- Beranda
- Stories from the Heart
Menikahlah Denganku! (Episode 1)
...
TS
suwokotumdex
Menikahlah Denganku! (Episode 1)


Spoiler for DAFTAR EPISODE:
Cerita ini sudah tamat Volume 1, so nantiin update Volume ke-2, ya! Kalau mau kasih kritik dan saran, monggo silakan 
Bagi yang mau baca novel ringan ini dalam bentuk komik Webtoon, bisa klik aja di sini
EPISODE 1 - Kehidupan Baru di Dunia Lain
Bagaimana bisa aku menerima permintaan konyol seperti itu? Menikah? Arghhh! Aku bahkan belum pernah sekalipun menyentuh wanita. Berada di dekatnya saja sudah cukup membuatku berkeringat dingin. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa menikah dan melakukan hal tabu di malamnya.
Tidak! Tidak! Tidak!
Aku masih terlalu muda untuk ternodai, aku terlalu naif untuk mengerti, aku masih terlalu kekanakan untuk menjadi seorang suami, apalagi ayah.
TIDAK!!!
Membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi.
Crasss!
Sebatang anak panah menusuk punggung. Seketika tubuhku limbung, sebelum akhirnya jatuh saat kaki tersangkut akar. Mencium tanah berlumpur, pandanganku mengabur. Rasanya ada yang mengalir di bahu, semakin lama semakin banyak, ditambah rasa nyeri yang kian menjalar. Namun, aku harus terus berlari atau kawanan wanita haus berahi itu berhasil menangkapku. Harus!
Sekelebat bayangan manusia mendadak muncul di depanku. Meski tak terlalu jelas sosoknya. Namun, dia seperti perempuan berasurai panjang berkibar mengikuti gerakannya yang cepat. Tangannya lembut mengangkat kepalaku pelan, lantas sedikit menghentakan telapaknya ke dahiku.
Setelahnya hanya kegelapan yang menutup kesadaran.
Aku terlonjak, mengangkat tubuh yang penuh dengan peluh. Dada berdebar tak keruan, dunia serasa berputar, membuat kepala ini pening. Namun, bukan itu yang menjadi masalahnya.
Sekarang di mana aku?
Tempat ini sangat asing. Aku terduduk di atas ranjang kayu, di sebuah ruangan yang berdinding kayu juga.
Lengang, tak ada siapapun, hanya nakas yang di atasnya terdapat jendela dengan gorden terbuka, membuat cahaya dapat masuk, memberikan kehangatan pagi. Selain itu, tak ada apapun lagi.
Sebenarnya apa yang terjadi? Tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat yang aneh ini. Terakhir kali yang kuingat, aku mendadak berada di tengah-tengah sebuah pasar yang seluruhnya berisi wanita saja. Namun, yang lebih mengerikan dari semua itu adalah, mereka mengejarku layaknya zombie haus darah. Namun, mereka lebih menginginkan hubungan badan daripada menyedot darahku. Apa-apaan itu?
Kuusap peluh di wajah, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya hingga aku bisa sampai ke sini. Ya, sebelum aku mendadak terbangun di pasar mengerikan itu.
Sebelumnya
Malam yang dingin memaksaku memasukan tangan ke kantung hoodie oranye ini. Meski sudah memakai pakaian rangkap, tetap saja dingin malam ini berhasil menembus sampai ke kulit. Tidak biasanya, padahal Jakarta yang kukenal adalah kota yang panas dan memuakan bagi para pecundang sepertiku.
Haah! Aku jadi ingat lagi tentang sosok payah ini.
Setiap hari kulewati hanya dengan berdiam diri di dalam kamar. Mencari pekerjaan tak pasti lewat dunia maya sudah menjadi rutinitas.
Kadang aku menawarkan jasa kepada para ‘penulis’ malas yang hanya ingin mencari nama tanpa mau berusaha. Mengakui setiap ketikanku sebagai karyanya, tentu saja setelah mereka membayar jasaku sebagai 'penulis hantu'. Penulis yang bekerja di balik bayangan, tanpa mengharapkan namanya dikenal oleh banyak orang. Ya, setidaknya mereka membayar dengan harga yang sesuai. Lagi pula hanya pekerjaan seperti inilah yang bisa dilakukan penunggu kamar sepertiku. Tanpa harus beradu dengan panasnya Jakarta, atau mendapat tekanan dari bos besar, aku sudah cukup bahagia.
Akan tetapi, jika sudah berada di luar seperti ini ... rasanya aku seperti tengah berada di tempat yang sangat asing. Seolah ada mata yang terus mengikuti setiap kaki melangkah. Rasa tidak nyaman yang selalu membawa aura negatif.
Memang, jarak minimarket ini dengan indekos tidak terlalu jauh. Namun, jujur saja tidak ada manusia yang kukenal baik di sini, kecuali pria tua yang bekerja sebagai kasir itu.
Sekantung kresek berisi tiga bungkus mie instan, beberapa butir telur, dan serenteng kopi saset, kuangkat. Setidaknya makanan sederhana ini bisa menemaniku bergadang sampai tiga hari ke depan.
Aku berdiri di bawah lampu jalan, tempat yang sepi membuat otak kembali mengingat kejadian lima tahun silam. Ah, tidak ... aku tidak ingin mengingat akhir dari pertikaian keluarga itu. Hanya luka yang bisa kudapat.
Aku menghela napas panjang membuang segala pikiran negatif. Menoleh ke kanan-kiri, jalanan kecil ini tampak sepi. Tak ada tanda-tanda kendaraan lain yang akan melintas.
Kumelangkah, tapi batinku masih diam. Ada yang tengah memperhatikan dari belakang, seperti sedang mengikuti. Aku berhenti dan memutar tubuh, tak ada siapapun kecuali tiang lampu jalan yang baru kulewati.
Mungkin hanya perasaanku saja.
Namun, saat kembali menghadap ke depan, sesosok perempuan berjubah putih penuh darah dan tanah merah, berambut panjang menutupi muka, dan bau anyir memualkan. Sesaat waktu seperti berhenti, sementara mataku terpaku pada makhluk itu.
"KUNTILANAK!"
Spontan aku meloncat ke arah jalan, dan dengan cepat sebuah benda keras menghantamku. Aku merasakan tubuh ini melayang beberapa detik di udara sebelum akhirnya jatuh menghempas aspal.
Bunyi gemeletak terdengar keras, tulang punggungku seperti remuk.
Aku berusaha bangkit sambil menahan rasa nyeri. Namun, sia-sia. Aku tak mampu bergerak sedikitpun, bahkan untuk berteriak pun tak bisa.
Apa aku akan mati?! Aku sudah tidak kuat lagi.
"Ikutlah denganku!" Suara itu berdengung bersamaan dengan seorang gadis yang tampak siluet berjongkok di sampingku. Ia berambut panjang ... baunya wangi ... mungkinkah dia sesosok malaikat?
Aku meringis, mencoba mengeluarkan suara. "Ka-kamu ... siapa?"
Tak ada jawaban kecuali hentakan pelan di dahi, membuatku hilang kesadaran.
"Perempuan itu ... dia yang menolongku dua kali."
Derit suara pintu terbuka, membuat lamunanku seketika buyar. Seorang gadis bergaun hijau, surai kecoklatan menjuntai hingga punggung, berdiri di ambang pintu. Mata indah berbulu lentik, dan manik hazel, beradu dengan mataku.
Seulas senyum terlukis di bibirnya yang ranum.
"Anda sudah bangun?" tanyanya seraya mendekat.
Tunggu, dia perempuan, 'kan? Apa dia akan memaksaku untuk menikahinya seperti sekumpulan wanita mengerikan tadi malam.
"Tidak! Jangan! Aku tidak ingin menikah denganmu!" Spontan aku berteriak.
Aku harus pergi, bagaimana pun juga, aku harus lolos dari tempat ini. Celah, celah ... di mana kau? Ah, di sana. Jendela.
Aku meloncat dari ranjang dan hendak ke luar tapi tangan gadis itu berhasil menahan, dan menarikku ke belakang hingga kami jatuh bersamaan.
Sialan! Kenapa dia lebih kuat.
"Lepaskan aku!"
"Tidak!" teriaknya. Semakin mengetatkan dekapan.
"Aku tidak mau melakukannya, tidak, sampai aku ingin sendiri. Jangan memaksaku untuk menikahimu!"
"Saya tidak akan memaksa Tuan untuk menikah saya, atau melakukan mating dengan Anda. Saya hanya ingin kesehatan Anda kembali pulih!"
Ha?
Aku terdiam sesaat mendengar ucapannya. "A-apa maksudmu? Kau tidak ingin menikahiku?"
"Tenangkan diri Anda, Tuan, biar saya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Ia meyakinkanku.
Meski aku tidak melihat wajahnya, tapi aku bisa mendengar kejujuran dari mulut gadis ini.
Akhirnya aku mengalah, dan duduk di tepi ranjang. Mendadak aku merasakan nyeri di bahu yang kini berlapis perban.
“Anak panah yang menancap di bahu Anda lumayan dalam, Tuan, membuat lukanya semakin sulit disembuhkan,” jelas gadis itu, ia berdiri di depanku. Senyumnya tak lekang jua.
“Heem ….” Aku mencoba tidak peduli. "Jadi, apa yang ingin kau jelaskan tadi?" Aku memalingkan wajah, tidak terbiasa menatap perempuan.
Gadis itu tak segera menjawab, membuatku harus melirik ke arahnya. Dia berdiri sembari tersenyum simpul ke arahku. Menjinjing sedikit rok lebarnya, menyilangkan kaki, dan sedikit membungkukan badannya. "Izin memperkenalkan diri. Nama saya adalah Reina, penyihir hijau dari daratan Alfterin, siap melayani Anda."
Dia ... kenapa harus melayaniku. Lagi pula apa-apaan pengakuannya itu, penyihir di zaman semodern ini. Jangan bercanda, memang masih ada?
"Tentu Tuan akan menganggap saya hanya bercanda," ucapnya.
Dia bisa membaca pikiranku?
"Jika Anda berpikir saya sedang membaca pikiran Anda. Anda keliru. Saya hanya menebak dari raut wajah Anda." Dia tersenyum simpul, dan sialnya kenapa tampak manis.
Aku menelan ludah, mendadak otak ini memikirkan hal-hal aneh saat mata tak sengaja melirik dadanya yang … wah. Namun, aku harus tetap fokus.
Alfterin ... kira-kira itu nama daerah mana. Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, atau Papua? Sepertinya tidak ada nama seaneh itu di Nusantara.
"Saya mengerti perasaan Anda, Tuan Alex."
Aku mengerutkan dahi. "Ka-kamu tau namaku?"
Gadis itu mangangguk yakin. "Nama Anda, tempat tinggal, keseharian, bahkan masa lalu ... saya tahu semuanya."
Apa dia benar-benar penyihir yang mampu membaca semua tentang diriku?
"Ja-jadi, selama ini kau memata-mataiku?" Wajahku memanas. Rasanya aneh jika ada seorang gadis yang harus repot-repot melihat keseharianku yang membosankan.
"Bukankah terlalu kasar jika Anda memfitnah seseorang yang baru saja menyelamatkan nyawa Anda dengan kata-kata seperti itu?" Reina murung, "sudah menjadi tugas saya untuk mengetahui seluk beluk pria terpilih yang nantinya akan menikahi sang Ratu," lanjutnya.
"Menikahi Ratu? Pria terpilih? Aku?"
Apakah itu tidak berlebihan?
"Benar, Anda lah orangnya, Tuan. Satu-satunya pria yang saat ini bisa memberikan keturunan—"
"Tunggu, tunggu sebentar! Bukannya terlalu cepat jika membicarakan soal pernikahan? Aku masih di bawah umur—"
“Tidak! Justru umur Anda yang sekarang cukup ideal."
Dia malah ganti memotong ucapanku.
"18 tahun, adalah umur yang ideal untuk segera menikah dan membuat keturunan. Demi keberlangsungan negeri ini." Ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah jendela. Membiarkanku dengan segala pertanyaan yang sudah mau meledakan isi kepala.
"Kau bilang demi keberlangsungan negeri ini? Maksudmu apa?"
Reina menghela napas kasar. “Saya ingin menceritakan semuanya kepada Anda, tapi rasanya terlalu mendadak.
"Lebih baik Anda beristirahat dahulu. Jika kondisi Anda sudah lebih baik, saya pasti akan menceritakan semuanya.
“Tentang diri Anda yang masuk ke dunia ini, soal pernikahan, dan juga tentang negeri yang di ambang kepunahan. Semuanya, akan saya jelaskan kepada Anda."
Reina berjongkok dan meraih tanganku. Menggenggamnya erat hingga aku bisa merasakan kulitnya yang hangat dan lembut. Rasa ini, seperti genggaman lembut dari tangan perempuan yang menyelamatkanku malam itu.
“Kau—”
“Tuan.” Reina memotong ucapanku.
Wajahku semakin memanas, mungkin sekarang sudah semerah buah apel. Dadaku berdebar hebat saat Reina mendekatkan wajahnya. Suara yang lembut berbisik ke kupingku.
“Hanya Anda satu-satunya harapan kami.” Sentuhan hangat napas Reina membiusku. Aku hanya mampu menelan ludah.
Perasaan macam apa ini, aku tak bisa menekan otak untuk bekerja secara normal. Mendadak tubuh ini kaku. Fokus hilang.
Reina kembali berdiri, membungkukan badan lantas meminta izin untuk keluar. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkanku di kamar ini, ia berpesan, "Selamat datang di tanah Fasia yang diberkati ini, Tuan."

Bagi yang mau baca novel ringan ini dalam bentuk komik Webtoon, bisa klik aja di sini
~~~ Selamat Membaca ~~~
EPISODE 1 - Kehidupan Baru di Dunia Lain
Bagaimana bisa aku menerima permintaan konyol seperti itu? Menikah? Arghhh! Aku bahkan belum pernah sekalipun menyentuh wanita. Berada di dekatnya saja sudah cukup membuatku berkeringat dingin. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa menikah dan melakukan hal tabu di malamnya.
Tidak! Tidak! Tidak!
Aku masih terlalu muda untuk ternodai, aku terlalu naif untuk mengerti, aku masih terlalu kekanakan untuk menjadi seorang suami, apalagi ayah.
TIDAK!!!
Membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi.
Crasss!
Sebatang anak panah menusuk punggung. Seketika tubuhku limbung, sebelum akhirnya jatuh saat kaki tersangkut akar. Mencium tanah berlumpur, pandanganku mengabur. Rasanya ada yang mengalir di bahu, semakin lama semakin banyak, ditambah rasa nyeri yang kian menjalar. Namun, aku harus terus berlari atau kawanan wanita haus berahi itu berhasil menangkapku. Harus!
Sekelebat bayangan manusia mendadak muncul di depanku. Meski tak terlalu jelas sosoknya. Namun, dia seperti perempuan berasurai panjang berkibar mengikuti gerakannya yang cepat. Tangannya lembut mengangkat kepalaku pelan, lantas sedikit menghentakan telapaknya ke dahiku.
Setelahnya hanya kegelapan yang menutup kesadaran.
***
Aku terlonjak, mengangkat tubuh yang penuh dengan peluh. Dada berdebar tak keruan, dunia serasa berputar, membuat kepala ini pening. Namun, bukan itu yang menjadi masalahnya.
Sekarang di mana aku?
Tempat ini sangat asing. Aku terduduk di atas ranjang kayu, di sebuah ruangan yang berdinding kayu juga.
Lengang, tak ada siapapun, hanya nakas yang di atasnya terdapat jendela dengan gorden terbuka, membuat cahaya dapat masuk, memberikan kehangatan pagi. Selain itu, tak ada apapun lagi.
Sebenarnya apa yang terjadi? Tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat yang aneh ini. Terakhir kali yang kuingat, aku mendadak berada di tengah-tengah sebuah pasar yang seluruhnya berisi wanita saja. Namun, yang lebih mengerikan dari semua itu adalah, mereka mengejarku layaknya zombie haus darah. Namun, mereka lebih menginginkan hubungan badan daripada menyedot darahku. Apa-apaan itu?
Kuusap peluh di wajah, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya hingga aku bisa sampai ke sini. Ya, sebelum aku mendadak terbangun di pasar mengerikan itu.
***
Sebelumnya
Malam yang dingin memaksaku memasukan tangan ke kantung hoodie oranye ini. Meski sudah memakai pakaian rangkap, tetap saja dingin malam ini berhasil menembus sampai ke kulit. Tidak biasanya, padahal Jakarta yang kukenal adalah kota yang panas dan memuakan bagi para pecundang sepertiku.
Haah! Aku jadi ingat lagi tentang sosok payah ini.
Setiap hari kulewati hanya dengan berdiam diri di dalam kamar. Mencari pekerjaan tak pasti lewat dunia maya sudah menjadi rutinitas.
Kadang aku menawarkan jasa kepada para ‘penulis’ malas yang hanya ingin mencari nama tanpa mau berusaha. Mengakui setiap ketikanku sebagai karyanya, tentu saja setelah mereka membayar jasaku sebagai 'penulis hantu'. Penulis yang bekerja di balik bayangan, tanpa mengharapkan namanya dikenal oleh banyak orang. Ya, setidaknya mereka membayar dengan harga yang sesuai. Lagi pula hanya pekerjaan seperti inilah yang bisa dilakukan penunggu kamar sepertiku. Tanpa harus beradu dengan panasnya Jakarta, atau mendapat tekanan dari bos besar, aku sudah cukup bahagia.
Akan tetapi, jika sudah berada di luar seperti ini ... rasanya aku seperti tengah berada di tempat yang sangat asing. Seolah ada mata yang terus mengikuti setiap kaki melangkah. Rasa tidak nyaman yang selalu membawa aura negatif.
Memang, jarak minimarket ini dengan indekos tidak terlalu jauh. Namun, jujur saja tidak ada manusia yang kukenal baik di sini, kecuali pria tua yang bekerja sebagai kasir itu.
Sekantung kresek berisi tiga bungkus mie instan, beberapa butir telur, dan serenteng kopi saset, kuangkat. Setidaknya makanan sederhana ini bisa menemaniku bergadang sampai tiga hari ke depan.
Aku berdiri di bawah lampu jalan, tempat yang sepi membuat otak kembali mengingat kejadian lima tahun silam. Ah, tidak ... aku tidak ingin mengingat akhir dari pertikaian keluarga itu. Hanya luka yang bisa kudapat.
Aku menghela napas panjang membuang segala pikiran negatif. Menoleh ke kanan-kiri, jalanan kecil ini tampak sepi. Tak ada tanda-tanda kendaraan lain yang akan melintas.
Kumelangkah, tapi batinku masih diam. Ada yang tengah memperhatikan dari belakang, seperti sedang mengikuti. Aku berhenti dan memutar tubuh, tak ada siapapun kecuali tiang lampu jalan yang baru kulewati.
Mungkin hanya perasaanku saja.
Namun, saat kembali menghadap ke depan, sesosok perempuan berjubah putih penuh darah dan tanah merah, berambut panjang menutupi muka, dan bau anyir memualkan. Sesaat waktu seperti berhenti, sementara mataku terpaku pada makhluk itu.
"KUNTILANAK!"
Spontan aku meloncat ke arah jalan, dan dengan cepat sebuah benda keras menghantamku. Aku merasakan tubuh ini melayang beberapa detik di udara sebelum akhirnya jatuh menghempas aspal.
Bunyi gemeletak terdengar keras, tulang punggungku seperti remuk.
Aku berusaha bangkit sambil menahan rasa nyeri. Namun, sia-sia. Aku tak mampu bergerak sedikitpun, bahkan untuk berteriak pun tak bisa.
Apa aku akan mati?! Aku sudah tidak kuat lagi.
"Ikutlah denganku!" Suara itu berdengung bersamaan dengan seorang gadis yang tampak siluet berjongkok di sampingku. Ia berambut panjang ... baunya wangi ... mungkinkah dia sesosok malaikat?
Aku meringis, mencoba mengeluarkan suara. "Ka-kamu ... siapa?"
Tak ada jawaban kecuali hentakan pelan di dahi, membuatku hilang kesadaran.
***
"Perempuan itu ... dia yang menolongku dua kali."
Derit suara pintu terbuka, membuat lamunanku seketika buyar. Seorang gadis bergaun hijau, surai kecoklatan menjuntai hingga punggung, berdiri di ambang pintu. Mata indah berbulu lentik, dan manik hazel, beradu dengan mataku.
Seulas senyum terlukis di bibirnya yang ranum.
"Anda sudah bangun?" tanyanya seraya mendekat.
Tunggu, dia perempuan, 'kan? Apa dia akan memaksaku untuk menikahinya seperti sekumpulan wanita mengerikan tadi malam.
"Tidak! Jangan! Aku tidak ingin menikah denganmu!" Spontan aku berteriak.
Aku harus pergi, bagaimana pun juga, aku harus lolos dari tempat ini. Celah, celah ... di mana kau? Ah, di sana. Jendela.
Aku meloncat dari ranjang dan hendak ke luar tapi tangan gadis itu berhasil menahan, dan menarikku ke belakang hingga kami jatuh bersamaan.
Sialan! Kenapa dia lebih kuat.
"Lepaskan aku!"
"Tidak!" teriaknya. Semakin mengetatkan dekapan.
"Aku tidak mau melakukannya, tidak, sampai aku ingin sendiri. Jangan memaksaku untuk menikahimu!"
"Saya tidak akan memaksa Tuan untuk menikah saya, atau melakukan mating dengan Anda. Saya hanya ingin kesehatan Anda kembali pulih!"
Ha?
Aku terdiam sesaat mendengar ucapannya. "A-apa maksudmu? Kau tidak ingin menikahiku?"
"Tenangkan diri Anda, Tuan, biar saya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Ia meyakinkanku.
Meski aku tidak melihat wajahnya, tapi aku bisa mendengar kejujuran dari mulut gadis ini.
Akhirnya aku mengalah, dan duduk di tepi ranjang. Mendadak aku merasakan nyeri di bahu yang kini berlapis perban.
“Anak panah yang menancap di bahu Anda lumayan dalam, Tuan, membuat lukanya semakin sulit disembuhkan,” jelas gadis itu, ia berdiri di depanku. Senyumnya tak lekang jua.
“Heem ….” Aku mencoba tidak peduli. "Jadi, apa yang ingin kau jelaskan tadi?" Aku memalingkan wajah, tidak terbiasa menatap perempuan.
Gadis itu tak segera menjawab, membuatku harus melirik ke arahnya. Dia berdiri sembari tersenyum simpul ke arahku. Menjinjing sedikit rok lebarnya, menyilangkan kaki, dan sedikit membungkukan badannya. "Izin memperkenalkan diri. Nama saya adalah Reina, penyihir hijau dari daratan Alfterin, siap melayani Anda."
Dia ... kenapa harus melayaniku. Lagi pula apa-apaan pengakuannya itu, penyihir di zaman semodern ini. Jangan bercanda, memang masih ada?
"Tentu Tuan akan menganggap saya hanya bercanda," ucapnya.
Dia bisa membaca pikiranku?
"Jika Anda berpikir saya sedang membaca pikiran Anda. Anda keliru. Saya hanya menebak dari raut wajah Anda." Dia tersenyum simpul, dan sialnya kenapa tampak manis.
Aku menelan ludah, mendadak otak ini memikirkan hal-hal aneh saat mata tak sengaja melirik dadanya yang … wah. Namun, aku harus tetap fokus.
Alfterin ... kira-kira itu nama daerah mana. Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, atau Papua? Sepertinya tidak ada nama seaneh itu di Nusantara.
"Saya mengerti perasaan Anda, Tuan Alex."
Aku mengerutkan dahi. "Ka-kamu tau namaku?"
Gadis itu mangangguk yakin. "Nama Anda, tempat tinggal, keseharian, bahkan masa lalu ... saya tahu semuanya."
Apa dia benar-benar penyihir yang mampu membaca semua tentang diriku?
"Ja-jadi, selama ini kau memata-mataiku?" Wajahku memanas. Rasanya aneh jika ada seorang gadis yang harus repot-repot melihat keseharianku yang membosankan.
"Bukankah terlalu kasar jika Anda memfitnah seseorang yang baru saja menyelamatkan nyawa Anda dengan kata-kata seperti itu?" Reina murung, "sudah menjadi tugas saya untuk mengetahui seluk beluk pria terpilih yang nantinya akan menikahi sang Ratu," lanjutnya.
"Menikahi Ratu? Pria terpilih? Aku?"
Apakah itu tidak berlebihan?
"Benar, Anda lah orangnya, Tuan. Satu-satunya pria yang saat ini bisa memberikan keturunan—"
"Tunggu, tunggu sebentar! Bukannya terlalu cepat jika membicarakan soal pernikahan? Aku masih di bawah umur—"
“Tidak! Justru umur Anda yang sekarang cukup ideal."
Dia malah ganti memotong ucapanku.
"18 tahun, adalah umur yang ideal untuk segera menikah dan membuat keturunan. Demi keberlangsungan negeri ini." Ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah jendela. Membiarkanku dengan segala pertanyaan yang sudah mau meledakan isi kepala.
"Kau bilang demi keberlangsungan negeri ini? Maksudmu apa?"
Reina menghela napas kasar. “Saya ingin menceritakan semuanya kepada Anda, tapi rasanya terlalu mendadak.
"Lebih baik Anda beristirahat dahulu. Jika kondisi Anda sudah lebih baik, saya pasti akan menceritakan semuanya.
“Tentang diri Anda yang masuk ke dunia ini, soal pernikahan, dan juga tentang negeri yang di ambang kepunahan. Semuanya, akan saya jelaskan kepada Anda."
Reina berjongkok dan meraih tanganku. Menggenggamnya erat hingga aku bisa merasakan kulitnya yang hangat dan lembut. Rasa ini, seperti genggaman lembut dari tangan perempuan yang menyelamatkanku malam itu.
“Kau—”
“Tuan.” Reina memotong ucapanku.
Wajahku semakin memanas, mungkin sekarang sudah semerah buah apel. Dadaku berdebar hebat saat Reina mendekatkan wajahnya. Suara yang lembut berbisik ke kupingku.
“Hanya Anda satu-satunya harapan kami.” Sentuhan hangat napas Reina membiusku. Aku hanya mampu menelan ludah.
Perasaan macam apa ini, aku tak bisa menekan otak untuk bekerja secara normal. Mendadak tubuh ini kaku. Fokus hilang.
Reina kembali berdiri, membungkukan badan lantas meminta izin untuk keluar. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkanku di kamar ini, ia berpesan, "Selamat datang di tanah Fasia yang diberkati ini, Tuan."
***
Diubah oleh suwokotumdex 07-04-2020 23:59
nona212 dan 36 lainnya memberi reputasi
35
11.2K
115
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
suwokotumdex
#52
EPISODE 6 - Berkamuflase
Memakai hoodie dirangkap dengan jubah hitam milik Reina. Menungkup tudungnya untuk menutupi wajah. Kali ini gadis penyihir itu juga memakaikan masker.
Di tengah tempat yang lapang dengan suluh dari bambu yang masih menyala mengelilingi tempat ini. Dari subuh aku sudah berada di sini bersama Violet. Gadis berambut pirang itu tampaknya masih ngantuk. Sesekali kudapati dia tampak menutupi mulutnya saat menguap.
Hah! Bocah.
Aku mengalihkan fokus. Menari dengan pedang kayu di tangan. Mengayun ke kanan, ke kiri, menghunus angin, menyabet udara. Kaki bergerak lincah meloncat dan berlari menciptakan serangan yang sempurna. Ah, mungkin itu hanya imajinasiku.
Beberapa teknik dasar sudah kukuasai, itu pun berkat kerja keras siang dan malam aku belajar ilmu bela diri yang entah mengambil aliran apa. Mungkin semacam cara bertarung bandit abad pertengahan.
Namun, meski begitu Violet bilang ilmuku masih cetek. Ya, iyalah ... belajar juga baru kemarin lusa.
Aku menghempaskan pedang kemudian meloncat ke belakang dan kembali memasang kuda-kuda. Akhir yang harus selalu sigap, perintah Violet yang masih kuingat. Meski dari segi fisik dia lebih cocok untuk disayang-sayang layaknya gadis cilik pada umumnya. Akan tetapi, gerakan cepat yang ia miliki bisa membunuhmu secara tiba-tiba.
"Gimana, Violet? Gerakanku sudah mulai bagus, 'kan?" Aku bergaya seolah memasukan pedang ke sarungnya di punggung—padahal secara kasat mata tidak ada apapun.
Aku menoleh ke arah Violet tadi berdiri menunggu. Dia tidak ada di samping pohon sana. Mataku menelusur ke sekitar, hingga berhenti saat melihat tubuh seorang gadis sedang tidur memeluk lutut di atas rumput. Meringkuk dan bersembunyi di balik jubah yang ia kenakan.
Jadi, dari tadi aku berpose keren seperti itu tidak ia perhatikan?
Hoi, pembaca. Aku boleh mukul loli satu ini kaga?
Aku berjalan dengan langkah gusar mendekati Violet. Ia tampak masih fokus dengan dunia mimpinya. Kutarik napas dalam, menundukan badan dan mengarahkan bibir ke depan kupingnya.
Langkah terakhir. Eksekusi dengan suara lantang. "VIOLETTT!!!"
"KYAAA!!!"
Pletak!
"Akh! Wajahku!!!"
"Violet, Tuan, Kalian kenapa?" Reina menatap kami dengan wajah penasaran.
Aku memilih bungkam dan mengalihkan pandangan dari Reina maupun Violet. Bahkan makanan di atas meja juga ikut kucampakan. Kurasakan dahi ini bengkak akibat pukulan Violet tadi. Tak kusangka refleknya juga sangat berbahaya.
"Kulihat, dari tadi kalian berdua hanya diam saja? Padahal baru pulang latihan bersama. Apa jangan-jangan—"
"Tuan Alex yang mulai! Dia berteriak di depan kupingku saat aku tidur, Mbak," adu Violet memotong ucapan Mbaknya. Saat kulirik, mata kami bertemu. Bibirnya dimonyongkan khas bocah kalau lagi ngambek.
"Kalau kamu nggak ketiduran pas aku lagi presentasi, ya kaga bakalan tuh kuping kuteriakin!" Aku tak mau kalah.
"Aku ngantuk, Tuan! Lagipula pagi-pagi buta Tuan sudah bangun dan mengajakku ke tempat latihan? Apa nggak berlebihan?" sungutnya tidak mau mengalah.
"Itu ... itu kan ... Ahhh! Anggap saja itu olahraga pagi! Kamu harus membiasakan diri!" Aku berdiri.
"TIDAK! Tuan Alex!" Violet meninggi.
"Sudah!!!" Akhirnya Reina ikutan berteriak. Aku dan Violet langsung bungkam dan menengok ke arah Reina.
Tok! Tok! Tok!
"Reina, di dalam ada keributan apa?" Sebuah suara dari luar langsung membuatku memakai jubah dan menutupi wajah. Reina berjalan menuju pintu dan terdengar decit pelan pintu terbuka.
Mereka berbincang sebentar. Seorang wanita dewasa tampak memperhatikanku yang tanpa sengaja aku juga tengah meliriknya. Tatapannya menunjukan kecurigaan kepadaku. Namun, aku harus tetap bersikap biasa agar rasa curiganya tak semakin besar.
Akan tetapi ....
"Reina, dia siapa? Tadi pagi kulihat dia berjalan ke luar dari hutan dengan Violet," ungkap wanita itu.
Aku menggenggam jubah dengan erat. Melirik Violet, dengan gerakan bola matanya jelas ia menyuruhku diam. Padahal dari tadi aku diam terus, ya?
"Dia adalah kenalan saya saat kami masih belajar di akademi penyihir dulu. Ia memang memutuskan untuk tinggal di sini sementara, di rumahnya sedang ada masalah, Kak," jawab Reina yang jelas sekali berbohong.
Aku melirik ke arah mereka berdua. Lagi-lagi mataku bertemu dengan wanita itu. Namun, sepertinya dia percaya dengan ucapan Reina.
"Ouh, begitu. Kupikir tadi ada keributan apa hingga aku mendengar seperti ada suara dengan nada berat khas seorang laki-laki."
Aku tercekat. Meski sukses berkamuflase dengan menyembunyikan hawa kelaki-lakianku, tapi suara tetap tak bisa diubah. Lain kali aku harus lebih berhati-hati saat berucap.
"Baiklah, aku akan pergi dulu, tapi jika kamu bertemu dengan laki-laki, jangan sampai kamu bersenang-senang sendirian. Aku sudah lama tidak merasakan belaian tangan kekar seorang pria ...."
Aku hanya bisa menelan ludah mendengar perkataannya yang terasa sangat mengintimidasi. Terutama saat wanita itu melirik ke arahku dan mengedipkan sebelah matanya. Tidak! Apa mungkin dia sudah tahu kalau aku adalah laki-laki. Dari sikapnya, ia seperti sudah mengetahuinya.
Gawat!!!
"Tuan, ada apa?" Pertanyaan Reina menyadarkanku.
Eh, iya ... ada apa? Aku menghela napas, setidaknya untuk membuang rasa khawatir yang sejak tadi menyerang. Kulihat pintu kayu depan sudah menutup. Tak ada suara wanita yang dipanggil 'Kak' oleh Reina itu masih di sana.
"Tadi siapa?" Aku bertanya. Menarik mangkuk dari kayu, dan menyendok makanan dari gandum yang mirip bubur itu. Masih panas ternyata.
Reina duduk di seberang meja. "Kak Mella ... Beliau adalah sahabat mendiang Ibu. Kak Mella tinggal tak jauh dari rumah kita—"
"Rumah kita?" Aku mendongak. Reina tampak gelagapan.
"Mak-maksud saya, rumah saya, Tuan." Dia meralat ucapannya. Padahal aku hanya bertanya. Sejak kapan rumahnya menjadi rumahku juga?
"Humm, terus?" Aku kembali menyendok sarapan.
Kudengar helaan napas Reina yang kasar. "Tidak ada, beliau sudah saya anggap sebagai keluarga."
Aku mengangkat wajah, dan menatap netra Reina sesaat, kemudian ganti mata Violet. Ekpresi yang sama-sama dalam. Sedekat itukah hubungan mereka?
"Oh, iya ... Kamu bilang, rumah Mella ada di dekat sini, tapi kenapa baru sekarang aku melihatnya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Humm ... Seingat saya, sehari sebelum Anda datang ke dunia ini, Kak Mella pergi ke kota. Kemungkinan beberapa hari ke belakang beliau menginap di sana."
Aku hanya mengangguk. Tak terasa sarapan di atas mangkuk sudah kandas. Stamina juga sepertinya sudah pulih. Waktunya berlatih lagi.
"Ayo, Violet!"
"Ha? Ke mana lagi, Tuan?" Violet tampak mengerutkan dahinya.
"Tentu saja ke tempat latihan! Tak ada waktu untuk berleha-leha ...." Karena aku merasa ada yang sedang mengincarku sekarang. Entah itu siapa dan di mana. Skenario terburuk adalah aku akan diculik tanpa perlawanan lantas dijadikan sandera. Nggak keren sama sekali!
Aku menarik lengan gadis berumur 13 tahunan itu. Ia tampak masih malas. Namun, aku tak peduli. Kuseret dia meski menjerit minta dilepaskan. Bodohnya, kenapa dia tidak menyerang!
Mbuh, lah!
Kuayunkan pedang membelah angin. Menebas udara dan memutar tubuh meliukan pedang. Tiga hari belakangan, aku memang berlatih keras siang dan malam. Mempelajari gerakan ini, sekadar untuk menyempurnakan jurus pertama, kata Violet. Sementara masih banyak jurus-jurus lain yang menunggu untuk kupelajari. Entah mengapa, aku merasa seperti sedang berlatih silat.
"Saya pikir Anda cepat belajar dan memahami apa yang saya ajarkan."
Aku berhenti dan berpose layaknya memasukan pedang ke sarung di punggung. Tatapan gadis yang bersandar di pohon dengan tangan menyilang di depan dada itu nyalang. Lantas mengerutkan dahinya.
"Apa-apaan dengan ekspresimu itu?" gerutuku.
"Gerakan Anda aneh." Ia mendekat.
"Aneh?"
"Memasukan pedang ke sarung yang ada di punggung, bukanlah hal mudah. Jika salah sedikit saja, bisa-bisa mata pedang malah akan menghunus bahu Anda," jelasnya.
Jadi alasannya itu. Namun, kelihatannya keren kalau memasukan pedang dengan gaya seperti itu. Seperti pada film-film.
"Bagaimana kalau sekarang saya bertarung dengan Anda?" Violet tiba-tiba mengeluarkan pedang kayunya, lantas mengacungkan ke depan wajahku.
Tanpa basa-basi, ya. Aku suka gayanya. Baiklah!
Aku mundur beberapa langkah. Kemudian ikut mengacungkan pedang kayu. "Ayo, mulai!"
"Tunggu!" teriak suara seorang wanita dewasa yang tak begitu asing di telinga. Lantas aku menoleh ke sumber suara.
Mataku terbelalak saat melihat siapa yang datang. Seorang wanita dengan rambut hitam disanggul, bibir merah ranum, tatapan mata tajam berwajah oval, berdiri dengan berkacak pinggang di sana. Wanita itu, dia yang tadi pagi datang ke rumah Reina.
"Mbak Mella?" Violet tampaknya terkejut, apalagi aku.
"Oh, jadi benar ... Reina sudah memanggilmu ke sini. Lantas kenapa dia harus berbohong tadi pagi? Sepertinya aku perlu menghukum anak itu setelah ini." Wanita bernama Mella itu mendekat. Langkahnya yang bak model fashion-show, memperlihatkan paha mulus yang berisi di balik rok pendek yang tersingkap setiap kali melangkah. Jubah hitam panjang yang ia pakai tampak selaras dengan rambut cepolnya, menutupi punggung.
Mella menarik wajahku dengan lembut, dan mendekatkan wajah kami. Bisa kurasakan napasnya yang hangat mengenai bibir.
Dadaku berdebar begitu cepat. Kedekatan ini, rasa ini, suasana ini! Perutku terasa dikocok, mual tiba-tiba menyerang. Tidak! Setelah beberapa hari mulai terbiasa saat berdekatan dengan perempuan, kenapa dengan Mella aku merasa berbeda?
Perut semakin mengencang, tinggal seberapa lama aku bisa menahan agar isinya tak keluar. Sementara wanita itu masih dengan posisinya yang ... yang ... mbuh lah gimana!
Tanpa aba-aba, ia menarik krah jubah, hingga wajahku lebih dekat dengannya. Kemudian mulut kami bersatu. Ia melumatnya dengan lembut. Mataku terbelalak. Ka-kami berciumannn?!

Di tengah tempat yang lapang dengan suluh dari bambu yang masih menyala mengelilingi tempat ini. Dari subuh aku sudah berada di sini bersama Violet. Gadis berambut pirang itu tampaknya masih ngantuk. Sesekali kudapati dia tampak menutupi mulutnya saat menguap.
Hah! Bocah.
Aku mengalihkan fokus. Menari dengan pedang kayu di tangan. Mengayun ke kanan, ke kiri, menghunus angin, menyabet udara. Kaki bergerak lincah meloncat dan berlari menciptakan serangan yang sempurna. Ah, mungkin itu hanya imajinasiku.
Beberapa teknik dasar sudah kukuasai, itu pun berkat kerja keras siang dan malam aku belajar ilmu bela diri yang entah mengambil aliran apa. Mungkin semacam cara bertarung bandit abad pertengahan.
Namun, meski begitu Violet bilang ilmuku masih cetek. Ya, iyalah ... belajar juga baru kemarin lusa.
Aku menghempaskan pedang kemudian meloncat ke belakang dan kembali memasang kuda-kuda. Akhir yang harus selalu sigap, perintah Violet yang masih kuingat. Meski dari segi fisik dia lebih cocok untuk disayang-sayang layaknya gadis cilik pada umumnya. Akan tetapi, gerakan cepat yang ia miliki bisa membunuhmu secara tiba-tiba.
"Gimana, Violet? Gerakanku sudah mulai bagus, 'kan?" Aku bergaya seolah memasukan pedang ke sarungnya di punggung—padahal secara kasat mata tidak ada apapun.
Aku menoleh ke arah Violet tadi berdiri menunggu. Dia tidak ada di samping pohon sana. Mataku menelusur ke sekitar, hingga berhenti saat melihat tubuh seorang gadis sedang tidur memeluk lutut di atas rumput. Meringkuk dan bersembunyi di balik jubah yang ia kenakan.
Jadi, dari tadi aku berpose keren seperti itu tidak ia perhatikan?
Hoi, pembaca. Aku boleh mukul loli satu ini kaga?
Aku berjalan dengan langkah gusar mendekati Violet. Ia tampak masih fokus dengan dunia mimpinya. Kutarik napas dalam, menundukan badan dan mengarahkan bibir ke depan kupingnya.
Langkah terakhir. Eksekusi dengan suara lantang. "VIOLETTT!!!"
"KYAAA!!!"
Pletak!
"Akh! Wajahku!!!"
***
"Violet, Tuan, Kalian kenapa?" Reina menatap kami dengan wajah penasaran.
Aku memilih bungkam dan mengalihkan pandangan dari Reina maupun Violet. Bahkan makanan di atas meja juga ikut kucampakan. Kurasakan dahi ini bengkak akibat pukulan Violet tadi. Tak kusangka refleknya juga sangat berbahaya.
"Kulihat, dari tadi kalian berdua hanya diam saja? Padahal baru pulang latihan bersama. Apa jangan-jangan—"
"Tuan Alex yang mulai! Dia berteriak di depan kupingku saat aku tidur, Mbak," adu Violet memotong ucapan Mbaknya. Saat kulirik, mata kami bertemu. Bibirnya dimonyongkan khas bocah kalau lagi ngambek.
"Kalau kamu nggak ketiduran pas aku lagi presentasi, ya kaga bakalan tuh kuping kuteriakin!" Aku tak mau kalah.
"Aku ngantuk, Tuan! Lagipula pagi-pagi buta Tuan sudah bangun dan mengajakku ke tempat latihan? Apa nggak berlebihan?" sungutnya tidak mau mengalah.
"Itu ... itu kan ... Ahhh! Anggap saja itu olahraga pagi! Kamu harus membiasakan diri!" Aku berdiri.
"TIDAK! Tuan Alex!" Violet meninggi.
"Sudah!!!" Akhirnya Reina ikutan berteriak. Aku dan Violet langsung bungkam dan menengok ke arah Reina.
Tok! Tok! Tok!
"Reina, di dalam ada keributan apa?" Sebuah suara dari luar langsung membuatku memakai jubah dan menutupi wajah. Reina berjalan menuju pintu dan terdengar decit pelan pintu terbuka.
Mereka berbincang sebentar. Seorang wanita dewasa tampak memperhatikanku yang tanpa sengaja aku juga tengah meliriknya. Tatapannya menunjukan kecurigaan kepadaku. Namun, aku harus tetap bersikap biasa agar rasa curiganya tak semakin besar.
Akan tetapi ....
"Reina, dia siapa? Tadi pagi kulihat dia berjalan ke luar dari hutan dengan Violet," ungkap wanita itu.
Aku menggenggam jubah dengan erat. Melirik Violet, dengan gerakan bola matanya jelas ia menyuruhku diam. Padahal dari tadi aku diam terus, ya?
"Dia adalah kenalan saya saat kami masih belajar di akademi penyihir dulu. Ia memang memutuskan untuk tinggal di sini sementara, di rumahnya sedang ada masalah, Kak," jawab Reina yang jelas sekali berbohong.
Aku melirik ke arah mereka berdua. Lagi-lagi mataku bertemu dengan wanita itu. Namun, sepertinya dia percaya dengan ucapan Reina.
"Ouh, begitu. Kupikir tadi ada keributan apa hingga aku mendengar seperti ada suara dengan nada berat khas seorang laki-laki."
Aku tercekat. Meski sukses berkamuflase dengan menyembunyikan hawa kelaki-lakianku, tapi suara tetap tak bisa diubah. Lain kali aku harus lebih berhati-hati saat berucap.
"Baiklah, aku akan pergi dulu, tapi jika kamu bertemu dengan laki-laki, jangan sampai kamu bersenang-senang sendirian. Aku sudah lama tidak merasakan belaian tangan kekar seorang pria ...."
Aku hanya bisa menelan ludah mendengar perkataannya yang terasa sangat mengintimidasi. Terutama saat wanita itu melirik ke arahku dan mengedipkan sebelah matanya. Tidak! Apa mungkin dia sudah tahu kalau aku adalah laki-laki. Dari sikapnya, ia seperti sudah mengetahuinya.
Gawat!!!
"Tuan, ada apa?" Pertanyaan Reina menyadarkanku.
Eh, iya ... ada apa? Aku menghela napas, setidaknya untuk membuang rasa khawatir yang sejak tadi menyerang. Kulihat pintu kayu depan sudah menutup. Tak ada suara wanita yang dipanggil 'Kak' oleh Reina itu masih di sana.
"Tadi siapa?" Aku bertanya. Menarik mangkuk dari kayu, dan menyendok makanan dari gandum yang mirip bubur itu. Masih panas ternyata.
Reina duduk di seberang meja. "Kak Mella ... Beliau adalah sahabat mendiang Ibu. Kak Mella tinggal tak jauh dari rumah kita—"
"Rumah kita?" Aku mendongak. Reina tampak gelagapan.
"Mak-maksud saya, rumah saya, Tuan." Dia meralat ucapannya. Padahal aku hanya bertanya. Sejak kapan rumahnya menjadi rumahku juga?
"Humm, terus?" Aku kembali menyendok sarapan.
Kudengar helaan napas Reina yang kasar. "Tidak ada, beliau sudah saya anggap sebagai keluarga."
Aku mengangkat wajah, dan menatap netra Reina sesaat, kemudian ganti mata Violet. Ekpresi yang sama-sama dalam. Sedekat itukah hubungan mereka?
"Oh, iya ... Kamu bilang, rumah Mella ada di dekat sini, tapi kenapa baru sekarang aku melihatnya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Humm ... Seingat saya, sehari sebelum Anda datang ke dunia ini, Kak Mella pergi ke kota. Kemungkinan beberapa hari ke belakang beliau menginap di sana."
Aku hanya mengangguk. Tak terasa sarapan di atas mangkuk sudah kandas. Stamina juga sepertinya sudah pulih. Waktunya berlatih lagi.
"Ayo, Violet!"
"Ha? Ke mana lagi, Tuan?" Violet tampak mengerutkan dahinya.
"Tentu saja ke tempat latihan! Tak ada waktu untuk berleha-leha ...." Karena aku merasa ada yang sedang mengincarku sekarang. Entah itu siapa dan di mana. Skenario terburuk adalah aku akan diculik tanpa perlawanan lantas dijadikan sandera. Nggak keren sama sekali!
Aku menarik lengan gadis berumur 13 tahunan itu. Ia tampak masih malas. Namun, aku tak peduli. Kuseret dia meski menjerit minta dilepaskan. Bodohnya, kenapa dia tidak menyerang!
Mbuh, lah!
***
Kuayunkan pedang membelah angin. Menebas udara dan memutar tubuh meliukan pedang. Tiga hari belakangan, aku memang berlatih keras siang dan malam. Mempelajari gerakan ini, sekadar untuk menyempurnakan jurus pertama, kata Violet. Sementara masih banyak jurus-jurus lain yang menunggu untuk kupelajari. Entah mengapa, aku merasa seperti sedang berlatih silat.
"Saya pikir Anda cepat belajar dan memahami apa yang saya ajarkan."
Aku berhenti dan berpose layaknya memasukan pedang ke sarung di punggung. Tatapan gadis yang bersandar di pohon dengan tangan menyilang di depan dada itu nyalang. Lantas mengerutkan dahinya.
"Apa-apaan dengan ekspresimu itu?" gerutuku.
"Gerakan Anda aneh." Ia mendekat.
"Aneh?"
"Memasukan pedang ke sarung yang ada di punggung, bukanlah hal mudah. Jika salah sedikit saja, bisa-bisa mata pedang malah akan menghunus bahu Anda," jelasnya.
Jadi alasannya itu. Namun, kelihatannya keren kalau memasukan pedang dengan gaya seperti itu. Seperti pada film-film.
"Bagaimana kalau sekarang saya bertarung dengan Anda?" Violet tiba-tiba mengeluarkan pedang kayunya, lantas mengacungkan ke depan wajahku.
Tanpa basa-basi, ya. Aku suka gayanya. Baiklah!
Aku mundur beberapa langkah. Kemudian ikut mengacungkan pedang kayu. "Ayo, mulai!"
"Tunggu!" teriak suara seorang wanita dewasa yang tak begitu asing di telinga. Lantas aku menoleh ke sumber suara.
Mataku terbelalak saat melihat siapa yang datang. Seorang wanita dengan rambut hitam disanggul, bibir merah ranum, tatapan mata tajam berwajah oval, berdiri dengan berkacak pinggang di sana. Wanita itu, dia yang tadi pagi datang ke rumah Reina.
"Mbak Mella?" Violet tampaknya terkejut, apalagi aku.
"Oh, jadi benar ... Reina sudah memanggilmu ke sini. Lantas kenapa dia harus berbohong tadi pagi? Sepertinya aku perlu menghukum anak itu setelah ini." Wanita bernama Mella itu mendekat. Langkahnya yang bak model fashion-show, memperlihatkan paha mulus yang berisi di balik rok pendek yang tersingkap setiap kali melangkah. Jubah hitam panjang yang ia pakai tampak selaras dengan rambut cepolnya, menutupi punggung.
Mella menarik wajahku dengan lembut, dan mendekatkan wajah kami. Bisa kurasakan napasnya yang hangat mengenai bibir.
Dadaku berdebar begitu cepat. Kedekatan ini, rasa ini, suasana ini! Perutku terasa dikocok, mual tiba-tiba menyerang. Tidak! Setelah beberapa hari mulai terbiasa saat berdekatan dengan perempuan, kenapa dengan Mella aku merasa berbeda?
Perut semakin mengencang, tinggal seberapa lama aku bisa menahan agar isinya tak keluar. Sementara wanita itu masih dengan posisinya yang ... yang ... mbuh lah gimana!
Tanpa aba-aba, ia menarik krah jubah, hingga wajahku lebih dekat dengannya. Kemudian mulut kami bersatu. Ia melumatnya dengan lembut. Mataku terbelalak. Ka-kami berciumannn?!

Diubah oleh suwokotumdex 31-03-2020 21:52
andrian0509 dan 4 lainnya memberi reputasi
5