- Beranda
- Stories from the Heart
Menikahlah Denganku! (Episode 1)
...
TS
suwokotumdex
Menikahlah Denganku! (Episode 1)


Spoiler for DAFTAR EPISODE:
Cerita ini sudah tamat Volume 1, so nantiin update Volume ke-2, ya! Kalau mau kasih kritik dan saran, monggo silakan 
Bagi yang mau baca novel ringan ini dalam bentuk komik Webtoon, bisa klik aja di sini
EPISODE 1 - Kehidupan Baru di Dunia Lain
Bagaimana bisa aku menerima permintaan konyol seperti itu? Menikah? Arghhh! Aku bahkan belum pernah sekalipun menyentuh wanita. Berada di dekatnya saja sudah cukup membuatku berkeringat dingin. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa menikah dan melakukan hal tabu di malamnya.
Tidak! Tidak! Tidak!
Aku masih terlalu muda untuk ternodai, aku terlalu naif untuk mengerti, aku masih terlalu kekanakan untuk menjadi seorang suami, apalagi ayah.
TIDAK!!!
Membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi.
Crasss!
Sebatang anak panah menusuk punggung. Seketika tubuhku limbung, sebelum akhirnya jatuh saat kaki tersangkut akar. Mencium tanah berlumpur, pandanganku mengabur. Rasanya ada yang mengalir di bahu, semakin lama semakin banyak, ditambah rasa nyeri yang kian menjalar. Namun, aku harus terus berlari atau kawanan wanita haus berahi itu berhasil menangkapku. Harus!
Sekelebat bayangan manusia mendadak muncul di depanku. Meski tak terlalu jelas sosoknya. Namun, dia seperti perempuan berasurai panjang berkibar mengikuti gerakannya yang cepat. Tangannya lembut mengangkat kepalaku pelan, lantas sedikit menghentakan telapaknya ke dahiku.
Setelahnya hanya kegelapan yang menutup kesadaran.
Aku terlonjak, mengangkat tubuh yang penuh dengan peluh. Dada berdebar tak keruan, dunia serasa berputar, membuat kepala ini pening. Namun, bukan itu yang menjadi masalahnya.
Sekarang di mana aku?
Tempat ini sangat asing. Aku terduduk di atas ranjang kayu, di sebuah ruangan yang berdinding kayu juga.
Lengang, tak ada siapapun, hanya nakas yang di atasnya terdapat jendela dengan gorden terbuka, membuat cahaya dapat masuk, memberikan kehangatan pagi. Selain itu, tak ada apapun lagi.
Sebenarnya apa yang terjadi? Tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat yang aneh ini. Terakhir kali yang kuingat, aku mendadak berada di tengah-tengah sebuah pasar yang seluruhnya berisi wanita saja. Namun, yang lebih mengerikan dari semua itu adalah, mereka mengejarku layaknya zombie haus darah. Namun, mereka lebih menginginkan hubungan badan daripada menyedot darahku. Apa-apaan itu?
Kuusap peluh di wajah, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya hingga aku bisa sampai ke sini. Ya, sebelum aku mendadak terbangun di pasar mengerikan itu.
Sebelumnya
Malam yang dingin memaksaku memasukan tangan ke kantung hoodie oranye ini. Meski sudah memakai pakaian rangkap, tetap saja dingin malam ini berhasil menembus sampai ke kulit. Tidak biasanya, padahal Jakarta yang kukenal adalah kota yang panas dan memuakan bagi para pecundang sepertiku.
Haah! Aku jadi ingat lagi tentang sosok payah ini.
Setiap hari kulewati hanya dengan berdiam diri di dalam kamar. Mencari pekerjaan tak pasti lewat dunia maya sudah menjadi rutinitas.
Kadang aku menawarkan jasa kepada para ‘penulis’ malas yang hanya ingin mencari nama tanpa mau berusaha. Mengakui setiap ketikanku sebagai karyanya, tentu saja setelah mereka membayar jasaku sebagai 'penulis hantu'. Penulis yang bekerja di balik bayangan, tanpa mengharapkan namanya dikenal oleh banyak orang. Ya, setidaknya mereka membayar dengan harga yang sesuai. Lagi pula hanya pekerjaan seperti inilah yang bisa dilakukan penunggu kamar sepertiku. Tanpa harus beradu dengan panasnya Jakarta, atau mendapat tekanan dari bos besar, aku sudah cukup bahagia.
Akan tetapi, jika sudah berada di luar seperti ini ... rasanya aku seperti tengah berada di tempat yang sangat asing. Seolah ada mata yang terus mengikuti setiap kaki melangkah. Rasa tidak nyaman yang selalu membawa aura negatif.
Memang, jarak minimarket ini dengan indekos tidak terlalu jauh. Namun, jujur saja tidak ada manusia yang kukenal baik di sini, kecuali pria tua yang bekerja sebagai kasir itu.
Sekantung kresek berisi tiga bungkus mie instan, beberapa butir telur, dan serenteng kopi saset, kuangkat. Setidaknya makanan sederhana ini bisa menemaniku bergadang sampai tiga hari ke depan.
Aku berdiri di bawah lampu jalan, tempat yang sepi membuat otak kembali mengingat kejadian lima tahun silam. Ah, tidak ... aku tidak ingin mengingat akhir dari pertikaian keluarga itu. Hanya luka yang bisa kudapat.
Aku menghela napas panjang membuang segala pikiran negatif. Menoleh ke kanan-kiri, jalanan kecil ini tampak sepi. Tak ada tanda-tanda kendaraan lain yang akan melintas.
Kumelangkah, tapi batinku masih diam. Ada yang tengah memperhatikan dari belakang, seperti sedang mengikuti. Aku berhenti dan memutar tubuh, tak ada siapapun kecuali tiang lampu jalan yang baru kulewati.
Mungkin hanya perasaanku saja.
Namun, saat kembali menghadap ke depan, sesosok perempuan berjubah putih penuh darah dan tanah merah, berambut panjang menutupi muka, dan bau anyir memualkan. Sesaat waktu seperti berhenti, sementara mataku terpaku pada makhluk itu.
"KUNTILANAK!"
Spontan aku meloncat ke arah jalan, dan dengan cepat sebuah benda keras menghantamku. Aku merasakan tubuh ini melayang beberapa detik di udara sebelum akhirnya jatuh menghempas aspal.
Bunyi gemeletak terdengar keras, tulang punggungku seperti remuk.
Aku berusaha bangkit sambil menahan rasa nyeri. Namun, sia-sia. Aku tak mampu bergerak sedikitpun, bahkan untuk berteriak pun tak bisa.
Apa aku akan mati?! Aku sudah tidak kuat lagi.
"Ikutlah denganku!" Suara itu berdengung bersamaan dengan seorang gadis yang tampak siluet berjongkok di sampingku. Ia berambut panjang ... baunya wangi ... mungkinkah dia sesosok malaikat?
Aku meringis, mencoba mengeluarkan suara. "Ka-kamu ... siapa?"
Tak ada jawaban kecuali hentakan pelan di dahi, membuatku hilang kesadaran.
"Perempuan itu ... dia yang menolongku dua kali."
Derit suara pintu terbuka, membuat lamunanku seketika buyar. Seorang gadis bergaun hijau, surai kecoklatan menjuntai hingga punggung, berdiri di ambang pintu. Mata indah berbulu lentik, dan manik hazel, beradu dengan mataku.
Seulas senyum terlukis di bibirnya yang ranum.
"Anda sudah bangun?" tanyanya seraya mendekat.
Tunggu, dia perempuan, 'kan? Apa dia akan memaksaku untuk menikahinya seperti sekumpulan wanita mengerikan tadi malam.
"Tidak! Jangan! Aku tidak ingin menikah denganmu!" Spontan aku berteriak.
Aku harus pergi, bagaimana pun juga, aku harus lolos dari tempat ini. Celah, celah ... di mana kau? Ah, di sana. Jendela.
Aku meloncat dari ranjang dan hendak ke luar tapi tangan gadis itu berhasil menahan, dan menarikku ke belakang hingga kami jatuh bersamaan.
Sialan! Kenapa dia lebih kuat.
"Lepaskan aku!"
"Tidak!" teriaknya. Semakin mengetatkan dekapan.
"Aku tidak mau melakukannya, tidak, sampai aku ingin sendiri. Jangan memaksaku untuk menikahimu!"
"Saya tidak akan memaksa Tuan untuk menikah saya, atau melakukan mating dengan Anda. Saya hanya ingin kesehatan Anda kembali pulih!"
Ha?
Aku terdiam sesaat mendengar ucapannya. "A-apa maksudmu? Kau tidak ingin menikahiku?"
"Tenangkan diri Anda, Tuan, biar saya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Ia meyakinkanku.
Meski aku tidak melihat wajahnya, tapi aku bisa mendengar kejujuran dari mulut gadis ini.
Akhirnya aku mengalah, dan duduk di tepi ranjang. Mendadak aku merasakan nyeri di bahu yang kini berlapis perban.
“Anak panah yang menancap di bahu Anda lumayan dalam, Tuan, membuat lukanya semakin sulit disembuhkan,” jelas gadis itu, ia berdiri di depanku. Senyumnya tak lekang jua.
“Heem ….” Aku mencoba tidak peduli. "Jadi, apa yang ingin kau jelaskan tadi?" Aku memalingkan wajah, tidak terbiasa menatap perempuan.
Gadis itu tak segera menjawab, membuatku harus melirik ke arahnya. Dia berdiri sembari tersenyum simpul ke arahku. Menjinjing sedikit rok lebarnya, menyilangkan kaki, dan sedikit membungkukan badannya. "Izin memperkenalkan diri. Nama saya adalah Reina, penyihir hijau dari daratan Alfterin, siap melayani Anda."
Dia ... kenapa harus melayaniku. Lagi pula apa-apaan pengakuannya itu, penyihir di zaman semodern ini. Jangan bercanda, memang masih ada?
"Tentu Tuan akan menganggap saya hanya bercanda," ucapnya.
Dia bisa membaca pikiranku?
"Jika Anda berpikir saya sedang membaca pikiran Anda. Anda keliru. Saya hanya menebak dari raut wajah Anda." Dia tersenyum simpul, dan sialnya kenapa tampak manis.
Aku menelan ludah, mendadak otak ini memikirkan hal-hal aneh saat mata tak sengaja melirik dadanya yang … wah. Namun, aku harus tetap fokus.
Alfterin ... kira-kira itu nama daerah mana. Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, atau Papua? Sepertinya tidak ada nama seaneh itu di Nusantara.
"Saya mengerti perasaan Anda, Tuan Alex."
Aku mengerutkan dahi. "Ka-kamu tau namaku?"
Gadis itu mangangguk yakin. "Nama Anda, tempat tinggal, keseharian, bahkan masa lalu ... saya tahu semuanya."
Apa dia benar-benar penyihir yang mampu membaca semua tentang diriku?
"Ja-jadi, selama ini kau memata-mataiku?" Wajahku memanas. Rasanya aneh jika ada seorang gadis yang harus repot-repot melihat keseharianku yang membosankan.
"Bukankah terlalu kasar jika Anda memfitnah seseorang yang baru saja menyelamatkan nyawa Anda dengan kata-kata seperti itu?" Reina murung, "sudah menjadi tugas saya untuk mengetahui seluk beluk pria terpilih yang nantinya akan menikahi sang Ratu," lanjutnya.
"Menikahi Ratu? Pria terpilih? Aku?"
Apakah itu tidak berlebihan?
"Benar, Anda lah orangnya, Tuan. Satu-satunya pria yang saat ini bisa memberikan keturunan—"
"Tunggu, tunggu sebentar! Bukannya terlalu cepat jika membicarakan soal pernikahan? Aku masih di bawah umur—"
“Tidak! Justru umur Anda yang sekarang cukup ideal."
Dia malah ganti memotong ucapanku.
"18 tahun, adalah umur yang ideal untuk segera menikah dan membuat keturunan. Demi keberlangsungan negeri ini." Ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah jendela. Membiarkanku dengan segala pertanyaan yang sudah mau meledakan isi kepala.
"Kau bilang demi keberlangsungan negeri ini? Maksudmu apa?"
Reina menghela napas kasar. “Saya ingin menceritakan semuanya kepada Anda, tapi rasanya terlalu mendadak.
"Lebih baik Anda beristirahat dahulu. Jika kondisi Anda sudah lebih baik, saya pasti akan menceritakan semuanya.
“Tentang diri Anda yang masuk ke dunia ini, soal pernikahan, dan juga tentang negeri yang di ambang kepunahan. Semuanya, akan saya jelaskan kepada Anda."
Reina berjongkok dan meraih tanganku. Menggenggamnya erat hingga aku bisa merasakan kulitnya yang hangat dan lembut. Rasa ini, seperti genggaman lembut dari tangan perempuan yang menyelamatkanku malam itu.
“Kau—”
“Tuan.” Reina memotong ucapanku.
Wajahku semakin memanas, mungkin sekarang sudah semerah buah apel. Dadaku berdebar hebat saat Reina mendekatkan wajahnya. Suara yang lembut berbisik ke kupingku.
“Hanya Anda satu-satunya harapan kami.” Sentuhan hangat napas Reina membiusku. Aku hanya mampu menelan ludah.
Perasaan macam apa ini, aku tak bisa menekan otak untuk bekerja secara normal. Mendadak tubuh ini kaku. Fokus hilang.
Reina kembali berdiri, membungkukan badan lantas meminta izin untuk keluar. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkanku di kamar ini, ia berpesan, "Selamat datang di tanah Fasia yang diberkati ini, Tuan."

Bagi yang mau baca novel ringan ini dalam bentuk komik Webtoon, bisa klik aja di sini
~~~ Selamat Membaca ~~~
EPISODE 1 - Kehidupan Baru di Dunia Lain
Bagaimana bisa aku menerima permintaan konyol seperti itu? Menikah? Arghhh! Aku bahkan belum pernah sekalipun menyentuh wanita. Berada di dekatnya saja sudah cukup membuatku berkeringat dingin. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa menikah dan melakukan hal tabu di malamnya.
Tidak! Tidak! Tidak!
Aku masih terlalu muda untuk ternodai, aku terlalu naif untuk mengerti, aku masih terlalu kekanakan untuk menjadi seorang suami, apalagi ayah.
TIDAK!!!
Membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi.
Crasss!
Sebatang anak panah menusuk punggung. Seketika tubuhku limbung, sebelum akhirnya jatuh saat kaki tersangkut akar. Mencium tanah berlumpur, pandanganku mengabur. Rasanya ada yang mengalir di bahu, semakin lama semakin banyak, ditambah rasa nyeri yang kian menjalar. Namun, aku harus terus berlari atau kawanan wanita haus berahi itu berhasil menangkapku. Harus!
Sekelebat bayangan manusia mendadak muncul di depanku. Meski tak terlalu jelas sosoknya. Namun, dia seperti perempuan berasurai panjang berkibar mengikuti gerakannya yang cepat. Tangannya lembut mengangkat kepalaku pelan, lantas sedikit menghentakan telapaknya ke dahiku.
Setelahnya hanya kegelapan yang menutup kesadaran.
***
Aku terlonjak, mengangkat tubuh yang penuh dengan peluh. Dada berdebar tak keruan, dunia serasa berputar, membuat kepala ini pening. Namun, bukan itu yang menjadi masalahnya.
Sekarang di mana aku?
Tempat ini sangat asing. Aku terduduk di atas ranjang kayu, di sebuah ruangan yang berdinding kayu juga.
Lengang, tak ada siapapun, hanya nakas yang di atasnya terdapat jendela dengan gorden terbuka, membuat cahaya dapat masuk, memberikan kehangatan pagi. Selain itu, tak ada apapun lagi.
Sebenarnya apa yang terjadi? Tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat yang aneh ini. Terakhir kali yang kuingat, aku mendadak berada di tengah-tengah sebuah pasar yang seluruhnya berisi wanita saja. Namun, yang lebih mengerikan dari semua itu adalah, mereka mengejarku layaknya zombie haus darah. Namun, mereka lebih menginginkan hubungan badan daripada menyedot darahku. Apa-apaan itu?
Kuusap peluh di wajah, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya hingga aku bisa sampai ke sini. Ya, sebelum aku mendadak terbangun di pasar mengerikan itu.
***
Sebelumnya
Malam yang dingin memaksaku memasukan tangan ke kantung hoodie oranye ini. Meski sudah memakai pakaian rangkap, tetap saja dingin malam ini berhasil menembus sampai ke kulit. Tidak biasanya, padahal Jakarta yang kukenal adalah kota yang panas dan memuakan bagi para pecundang sepertiku.
Haah! Aku jadi ingat lagi tentang sosok payah ini.
Setiap hari kulewati hanya dengan berdiam diri di dalam kamar. Mencari pekerjaan tak pasti lewat dunia maya sudah menjadi rutinitas.
Kadang aku menawarkan jasa kepada para ‘penulis’ malas yang hanya ingin mencari nama tanpa mau berusaha. Mengakui setiap ketikanku sebagai karyanya, tentu saja setelah mereka membayar jasaku sebagai 'penulis hantu'. Penulis yang bekerja di balik bayangan, tanpa mengharapkan namanya dikenal oleh banyak orang. Ya, setidaknya mereka membayar dengan harga yang sesuai. Lagi pula hanya pekerjaan seperti inilah yang bisa dilakukan penunggu kamar sepertiku. Tanpa harus beradu dengan panasnya Jakarta, atau mendapat tekanan dari bos besar, aku sudah cukup bahagia.
Akan tetapi, jika sudah berada di luar seperti ini ... rasanya aku seperti tengah berada di tempat yang sangat asing. Seolah ada mata yang terus mengikuti setiap kaki melangkah. Rasa tidak nyaman yang selalu membawa aura negatif.
Memang, jarak minimarket ini dengan indekos tidak terlalu jauh. Namun, jujur saja tidak ada manusia yang kukenal baik di sini, kecuali pria tua yang bekerja sebagai kasir itu.
Sekantung kresek berisi tiga bungkus mie instan, beberapa butir telur, dan serenteng kopi saset, kuangkat. Setidaknya makanan sederhana ini bisa menemaniku bergadang sampai tiga hari ke depan.
Aku berdiri di bawah lampu jalan, tempat yang sepi membuat otak kembali mengingat kejadian lima tahun silam. Ah, tidak ... aku tidak ingin mengingat akhir dari pertikaian keluarga itu. Hanya luka yang bisa kudapat.
Aku menghela napas panjang membuang segala pikiran negatif. Menoleh ke kanan-kiri, jalanan kecil ini tampak sepi. Tak ada tanda-tanda kendaraan lain yang akan melintas.
Kumelangkah, tapi batinku masih diam. Ada yang tengah memperhatikan dari belakang, seperti sedang mengikuti. Aku berhenti dan memutar tubuh, tak ada siapapun kecuali tiang lampu jalan yang baru kulewati.
Mungkin hanya perasaanku saja.
Namun, saat kembali menghadap ke depan, sesosok perempuan berjubah putih penuh darah dan tanah merah, berambut panjang menutupi muka, dan bau anyir memualkan. Sesaat waktu seperti berhenti, sementara mataku terpaku pada makhluk itu.
"KUNTILANAK!"
Spontan aku meloncat ke arah jalan, dan dengan cepat sebuah benda keras menghantamku. Aku merasakan tubuh ini melayang beberapa detik di udara sebelum akhirnya jatuh menghempas aspal.
Bunyi gemeletak terdengar keras, tulang punggungku seperti remuk.
Aku berusaha bangkit sambil menahan rasa nyeri. Namun, sia-sia. Aku tak mampu bergerak sedikitpun, bahkan untuk berteriak pun tak bisa.
Apa aku akan mati?! Aku sudah tidak kuat lagi.
"Ikutlah denganku!" Suara itu berdengung bersamaan dengan seorang gadis yang tampak siluet berjongkok di sampingku. Ia berambut panjang ... baunya wangi ... mungkinkah dia sesosok malaikat?
Aku meringis, mencoba mengeluarkan suara. "Ka-kamu ... siapa?"
Tak ada jawaban kecuali hentakan pelan di dahi, membuatku hilang kesadaran.
***
"Perempuan itu ... dia yang menolongku dua kali."
Derit suara pintu terbuka, membuat lamunanku seketika buyar. Seorang gadis bergaun hijau, surai kecoklatan menjuntai hingga punggung, berdiri di ambang pintu. Mata indah berbulu lentik, dan manik hazel, beradu dengan mataku.
Seulas senyum terlukis di bibirnya yang ranum.
"Anda sudah bangun?" tanyanya seraya mendekat.
Tunggu, dia perempuan, 'kan? Apa dia akan memaksaku untuk menikahinya seperti sekumpulan wanita mengerikan tadi malam.
"Tidak! Jangan! Aku tidak ingin menikah denganmu!" Spontan aku berteriak.
Aku harus pergi, bagaimana pun juga, aku harus lolos dari tempat ini. Celah, celah ... di mana kau? Ah, di sana. Jendela.
Aku meloncat dari ranjang dan hendak ke luar tapi tangan gadis itu berhasil menahan, dan menarikku ke belakang hingga kami jatuh bersamaan.
Sialan! Kenapa dia lebih kuat.
"Lepaskan aku!"
"Tidak!" teriaknya. Semakin mengetatkan dekapan.
"Aku tidak mau melakukannya, tidak, sampai aku ingin sendiri. Jangan memaksaku untuk menikahimu!"
"Saya tidak akan memaksa Tuan untuk menikah saya, atau melakukan mating dengan Anda. Saya hanya ingin kesehatan Anda kembali pulih!"
Ha?
Aku terdiam sesaat mendengar ucapannya. "A-apa maksudmu? Kau tidak ingin menikahiku?"
"Tenangkan diri Anda, Tuan, biar saya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Ia meyakinkanku.
Meski aku tidak melihat wajahnya, tapi aku bisa mendengar kejujuran dari mulut gadis ini.
Akhirnya aku mengalah, dan duduk di tepi ranjang. Mendadak aku merasakan nyeri di bahu yang kini berlapis perban.
“Anak panah yang menancap di bahu Anda lumayan dalam, Tuan, membuat lukanya semakin sulit disembuhkan,” jelas gadis itu, ia berdiri di depanku. Senyumnya tak lekang jua.
“Heem ….” Aku mencoba tidak peduli. "Jadi, apa yang ingin kau jelaskan tadi?" Aku memalingkan wajah, tidak terbiasa menatap perempuan.
Gadis itu tak segera menjawab, membuatku harus melirik ke arahnya. Dia berdiri sembari tersenyum simpul ke arahku. Menjinjing sedikit rok lebarnya, menyilangkan kaki, dan sedikit membungkukan badannya. "Izin memperkenalkan diri. Nama saya adalah Reina, penyihir hijau dari daratan Alfterin, siap melayani Anda."
Dia ... kenapa harus melayaniku. Lagi pula apa-apaan pengakuannya itu, penyihir di zaman semodern ini. Jangan bercanda, memang masih ada?
"Tentu Tuan akan menganggap saya hanya bercanda," ucapnya.
Dia bisa membaca pikiranku?
"Jika Anda berpikir saya sedang membaca pikiran Anda. Anda keliru. Saya hanya menebak dari raut wajah Anda." Dia tersenyum simpul, dan sialnya kenapa tampak manis.
Aku menelan ludah, mendadak otak ini memikirkan hal-hal aneh saat mata tak sengaja melirik dadanya yang … wah. Namun, aku harus tetap fokus.
Alfterin ... kira-kira itu nama daerah mana. Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, atau Papua? Sepertinya tidak ada nama seaneh itu di Nusantara.
"Saya mengerti perasaan Anda, Tuan Alex."
Aku mengerutkan dahi. "Ka-kamu tau namaku?"
Gadis itu mangangguk yakin. "Nama Anda, tempat tinggal, keseharian, bahkan masa lalu ... saya tahu semuanya."
Apa dia benar-benar penyihir yang mampu membaca semua tentang diriku?
"Ja-jadi, selama ini kau memata-mataiku?" Wajahku memanas. Rasanya aneh jika ada seorang gadis yang harus repot-repot melihat keseharianku yang membosankan.
"Bukankah terlalu kasar jika Anda memfitnah seseorang yang baru saja menyelamatkan nyawa Anda dengan kata-kata seperti itu?" Reina murung, "sudah menjadi tugas saya untuk mengetahui seluk beluk pria terpilih yang nantinya akan menikahi sang Ratu," lanjutnya.
"Menikahi Ratu? Pria terpilih? Aku?"
Apakah itu tidak berlebihan?
"Benar, Anda lah orangnya, Tuan. Satu-satunya pria yang saat ini bisa memberikan keturunan—"
"Tunggu, tunggu sebentar! Bukannya terlalu cepat jika membicarakan soal pernikahan? Aku masih di bawah umur—"
“Tidak! Justru umur Anda yang sekarang cukup ideal."
Dia malah ganti memotong ucapanku.
"18 tahun, adalah umur yang ideal untuk segera menikah dan membuat keturunan. Demi keberlangsungan negeri ini." Ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah jendela. Membiarkanku dengan segala pertanyaan yang sudah mau meledakan isi kepala.
"Kau bilang demi keberlangsungan negeri ini? Maksudmu apa?"
Reina menghela napas kasar. “Saya ingin menceritakan semuanya kepada Anda, tapi rasanya terlalu mendadak.
"Lebih baik Anda beristirahat dahulu. Jika kondisi Anda sudah lebih baik, saya pasti akan menceritakan semuanya.
“Tentang diri Anda yang masuk ke dunia ini, soal pernikahan, dan juga tentang negeri yang di ambang kepunahan. Semuanya, akan saya jelaskan kepada Anda."
Reina berjongkok dan meraih tanganku. Menggenggamnya erat hingga aku bisa merasakan kulitnya yang hangat dan lembut. Rasa ini, seperti genggaman lembut dari tangan perempuan yang menyelamatkanku malam itu.
“Kau—”
“Tuan.” Reina memotong ucapanku.
Wajahku semakin memanas, mungkin sekarang sudah semerah buah apel. Dadaku berdebar hebat saat Reina mendekatkan wajahnya. Suara yang lembut berbisik ke kupingku.
“Hanya Anda satu-satunya harapan kami.” Sentuhan hangat napas Reina membiusku. Aku hanya mampu menelan ludah.
Perasaan macam apa ini, aku tak bisa menekan otak untuk bekerja secara normal. Mendadak tubuh ini kaku. Fokus hilang.
Reina kembali berdiri, membungkukan badan lantas meminta izin untuk keluar. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkanku di kamar ini, ia berpesan, "Selamat datang di tanah Fasia yang diberkati ini, Tuan."
***
Diubah oleh suwokotumdex 07-04-2020 23:59
nona212 dan 36 lainnya memberi reputasi
35
11.2K
115
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
suwokotumdex
#65
EPISODE 7 - Mengungkap Jati Diri
Kami berjalan beriringan tanpa ada yang ingin memulai percakapan lebih dulu.
Ke luar dari hutan kemudian lurus melewati alun-alun desa, menyusuri jalan setapak yang kanan-kiri berdiri bangunan rumah desa Anvylle. Sepanjang perjalanan, seluruh pasang mata warga memperhatikanku dengan tatapan curiga—sepertinya. Seolah aku adalah ancaman.
Melirik ke Violet, ia hanya menatap lurus ke depan, begitupun Reina dan Mella. Apa mereka nggak merasa risi?
Aku tak terlalu ambil pusing soal itu dan kembali fokus.
Sampai kemudian kami sampai di tujuan. Naik ke atas tangga rumah yang tak terlalu tinggi. Membuka pintu, satu persatu berjalan masuk, sudah, pintu kembali ditutup oleh Reina. Sekarang kami berkumpul di sini. Masih dalam lengang.
Kami duduk mengitari meja.
"Reina, jelaskan!" Mella angkat bicara. Netra indahnya menatap sinis ke arah Reina. Aku mengikuti gerakan itu, melihat gadis penyihir hijau tersebut menunduk lesu.
Jika kalian bingung apa yang terjadi sebelumnya. Biar kuperjelas bagaimana kejadian yang sebenarnya.
Kurang lebih seperti ini.
Wanita yang kutaksir berumur 30-an itu menarik wajahku dan menempelkan bibir kami. Aku terbelalak seraya merasakan permainan lidahnya yang hangat di dalam mulut.
Ti-tidak!
Aku mendorong tubuhnya hingga ciuman kami terlepas. Aku jatuh ke belakang, dan perut rasanya kaku mendadak. Isinya merangsek keluar dan ...
"Hoekk!!!"
... aku muntah saat itu juga.
Ternyata benar, aku memang belum siap untuk melakukan hal tabu seperti ini. Tubuhku masih terlalu sensitif untuk didekati wanita dengan hasrat tinggi sepertinya. Melihat di kejauhan saja sudah bikin keringat dingin.
"Tuan!" Violet berlari ke arahku tapi segera kuangkat tangan untuk menahan langkahnya.
"Biarkan aku sendiri!" Tubuhku lemas, napas terbuang tak beraturan, jantung berdebar kencang. Perasaan ini cukup menyiksa. Bisa-bisanya aku fobia dengan wanita.
"A-ada apa denganmu?"
Aku mengalihkan pandangan ke arah wanita bernama Mella itu. Raut wajahnya menunjukan ekspresi antara terkejut dan kesal yang bercampur jadi satu. Ekspresi yang sudah kuduga.
Lantas Reina datang dengan napas terengah-engah. Ia menatap nanar ke arah kami bertiga, dibalas tatapan dingin Mella.
Aku benar-benar ingin pulang. Aku benci situasi seperti ini, dan entah kenapa aku jadi merindukan Jakarta.
"Reina, jelaskan!" Mella meninggikan suaranya. Aku memilih menyembunyikan muka di balik tudung jubah.
Reina menjawab, "Namanya Alex Elvano."
Aku mengangkat wajah.
"Tuan Alex berasal dari Indonesia."
Mella menatapku sinis, lalu kembali memperhatikan Reina. Ia menghela napas kasar. "Lain kali, kamu harus memilih kandidat yang lebih bisa diandalkan."
Wanita itu berdiri dan melenggang pergi begitu saja. Tekanan besar yang kurasakan sejak tadi perlahan meredup.
Apa maksud dari perkataannya 'bisa diandalkan'. Apa karena tadi aku muntah saat mendapat ciumannya? HEI! Lagipula tindakannya itu tidak sopan. Menyerang seseorang tanpa memikirkan perasaan itu sungguh hal yang konyol.
"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Reina membuyarkan lamunanku.
Aku menatapnya sekilas kemudian berdiri. "Tanya saja pada Violet, dia tahu apa yang terjadi." Lantas pergi meninggalkan kedua gadis itu. Pikiranku sedang tak bersahabat sekarang. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Bagaimana tidak, bisa dibilang aku baru saja dilecehkan dengan hina. Bisa-bisanya!
Tanganku mengepal erat. Wajah ini terasa panas. Ingin rasanya meninju pohon di pinggir jalan itu, tapi urung kulakukan karena pasti tanganku yang akan merasa sakit.
Aku berhenti sesaat. Merasa ada sesuatu yang aneh. Seperti ada yang tengah memperhatikan entah di mana. Netra memperhatikan ke arah pepohonan hutan, belakang, langit, dan tanah. Tak ada hal yang mencurigakan. Namun, instingku berkata ada yang sedang mengekor.
Aku mengeluarkan pedang kayu yang memang dari tadi kubawa. Hanya ini satu-satunya perlindungan yang kupunya. Entah kapan aku bisa membeli perlengkapan sendiri. Reina bilang, jika ingin membeli senjata dan armor, harus ke kota. Jaraknya jauh dari sini.
Sekarang aku cukup bersyukur setidaknya masih memiliki senjata meski cuma kayu. Aku juga terus berharap ini hanya perasaanku saja. Lagipula biasanya tak ada yang aneh saat aku melewati jalan menuju ke bukit.
Kreshh!
Terdengar suara daun kering terinjak. Di sana! Di antara pepohonan. Aku melihat ada gerakan daun yang mencurigakan di balik semak-semak. Kumohon, jangan bandit!
Kreshh!
Lagi, suara itu terdengar dari arah yang sama. Jantung berdetak begitu cepat. Adrenalinku terpacu. Baiklah, apapun itu, aku akan melawannya jika sangat mengancam. Namun, suasana kembali lengang. Angin berdesir pelan menggerakan dedaunan hingga menciptakan suara gesekan yang alami.
Apakah mereka sudah pergi?
Kurasa tidak.
Aku bisa melihat ada yang mengintip di balik batang pohon yang besar. Manusia. Aku bisa melihatnya! Tapi tidak hanya satu. Di balik pohon yang lainnya bermunculan kepala-kepala yang memperhatikanku dengan intens. Sampai kemudian mereka mengeluarkan seluruh tubuhnya dari persembunyian.
Bukankah mereka penduduk desa Anvylle? Ada ap—
Tunggu, sepulang dari latihan tadi, mereka memang menatapku dengan tatapan aneh. Seolah curiga denganku.
"Tangkap dia!" seru seorang wanita yang berbadan tambun. Lantas lima orang wanita lainnya berlari ke arahku dengan membawa tali tambang.
SIALAN! Sekarang sudah jelas mereka akan menangkapku. Aku tidak boleh diam saja. Saat mereka sampai kuayunkan pedang ini untuk menghalau. Namun, salah satu dari mereka memakai pedang asli untuk memotong senjataku.
Aku meloncat ke belakang, memberi jarak dengan mereka. Sialan! Suasananya semakin tidak menguntungkan, ditambah salah satu dari mereka membawa pedang dengan bilah mengkilat tajam.
"Menyerahlah, dan akui siapa dirimu sebenarnya karena kami tidak suka bermain kasar." Seorang wanita bertubuh tambun, berjalan mendekat dengan langkah pasti. Dari sikapnya aku bisa menebak, dia sudah mengetahui jati diriku sebenarnya.
"Cepat buka tudung kepalamu itu, dan tunjukan kepada kami ... bahwa kau adalah seorang laki-laki!"
Aku tercekat. Dugaanku benar, ia sudah mengetahui jati diriku yang sebenarnya. Begitupun kelima bawahannya yang kuyakin juga tahu. Lantas, darimana mereka tahu?
"Menyerahlah!" Seorang wanita bertubuh kecil paling dekat denganku menyeringai penuh nafsu yang menjijikan. Ia mengacungkan pedangnya siap menebas.
Namun, aku yakin mereka hanya menggertak. Mana mungkin berani macam-macam dengan benda langka di dunia ini. Juga, sepertinya aku tidak asing dengan wanita tambun yang berdiri paling belakang itu. Hmm ... kalau tidak salah, dia adalah anak pemimpin desa Anvylle. Jadi begitu, pantas dia seperti bos menyuruh-nyuruh.
Tak ada kesempatan untuk menyerang balik. Jika berlari itu juga sia-sia, staminaku lumayan terkuras saat latihan dengan Violet tadi. Jika berteriak pun itu malah akan menimbulkan masalah yang lebih besar.
Berpikir! Berpikir! Ayo!
Memang tak ada.
"Tangkap dia!" teriak si tambun. Kelima wanita di depanku menyerbu. Aku menyiapkan kuda-kuda dan menendang siapapun yang berani menyentuh. Sekarang aku tidak peduli mereka perempuan sekalipun.
Membungkuk, meloncat, sesekali mengayunkan tangan. Berusaha untuk melawan. Tapi, tetap sia-sia saja. Gagang pedang berhasil memukul perut, seketika aku terdorong ke belakang. Saat itu juga pukulan telak kembali menghantam perut, kemudian wajah.
Mereka curang!
Aku tergeletak tak berdaya di tanah. Tawa mereka pecah seolah t'lah mendapatkan hewan buruannya.
"Tamat sudah!" gumamku. Tenaga sudah terkuras habis, ditambah perut dan wajah yang terasa ngilu berkat hantaman. Sekarang yang kubutuhkan adalah keajaiban.
Langkah kaki mendekat. Kulirik ternyata si tambun sialan itu. Ia berjongkok di sampingku—meski kesusahan karena lemak di tubuhnya. Tangannya tiba-tiba menyibak tudung kepalaku.
"Benar dugaanku, ternyata si penyihir itu menyimpan laki-laki di rumahnya dan menyembunyikannya dari kita. Licik sekali ..." ucap wanita itu. Lagi-lagi aku memang dianggap seperti benda pusaka yang harus dimiliki bersama.
"Jelas Reina tak ingin memberitahu kalian. Memang kalian siapa?" ucapku dengan nada ketus.
"Sudah jelas aku adalah calon pemimpin desa Anvylle, jadi—"
"Calon? Cih! Bahkan calon pun bisa gagal!"
Wanita itu menarik leher jubahku. Kulihat wajahnya yang tampak seperti monster itu. Mengerikan sekaligus menunjukan seberapa kecil kapasitas otaknya. Mendengus kasar dengan mata melotot tajam.
"Nona Besseta, ada yang datang," tutur wanita yang berdiri tak jauh dariku. Raut mukanya tampak ketakutan.
Semoga yang datang itu Reina atau Violet. Setidaknya mereka cukup kuat untuk melawan pada bandit ini.
"Siapa yang datang?" Wanita yang baru kuketahui namanya Besseta itu berdiri. Tiba-tiba ia juga terkejut dan menghunuskan pedangnya. "Kalian?!"
"Kalian?" Aku mengernyitkan dahi. Sebenarnya siapa sih yang datang.
Aku menoleh ke kanan. Sekelompok orang berjubah berbaris di sana. Semuanya berjubah seragam dengan emblem tak terlalu jelas di bahu jubah.
"Mereka siapa?"
Bersambung ...
Ke luar dari hutan kemudian lurus melewati alun-alun desa, menyusuri jalan setapak yang kanan-kiri berdiri bangunan rumah desa Anvylle. Sepanjang perjalanan, seluruh pasang mata warga memperhatikanku dengan tatapan curiga—sepertinya. Seolah aku adalah ancaman.
Melirik ke Violet, ia hanya menatap lurus ke depan, begitupun Reina dan Mella. Apa mereka nggak merasa risi?
Aku tak terlalu ambil pusing soal itu dan kembali fokus.
Sampai kemudian kami sampai di tujuan. Naik ke atas tangga rumah yang tak terlalu tinggi. Membuka pintu, satu persatu berjalan masuk, sudah, pintu kembali ditutup oleh Reina. Sekarang kami berkumpul di sini. Masih dalam lengang.
Kami duduk mengitari meja.
"Reina, jelaskan!" Mella angkat bicara. Netra indahnya menatap sinis ke arah Reina. Aku mengikuti gerakan itu, melihat gadis penyihir hijau tersebut menunduk lesu.
Jika kalian bingung apa yang terjadi sebelumnya. Biar kuperjelas bagaimana kejadian yang sebenarnya.
Kurang lebih seperti ini.
***
Wanita yang kutaksir berumur 30-an itu menarik wajahku dan menempelkan bibir kami. Aku terbelalak seraya merasakan permainan lidahnya yang hangat di dalam mulut.
Ti-tidak!
Aku mendorong tubuhnya hingga ciuman kami terlepas. Aku jatuh ke belakang, dan perut rasanya kaku mendadak. Isinya merangsek keluar dan ...
"Hoekk!!!"
... aku muntah saat itu juga.
Ternyata benar, aku memang belum siap untuk melakukan hal tabu seperti ini. Tubuhku masih terlalu sensitif untuk didekati wanita dengan hasrat tinggi sepertinya. Melihat di kejauhan saja sudah bikin keringat dingin.
"Tuan!" Violet berlari ke arahku tapi segera kuangkat tangan untuk menahan langkahnya.
"Biarkan aku sendiri!" Tubuhku lemas, napas terbuang tak beraturan, jantung berdebar kencang. Perasaan ini cukup menyiksa. Bisa-bisanya aku fobia dengan wanita.
"A-ada apa denganmu?"
Aku mengalihkan pandangan ke arah wanita bernama Mella itu. Raut wajahnya menunjukan ekspresi antara terkejut dan kesal yang bercampur jadi satu. Ekspresi yang sudah kuduga.
Lantas Reina datang dengan napas terengah-engah. Ia menatap nanar ke arah kami bertiga, dibalas tatapan dingin Mella.
Aku benar-benar ingin pulang. Aku benci situasi seperti ini, dan entah kenapa aku jadi merindukan Jakarta.
***
"Reina, jelaskan!" Mella meninggikan suaranya. Aku memilih menyembunyikan muka di balik tudung jubah.
Reina menjawab, "Namanya Alex Elvano."
Aku mengangkat wajah.
"Tuan Alex berasal dari Indonesia."
Mella menatapku sinis, lalu kembali memperhatikan Reina. Ia menghela napas kasar. "Lain kali, kamu harus memilih kandidat yang lebih bisa diandalkan."
Wanita itu berdiri dan melenggang pergi begitu saja. Tekanan besar yang kurasakan sejak tadi perlahan meredup.
Apa maksud dari perkataannya 'bisa diandalkan'. Apa karena tadi aku muntah saat mendapat ciumannya? HEI! Lagipula tindakannya itu tidak sopan. Menyerang seseorang tanpa memikirkan perasaan itu sungguh hal yang konyol.
"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Reina membuyarkan lamunanku.
Aku menatapnya sekilas kemudian berdiri. "Tanya saja pada Violet, dia tahu apa yang terjadi." Lantas pergi meninggalkan kedua gadis itu. Pikiranku sedang tak bersahabat sekarang. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Bagaimana tidak, bisa dibilang aku baru saja dilecehkan dengan hina. Bisa-bisanya!
Tanganku mengepal erat. Wajah ini terasa panas. Ingin rasanya meninju pohon di pinggir jalan itu, tapi urung kulakukan karena pasti tanganku yang akan merasa sakit.
Aku berhenti sesaat. Merasa ada sesuatu yang aneh. Seperti ada yang tengah memperhatikan entah di mana. Netra memperhatikan ke arah pepohonan hutan, belakang, langit, dan tanah. Tak ada hal yang mencurigakan. Namun, instingku berkata ada yang sedang mengekor.
Aku mengeluarkan pedang kayu yang memang dari tadi kubawa. Hanya ini satu-satunya perlindungan yang kupunya. Entah kapan aku bisa membeli perlengkapan sendiri. Reina bilang, jika ingin membeli senjata dan armor, harus ke kota. Jaraknya jauh dari sini.
Sekarang aku cukup bersyukur setidaknya masih memiliki senjata meski cuma kayu. Aku juga terus berharap ini hanya perasaanku saja. Lagipula biasanya tak ada yang aneh saat aku melewati jalan menuju ke bukit.
Kreshh!
Terdengar suara daun kering terinjak. Di sana! Di antara pepohonan. Aku melihat ada gerakan daun yang mencurigakan di balik semak-semak. Kumohon, jangan bandit!
Kreshh!
Lagi, suara itu terdengar dari arah yang sama. Jantung berdetak begitu cepat. Adrenalinku terpacu. Baiklah, apapun itu, aku akan melawannya jika sangat mengancam. Namun, suasana kembali lengang. Angin berdesir pelan menggerakan dedaunan hingga menciptakan suara gesekan yang alami.
Apakah mereka sudah pergi?
Kurasa tidak.
Aku bisa melihat ada yang mengintip di balik batang pohon yang besar. Manusia. Aku bisa melihatnya! Tapi tidak hanya satu. Di balik pohon yang lainnya bermunculan kepala-kepala yang memperhatikanku dengan intens. Sampai kemudian mereka mengeluarkan seluruh tubuhnya dari persembunyian.
Bukankah mereka penduduk desa Anvylle? Ada ap—
Tunggu, sepulang dari latihan tadi, mereka memang menatapku dengan tatapan aneh. Seolah curiga denganku.
"Tangkap dia!" seru seorang wanita yang berbadan tambun. Lantas lima orang wanita lainnya berlari ke arahku dengan membawa tali tambang.
SIALAN! Sekarang sudah jelas mereka akan menangkapku. Aku tidak boleh diam saja. Saat mereka sampai kuayunkan pedang ini untuk menghalau. Namun, salah satu dari mereka memakai pedang asli untuk memotong senjataku.
Aku meloncat ke belakang, memberi jarak dengan mereka. Sialan! Suasananya semakin tidak menguntungkan, ditambah salah satu dari mereka membawa pedang dengan bilah mengkilat tajam.
"Menyerahlah, dan akui siapa dirimu sebenarnya karena kami tidak suka bermain kasar." Seorang wanita bertubuh tambun, berjalan mendekat dengan langkah pasti. Dari sikapnya aku bisa menebak, dia sudah mengetahui jati diriku sebenarnya.
"Cepat buka tudung kepalamu itu, dan tunjukan kepada kami ... bahwa kau adalah seorang laki-laki!"
Aku tercekat. Dugaanku benar, ia sudah mengetahui jati diriku yang sebenarnya. Begitupun kelima bawahannya yang kuyakin juga tahu. Lantas, darimana mereka tahu?
"Menyerahlah!" Seorang wanita bertubuh kecil paling dekat denganku menyeringai penuh nafsu yang menjijikan. Ia mengacungkan pedangnya siap menebas.
Namun, aku yakin mereka hanya menggertak. Mana mungkin berani macam-macam dengan benda langka di dunia ini. Juga, sepertinya aku tidak asing dengan wanita tambun yang berdiri paling belakang itu. Hmm ... kalau tidak salah, dia adalah anak pemimpin desa Anvylle. Jadi begitu, pantas dia seperti bos menyuruh-nyuruh.
Tak ada kesempatan untuk menyerang balik. Jika berlari itu juga sia-sia, staminaku lumayan terkuras saat latihan dengan Violet tadi. Jika berteriak pun itu malah akan menimbulkan masalah yang lebih besar.
Berpikir! Berpikir! Ayo!
Memang tak ada.
"Tangkap dia!" teriak si tambun. Kelima wanita di depanku menyerbu. Aku menyiapkan kuda-kuda dan menendang siapapun yang berani menyentuh. Sekarang aku tidak peduli mereka perempuan sekalipun.
Membungkuk, meloncat, sesekali mengayunkan tangan. Berusaha untuk melawan. Tapi, tetap sia-sia saja. Gagang pedang berhasil memukul perut, seketika aku terdorong ke belakang. Saat itu juga pukulan telak kembali menghantam perut, kemudian wajah.
Mereka curang!
Aku tergeletak tak berdaya di tanah. Tawa mereka pecah seolah t'lah mendapatkan hewan buruannya.
"Tamat sudah!" gumamku. Tenaga sudah terkuras habis, ditambah perut dan wajah yang terasa ngilu berkat hantaman. Sekarang yang kubutuhkan adalah keajaiban.
Langkah kaki mendekat. Kulirik ternyata si tambun sialan itu. Ia berjongkok di sampingku—meski kesusahan karena lemak di tubuhnya. Tangannya tiba-tiba menyibak tudung kepalaku.
"Benar dugaanku, ternyata si penyihir itu menyimpan laki-laki di rumahnya dan menyembunyikannya dari kita. Licik sekali ..." ucap wanita itu. Lagi-lagi aku memang dianggap seperti benda pusaka yang harus dimiliki bersama.
"Jelas Reina tak ingin memberitahu kalian. Memang kalian siapa?" ucapku dengan nada ketus.
"Sudah jelas aku adalah calon pemimpin desa Anvylle, jadi—"
"Calon? Cih! Bahkan calon pun bisa gagal!"
Wanita itu menarik leher jubahku. Kulihat wajahnya yang tampak seperti monster itu. Mengerikan sekaligus menunjukan seberapa kecil kapasitas otaknya. Mendengus kasar dengan mata melotot tajam.
"Nona Besseta, ada yang datang," tutur wanita yang berdiri tak jauh dariku. Raut mukanya tampak ketakutan.
Semoga yang datang itu Reina atau Violet. Setidaknya mereka cukup kuat untuk melawan pada bandit ini.
"Siapa yang datang?" Wanita yang baru kuketahui namanya Besseta itu berdiri. Tiba-tiba ia juga terkejut dan menghunuskan pedangnya. "Kalian?!"
"Kalian?" Aku mengernyitkan dahi. Sebenarnya siapa sih yang datang.
Aku menoleh ke kanan. Sekelompok orang berjubah berbaris di sana. Semuanya berjubah seragam dengan emblem tak terlalu jelas di bahu jubah.
"Mereka siapa?"
Bersambung ...
Diubah oleh suwokotumdex 31-03-2020 21:53
alvicenasanjaya dan hazzzzzzz memberi reputasi
2