Kaskus

Story

tabernacle69Avatar border
TS
tabernacle69
Balada Kisah Remaja Genit (Jurnal Komedi)
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Siapa tokoh yang paling kamu benci?
Freya
0%
Arang
0%
Burnay
0%
Asbun
0%
Dedew
0%
Diubah oleh tabernacle69 29-11-2020 17:52
wanbillionAvatar border
ekopermonoAvatar border
makgendhisAvatar border
makgendhis dan 50 lainnya memberi reputasi
49
49.6K
632
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
tabernacle69Avatar border
TS
tabernacle69
#376
23 — Gue dalam dunia perantauan.
Satu hal lagi, gue sudah ingat dari kemarin tapi belum sempat gue tulis... bahwa pada hari itu setelah pulang dari rumah ateu Malta di Van De Venter, kami dijemput oleh pak Dayat, sopir pribadi amih Ageung. Menaiki volkswagen nya amih.

Saat berada diluar rumah, hari sudah mulai petang, dan gue, eh, gue, maksud gue, mengambil seekor anak kucing, yang sambil gue ngobrol ngobrol diluar rumah ateu Malta, gue tungguin, mungkin ada sekitar 40 menit, induknya tidak kembali, usia kitten nya sekitar 2 bulanan. Warna nya silver marble. Kondisinya ya bisa dibilang begitulah, memprihatinkan.

Gue ingat gue titipkan kucing itu dirumah Asbun. Biar jadi teman main nya si Dumara. Langsung telfon groomer nya teteh Essa untuk segera diobati. Sambil dikarantina lalu diobati sedikit demi sedikit, karena gue sudah mau pindah.

_______

Note:

Hujan lagi, hujan angin, dari jendela ini, gue menatap, barusan Nielsen ada cari insight, yang di tanyakan, gedungnya, tepat di seberang mata kemana gue memandang. Hahahaha, that was like, sebegitu sempitnya kah, market disini?

........

Dalam ingatan gue, pada hari senin di bulan Desember tahun itu gue berangkat sendirian, berangkat secara mandiri. Yang seharusnya diantar oleh pak Dayat sampai ke Husein Sastranegara berubah menjadi naik taksi lokal milik armada taksi swasta.

Yang seharusnya gue menerima tawaran dari tante Elfa agar gue mengudara dengan om Neal saja berubah menjadi penerbangan dengan maskapai lokal. Kalau dirunut secara teliti dan seksama, ada dua perselisihan disini. Lho, perselisihan apa?

Yang pertama adalah perselisihan diantara bapak gue dengan nyonya Tintjeu Prawiraatmadja. Yang kedua perselisihan antara bapak gue dengan tante Elfa yang cantik dan baik hatinya. Tidak ada privilese (wewenang) khusus untuk gue, dan yang menang perselisihan pastinya adalah bapak gue. Alasan nya biar gue belajar mandiri dan belajar tidak selalu menerima bantuan dari orang lain. Tidak ada yang mendebat.

.....

Petang hari dalam waktu Indonesia barat gue takeoff bersama maskapai lokal dengan jantung yang dag dig dug, friends. Unlike my cousin Burnay atau Opop, atau sobat gue, eh, sobat gue, maksudnya. Si Asbun yang sangat bisa bertoleransi terhadap perjalanan via udara, gue dan wajah gue bisa pucat setengah mati kalau sudah disuruh naik pesawat. What you don't know about me is that my heart belongs to the sea. Terbiasa menaiki kapal laut dari sejak balita. Membuat gue kayak mayat hidup kalau sudah berada di atas udara. Panik, pesawat goyang sedikit, gue langsung keluar air mata.

Dan kalau soal pelabuhan, jika via jalur laut, tentu saja pelabuhan sunda kelapa selalu menjadi pelabuhan yang terbaik, dari yang terbaik. Ngotot hahahaha. Kalau soal laut, jangan tanya, bagi gue ya perairan Arafura lah yang terbaik.

.....

Sekitar tiga sampai empat jam, kurang lebih, durasi penerbangan nya, dan beruntung gue, bahwa penerbangan gue itu aman dan tentram. Gue ingat persis waktu naik maskapai burung dara, kuping gue sakit luar biasa nggak ngerti karena apa, sampai keluar air mata dan pas gue ceritakan itu sama si Asbun, dia bilang seharusnya gue mengenakan earplug di saat mau naik pesawat. Baru tahu gue..

.....

Satu atau dua peristiwa adalah hidup gue, gue mungkin adalah orang yang penuh dengan ketidak sempurnaan. Contohnya, gue selalu lebih senang mendengarkan orang mengoceh dibandingkan dengan gue harus mengoceh didepan mereka. Gue juga jauh dari kata meriah, berani, terbuka, ekstrovert, apalagi mencintai keramaian.

Berbanding terbalik dengan Burnay, seperti yang sudah gue utarakan sebelumnya, seperti Gryffindor dan Slytherin, Burnay adalah seorang Gryffindor sedangkan gue adalah seorang Slytherin. Burnay punya tempat dimanapun dia ingin berada, dimanapun dia ingin bersuara, suaranya dapat terdengar jauh lebih keras terdengar bila dia sudah berbicara.

Burnay punya tempat untuknya di lingkungan sosial dalam circle kehidupan kami. Tapi, bagaimana dengan diri gue? Apakah gue tidak punya tempat di muka bumi ini, apakah gue tidak punya tempat dalam lingkungan bersosial gue?

Tentu saja gue punya tempat. Tuh, tempat gue, di dekat glass wall yang transparan, melihat setiap lot gue berkembang di layar elektronik, melihat lihat ranting pohon bergoyang, tersenyum manis karena semua usaha yang dulu gue perjuangkan, kini membuahkan hasil.

Kalau mau cerita dulu waktu susahnya gue berdagang kesana kemari pasti orang langsung menguap. Nanti aja, kapan kapan lah ya.

Begitupula halnya dengan Burnay, sekarang, tempatnya adalah di ruang meeting, mengkalkulasi manajemen resiko dari perusahaan yang dia benci setengah mati, tapi tetapi dia lakukan karena pada dasarnya dia hobi ngomong, dia hobi memberontak, dia hobi bikin gagasan baru. Begitupula dengan Opop yang melanglang buana di dunia media ala ala, di negeri kita ini..

Jadi, akan selalu ada tempat bagi masing-masing individu di muka bumi ini, kita hanya perlu menemukan tempat mana yang cocok dengan diri kita.

....

Selanjutnya, sesampainya gue mendarat di Sepinggan, narik narik Samsonite gue sendiri... jadi ingat jaman kelas 4 SD dulu... pulang sekolah jalan kaki sendiri... 20 kilometer dari sekolah ke rumah... Hahahahaahaha, hidup benar benar sebuah extravaganza.

Setahun yang lalu, gue juga pernah bahas tentang, 'retired from the city' dan perlukah sebenarnya keluar dari 'zona nyaman' itu? Dengan Freya, Opop dan Burnay, minus yang lainnya. Nanti lah gue ceritakan...

.....

Tiba di sepinggan pukul 9 atau 10 malam, tapi sampai disana jadi jam 11 malam karena sudah masuk waktu Indonesia bagian timur, jam tangan gue yang bergambar Rich Uncle Pennybags dari Swatch, ha ha, masih kecil sekali ya rupanya. Offboarding sendiri sambil mendorong dorong koper gue, dengan kaus berwarna putih dari Osh Kosh dan cargo pants panjang berwarna camo dari Ecko.... ha ha ha ha. Udah langka ini sekarang.

Moving fast dan bertemu dengan orang yang mencari gue di bandara itu, tangan nya melambai lambai, kemudian kami bertemu. Pak Amin namanya, gue masih ingat karena wajahnya mirip Jafar yang ada di film animasi Aladdin. Jafar dengan citarasa nasional. Pak Amin berkumis Baplang.

Setelah itu, gue naik mobil dan sekitar dua jam kurang kami pun tiba di lajur berkecepatan tinggi, sambil mengitari sungai Mahakam. Ini gue coba ingat ingat sebisa mungkin, karena mungkin salah satunya gue ingat ada tempat unik yang bernama pulau Kumala, disana ada kereta gantung yang bikin nyokap gue teriak teriak setengah mati.

Gue ingat, waktu itu ada tempat beribadah yang besar banget, belum rampung pembangungan nya.

Jalanan demi jalanan kami telusuri, gue lewat sebuah tempat, jalanan Karpotek namanya, ujar pak Amin, sebuah kawasan hunian yang gue agak agak ingat sampai hari ini. Karena disitu ada internet cafe yang didalamnya kita bisa memainkan game yang bernama Ragnarok Online.

Nggak mungkin gue lupa... Sama yang begini. Jual kartu deviling bisa punya honda Jazz. Sungguh seperti sebuah mimpi. Mimpi yang tiba tiba terwujud, lebih tepatnya lagi. (A dream comes true)

.....

Barusan habis surfing homepage kasakkusuk, masih nggak nyangka kalau sebenarnya tampilan situs ini sudah berubah sekali. Masih gue ingat dalam benak gue tampilan yang lama. Yang familiar dan masih banyak spesimen unik kayak BWK, bandwidth killer, kemudian yang paling senior ya BB21++.

Subforum flora dan fauna pastinya belum ada... Kemudian kalau mau leluasa harus pakai Melsa dulu, hahahahahaha. Kalau nggak Melsa ya telkom, yang pakai kabel telpon rumahan, ada bunyi nya dulu sebelum terkoneksi. Tapi kalau dirumah ang Maddie ya enak, dia pakai Biznet, kalau istilah jaman sekarang nya, "Sultan mah bebas..."

Terus dulu ya sering liat ang Maddie pakai untuk reply di salah satu subforum dengan teh Essa yang lagi kuliah di UK. Tapi sekarang hot thread nya lucu, membahas tentang wisata prostitusi di puncak. Hahahahaha. Kalau ingat mucikari ya ingat siapa lagi... bahkan beberapa komentar kaskuser nya juga ada yang lucu.

Oh ya... Dulu juga cendol dan bata betul betul krusial... Wah... Kasakkusuk banyak berubah ya...

.....

Ah, pakai 'gue' ternyata susah sekali, ya.
Beda rasanya.

Seperti bukan gue.

....

Dalam perjalanan gue di malam hari itu... gue tetap terjaga, dari bandara Sepinggan di kota Balikpapan... gue melewati bukit Soeharto bersama dengan pak Amin. Sepinggan malam itu sepi, duty free shop hanya sedikit yang buka. Belum ada Lotte DFS, yang pasti. gue mendorong dorong koper traveling gue sendirian dengan kondisi yang justru malah semakin terjaga.

gue ulangi lagi berkali kali dalam jurnal tulisan gue ini agar gue dapat merasakan kembali bagaimana rasanya menjalani hidup di waktu waktu itu.

Malam di tanah Kalimantan berasa hangat. Beda jauh dengan di Bandung. Yang dingin dan angkuh. Kalau mau mencairkan ke angkuhan nya tinggal menyalakan perapian dan mengambil bir dari dalam kulkas. Atau mengambil sosis untuk dibakar. Tinggal pada vila vila di wilayah Bandung utara memang demikian adanya.

Namun malam hari itu di Sepinggan, Kalimantan. gue berkucuran keringat, menuju exit gate dengan tubuh setinggi 155 centimeter sendirian tanpa dikawani oleh siapapun. Kemudian menemui pak Amin, seorang sopir bukan sopir pribadi yang diminta oleh bapak gue untuk menjemput gue di bandara Sepinggan.

Sebuah bandara yang baru gue kenal. Karena dalam seumur hidup gue, gue hanya mengenal tiga bandara saja. Sultan Mahmud Badaruddin dan Husein Sastranegara, kemudian Soekarno Hatta.

Berbeda jauh dengan Burnay, Freya atau Opop yang sering menyambangi banyak bandara dalam pengalaman hidup mereka, seperti Narita, Schipol, Doha atau Changi. Belum lagi kalau membahas tentang si Asbun, orang itu kami sebut manusia yang rumahnya di bandara karena kami semua sudah pasti kalah kalau mau tanding-tandingan soal bandara dan aneh anehnya dia itu kalau sudah ngobrolin soal dunia dirgantara.

Masing masing orang punya field of expertise nya masing masing. Disini secara singkat coba gue ulas kembali. Menjadi additional info jikalau nanti semua tulisan gue disatukan kembali kedalam satu dunia yang sama.

gue hanya perlu editor yang tepat saja, mungkin nanti kalau gue sudah merasa cukup dan puas didalam kegiatan nge-jurnal yang gue lakukan ini.

Burnay dengan dunia manajemen dan manajerial yang sudah lama dia tekuni. — Nyebrang dikit bisa ngobrol soal musik kalau sama si Burnay itu.

Freya dengan dunia arsitektur nya. Nyebrang dikit bisa ngobrol soal fauna berkantung udara.

Ashburn dengan dunia dirgantara nya. Nyebrang dikit bisa ngobrol soal musik juga kalau sama Asbun, paling enak kalau gue Burnay dan Ashburn ngumpul, kami ngobrol musik.

.... Opop, kalau kita fast forward, Opop senang dengan literasi. Media dan komunikasi adalah dunia nya. Sama kayak ang Maddie, Opop adalah sepupu kecil kesayangan ang Maddie, yang suka ngomong, "It's primetime!" Keras keras sampai gue kesal dan ngomong kasar.

.....

Sampai gue cuma bisa geleng-geleng kelapa, eh... Geleng-geleng kepala, maksudnya.

Bedanya Opop di media verbal sedangkan ang Maddie di media non verbal, yaitu visual, fotografi. Masih adakah tempat bagi orang orang seperti mereka di dunia ini? Tentu saja masih ada. Selama dunia masih berputar, tentu saja masih ada. Memang nya.. bagaimana cara kita mengenalkan foto kakek kakek kepada anak kita apabila mereka tidak sempat bertemu?

Melalui foto... Kakek kakek.

Anyway, setelah tiba di Kalimantan Timur, gue disambut dengan papan yang bertuliskan, "Selamat datang di Samarinda." tapi karena sudah gelap tidak terlalu bergelora jadinya.

Melalui jalan Karpotek. gue masih terjaga, selebihnya pada jam 1 dini hari gue bablas. Tidak lama kemudian gue merasakan bahwa bahu gue ditepuk oleh seseorang, sambil memanggil manggil nama gue.

"Bang, bangun. Kau sudah sampai." Ujarnya agak berbisik.

gue mengedipkan mata gue beberapa kali, terasa kering karena air conditioner yang menyala sejak tadi.

"Duduk dulu kau, baru turun dari mobil." Ucapnya lagi dengan suara beratnya layaknya seorang bapak bapak.

......

Diatas paragraf itu gue sudah sedikit menjelaskan tentang orang-orang dalam lingkungan hidup gue dengan berbagai macam bidang kehidupan nya. Kelihatan nya enak ya? Betul... Sebagian besar memang mereka hidup nyaman, tapi tidak semuanya. Karena masing masing dari mereka memiliki masalahnya tersendiri, yang jelas kalau soal masalah finansial, gue akan tarik semuanya kecuali Opop.

Betul, Opop punya masalah finansial. Dan masalah keluarga. Tapi nanti akan gue bahas.

Lalu gue sendiri kok tidak membahas tentang diri gue? Apa field of expertise gue? Apa masalah yang gue jalani? Apakah masalah finansial ataukah masalah kekeluargaan?

Yang jelas, gue berani jamin, anda akan ketawa ketawa kalau anda mendengarkan kisah tentang hidup gue. Karena pasalnya, gue terlahir di jalan, gue mencari uang di jalan, dan gue ditempa di jalan...

Mau ketawa? Silakan... Tapi gue dengan segala macam kekurangan gue termasuk kekurangan keluarga gue, semuanya berasal dari jalanan...

Ada orang yang pernah mengatakan satu hal untuk gue, "Darah boleh biru. Tetapi mentalitas kita tidak boleh."

Lalu, apakah maksud dari perkataan tersebut?

.....

Dan orang itu adalah orang yang membangunkan gue pada malam hari itu, betul, bapak gue lah yang berkata demikian kepada gue. Dan bapak gue lah yang membangunkan gue pada malam itu... Iya, bukan yang lain lain...

Jadi arti... dan maksud dari perkataan darah boleh biru itu adalah, anda boleh saja, dalam sejarahnya, adalah keturunan menak, juragan, priyayi, ningrat, bangsawan, atau apapun itu.

TETAPI MENTALITAS ANDA TIDAK BOLEH BIRU.

Jadi artinya, mentalitas kita tidak boleh angkuh, tidak boleh lemah. Begitulah prinsip kehidupan yang dia ajarkan kepada gue. Jaman semakin modern, imperialisme dan feodalisme semakin lama semakin terkikis oleh jaman. Jadi yang namanya stratifikasi sosial sekarang laddernya nya dibentuk oleh jabatan, aset dan reputasi sosial.

Bukan hanya histori semata lagi, yang kalau misalnya disebut sebut si ini adalah keturunan Anak Agung Anak Gede Buncit Perutnya obesitas dan segala macam, mungkin masih dipakai, tapi semakin kesini semakin bisa dikalahkan oleh si Tarjo yang omset penjualan baksonya mencapai 35 miliar per kuartal nya.

Sungguh berbanding jauh apabila dibandingkan dengan DEVIDEN tahunan nya Pokphand and their brothers.. hahahha... jadi ayam saja anda, kalah nominal oleh hasil penjual bakso nya si Paijo, yang cabangnya tersebar di seluruh nusantara. Atau bisnis akuatik ikan ikan eksotis nya si Tompel Tonggos yang tempo hari gue dapati baru saja membeli 1 buah kuda besi berlogo trisula setan edisi Gran Turismo, impor langsung dari luar negeri... dari Shanghai.

Mencret, memang.

gue nggak akan bawa bawa virus corona ya, nggak etis, dan nggak pantas jadi bahan lucu lucuan. Kalau mau jadi mahluk rasis jangan saat orang kena tragedi. Nanti kayak si Freya jadinya, ditempeleng sama istri orang gara gara ngetawain suaminya yang 'anu' nya berukuran imut.

.......

Kembali lagi ke kursi penumpang di mobil yang gue tumpangi, dini hari itu.

gue membuka mata, lalu mendapati bapak gue ngomong lagi, "Morgen, zoon." artinya pagi, nak.

"Morgen." Balas gue.

"Nggak sulit kalau kau mau beranjak. Gimana sendirian, aman kau? Pesawat mati nggak?" Tanya bapak gue lagi.

"Aman pak. Nggak lucu pak."

"Ha. Ya.. ayo masuk kau. Tidur di kamar ini, bilang makasih kau sama om Amin." Perintahnya pada gue.

"Makasih Pak Amin." Ucap gue lalu turun dari mobil dan koper gue segera diambil oleh bapak gue.

"Ini Samarinda, kau di Samarinda. Kalimantan Timur." Seraya menepuk bahu belakang gue, bapak menjelaskan.

"Binda dan adik kau datang nanti, bulan depan, ayo masuk dulu." Ucapnya sambil berjalan berdua dengan gue, memasuki sebuah rumah yang sungguh asing.

Kelihatan tanaman tanaman nya baru dipotong, dan mungkin rumah ini memang jarang dihuni.

Akhirnya, dengan galaksi yang masih nampak gelap, gue turun dari Vogue yang sudah berjasa mengantarkan gue. Termasuk pak Amin. Dan segala macam obrolan menariknya tentang hantu di Bukit Soeharto yang dia kisahkan kepada gue.

......

"Kita gak akan lah lama tinggal di rumah ini, besok kita pindah rumah, ini cuma rumah sementara dari kantor untuk aku. Besok kau ikut aku lagi ke rumah yang baru ya." Ujar bapak gue lalu ia mengakhiri obrolan diantara kami berdua dan masuk ke dalam kamar tidurnya.

Belum sempat memandangi seisi rumah itu untuk diabadikan kedalam memori gue, gue sudah diberikan keputusan untuk pindah rumah lagi. Jadi dini hari itu, gue mengakhiri semuanya dengan terlelap tidur pada pukul 3 pagi. Waktu Indonesia bagian timur.

Sebelum gue tidur, ada satu hal lucu yang gue alami di saat itu, salah satu ponsel gue, yang gue bawa dari Bandung, operator nya adalah Three (3) dan Kartu Halo, nah, yang Three ini, waktu itu ada promo besar besaran, karena mereka baru opening, isi pulsa 20 ribu gratis 100 ribu, jadi siapa yang tidak mau, gue sudah pasti ikutan beli, cuma... lucunya, kartu three yang gue bawa dari kota Bandung ini, malah mati, keok, tidak ada sinyal nya di Kalimantan.

HAHAHAHAHAHAHAHAHA, gue baru sadar, dan gue sadar banget saat itu, bahwa sesungguhnya Indonesia yang sebenar benarnya itu hanyalah di pulau Jawa. Di pulau lain ya bukan Indonesia, berikut tidak ada sinyal seperti ini.

HAHAHAHAHAH.

TIDAK INGIN, eh, maaf, capslock nya lupa gue matikan, tidak ingin membahas lebih jauh lagi tentang ini, gue melihat ke arah ponsel gue yang satunya lagi, yang penyedia layanan alias operator nya adalah kartu halo, ternyata masih hidup sinyalnya, hahahaha, untunglah.

Kartu halo dengan biaya tetek bengek abodemen nya yang memang mahal, hingga saat ini belum pernah mengecewakan gue. Berapa ya Halo tuh waktu itu kalau nggak salah, sebulan sejuta atau delapan ratus gitu kalau nggak salah.

Namun, siapa yang tahu bahwa kedepan nya di pulau Kalimantan ini gue harus pakai Indosat, hahhahaha, demi mengikuti perkembangan sosial yang terjadi disini.

Alias... demi awewek, gue harus rela pakai Indosat. Ini juga nanti akan gue segera ceritakan bagaimana kisahnya, yang jelas, gue cuma nggak nyangka aja harus pakai Indosat. Karena yang gue tahu seumur hidup ya hanya telkomsel saja.

.....

So i sat on a chair, my old man pass me the AC remote, and he say, "Atur atur suhu AC nya, ini Kalimantan jadi ya pasti panas. Bapak tidur di kamar sebelah, kau disini, rumah ini kosong, tapi ada beberapa perabot itu di dapur, nah, kalau kau lapar dan mahu makan, kau ambil di dapur, ada roti atau apalah itu, kau buat saja sendiri bang."

"Oke pak."

Malam itu tidak dihiasi dengan percakapan yang panjang lebar, namun bapak sempat bilang seperti ini kepada gue, "Disini kau merantau, kau atur atur hidupmu layaknya kau atur atur hidupmu di Rasamala. kau pandai pandai menyesuaikan diri disini, ya bang. Aku percaya kau pandai lah, nah, ini apa ya namanya..."

"Ini episode baru dalam hidup kita, aku bekerja di Riotinto sekarang, jadi saat ini kau ikut aku untuk coba merantau juga, jadi biar kau paham rasaku bertualang saat bekerja, biar paham kau rasa jadi orang rantau. Jangan cuma tahu Nokia dan Nirwana saja kau bang. Atau Nagnarok Nagnarok itu lah, gim yang sukak kau mainkan."

"Paham kau ya? Kita sudah sepakat. Jadwalku bekerja mulai dari Monday sampai Friday. Aku pergi jam anam (6) dan kembali pukul lima (5) petang, tapi kalau tugasku banyak, aku pulang pukul sembilan malam."

Keesokan paginya gue terbangun, dengan kondisi kedinginan karena tidur di ruangan ber AC, kemudian kelaparan karena gue lupa kapan terakhir gue menyantap makanan.
Diubah oleh tabernacle69 06-04-2020 02:52
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.