Kagak beduaan sama Cahyadi lagi dah lu." Bude ngeledekin si Dick.

Rupanya si Dick sama Cahyadi sering berduaan di sini.

"Bude, mereka berdua ini bukannya sodaraan ya?" kata gue.

"Eh masa iya? Bude juga baru tau." katanya ke gue. "Bener Dick elu sodaraan sama Cahyadi? Kaga bilang-bilang lu?" Bude pun langsung tanya ke Dick.

"NAJIS BUDE! SEJAK KAPAN GUE SODARAAN MA ORANG ITU!!" balas si Dick.

Tapi gue pikir mereka berdua itu kayaknya emang cocok kalo jadi sodara. Si Dick rada idiot overacting dan hiperaktif. Si Cahyadi tipe yang tenang, pendiam dan pemikir. Ya mereka saling melengkapi lah.

"Dick, lu bakal masih terus lanjut kan latihan Kempo? Apalagi kan kita juga udah dikasih ruang sekret tuh sama pak Bambrong."

"SROOOT!!" Si Dick nyedot jus alpukat. Hanya dalam satu tarikan napas, jus di gelasnya langsung sisa setengah. "Gue sih ayo aja!" dia jawab. "Lagian kan gue pengen nguasain jurus maut Tinju Bintang Utara, Meteor Pegasus, sama tenaga dalem Kamehame. Pokoknya... bla...bla...bla... (ngomongin fantasi-fantasi)"

"Ya... terserah lo deh, yang penting lo masih temenin gue latihan kan?"

"Yosh! HENSHIIIN!!" dengan pedenya dia berteriak di tengah kantin yang rame itu.

Setelah menghabiskan segelas jus di kantin Bude Bagus, kita lanjut mampir ke ruangan sekret Kempo. Kebetulan sekarang ini gue yang pegang kuncinya.

Saat ini kondisi ruangan memang masih jauh dari kata proper. Jangankan untuk menyambut tamu, buat dipakai santai dan sekedar duduk-duduk juga belum bisa dibilang nyaman. Perabotnya baru ada satu buah kursi lipat dan satu meja tulis.

Bau di dalam ruangan juga berasa apek banget, dikarenakan lembab dan terlalu lama tertutup. Dan ternyata gue baru tau kalo listrik di ruangan tersebut nggak bisa nyala karena sekringnya korslet.

Rencananya gue pengen beliin karpet aja dulu, supaya kita bisa duduk-duduk kalo pas lagi nongkrong di sana. Tapi saat ini dananya belum ada, apalagi kita juga belum punya uang kas. Jadinya gue ngajak Dick buat patungan.

Dick udah bersedia untuk patungan, kita mo beli karpet yang dijual per-meter aja di pasar, harganya murah. Dia lantas ngajakin si Cahyadi juga buat ikut patungan.

"Ayo Coy, lo gabung aja sama kita. Lo belajar Kempo aja supaya elo nggak digangguin lagi sama mereka. Kalo digangguin lagi lo kasi mereka pukulan seribu bayangan."

"Kagak... kagak..." si Cahyadi langsung memberikan isyarat penolakan dengan tegas. "Kan udah gue bilang, gue lagi nabung buat beli beceng." katanya kemudian.

"Halaah... beceng-beceng mulu? Sok bat tau beceng lu! Paling juga yang lu maksud itu cuma pistol mainan." kata si Dick. "Nanti gue beliin dah lu, pistol-pistolan yang isi pelor petasan itu."

kaskus-image


'Cahyadi digangguin? Sama siapa?' tiba-tiba gue jadi penasaran. Masa iya senior? Katanya di Fakultasnya dia kan nggak ada pelonco-peloncoan.

"Hiya hiyaaa haiyaaaakkhh!!" entah apa yang terjadi, tau-tau Dick berdiri di depan ruang sekret dan bergaya ala superhero yang lagi melancarkan pukulan mautnya. "Aarrgghhh... arrrhhh... eeaahhh..." kemudian dia menetralisir cosmo yang telah dikeluarkannya barusan.

Njirrr... makin ke sini koq temen-temen yang gue kenal makin yang aneh-aneh aja.

Gue jadi mikir, apa gue ini salah gaul ya.

***


Nggak kerasa udah semester 4. Kalo dipikir-pikir, akhirnya gue benar-benar terjebak di kampus yang suram dan nggak jelas ini._Kehidupan gue di masa kuliah ini udah kayak lembaran-lembaran cerita drama. Musim demi musim berganti, kisah hidup gue pun berganti.

Kalo gue buka lagi kenangan gue yang lalu,

Rasanya baru aja kemarin gue kena serangan virus cinta.

Yah begini nasib anak muda yang telat dewasa sehingga telat pula mengenal apa itu cinta.

Orang bilang cinta pertama itu masih sekedar cinta-cintaan yang tidak didasari pemikiran matang. Oleh karena itu disebutnya "cinta monyet" atau cinta yang sifatnya 'platonik'. Cinta yang didasari pada keinginan spontantitas, didasari oleh reaksi hormon jiwa muda yang tak bisa dikendalikan tubuh. Sehingga segala sesuatu terjadi tanpa akal dan logika. Badan bisa panas dingin nggak jelas, meriang dan uring-uringan.

Pengalaman cinta platonik pada laki-laki dan wanita berbeda. Pada wanita, ini akan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Namun pada laki-laki, hasrat platonik itu akan terus menghantui dan baru akan hilang setelah laki-laki tersebut merasakan yang namanya bercinta---alias hubungan badan.

Namun cinta pertama gue berakhir dengan kegagalan yang memalukan.

Quote:


Bagi gue kenangan akan cinta itu sudah berlalu. Tapi yang gue pikirin sekarang lebih kepada pencapaian dalam diri dan kehidupan gue sendiri.

Apa tonggak pencapaian yang udah gue raih di usia gue yang sekarang?

Gue jadi semakin merasa kalau hidup gue ini hanya terdiri dari berlapis-lapis kegagalan.

Gue harus cepet-cepet bisa mandiri, supaya bisa segera pergi meninggalkan rumah. Tapi masalahnya, gue nggak ngerti gimana caranya. Kalo gue kabur dari kampus ini, gue harus siap untuk ribut sama orang tua. Dalam hal ini masalah terbesar adalah nyokap. Sedangkan gue nggak tau gimana dengan bokap.

Namun apa yang akan lantas terjadi kemudian? Mau cari kerja, gue cuma punya ijasah SMA. Mau bisnis gue nggak punya modal. Di ibu kota yang keras ini, yang ada gue cuma bakal jadi pengangguran.

Kadang gue pengen bisa pulang kampung juga kayak temen-temen gue. Gue pengen ngerasain hidup di daerah, yang meski apa-apa terkesan serba sederhana tapi hidup terasa nyaman. Masih ada singkong yang bisa dicabut dari tanah, ada cabe dan tomat yang bisa dipetik.

Orang-orang macam gue ini, kita udah nggak punya kampung halaman lagi. Keluarga kita jaman dahulu menjual tanah di kampung buat modal merantau. Sekarang kita para anak-anak dan cucunya, yang harus menanggung kerasnya hidup di ibu kota yang semakin menekan.

Kenapa sih keluarga leluhur gue memilih untuk mengadu nasib merantau ke kota? Dan malah menjual kampung halaman kami?

Inilah kebodohan orang-orang kota macam gue.

***


Kembali lagi ke bangku perkuliahan,

Mata kuliah gue di semester ini jauh lebih banyak tugas-tugas yang harus dikerjakan berkelompok. Dan pola belajar gue masih sama, gue nggak pernah bisa dapet temen buat ngerjain tugas kelompok. Gue masih dianggap orang asing di kelas yang baru ini. Jadi kalau ada tugas, sukur-sukur bisa gue kerjain sendiri. Kalo nggak ya udah gue cuek dan pasrah aja nggak ngumpulin. Beginilah akibat dari dikucilkan sama satu angkatan.

Temen-temen dari kelas A yang kemarin pernah akrab sama gue, entah kenapa sekarang mereka malah jadi kayak orang yang nggak pernah kenal gue sama sekali. Mereka udah saling cuek dan sibuk sendiri-sendiri. Bahkan Tia pun juga semakin menghindar dan nggak pernah mau ketemu gue lagi.

Padahal perasaan baru aja kemarin kita have fun bareng, nikmatin acara musik waktu event kampus. Yah, entahlah apa yang membuat mereka seperti itu... namanya manusia siapapun bisa berubah.

\

Tahun ini ada satu mata kuliah yang waktu semester 2 kemarin gue dapet nilai D, jadi otomatis di semester 4 ini gue harus mengulang matkul tersebut di kelas angkatan 2003.

Rupanya ada dua orang temen satu angkatan yang dulu satu kelas bareng di kelas A, mereka juga mengulang matkul yang satu ini. Kita sebut aja nama mereka Mona dan Anne. Mereka adalah gadis-gadis keturunan "Chindar" alias "Chinak daratan". Putih dan cantik, berotak cerdas dan berwatak keras.

Quote:


Waktu itu masih jarang banget ada Chindar yang kuliah di kampus yang sangat lokal domestik ini. Biasanya para Chindar kuliah di kampus-kampus yang lebih bergengsi. Selain itu juga karena di sini jumlah mereka sangat minoritas.

Mereka ini nggak seperti anak-anak lain yang suka gaul dan nongkrong. Mereka tipe mahasiswi yang KUPU-KUPU alias Kuliah--Pulang--Kuliah--Pulang.

Dari pertama gue masuk di kelas A, gue malah sangat jarang---bahkan mungkin bisa dibilang nyaris belum pernah ngobrol sama mereka. Namun kali ini, iseng aja gue deketin dan ngajak mereka ngobrol. Karena untung juga ada mereka berdua, jadi gue nggak kayak orang asing banget sendirian mengulang mata kuliah di kelas ini.

"Hai Mon... Hai Anne... eh, ternyata lo pada ikut ngulang matkul ini juga?" gue yang introvert ini langsung mengeluarkan power of basabasibasket. Yah lagian kan ngobrolnya ke sesama introvert juga.

"Eh, Ari? Hehehe, iya Ri. Kemarin gue dapet D." kata Mona.

"Elu Anne, dapet D juga?" gue tanya.

"Kalo gue sih sebetulnya cuma dapet C, tapi gue pengen ngulang aja lah siapa tau bisa dapet B kan nambahin IP." dia jawab.

Ya mungkin selain itu solidaritas cewek juga, dia temenin si Mona yang ketinggalan. Karena sebetulnya kalo dapet C nggak perlu mengulang.

"Elu Ri?" tanya Mona.

"Wah, iya, gue juga dapet D. Makanya gue ngulang."

"Dosennya yang kemaren itu killer banget." kata si Anne.

"Yang ini dosennya baik sih katanya." kata Mona.

Quote:


Tapi kita nggak ngomongin topik yang lebih jauh tentang pelajaran. Kita lebih banyak ngobrolin topik-topik soal motivasi kenapa berkuliah, kenapa ambil jurusan ini, nanti abis lulus mau ke mana. Ya intinya hal-hal seperti itu lah.

"Gue sih pilih jurusan ini, karena bagi gue yang penting jadi sarjana." kata Mona. "Iya sih ujung-ujungnya jaga toko. Tapi gue tetep pengen dapet gelar sarjana biar dihargai masyarakat dan bikin bangga keluarga." tegasnya lagi.

Gue lantas bercerita jujur, kalo gue udah nggak ada motivasi buat kuliah di sini. Tapi gue nggak ngerti harus ngapain dan harus ke mana.

Dan Mona pun lantas ngomong ke gue, "Udah, nggak usah pikirin lu suka apa ga suka sama kuliah lo. Terus lo juga nggak usah peduli, orang mau temenan sama lu apa nggak. Kalo cuma berteman buat sekedar nongkrong-nongkrong ga jelas, lu buang-buang waktu. Sepuluh tahun lagi itu semua udah nggak ada artinya. Yang namanya temen nongkrong itu cuma sekedar jadi temen hahahihi, besok juga mereka udah lupa sama lu."

"Pilih temen yang bisa membawa lu jadi orang yang bonafid di masa depan. Berteman sama orang yang wawasannya luas biar kita bisa belajar dari dia. Nggak musti dari kampus, bisa jadi lu punya temen di luar sana. Di kampus ini yang penting lu fokus buat kuliah sampe selese. Udah titik."

Wah kena kena banget gue diceramahin anak Chindar.

Ya, gue pribadi sangat mengakui banget sih kalo motivasi hidup orang-orang Chinak daratan emang beda dari kita para pribumi yang lokal domestik.

Gue ngerti dan paham banget maksudnya Monik. Dia pengen jadi sarjana bukan karena dia nggak ngerti cara bangun usaha. Tapi supaya orang-orang yang menghina dia semuanya bungkam dan malu, karena mereka sendiri enggak bisa apa-apa selain menghina.

Ada benernya juga sih, karena kadang-kadang kita yang orang pribumi lokal domestik ini bisanya cuma NGELUH-NGELUH aja. Dan ujung-ujungnya mengharap BANSOS.

"Miskin nih... beras mahal, sayur naik, telor naik, minyak langka, penghasilan pas-pasan... mana nih subsidi pemerintah?"

Padahal di tempat lain banyak orang-orang yang terus berusaha. BERUSAHA KERAS membangun kehidupan ditengah-tengah krisis, dan mereka TIDAK PERNAH MENGELUH juga TIDAK MENGEMIS sama siapapun. Nggak peduli krisis moneter, resesi, pokoknya mereka selalu mencari cara untuk bisa struggle dalam kondisi apapun. Sedangkan kita para pribumi lokal domestik bisanya cuma menjelek-jelekkan orang lain yang berusaha, tapi kenyataannya kita sendiri malah nggak pernah berusaha memperbaiki hidup.
Diubah oleh memedruhimat 10-08-2025 11:31
itkgid
itkgid memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.