- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.1K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#15
Spoiler for Part 9:
Part 9
Huhh, sudah ke 2 kalinya beby absen mengikuti kegiatan di lab ku. Yap, viny hari ini lagi-lagi datang sendirian untuk mengamati kegiatan praktikum. Ketika aku bertanya kenapa beby hari ini tidak datang lagi hari ini, jawaban viny masih sama seperti kemarin.
Mendengar jawaban dari viny sudah jelas membuat teman-teman ku menertawaiku.
Mereka dan viny memanas-manasi ku untuk datang langsung ke rumah beby dan meminta maaf.
Apa-apaan sih si beby. Perdebatan kemarin kan hanya masalah sepele, kenapa harus sampai seperti ini??.
Aku mulai khawatir dengan jawaban dari viny. Mungkin kemarin aku masih bisa bodo amat. Tapi ini sudah 2 hari beby absen melakukan penelitiannya hanya untuk menghindariku.
Viny sudah bersiap-siap untuk pulang setelah kegiatan praktikum selesai.
Yap, sama seperti kemarin, viny hari ini tidak membawa kendaraan.
Mario: "Eh, siapa nih yang nganterin viny?"
Nabil: "lu aja dah nat, lu kan jomblo, ntar kalo gaby tau gua yang nganterin bisa berabe"
Devan: "bener tuh, gua juga, ntar ve marah kalo gua yang nganter"
Nabil: "yeee, jadian aja belom, Gr banget lu van"
Devan: "ya seenggaknya gua gak di cap cowok playboy yang gonta ganti boncengan"
Mario: "dah, daripada ribet mending lo aja nat, kalo lu yang nganterin gak bakal ada yang marah"
Aku: "kenapa gak dyo?"
Dyo: "sorry nih nat, gue mau nemenin ortu gue dulu, jauh-jauh dateng dari bengkulu masa gua tinggal terus"
Aku: "yaudah dah, ribet banget lu semua"
Devan: "sekalian minta maaf tuh sama beby nat. Kata si viny sih tadi mereka kan satu rumah, wkwkwkwk"
Aku: "bacot lu van, gue berangkat dah, viny udah nungguin tuh di depan, keburu dia mesen taksi ntar"
Aku pun berlalu meninggalkan para hewan- hewan laknat itu dan menyusul viny yang sedang menunggu di gazebo depan lab.
Aku: "ayo mbak, sama aku aja"
Viny: "gakusah nat, ngerepotin"
Aku: "nggak kok mbak, lagian agak susah nayri taksi kalo udah jam segini"
Viny: "yudah deh nat, berangkat sekarang?"
Aku: "ayo mbak"
Aku mulai memacu motor ku dengan kecepatan sedang. Rabu malam seperti ini suasana kota joga lumayan ramai. Kami sempat beberapa kali tersendat karena menerobos kemacetan.
Kami pun sampai ditujuan dengan selamat. Tidak terasa sudah 3 kali aku mengunjungi rumah ini.
Viny: "Nat, mau masuk gak?, minta maaf gih ama beby. Kalo gini kan aku jadi sendirian terus"
Aku: "g g gimana ya mbak, aku merasa gak salah apa-apa"
Viny: "pokoknya kamu harus tangung jawab, aku kan capek ngerjain tugas penelitiannya sendirian"
Aku tidak habis fikir. Tidak mungkin masalah itu membuat beby semarah itu pada ku. Atau mungkin juga, beby yang terlalu kekanak-kanakan.
Ahhhhh, entah kenapa naluri ku berkata viny berbohong. Tapi jika keadaannya seperti ini, ya mau bagaimana lagi. Toh tidak ada ruginya jika aku masuk dan bertemu beby. Aku juga sungkan menolak permintaan viny. kalau benar realita nya seperti itu, kasian juga viny.
Aku: "yaudah mbak, iya, iyaaa..."
Viny: "yeaaayy, gitu dong nat, jadi cowok harus bertangung jawab. Yaudah, ayo masuk"
Akupun mengikuti viny yang memulai membuka kunci gembok pagar dan kunci pintu rumah.
Kami pun akhirnya sampai diruang tamu. Rumah ini terasa cukup luas untuk ditempati 2 orang. Kesan pertama ku memasuki rumah ini bersih dan wangi. Mungkin mereka memang orang yang sangat peduli akan kebersihan. Sangat berbanding terbalik dengan ku, wkwkwkwk.
Viny pun mempersilahkan ku duduk di sofa yang terletak di ruang tamu. Lalu kemudian dia mulai memasuki salah satu kamar, entah kamar siapa itu.
Viny: "itu, lagi nunggu didepan"
Beby: "siapa??"
Viny: "liat aja dulu"
Beby: "yaudah, aku siap-siap dulu bentar"
Viny: "yaudah, aku tinggal bentar ya, mau beli makanan buat tamu kita"
Suara perbincangan viny dan beby terdengar samar-samar ditelingaku.
Viny keluar dari kamar yang tadi dimasukinya, lalu berjalan kearahku
Viny: "aku tinggal bentar ya, itu beby bentar lagi kesini"
Aku: "m m mau kemana mbak?"
Viny: "beli makan bentar, pergi dulu ya nat, dahhh.."
Viny menjawab pertanyaan ku tanpa berhenti terlebih dahulu dan terus berlalu ke luar rumah.
Ketika menyadari viny sedang keluar rumah, aku mulai merasa gugup. Bagaimana tidak, berarti sekarang di rumah ini hanya ada aku dan beby.
Aku melihat beby keluar dari kamar yang dimasuki viny tadi.
Aku cukup terkejut melihat penampilan beby, dia hanya memakai kaos lengan pendek dan celana training panjang. Dengan rambutnya yang diikat ke belakang dia terlihat sangat tomboy dengan penampilan seperti ini.
Beby menutup pintu kamarnya terlebih dahulu. Aku dapat melihat raut wajah beby yang cukup terkejut saat dia mendapati ku yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Beby: "k k kamu ngapain kesini nat?"
Aku: "ehhh, emmmm, jadi gini mbak, aku mau..., emmm"
Sambil menyimak jawaban ku beby mulai berjalan mendekati ku dan duduk tepat diseberang ku.
Beby: "kenapa nat?"
Aku: "a a aku mau minta maaf mbak"
Beby: "minta maaf kenapa?"
Aku: "kejadian kemarin lusa"
Beby: "kejadian yang mana??"
Aku: "yangg itu mbak, yang di gazebo"
Raut wajah beby terlihat berfikir.
Beby: "lahh, kok minta maaf nat, aku santai kok, toh cuma masalah gitu doang"
Aku terkesiap mendengar jawaban dari beby.
Aku: "b b bukannya mbak gak ke lab 2 hari ini karena marah sama aku ya"
Setelah aku berkata seperti itu, kami berdua sempat diam sejenak. Tapi suara tawa yang cukup keras dari beby kembali memecah keheningan yang tadi sempat terjadi.
Beby: "sok tau banget kamu sih nat"
Aku: "tapi kata mbak viny....."
Suara tawa dari beby kembali memotong kalimat ku.
Beby: "dibohongin viny mau aja kamu"
Aku: "lahh terus, mbak 2 hari ini kemana aja"
Beby: "kurang enak bada aja sih nat"
Keadaan kembali hening. Aku kehabisan kata-kata untuk membalas kalimat dari beby.
Beby menatap ku aneh dengan mata yang dipicingkan.
Beby: "kamu nyariin aku ya?"
Tatapan anehnya berubah jadi tatapan jahil ketika dia bertanya seperti itu.
Aku: "GR banget, nggak kok mbak, aku cuma kasian sama viny yang gak bisa nyetir, harus bolak balik kampus sendirian naik ojek. Kan takutnya kalo kata viny emang bener berarti jatohnya aku ngerepotin viny juga"
Beby: "ooooohhh, yaudah kalo gitu, sekarang kamu udah tau kan jawabannya"
Aku: "iya mbak"
Beby: "yaudah, pulang aja sana kalo gitu"
Aku: "yee ngambek, ntar mbak, nungguin mbak viny, kasian mbak sendian"
Beby: "gak usah sok peduli deh, dari tadi aku juga sendirian"
Aku: "ya tapi mbak.."
Beby kembali menatapku dengan tatapan anehnya.
Beby: "atau jangan-jangan kamu mau ngapa-ngapain aku ya?"
Aku: "ihh, GR banget, aku kalo mau ngapa-ngapain cewek liat-liat kaliii"
Ckitttt
Aku: "aaawwww, sakit mbak"
Beby: "jadi kamu bilang aku jelek gitu"
Aku: "cantik sih, cuman jenong aja, ehhh"
Perkataan itu meluncur mulus dari mulutku.
Bukkkk
Hantaman bertubi-tubi mendarat mulus di bahu ku.
Walaupun tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk membuatku keskitan.
Aku: "mbakkk, jangan gitu donggg, sakitttt"
Beby: "kamu nyebelin nat, aku beneran ngambek sama kamu sekarang"
Aku: "ngambek kok bilang-bilang"
Beby: "yaudah, kalo nanti udah sembuh aku gakmau ke lab lagi"
Aku: "lah, kok gituu, becanda deh mbak, aku minta maaf"
Beby: "enggakkk"
Wkwkwkwk, menggoda beby seperti nya akan menjadi hobi baru ku. Entah kenapa, melihat wajahnya yang kesal selalu membuat ku senang
Tiba-tiba pintu terbuka. Ternyata viny baru sampai dengan membawa beberapa bungkusan yang entah apa isinya.
Viny: "ya allah, kalian berdua baru ditinggal bentar udah berantem lagi"
Aku: "dia nih mbak, aku dicubitin sama dipukulin"
Beby: "kamu sih bilang ku jenong"
Viny: "udah, udah. nat, ayo ikut makan, tadi aku beli didepan komplek buat kita bertiga"
Kami bertiga pun menuju meja makan yang terletak tidak jauh dari ruang tamu.
Sambil menunggu viny menyiapkan makanan aku dan beby duduk berdua di meja makan. Akupun kembali buka suara.
Jujur setelah difikir-fikir, aku merasa ledekan ku tadi jugaagak keterlaluan. Sehingga aku memilih kembali buka suara.
Aku: mbak, aku minta maaf deh, gak seharusnya aku main fisik kayak tadi"
Beby: "enggak"
Aku: "mbakk, pleaseee"
Beby: "yaudah, tapi syaratnya kamu suapin aku"
Viny kemudian datang menghampiri kami.
Viny: "aduh aduh, enak banget ya pacaran, ngambek-ngambekan, aku udah kayak pelayan restoran yang lagi nganterin pesenan aja. Ini juga satu, genit banget minta suapin"
Beby: "bodo amat, abis dia ngatain aku jenong"
Aku: "yaudah mbak, sini piring sama sendok mbak"
Darpada ribet aku lebih memilih mengiyakan permintaan beby.
Aku mulai menyuapkan bubur ke mulut beby
Beby: "yang ikhlas dong kalo nyuapin, kayak gak ikhlas banget"
Aku: "huhhh, yaudah mbak, buka mulutnya"
Beby membuka sedikit mulutnya. Aku kembali menyuapkan bubur ke mulut beby, tapi dengan lebih hati- hati kali ini seperti permintaan si tuan putri jenong ini.
Viny yang sedari tadi hanya menyaksikan kegiatan kami berdua pun akhirnya buka suara.
Viny: "aduuuhh, panas banget nihhh, gerah euyy"
Kegiatan suap-menyuao kami pun terhenti.
Viny: "beb, gakusah aneh-aneh dehhh, kayak anak kecil aja, makan sendiri sana, itu si natha mau makan juga"
Beby: "hehehe, sorry vin, abis si natha nyebelin bangeet"
Viny: "kamu juga nat, gak baik ngatain orang kayak tadi"
Aku: "hehe, iya mbak, maaf, abis silau banget dari tadi"
Beby: "tuh kaaaaannn, natha mulai lagi vin"
Viny: "iihhh, udah udah udah, kalo gin terus makannya gak kelar-kelar, ayoo makan"
Mungkin karena pusing melihat perdebatan kami viny dengan wajah garangnya yang dibuat-buat menginstruksikan kami untuk menghabiskan makan malam yang sudah tersedia.
Beby: "awas kamu nat"
Aku: "hehehe"
Kami ber 3 pun melanjutkan makan malam kami yang sempat tertunda. Kalau dilihat dari kejadian malam ini, viny seperti seorang ibu yang mendamaikan 2 anaknya yang sedang bertengkar, wkwkwkwkwk.
.
.
.
Huhh, sudah ke 2 kalinya beby absen mengikuti kegiatan di lab ku. Yap, viny hari ini lagi-lagi datang sendirian untuk mengamati kegiatan praktikum. Ketika aku bertanya kenapa beby hari ini tidak datang lagi hari ini, jawaban viny masih sama seperti kemarin.
Mendengar jawaban dari viny sudah jelas membuat teman-teman ku menertawaiku.
Mereka dan viny memanas-manasi ku untuk datang langsung ke rumah beby dan meminta maaf.
Apa-apaan sih si beby. Perdebatan kemarin kan hanya masalah sepele, kenapa harus sampai seperti ini??.
Aku mulai khawatir dengan jawaban dari viny. Mungkin kemarin aku masih bisa bodo amat. Tapi ini sudah 2 hari beby absen melakukan penelitiannya hanya untuk menghindariku.
Viny sudah bersiap-siap untuk pulang setelah kegiatan praktikum selesai.
Yap, sama seperti kemarin, viny hari ini tidak membawa kendaraan.
Mario: "Eh, siapa nih yang nganterin viny?"
Nabil: "lu aja dah nat, lu kan jomblo, ntar kalo gaby tau gua yang nganterin bisa berabe"
Devan: "bener tuh, gua juga, ntar ve marah kalo gua yang nganter"
Nabil: "yeee, jadian aja belom, Gr banget lu van"
Devan: "ya seenggaknya gua gak di cap cowok playboy yang gonta ganti boncengan"
Mario: "dah, daripada ribet mending lo aja nat, kalo lu yang nganterin gak bakal ada yang marah"
Aku: "kenapa gak dyo?"
Dyo: "sorry nih nat, gue mau nemenin ortu gue dulu, jauh-jauh dateng dari bengkulu masa gua tinggal terus"
Aku: "yaudah dah, ribet banget lu semua"
Devan: "sekalian minta maaf tuh sama beby nat. Kata si viny sih tadi mereka kan satu rumah, wkwkwkwk"
Aku: "bacot lu van, gue berangkat dah, viny udah nungguin tuh di depan, keburu dia mesen taksi ntar"
Aku pun berlalu meninggalkan para hewan- hewan laknat itu dan menyusul viny yang sedang menunggu di gazebo depan lab.
Aku: "ayo mbak, sama aku aja"
Viny: "gakusah nat, ngerepotin"
Aku: "nggak kok mbak, lagian agak susah nayri taksi kalo udah jam segini"
Viny: "yudah deh nat, berangkat sekarang?"
Aku: "ayo mbak"
Aku mulai memacu motor ku dengan kecepatan sedang. Rabu malam seperti ini suasana kota joga lumayan ramai. Kami sempat beberapa kali tersendat karena menerobos kemacetan.
Kami pun sampai ditujuan dengan selamat. Tidak terasa sudah 3 kali aku mengunjungi rumah ini.
Viny: "Nat, mau masuk gak?, minta maaf gih ama beby. Kalo gini kan aku jadi sendirian terus"
Aku: "g g gimana ya mbak, aku merasa gak salah apa-apa"
Viny: "pokoknya kamu harus tangung jawab, aku kan capek ngerjain tugas penelitiannya sendirian"
Aku tidak habis fikir. Tidak mungkin masalah itu membuat beby semarah itu pada ku. Atau mungkin juga, beby yang terlalu kekanak-kanakan.
Ahhhhh, entah kenapa naluri ku berkata viny berbohong. Tapi jika keadaannya seperti ini, ya mau bagaimana lagi. Toh tidak ada ruginya jika aku masuk dan bertemu beby. Aku juga sungkan menolak permintaan viny. kalau benar realita nya seperti itu, kasian juga viny.
Aku: "yaudah mbak, iya, iyaaa..."
Viny: "yeaaayy, gitu dong nat, jadi cowok harus bertangung jawab. Yaudah, ayo masuk"
Akupun mengikuti viny yang memulai membuka kunci gembok pagar dan kunci pintu rumah.
Kami pun akhirnya sampai diruang tamu. Rumah ini terasa cukup luas untuk ditempati 2 orang. Kesan pertama ku memasuki rumah ini bersih dan wangi. Mungkin mereka memang orang yang sangat peduli akan kebersihan. Sangat berbanding terbalik dengan ku, wkwkwkwk.
Viny pun mempersilahkan ku duduk di sofa yang terletak di ruang tamu. Lalu kemudian dia mulai memasuki salah satu kamar, entah kamar siapa itu.
Viny: "itu, lagi nunggu didepan"
Beby: "siapa??"
Viny: "liat aja dulu"
Beby: "yaudah, aku siap-siap dulu bentar"
Viny: "yaudah, aku tinggal bentar ya, mau beli makanan buat tamu kita"
Suara perbincangan viny dan beby terdengar samar-samar ditelingaku.
Viny keluar dari kamar yang tadi dimasukinya, lalu berjalan kearahku
Viny: "aku tinggal bentar ya, itu beby bentar lagi kesini"
Aku: "m m mau kemana mbak?"
Viny: "beli makan bentar, pergi dulu ya nat, dahhh.."
Viny menjawab pertanyaan ku tanpa berhenti terlebih dahulu dan terus berlalu ke luar rumah.
Ketika menyadari viny sedang keluar rumah, aku mulai merasa gugup. Bagaimana tidak, berarti sekarang di rumah ini hanya ada aku dan beby.
Aku melihat beby keluar dari kamar yang dimasuki viny tadi.
Aku cukup terkejut melihat penampilan beby, dia hanya memakai kaos lengan pendek dan celana training panjang. Dengan rambutnya yang diikat ke belakang dia terlihat sangat tomboy dengan penampilan seperti ini.
Beby menutup pintu kamarnya terlebih dahulu. Aku dapat melihat raut wajah beby yang cukup terkejut saat dia mendapati ku yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Beby: "k k kamu ngapain kesini nat?"
Aku: "ehhh, emmmm, jadi gini mbak, aku mau..., emmm"
Sambil menyimak jawaban ku beby mulai berjalan mendekati ku dan duduk tepat diseberang ku.
Beby: "kenapa nat?"
Aku: "a a aku mau minta maaf mbak"
Beby: "minta maaf kenapa?"
Aku: "kejadian kemarin lusa"
Beby: "kejadian yang mana??"
Aku: "yangg itu mbak, yang di gazebo"
Raut wajah beby terlihat berfikir.
Beby: "lahh, kok minta maaf nat, aku santai kok, toh cuma masalah gitu doang"
Aku terkesiap mendengar jawaban dari beby.
Aku: "b b bukannya mbak gak ke lab 2 hari ini karena marah sama aku ya"
Setelah aku berkata seperti itu, kami berdua sempat diam sejenak. Tapi suara tawa yang cukup keras dari beby kembali memecah keheningan yang tadi sempat terjadi.
Beby: "sok tau banget kamu sih nat"
Aku: "tapi kata mbak viny....."
Suara tawa dari beby kembali memotong kalimat ku.
Beby: "dibohongin viny mau aja kamu"
Aku: "lahh terus, mbak 2 hari ini kemana aja"
Beby: "kurang enak bada aja sih nat"
Keadaan kembali hening. Aku kehabisan kata-kata untuk membalas kalimat dari beby.
Beby menatap ku aneh dengan mata yang dipicingkan.
Beby: "kamu nyariin aku ya?"
Tatapan anehnya berubah jadi tatapan jahil ketika dia bertanya seperti itu.
Aku: "GR banget, nggak kok mbak, aku cuma kasian sama viny yang gak bisa nyetir, harus bolak balik kampus sendirian naik ojek. Kan takutnya kalo kata viny emang bener berarti jatohnya aku ngerepotin viny juga"
Beby: "ooooohhh, yaudah kalo gitu, sekarang kamu udah tau kan jawabannya"
Aku: "iya mbak"
Beby: "yaudah, pulang aja sana kalo gitu"
Aku: "yee ngambek, ntar mbak, nungguin mbak viny, kasian mbak sendian"
Beby: "gak usah sok peduli deh, dari tadi aku juga sendirian"
Aku: "ya tapi mbak.."
Beby kembali menatapku dengan tatapan anehnya.
Beby: "atau jangan-jangan kamu mau ngapa-ngapain aku ya?"
Aku: "ihh, GR banget, aku kalo mau ngapa-ngapain cewek liat-liat kaliii"
Ckitttt
Aku: "aaawwww, sakit mbak"
Beby: "jadi kamu bilang aku jelek gitu"
Aku: "cantik sih, cuman jenong aja, ehhh"
Perkataan itu meluncur mulus dari mulutku.
Bukkkk
Hantaman bertubi-tubi mendarat mulus di bahu ku.
Walaupun tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk membuatku keskitan.
Aku: "mbakkk, jangan gitu donggg, sakitttt"
Beby: "kamu nyebelin nat, aku beneran ngambek sama kamu sekarang"
Aku: "ngambek kok bilang-bilang"
Beby: "yaudah, kalo nanti udah sembuh aku gakmau ke lab lagi"
Aku: "lah, kok gituu, becanda deh mbak, aku minta maaf"
Beby: "enggakkk"
Wkwkwkwk, menggoda beby seperti nya akan menjadi hobi baru ku. Entah kenapa, melihat wajahnya yang kesal selalu membuat ku senang
Tiba-tiba pintu terbuka. Ternyata viny baru sampai dengan membawa beberapa bungkusan yang entah apa isinya.
Viny: "ya allah, kalian berdua baru ditinggal bentar udah berantem lagi"
Aku: "dia nih mbak, aku dicubitin sama dipukulin"
Beby: "kamu sih bilang ku jenong"
Viny: "udah, udah. nat, ayo ikut makan, tadi aku beli didepan komplek buat kita bertiga"
Kami bertiga pun menuju meja makan yang terletak tidak jauh dari ruang tamu.
Sambil menunggu viny menyiapkan makanan aku dan beby duduk berdua di meja makan. Akupun kembali buka suara.
Jujur setelah difikir-fikir, aku merasa ledekan ku tadi jugaagak keterlaluan. Sehingga aku memilih kembali buka suara.
Aku: mbak, aku minta maaf deh, gak seharusnya aku main fisik kayak tadi"
Beby: "enggak"
Aku: "mbakk, pleaseee"
Beby: "yaudah, tapi syaratnya kamu suapin aku"
Viny kemudian datang menghampiri kami.
Viny: "aduh aduh, enak banget ya pacaran, ngambek-ngambekan, aku udah kayak pelayan restoran yang lagi nganterin pesenan aja. Ini juga satu, genit banget minta suapin"
Beby: "bodo amat, abis dia ngatain aku jenong"
Aku: "yaudah mbak, sini piring sama sendok mbak"
Darpada ribet aku lebih memilih mengiyakan permintaan beby.
Aku mulai menyuapkan bubur ke mulut beby
Beby: "yang ikhlas dong kalo nyuapin, kayak gak ikhlas banget"
Aku: "huhhh, yaudah mbak, buka mulutnya"
Beby membuka sedikit mulutnya. Aku kembali menyuapkan bubur ke mulut beby, tapi dengan lebih hati- hati kali ini seperti permintaan si tuan putri jenong ini.
Viny yang sedari tadi hanya menyaksikan kegiatan kami berdua pun akhirnya buka suara.
Viny: "aduuuhh, panas banget nihhh, gerah euyy"
Kegiatan suap-menyuao kami pun terhenti.
Viny: "beb, gakusah aneh-aneh dehhh, kayak anak kecil aja, makan sendiri sana, itu si natha mau makan juga"
Beby: "hehehe, sorry vin, abis si natha nyebelin bangeet"
Viny: "kamu juga nat, gak baik ngatain orang kayak tadi"
Aku: "hehe, iya mbak, maaf, abis silau banget dari tadi"
Beby: "tuh kaaaaannn, natha mulai lagi vin"
Viny: "iihhh, udah udah udah, kalo gin terus makannya gak kelar-kelar, ayoo makan"
Mungkin karena pusing melihat perdebatan kami viny dengan wajah garangnya yang dibuat-buat menginstruksikan kami untuk menghabiskan makan malam yang sudah tersedia.
Beby: "awas kamu nat"
Aku: "hehehe"
Kami ber 3 pun melanjutkan makan malam kami yang sempat tertunda. Kalau dilihat dari kejadian malam ini, viny seperti seorang ibu yang mendamaikan 2 anaknya yang sedang bertengkar, wkwkwkwkwk.
.
.
.
Diubah oleh akmal162 25-03-2020 18:28
genji32 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas
