- Beranda
- Stories from the Heart
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
...
TS
agityunita
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
Kumpulan Cerpen Sebelumnya
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Memburu Waktu
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Selesai
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Diubah oleh agityunita 15-03-2020 08:05
nona212 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
2.4K
19
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agityunita
#16
Senandung di Bawah Pohon Kers
Aku ingin seperti pohon. Berada di tempat yang sama. Meskipun kau telah jauh pergi. Namun saat kau kembali, aku masih berada di sini. Kau masih akan melihatku setia menanti.
***
Sepuluh tahun yang lalu, cinta pertama itu menyinggahi hatiku. Di sini di bawah pohon rindang tempat kita sering menghabiskan waktu sore bersama. Untuk pertama kalinya, aku merasa tak biasa. Padahal senyummu selalu kunikmati.
Sepertinya aku bosan jika hanya menjadi sekedar sahabatmu. Namun kau tak pernah bisa membaca itu semua. Karena kini kau tak lagi sering mengunjungi pohon ini. Kau hanya datang ketika hatimu sedang mendung.
Dan aku, akan tetap berada di sini. Seperti pohon kersen ini. Meneduhkan hatimu, mengadulah apa saja padaku. Seperti biasanya aku akan menjadi pendengar yang baik.
Jika kau meminta saran dariku, aku akan memberikan dengan senang hati. Karena seperti kasih dan sayangku padamu. Tanpa kau pinta, semua itu akan selalu untukmu.
***
“Danial, turunlah, kau bukan anak kecil lagi!” suruh Kamila yang geram melihat Danial asyik memanjat dan memetik buah kersen.
“Sebentar Mil, lihat pada merah nich buah kersennya, kamu mau?”
“Tidak, aku gak doyan!”
“Uh, dulu kamu paling suka?”
“Itu kan dulu, waktu aku masih kecil, sekarang aku sudah tujuh belas tahun, Dan!”
Kamila pun pergi dengan wajah kesal. Meninggalkan Danial yang belum turun dari pohon. Dari atas pohon, Danial melihat punggung Kamila yang semakin menjauh dan hilang.
Kau telah berubah, gumam Danial.
***
Sejak hari itu, Danial lebih sering menghabiskan sore seorang diri. Di bawah pohon kersen. Sepertinya Kamila sudah benar-benar tak mau lagi menghabiskan waktu di tempat ini. Tempat yang dulu menjadi favorit mereka berdua.
Suatu malam, Danial berencana untuk ke rumah Kamila. Hanya sekedar menyapa dan menanyakan kabar. Meskipun sebenarnya, hatinya dipenuhi oleh rindu.
Tetapi belum sampai ia di depan pintu rumah kamila, langkahnya harus terhenti. Di teras rumah kamila, terlihat kamila sedang asyik mengobrol dengan teman laki-lakinya. Entah siapa, Danial tidak mengenalnya.
Danial pun mengurungkan niatnya untuk mendatangi rumah Kamila. Mungkin saja laki-laki itu adalah pacar Kamila. Jadi, karena itulah dia tidak mau berlama-lama menghabiskan waktu dengan Danial.
***
Beberapa minggu kemudian…
Seperti biasa, Danial bertengger diatas pohon kersen untuk menghabiskan sorenya. Sambil membaca buku yang baru saja dia pinjam di perpustakaan kota.
Dari kejauhan, terlihat Kamila yang berjalan cepat menuju pohon kers. Wajahnya terlihat begitu sendu. Matanya sembab, sudah berapa lama ia menangis?
Pemandangan itu secara otomatis membuat Danial ingin tahu, dan langsung meluncur turun dari pohon.
“Hey, kamu kenapa?” tanya danial saat Kamila sudah berada di hadapannya.
“Aku sedang sedih, aku kesal!” jawab Kamila dengan ketus.
“Siapa yang sudah membuatmu merasakan semua hal itu?”
“Aku marah pada Raja, dia sudah mempermainkan perasaanku!”
“Raja? Siapa dia?”
Pertanyaan Danial itu membuat isak Kamila berhenti. Dia baru sadar, jika dia belum menceritakan apapun pada Danial. Tapi sekarang dia malah datang dengan mengeluh. Pantas saja Danial merasa bingung.
“Jadi, siapa Raja itu?”
“Dia itu, suka padaku Dan, dia memintaku menjadi pacarnya beberapa minggu yang lalu, tetapi aku belum menjawab apa pun, aku pikir, aku harus mengenalnya terlebih dahulu, dan ternyata dia hanya mempermainkan perasaanku saja!”
“Sebentar, tadi kamu bilang kamu belum menerimanya, harusnya kamu senang dong tahu jeleknya dia duluan sebelum kalian jadian?”
Kamila diam. Ya, apa yang dikatakan danial itu memang benar. Dia hanya terbawa perasaan saja. Jadi uring-uringan sendiri. Kamila pun tersenyum. Menyandarkan kepalanya di pundak Danial.
“Kamu bener Dan, aku cuma kebawa emosi aja, maaf ya, aku ke sini cuma marah-marah aja!”
“Kamu boleh ke sini kapanpun, sedih, marah, apalagi bahagia, aku bakal nemenin kamu terus!”
“Terima kasih ya Dan, kamu memang sahabat aku yang paling baik!”
Bolehkah aku meminta lebih, Mil, gumam Danial di dalam hati.
Tak mungkin ia mengucapkan nya. Menjadi tempat yang membuat Kamila merasa nyaman saja, ia sudah merasa senang.
***
Beberapa tahun kemudian…
Karena kesibukan masing-masing, ritual menghabiskan waktu sore di bawah pohon kers pun semakin berkurang. Mungkin hanya danial yang masih sering berdiam diri di sana jika lelah dengan segala tugas kampusnya yang terus menumpuk.
Bicara dengan Kamila pun sudah jarang. Mereka hanya saling menyapa melalui pesan singkat. Jika sudah terlalu rindu, Danial yang akan memaksakan diri untuk menelepon Kamila. Mendengar suaranya saja, ia sudah merasa senang. Rindunya terobati.
Beberapa hari lagi, adalah ulang tahun Kamila. Danial sudah mempersiapkan pesta kejutan di bawah pohon kersen yang sudah ia rancang begitu cantik. Dia yakin Kamila pasti menyukainya.
Dan hari ulang tahun kamila pun tiba, pagi sekali danial mengirim pesan pada kamila. Memberitahukan untuk datang ke pohon kersen, nanti malam.
Danial kembali memeriksa segala persiapan yang sudah ia lakukan jauh-jauh hari itu. Sebenarnya ini bukan kali pertamanya Danial memberi kejutan pada Kamila. Tetapi dengan rasa yang baru, Danial merasa begitu salah tingkah. Dia benar-benar sedang jatuh cinta pada sahabat nya sendiri.
Malam pun tiba…
Danial sudah menunggu Kamila. Di pesan tadi pagi, Kamila mengiyakan, akan datang. Jadi Danial pikir, dia tidak perlu menanyakan lagi. Dia percaya, Kamila pasti datang. Dia tidak mungkin mengecewakan sahabatnya itu.
Namun waktu terus bergulir. Pukul delapan malam sudah terlewat dua jam yang lalu. Tapi Danial masih berpikiran positif, mungkin Kamila masih sibuk merayakan hari lahirnya itu dengan keluarganya. Danial masih menahan diri untuk tidak menanyakan apa pun pada Kamila.
Hingga tengah malam, Kamila tak kunjung datang. Danial pun memutuskan untuk pulang saja. Dengan hati kecewa, ia meninggalkan tempat itu. Dia tak ingin bertanya pada Kamila, dia takut terbawa emosi dan marah pada Kamila. Besok saja.
***
Dengan berlari, Kamila menuju tempat pohon kersen itu berada. Masih ada sisa-sisa lilin dan lampu warna-warni yang terpasang. Ada sekotak kue kesukaannya, yang sepertinya jadi tak enak untuk dimakan. Ada kotak besar lainnya yang membuat Kamila merasa semakin bersalah.
Danial telah mempersiapkan itu semua untuk dirinya. Tapi dia tak datang tanpa memberi kabar.
Maafkan aku, Danial, ucap Kamila lirih hampir menangis.
“Mil, sedang apa?” suara Danial mengejutkan Kamila.
“Dan, Danial, maafin aku!”
“Untuk apa?” jawab Danial ringan. Sambil membereskan semua yang telah ia persiapkan untuk Kamila. Dengan sikap biasanya Danial itu, membuat Kamila semakin merasa bersalah.
Sebelum menuju ke pohon kersen ini, Danial sebenarnya mendatangi rumah Kamila terlebih dahulu. Namun kata ibunya, Kamila sudah kemari. Danial pun memberanikan diri bertanya pada ibunya Kamila, perihal ketidakdatangan Kamila semalam.
Sang ibu menceritakan jika Kamila memang pulang sampai larut, setelah dijemput oleh teman lelakinya sekitar pukul tujuh malam. Dan Kamila lupa untuk memberitahukan hal itu pada Danial.
“Hey, mau kemana?” tanya kamila yang melihat danial akan pergi meninggalkan nya.
“Pulanglah, aku ke sini hanya membereskan ini semua!”
“Bukankah, kotak besar itu hadiah untukku? Kenapa kau bawa lagi, aku kan sudah minta maaf, kenapa kau masih marah?!”
“Dari tadi aku tidak bicara apa-apa Mil, kenapa kamu bilang aku marah, dan soal kotak besar itu, jika kau masih mau, ambillah, itu memang hadiah untukmu, aku pulang dulu, aku harus pergi ke Malaysia nanti sore, beasiswaku di sana diterima, aku pamit!”
Kamila malah menangis. Membuat Danial menghentikan langkahnya.
“Hey, kenapa nangis?”
“Kamu jahat, kamu mau ninggalin aku kan?”
“Ninggalin kamu gimana? Aku itu mau sekolah Mil, kamu baik-baik di sini!”
Kamila memeluk erat tubuh Danial yang lebih tinggi darinya. Danial berusaha bersikap sebiasa mungkin. Dia tidak mau merobohkan pertahanan yang sudah dia bangun semalaman. Dan untuk seterusnya.
***
Bahwa kisah tentang rasa cinta yang tumbuh lebat bersama dengan semakin kokohnya pohon kers adalah hanya milik Danial sendiri. Bahkan kepergiannya pun bukan hal yang paling menyedihkan yang dihadapi Kamila. Hatinya sendirilah yang merasa terluka.
Satu waktu, jika ada keberanian lebih dalam dirinya, dia akan menyatakan perasaannya pada Kamila. Dan mungkin dia harus mempersiapkan diri patah hati untuk kesekian kalinya.
Hadiah boneka dari Danial lah wakilnya kini. Dan Kamila tak akan pernah tahu seberapa besar rasa cinta yang dimiliki oleh Danial untuknya.
Selesai
0