- Beranda
- Stories from the Heart
CERBUNG : "Hotel Slamet"
...
TS
galih17
CERBUNG : "Hotel Slamet"

Di ruang kamar aku duduk sendiri, bersandar pada tembok yang warna putihnya sudah mulai kekuningan. Ku genggam amplop berwarna cokelat, berisi sejumlah uang. Itu adalah uang sebesar tiga bulan gaji, uang pesangon. Bukan uang pesangon juga sebenarnya, mungkin sejenis uang permintaan maaf dari mantan bosku. Toko kain dan pakaian tempatku bekerja harus mengakhiri kiprahnya dalam dunia perdagangan. Karena hutang yang menumpuk, toko yang cukup besar itu dijual oleh mantan bosku itu. Dan aku kehilangan pekerjaan.
Kini sudah enam minggu aku menganggur, setiap hari aku mencari informasi lowongan pekerjaan. Sebenarnya cukup banyak lowongan pekerjaan untuk lulusan SMA sepertiku. Tetapi karena jumlah pelamar dari lulusan SMA juga banyak, tentu persaingan mendapat pekerjaan juga tetap berat. Walaupun pekerjaan yang hanya menjadi pelayan toko sekalipun.
Tok...tok...tok, Riifaaat. Aku mendengar suara ketukan pintu dan orang yang memanggilku. Segera aku keluar kamar untuk menemui orang yang mencariku.
“Oalah, kamu, Pur. Masuk sini, Pur,” ucapku.
“Di teras saja, Fat. Aku cuma main saja, kok,” balas Purwanto.
“Baiklah.”
Aku dan Purwanto duduk di teras rumahku yang sederhana ini. Aku hanya tinggal berdua dengan ibuku. Ayahku meninggal ketika aku kelas dua SMA, sedangkan kakak perempuanku satu – satunya sudah menikah dan ikut suaminya yang bekerja di Kalimantan.
“Kamu dari rumah saja, nih?” tanyaku.
Purwanto membakar sebatang rokok yang ada di mulutnya, “Iya, Fat. Aku dari rumah saja. Aku masuk shiftmalam kemarin. Tadi sampai di rumah aku gak bisa tidur, akhirnya aku ke sini saja. Hehehe. Rokok, Fat?”
Aku mengambil mengambil sebatang rokok yang disodorkan Purwanto kepadaku. Mengikuti Purwanto membakar ujungnya, lalu menghisap asapnya. Purwanto merupakan teman satu kelas saat aku masih duduk di bangku SMP. Dia bekerja sebagai satpam di salah satu bank swasta di daerahku.
“Bagaimana pekerjaanmu, Pur? Lancar saja kan?” tanyaku.
“Lancar saja, Fat. Kerja jadi satpam kan tidak mikir macam – macam. Tinggal tugas jaga saja” jawab Purwanto sambil menghembuskan asap rokok ke udara.
“Lagipula dengan badanmu yang kekar seperti ini, mana mungkin perampok datang ke bank tempatmu bekerja. Iya, kan?” Aku mencoba menggoda Purwanto.
“Ah, tidak juga. Kalau perampok bersenjata tentu satpam di manapun juga keteteran. Kenapa? Kamu mau merampok ya, Fat? Awas, ya. Aku bekuk kamu nanti, hahaha,” Purwanto membalas dengan bergurau.
Selama beberapa saat kami diam untuk menikmati rokok masing – masing. Matahari yang masih belum terlalu tinggi, memang waktu yang pas untuk merokok dan minum kopi.
“Mau minum kopi? Aku buatkan,” tawarku.
Purwanto membenturkan rokok ke pinggiran asbak. Mematahkan batang rokok yang sebagian sudah menjadi abu. “Ah, tidak usah repot - repot. Aku sudah ngopi di rumah sebelum ke sini. Kamu sendirian saja di rumah, Fat?”
“Iya, aku sendirian di rumah. Ibuku masih belanja di pasar.”
Burung kenari yang aku pelihara berkicau dengan lantang dan merdu. Bersahut – sahutan dengan burung kenari lain milik tetangga. Mungkin mereka saling berbincang dengan bahasa mereka sendiri.
“Ngomong – ngomong, kamu ada info lowongan pekerjaan tidak, Pur? Aku sudah sebulan lebih menganggur. Jenuh,” keluhku.
“Karena itu juga aku datang ke rumahmu ini, Rifat. Aku ada info lowongan pekerjaan untuk kamu. Mungkin saja kamu berminat,” jelas Purwanto.
“Lowongan pekerjaan apa itu, Pur?”
“Teman kerjaku semalam cerita, kalau adiknya sempat melamar di sebuah hotel kecil. Tetapi ternyata yang dibutuhkan laki – laki, sedangkan adik temanku itu perempuan. Jadi dia tidak bisa melamar kerja di sana.”
“Hotel apa itu?”
“Hotel Slamet.”
“Hotel Slamet? Di daerah mana itu, Pur?”
“Hotel kecil yang tidak jauh dari alun – alun. Ada di timur jalan lokasinya.”
Mendengar keterangan Purwanto itu, aku mencoba mencermati dalam pikiranku dimana lokasi hotel yang dimaksud oleh temanku tadi. Aku mengangguk – anggukkan kepalaku. Sepertinya aku tahu lokasi hotel itu.
“Kamu coba saja melamar kerja di hotel itu, Fat. Siapa tahu masih belum diisi oleh orang lain. Tapi aku juga kurang tahu bagian apa yang dibutuhkan di sana,” sambung Purwanto, “tapi....”
“Tapi apa, Pur?”
“Kalau kata adik temanku itu, hotelnya agak bagaimana gitu. Hotel itu termasuk bangunan tua. Jadi terkesan....”
“Terkesan apa? Seram? Atau angker maksudmu?”
“Ya tidak, Fat. Kalau angker mana mungkin ada orang yang mau menginap di sana. Desain bangunan tempo dulu, auranya agak gimana gitu katanya, sih.”
“Ah, itu hanya perasaan orang – orang saja mungkin.”
Purwanto berdiri mendekati sangkar burung kenari milikku. Dia bersiul memancing supaya si burung kembali berkicau. Tetapi usahanya gagal, si burung hanya melompat – lompat, tanpa mengeluarkan kicauan. Tetapi saat Purwanto kembali duduk, si kenari kembali berkicau.
“Ah, burungmu tampaknya tidak ramah denganku, Fat. Lalu, selama ini kamu belum dapat panggilan kerja?” sambungnya.
“Ada, sih. Sebuah toko barang – barang elektronik. Toko besar, tetapi jauh di kota seberang. Ibuku kurang setuju jika aku kerja terlalu jauh. Jadi aku tidak datang saat dipanggil ke sana untuk wawancara,” jawabku.
“Wajar saja kalau ibumu kurang setuju, hanya kamu yang tinggal bersamanya di rumah ini. Kamu coba saja lowongan yang aku beritahu tadi. Siapa tahu rejeki kamu di situ,” ujar Purwanto sambil tersenyum padaku.
Seorang wanita mengendarai sepeda motor bebek masuk ke pekarangan rumahku. Ibuku sudah datang dengan membawa barang belanjaan dari pasar. Aku segera datang menghampirinya untuk membantu menurunkan hasil belanja ibuku yang didominasi oleh sayur – mayur.
“Lho, ada Mas Purwanto, to? Sudah lama?” sapa ibu.
“Belum lama juga kok, Bu,” balas Purwanto.
“Ayo, masuk dulu. Ibu buatkan kopi,” ibu menawarkan.
“Mboten usah repot – repot, Bu. Saya mau pamit pulang,” tutur Purwanto sambil menaikkan resleting jaketnya.
“Loh, ibu datang kok malah pulang, to?” sahut ibu sembari melepaskan helm dari kepalanya.
“Iya, Bu. Saya juga pagi tadi pulang kerja, kemarin masuk shift malam. Saya permisi dulu, Bu. Rifat, aku pulang dulu.”
“Baik, Pur. Terima kasih infonya tadi. Langsung pulang ke rumah dan lekas istirahat. Gak usah mampir – mampir lagi.”
Purwanto lantas berbalik badan, melangkahkan kakinya meninggalkan rumahku.
Bersambung.
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Diubah oleh galih17 17-03-2020 09:08
soulo dan 40 lainnya memberi reputasi
37
8.4K
63
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
galih17
#1
Part 2
Esok harinya, pada hari Selasa aku memberanikan diri untuk melamar pekerjaan yang diberitahukan oleh Purwanto. Dengan memakai kemeja berwarna biru muda dan celana hitam, aku mengendarai sepeda motor bebek peninggalan ayahku menuju pusat kota. Tidak terlalu jauh sebenarnya dari rumahku, sekitar enam kilometer saja jaraknya. Sebenarnya aku ingin menggunakan sepeda kesayanganku. Tetapi kata ibu, supaya lebih cepat aku disuruh naik sepeda motor. Dan aku menurutinya.
Pukul tujuh lebih lima puluh tiga menit, aku sudah sampai di tempat yang aku tuju. Sebuah bangunan berwarna putih yang berada di pusat perkotaan. Bangunan ini sedikit aneh menurutku, karena cukup rendah dibanding bangunan di sebelahnya. Jika berdiri dan berjinjit, tampaknya aku sudah bisa menyentuh genteng terbawah dari bangunan itu. Selain dengan lebar bangunan yang tidak lebih dari lima belas meter, rasanya tidak lazim bila bangunan ini merupakan sebuah hotel. Tetapi di bagian atas pintu masuk tertera dengan jelas tulisan, Hotel Slamet.
Setelah parkir sepeda motor, aku melangkahkan kaki masuk ke hotel itu. Tidak jauh dari pintu masuk ada meja resepsionis dan ada seorang wanita muda seusiaku. Rambutnya hitam lurus sebahu, ada tahi lalat kecil di dagu kirinya. Bagiku dia mempunyai paras yang menarik. Dengan membawa amplop cokelat besar berisi surat lamaran, aku menghampirinya.
“Selamat pagi, Mbak,” sapaku.
“Iya, Mas. Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” balasnya dengan sopan.
“Kata teman saya, di sini ada lowongan pekerjaan untuk laki – laki. Apakah itu benar? Kalau benar saya ingin melamar pekerjaan di sini.”
Wanita muda itu sekilas melihat amplop cokelat yang aku bawa. “Iya, Mas. Benar. Memang di sini sedang membutuhkan karyawan satu orang laki – laki. Silahkan tunggu dulu di situ, saya akan memberi tahu pemilik hotel ini,” jelasnya sambil menunjuk sebuah sofa berwarna merah tua.
“Baik, terima kasih, Mbak,” jawabku. Dan wanita itupun segera berlalu.
Aku menunggu di lobi hotel, tetapi aku lebih suka menyebutnya ruang tunggu karena ruangannya yang tidak besar seperti lobi hotel pada umumnya. Hanya ada sebuah sofa dan sebuah meja kecil, berdekatan dengan meja resepsionis tadi. Sebuah lampu gantung kuno menyala redup, membantu menerangi ruangan yang sumber cahaya masuk hanya dari pintu masuk saja. Ruang ini terasa lembab.
Kesan kekunoan tempat ini begitu terasa. Di sudut ruangan ada sebuah guci keramik yang besar, tingginya hampir sejajar dada orang dewasa. Bentuknya mirip vas bunga dengan motif garis – garis berwarna biru, yang melengkung seperti tumbuhan merambat. Sedangkan pada tembok terpajang sebuah lukisan seorang wanita. Dia berambut pirang berbaju putih dengan rok yang lebar, seperti pakaian nona – nona Belanda jaman dulu. Aku mengamati lebih dalam wajah wanita pada lukisan itu. Bibirnya menampilkan sebuah seyuman yang dipaksakan. Dan..., lukisan itu bergoyang pelan! Aku terperanjak mengetahui hal itu.
“Mas....” Suara yang membuatku kaget, nyaris saja aku melonjak dari tempat duduk. Ternyata resepsionis tadi. Dia berhasil membuat jantungku berdetak lebih kencang.
“Iya...,” jawabku dengan sedikit nafas terengah – engah.
“Aduh, maaf membuat sampean kaget. Mohon ditunggu sebentar, ya. Pak Warman akan segera menemui sampean,” ucap resepsionis itu menenangkan.
Mendengar suaranya yang lembut ditambah senyum manis dari bibirnya yang tipis, jantungku yang berdetak kencang karena kaget langsung kembali normal. “Oh, iya. Baik, Mbak.” Dia kemudian kembali ke meja kerjanya, melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.
Aku mencoba melihat ke bagian lain hotel ini. Ada sebuah koridor yang lebar dan sampai lurus ke belakang, aku melihat deretan pintu dan jendela. Tentu itu merupakan bagian kamar yang ada di hotel ini. Bagian depan deretan kamar itu sepertinya ruang tanpa atap. Karena terlihat lebih terang dari ruangan tempatku berada, terlebih lagi ada kolam ikan dan tanaman bunga.
Suara langkah kaki terdengar menuju ke arahku. Seorang pria paruh baya dengan kumis yang cukup tebal tetapi rapi. Rambutnya ikal, sebagian sudah berwarna putih. Tatapan matanya teduh dan bersahabat. “Anda yang mau melamar pekerjaan di sini, Mas?” Pria itu langsung mengulurkan tangan kanannya padaku.
Segera saja aku berdiri dan menjabat tangannya. “Iya, Pak. Saya bermaksud melamar kerja di sini.”
“Oh, baik. Silahkan duduk. Memang saya membutuhkan satu orang laki – laki untuk bekerja di sini. Menggantikan karyawan lain yang mengundurkan diri. Saya Warman, pemilik hotel ini. Nama sampean siapa?”
“Nama saya Rifat. Rifat Sungkono,” jawabku.
Pak Warman menatap wajahku, kemudian melirik amplop cokelat yang ada di tanganku. “Membawa surat lamaran, Mas Rifat?”
“Iya, Pak. Ini.” kuberikan berkas lamaran kerja yang sudah kupersiapkan.
Pak Warman membaca dengan cermat dokumen lamaran kerjaku. Kemudian menjelaskan pekerjaan apa yang nanti harus aku lakukan, besar gaji yang aku terima, juga jadwal kerjanya seperti apa. Semua penjelasan itu dapat aku mengerti dengan baik. Meskipun ada satu hal yang sedikit aneh, tidak boleh satu pun karyawan di hotel ini masuk kamar hotel nomor dua belas. Kamar itu juga tidak digunakan lagi untuk pengunjung. Pak Warman juga tidak menjelaskan alasannya mengapa harus seperti itu. Hal tersebut bersifat mutlak.
“Bagaimana Mas Rifat? Sudah jelas dengan semua yang aku sampaikan tadi?” tanya pak Warman.
“Iya, Pak. Saya sudah jelas semuanya,” balasku.
“Baiklah kalau sudah jelas. Mungkin Mas Rifat perlu waktu untuk berpikir. Saya mau menelepon rekan saya, mungkin sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Selama itu silahkan sampean berpikir, menerima pekerjaan ini atau tidak. Setelah saya kembali, sampean sudah harus ada jawabannya.”
Pria paruh baya yang ramah itupun berlalu, memberiku waktu untuk berpikir. Saat dia menjelaskan tadi sebenarnya aku juga sudah gambaran keputusan apa yang akan aku ambil. Jadi sekarang aku tidak perlu repot – repot lagi untuk mengambil keputusan.
“Mas...,” suara lembut perempuan.
“Iya, Mbak,” jawabku cepat.
Hah?! Siapa yang memanggilku tadi? Tak ada orang di dekatku. Perempuan resepsionis kulihat sedang ada di tempatnya sedang melayani tamu. Dari mana suara itu berasal? Suara siapa?
Wuuusshhh..., ada tiupan angin yang lembut kurasakan di telinga kananku. Seketika aku bergidik, lalu menoleh ke arah kanan, lalu ke arah kiri. Tidak ada siapa – siapa di dekatku, resepsionis juga masih sibuk di tempatnya. Bulu romaku mulai berdiri. Degup jantungku juga berpacu lebih cepat. Tidak berselang lama kedua pundakku untuk sesaat terasa kelelahan, seperti telah memanggul dua karung beras. Segera aku bersandar dan menarik nafas lebih dalam.
Kembali suara langkah kaki datang menghampiriku. Pak Warman sudah kembali, padahal waktu masih lima menit saja berlalu. Kali ini dia membawa koper berwarna hitam, rambutnya tampak basah seperti dipoles dengan minyak rambut. Dan kini dia sudah duduk di hadapanku.
“Bagaimana, Mas Rifat?” tanya pak Warman.
“Baik, Pak. Saya menerima pekerjaan ini,” jawabku.
“Ah, bagus. Saya senang mendengarnya,” balasnya dengan senyum sumringah.
“Lalu, kapan saya mulai kerja, Pak?” aku menyahutnya.
“Besok, Mas.” Dia lalu menoleh ke arah meja resepsionis. “Yuli..., ke sini kamu.”
Gadis manis dan murah senyum itu memenuhi panggilan pak Warman. Oh, Yuli ternyata namanya.
“Iya, Pak Warman. Ada yang bisa saya bantu?” ucap Yuli.
“Yuli, ini Mas Rifat. Dia karyawan baru kita. Dan, Mas Rifat, ini Yuli teman kerja satu shift dengan sampean,” ujar pak Warman memperkenalkan kami. “Mas Rifat, besok pagi sampean langsung saja menemui Yuli. Dia akan membantumu memulai pekerjaan. Saya harus pergi karena ada keperluan lain. Yuli, jangan lupa. Besok kamu atur semuanya, ya.”
“Baik, Pak Warman,” balas Yuli.
Pak Warman langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan aku dan Yuli. Untuk beberapa detik ruangan itu seolah menjadi milik kami berdua sebelum ada seorang tamu hotel datang untuk check in.
“Sebentar ya, Mas. Saya urus tamu itu dulu,” tutur Yuli.
“Oh, iya. Silahkan,” jawabku.
Beberapa orang keluar dari lorong masuk tempat deretan kamar hotel. Semuanya berpakaian rapi, seperti akan berangkat kerja. Cukup ramai juga tamu di hotel kecil ini. Yuli sepertinya agak kerepotan dengan beberapa tamu yang datang menghampirinya. Aku sebenarnya ingin membantunya, tetapi aku juga bingung bisa membantunya dalam pekerjaan apa. Terlebih aku juga masih belum mulai bekerja di hotel ini.
Tetapi Yuli seorang yang cekatan dalam bekerja. Semua tamu sudah diurusnya, dan dia datang kembali kepadaku. “Maaf, Mas. Agak lama, ya? Maklum saya hari ini kerja sendiri. Sampean juga baru besok mulai bekerja.”
“Ah, tidak apa – apa. Saya bisa memakluminya, kok. Oh iya, Mbak. Untuk besok apa yang harus saya persiapkan, ya?”
“Besok masuk kerja jam tujuh pagi, Mas. Jangan terlambat. Memakai celana polos warna hitam, ya. Untuk bajunya bebas, karena ganti seragam di sini. Pakai sepatu bebas, asal bukan sepatu olahraga. Kalau bisa yang semi formal, mas. Punya, kan?”
“Oh, begitu. Baik, Mbak Yuli.”
“Kalau Mas Rifat sudah jelas semua, Mas Rifat bisa pulang dulu. Kita bertemu kembali besok.”
“Baik, Mbak Yuli. Saya permisi.”
Aku berjalan keluar dari hotel, ditemani oleh Yuli sampai di meja kerjanya. Aku senang telah mendapat pekerjaan lagi. Terlebih lagi teman kerjaku besok juga seorang wanita yang cantik.
Bersambung.
Pukul tujuh lebih lima puluh tiga menit, aku sudah sampai di tempat yang aku tuju. Sebuah bangunan berwarna putih yang berada di pusat perkotaan. Bangunan ini sedikit aneh menurutku, karena cukup rendah dibanding bangunan di sebelahnya. Jika berdiri dan berjinjit, tampaknya aku sudah bisa menyentuh genteng terbawah dari bangunan itu. Selain dengan lebar bangunan yang tidak lebih dari lima belas meter, rasanya tidak lazim bila bangunan ini merupakan sebuah hotel. Tetapi di bagian atas pintu masuk tertera dengan jelas tulisan, Hotel Slamet.
Setelah parkir sepeda motor, aku melangkahkan kaki masuk ke hotel itu. Tidak jauh dari pintu masuk ada meja resepsionis dan ada seorang wanita muda seusiaku. Rambutnya hitam lurus sebahu, ada tahi lalat kecil di dagu kirinya. Bagiku dia mempunyai paras yang menarik. Dengan membawa amplop cokelat besar berisi surat lamaran, aku menghampirinya.
“Selamat pagi, Mbak,” sapaku.
“Iya, Mas. Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” balasnya dengan sopan.
“Kata teman saya, di sini ada lowongan pekerjaan untuk laki – laki. Apakah itu benar? Kalau benar saya ingin melamar pekerjaan di sini.”
Wanita muda itu sekilas melihat amplop cokelat yang aku bawa. “Iya, Mas. Benar. Memang di sini sedang membutuhkan karyawan satu orang laki – laki. Silahkan tunggu dulu di situ, saya akan memberi tahu pemilik hotel ini,” jelasnya sambil menunjuk sebuah sofa berwarna merah tua.
“Baik, terima kasih, Mbak,” jawabku. Dan wanita itupun segera berlalu.
Aku menunggu di lobi hotel, tetapi aku lebih suka menyebutnya ruang tunggu karena ruangannya yang tidak besar seperti lobi hotel pada umumnya. Hanya ada sebuah sofa dan sebuah meja kecil, berdekatan dengan meja resepsionis tadi. Sebuah lampu gantung kuno menyala redup, membantu menerangi ruangan yang sumber cahaya masuk hanya dari pintu masuk saja. Ruang ini terasa lembab.
Kesan kekunoan tempat ini begitu terasa. Di sudut ruangan ada sebuah guci keramik yang besar, tingginya hampir sejajar dada orang dewasa. Bentuknya mirip vas bunga dengan motif garis – garis berwarna biru, yang melengkung seperti tumbuhan merambat. Sedangkan pada tembok terpajang sebuah lukisan seorang wanita. Dia berambut pirang berbaju putih dengan rok yang lebar, seperti pakaian nona – nona Belanda jaman dulu. Aku mengamati lebih dalam wajah wanita pada lukisan itu. Bibirnya menampilkan sebuah seyuman yang dipaksakan. Dan..., lukisan itu bergoyang pelan! Aku terperanjak mengetahui hal itu.
“Mas....” Suara yang membuatku kaget, nyaris saja aku melonjak dari tempat duduk. Ternyata resepsionis tadi. Dia berhasil membuat jantungku berdetak lebih kencang.
“Iya...,” jawabku dengan sedikit nafas terengah – engah.
“Aduh, maaf membuat sampean kaget. Mohon ditunggu sebentar, ya. Pak Warman akan segera menemui sampean,” ucap resepsionis itu menenangkan.
Mendengar suaranya yang lembut ditambah senyum manis dari bibirnya yang tipis, jantungku yang berdetak kencang karena kaget langsung kembali normal. “Oh, iya. Baik, Mbak.” Dia kemudian kembali ke meja kerjanya, melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.
Aku mencoba melihat ke bagian lain hotel ini. Ada sebuah koridor yang lebar dan sampai lurus ke belakang, aku melihat deretan pintu dan jendela. Tentu itu merupakan bagian kamar yang ada di hotel ini. Bagian depan deretan kamar itu sepertinya ruang tanpa atap. Karena terlihat lebih terang dari ruangan tempatku berada, terlebih lagi ada kolam ikan dan tanaman bunga.
Suara langkah kaki terdengar menuju ke arahku. Seorang pria paruh baya dengan kumis yang cukup tebal tetapi rapi. Rambutnya ikal, sebagian sudah berwarna putih. Tatapan matanya teduh dan bersahabat. “Anda yang mau melamar pekerjaan di sini, Mas?” Pria itu langsung mengulurkan tangan kanannya padaku.
Segera saja aku berdiri dan menjabat tangannya. “Iya, Pak. Saya bermaksud melamar kerja di sini.”
“Oh, baik. Silahkan duduk. Memang saya membutuhkan satu orang laki – laki untuk bekerja di sini. Menggantikan karyawan lain yang mengundurkan diri. Saya Warman, pemilik hotel ini. Nama sampean siapa?”
“Nama saya Rifat. Rifat Sungkono,” jawabku.
Pak Warman menatap wajahku, kemudian melirik amplop cokelat yang ada di tanganku. “Membawa surat lamaran, Mas Rifat?”
“Iya, Pak. Ini.” kuberikan berkas lamaran kerja yang sudah kupersiapkan.
Pak Warman membaca dengan cermat dokumen lamaran kerjaku. Kemudian menjelaskan pekerjaan apa yang nanti harus aku lakukan, besar gaji yang aku terima, juga jadwal kerjanya seperti apa. Semua penjelasan itu dapat aku mengerti dengan baik. Meskipun ada satu hal yang sedikit aneh, tidak boleh satu pun karyawan di hotel ini masuk kamar hotel nomor dua belas. Kamar itu juga tidak digunakan lagi untuk pengunjung. Pak Warman juga tidak menjelaskan alasannya mengapa harus seperti itu. Hal tersebut bersifat mutlak.
“Bagaimana Mas Rifat? Sudah jelas dengan semua yang aku sampaikan tadi?” tanya pak Warman.
“Iya, Pak. Saya sudah jelas semuanya,” balasku.
“Baiklah kalau sudah jelas. Mungkin Mas Rifat perlu waktu untuk berpikir. Saya mau menelepon rekan saya, mungkin sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Selama itu silahkan sampean berpikir, menerima pekerjaan ini atau tidak. Setelah saya kembali, sampean sudah harus ada jawabannya.”
Pria paruh baya yang ramah itupun berlalu, memberiku waktu untuk berpikir. Saat dia menjelaskan tadi sebenarnya aku juga sudah gambaran keputusan apa yang akan aku ambil. Jadi sekarang aku tidak perlu repot – repot lagi untuk mengambil keputusan.
“Mas...,” suara lembut perempuan.
“Iya, Mbak,” jawabku cepat.
Hah?! Siapa yang memanggilku tadi? Tak ada orang di dekatku. Perempuan resepsionis kulihat sedang ada di tempatnya sedang melayani tamu. Dari mana suara itu berasal? Suara siapa?
Wuuusshhh..., ada tiupan angin yang lembut kurasakan di telinga kananku. Seketika aku bergidik, lalu menoleh ke arah kanan, lalu ke arah kiri. Tidak ada siapa – siapa di dekatku, resepsionis juga masih sibuk di tempatnya. Bulu romaku mulai berdiri. Degup jantungku juga berpacu lebih cepat. Tidak berselang lama kedua pundakku untuk sesaat terasa kelelahan, seperti telah memanggul dua karung beras. Segera aku bersandar dan menarik nafas lebih dalam.
Kembali suara langkah kaki datang menghampiriku. Pak Warman sudah kembali, padahal waktu masih lima menit saja berlalu. Kali ini dia membawa koper berwarna hitam, rambutnya tampak basah seperti dipoles dengan minyak rambut. Dan kini dia sudah duduk di hadapanku.
“Bagaimana, Mas Rifat?” tanya pak Warman.
“Baik, Pak. Saya menerima pekerjaan ini,” jawabku.
“Ah, bagus. Saya senang mendengarnya,” balasnya dengan senyum sumringah.
“Lalu, kapan saya mulai kerja, Pak?” aku menyahutnya.
“Besok, Mas.” Dia lalu menoleh ke arah meja resepsionis. “Yuli..., ke sini kamu.”
Gadis manis dan murah senyum itu memenuhi panggilan pak Warman. Oh, Yuli ternyata namanya.
“Iya, Pak Warman. Ada yang bisa saya bantu?” ucap Yuli.
“Yuli, ini Mas Rifat. Dia karyawan baru kita. Dan, Mas Rifat, ini Yuli teman kerja satu shift dengan sampean,” ujar pak Warman memperkenalkan kami. “Mas Rifat, besok pagi sampean langsung saja menemui Yuli. Dia akan membantumu memulai pekerjaan. Saya harus pergi karena ada keperluan lain. Yuli, jangan lupa. Besok kamu atur semuanya, ya.”
“Baik, Pak Warman,” balas Yuli.
Pak Warman langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan aku dan Yuli. Untuk beberapa detik ruangan itu seolah menjadi milik kami berdua sebelum ada seorang tamu hotel datang untuk check in.
“Sebentar ya, Mas. Saya urus tamu itu dulu,” tutur Yuli.
“Oh, iya. Silahkan,” jawabku.
Beberapa orang keluar dari lorong masuk tempat deretan kamar hotel. Semuanya berpakaian rapi, seperti akan berangkat kerja. Cukup ramai juga tamu di hotel kecil ini. Yuli sepertinya agak kerepotan dengan beberapa tamu yang datang menghampirinya. Aku sebenarnya ingin membantunya, tetapi aku juga bingung bisa membantunya dalam pekerjaan apa. Terlebih aku juga masih belum mulai bekerja di hotel ini.
Tetapi Yuli seorang yang cekatan dalam bekerja. Semua tamu sudah diurusnya, dan dia datang kembali kepadaku. “Maaf, Mas. Agak lama, ya? Maklum saya hari ini kerja sendiri. Sampean juga baru besok mulai bekerja.”
“Ah, tidak apa – apa. Saya bisa memakluminya, kok. Oh iya, Mbak. Untuk besok apa yang harus saya persiapkan, ya?”
“Besok masuk kerja jam tujuh pagi, Mas. Jangan terlambat. Memakai celana polos warna hitam, ya. Untuk bajunya bebas, karena ganti seragam di sini. Pakai sepatu bebas, asal bukan sepatu olahraga. Kalau bisa yang semi formal, mas. Punya, kan?”
“Oh, begitu. Baik, Mbak Yuli.”
“Kalau Mas Rifat sudah jelas semua, Mas Rifat bisa pulang dulu. Kita bertemu kembali besok.”
“Baik, Mbak Yuli. Saya permisi.”
Aku berjalan keluar dari hotel, ditemani oleh Yuli sampai di meja kerjanya. Aku senang telah mendapat pekerjaan lagi. Terlebih lagi teman kerjaku besok juga seorang wanita yang cantik.
Bersambung.
Diubah oleh galih17 29-03-2020 18:18
soulo dan 5 lainnya memberi reputasi
6