- Beranda
- Stories from the Heart
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
...
TS
chrishana
[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2
![[MATURE / 21+] Burung Kertas Merah Muda 2](https://s.kaskus.id/images/2019/01/08/9503613_20190108120951.png)
Quote:
Cerita ini adalah kisah lanjutan dari Burung Kertas Merah Muda. Kalian boleh membaca dari awal atau memulai membaca dari kisah ini. Dengan catatan, kisah ini berkaitan dengan kisah pertama. Saya sangat merekomendasikan untuk membaca dari awal.
Silahkan klik link untuk menuju ke kisah pertama.
Terima kasih.
Spoiler for Perkenalan:
Quote:
Polling
0 suara
Siapakah sosok perempuan yang akan menjadi pendamping setia Rendy?
Diubah oleh chrishana 02-04-2020 09:31
jalakhideung dan 59 lainnya memberi reputasi
54
274.9K
981
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
chrishana
#896
Chapter 61
Di salah satu bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu yang ditinggali oleh salah satu perempuan berparas cantik dan manis, masih terjadi perbincangan antara Fara dan Bella. Bella pun terlihat masih sibuk merubah penampilan Fara agar terlihat luar biasa. Dibekali dengan make up sederhana dan pakaian casual, Fara terlihat berbeda dari biasanya.
Fara dan Bella segera bergegas meninggalkan rumah kediaman Fara. Bella berhasil membuat Fara menjadi sosok yang berbeda layaknya bidadari. Rambutnya yang tadinya lurus tergerai panjang, kini dibuatnya tergerai namun bergelombang. Membuat mata para lelaki sekitar rumahnya pun pangling tak percaya.
Fara langsung masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Bella. Tak menunggu waktu lama, mereka langsung bergegas menuju tempat yang Fara pun tidak mengetahui. Setiap kali ditanya, Bella selalu menepis dengan berbagai alasan. Setelah 40 menit perjalanan, tibalah mereka di sebuah hotel mewah di daerah Jakarta Selatan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Bella dan Fara berjalan memasuki area hotel. Mereka disambut dengan ramah oleh pihak hotel, dari mulai kemanan hingga resepsionis. Hotel berbintang lima ini memang cukup terkenal dengan pelayanannya. Bahkan, welcome drinkatau biasa disebut minuman selamat datang tersaji secara elegan.
Tak lama kemudian, terjadilah percakapan antara Resepsionis dan pemesan kamar.
Bella dan Fara berjalan ke arah elevator sesuai arahan dari resepsionis. Fara yang bingung pun bertanya-tanya, pekerjaan apa yang akan diberikan oleh Bella dengan iming-iming bisa membeli semua apa yang ia mau. Fara terlihat sedikit ketakutan seraya langkahnya terasa berat dan kaku.
Akhirnya, sampailah Bella dan Fara di lantai 5 gedung hotel ini. Mereka berjalan menuju kamar yang sudah dipesan oleh Rama. Bella terus menggenggam tangan Fara dan terus menariknya. Terasa langkah Fara semakin berat, begitu pula Bella yang menariknya semakin keras.
Bella mengambil seutas tali plastik dari dalam tasnya dan mulai mengikat tangan Fara yang tak berhenti melawan. Bella terlihat kesulitan melawan adik sepupunya sendiri karena dia sendiri pun tenaganya tidak melebihi Fara. Hingga akhirnya, Bella berhasil membuat kedua tangan Fara menyiku di belakang punggung dan berhasil mengikatnya.
Bella pun keluar dari kamar dengan napas terengah-engah. Seperti baru selesai lari sejauh 100 meter. Rama yang melihatnya pun kebingungan dan melempar senyum ke arahnya.
Rama dan Bella telah menemui sebuah kesepakatan. Di mana Bella harus melakukan rencana jahat untuk hubungan anak dari Rama dan kekasihnya, Anita. Kebetulan, Bella juga menyimpan rasa benci dan dengki yang sangat besar terhadap Anita.
“Ini harus banget pake make up?”tanya Fara kepada Bella.
“Iya, Dong! Kamu harus kelihatan cantik pas kerja nanti…” ujar Bella.
“Emang kerja apa sih? Aku jadi penasaran…”
“Pokoknya, ya cukuplah buat kamu beli make up sendiri, ke salon untuk mempercantik diri… Atau, kamu mau handphone baru…” jawab Bella.
“Emang bisa? Jadi penasaran aku, Kak…”
“Bisa lah… Nanti aku ngomong sama client-ku biar kamu bisa dapat apa yang kamu mau…”
“Termasuk Rendy?”
“Bisa jadi… Siapa sih cowok yang mau nolak cewek cantik…”
“Hehehehe… Kak Bella bisa aja nih…”
“Ya udah, yuk! Kita berangkat.”
“Iya, Dong! Kamu harus kelihatan cantik pas kerja nanti…” ujar Bella.
“Emang kerja apa sih? Aku jadi penasaran…”
“Pokoknya, ya cukuplah buat kamu beli make up sendiri, ke salon untuk mempercantik diri… Atau, kamu mau handphone baru…” jawab Bella.
“Emang bisa? Jadi penasaran aku, Kak…”
“Bisa lah… Nanti aku ngomong sama client-ku biar kamu bisa dapat apa yang kamu mau…”
“Termasuk Rendy?”
“Bisa jadi… Siapa sih cowok yang mau nolak cewek cantik…”
“Hehehehe… Kak Bella bisa aja nih…”
“Ya udah, yuk! Kita berangkat.”
Fara dan Bella segera bergegas meninggalkan rumah kediaman Fara. Bella berhasil membuat Fara menjadi sosok yang berbeda layaknya bidadari. Rambutnya yang tadinya lurus tergerai panjang, kini dibuatnya tergerai namun bergelombang. Membuat mata para lelaki sekitar rumahnya pun pangling tak percaya.
Fara langsung masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Bella. Tak menunggu waktu lama, mereka langsung bergegas menuju tempat yang Fara pun tidak mengetahui. Setiap kali ditanya, Bella selalu menepis dengan berbagai alasan. Setelah 40 menit perjalanan, tibalah mereka di sebuah hotel mewah di daerah Jakarta Selatan.
“Kita ngapain ke sini, Kak?” tanya Fara.
“Duh, katanya kamu mau kerja… Mau ini, mau itu.” jawab Bella.
“Kerja apa di Hotel besar gini? Pelayan restoran?”
“Hhmm… Pelayannya sih benar, tapi bukan restoran. Yuk, ikut aku!” ajak Bella.
“Duh, katanya kamu mau kerja… Mau ini, mau itu.” jawab Bella.
“Kerja apa di Hotel besar gini? Pelayan restoran?”
“Hhmm… Pelayannya sih benar, tapi bukan restoran. Yuk, ikut aku!” ajak Bella.
Setelah memarkirkan mobilnya, Bella dan Fara berjalan memasuki area hotel. Mereka disambut dengan ramah oleh pihak hotel, dari mulai kemanan hingga resepsionis. Hotel berbintang lima ini memang cukup terkenal dengan pelayanannya. Bahkan, welcome drinkatau biasa disebut minuman selamat datang tersaji secara elegan.
“Permisi, mbak… Kamar pesanan atas nama Pak Ramaditya Aslam, nomor berapa ya?” tanya Bella pada Resepsionis.
“Ada keperluan apa ya, Mbak?”
“Saya tamunya…”
“Ditunggu ya, Mbak…” ujarnya seraya mencari nomor kamar dan nomor telepon kamar tersebut. “Oh iya, dengan mbak siapa maaf?” tanya resepsionis itu kembali.
“Bella…”
“Ada keperluan apa ya, Mbak?”
“Saya tamunya…”
“Ditunggu ya, Mbak…” ujarnya seraya mencari nomor kamar dan nomor telepon kamar tersebut. “Oh iya, dengan mbak siapa maaf?” tanya resepsionis itu kembali.
“Bella…”
Tak lama kemudian, terjadilah percakapan antara Resepsionis dan pemesan kamar.
“Halo, dengan Pak Ramaditya?”
“Iya, betul.”
“Pak, ini ada tamu yang ingin menemui Bapak. Namanya Bella.”
“Oh, tolong minta dia ke kamar saya aja ya, Mbak. Terima kasih!”
“Sama-sama, Pak.” Resepsionis menutup telepon. “Mbak, diminta langsung ke kamar saja. Nomor kamarnya 511. Dari sini, mbak lurus saja, nanti langsung naik lift ke lantai 5.” ujarnya.
“Terima kasih, Mbak… Yuk, Far.” Bella langsung menarik Fara.
“Iya, betul.”
“Pak, ini ada tamu yang ingin menemui Bapak. Namanya Bella.”
“Oh, tolong minta dia ke kamar saya aja ya, Mbak. Terima kasih!”
“Sama-sama, Pak.” Resepsionis menutup telepon. “Mbak, diminta langsung ke kamar saja. Nomor kamarnya 511. Dari sini, mbak lurus saja, nanti langsung naik lift ke lantai 5.” ujarnya.
“Terima kasih, Mbak… Yuk, Far.” Bella langsung menarik Fara.
Bella dan Fara berjalan ke arah elevator sesuai arahan dari resepsionis. Fara yang bingung pun bertanya-tanya, pekerjaan apa yang akan diberikan oleh Bella dengan iming-iming bisa membeli semua apa yang ia mau. Fara terlihat sedikit ketakutan seraya langkahnya terasa berat dan kaku.
“Kamu kenapa, Far?” tanya Bella.
“Kak, ini aku mau kerja apa ya… Kok di hotel gini? Pakai acara ke kamar lagi…” ujar Fara seraya menghentikan langkahnya.
“Banyak tanya deh kamu! Ayo cepat!” Bella menarik tangan Fara menuju lift.
“Kak… Aku takut… Kerjanya ga yang aneh-aneh kan?”
“Aneh-aneh gimana?”
“Aku ga disuruh untuk ngelayanin Rama itu kan?”
“Kalau kamu ga mau, ya udah kita pulang! Jangan harap kamu bisa dapetin Rendy!” ujar Bella seraya menghentikan langkahnya.
“I… Iya, Kak…” Fara pun pasrah.
“Kak, ini aku mau kerja apa ya… Kok di hotel gini? Pakai acara ke kamar lagi…” ujar Fara seraya menghentikan langkahnya.
“Banyak tanya deh kamu! Ayo cepat!” Bella menarik tangan Fara menuju lift.
“Kak… Aku takut… Kerjanya ga yang aneh-aneh kan?”
“Aneh-aneh gimana?”
“Aku ga disuruh untuk ngelayanin Rama itu kan?”
“Kalau kamu ga mau, ya udah kita pulang! Jangan harap kamu bisa dapetin Rendy!” ujar Bella seraya menghentikan langkahnya.
“I… Iya, Kak…” Fara pun pasrah.
Akhirnya, sampailah Bella dan Fara di lantai 5 gedung hotel ini. Mereka berjalan menuju kamar yang sudah dipesan oleh Rama. Bella terus menggenggam tangan Fara dan terus menariknya. Terasa langkah Fara semakin berat, begitu pula Bella yang menariknya semakin keras.
“Om! Bella nih!” seru Bella dari luar kamar seraya mengetuk pintu kamar.
“Hai, Bella! Masuk dulu…” Rama membukakan pintu kamarnya dan mempersilahkan Bella dan Fara masuk.
“Ini yang namanya Fara, Om…” ujar Bella.
“Hai, Fara…”
“Hai, Om Rama…” balas Fara sedikit ketakutan.
“Bella, Om mau bicara sebentar di luar…” Rama pun berjalan keluar kamar.
“Kak, aku mau ngapain sih di sini!” Fara mulai emosi.
“Udah diam! Mau Rendy nggak kamu!”
“Aku pulang aja deh… Minggir!” Fara mulai memberontak.
“Mau pulang naik apa kamu, hah!”
“Aku bisa pulang sendiri!”
“Diam nggak!” Bella mulai marah.
“Hai, Bella! Masuk dulu…” Rama membukakan pintu kamarnya dan mempersilahkan Bella dan Fara masuk.
“Ini yang namanya Fara, Om…” ujar Bella.
“Hai, Fara…”
“Hai, Om Rama…” balas Fara sedikit ketakutan.
“Bella, Om mau bicara sebentar di luar…” Rama pun berjalan keluar kamar.
“Kak, aku mau ngapain sih di sini!” Fara mulai emosi.
“Udah diam! Mau Rendy nggak kamu!”
“Aku pulang aja deh… Minggir!” Fara mulai memberontak.
“Mau pulang naik apa kamu, hah!”
“Aku bisa pulang sendiri!”
“Diam nggak!” Bella mulai marah.
Bella mengambil seutas tali plastik dari dalam tasnya dan mulai mengikat tangan Fara yang tak berhenti melawan. Bella terlihat kesulitan melawan adik sepupunya sendiri karena dia sendiri pun tenaganya tidak melebihi Fara. Hingga akhirnya, Bella berhasil membuat kedua tangan Fara menyiku di belakang punggung dan berhasil mengikatnya.
“Aduh! Kak! Kamu udah gila ya!” ujar Fara
“Kamu bisa diam gak! Kamu udah bikin aku emosi tau gak sih!” seru Bella sambil mengikat Fara.
“Aw! Sakit, Kak!”
“Biarin!” Bella menyandarkan tubuh Fara ke tiang besi ranjang lalu mengikat tubuhnya.
“Kak, lepasin nggak!”
“Berisik!” ujar Bella seraya mengikat kaki Fara. “Tunggu di sini! Aku mau ke depan!”
“Kak! Lepasin! Kak Bella!” teriak Fara sambil meronta keras.
“Kamu bisa diam gak! Kamu udah bikin aku emosi tau gak sih!” seru Bella sambil mengikat Fara.
“Aw! Sakit, Kak!”
“Biarin!” Bella menyandarkan tubuh Fara ke tiang besi ranjang lalu mengikat tubuhnya.
“Kak, lepasin nggak!”
“Berisik!” ujar Bella seraya mengikat kaki Fara. “Tunggu di sini! Aku mau ke depan!”
“Kak! Lepasin! Kak Bella!” teriak Fara sambil meronta keras.
Bella pun keluar dari kamar dengan napas terengah-engah. Seperti baru selesai lari sejauh 100 meter. Rama yang melihatnya pun kebingungan dan melempar senyum ke arahnya.
“Kamu kenapa, Bel?” tanya Rama.
“Ada sedikit kendala teknis, Om… Tapi, udah aman…” ujar Bella seraya menghela napas panjang.
“Jadi gini, Gavin tadi minta uang sama saya buat betulin mobilnya. Jumlahnya ga sedikit…” ujar Rama.
“Terus?”
“Saya titip uangnya di kamu, tapi jangan kasih dia dengan mudah.” ujar Rama.
“Maksudnya?”
“Kamu tau pacarnya?”
“Anita? Duh, Om… Nyebut namanya aja lidahku kebakar rasanya… Cewek sok cantik!” ujar Bella kesal.
“Ternyata, dia itu keponakan Winarto keparat! Saya ga mau ada dia di hidup keluarga saya… Bisakah kamu bikin Gavin untuk membuat pacarnya hancur berantakan? Nanti om kasih dua kali lebih besar kalau berhasil…”
“Hahahahaha… Dengan senang hati.” ujar Bella tersenyum jahat.
“Ada sedikit kendala teknis, Om… Tapi, udah aman…” ujar Bella seraya menghela napas panjang.
“Jadi gini, Gavin tadi minta uang sama saya buat betulin mobilnya. Jumlahnya ga sedikit…” ujar Rama.
“Terus?”
“Saya titip uangnya di kamu, tapi jangan kasih dia dengan mudah.” ujar Rama.
“Maksudnya?”
“Kamu tau pacarnya?”
“Anita? Duh, Om… Nyebut namanya aja lidahku kebakar rasanya… Cewek sok cantik!” ujar Bella kesal.
“Ternyata, dia itu keponakan Winarto keparat! Saya ga mau ada dia di hidup keluarga saya… Bisakah kamu bikin Gavin untuk membuat pacarnya hancur berantakan? Nanti om kasih dua kali lebih besar kalau berhasil…”
“Hahahahaha… Dengan senang hati.” ujar Bella tersenyum jahat.
Rama dan Bella telah menemui sebuah kesepakatan. Di mana Bella harus melakukan rencana jahat untuk hubungan anak dari Rama dan kekasihnya, Anita. Kebetulan, Bella juga menyimpan rasa benci dan dengki yang sangat besar terhadap Anita.
“Loh, kok kamu diiket gini, Far?” tanya Rama seraya masuk ke dalam kamarnya.
“…” Fara hanya diam membisu.
“Kurang ajar banget si Bella…” Rama membukakan ikatan Fara.
“…” Fara hanya diam membisu.
“Kurang ajar banget si Bella…” Rama membukakan ikatan Fara.
Diubah oleh chrishana 30-03-2020 11:09
jenggalasunyi dan 6 lainnya memberi reputasi
7