Setelah beberapa tahun memutuskan untuk beristirahat, akhirnya Beavermoon kembali untuk menyelesaikan apa yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat.
Sedikit bercerita bahwa cerita ini adalah akhir dari serial Aku, Kamu, dan Lemon. Cerita ini tidak lagi mengisahkan tentang Bram, Widya, Dinda, dan yang lainnya. Cerita ini akan mengisahkan tentang sang penulis dari Aku, Kamu, dan Lemon setelah seri Buku Harian Airin berakhir. Bagaimana ia harus menjalani hidup setelah semuanya berakhir, bagaimana ia harus menyelesaikan dan menjelaskan semua cerita yang sudah ia tulis.
Lalu kenapa cerita ini masih menjadi bagian Aku, Kamu, dan Lemon jika sudah tidak ada lagi para tokoh utama dari cerita tersebut? Mungkin, apa yang dirasakan oleh sang penulis bisa menjadi penutup dari serial ini, dengan catatan telah mendapatkan izin dari beberapa orang yang "namanya" pernah tercantum di cerita sebelumnya.
Untuk kalian yang baru bergabung, mungkin bisa baca seri sebelumnya terlebih dahulu sebelum membaca seri terakhir ini.
Dan bagi kalian yang sudah mengikuti dari seri pertama, selamat datang kembali. Semoga apa yang menjadi pertanyaan selama ini bisa terjawab, jika tidak terjawab maka lebih baik bertanya di kolom komentar. Satu info terakhir, seri ini akan update 3X dalam seminggu (Senin, Rabu, Jum'at) agar tidak terlalu lama. Enjoy!
"Itu tuh pelanggaran keras yang disengaja kayak berantem gitu tuh, jadinya dikeluarin dari pertandingan." Jelasku.
Renata mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari pertandingan pagi ini. Hari ini aku terpaksa untuk libur sesuai permintaan Ferdi dan Bella kemarin, terasa aneh ketika aku berdiam diri hanya dengan menonton TV di hari kerja.
"Yah seri dong akhirnya." Ucap Renata.
"Nanti ada babak tambahan lagi kok." Kataku.
"Oh ada babak tambahan?" Tanya Renata.
"Iya, jadi pertandingan basket itu diwajibin antara menang atau kalah. Bukan kayak bola yang bisa seri terus poinnya satu." Jawabku.
"Terus kalau abis babak tambahan masih seri juga gimana?" Tanyanya lagi.
"Ada babak tambahan berikutnya." Kataku.
"Loh berarti bisa sampai berapapun dong babak tambahannya?" Tanyanya untuk ke sekian kalinya.
"Rekor terbanyak selama ini sih baru sampai babak tambahan ke enam, itu pun tahun 1951. Kalau sekarang-sekarang rata-rata sampai babak tambahan ke tiga atau empat." Jelasku.
Renata mengangguk lagi. Setelah melalui tiga babak tambahan akhirnya pertandingan pun selesai, dan setelah sekian lama akhirnya Lakers bisa memenangkan pertandingan.
"Akhirnya Ya Allah menang juga." Kataku.
Renata tersenyum menatapku, "Nah sekarang kamu makan dulu abis itu minum obat."
"Minum obat? Kan aku udah sembuh." Kataku.
"Kan antibiotiknya harus diabisin Adrian, sisanya ngga diabisin nggapapa. Kamu mau makan apa?" Kata Renata.
"Ke depan perumahan aja mau ngga? Di sana ada banyak jualan makanan kalau masih pagi kayak gini." Kataku.
Renata pun menyetujuinya, kami akhirnya menuju ke depan perumahan. Tiba di sana bersama Syailendra, kami pun melihat-lihat jajaran gerobak yang menjual berbagai jenis makanan. Renata memesan lontong sayur sedangkan aku memesan nasi kuning, kemudian kami pun duduk sambil menunggu pesanan kami.
"Aku baru tau kalau pagi di sini banyak yang jualan makanan." Katanya.
"Ya wajar aja kamu ngga tau, kamu kan ngga pernah ke sini pagi-pagi. Sebenernya kayak gini tuh udah dari aku SD, yang jualan nasi kuning sama bubur ayam itu yang paling lama di sini. Bener-bener dari aku SD sampai sekarang masih ada." Jelasku.
Pesanan kami pun tiba, "Pantesan kamu langsung pesen nasi kuning."
"Cobain kalau ngga percaya." Kataku.
Renata mencoba nasi kuning yang ku pesan, suapan pertama dan aku sudah menduga apa yang akan terjadi. Renata memukul tanganku beberapa kali sambil tetap mengunyah makanan tersebut.
"Adrian mau tukeran ngga?" Tanyanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum, akhirnya kami pun bertukar makanan. Renata makan dengan lahapnya, aku hanya bisa makan sesekali tersenyum melihatnya.
"Adrian..." Renata menyentuh tanganku beberapa kali, "aku boleh nambah ngga?"
Aku kembali tersenyum sambil menganggukkan kepala. Renata berlalu membawa piring kosong ke penjual nasi kuning tersebut untuk membeli satu porsi lagi, mataku hanya bisa mengikuti kemana langkah kakinya melangkah. Ia kembali dengan piring yang terisi penuh lagi, kemudian ia tersenyum kepadaku seperti malu-malu.
"Kamu malu ngga sih Adrian?" Tanyanya.
"Ngga dong, ngga ada alasan untuk malu." Kataku.
Ia kembali tersenyum, Renata mulai makan lagi. Beberapa menit berlalu, kami pun sudah selesai dengan urusan makan. Renata sedang membukakan bungkus obat untukku sementara aku sedang membayar apa saja yang sudah kami pesan.
"Nih minum." Kata Renata.
"Makasih..." Aku meminum obat tersebut, "pulang yuk."
Renata pun berdiri dari duduknya, kemudian kami pulang menuju rumahku. Kembali masuk ke dalam kamar, aku merebahkan diri di atas kasur sementara Renata masih memandangi rak buku. Ia mengambil salah satu buku dari rak tersebut kemudian mendekat ke arahku.
"Buku apa itu?" Tanyaku.
"The Last Letter From Your Lover..." ia duduk di sampingku, "kamu suka banget sama Jojo Moyes? Kayaknya dari semua itu namanya dia yang paling banyak."
Aku merubah posisiku menjadi duduk bersandar, "Iya, kalau diliat-liat sih emang koleksinya dia paling banyak dari yang lain."
Renata mengangguk, kemudian ia merogoh tas kecilnya mencari barang. Ia mengeluarkan kacamata kemudian ia kenakan, aku terdiam menatapnya yang sepertinya disadari oleh Renata.
"Kamu kok ngeliatinnya kayak gitu?" Tanya Renata.
"Kamu pakai kacamata?" Tanyaku.
"Iya, kalau tulisannya kecil kayak buku ini sih aku butuh bantuan kacamata. Selebihnya sih masih bisa keliatan meskipun ngga pakai." Jelasnya.
"Cantik..."
Dengan spontan aku berkata seperti itu, Renata pun tersenyum setelah mendengar perkataanku. Kemudian ia mulai membaca buku tersebut, aku memutuskan untuk memainkan handphone. Merasa bosan meskipun baru sebentar, aku meletakkan handphone lalu berdiri.
"Kamu mau kemana?" Tanya Renata
"Ngga tau, aku bingung mau ngapain soalnya." Jawabku.
Renata menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, ia kembali melanjutkan membaca. Aku memutuskan untuk menyalakan TV, berharap ada acara yang bisa membunuh waktuku. Satu demi satu acara ku lihat sekejap, sayangnya tidak ada yang bisa membuatku ingin melihatnya lebih lama setelah pertandingan tadi pagi. Ku matikan TV kemudian aku kembali menuju kasur. Renata sedari tadi melihat ke arahku kemudian tersenyum, aku pun rebahkan badanku bersandar pada pundak Renata
"Bosen Ren." Kataku.
Renata mengusap pipiku dengan tangan kanannya, "Wajar sih kamu ngga biasa libur hari senin, terus kamu maunya gimana?"
"Ngga tau." Jawabku.
Renata tersenyum, ia pun kembali membaca buku sedangkan aku hanya bisa ikut membaca buku yang sudah pernah ku baca. Mataku terasa berat hingga aku pun memejamkan mata dan tertidur bersandarkan pundak Renata.
"Kamu mau..." Renata menatap ke arahku, "eh dia tidur."
Aku pun tidak mengerti bagaimana bisa aku tertidur, Renata tersenyum menatapku kemudian ia kembali membaca buku tersebut.
Aku membuka mata, di hadapanku adalah sebuah halaman buku. Aku dapat merasakan nafas Renata, yang ku sadari kemudian bahwa posisiku lebih dekat dengan wajahnya dibandingkan sebelum aku tertidur. Renata sepertinya menyadari bahwa aku sudah bangun dari tidur.
"Eh udah bangun ternyata." Kata Renata.
"Aku tidur berapa lama Ren?" Tanyaku.
Renata kembali mengusap pipiku, "Sebentar kok baru dua jam."
"Dua jam?..." aku menghadap wajahnya, "kamu daritadi diem aja ngga gerak-gerak selama dua jam?"
Renata mengangguk lalu tersenyum, "Nggapapa kok."
Aku memutuskan untuk duduk. Beberapa saat aku hanya diam memandangi Renata yang masih seru dengan bacaannya. Renata, wanita yang luar biasa. Mungkin aku sudah mengatakan itu beberapa kali, dan memang seperti itulah kenyataannya.
"Kamu mau ke kedai?" Tanya Renata.
"Kedai? Kan aku disuruh libur sama mereka." Jawabku.
"Bukan sebagai pekerja..." Renata menutup buku, "tapi sebagai pelanggan. Mereka ngga bilang kan kalau kamu boleh dateng sebagai pelanggan?"
"Iya juga ya, kenapa kamu baru ngasih tau aku sekarang Ren?" Tanyaku.
"Aku tadi udah mau ngusulin itu, tapi pas aku ngeliat kamunya malah tidur. Ya jadinya nunggu kamu bangun dulu deh." Jelasnya.
Dan akhirnya kami pun memutuskan untuk pergi ke kedai siang ini. Ku parkirkan Syailendra di tempat biasa, diikuti Renata dengan mobilnya di belakang. Renata menghampiriku setelah mengunci mobilnya, kami pun masuk ke dalam secara bersamaan.
"Selamat si... alan, udah di suruh libur malah dateng." Kata Ferdi.
"Loh Mas Adrian?" Kata Bella.
"Saya mau pesen dong..."
Ferdi dan Bella menatapku dengan heran, tentu saja mereka heran karena kali ini aku datang bukan untuk bekerja melainkan menjadi pelanggan kedai ini.
"Kalian ngelarang buat kerja kan bukan buat jadi pelanggan? Jadi boleh dong mesen minuman." Kataku.
"Terlalu cinta gini nih jadinya, yaudah mau pesen apaan cuk?" Kata Ferdi.
Aku dan Renata mulai memesan, setelah itu kami duduk di kursi yang belum terisi. Tak berselang lama, Bella datang membawa pesanan kami.
"Ka Renata, Mas Adrian, ini pesanannya." Kata Bella.
"Makasih ya Bel." Sahut Renata.
Bella kembali ke tempatnya. Aku melihat sekeliling tempat ini, dan rasanya sedikit aneh ketika aku yang terbiasa berdiri di samping Ferdi sekarang harus duduk di kursi pelanggan menatap ke arah mereka. Aku mengeluarkan buku dan pulpen dari dalam tas, Renata pun melihat apa yang ku lakukan.
"Kamu mau ngapain?" Tanyanya.
"Kayaknya aku bakalan nulis lagi deh." Jawabku.
"Nulis? Kamu serius mau nulis lagi? Atau kamu mau publish yang udah ada biar jadi trilogi?" Tanya Renata lagi.
"Aku udah tutup buku soal cerita itu Ren, udah cukup sesuai permintaan dari orang-orang terdekat yang bersangkutan. Ngga sopan aja kalau mau publish, jadi lebih baik aku bikin ulang dari nol." Jelasku.
Renata mengangguk, "Terus kamu mau bikin cerita apa?"
"Ada dua sih yang kebayang, contohnya kayak gini..."
Aku mulai menggambar kerangka sederhana mengenai cerita apa yang akan ku buat kepada Renata. Kata demi kata, bagan demi bagan, ku buat sesederhana mungkin karena ini baru awalannya saja. Renata menganggukkan kepalanya selagi aku menjelaskan bagaimana kerangka ini berjalan dari awal.
"Kamu hebat ya bisa ngebayangin segitunya." Kata Renata.
"Sebenernya ide ini masih tergolong biasa aja sih, ngga yang spesial banget kayak buku yang kamu pegang." Jawabku.
"Ngga bisa dibandingin dong antara karya kamu sama buku ini, kelasnya udah berbeda. Buat karya kamu ada kelasnya sendiri dan itu udah bagus kok padahal baru idenya aja." Kata Renata.
Renata pindah ke sampingku, "Terus gimana tuh lanjutannya?"