- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
Setelah beberapa tahun memutuskan untuk beristirahat, akhirnya Beavermoon kembali untuk menyelesaikan apa yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat.
Sedikit bercerita bahwa cerita ini adalah akhir dari serial Aku, Kamu, dan Lemon. Cerita ini tidak lagi mengisahkan tentang Bram, Widya, Dinda, dan yang lainnya. Cerita ini akan mengisahkan tentang sang penulis dari Aku, Kamu, dan Lemon setelah seri Buku Harian Airin berakhir. Bagaimana ia harus menjalani hidup setelah semuanya berakhir, bagaimana ia harus menyelesaikan dan menjelaskan semua cerita yang sudah ia tulis.
Lalu kenapa cerita ini masih menjadi bagian Aku, Kamu, dan Lemon jika sudah tidak ada lagi para tokoh utama dari cerita tersebut? Mungkin, apa yang dirasakan oleh sang penulis bisa menjadi penutup dari serial ini, dengan catatan telah mendapatkan izin dari beberapa orang yang "namanya" pernah tercantum di cerita sebelumnya.
Untuk kalian yang baru bergabung, mungkin bisa baca seri sebelumnya terlebih dahulu sebelum membaca seri terakhir ini.
AKU, KAMU, DAN LEMON
AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Dan bagi kalian yang sudah mengikuti dari seri pertama, selamat datang kembali. Semoga apa yang menjadi pertanyaan selama ini bisa terjawab, jika tidak terjawab maka lebih baik bertanya di kolom komentar. Satu info terakhir, seri ini akan update 3X dalam seminggu (Senin, Rabu, Jum'at) agar tidak terlalu lama. Enjoy!

Spoiler for Index:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Diubah oleh beavermoon 27-06-2020 18:27
i4munited dan 31 lainnya memberi reputasi
32
27.5K
Kutip
395
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#116
Spoiler for Episode 20:
Krek!Aku membuka tutup botol minuman seperti biasa, beberapa tegukan air masuk ke dalam tenggorokanku. Ku pasang kembali tutup botol itu lalu ku letakkan di sebelahku, kemudian aku menyalakan sebatang rokok dari dalam saku.
"Jadi itu masalahnya? Soal nyokapnya Renata ngga setuju sama hubungan kalian? Terus kemarin dia minta lu buat jaga jarak sama Renata, dan lu menyanggupinya?" Tanya Ferdi.
Bella menyentuh pundakku, "Mas Adrian serius mau ngejauhin Ka Renata? Apa ngga terlalu cepat buat ambil keputusan Mas? Aku aja ngerasa kayak sayang gitu kalau akhirnya kayak gini."
Ku hembuskan asap putih dari dalam mulut, asap itu menghilang terkena terpaan angin malam ini. Aku masih tetap diam tanpa menanggapi perkataan mereka berdua, hanya melihat ke arah jalanan yang semakin sepi.
"Ngomong-ngomong, gimana sama bokapnya? Apa dia ngga setuju juga?" Tanya Ferdi lagi.
"Kalau itu gue ngga tau." Jawabku singkat.
"Gue juga bakalan bingung sih kalau jadi lu, gue cuma bisa kasih saran. Kalau emang lu masih suka sama dia, jangan pernah tinggalin dia. Percaya apa ngga nanti bakalan ada jalan keluarnya, apapun bentuknya. Tapi kalau emang tekad lu udah bulet buat ngejauhin Renata, jangan pernah kasih dia harapan sedikitpun karena itu bisa nyiksa dia." Jelas Ferdi.
Ku anggukkan kepalaku beberapa kali. Selintas terpikir olehku tentang kejadian yang belum lama terjadi, aku masih tidak percaya. Namun semuanya benar terjadi, aku tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi. Ku usap wajahku beberapa kali, Bella mengelus pundakku dengan pelan.
"Sabar Mas, mungkin kemarin Mas Adrian terlalu buru-buru buat ambil keputusan. Coba dipikirin lagi." Ucapnya.
Aku kembali mengangguk sambil tetap menutup wajahku. Mungkin benar apa yang dikatakan Bella, aku terlalu cepat mengambil keputusan. Dan mungkin ada hal lain yang membuatku untuk cepat mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dahulu. Terlintas sesaat, mungkin memang inilah yang terbaik untuk kita.
*
"Mas Adrian..."
Ku kedipkan mataku beberapa kali, kemudian aku melihat di sampingku sudah berdiri Bella dengan gelas berisi kopi di tangannya. Ia pun memberikan gelas itu kepadaku.
"Diminum Mas biar ngga ngelamun." Kata Bella.
Aku menerima gelas tersebut lalu aku meminumnya dengan pelan. Marena aku lebih sering berdiam diri yang membuat pikiranku entah kemana, beberapa kali aku menggelengkan kepala agar aku kembali fokus pada pekerjaan.
Bella kembali mendekat ke arahku, "Kayaknya Mas Adrian butuh curhat sama Kivandra deh, biar Mas Adrian ngga sering diem aja."
"Aku pun berpikir demikian Bel, gantian ya." Kataku.
Bella menganggukkan kepalanya, kami pun bertukar tempat. Aku kembali menatap mesin kopi yang ada di hadapanku yang sudah lama tidak ku sentuh dengan tanganku karena pergantian tugas beberapa hari belakangan ini. Ku bersihkan tanganku menggunakan kain, lalu aku bersiap untuk curhat kepada Kivandra.
Tiket pun keluar, aku pun mulai membuatkan pesanan milik pelanggan. Langkah demi langkah ku kerjakan dengan teliti, aku mencoba untuk tidak membuat kesalahan.
"Bel..." Rara berbisik kepada Bella, "kok beda ya?"
"Beda? Beda apanya Ra?" Tanya Bella.
"Coba kamu liat Mas Adrian..."
Mereka pun melihat ke arahku, "Kamu liat deh Bel, kayaknya ada yang beda sama Mas Adrian kalau dia lagi berurusan sama kopi. Kesannya lebih gimana gitu."
"Oh iya aku paham maksud kamu..." Bella menatap Rara, "aku pun berpikir demikian, dia keliatan lebih keren pas berurusan dengan kopi."
"Nah aku setuju. Aku suka ke beberapa kedai lain dan yaudah biasa aja ngeliat orang bikin kopi. Tapi pas ngeliat Mas Adrian yang bikin kayaknya gimana gitu, keren di kelas yang berbeda." Jelas Rara.
"Beberapa pelanggan pun pernah bilang, selain resep Mas Adrian yang enak kadang tuh mereka cuma mau liat Mas Adrian doang." Ucap Bella.
"Serius Bel?" Tanya Rara.
"Udah berapa pelanggan yang coba buat ngedeketin Mas Adrian, tapi emang Mas Adrian orangnya bukan yang manfaatin keadaan kayak gitu jadi ya ngga ditanggepin sama dia." Jelas Bella.
"Apa karena Ka Renata?" Tanya Rara lagi.
"Jauh sebelum Mas Adrian ketemu Ka Renata pun udah kejadian Ra, makanya aku salut sama Mas Adrian." Jawab Bella.
"Waw, bener-bener..."
"Ra, tolong meja 3." Kataku.
Dengan sigap Rara mengantarkan pesanan tersebut, mereka pun kembali ke tugas mereka masing-masing. Aku membereskan alat-alat yang baru saja ku gunakan ke tempat asalnya, Ferdi pun mendekat ke arahku.
"Gue liat-liat jadi sering bengong lu. Butuh refreshing dulu?" Kata Ferdi.
"Ngga lah, butuh waktu aja." Kataku.
Ferdi mengangguk beberapa kali, kami pun kembali pada tugas kami masing-masing. Menjelang malam, tiba-tiba saja hujan deras turun tanpa menyapa. Aku melihat ke arah langit di luar, awan gelap sudah menyelimuti. Bersamaan dengan itu pula, kedai ini hanya diisi kami berempat tanpa ada pelanggan.
"Bisa pas gini ya." Kataku seorang diri.
"Apanya yang pas Mas?" Tanya Bella.
Aku menoleh ke arah belakang, "Eh Bel, ini pas hujan terus pas banget bisa ngga ada pelanggan kayak gini. Kayak udah direncanain sebelumnya."
"Iya juga ya..." Bella melihat sekeliling, "bisa pas kayak gini, aneh juga."
Kami berdua sama-sama memandangi hujan dari kaca jendela. Hujan diikuti oleh angin yang kencang dapat terlihat dengan jelas, sesekali terlihat petir dengan cahayanya yang nampak dan suara gerumuh mengikutinya. Aku kembali mengingat Renata yang sangat ketakutan ketika petir datang, entah kenapa aku kembali mengingatnya.
"Aku ngga paham Mas..."
"Ngga paham kenapa?" Tanyaku tanpa mengalihkan pandangan.
"Menurut Mas Adrian, salah ngga sih kalau perempuan ngungkapin perasaannya duluan daripada laki-laki? Atau emang takdirnya perempuan cuma boleh nunggu?" Tanya Bella.
Aku menatap Bella, "Kamu mau coba buat ngungkapin duluan?"
Bella menatapku, "Salah ngga sih Mas?"
Aku melihat sekeliling. Ku lihat Ferdi masih terduduk di meja pelanggan dengan laptopnya sedangkan Rara sibuk dengan handphonenya, "Ngga salah kalau kamu mulai duluan, dengan catatan kamu siap dengan semua resikonya. Pertanyaannya apa kamu siap? Kalau belum, coba dipikir lagi."
"Apa Mas Adrian juga mikir kayak gitu?" Tanya Bella.
"Itu alasannya Bel..." aku kembali menatap langit, "aku belum siap. Dan... kamu tau siapa yang aku korbanin."
Bella mengangukkan kepalanya, kemudian kami terdiam satu sama lain. Tak terasa malam pun tiba, namun hujan masih tetap sama. Jas hujan sudah ku pakai, kemudian aku berlalu menuju motorku dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Meninggalkan parkiran, jalanan lebih sepi dari biasanya. Aku pun melajukan Syailendra lebih pelan dari biasanya karena keadaan jalanan yang basah dan licin.
Kembali tiba di rumah, ku lepas jas hujan lalu ku gantung di dekat motor. Aku berjalan masuk ke dalam rumah setelah membuka kunci pintu. Kegiatan yang tidak berubah, mengambil minuman di kulkas lalu ku bawa menuju kamarku di lantai atas. Ku letakkan tas di tempat biasa lalu aku duduk di sofa menatap TV yang tidak menyala.
Krek! Beberapa tegukan dari minuman ini, aku mengambil handphone dari saku kemejaku. Tidak ada kabar dari Renata, ku letakkan handphone di atas meja lalu ku nyalakan sebatang rokok. Dalam keheningan ditemani suara hujan, aku terdiam dengan tatapan kosong. Pikiranku melayang, membayangkan beberapa skenario yang bisa ku lakukan dengan semua resikonya. Rasanya melelahkan, aku pun tak menemukan skenario terbaik dari beberapa pilihan.
"Apa lebih baik seperti ini?"
*
Satu hari, dua hari, satu minggu, dua minggu, terlewatkan begitu saja. Aku menjalani kehidupanku dengan tetap melakukan rutinitas seperti biasa. Seperti hari ini, kehidupanku masih berjalan seperti biasa. Mungkin akan ada pertanyaan bagaimana dengan Renata?
"Meja 1 Ra." Kataku.
"Siap Mas." Jawabnya.
Jawabannya aku tidak tau bagaimana keadaannya. Setelah kejadian waktu itu, hingga saat ini aku tidak menghubunginya dengan sengaja. Kenapa? Mungkin lebih baik seperti ini, menjalani kehidupan tanpa memberikan luka lebih lama kepada orang lain. Lantas kenapa aku berani memulai sesuatu yang tidak jelas kepastiannya? Aku berusaha mencoba, apakah itu salah? Egois? Mungkin lebih tepatnya jahat, memberanikan diri untuk mencoba dengan mengorbankan perasaan orang lain.
"Bel, pegang mesin ya. Aku mau cek barang." Kataku.
"Iya Mas." Jawabnya.
Lalu bagaimana aku harus hidup jika aku tidak berani mencoba? Apakah lebih baik hidup di jalur yang aman-aman saja? Mungkin jika aku berpikir demikian, tempat ini tidak akan pernah tercipta. Aku pun memberanikan diri untuk mencoba sesuatu yang bukan ranahku, dengan catatan aku siap menerima semua resikonya. Kenyataannya berhasil, tempat ini tercipta beserta dengan lingkungannya yang mendukung.
"Fer, besok restock susu. Sisanya masih aman." Kataku.
"Oke cuk." Jawabnya.
Namun apakah cara pikirku bisa disamakan antara bisnis dengan perasaan? Aku memberanikan diri untuk mencoba dan berharap bisa berhasil, meskipun kenyataannya berkata lain. Salahkah aku untuk mencoba?
Semuanya sudah terjadi, semuanya sudah berlalu. Aku tidak bisa memutar waktu, aku tidak bisa memperbaiki kesalahanku. Aku hanya bisa menerima semua resikonya saat ini sesuai dengan apa yang sudah menjadi pilihanku.
Kling!
Dan saat ini, aku akan tetap menjalani hidupku dengan semua kewajiban yang harus ku kerjakan. Setidaknya aku sudah bisa kembali tersenyum. Bukan karena bisa melupakan Renata, melainkan karena ada orang tercinta yang masuk ke dalam kedai ini.
"Loh..." Ferdi membuka matanya lebar, "Tante sama Om pulang? Subhanallah, Tante makin cantik aja."
"Istri Om nih, masih aja digodain." Kata Ayah.
"Et, santai Om. Saya juga ngga berani, badan Om lebih gede soalnya." Ucap Ferdi.
Kami pun tertawa melihat kelakukan mereka, aku pun menghampiri mereka dan mencium tangan mereka. Bella mengajak Rara untuk menghampiri kedua orang tuaku untuk memperkenalkan diri.
"Oalah akhirnya nambah personil juga." Kata Ayah.
"Asik dong Bella punya temen seperjuangan." Kata Ibu.
"Setelah sekian lama Tante, do'aku terkabulkan." Jawab Bella.
Aku beserta Ayah dan Ibu pun menuju kursi yang masih kosong. Aku meminta Bella membuatkan minuman untuk mereka.
"Gimana semuanya? Aman-aman aja atau ada masalah?" Tanya Ibu.
"Kalau ngomongin bisnis mah ya ada aja Bu masalahnya, tapi bisa teratasi lah satu-satu." Jawabku.
"Kalau lempeng-lempeng aja juga kayaknya ngebosenin, iya ngga? Tanya Ayah.
"Permisi..." Rara meletakkan minuman di meja, "Om, Tante, ini minumannya."
Kemudian ia kembali ke tempatnya, "Aku sedikit setuju, cuma ya kalau ngga ada masalah seenggaknya lebih baik daripada ada masalah. Ngomong-ngomong kok Ayah sama Ibu udah bisa pulang?"
"Ini juga nyolong-nyolong Nak, sebenernya Ayahmu ada urusan di sini. Jadi sekalian aja deh mampir, toh cuma dua hari doang abis itu balik lagi ke sana." Jelas Ibu.
Aku menganggukkan kepalaku beberapa kali, kami pun melanjutkan perbincangan pada siang ini. Tak terasa waktu cepat berlalu, aku beserta Ayah dan Ibu sudah beranjak menuju parkiran. Aku menyempatkan untuk merokok bersama Ayah.
"Eh ngomong-ngomong kamu masih betah sendirian?" Tanyanya.
"Mulai dibahas lagi, udahlah ngga usah dibahas yang begituan." Kataku.
"Loh bukan begitu, Ayah sama Ibu kan pengen juga ngeliat kamu punya pacar lagi. Udah lama banget loh ada kali berapa tahun, toh kalau bisa sekalian nikah gitu. Ayah pengen punya cucu." Kata Ayah.
"Nikah? Aku baru 23 tahun masa iya udah mau nikah aja." Sanggahku.
"Loh Ayah menikah umur 23, Ibumu umur 22. Bener toh Bu?" Kata Ayah.
"Tapi kan Ayah jadi PNS umur 19, beda dong aku baru punya kerjaan di umur 22. Ngga adil kalau cara mainnya begitu." Kataku.
"Ayah sama Anaknya sama-sama ngga mau ngalah toh, ayo cepetan kan Ayah harus bikin laporan." Kata Ibu.
Perdebatan selesai begitu Ibu berbicara, sedikit bercerita tentang Ayah dan juga Ibu. Ayah dan Ibu seperti dua sisi koin dengan tampak masing-masing yang berbeda. Jika Ayah adalah api yang membara, maka Ibu adalah air yang mengalir. Ayah memiliki sifat keras kepala, sedangkan Ibu adalah orang yang bisa menyalurkan sifat keras kepala Ayah menuju ke arah yang lebih baik. Mungkin dari sanalah semua sifatku berasal, dua sifat yang menjadi satu.
Ayah dan Ibu pun akhirnya meninggalkan tempat ini menuju tempat penginapan, mungkin karena perjalanan tugas yang membuat mereka tidak bisa tinggal di rumah. Aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam dan menyelesaikan tugas yang sempat ku tinggalkan.
"Mas Adrian sama Ayahnya bisa akrab kayak gitu ya." Kata Rara.
"Akrab? Maksudnya?" Tanyaku.
"Iya kayak bukan ayah sama anak, lebih kayak temen kalau yang aku liat." Ucap Rara.
"Jangan kaget lah Ra..." Ferdi mendekat, "meskipun Om Agus kerjanya PNS tapi orangnya rock and roll, makanya sama anaknya sendiri udah kayak temen aja."
"Beruntung pula ketemu sama Tante Devita yang kalemnya ngga ada lawan, kayak orang yang ngga punya sifat marah. Bener kan Mas?" Kata Bella.
"Aku setuju..." Aku membalikkan badan ke arah mereka, "ngomong-ngomong kenapa kalian malah jadi ngomongin mereka."
"Nih Rara duluan." Ucap Ferdi dengan cepat.
"Ih..." Rara memukul pundak Ferdi, "kok jadi nyalahin aku sih Bang, kan aku cuma nanya aja."
"Loh kok aku dipukul Ra, tapi bener kan Bel semuanya dimulai sama Rara?" Tanya Ferdi.
"Hayo sekarang nyari perlindungan." Kata Bella.
Aku tertawa melihat perdebatan yang mereka lakukan. Tak terasa sudah waktunya untuk pulang, tersisa aku yang masih memanaskan mesin motor di parkiran sedangkan mereka bertiga sudah pergi terlebih dahulu. Ku hisap rokok yang menyala sambil memasukan sweater ke dalam tas, kemudian aku naik ke atas Syailendra.
Ting! Ku ambil handphone dari saku kemeja, ku baca pesan yang baru saja masuk. Setelah membalasnya, aku kembali memasukannya ke saku kemeja dan meninggalkan tempat ini.
Beberapa menit di perjalanan, hingga aku pun tiba. Ku parkirkan motor seperti biasa, aku berjalan dengan santai. Ku pilih satu dari beberapa kunci untuk membuka pintu, aku terdiam menatap lubang kunci. Ku masukkan kembali kunci tersebut ke dalam saku celana lalu aku membuka pintu tersebut. Aku masuk ke dalam lalu menutup pintu dengan mataku yang tidak berpaling dari apa yang ada di depanku.
"Hai..." Renata tersenyum dan mendekat, "apa kabar?"
Aku memandanginya dalam diam, Renata berjalan mendekat ke arahku. Ia mengalungkan tangannya di belakang leherku, ia berjinjit lalu menciumku. Beberapa waktu berlalu, ia menarik tanganku. Aku mengikuti langkahnya dan kami masuk ke dalam kamarnya.
Kamarnya? Iya, kamar Renata. Aku sedang berada di apartemen miliknya. Setelah membaca pesan dari Renata, aku memutuskan untuk menemuinya. Kami pun duduk bersampingan di atas kasurnya.
"Kamu mau ngomongin apa? Katanya ada..."
Renata kembali menciumku dan membuat perkataanku terhenti. Entah mengapa rasanya tubuhku seperti didorong hingga membuatku terbaring di atas kasur masih dengan Renata yang menciumku. Akhirnya ia pun memberi jarak di antara wajah kami, aku dapat melihat matanya dengan sangat jelas.
Semuanya berubah begitu saja, aku terkejut dengan apa yang ia lakukan. Satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan, dilepas secara perlahan hingga tak tersisa. Ia melempar kemeja yang ia kenakan ke bawah kasur, kemudian ia juga melepas kancing kemeja yang ku kenakan.
Entah kenapa aku hanya bisa terdiam dan membiarkan Renata melakukan apa yang ia kehendaki, ia pun berhasil melepas kemeja yanh ku kenakan. Aku terduduk di atas kasur dengan Renata yang duduk di atas pahaku. Tangannya bergerak menuju punggungnya, setelah itu ia membuka bra yang ia kenakan tepat di hadapanku.
"Renata..."
"Adrian..." Ia memotong pembicaraanku, "mungkin ini yang bisa kita lakuin."
"Kamu gila?" Tanyaku.
Ia menggelengkan kepalanya, "Ngga, aku ngga gila. Kamu juga ngga gila, kita ngga gila. Aku suka sama kamu, aku tau alasan kenapa kamu ngejauhin aku. Aku ngga peduli sama semuanya."
"Bukan ini caranya Ren." Kataku.
"Terus apa! Apa yang bisa aku lakuin supaya kamu ngga menjauh!" Katanya dengan nada tinggi.
"Bukan dengan seks juga Ren!..."
Renata nampak terkejut ketika aku membentaknya, terlihat dari matanya yang berkedip ketika aku berbicara. Ia terdiam beberapa saat, begitu juga denganku. Hingga akhirnya aku menyadari, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku... takut..."
"..."
"Aku takut kamu pergi..." Renata meneteskan air mata, "aku ngga mau kamu pergi."
"..."
Ia menundukkan kepalanya, "Aku ngga pernah punya rasa suka sebesar ini sama seseorang, kamu orang pertama yang bisa bikin aku kayak gini. Aku bener-bener takut kalau kamu pergi, aku ngga tau harus gimana kalau kamu pergi."
Aku mengambil kemejaku yang berada di sampingku, kemudian aku mulai mengenakannya kepada Renata. Satu per satu kancing mulai ku pasangkan hingga tubuhnya tertutup oleh kemejaku. Ku tegakkan wajahnya, aku dapat melihat dengan jelas air matanya yang mengalir melewati pipinya. Ku seka air matanya dengan tanganku, sesekali aku menghela nafas.
Tidak ada bau alkohol, wajahnya tidak memerah, Renata dalam keadaan benar-benar sadar bukan dalam pengaruh alkohol. Aku mencoba untuk memahami semuanya, Renata dengan sangat berani melakukan ini semua agar aku kembali. Sebuah tindakan yang mungkin di luar akal sehat, namun ia berani melakukannya.
"Adrian..." Ia kembali menatapku, "jangan pergi."
Ia menjatuhkan tubuhnya sambil memelukku, membuatku kembali merebahkan diri di atas kasur. Aku bisa merasakan, ia masih terisak dalam tangis. Ia mencoba mengatur nafasnya agar denyut nadinya kembali normal. Aku pun membalas pelukannya, ku usap punggungnya dengan pelan.
"Kamu serem kalau marah, jangan marah lagi." Katanya pelan.
Ku usap rambut panjangnya, aku kembali menghela nafas beberapa kali. Apa yang baru saja terjadi, aku ingin segera melupakannya. Aku akan menganggap semua ini tidak pernah terjadi.
"Maaf..."
***
"Jadi itu masalahnya? Soal nyokapnya Renata ngga setuju sama hubungan kalian? Terus kemarin dia minta lu buat jaga jarak sama Renata, dan lu menyanggupinya?" Tanya Ferdi.
Bella menyentuh pundakku, "Mas Adrian serius mau ngejauhin Ka Renata? Apa ngga terlalu cepat buat ambil keputusan Mas? Aku aja ngerasa kayak sayang gitu kalau akhirnya kayak gini."
Ku hembuskan asap putih dari dalam mulut, asap itu menghilang terkena terpaan angin malam ini. Aku masih tetap diam tanpa menanggapi perkataan mereka berdua, hanya melihat ke arah jalanan yang semakin sepi.
"Ngomong-ngomong, gimana sama bokapnya? Apa dia ngga setuju juga?" Tanya Ferdi lagi.
"Kalau itu gue ngga tau." Jawabku singkat.
"Gue juga bakalan bingung sih kalau jadi lu, gue cuma bisa kasih saran. Kalau emang lu masih suka sama dia, jangan pernah tinggalin dia. Percaya apa ngga nanti bakalan ada jalan keluarnya, apapun bentuknya. Tapi kalau emang tekad lu udah bulet buat ngejauhin Renata, jangan pernah kasih dia harapan sedikitpun karena itu bisa nyiksa dia." Jelas Ferdi.
Ku anggukkan kepalaku beberapa kali. Selintas terpikir olehku tentang kejadian yang belum lama terjadi, aku masih tidak percaya. Namun semuanya benar terjadi, aku tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi. Ku usap wajahku beberapa kali, Bella mengelus pundakku dengan pelan.
"Sabar Mas, mungkin kemarin Mas Adrian terlalu buru-buru buat ambil keputusan. Coba dipikirin lagi." Ucapnya.
Aku kembali mengangguk sambil tetap menutup wajahku. Mungkin benar apa yang dikatakan Bella, aku terlalu cepat mengambil keputusan. Dan mungkin ada hal lain yang membuatku untuk cepat mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dahulu. Terlintas sesaat, mungkin memang inilah yang terbaik untuk kita.
*
"Mas Adrian..."
Ku kedipkan mataku beberapa kali, kemudian aku melihat di sampingku sudah berdiri Bella dengan gelas berisi kopi di tangannya. Ia pun memberikan gelas itu kepadaku.
"Diminum Mas biar ngga ngelamun." Kata Bella.
Aku menerima gelas tersebut lalu aku meminumnya dengan pelan. Marena aku lebih sering berdiam diri yang membuat pikiranku entah kemana, beberapa kali aku menggelengkan kepala agar aku kembali fokus pada pekerjaan.
Bella kembali mendekat ke arahku, "Kayaknya Mas Adrian butuh curhat sama Kivandra deh, biar Mas Adrian ngga sering diem aja."
"Aku pun berpikir demikian Bel, gantian ya." Kataku.
Bella menganggukkan kepalanya, kami pun bertukar tempat. Aku kembali menatap mesin kopi yang ada di hadapanku yang sudah lama tidak ku sentuh dengan tanganku karena pergantian tugas beberapa hari belakangan ini. Ku bersihkan tanganku menggunakan kain, lalu aku bersiap untuk curhat kepada Kivandra.
Tiket pun keluar, aku pun mulai membuatkan pesanan milik pelanggan. Langkah demi langkah ku kerjakan dengan teliti, aku mencoba untuk tidak membuat kesalahan.
"Bel..." Rara berbisik kepada Bella, "kok beda ya?"
"Beda? Beda apanya Ra?" Tanya Bella.
"Coba kamu liat Mas Adrian..."
Mereka pun melihat ke arahku, "Kamu liat deh Bel, kayaknya ada yang beda sama Mas Adrian kalau dia lagi berurusan sama kopi. Kesannya lebih gimana gitu."
"Oh iya aku paham maksud kamu..." Bella menatap Rara, "aku pun berpikir demikian, dia keliatan lebih keren pas berurusan dengan kopi."
"Nah aku setuju. Aku suka ke beberapa kedai lain dan yaudah biasa aja ngeliat orang bikin kopi. Tapi pas ngeliat Mas Adrian yang bikin kayaknya gimana gitu, keren di kelas yang berbeda." Jelas Rara.
"Beberapa pelanggan pun pernah bilang, selain resep Mas Adrian yang enak kadang tuh mereka cuma mau liat Mas Adrian doang." Ucap Bella.
"Serius Bel?" Tanya Rara.
"Udah berapa pelanggan yang coba buat ngedeketin Mas Adrian, tapi emang Mas Adrian orangnya bukan yang manfaatin keadaan kayak gitu jadi ya ngga ditanggepin sama dia." Jelas Bella.
"Apa karena Ka Renata?" Tanya Rara lagi.
"Jauh sebelum Mas Adrian ketemu Ka Renata pun udah kejadian Ra, makanya aku salut sama Mas Adrian." Jawab Bella.
"Waw, bener-bener..."
"Ra, tolong meja 3." Kataku.
Dengan sigap Rara mengantarkan pesanan tersebut, mereka pun kembali ke tugas mereka masing-masing. Aku membereskan alat-alat yang baru saja ku gunakan ke tempat asalnya, Ferdi pun mendekat ke arahku.
"Gue liat-liat jadi sering bengong lu. Butuh refreshing dulu?" Kata Ferdi.
"Ngga lah, butuh waktu aja." Kataku.
Ferdi mengangguk beberapa kali, kami pun kembali pada tugas kami masing-masing. Menjelang malam, tiba-tiba saja hujan deras turun tanpa menyapa. Aku melihat ke arah langit di luar, awan gelap sudah menyelimuti. Bersamaan dengan itu pula, kedai ini hanya diisi kami berempat tanpa ada pelanggan.
"Bisa pas gini ya." Kataku seorang diri.
"Apanya yang pas Mas?" Tanya Bella.
Aku menoleh ke arah belakang, "Eh Bel, ini pas hujan terus pas banget bisa ngga ada pelanggan kayak gini. Kayak udah direncanain sebelumnya."
"Iya juga ya..." Bella melihat sekeliling, "bisa pas kayak gini, aneh juga."
Kami berdua sama-sama memandangi hujan dari kaca jendela. Hujan diikuti oleh angin yang kencang dapat terlihat dengan jelas, sesekali terlihat petir dengan cahayanya yang nampak dan suara gerumuh mengikutinya. Aku kembali mengingat Renata yang sangat ketakutan ketika petir datang, entah kenapa aku kembali mengingatnya.
"Aku ngga paham Mas..."
"Ngga paham kenapa?" Tanyaku tanpa mengalihkan pandangan.
"Menurut Mas Adrian, salah ngga sih kalau perempuan ngungkapin perasaannya duluan daripada laki-laki? Atau emang takdirnya perempuan cuma boleh nunggu?" Tanya Bella.
Aku menatap Bella, "Kamu mau coba buat ngungkapin duluan?"
Bella menatapku, "Salah ngga sih Mas?"
Aku melihat sekeliling. Ku lihat Ferdi masih terduduk di meja pelanggan dengan laptopnya sedangkan Rara sibuk dengan handphonenya, "Ngga salah kalau kamu mulai duluan, dengan catatan kamu siap dengan semua resikonya. Pertanyaannya apa kamu siap? Kalau belum, coba dipikir lagi."
"Apa Mas Adrian juga mikir kayak gitu?" Tanya Bella.
"Itu alasannya Bel..." aku kembali menatap langit, "aku belum siap. Dan... kamu tau siapa yang aku korbanin."
Bella mengangukkan kepalanya, kemudian kami terdiam satu sama lain. Tak terasa malam pun tiba, namun hujan masih tetap sama. Jas hujan sudah ku pakai, kemudian aku berlalu menuju motorku dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Meninggalkan parkiran, jalanan lebih sepi dari biasanya. Aku pun melajukan Syailendra lebih pelan dari biasanya karena keadaan jalanan yang basah dan licin.
Kembali tiba di rumah, ku lepas jas hujan lalu ku gantung di dekat motor. Aku berjalan masuk ke dalam rumah setelah membuka kunci pintu. Kegiatan yang tidak berubah, mengambil minuman di kulkas lalu ku bawa menuju kamarku di lantai atas. Ku letakkan tas di tempat biasa lalu aku duduk di sofa menatap TV yang tidak menyala.
Krek! Beberapa tegukan dari minuman ini, aku mengambil handphone dari saku kemejaku. Tidak ada kabar dari Renata, ku letakkan handphone di atas meja lalu ku nyalakan sebatang rokok. Dalam keheningan ditemani suara hujan, aku terdiam dengan tatapan kosong. Pikiranku melayang, membayangkan beberapa skenario yang bisa ku lakukan dengan semua resikonya. Rasanya melelahkan, aku pun tak menemukan skenario terbaik dari beberapa pilihan.
"Apa lebih baik seperti ini?"
*
Satu hari, dua hari, satu minggu, dua minggu, terlewatkan begitu saja. Aku menjalani kehidupanku dengan tetap melakukan rutinitas seperti biasa. Seperti hari ini, kehidupanku masih berjalan seperti biasa. Mungkin akan ada pertanyaan bagaimana dengan Renata?
"Meja 1 Ra." Kataku.
"Siap Mas." Jawabnya.
Jawabannya aku tidak tau bagaimana keadaannya. Setelah kejadian waktu itu, hingga saat ini aku tidak menghubunginya dengan sengaja. Kenapa? Mungkin lebih baik seperti ini, menjalani kehidupan tanpa memberikan luka lebih lama kepada orang lain. Lantas kenapa aku berani memulai sesuatu yang tidak jelas kepastiannya? Aku berusaha mencoba, apakah itu salah? Egois? Mungkin lebih tepatnya jahat, memberanikan diri untuk mencoba dengan mengorbankan perasaan orang lain.
"Bel, pegang mesin ya. Aku mau cek barang." Kataku.
"Iya Mas." Jawabnya.
Lalu bagaimana aku harus hidup jika aku tidak berani mencoba? Apakah lebih baik hidup di jalur yang aman-aman saja? Mungkin jika aku berpikir demikian, tempat ini tidak akan pernah tercipta. Aku pun memberanikan diri untuk mencoba sesuatu yang bukan ranahku, dengan catatan aku siap menerima semua resikonya. Kenyataannya berhasil, tempat ini tercipta beserta dengan lingkungannya yang mendukung.
"Fer, besok restock susu. Sisanya masih aman." Kataku.
"Oke cuk." Jawabnya.
Namun apakah cara pikirku bisa disamakan antara bisnis dengan perasaan? Aku memberanikan diri untuk mencoba dan berharap bisa berhasil, meskipun kenyataannya berkata lain. Salahkah aku untuk mencoba?
Semuanya sudah terjadi, semuanya sudah berlalu. Aku tidak bisa memutar waktu, aku tidak bisa memperbaiki kesalahanku. Aku hanya bisa menerima semua resikonya saat ini sesuai dengan apa yang sudah menjadi pilihanku.
Kling!
Dan saat ini, aku akan tetap menjalani hidupku dengan semua kewajiban yang harus ku kerjakan. Setidaknya aku sudah bisa kembali tersenyum. Bukan karena bisa melupakan Renata, melainkan karena ada orang tercinta yang masuk ke dalam kedai ini.
"Loh..." Ferdi membuka matanya lebar, "Tante sama Om pulang? Subhanallah, Tante makin cantik aja."
"Istri Om nih, masih aja digodain." Kata Ayah.
"Et, santai Om. Saya juga ngga berani, badan Om lebih gede soalnya." Ucap Ferdi.
Kami pun tertawa melihat kelakukan mereka, aku pun menghampiri mereka dan mencium tangan mereka. Bella mengajak Rara untuk menghampiri kedua orang tuaku untuk memperkenalkan diri.
"Oalah akhirnya nambah personil juga." Kata Ayah.
"Asik dong Bella punya temen seperjuangan." Kata Ibu.
"Setelah sekian lama Tante, do'aku terkabulkan." Jawab Bella.
Aku beserta Ayah dan Ibu pun menuju kursi yang masih kosong. Aku meminta Bella membuatkan minuman untuk mereka.
"Gimana semuanya? Aman-aman aja atau ada masalah?" Tanya Ibu.
"Kalau ngomongin bisnis mah ya ada aja Bu masalahnya, tapi bisa teratasi lah satu-satu." Jawabku.
"Kalau lempeng-lempeng aja juga kayaknya ngebosenin, iya ngga? Tanya Ayah.
"Permisi..." Rara meletakkan minuman di meja, "Om, Tante, ini minumannya."
Kemudian ia kembali ke tempatnya, "Aku sedikit setuju, cuma ya kalau ngga ada masalah seenggaknya lebih baik daripada ada masalah. Ngomong-ngomong kok Ayah sama Ibu udah bisa pulang?"
"Ini juga nyolong-nyolong Nak, sebenernya Ayahmu ada urusan di sini. Jadi sekalian aja deh mampir, toh cuma dua hari doang abis itu balik lagi ke sana." Jelas Ibu.
Aku menganggukkan kepalaku beberapa kali, kami pun melanjutkan perbincangan pada siang ini. Tak terasa waktu cepat berlalu, aku beserta Ayah dan Ibu sudah beranjak menuju parkiran. Aku menyempatkan untuk merokok bersama Ayah.
"Eh ngomong-ngomong kamu masih betah sendirian?" Tanyanya.
"Mulai dibahas lagi, udahlah ngga usah dibahas yang begituan." Kataku.
"Loh bukan begitu, Ayah sama Ibu kan pengen juga ngeliat kamu punya pacar lagi. Udah lama banget loh ada kali berapa tahun, toh kalau bisa sekalian nikah gitu. Ayah pengen punya cucu." Kata Ayah.
"Nikah? Aku baru 23 tahun masa iya udah mau nikah aja." Sanggahku.
"Loh Ayah menikah umur 23, Ibumu umur 22. Bener toh Bu?" Kata Ayah.
"Tapi kan Ayah jadi PNS umur 19, beda dong aku baru punya kerjaan di umur 22. Ngga adil kalau cara mainnya begitu." Kataku.
"Ayah sama Anaknya sama-sama ngga mau ngalah toh, ayo cepetan kan Ayah harus bikin laporan." Kata Ibu.
Perdebatan selesai begitu Ibu berbicara, sedikit bercerita tentang Ayah dan juga Ibu. Ayah dan Ibu seperti dua sisi koin dengan tampak masing-masing yang berbeda. Jika Ayah adalah api yang membara, maka Ibu adalah air yang mengalir. Ayah memiliki sifat keras kepala, sedangkan Ibu adalah orang yang bisa menyalurkan sifat keras kepala Ayah menuju ke arah yang lebih baik. Mungkin dari sanalah semua sifatku berasal, dua sifat yang menjadi satu.
Ayah dan Ibu pun akhirnya meninggalkan tempat ini menuju tempat penginapan, mungkin karena perjalanan tugas yang membuat mereka tidak bisa tinggal di rumah. Aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam dan menyelesaikan tugas yang sempat ku tinggalkan.
"Mas Adrian sama Ayahnya bisa akrab kayak gitu ya." Kata Rara.
"Akrab? Maksudnya?" Tanyaku.
"Iya kayak bukan ayah sama anak, lebih kayak temen kalau yang aku liat." Ucap Rara.
"Jangan kaget lah Ra..." Ferdi mendekat, "meskipun Om Agus kerjanya PNS tapi orangnya rock and roll, makanya sama anaknya sendiri udah kayak temen aja."
"Beruntung pula ketemu sama Tante Devita yang kalemnya ngga ada lawan, kayak orang yang ngga punya sifat marah. Bener kan Mas?" Kata Bella.
"Aku setuju..." Aku membalikkan badan ke arah mereka, "ngomong-ngomong kenapa kalian malah jadi ngomongin mereka."
"Nih Rara duluan." Ucap Ferdi dengan cepat.
"Ih..." Rara memukul pundak Ferdi, "kok jadi nyalahin aku sih Bang, kan aku cuma nanya aja."
"Loh kok aku dipukul Ra, tapi bener kan Bel semuanya dimulai sama Rara?" Tanya Ferdi.
"Hayo sekarang nyari perlindungan." Kata Bella.
Aku tertawa melihat perdebatan yang mereka lakukan. Tak terasa sudah waktunya untuk pulang, tersisa aku yang masih memanaskan mesin motor di parkiran sedangkan mereka bertiga sudah pergi terlebih dahulu. Ku hisap rokok yang menyala sambil memasukan sweater ke dalam tas, kemudian aku naik ke atas Syailendra.
Ting! Ku ambil handphone dari saku kemeja, ku baca pesan yang baru saja masuk. Setelah membalasnya, aku kembali memasukannya ke saku kemeja dan meninggalkan tempat ini.
Beberapa menit di perjalanan, hingga aku pun tiba. Ku parkirkan motor seperti biasa, aku berjalan dengan santai. Ku pilih satu dari beberapa kunci untuk membuka pintu, aku terdiam menatap lubang kunci. Ku masukkan kembali kunci tersebut ke dalam saku celana lalu aku membuka pintu tersebut. Aku masuk ke dalam lalu menutup pintu dengan mataku yang tidak berpaling dari apa yang ada di depanku.
"Hai..." Renata tersenyum dan mendekat, "apa kabar?"
Aku memandanginya dalam diam, Renata berjalan mendekat ke arahku. Ia mengalungkan tangannya di belakang leherku, ia berjinjit lalu menciumku. Beberapa waktu berlalu, ia menarik tanganku. Aku mengikuti langkahnya dan kami masuk ke dalam kamarnya.
Kamarnya? Iya, kamar Renata. Aku sedang berada di apartemen miliknya. Setelah membaca pesan dari Renata, aku memutuskan untuk menemuinya. Kami pun duduk bersampingan di atas kasurnya.
"Kamu mau ngomongin apa? Katanya ada..."
Renata kembali menciumku dan membuat perkataanku terhenti. Entah mengapa rasanya tubuhku seperti didorong hingga membuatku terbaring di atas kasur masih dengan Renata yang menciumku. Akhirnya ia pun memberi jarak di antara wajah kami, aku dapat melihat matanya dengan sangat jelas.
Semuanya berubah begitu saja, aku terkejut dengan apa yang ia lakukan. Satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan, dilepas secara perlahan hingga tak tersisa. Ia melempar kemeja yang ia kenakan ke bawah kasur, kemudian ia juga melepas kancing kemeja yang ku kenakan.
Entah kenapa aku hanya bisa terdiam dan membiarkan Renata melakukan apa yang ia kehendaki, ia pun berhasil melepas kemeja yanh ku kenakan. Aku terduduk di atas kasur dengan Renata yang duduk di atas pahaku. Tangannya bergerak menuju punggungnya, setelah itu ia membuka bra yang ia kenakan tepat di hadapanku.
"Renata..."
"Adrian..." Ia memotong pembicaraanku, "mungkin ini yang bisa kita lakuin."
"Kamu gila?" Tanyaku.
Ia menggelengkan kepalanya, "Ngga, aku ngga gila. Kamu juga ngga gila, kita ngga gila. Aku suka sama kamu, aku tau alasan kenapa kamu ngejauhin aku. Aku ngga peduli sama semuanya."
"Bukan ini caranya Ren." Kataku.
"Terus apa! Apa yang bisa aku lakuin supaya kamu ngga menjauh!" Katanya dengan nada tinggi.
"Bukan dengan seks juga Ren!..."
Renata nampak terkejut ketika aku membentaknya, terlihat dari matanya yang berkedip ketika aku berbicara. Ia terdiam beberapa saat, begitu juga denganku. Hingga akhirnya aku menyadari, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku... takut..."
"..."
"Aku takut kamu pergi..." Renata meneteskan air mata, "aku ngga mau kamu pergi."
"..."
Ia menundukkan kepalanya, "Aku ngga pernah punya rasa suka sebesar ini sama seseorang, kamu orang pertama yang bisa bikin aku kayak gini. Aku bener-bener takut kalau kamu pergi, aku ngga tau harus gimana kalau kamu pergi."
Aku mengambil kemejaku yang berada di sampingku, kemudian aku mulai mengenakannya kepada Renata. Satu per satu kancing mulai ku pasangkan hingga tubuhnya tertutup oleh kemejaku. Ku tegakkan wajahnya, aku dapat melihat dengan jelas air matanya yang mengalir melewati pipinya. Ku seka air matanya dengan tanganku, sesekali aku menghela nafas.
Tidak ada bau alkohol, wajahnya tidak memerah, Renata dalam keadaan benar-benar sadar bukan dalam pengaruh alkohol. Aku mencoba untuk memahami semuanya, Renata dengan sangat berani melakukan ini semua agar aku kembali. Sebuah tindakan yang mungkin di luar akal sehat, namun ia berani melakukannya.
"Adrian..." Ia kembali menatapku, "jangan pergi."
Ia menjatuhkan tubuhnya sambil memelukku, membuatku kembali merebahkan diri di atas kasur. Aku bisa merasakan, ia masih terisak dalam tangis. Ia mencoba mengatur nafasnya agar denyut nadinya kembali normal. Aku pun membalas pelukannya, ku usap punggungnya dengan pelan.
"Kamu serem kalau marah, jangan marah lagi." Katanya pelan.
Ku usap rambut panjangnya, aku kembali menghela nafas beberapa kali. Apa yang baru saja terjadi, aku ingin segera melupakannya. Aku akan menganggap semua ini tidak pernah terjadi.
"Maaf..."
***
Diubah oleh beavermoon 23-03-2020 23:46
oktavp dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas