- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.5K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#42
Spoiler for Part 23:
Part 23
.
.
.
"GILAAAA LU NAT, WKWKWKWK"
Suara histeris devan yang sedang berdiri didpean ruang asisten menyambut kedatangnku.
Aku: "kenapa lu teriak-teriak kayak orang gila?"
Devan: "lu tadi keluar ngasih hadiah ke beby?"
Aku: "enggak"
Devan: "halahh, gue liat apa yang lu ambil tadi di tas"
Aku: "yee, tau gitu pake nanya"
Viny: "ihh, si natha mah aneh, tadi, dari kita makan-makan sampai sebelum sakti dateng, kadonya gak dikasih-kasih, tapi pas udah ada sakti malah baru dikasih"
Aku: "hehe, gaktau mbak, tadi masih malu"
Nabil: " Sama beby lu malu, giliran didepan cowoknya lu berani ngasih, emang temen gue paling the best dah"
Viny: "tadi itu mantannya beby bil, bukan cowoknya"
Nabil: "oooohhh, aku kira tadi cowoknya beby vin, soalnya pake ngasih bunga segala tadi"
Nabil: "tapi saingan lo kali ini berat nat kayaknya, wkwkwk"
Mario: "tapi boleh juga nyali lu nat, wkwkwk"
Devan: "cieee, pake ngasih kado segala, katanya dulu gak suka sama beby"
Aku: "ngasih kado belum tentu karena suka kali"
Mario: "huuuu, ngeles aja terus"
Dyo: "btw apaan tuh isinya?"
Nabil: "iya nat, cerita lah"
Aku: "aahh, kenapa jadi pada kepo lu semua"
Devan: "tuh yo, natha udah hampir dapet, lu kapan?"
Mario: "sadar diri lu monyet, veranda masih gantung lu sampe sekarang"
Devan: "yeee, udah sabar ajaa"
Dyo: "emang pada yakin nih, si natha bisa dapetin beby, liat aja tuh saingannya"
Nabil: "wah, parah lu yo, jadi temen gak suportif banget"
Kamipun melanjutkan obrolan kami yang sempat berhenti karena kejadian tadi.
Tapi topik obrolan kami kali ini beralih daribyang awalnya hanya membicarakan masalah kelanjutan rencana kami untuk liburan ke pantai menjadi membicarakan kejadian barusan, isi pembicaraan kali ini juga tidak jauh-jauh dari meledekku yang sudah berani memberikan hadiah kepada beby didepan sakti.
.
.
.
Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, 2 jam sudah waktu yang kami habiskan untuk ngobrol setelah kejadian dimana aku memberi hadiah kepada beby didepan sakti tadi siang.
Viny: "eh, sorry nih, beby sama sakti masih ada acara, jadi belum bisa jemput aku nih, aku boleh minta tolong anterin pulang gak?"
Nabil: "oohh, santai vin, pilih aja mau dianter sama siapa?"
Mario: "wkwkwkwk, bener tuh vin, kamu pilih aja"
Mungkin, karena viny tau untuk hari ini sudah tidak ada lagi kegiatan yang akan berlangsung di lab, dia memutuskan untuk meminta diantarkan untuk pulang sekarang.
Viny: "natha aja deh"
Devan: "widih, gila lu nat, viny milih lo tuh"
Nabil: "iya nat, sekarang lu yang milih viny atau beby, wkwkwk"
Viny: "ihh, apaan sih, kan natha udah pernah nganter aku dulu, yang lain kan pas itu pada gakbisa, jadi kalo sama natha aku udah gakperlu repot-repot nununjukin jalan lagi"
Devan: "wkwkwk, iya vin, santai, aku bercanda kok"
Mario: "yaudah nat, anterin gih si viny"
Karena tidak membawa helm tambahan, aku memutuskan meminjam helm kepada dyo yang nanti akan dipakai oleh viny
Aku: "eh yo, pinjem helm lu dong, buat viny nih"
Dyo: "ambil aja dimotor nat, btw hati-hati ya kalo boceng cewek, wkwkwk"
Aku: "iya iya, sok-sokan ngingetin gue lu, kayak pernah aja lu bonceng cewek"
Dyo: "hehe"
Setelah menunggu viny bersiap-siap membereskan barang-barang dan hadiah-hadiah yang diberikan oleh teman-teman mereka tadi siang, aku dan vinypun langsung beranjak dari ruang asisten, lalu berjalan menuju motorku untuk mengantarkan viny pulang kerumahnya.
Sekarang viny sudah duduk diboncenganku. Aku melajukan motorku dengan kecepatan sedang untuk menembus padatnya jalanan jogjakarta disore hari.
Viny: "nat, temenin aku makan ya, beby pasti udah makan ama sakti"
Aku: "hahhhhh, kenapa mbak?"
Karena suara dijalanan jogja sore ini cukup ramai, suara viny yang sedang berbicara tidak terdengar jelas ditelingaku.
Viny: "temenin aku makan"
Aku: "sorry mbak, gak kedengeran"
Viny: "temenin aku makan nat"
Aku: "hahhh?"
Viny: "TEMENIN AKU MAKAN NATHAA"
Mungkin karena kesal kepadaku yang tidak dapat mendengar dengan baik apa yang dia bicarakan, viny menjawab pertanyaanku dengan setengah berteriak.
Aku: "iya iya mbak, aku gak budeg kok"
Viny: "issshh, ngobrolnya disana aja nanti"
Aku: "dimana mbak?"
Viny: "lalapan yang biasa aja"
Aku: "hahh??"
Viny: "LALAPAN YANG BIASA NATHA"
Aku: "hehehe, iya iya"
.
.
.
Sekarang kami sudah duduk berhadapan diwarung lalapan yang sudah 2 kali aku kunjungi bersama viny.
Aku: "kok seneng banget makan disini sih mbak?".
Viny: "deket rumah, murah, enak, sama udah biasa aja"
Aku: "ooohh, gak takut gendut apa tiap hari makan makanan berminyak kayak gini"
Viny: "emang aku gendut ya?"
Aku memasang muka yang dibuat seolah-olah sedang berpikir
Aku: "mmmmm, dikit sih"
Viny: "hehhhh, asal kamu tau ya, aku dirumah tiap hari makan buah, dan tiap pagi aku juga sering sepedaan keliling-keliling komplek, jadi aku gak mungkin gendut"
Viny membalas kalimat terakhirku dengan wajah gusarnya karena aku mengejeknya sedikit gendut.
Sebenarnya viny jauh dari kata gendut. Badannya bisa dibilang langsing, bahkan lebih cenderung ke kurus. Tapi kenapa dia masih panik ya ketika aku mengatakan bahwa dia sedikit gendut??. Hmmmm, dasar, cewek!!!!.
Aku: "iya iya iya, hehehe, jangan marah dong mbak"
Viny: "habisnya kamu ngeselin"
Obrolanku dan viny terhenti ketika mas-mas lalapan mengantarkan makanan pesanan kami.
Sekarang didepan kami sudah tersaji 2 piring nasi, 2 piring ayam goreng, dan 2 gelas es teh.
Tapi ketika aku akan memenyuapkan sesuap nasi dan sepotek ayam ke mulutku, tiba-tiba viny meletakan 1/4 nasi miliknya keatas piringku.
Aku: "lah, kenapa mbak"
Viny: "gakpapa, nanti aku gendut"
Aku: "yaelah mbak mbak, aku kan bercanda"
Viny: "enggak, pokoknya sekarang aku mau ngurangin porsi makanku dulu"
Aku: "mbak, aku kan cum......"
Viny: "udah makan, cepet"
Aku: "i i iya mbak"
Aku dan viny memilih fokus untuk menghabiskan makanan yang ada didepan kami. Tidak ada obrolan yang berlangsung antara aku dan viny selama kami sedang menikmati makanan kami masing-masing.
Viny: "eh nat, beby udah dirumah"
Aku: "darimana mbak tau?"
Viny: "barusan dia ngechat aku nih"
Aku: "ooohh"
Suasana sempat hening sejenak, sampai akhirnya viny kembali buka suara.
Viny: "ihh, kok cuma OH sih?"
Aku: "lah, emang aku harus ngerespon gimana mbak?"
Viny: "kamu gak pengen tau tentang sakti?"
Aku: "enggak deh"
Viny: "seriuus?"
Viny berkata seperti itu sambil menggodaku dengan senyum jahil dan alisnya yang dinaik turunkan.
Aku: "serius"
Viny: "oohh, yaudah kalo gitu"
Suasana kembali hening, aku dan viny sama-sama fokus untuk menghabiskan es teh kami yang masih tersisa.
Viny: "sakti itu udah deket banget sama keluarganya beby"
Aku: "lah, kok bisa putus mbak?"
Viny: "mmmmm, kasih tau gak ya??, tapi kayaknya kamu gakpengen tau deh"
Aku: "issh, kentang ah, infonya setengah-setengah"
Viny: "penasaran kaaaannn?"
Viny kembali tersenyum jahil untuk menggodaku.
Aku: "yaudah deh, iya iya, aku penasaran"
Viny: "naah, gitu dong"
Aku: "yaudah, pertanyaanku dijawab"
Viny: "gaksabaran banget sih nat"
Aku: "mbak, ayolahh"
Viny: "hehe, iya iya, jadi beby sama sakti itu udah pacaran dari SMA, mereka beda 2 tahun, jadi pas itu beby kelas 1, dia kelas 3"
Aku: "terus?"
Viny: "ya dulu sakti tiap hari nganterin beby pulang ke rumah, jadi sering ketemu sama mamahnya beby, sakti juga temenan sama kakaknya beby"
Aku: "terus?"
Viny: "mamahnya beby udah sayang banget sama sakti, udah dianggep kayak anak sendiri, malahan beby dibolehin kuliah dijogja soalnya dulu sakti sama kakaknya beby kuliah disini juga"
Aku: "oohh, emang sakti anak kampus kita juga mbak?
Viny: "bukan, dulu sakti kuliah di U*M, kalo kakaknya beby dulu sempet pendidikan di A*U"
Aku: "oh iya, aku baru inget dulu beby pernah cerita kalo kakaknya tentara"
Viny: "nahh iya, kalau sakti sekarang udah kerja di jakarta, jadi pegawai bank kalo gak salah, tapi aku lupa bank apa, yang jelas bank swasta, jabatannya juga udah lumayan lho nat"
Aku: "ooohhh"
Huuuhhh, ternyata dari informasi yang diberikan oleh viny, ternyata sakti laki-laki yang cerdas, terbukti dulu sakti pernah menuntut ilmu disalah satu kampus terbaik di jogjakarta ,bahkan indonesia. Ditambah lagi dia sekarang sudah bekerja disalah-satu bank swasta yang terdapat di jakarta dengan jabatan yang bagus.
Dan aku juga baru tahu bahwa kakak laki-laki beby adalah seorang tentara dengan pangkat perwira, dari cerita viny dia dulu dia pernah menjadi seorang taruna di A*U, para taruna ditempat itu memang sudah dipersiapkan untuk menjadi petinggi petinggi di TNI angkatan udara.
Viny: "jangan ah oh ah oh doang nat, kayaknya itu si sakti mau deketin beby lagi deh, kalo usaha kamu deketin beby masih gini-gini aja, pasti mereka bakal balikan"
Aku: "siapa yang deketin emang"
Viny: "ya kamu lah, pas banget lagi, dektinnya waktu beby sama sakti udah putus"
Aku: "lah, emang kapan mereka putusnya?"
Viny: "mmmm, 2 atau 3 minggu yang lalu kalo gak salah"
Oooooohh, sekarang aku jadi tau apa yang menyebabkan beby sempat terlihat sangat murung beberapa minggu yang lalu.
Viny: "wkwkwk, katanya gak deketin, tapi dipancing dikit aja langsung kepo lagi"
Aku: "gak kepo kok"
Viny: "serius?"
Aku: "serius"
Viny: "kalo kamu serius, kamu jawabnya duarius nat kayak kemaren"
Suasana kembali hening akibat candaan yang lumayan garing dari viny.
Aku: "issh, apaan sih mbak, garing banget"
Viny: "eleuh eleuhh, natha ngambekan euy"
Aku: "yaallah, dikit-dikit dibilang ngambek ih"
Viny: "hehehe, pieceeee, bercanda nat"
Karena makanan dan minuman yang kami pesan sudah habis, aku memutuskan untuk mengajak viny pulang.
Aku: "eh mbak, balik yuk, udah abis semua kan?"
Viny: "ayo deh nat, udah mau maghrib juga"
Setelah membayar pesanan kami masing-masing, aku dan langsung melajukan motorku untuk mengantarkan viny pulang kerumahnya.
Sesampainya aku dirumah beby dan viny, aku melihat sakti didepan rumah beby, sepertinya dia sedang bersiap-siap untuk pulang menggunakan mobil beby.
Viny: "eh, kak, baru mau pulang?"
Sakti: "iya vin, eh, mobilnya kubawa dulu ya vin, besok pagi aku kesini lagi balikin mobilnya sekalian balik ke jakarta"
Viny: "ooh, iya kak, santai aja, besok aku sama beby gak kemana-mana kok"
Viny: "oh iya, ini helmnya dyo nat, makasih ya"
Aku: "iya mbak, sama-sama"
Viny: "aku masuk dulu ya kak, nat, byeee"
Setelah viny masuk kedalam rumah, sekarang disini hanya ada aku dan sakti.
Pandangan kami saling bertemu, dia menatapku dengan tatapan yang sepertinya menunjukan ketidak sukaannya terhadapku.
.
.
.
.
.
.
"GILAAAA LU NAT, WKWKWKWK"
Suara histeris devan yang sedang berdiri didpean ruang asisten menyambut kedatangnku.
Aku: "kenapa lu teriak-teriak kayak orang gila?"
Devan: "lu tadi keluar ngasih hadiah ke beby?"
Aku: "enggak"
Devan: "halahh, gue liat apa yang lu ambil tadi di tas"
Aku: "yee, tau gitu pake nanya"
Viny: "ihh, si natha mah aneh, tadi, dari kita makan-makan sampai sebelum sakti dateng, kadonya gak dikasih-kasih, tapi pas udah ada sakti malah baru dikasih"
Aku: "hehe, gaktau mbak, tadi masih malu"
Nabil: " Sama beby lu malu, giliran didepan cowoknya lu berani ngasih, emang temen gue paling the best dah"
Viny: "tadi itu mantannya beby bil, bukan cowoknya"
Nabil: "oooohhh, aku kira tadi cowoknya beby vin, soalnya pake ngasih bunga segala tadi"
Nabil: "tapi saingan lo kali ini berat nat kayaknya, wkwkwk"
Mario: "tapi boleh juga nyali lu nat, wkwkwk"
Devan: "cieee, pake ngasih kado segala, katanya dulu gak suka sama beby"
Aku: "ngasih kado belum tentu karena suka kali"
Mario: "huuuu, ngeles aja terus"
Dyo: "btw apaan tuh isinya?"
Nabil: "iya nat, cerita lah"
Aku: "aahh, kenapa jadi pada kepo lu semua"
Devan: "tuh yo, natha udah hampir dapet, lu kapan?"
Mario: "sadar diri lu monyet, veranda masih gantung lu sampe sekarang"
Devan: "yeee, udah sabar ajaa"
Dyo: "emang pada yakin nih, si natha bisa dapetin beby, liat aja tuh saingannya"
Nabil: "wah, parah lu yo, jadi temen gak suportif banget"
Kamipun melanjutkan obrolan kami yang sempat berhenti karena kejadian tadi.
Tapi topik obrolan kami kali ini beralih daribyang awalnya hanya membicarakan masalah kelanjutan rencana kami untuk liburan ke pantai menjadi membicarakan kejadian barusan, isi pembicaraan kali ini juga tidak jauh-jauh dari meledekku yang sudah berani memberikan hadiah kepada beby didepan sakti.
.
.
.
Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, 2 jam sudah waktu yang kami habiskan untuk ngobrol setelah kejadian dimana aku memberi hadiah kepada beby didepan sakti tadi siang.
Viny: "eh, sorry nih, beby sama sakti masih ada acara, jadi belum bisa jemput aku nih, aku boleh minta tolong anterin pulang gak?"
Nabil: "oohh, santai vin, pilih aja mau dianter sama siapa?"
Mario: "wkwkwkwk, bener tuh vin, kamu pilih aja"
Mungkin, karena viny tau untuk hari ini sudah tidak ada lagi kegiatan yang akan berlangsung di lab, dia memutuskan untuk meminta diantarkan untuk pulang sekarang.
Viny: "natha aja deh"
Devan: "widih, gila lu nat, viny milih lo tuh"
Nabil: "iya nat, sekarang lu yang milih viny atau beby, wkwkwk"
Viny: "ihh, apaan sih, kan natha udah pernah nganter aku dulu, yang lain kan pas itu pada gakbisa, jadi kalo sama natha aku udah gakperlu repot-repot nununjukin jalan lagi"
Devan: "wkwkwk, iya vin, santai, aku bercanda kok"
Mario: "yaudah nat, anterin gih si viny"
Karena tidak membawa helm tambahan, aku memutuskan meminjam helm kepada dyo yang nanti akan dipakai oleh viny
Aku: "eh yo, pinjem helm lu dong, buat viny nih"
Dyo: "ambil aja dimotor nat, btw hati-hati ya kalo boceng cewek, wkwkwk"
Aku: "iya iya, sok-sokan ngingetin gue lu, kayak pernah aja lu bonceng cewek"
Dyo: "hehe"
Setelah menunggu viny bersiap-siap membereskan barang-barang dan hadiah-hadiah yang diberikan oleh teman-teman mereka tadi siang, aku dan vinypun langsung beranjak dari ruang asisten, lalu berjalan menuju motorku untuk mengantarkan viny pulang kerumahnya.
Sekarang viny sudah duduk diboncenganku. Aku melajukan motorku dengan kecepatan sedang untuk menembus padatnya jalanan jogjakarta disore hari.
Viny: "nat, temenin aku makan ya, beby pasti udah makan ama sakti"
Aku: "hahhhhh, kenapa mbak?"
Karena suara dijalanan jogja sore ini cukup ramai, suara viny yang sedang berbicara tidak terdengar jelas ditelingaku.
Viny: "temenin aku makan"
Aku: "sorry mbak, gak kedengeran"
Viny: "temenin aku makan nat"
Aku: "hahhh?"
Viny: "TEMENIN AKU MAKAN NATHAA"
Mungkin karena kesal kepadaku yang tidak dapat mendengar dengan baik apa yang dia bicarakan, viny menjawab pertanyaanku dengan setengah berteriak.
Aku: "iya iya mbak, aku gak budeg kok"
Viny: "issshh, ngobrolnya disana aja nanti"
Aku: "dimana mbak?"
Viny: "lalapan yang biasa aja"
Aku: "hahh??"
Viny: "LALAPAN YANG BIASA NATHA"
Aku: "hehehe, iya iya"
.
.
.
Sekarang kami sudah duduk berhadapan diwarung lalapan yang sudah 2 kali aku kunjungi bersama viny.
Aku: "kok seneng banget makan disini sih mbak?".
Viny: "deket rumah, murah, enak, sama udah biasa aja"
Aku: "ooohh, gak takut gendut apa tiap hari makan makanan berminyak kayak gini"
Viny: "emang aku gendut ya?"
Aku memasang muka yang dibuat seolah-olah sedang berpikir
Aku: "mmmmm, dikit sih"
Viny: "hehhhh, asal kamu tau ya, aku dirumah tiap hari makan buah, dan tiap pagi aku juga sering sepedaan keliling-keliling komplek, jadi aku gak mungkin gendut"
Viny membalas kalimat terakhirku dengan wajah gusarnya karena aku mengejeknya sedikit gendut.
Sebenarnya viny jauh dari kata gendut. Badannya bisa dibilang langsing, bahkan lebih cenderung ke kurus. Tapi kenapa dia masih panik ya ketika aku mengatakan bahwa dia sedikit gendut??. Hmmmm, dasar, cewek!!!!.
Aku: "iya iya iya, hehehe, jangan marah dong mbak"
Viny: "habisnya kamu ngeselin"
Obrolanku dan viny terhenti ketika mas-mas lalapan mengantarkan makanan pesanan kami.
Sekarang didepan kami sudah tersaji 2 piring nasi, 2 piring ayam goreng, dan 2 gelas es teh.
Tapi ketika aku akan memenyuapkan sesuap nasi dan sepotek ayam ke mulutku, tiba-tiba viny meletakan 1/4 nasi miliknya keatas piringku.
Aku: "lah, kenapa mbak"
Viny: "gakpapa, nanti aku gendut"
Aku: "yaelah mbak mbak, aku kan bercanda"
Viny: "enggak, pokoknya sekarang aku mau ngurangin porsi makanku dulu"
Aku: "mbak, aku kan cum......"
Viny: "udah makan, cepet"
Aku: "i i iya mbak"
Aku dan viny memilih fokus untuk menghabiskan makanan yang ada didepan kami. Tidak ada obrolan yang berlangsung antara aku dan viny selama kami sedang menikmati makanan kami masing-masing.
Viny: "eh nat, beby udah dirumah"
Aku: "darimana mbak tau?"
Viny: "barusan dia ngechat aku nih"
Aku: "ooohh"
Suasana sempat hening sejenak, sampai akhirnya viny kembali buka suara.
Viny: "ihh, kok cuma OH sih?"
Aku: "lah, emang aku harus ngerespon gimana mbak?"
Viny: "kamu gak pengen tau tentang sakti?"
Aku: "enggak deh"
Viny: "seriuus?"
Viny berkata seperti itu sambil menggodaku dengan senyum jahil dan alisnya yang dinaik turunkan.
Aku: "serius"
Viny: "oohh, yaudah kalo gitu"
Suasana kembali hening, aku dan viny sama-sama fokus untuk menghabiskan es teh kami yang masih tersisa.
Viny: "sakti itu udah deket banget sama keluarganya beby"
Aku: "lah, kok bisa putus mbak?"
Viny: "mmmmm, kasih tau gak ya??, tapi kayaknya kamu gakpengen tau deh"
Aku: "issh, kentang ah, infonya setengah-setengah"
Viny: "penasaran kaaaannn?"
Viny kembali tersenyum jahil untuk menggodaku.
Aku: "yaudah deh, iya iya, aku penasaran"
Viny: "naah, gitu dong"
Aku: "yaudah, pertanyaanku dijawab"
Viny: "gaksabaran banget sih nat"
Aku: "mbak, ayolahh"
Viny: "hehe, iya iya, jadi beby sama sakti itu udah pacaran dari SMA, mereka beda 2 tahun, jadi pas itu beby kelas 1, dia kelas 3"
Aku: "terus?"
Viny: "ya dulu sakti tiap hari nganterin beby pulang ke rumah, jadi sering ketemu sama mamahnya beby, sakti juga temenan sama kakaknya beby"
Aku: "terus?"
Viny: "mamahnya beby udah sayang banget sama sakti, udah dianggep kayak anak sendiri, malahan beby dibolehin kuliah dijogja soalnya dulu sakti sama kakaknya beby kuliah disini juga"
Aku: "oohh, emang sakti anak kampus kita juga mbak?
Viny: "bukan, dulu sakti kuliah di U*M, kalo kakaknya beby dulu sempet pendidikan di A*U"
Aku: "oh iya, aku baru inget dulu beby pernah cerita kalo kakaknya tentara"
Viny: "nahh iya, kalau sakti sekarang udah kerja di jakarta, jadi pegawai bank kalo gak salah, tapi aku lupa bank apa, yang jelas bank swasta, jabatannya juga udah lumayan lho nat"
Aku: "ooohhh"
Huuuhhh, ternyata dari informasi yang diberikan oleh viny, ternyata sakti laki-laki yang cerdas, terbukti dulu sakti pernah menuntut ilmu disalah satu kampus terbaik di jogjakarta ,bahkan indonesia. Ditambah lagi dia sekarang sudah bekerja disalah-satu bank swasta yang terdapat di jakarta dengan jabatan yang bagus.
Dan aku juga baru tahu bahwa kakak laki-laki beby adalah seorang tentara dengan pangkat perwira, dari cerita viny dia dulu dia pernah menjadi seorang taruna di A*U, para taruna ditempat itu memang sudah dipersiapkan untuk menjadi petinggi petinggi di TNI angkatan udara.
Viny: "jangan ah oh ah oh doang nat, kayaknya itu si sakti mau deketin beby lagi deh, kalo usaha kamu deketin beby masih gini-gini aja, pasti mereka bakal balikan"
Aku: "siapa yang deketin emang"
Viny: "ya kamu lah, pas banget lagi, dektinnya waktu beby sama sakti udah putus"
Aku: "lah, emang kapan mereka putusnya?"
Viny: "mmmm, 2 atau 3 minggu yang lalu kalo gak salah"
Oooooohh, sekarang aku jadi tau apa yang menyebabkan beby sempat terlihat sangat murung beberapa minggu yang lalu.
Viny: "wkwkwk, katanya gak deketin, tapi dipancing dikit aja langsung kepo lagi"
Aku: "gak kepo kok"
Viny: "serius?"
Aku: "serius"
Viny: "kalo kamu serius, kamu jawabnya duarius nat kayak kemaren"
Suasana kembali hening akibat candaan yang lumayan garing dari viny.
Aku: "issh, apaan sih mbak, garing banget"
Viny: "eleuh eleuhh, natha ngambekan euy"
Aku: "yaallah, dikit-dikit dibilang ngambek ih"
Viny: "hehehe, pieceeee, bercanda nat"
Karena makanan dan minuman yang kami pesan sudah habis, aku memutuskan untuk mengajak viny pulang.
Aku: "eh mbak, balik yuk, udah abis semua kan?"
Viny: "ayo deh nat, udah mau maghrib juga"
Setelah membayar pesanan kami masing-masing, aku dan langsung melajukan motorku untuk mengantarkan viny pulang kerumahnya.
Sesampainya aku dirumah beby dan viny, aku melihat sakti didepan rumah beby, sepertinya dia sedang bersiap-siap untuk pulang menggunakan mobil beby.
Viny: "eh, kak, baru mau pulang?"
Sakti: "iya vin, eh, mobilnya kubawa dulu ya vin, besok pagi aku kesini lagi balikin mobilnya sekalian balik ke jakarta"
Viny: "ooh, iya kak, santai aja, besok aku sama beby gak kemana-mana kok"
Viny: "oh iya, ini helmnya dyo nat, makasih ya"
Aku: "iya mbak, sama-sama"
Viny: "aku masuk dulu ya kak, nat, byeee"
Setelah viny masuk kedalam rumah, sekarang disini hanya ada aku dan sakti.
Pandangan kami saling bertemu, dia menatapku dengan tatapan yang sepertinya menunjukan ketidak sukaannya terhadapku.
.
.
.
Diubah oleh akmal162 31-03-2020 01:46
Herisyahrian dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas
