Kaskus

Story

suciasdhanAvatar border
TS
suciasdhan
Cinta Bersemi di Kedai Serabi
Kumpulan Cerita Romantis Bikin Baper

Cinta Bersemi di Kedai Serabi

Sumber: gambar di sini

Sepagi ini kedai Mak Otih sudah penuh sesak. Serabi buatan Mak Otih memang yang paling terkenal di desa Cipedes ini. Penganan yang terbuat dari campuran tepung terigu yang gurih dan air kelapa, banyak diburu oleh warga desa ini dan menjadi alternatif pilihan untuk sarapan. Cara memasaknya yang masih tradisional—menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat serta kayu bakar di bawahnya untuk mematangkan serabinya—membuat serabi ini memiliki rasa dan aroma yang khas. Varian serabinya hanya dua macam, yaitu topping oncom sangrai untuk rasa asin, dan serabi disiram kuah gula merah atau kinca untuk yang rasa manis. Bahkan, untuk serabi topping oncom bisa ditambahkan telur agar rasanya semakin gurih.

Sopi mengamati tangan Mak Otih yang menyendok adonan serabi ke dalam wajan tanah liat dengan cekatan. Adonan yang masih cair itu kemudian ditaburi oncom sangrai. Asap mengepul dari sana. Aroma serabi yang hampir matang membuat gadis itu menelan saliva berulang kali. Perutnya semakin keroncongan. Terbayang di mulutnya rasa legit kuah kinca bercampur dengan kue serabi yang gurih, lezat rasanya.

Empat orang pemuda iseng mulai melirik nakal ke arah Sopi yang terlihat cantik. Salah satu dari mereka mulai menggodanya.

"Hai, Neng geulis, sendirian aja nih. Boleh Akang temenin?"

"Akang mah mau langsung kenalan aja, boleh enggak?" Seorang pemuda lainnya mulai mendekati Sopi. Sementara dua pemuda yang lainnya hanya tertawa-tawa.

Sopi mulai jengah dengan gangguan dari keempat pemuda itu. Bahkan salah satunya yang tadi minta kenalan mulai berani mencolek lengannya. Segera saja Sopi menepis tangan jahil pemuda jangkung berambut keriting itu. Memangnya aku ini sabun colek apa? pikir Sopi, kesal.

"Widih, si Eneng meuni sombong ih. Belum tahu ya kita ini siapa? Kita teh F4, tapi bukan pemeran di drama Meteor Garden ya. Saya Firman, itu Fikri, Farid, dan Ferdi." Pemuda berkaus biru donker berlogo salah satu superhero terkenal di dunia, menunjuk ke arah ketiga temannya sambil ikut mendekat ke arah Sopi.

Sopi masih membisu, dalam hati ia geram dengan tingkah para pemuda itu. Perempuan di kedai ini kan banyak, kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini? gumamnya.

Melihat gadis itu beranjak dari tempat duduknya, hendak berlalu dari kedai, keempat pemuda itu malah semakin gencar menggodanya.

"Mau ke mana Neng? Buru-buru amat. Kita kan belum saling mengenal. Tukeran nomor hp aja belum, udah mau pergi. Rumahnya di mana sih? Akang antar ya. Tenang, dijamin aman, selamat sampai tujuan." Pemuda berkaus hitam bergambar logo band Linkin Park mengejar Sopi dan menggenggam tangan gadis itu.

Sopi berusaha melepaskan diri, tetapi genggaman tangan pemuda itu malah semakin kuat. Ia meringis kesakitan. Keempat pemuda itu tertawa puas.

"Heii, kalian! Lepaskan gadis itu. Belum tahu ya kalau dia itu pacar saya? Seenaknya main antar pacar orang. Yuk, Neng Akang antar." Suara seorang lelaki tampan berdandan ala Kabayan berhasil menghalau keempat pemuda itu. Mereka pun menjauh dari Sopi. Setelah berpamitan pada Emaknya yang tengah membalikkan serabi dari wadah, pemuda itu pun berjalan beriringan dengan sang gadis.

"Yuk, Neng. Enggak usah takut, saya mah bukan lelaki cunihin seperti mereka. Kalau mau jahil ke perempuan, saya selalu ingat sama Emak. Gimana kalau Emak juga digodain kayak gitu? Saya pasti marah besar," ucap lelaki itu setelah agak menjauh dari kedai.

Dalam hati, Sopi memuji ucapan pemuda di sampingnya yang sangat santun dan hormat memperlakukan ibunya. Yang jadi istrinya, sudah pasti akan diperlakukan dengan baik juga. Sopi malu sendiri, dan buru-buru menepis pikiran yang baru saja terlintas di benaknya. Mereka berjalan berdampingan. Keduanya sama-sama merasa canggung, tak ada yang berani membuka percakapan. Hanya sesekali mereka saling beradu pandang, kemudian sama-sama tersenyum dan menunduk, malu. Hingga tiba di tempat tujuan pun, mereka masih diam seribu bahasa.

Sementara itu, Pak Asep yang sedari tadi merasakan perasaannya tak enak, selalu terbayang wajah putri cantiknya. Rasa kuatir menggelayuti pikirannya, takut sesuatu menimpa Sopi. Sesekali ia menatap ke arah jalan, mencari sosok yang membuat hatinya gelisah. Tidak berapa lama, ia melihat gadis itu. Namun, ia tidak sendirian, seorang pemuda jangkung terlihat berjalan di sampingnya.

"Hei, pemuda, siapa kamu? Kenapa tampang anakku seperti ketakutan begitu? Hmm, mau macam-macam ya sama anak Jawara Pencak Silat ini? Hayu lah, Bapak mah enggak takut. Kita tandang di lapang sebelah!" Pak Asep sudah pasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang sosok yang terlihat sebagai ancaman bagi putri tersayangnya. Sopi dan Aden pun bengong.

Dengan kekuatan penuh, Pak Asep bersiap melayangkan pukulan ke arah pemuda tampan yang sedang berdiri di samping putrinya.

“Daddy—Daddy, calm down.” Sopi menghalangi serangan ayahnya dengan menggenggam tangan pria paruh baya itu yang sudah bulat terkepal dengan sempurna.

“Minggir, Sopi. Biar dia merasakan bogem mentah Bapak. Walau Bapakmu ini sudah tua, tapi Bapak masih kuat. Ayo sini, pemuda, lawan!” Pak Asep menghempaskan tangan Sopi yang menghalanginya.

“Pak Asep? Ini benar Pak Asep kan? Alhamdulillah, akhirnya kita ketemu juga.” Aden mencium punggung tangan pria di hadapannya yang napasnya masih tak beraturan. Emosi memenuhi rongga dadanya. Kedua matanya memelotot ke arah pemuda itu.

“Apa-apaan kamu? Diajak tanding malah cium tangan? Nyalimu ciut, Jang?” Pak Asep menghempaskan tangan Aden dengan kasar.

“Bapak lupa ya? Ini teh Aden, putranya Mak Otih. Dulu waktu SD Aden kan belajar pencak silat dari Bapak. Wah senangnya masih bisa berjumpa dengan guru bela diri favorit Aden.”

Mendengar penuturan pemuda yang berdiri di hadapannya, perlahan-lahan emosi Pak Asep menurun. “Jadi, ini Aden? Masya Allah, meuni kasep. Maafkan Bapak yang terlalu kuatir dengan keselamatan putri Bapak satu-satunya. Maklum, sejak Ibunya meninggal, hanya dia yang Bapak miliki di dunia ini. Bapak enggak mungkin lupa, hanya tadi mah pangling aja, sampai-sampai enggak ngenalin. Kamu kan yang pernah ngompol, ketakutan karena Bapak bentak, hahaha. Terus kamu itu terkenal paling cengeng di antara murid-murid Bapak yang lain. Kesenggol sedikit saja nangis kejer.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak bekas murid pencak silatnya itu.

Aden tersipu malu sambil melirik gadis cantik di sampingnya yang sedang bengong menyaksikan percakapan antara dirinya dan Pak Asep. “Jadi, Eneng ini teh putrinya Bapak?” lanjutnya.

“Iya, ini namanya Sopi, anak Bapak. Hayu atuh masuk, kita ngobrol-ngobrol di dalam. Sopi suguhkan makanan sama minuman.”

Sopi beranjak menuju dapur menyiapkan suguhan untuk sang tamu. Sementara itu Aden dan sang Ayah sudah duduk di kursi ruang tamu. Sesekali, Pak Asep melirik Aden yang mencuri pandang ke arah Sopi. Sepertinya pemuda itu tertarik pada putrinya. Sebuah senyuman tersungging di bibir lelaki paruh baya itu. Sementara Aden, yang kepergok sedang curi-curi pandang, jadi salah tingkah. Hatinya mengakui perempuan itu memang cantik, hanya dandanannya saja yang menurutnya terlalu berlebihan alias menor. Andai gadis itu berdandan sederhana, aura kecantikannya akan terpancar alami. Tidak berapa lama, Sopi muncul dengan baki berisi dua gelas teh manis dan beberapa stoples berisi kue kering juga makanan ringan.

“Ayo—ayo dimakan, Den,” tawar Pak Asep setelah Sopi menaruh semua bawaannya di atas meja.

“Eh iya, ngomong-ngomong serabi pesanan Bapak mana?” Kali ini pandangan mata pria itu beralih pada Sopi.

“My mood is going down, Daddy. So maafkan Sovia yang tak jadi membelinya.”
Aden menatap heran gadis yang duduk di samping Pak Asep. Buset, bukan hanya dandanannya yang lain, cara bicaranya juga aneh, gumamnya.

“Kok bisa?” Kening Pak Asep berkerut. Tak mengerti dengan kalimat yang diucapkan putrinya barusan. Sejurus kemudian, lelaki itu manggut-manggut menyimak cerita putrinya.

“Duh, Den. Maafkan Bapak yang sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Terima kasih telah menyelamatkan putri Bapak." Sudah waktunya Sopi punya pendamping hidup, yang akan melindunginya dari marabahaya, gumam Pak Asep dalam hati sambil menatap lekat-lekat Aden yang sedang mencuri pandang ke arah wajah Sopi. Untung saja, pemuda ini baik hati, jadi dia tetap membiarkan Aden memandang wajah Sopi sampai puas. Kalau pemuda culas yang melakukannya, pasti sudah dia gibas tanpa ampun sampai kapok.
***
“Daddy, ini kopinya.”

“Terima kasih, Sopi.” Gadis cantik itu mengangguk dan beranjak hendak menuju kamarnya.

“Sopi, mau ke mana? Sini duduk dulu sebentar, Bapak mau bicara.”

“Daddy, Sovia mau ke kamar, belum beres merapihkan alis.”

“Bentar doang kok. Enggak nyampe lima belas menit.” Pak Asep menyeruput kopinya. “Sopi, kopi buatan kamu mengingatkan Bapak sama almarhumah Ibumu. Racikannya sama-sama enak. Rasa kopi dan gulanya seimbang, pas.”
Sopi tersenyum melihat Ayahnya yang begitu penuh penghayatan menyeruput kopinya, terlihat sekali pria paruh baya itu menikmati setiap tegukan cairan hitam itu yang masuk ke kerongkongannya.

“Jadi begini, Geulis. Kamu sekarang sudah besar. Kuliah pun sudah selesai.” Pak Asep menatap wajah putri tersayangnya sebelum ia melanjutkan bicara. Pria itu tampak memutar otak mencari kalimat yang pas untuk menyampaikan maksudnya pada Sopi. “Sudah saatnya Bapak melepasmu, Sopi,” lanjutnya.

“Maksud Daddy?” Sopi tercengang mendengar ucapan lanjutan dari Ayahnya. Dahinya berkerut, tak paham dengan arah pembicaraan sang Ayah.

“Begini, Neng. Maksud Bapak—kamu—sudah waktunya kamu punya pendamping hidup.”

“What? Jadi maksud Daddy Sovia harus segera married? Menikah begitu? No, Daddy!”

“Dengar dulu Sopi. Bapak sudah pikirkan matang-matang hal ini. Bapak ....”

“Tapi, Daddy. Sovia enggak mau berpisah dari Daddy.” Sopi mulai terisak.

“Jangan nangis atuh, Neng. Bapak kan jadi ikut sedih. Setelah menikah nanti Sopi boleh kok tinggal di sini. Lagian calon kamu juga tinggalnya deket-deket sini kok.” Pak Asep mengelus lembut punggung putri tercintanya itu.

“Memangnya siapa orangnya, Daddy?” tanya Sopi, heran. Keningnya berkerut, seolah mencari siapa sosok pemuda yang tinggal di dekat sini. Ia menggelengkan kepalanya, nihil. Tak satu pun wajah lelaki yang bisa terbayang di benaknya.

“Kamu mau kan Bapak nikahkan sama Aden?” Pak Asep malah balik bertanya.
Sopi terperanjat mendengar Ayahnya menyebut nama itu. “What? Daddy enggak salah jodohin Sovia sama dia? Orangnya ganteng sih, tapi dandanannya persis seperti si Kabayan. Jangan-jangan dia juga pemalas, sama seperti Kabayan itu.”

“Sopi, kamu ingat waktu dia melindungi kamu dari pemuda-pemuda yang mengganggu?” Sopi mengangguk. “Nah, Bapak rasa dia bisa menjaga kamu dengan baik. Kesan pertama melihat dia, Bapak yakin dia anak yang baik, tidak seperti kebanyakan pemuda lainnya.”

Sopi tertegun. Pak Asep membiarkan gadis itu hanya diam saja, mungkin putrinya sedang mencoba meresapi semua ucapannya. Hanya helaan napas gadis cantik itu yang sesekali terdengar.
Setelah hening beberapa saat, tak lama kemudian, Sopi pun buka suara, “Baiklah, Daddy, beri Sovia waktu untuk berpikir.” Gadis itu menyeret langkahnya menuju kamar, meninggalkan Pak Asep yang di hatinya tengah berharap sang putri mau menerima rencana perjodohan ini.
Satu jam berlalu. Namun, tak ada tanda-tanda Sopi keluar dari kamarnya. Pak Asep pun merasa heran. Ia mulai mengetuk pintu kamar Sopi.

“Sopi, Neng, sarapan yuk.” Tak ada sahutan. “Geulis, Bapak udah bikinin telor ceplok kesukaan kamu. Kita makan bareng yuk.” Tetap tak ada sahutan. “Sopi, lagi apa di dalam? Masih dandan atau lanjutin mimpi? Masa baru juga bangun udah tidur lagi.”

Karena tak terdengar juga sahutan dari Sopi, Pak Asep membuka pintu kamar yang ternyata tak dikunci oleh pemiliknya. Namun, betapa kagetnya Pak Asep saat ia tak menemukan putrinya di dalam kamar itu. Ia mendapati jendela kamar putrinya terbuka lebar.

“Sopi? Kamu di mana, Nak? Ini mah ngajak Bapak main petak umpet ya?” Pak Asep mulai berkeliling ke seluruh ruangan, tetapi tetap saja ia tak menemukan putrinya. “Duh, Sopi. Kamu teh ke mana atuh? Bapak jadi kuatir.” Pak Asep memutuskan kembali ke kamar Sopi, siapa tahu di sana dia bisa menemukan petunjuk. Netra Pak Asep jatuh pada secarik kertas di atas nakas yang berisi tulisan tangan Sopi.

Daddy, maaf, Sovia gak bermaksud bikin Daddy cemas. Sovia hanya kesal mendengar rencana Daddy. Biarlah Sovia bertemu jodoh Sovia dengan sendirinya. Dan Sovia akan menikah setelah benar-benar merasa siap. Don’t worry Daddy, saat Daddy membaca surat ini, Sovia sudah berada di rumah Grandma.

Setelah membaca surat itu, Pak Asep yang sedari tadi pikirannya kalut, kini merasa lega. Bergegas lelaki itu melangkah ke luar hendak menyusul Sopi ke rumah Mak Onah. Wanita itu tampak sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya. Ia merasa heran saat dari kejauhan tampak putranya sedang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Wanita itu pun menyuruh putranya masuk dan menyodorkan segelas air putih yang langsung diteguk habis oleh Pak Asep.

“Heh, nyari apaan kamu teh? Tuh minum udah Emak ambilin. Kalau cemilan mah kebetulan lagi kosong.” Mak Onah memandang heran putranya yang mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumahnya.

“Mak, Sopi ada di sini?” Kembali Pak Asep mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di rumah Emaknya.

Kening Mak Onah berkerut, heran dengan pertanyaan putranya. “Kalian kan tinggal serumah, kok nanya Sopi ke Emak?”
“Jadi, Sopi enggak ada di sini?” Pak Asep malah balik bertanya. Wajahnya mulai terlihat panik. Ia pun bangkit dari duduknya.

“Mau ke mana, Sep? Ada apa sebenarnya?” Asep menyerahkan surat yang ditulis Sopi kepada Mak Onah. Sejurus kemudian wanita itu membacanya dengan saksama. Raut wajahnya tampak serius.

“Seharusnya sudah sejam yang lalu dia tiba di sini,” ucap Mak Onah pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

“Duh, Sopi teh ke mana atuh ya, Mak?” Hati Pak Asep semakin diliputi rasa kuatir. Peluh mulai bercucuran di pelipisnya. Raut wajah Mak Onah pun sama-sama tegang, ikut merasakan kegelisahan yang sedang melanda putranya.

“Makanya, ini kan bukan zaman Siti Nurbaya. Kamu teh meuni seenaknya jodoh-jodohin Sopi.”

Pak Asep menyesali tindakannya, hingga membuat gadis itu pergi dari rumah. Kini entah di mana putrinya berada. Tak berapa lama, ia pun pamit untuk mencari putri kesayangannya. Namun, Mak Onah yang juga merasa sangat kuatir akan keberadaan cucunya, minta untuk ikut mencari. Akhirnya, mereka berdua berjalan menyusuri desa, berharap menemukan sosok cantik yang sangat dicintai.

“Sep, ngapain kamu bawa Emak ke kedai ini? Kamu belum sarapan? Kenapa tadi enggak makan di rumah Emak atuh?!” Mak Onah tampak kesal saat putranya membawa dia ke kedai serabi milik orang yang sangat dibencinya. Dulu, Mak Otih pernah berusaha merebut sang suami. Untunglah almarhum suaminya itu setia, sehingga tidak tergoda sedikit pun. Matanya menerawang, senyumnya terkembang ketika membayangkan sosok gagah perkasa sang suami yang mirip Gatotkaca.

Pak Asep memandang heran Mak Onah yang memasang muka cemberut. Sungguh, ia tak mengerti mengapa Ibunya begitu membenci Mak Otih dan sama sekali tak mau makam kue serabi yang terkenal lezat ini.

“Assalamuaalaikum, Mak. Aden ada?” Pak Asep mencium takzim punggung tangan Mak Otih. Mak Onah memalingkan wajah melihatnya. Sebal.

“Waalaikumsalam, ada, sebentar ya, Den, Aden, ada yang nyari nih!” teriak Mak Otih. Tidak berapa lama, Aden pun keluar.

“Eh, Pak Asep, ada apa Pak?” Aden mencium tangan Pak Asep, kemudian ia hendak mencium punggung tangan Mak Onah, namun Neneknya Sopi itu tak membalas uluran tangan pemuda ganteng itu.

“Sep, Emak mah pulang aja ya, panas lama-lama berada di sini. Kabari Emak kalau Sopi sudah ditemukan.” Mak Onah melangkahkan kakinya lebar-lebar, bergegas meninggalkan kedai itu, diiringi tatapan bengong Pak Asep dan pandangan heran Aden juga Mak Otih.
“Maafin Emak saya, ya. Beliau lagi sakit gigi, jadinya agak sensitif begitu.” Pak Asep mencoba mencari alasan atas sikap Mak Onah.

Aden memandang heran ke wajah mantan guru pencak silatnya yang kelihatan tegang itu. Pak Asep menceritakan tentang kepergian Sopi dari rumah yang katanya mau minggat ke rumah Nenek, tetapi gadis itu tak diketahui ke mana rimbanya. Setelah pamit pada Mak Otih, mereka berdua pun berangkat menyusuri setiap sudut desa mencari keberadaan gadis cantik itu.
***
“Duh, Den, kita harus cari ke mana lagi ya? Belum terlihat tanda-tanda keberadaan Sopi. Kamu di mana atuh Geulis? Baik-baik aja kan di sana?” Pak Asep terlihat sangat cemas. Wajahnya membiaskan kelelahan. Namun, ia tepiskan rasa itu. Kuatir akan keadaan putrinya lebih besar dibandingkan apapun juga.

“Sabar, Pak, kita belum menyusuri seluruh ruas jalan desa ini. Udah Zuhur, Pak. Kita salat dulu di masjid itu yuk, sambil memanjatkan doa buat Neng Sopi juga.” Aden menunjuk sebuah mesjid besar yang terletak di ujung gang.

Pak Asep mengangguk lemah. Tidak berapa lama, mereka berdua sudah berbaur dengan orang-orang, khusyuk menunaikan salat Zuhur berjamaah di mesjid itu serta memanjatkan doa untuk Sopi.

“Den, kita istirahat sebentar di sini.” Pak Asep menenggak air mineral di dalam botol, kemudian ia menyodorkan satu botol lagi pada Aden. “Nih, minum dulu, Den.”

“Terima kasih, Pak. Oh, ya, boleh Aden tanya-tanya tentang Neng Geulis?” ucap Aden dengan nada ragu dan malu-malu.

“Tentu saja, biar lebih tahu tentang calon istrimu.” Pak Asep memandang wajah pemuda calon menantunya itu, yang raut wajahnya sedang tampak merah jambu itu.

Pipi Aden bersemu merah, hatinya berdesir aneh. “Pak, ngomong-ngomong sejak kapan Ibunya Neng Sopi meninggal?”

“Ibunya meninggal saat melahirkan dia. Makanya Bapak selalu berusaha membahagiakan dia, kasihan sejak kecil dia enggak merasakan kasih sayang seorang Ibu.” Netra Pak Asep berkaca-kaca. Sekelebat bayang wajah sang istri muncul di pelupuk matanya.

Aden manggut-manggut, “Lantas, Pak—maaf sebelumnya kalau Aden lancang, tetapi Aden penasaran sama dandanan juga gaya bicara Neng Geulis yang—maaf, terlihat aneh.”

“Hahaha, iya dia memang unik. Logat bicaranya dan dandanannya seperti itu sejak lulus kuliah jurusan sastra Inggris. Bapak juga enggak tahu dia dapat pengaruh dari mana.” Pak Asep tergelak membayangkan style dandanan dan gaya bicara putri semata wayangnya itu.
Oh, pantesan atuh si Eneng teh begitu. Sekali lagi Aden manggut-manggut.

“Makanya, Den, kalau memang kalian ditakdirkan berjodoh, Bapak titip Sopi ya. Selama ini Bapak belum maksimal membimbing dia, terutama dalam hal agamanya. Tolong, bimbing dia untuk lebih mengenal Islam.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak Aden.

Aden mengangguk. “Pak, udah enggak capek kan? Kita lanjutkan mencari Neng Sopi yuk.”

Pak Asep mengangguk, kemudian dua laki-laki itu beranjak dari teras mesjid. Berdua mereka melangkah meninggalkan mesjid, melanjutkan pencarian.
***
Baca cerpen lainnya di sini:
[Link DISINI[URL=]link di sini[/URL]

Cinta Bersemi di Kedai Serabi
Diubah oleh suciasdhan 30-06-2020 09:33
lianasari993Avatar border
firdainayahAvatar border
novianalindaAvatar border
novianalinda dan 79 lainnya memberi reputasi
80
14.3K
634
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
suciasdhanAvatar border
TS
suciasdhan
#115
My Spoiled Cat
Kenangan Yang Takkan Terlupakan

kaskus-image
Sumber: Dokumen Pribadi

Sekitar satu bulan sudah rumah terasa sepi tanpa adanya kehadiran hewan berbulu, berkaki empat, dan selalu mengeong-ngeong ketika akan meminta sesuatu. Rasanya suasana rumah lebih dingin dan sunyi dari sebelumnya. Akan tetapi, semesta ini tak melulu soal kesepian dan perasaan sunyi. Ketika ada hal yang menghilang, ia akan menggantinya dengan yang baru. Ya, pikirku seperti itu semenjak seekor kucing betina, yang entah berasal dari mana, menempati salah satu bagian rumah dalam keadaan hamil besar.

Kehilangan memang selalu menjadi hal yang menyedihkan dalam kehidupan manusia, entah itu kehilangan orang tersayang, kehilangan benda berharga, atau mungkin kehilangan hewan peliharaan, hingga aku layak untuk berempati pada kucing betina itu. Aku, kakakku Dito, dan adikku Luna saling membantu satu sama lain merawat kucing betina tersebut hingga waktu kelahiran tiba. Ketika wajah kami terlihat tegang, tiba-tiba terdengar suara dering ponselku berbunyi, segera kuraih ponselku, dan kutekan tombol penjawabnya.

“Beneran nih kamu gak mau bareng? Nanti telat loh!”

Di seberang sana terdengar suara seorang temanku yang dengan cukup heboh kembali meyakinkan keputusanku untuk menyusul rombongan orang-orang yang akan pergi mengikuti pelatihan Paskibra siang itu.

“Gak apa-apa,” kataku sembari menempelkan ponsel tipis berwarna putih ke telingaku. “Kucing di rumah aku mau lahiran soalnya.”

“Duh! Kamu segitunya sama kucing ya. Ya udah deh, semoga persalinannya lancar. Aku duluan ya.”

Setelahnya aku menutup panggilan dari temanku itu, lalu aku bergegas ke teras belakang rumah, menemui keluargaku yang sibuk dengan seekor kucing betina tanpa nama yang sedang berada dalam keadaan hamil besar itu.
****
Suara rengekan anak-anak kucing yang berirama dan bersahut-sahutan membuat suasana rumahku meriah dan terasa lebih hangat oleh kehadiran mereka. Kardus bekas air kemasan menjadi inkubator ala kadarnya khas keluarga kami sebagai tempat mereka merebahkan badan. Serta beberapa handuk tak terpakai sebagai alat penghangat alami untuk bayi-bayi kucing yang baru saja lahir itu.

Kucing betina tanpa nama itu melahirkan lima anak kucing. Sekitar satu bulan kemudian, empat diantaranya aku berikan kepada tanteku yang juga penyuka kucing, satu kucing lainnya entah kenapa terlihat tak ingin pergi dari rumahku. Padahal, hampir seluruh saudara-saudaranya ikut pergi, termasuk sang ibu, namun ia meraung-raung khas kucing kecil yang menolak untuk di angkat pergi dari zona nyamannya.

“Udahlah, gak apa-apa. Biarin dia kita urus di sini.”

Kakakku memberikan pendapat perihal kucing rewel yang tak suka diatur itu.

“Lagipula, kita juga udah lama gak lihat kucing keliaran di dalam rumah. Kangen,” lanjut kakakku.

Baiklah, satu anak kucing rewel dan tak suka diatur itu pun akhirnya resmi menjadi bagian anggota keluarga kami secara ilegal. Sebab namanya tak ada dalam Kartu Keluarga kami hehehe.
****
Anak kucing itu tidak mengeong-ngeong, atau memohon-mohon agar dipertemukan dengan ibunya kembali. Ia begitu damai dengan handuk bekas berwarna putih sebagai alas tidurnya. Teras belakang menjadi wilayah kekuasaannya kini. Sesekali sebelum aku berangkat kuliah, aku menyempatkan diri melihat keadaannya. Kadang adikku yang memberikan susu, kadang kakakku yang memberikan makanan kucing, kadang pula ibuku yang mengajaknya bermain di pagi hari, tapi tidak bagiku. Rasanya belum ada kelekatan yang kentara diantara kami.

Suatu hari, entah angin apa, kucing kecil bercorak hitam di bagian kepala dan ekor serta sisanya berwarna putih itu berjalan anggun mendekatiku yang ketika itu aku baru saja duduk di ruang depan dengan tas yang masih menggantung di pundakku. Kucing kecil itu mengelilingi kakiku yang masih beralaskan sepatu. Ia tidak bersuara, dan tetap menggesek-gesekkan tubuhnya pada kakiku sambil terus mengitarinya.

“Dia suka sama kak Lia,” kata adikku yang baru muncul dari dapur.

Adikku duduk di atas sofa sebelah kiriku. “Yong, makan nih, snack kucing.”

Adikku memberikan makanan berbentuk seperti ikan yang biasa dijual di super market- super market pada umumnya.

“Yong?”

Aku terheran dengan panggilan yang diberikan adikku itu. “De, gak ada nama lain?” tanyaku.

“Siapa dong?”

Kucing kecil yang kini sedang menikmati snack pemberian adikku ini menjadi pusat perhatianku. Warna bulunya hitam dan putih, persis seperti seekor sapi dalam ukuran kurang dari tiga puluh senti.

“Sapi!” seruku.

Kucing kecil itu berdiri tegap lalu berjalan ke arahku. Kembali ia mengitari kakiku sambil sesekali menggesek-gesekkan badannya pada kakiku.

Seperti sinyal Wi-Fi yang tersambung dengan handphone atau laptop ketika aku dan adikku saling bertatapan. Kami segera mengangguk dan melihat ke arah kucing kecil itu.

“Sapi!!!” seru kami bersamaan. Sejak saat itu, aku dan Sapi menjadi dekat, tak berjarak, seolah ada ikatan batin yang sedikit demi sedikit membuat timbul rasa sayangku padanya.
****
Sapi hidup dalam kekangan tiga orang manusia. Aku, kakakku, dan adikku. Entah bagaimana ia seperti anggota keluarga terkecil –baik dalam ukuran, pun usia- yang secara alami, menuntut kami untuk menjadi posesif padanya. Ia memilih sendiri untuk menjalani hidup, tidak mengekori induknya seperti keempat saudaranya yang lain. Tidak merengek, pun meraung karena spesiesnya berbeda dengan kami. Hal itulah yang menjadi penyebab betapa kami sangat posesif padanya.

Tubuhnya terlalu kecil, hingga kami tak mengijinkannya keluar rumah meski sekedar berdiam diri di teras rumah bagian depan.

“Ummi, jangan buka pintunya. Nanti Sapi keluar!” protesku yang melesat cepat meraih gagang pintu serta menutup kembali pintu rumah sebelum Sapi benar-benar menginjakkan kakinya ke teras depan.

“Loh kenapa? Kan dia udah gede,” ujar ibuku.

“Gak. Jangan, pokoknya Sapi gak boleh keluar rumah. Dia masih anak-anak, Mi,” kataku menuntut.

“Kasihan loh dia gak bergaul sama teman-teman sebayanya.”

“Kucing-kucing di sekitar rumah itu liar, Mi. Pergaulannya bebas, aku gak mau Sapi jadi kucing liar kayak mereka.” Ibu hanya mengangkat bahu dan terdiam mendengar ucapanku, sambil berlalu pergi ke dapur.

Menjadi pihak yang selalu posesif itu sejujurnya tidak menyenangkan. Selalu saja ada perasaan cemas dan was-was menghantui akan dampak-dampak atau hal-hal buruk yang kemungkinan akan menimpa atau akan terjadi, padahal semuanya itu murni hanya berada dalam kepalamu semata. Alias, itu hanya buah pikiran saja. Tapi bagiku itu adalah cara menunjukkan rasa sayangku padanya, pada si Sapi.

Ketika waktu tidur pun, daerah teritorinya meluas hingga kamarku di lantai dua. Setiap malam, Sapi akan berjalan menghampiri kamarku lalu tidur dengan nyamannya ketika aku akan berbaring di atas ranjang. Aku tak melarangnya, bagiku itu hal yang baik karena secara alamiah, ada ikatan tak kasat mata yang lebih kuat antara aku dan Sapi ketimbang anggota keluargaku yang lain padanya. Ikatan tertentu yang menuntut untuk menyayangi lebih dan lebih setiap harinya.

Ikatan itu seperti rantai yang membelenggu lehernya dan kakiku. Setiap kali aku di rumah, Sapi mengekoriku bagai anak ayam dan induknya. Kebiasaan-kebiasaan yang sering kami lakukan padanya memiliki efek tertentu pada sikap Sapi.

“Kok Sapi di kasih ayam goreng gak mau ya?” tanya ibuku.

“Sapi makanannya makanan kucing eksklusif, Mi,” jawab adikku. “Kita gak pernah biasain dia makan makanan manusia.”

“Ya ampun. Waktu itu gak boleh keluar rumah, sekarang gak suka makanan kita. Kalian semua protektif amat sih sama Sapi. Pantesan manja banget, tidur aja harus bareng-bareng,” ujar ibuku.

Biarlah Sapi manja. Itu bagus menurutku, menurut pandangan kami.
****
Sebesar apapun perhatian kami, seprotektif apapun kami terhadapnya, terkadang ada saja celah yang menyebabkan sesuatu terjadi pada Sapi. Mungkin karena rasa ingin tahunya yang besar terhadap sesuatu yang baru atau sesuatu yang menarik perhatiannya, sehingga dia tidak menyadari bahwa sesuatu itu bisa membahayakan dirinya bahkan melukainya. Pernah suatu hari ia baru melihat sebuah lilin dan api yang menyala di atas sumbunya. Sapi mengendusnya. Begitu aku melihat ke arahnya, separuh kumisnya habis terbakar. Timbullah gelak tawa juga rasa prihatin padanya. Ia terlalu ingin tahu hingga berakibat separuh kumisnya menghilang terbakar. Lucunya.

Atau ketika ibuku sedang membersihkan kamar mandi. Air yang telah bercampur dengan cairan pembersih pun menggugah rasa ingin tahunya. Lalu Sapi meminumnya, dan selanjutnya ia menunjukkan ekspresi bodoh yang membuat gelak tawa di rumah. Beruntung setelahnya tidak terjadi apa-apa. Sapiku memang tingkahnya unik, lucu, dan menggemaskan.

Beranjak remaja, kami memberi sedikit kebebasan padanya dengan cara membiarkannya keluar rumah. namun, sifat posesif yang kami berikan padanya membuat tingkah laku Sapi terbentuk atas dasar perhatian berlebihan yang kami berikan. Dia menjadi sosok yang penakut. Sehingga, ketika Sapi keluar, tebak apa yang terjadi?
Tidak lebih dari satu jam ia kembali, sambil menangis dan mengeong karena wajahnya berdarah akibat kalah berkelahi dengan kucing liar di sekitar rumahku. Di satu sisi aku merasa kasihan, tapi di sisi lain, Sapi menjadi kucing rumahan yang lebih nyaman berada di daerah teritorinya ketimbang bergaul dengan kucing di luaran sekitar rumah.

Pernah ada satu momen yang paling menggelitik dalam ingatanku. Saat itu, Sapi sedang keluar rumah untuk kedua kalinya. Rumah pun sepi dan kakakku bisa dengan mudah mengepel lantai rumah.

“Duh! Ini kenapa kotor lagi!”
Aku yang sedang asyik menonton TV pun menghampiri kakakku yang menggerutu tidak jelas.

“Ada apa, Kak Dito?” tanyaku menghampiri kakakku yang sedang berada di dapur.

“Liat! Kenapa banyak tanah di sini, kan Kakak udah bersihin,” omel Kakakku.

Memang kulihat lantai dapur kotor oleh tanah dan lumpur, serta ada bau pesing yang tercium.

“Ih! Sapi ya,” tebakku menutup hidung.

“Sapi kan lagi di luar, Lia,” kata Kakakku lagi.

Tak berapa lama, Sapi muncul dari kamar mandi. Ia melenggang mendekati kakakku.

“Kok kamu di sini?” tanya Kakakku seakan Sapi mengerti dengan pertanyaannya.

Sapi hanya mengeong-ngeong. Tak lama, adikku datang menghampiri kami dan misteri kotornya lantai dapur terjawab sudah, dengan munculnya Sapi dari dalam kamar mandi.

“Tadi Ade liat Sapi lari-lari terus nyakar-nyakar pintu. Eh pas Ade deketin, Sapi ngompol dan lari ke kamar mandi pas pintunya Ade buka. Ternyata ada kucing liar yang ngajak berantem, dianya takut,” jelas adikku.

Kontanlah aku dan kakakku tertawa terbahak-bahak. Padahal Sapi sudah cukup kuat untuk berkelahi dengan kucing liar lainnya. Sayangnya, cara kami bertiga yang begitu protektif padanya membuat karakter Sapi bagai kucing pengecut dan penakut.

“Tuh kan Sapi pelakunya,” tuduhku disela-sela gelak tawa kami.
****
Waktu pun berlalu. Sapi kini beranjak dewasa. Dia sekarang menjadi kucing dewasa yang sudah mulai merasa ingin menjadi mandiri. Ia tak lagi menjadi seekor kucing yang menangis ketika kalah bertengkar melawan kucing liar lainnya, ia pun tak mengurung diri di rumah seharian ketika ada betina yang menolaknya. Kini ia mulai merangkak sebagai kucing yang cukup disegani. Walaupun, sifat manjanya itu tak pernah hilang sama sekali. Ia masih senang mengelus dirinya diantara kedua kakiku. Ia pun masih setia menunggu kami makan meski pun ia sudah kelaparan. Atau ia masih setia untuk tidur bersama ketika malam tiba. Ada yang terasa sedikit berbeda, pun secara bersamaan semuanya masih tetap sama. Seperti itulah deskripsi perkembangan Sapi, kucing kesayanganku.

Bukan hanya anggota keluargaku yang menyayanginya. Bahkan, beberapa sanak saudara jauh pun menaruh perhatian padanya.

"Sapi gak di ajak pulang kampung?" tanya ibuku.

"Iya dong. Harus," jawabku antusias.
"Sapi!!! Sapi mana ya?!" Saudaraku yang bernama Laras meneriakkan nama Sapi ketika ia baru saja tiba di dalam rumah.

"Sapi lagi keluar," jawab Adikku.
"Dia baik-baik aja kan?" tanya saudaraku lagi.

"Dih! Kok yang ditanyain Sapi terus sih?" protesku.

"Iya. Habis kangen sama si Sapi. Aku sengaja bawain makanan buat dia."

Perihal semacam itu bukan hanya sekali dua kali. Setiap orang yang kenal dengan Sapi, pasti yang mereka cari pertama kali si kucing hitam putih itu. Selalu seperti itu, banyak yang menyayangi Sapi meskipun aku tidak meminta mereka untuk seperti itu.
Walaupun sifat manjanya masih ada, ia sekarang sudah menjelma menjadi sosok kucing dewasa. Waktu yang ia gunakan untuk berada di rumah menjadi lebih sedikit. Ia datang hanya ketika sedang istirahat atau makan. Tapi ada hari spesial di mana hanya dirinyalah yang merasa dirugikan oleh hari tersebut.

Saat Tahun Baru. Ketika orang-orang berbondong-bondong menyaksikan parade kembang api di atas langit kota malam itu. Hanya Sapilah yang meringkuk di dalam kamarku dan menyendiri. Ia benci suara kembang api yang meletup-letup berwarna-warni di atas langit malam.

Kadang jika suasananya sedang seperti itu, rasanya aku ingin Sapi tetap menjadi anak kucing, atau setiap hari adalah Tahun Baru, agar ia tetap menjadi kucing rumahan yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumahku, bukan di luaran sana.

Tapi dunia ini fana. Kita tidak bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu, atau pun menghentikan waktu agar tetap pada momen yang sama atau momen yang indah seperti yang kita inginkan untuk selamanya. Kita perlu kelegaan juga keikhlasan dalam menghadapi hari-hari ke depan. Semua yang pergi akan pulang, yang hidup akan mati, pun yang berjumpa harus berpisah.
****
Aku harus pindah ke Surabaya. Mengikuti suamiku yang tinggal dan bertugas di sana. Tentulah aku harus meninggalkan keluargaku termasuk Sapi yang semakin lama, rasanya kami semakin berjarak, karena suamiku tidak begitu menyukai hewan peliharaan jenis apapun berada di rumahnya, sehingga dia tidak mengizinkanku membawa Sapi ikut serta. Sedih rasanya, sangat, serasa ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yabg terenggut, namun begitulah hidup dan siklusnya. Semua harus kita lewati bahkan dengan perasaan berat sekali pun.

Adik atau kakakku masih menyempatkan diri mengabari keadaan mereka di Bandung, termasuk kabar Sapi. Mereka bilang, Sapi semakin lama semakin jarang berada di dalam rumah. Kalaupun ia di rumah, Sapi hanya memandangi kamar kosong yang dulu adalah kamarku dengan sikap diam dan tatapan hampa, tatapan kehilangan. Lalu kemudian ia pergi lagi.

“Tuh liat, Kak. Si Sapi dari tadi diem aja di depan kamar kakak. Dipanggil-panggil gak menyahut kayak gak denger gitu,” kata Adikku ketika kami sedang video call.

“Sapi!!!” panggilku.

Kontan Sapi berbalik dan menatap ke arahku di balik layar ponsel. Ia mengeong-ngeong seakan-akan memanggil namaku.

“Aku juga kangen, Sapi,” jawabku seperti tahu maksud suaranya itu.
Sapi terus mengeong-ngeong. Menggerak-gerakkan ekor hitamnya dan sesekali menjilati layar ponsel adikku yang membuatku tiba-tiba merasa terkejut.

Rasanya aku sedikit sedih, ingatan akan kucingku yang dulu sebelum Sapi muncul kembali berputar di otakku. Siklus hidup seekor kucing yang secara beruntun selalu mirip sebelum ia benar-benar pergi untuk selamanya. Ada bagian dari hatiku yang rasanya tak rela jika benar akan seperti itu. Empat tahun aku merawatnya, dari semula aku yang tak memiliki ikatan dengannya, hingga akhirnya ikatan itu harus terputus oleh sebuah jarak. Rasanya jika dikenang seperti beberapa menit telah berlalu begitu saja, nyatanya, sangat lama.
****
Selang beberapa hari kemudian, aku bermimpi tentang Sapi. Dalam mimpiku, ia beraktivitas seperti biasanya. Bangun pagi sekali dan mengeong-ngeong meminta makan, lalu kembali lagi berbaring di atas kasurku dan kembali tidur ketika seisi rumah kerepotan karena masing-masing akan pergi beraktivitas.

Siangnya ketika aku pulang dari kampus, Sapi datang menghampiriku dan mengelilingi kakiku begitu manjanya. Aku memeluknya dan membaringkan Sapi dalam pangkuanku. Wajahnya terlihat bodoh ketika aku mengelus-elus kepalanya, tapi itu keseruan yang kudapat ketika tengah memanjakannya.

Mimpi itu ternyata hampir mirip dengan yang dialami adik dan kakakku. Setelah Sapi tidak pulang selama lebih dari dua bulan, kami semua serempak bermimpi tentangnya. Bukan hanya sekedar rasa rindu yang menghinggapiku, namun lebih kepada rasa cemas akan keberadaan Sapi yang tidak kami ketahui kemana perginya. Mungkinkah dia baik-baik saja, atau… ah entahlah. Menebak-nebak tanpa ada jawabnya membuat aku semakin kuatir.

“Kakak sama si Ade juga mimpiin si Sapi. Dia udah tiga bulan gak pulang-pulang. Kayaknya punya keluarga baru deh,” ujar Kakakku.

“Duh Kak, Lia takut ada apa-apa sama Sapi,” kataku cemas.

“Berdoa aja, semoga dia pulang. Nanti Kakak kabarin kalau dia pulang.”
****
Lanjutan

Baca cerpen lainnya: Di sini
Diubah oleh suciasdhan 26-03-2020 10:37
miniadila
erina79purba
RetnoQr3n
RetnoQr3n dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.