- Beranda
- Stories from the Heart
[SFTH] Merajut Hati
...
TS
ningka
[SFTH] Merajut Hati
Kumpulan Cerpen Tentang Kisah Yang Menyentuh Hati
![[SFTH] Merajut Hati](https://s.kaskus.id/images/2020/03/11/10795446_202003110940560051.jpg)
Foto. di sini
Kita tidak pernah tahu, sebelum dekat dengan mereka. Karena yang terlihat, bisa saja berarti berbeda. Tentang perjuangan, kasih sayang, kejujuran ada di sini. Karena sejatinya, mereka hidup sesuai takdirnya.
Kisah Inspirasi 1
Luka Lama
Aku duduk di teras rumah Mbah Darmi mengamati piring di depanku yang berisi mie goreng dengan warna coklat kehitam-hitaman. Mungkin saja tercampur abu yang berterbangan saat memasak. Karena Mbah Darmi menggunakan ‘daduk’ atau daun tebu kering yang diambil dari kebun depan rumahnya. Perempuan berambut putih keluar rumah sambil membawa segelas teh, dan langsung ditaruh di meja.
“Ayo dimakan?” ucapnya dengan senyum tulus.
Sempat merutuki kebodohanku karena datang bertamu di waktu sarapan tiba. Jadi tidak enak karena membuat sang tuan rumah harus repot-repot menghidangkan makanan. Aku masih terdiam, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menolak ini semua, bukan tidak doyan, tapi lebih karena tidak tega makan melihat kondisi Mbah Darmi yang kekurangan. Bisa saja jatah sarapannya diberikan padaku. Janda tua itu hidup sendiri di rumah yang sudah terlihat reot. Bahkan sebagian kayu penyangga tampak miring.
“Saya sudah sarapan Mbah, minum teh saja, ya?” ucapku sambil mengambil segelas teh dan menyeruputnya perlahan.
“Tidak baik nolak rejeki, bawa pulang saja, ya?”
Aku terpaku melihat tubuh kurus itu masuk rumah dan keluar kembali dengan membawa daun pisang. Dengan cekatan diambilnya piring tadi dan membungkus isinya. Hanya mampu terdiam saat bungkusan itu sudah berpindah ke pangkuanku.
“Terima kasih, Mbah!” ucapku lirih.
“Ada apa pagi-pagi ke sini?” tanyanya sambil menumpuk piring dan gelas yang telah kosong.
“Amira semalam susah tidur, mungkin kecapekan. Mbah ke rumah mijat anakku,ya?”
“Kamu kan tahu, Nduk, kalau aku sudah berhenti mijat.” Mata tua itu melihat ke depan, menatap hamparan kebun tebu yang meniupkan semilir angin pagi ini. Berkali-kali dia menarik napas panjang. Mungkin saja banyak yang dipikirkannya.
“Sebentar saja, anakku maunya sama Mbah.” Putriku ini memang agak susah kalau pijat, padahal anaknya aktif bahkan seringkali jatuh. Hanya dengan Mbah Darmi dia mau. Mungkin karena diajak becanda kadangkala diceritakan dongeng sehingga tidak terasa kalau dipijat.
“Sudah tidak boleh anakku,” jawabnya lagi.
Aku tahu keengganannya. Bisa saja apa yang diucapkannya tadi hanya salah satu alasan, pasti ada penyebab lainnya. Sebulan yang lalu, saat Mbah Darmi mijat tetanggaku, ada perhiasannya yang hilang. Dan Mbah Darmi dituduh melakukan.
Aku masih ingat saat terdengar kegaduhan. Kulihat keluar, ada beberapa warga yang berkerumun. Di tengah-tengah mereka, wanita tua itu duduk di tanah sambil menangis, bersumpah atas nama Allah kalau tidak melakukan. Namun, tidak ada yang percaya. Karena hanya Mbah Darmi yang ada di situ.
Mungkin sebab itu yang membuatnya berhenti jadi tukang pijat. Mungkin sakit hati atau malu. Aku sebenarnya juga belum yakin kalau wanita berambut putih itu mencuri. Karena sering keluar masuk rumahku untuk mijat anak-anak tidak pernah ada kejadian buruk. Hanya berusaha berpikir positif saja.
“Demi Allah saat itu aku tidak mencuri, Nduk.” Mbah Darmi menerawang, aku jadi tambah tidak enak karena kejadian dulu mulai dibicarakan lagi. Takut melukai hatinya kembali.
“Saya percaya, Mbah!” kataku sambil merangkul pundaknya.
“Sebenarnya, aku tahu pelakunya. Namun aku kasihan nanti rumah tangganya bisa hancur.”
Aku kaget mendengar penjelasannya, serta merta langsung menoleh dan melihat Mbah Darmi dengan rasa tidak percaya. Tidak mungkin orang yang bukan siapa-siapa menolong orang lain bahkan rela dirinya difitnah orang yang ditolong.
“Siapa, Mbah?” tanyaku penasaran.
“Saat mijat orangnya tertidur , tapi tetap aku teruskan sampai selesai. Saat itu aku lihat ada yang masuk kamarnya, tapi aku hanya diam di ruang tengah nunggu orangnya bangun. Ternyata .... “
“Suaminya?” tanyaku masih dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Bukan. Sudah, jangan diingat! Gusti Allah itu adil, saat berhenti mijat anakku diterima kerja di kota. Alhamdulillah, rejeki sedikit yang penting berkah,” ucapnya terlihat dengan mata berkaca-kaca, “manusia itu yang penting berbuat baik dulu, selanjutnya urusan Gusti Allah.”
Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Begitu pendek caraku berfikir. Terima kasih untuk hari ini Mbah Darmi.
Oleh. Ningka
Kisah menyentuh hati
1.kisah 1
2. kisah 2
3. kisah. 3
4.kisah. 4
![[SFTH] Merajut Hati](https://s.kaskus.id/images/2020/03/11/10795446_202003110940560051.jpg)
Foto. di sini
Kita tidak pernah tahu, sebelum dekat dengan mereka. Karena yang terlihat, bisa saja berarti berbeda. Tentang perjuangan, kasih sayang, kejujuran ada di sini. Karena sejatinya, mereka hidup sesuai takdirnya.
Kisah Inspirasi 1
Luka Lama
Aku duduk di teras rumah Mbah Darmi mengamati piring di depanku yang berisi mie goreng dengan warna coklat kehitam-hitaman. Mungkin saja tercampur abu yang berterbangan saat memasak. Karena Mbah Darmi menggunakan ‘daduk’ atau daun tebu kering yang diambil dari kebun depan rumahnya. Perempuan berambut putih keluar rumah sambil membawa segelas teh, dan langsung ditaruh di meja.
“Ayo dimakan?” ucapnya dengan senyum tulus.
Sempat merutuki kebodohanku karena datang bertamu di waktu sarapan tiba. Jadi tidak enak karena membuat sang tuan rumah harus repot-repot menghidangkan makanan. Aku masih terdiam, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menolak ini semua, bukan tidak doyan, tapi lebih karena tidak tega makan melihat kondisi Mbah Darmi yang kekurangan. Bisa saja jatah sarapannya diberikan padaku. Janda tua itu hidup sendiri di rumah yang sudah terlihat reot. Bahkan sebagian kayu penyangga tampak miring.
“Saya sudah sarapan Mbah, minum teh saja, ya?” ucapku sambil mengambil segelas teh dan menyeruputnya perlahan.
“Tidak baik nolak rejeki, bawa pulang saja, ya?”
Aku terpaku melihat tubuh kurus itu masuk rumah dan keluar kembali dengan membawa daun pisang. Dengan cekatan diambilnya piring tadi dan membungkus isinya. Hanya mampu terdiam saat bungkusan itu sudah berpindah ke pangkuanku.
“Terima kasih, Mbah!” ucapku lirih.
“Ada apa pagi-pagi ke sini?” tanyanya sambil menumpuk piring dan gelas yang telah kosong.
“Amira semalam susah tidur, mungkin kecapekan. Mbah ke rumah mijat anakku,ya?”
“Kamu kan tahu, Nduk, kalau aku sudah berhenti mijat.” Mata tua itu melihat ke depan, menatap hamparan kebun tebu yang meniupkan semilir angin pagi ini. Berkali-kali dia menarik napas panjang. Mungkin saja banyak yang dipikirkannya.
“Sebentar saja, anakku maunya sama Mbah.” Putriku ini memang agak susah kalau pijat, padahal anaknya aktif bahkan seringkali jatuh. Hanya dengan Mbah Darmi dia mau. Mungkin karena diajak becanda kadangkala diceritakan dongeng sehingga tidak terasa kalau dipijat.
“Sudah tidak boleh anakku,” jawabnya lagi.
Aku tahu keengganannya. Bisa saja apa yang diucapkannya tadi hanya salah satu alasan, pasti ada penyebab lainnya. Sebulan yang lalu, saat Mbah Darmi mijat tetanggaku, ada perhiasannya yang hilang. Dan Mbah Darmi dituduh melakukan.
Aku masih ingat saat terdengar kegaduhan. Kulihat keluar, ada beberapa warga yang berkerumun. Di tengah-tengah mereka, wanita tua itu duduk di tanah sambil menangis, bersumpah atas nama Allah kalau tidak melakukan. Namun, tidak ada yang percaya. Karena hanya Mbah Darmi yang ada di situ.
Mungkin sebab itu yang membuatnya berhenti jadi tukang pijat. Mungkin sakit hati atau malu. Aku sebenarnya juga belum yakin kalau wanita berambut putih itu mencuri. Karena sering keluar masuk rumahku untuk mijat anak-anak tidak pernah ada kejadian buruk. Hanya berusaha berpikir positif saja.
“Demi Allah saat itu aku tidak mencuri, Nduk.” Mbah Darmi menerawang, aku jadi tambah tidak enak karena kejadian dulu mulai dibicarakan lagi. Takut melukai hatinya kembali.
“Saya percaya, Mbah!” kataku sambil merangkul pundaknya.
“Sebenarnya, aku tahu pelakunya. Namun aku kasihan nanti rumah tangganya bisa hancur.”
Aku kaget mendengar penjelasannya, serta merta langsung menoleh dan melihat Mbah Darmi dengan rasa tidak percaya. Tidak mungkin orang yang bukan siapa-siapa menolong orang lain bahkan rela dirinya difitnah orang yang ditolong.
“Siapa, Mbah?” tanyaku penasaran.
“Saat mijat orangnya tertidur , tapi tetap aku teruskan sampai selesai. Saat itu aku lihat ada yang masuk kamarnya, tapi aku hanya diam di ruang tengah nunggu orangnya bangun. Ternyata .... “
“Suaminya?” tanyaku masih dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Bukan. Sudah, jangan diingat! Gusti Allah itu adil, saat berhenti mijat anakku diterima kerja di kota. Alhamdulillah, rejeki sedikit yang penting berkah,” ucapnya terlihat dengan mata berkaca-kaca, “manusia itu yang penting berbuat baik dulu, selanjutnya urusan Gusti Allah.”
Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Begitu pendek caraku berfikir. Terima kasih untuk hari ini Mbah Darmi.
Oleh. Ningka
Kisah menyentuh hati
1.kisah 1
2. kisah 2
3. kisah. 3
4.kisah. 4
Diubah oleh ningka 18-03-2020 00:09
nona212 dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.8K
140
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ningka
#3
Prasangka
Lelaki kurus itu hanya menunduk saat aku memarahinya. Wajah melasnya tidak mampu meluluhkan hati, aku benar-benar kesal.
...
Berkali-kali aku mengirim pesan, namun gagal. Kepalaku seketika pening, karena pelanggan sudah banyak yang menanyakan stok barang.
Aku memang merintis usaha jual beli online perlengkapan rumah tangga. Alhamdulillah respon masyarakat bagus, hingga usahaku makin besar dan punya banyak reseller. Tentu saja semua tidak langsung seperti sekarang. Dahulu semua berawal dari satu, dua barang. Bertambah hari, usaha ini merangkak naik. Sehigga pulsa untuk promo dan lainnya, menjadi salah satu kebutuhan utamaku.
Aku langsung mendatangi suami yang sibuk dengan motor tuanya.
“ Kuota habis, belikan ya?” ucapku sambil memberikan senyum semanis mungkin.
Biasanya masalah pulsa, suami selalu yang mengurus. Biasanya beli pada teman kerjanya. Katanya beli dimanapun sama saja, mendingan keuntungan yang sedikit itu bisa bermanfaat oleh orang terdekat.
“Beres,” ucap suamiku sambil mengacungkan jempolnya. Tak lama kulihat dia mengeluarkan ponselnya. Lalu jari-jari itu mulai menari di atas layar, kemungkinan pesan pulsa.
@@@
Hari sudah sore, kulihat pulsa yang dipesan suamiku belum juga masuk. Seketika rasa kesal di hati memuncak.
“Mas, bagaimana ini? Pulsanya sampe sekarang belum dikirim,” ucapku sambil menatap suami yang sedang menikmati kopi.
“Sabar, bentar lagi juga dikirim.”
“Sudah sejak siang tadi, lho! Gimana ini?”
“Kan udah pake punyaku tadi?” ucap suamiku. Memang sejak siang tadi aku minta wifi dari ponsel suami.
“Aku mau ngantar barang. Pulsanya cancel aja,” ucapku sambil menyiapkan beberapa barang.
Akhirnya, aku pergi di antar suami sekalian mampir minimarket untuk beli pulsa. Daripada capek nunggu. Padahal pesan suamiku sudah di baca temannya, saat ditelpon juga tidak diangkat.
Setelah beli pulsa aku segera keluar dari minimarket, berkali-kali ponselku berbunyi. Mungkin para reseller yang menghubungi.
“Dek, pulsanya dah masuk?” tanya suamiku begitu mendekatinya.
“Sudah.”
“Yang dari temenku?”
Aku langsung melihat pesan yang masuk. Dua notifikasi dari pengiriman pulsa, pasti salah satu dari teman suamiku. Ternyata belum di cancel. Kesal langsung terasa.
Sepanjang jalan aku menggerutu. Suami bahkan jadi korban omelanku. Pulsa sebanyak itu buat apa? Yang biasanya aku beli saja selalu tidak habis sampai masa aktifnya berakhir.
Begitu masuk komplek, aku melihat teman suami di depan rumahnya membawa tas besar di punggung.
Aku langsung meminta berhenti. Segera kuhampiri lelaki itu. Kukeluarkan semua rasa kesal dalam dada. Lelaki kurus itu hanya menunduk saat aku memarahinya. Wajah melasnya tidak mampu meluluhkan hati, aku benar-benar kesal. Suamiku tergopoh-gopoh turun dan segera datang sambil minta maaf dan mengajak pulang.
Begitu sampi rumah, aku turun dari motor dengan kesal. Melangkah ke dapur mengambil air dingin dan menghabiskannya seketika. Suamiku terlihat mengekori di belakang.
“Kasihan terus, kita malah dirugikan?” ucapku masih dengan nada kesal.
“Udahlah marahnya! Uang masih bisa dicari.”
Terdengar bunyi ponsel suamiku, mungkin ada pesan masuk. Terlihat dia membaca sambil alisnya tertaut. Aku ikut kuatir melihatnya. Dengan tak sabar kudekatinya.
“Ada apa?” tanyaku penasaran.
“Temanku minta maaf, dia tadi mau kirim pulsa, namun terjeda saat anaknya mutah dan buang air besar terus. Dia panik dan langsung membawa putranya ke rumah sakit. Karena sibuk urus segaka macam, seharian tidak buka ponsel. Sore tadi saat kita ketemu, dia sedang mengambil baju ganti, karena anaknya harus opname,” jelas suamiku.
Aku tersentak mendengar kenyataan yang terjadi. Ada sesal dalam hati, tidak seharusnya menumpahkan amarah tanpa bertanya dulu.
“Aku menyesal marah-marah tadi,” ucapku sambil menunduk. Aku benar-benar malu.
“Sudah, tidak apa-apa, nanti kita tengok anaknya. Dan satu lagi, jangan diulangi!”
...
Berkali-kali aku mengirim pesan, namun gagal. Kepalaku seketika pening, karena pelanggan sudah banyak yang menanyakan stok barang.
Aku memang merintis usaha jual beli online perlengkapan rumah tangga. Alhamdulillah respon masyarakat bagus, hingga usahaku makin besar dan punya banyak reseller. Tentu saja semua tidak langsung seperti sekarang. Dahulu semua berawal dari satu, dua barang. Bertambah hari, usaha ini merangkak naik. Sehigga pulsa untuk promo dan lainnya, menjadi salah satu kebutuhan utamaku.
Aku langsung mendatangi suami yang sibuk dengan motor tuanya.
“ Kuota habis, belikan ya?” ucapku sambil memberikan senyum semanis mungkin.
Biasanya masalah pulsa, suami selalu yang mengurus. Biasanya beli pada teman kerjanya. Katanya beli dimanapun sama saja, mendingan keuntungan yang sedikit itu bisa bermanfaat oleh orang terdekat.
“Beres,” ucap suamiku sambil mengacungkan jempolnya. Tak lama kulihat dia mengeluarkan ponselnya. Lalu jari-jari itu mulai menari di atas layar, kemungkinan pesan pulsa.
@@@
Hari sudah sore, kulihat pulsa yang dipesan suamiku belum juga masuk. Seketika rasa kesal di hati memuncak.
“Mas, bagaimana ini? Pulsanya sampe sekarang belum dikirim,” ucapku sambil menatap suami yang sedang menikmati kopi.
“Sabar, bentar lagi juga dikirim.”
“Sudah sejak siang tadi, lho! Gimana ini?”
“Kan udah pake punyaku tadi?” ucap suamiku. Memang sejak siang tadi aku minta wifi dari ponsel suami.
“Aku mau ngantar barang. Pulsanya cancel aja,” ucapku sambil menyiapkan beberapa barang.
Akhirnya, aku pergi di antar suami sekalian mampir minimarket untuk beli pulsa. Daripada capek nunggu. Padahal pesan suamiku sudah di baca temannya, saat ditelpon juga tidak diangkat.
Setelah beli pulsa aku segera keluar dari minimarket, berkali-kali ponselku berbunyi. Mungkin para reseller yang menghubungi.
“Dek, pulsanya dah masuk?” tanya suamiku begitu mendekatinya.
“Sudah.”
“Yang dari temenku?”
Aku langsung melihat pesan yang masuk. Dua notifikasi dari pengiriman pulsa, pasti salah satu dari teman suamiku. Ternyata belum di cancel. Kesal langsung terasa.
Sepanjang jalan aku menggerutu. Suami bahkan jadi korban omelanku. Pulsa sebanyak itu buat apa? Yang biasanya aku beli saja selalu tidak habis sampai masa aktifnya berakhir.
Begitu masuk komplek, aku melihat teman suami di depan rumahnya membawa tas besar di punggung.
Aku langsung meminta berhenti. Segera kuhampiri lelaki itu. Kukeluarkan semua rasa kesal dalam dada. Lelaki kurus itu hanya menunduk saat aku memarahinya. Wajah melasnya tidak mampu meluluhkan hati, aku benar-benar kesal. Suamiku tergopoh-gopoh turun dan segera datang sambil minta maaf dan mengajak pulang.
Begitu sampi rumah, aku turun dari motor dengan kesal. Melangkah ke dapur mengambil air dingin dan menghabiskannya seketika. Suamiku terlihat mengekori di belakang.
“Kasihan terus, kita malah dirugikan?” ucapku masih dengan nada kesal.
“Udahlah marahnya! Uang masih bisa dicari.”
Terdengar bunyi ponsel suamiku, mungkin ada pesan masuk. Terlihat dia membaca sambil alisnya tertaut. Aku ikut kuatir melihatnya. Dengan tak sabar kudekatinya.
“Ada apa?” tanyaku penasaran.
“Temanku minta maaf, dia tadi mau kirim pulsa, namun terjeda saat anaknya mutah dan buang air besar terus. Dia panik dan langsung membawa putranya ke rumah sakit. Karena sibuk urus segaka macam, seharian tidak buka ponsel. Sore tadi saat kita ketemu, dia sedang mengambil baju ganti, karena anaknya harus opname,” jelas suamiku.
Aku tersentak mendengar kenyataan yang terjadi. Ada sesal dalam hati, tidak seharusnya menumpahkan amarah tanpa bertanya dulu.
“Aku menyesal marah-marah tadi,” ucapku sambil menunduk. Aku benar-benar malu.
“Sudah, tidak apa-apa, nanti kita tengok anaknya. Dan satu lagi, jangan diulangi!”
Diubah oleh ningka 18-03-2020 00:20
qoni77 dan 4 lainnya memberi reputasi
5