- Beranda
- Stories from the Heart
Asmara 60 Menit (Kumpulan Cerpen) (BB+)
...
TS
wadonsubur
Asmara 60 Menit (Kumpulan Cerpen) (BB+)

Apa yang akan terjadi ketika dua insan berbeda jenis kelamin melakukan interaksi intens selama 60 menit?
Apakah akan terjadi asmara?
Ataukah malah akan saling membenci?
Ataukah malah akan saling membenci?
Tapi, bukankah batas antara benci dan cinta itu sangatlah tipis?
Berikut adalah kumpulan cerpen dewasa dari ane.
Ps: Just love or hate it.
Quote:
BOMBI
Hai, namaku Bombi. Aku sebuah Suzuki Escudo hitam berusia 15 tahun. Majikanku seorang pria matang berusia 40 tahun yang bekerja sebagai seorang akuntan di sebuah perusahaan swasta. Seingatku, aku dimiliki keluarga majikanku sejak anak tunggal mereka baru lahir. Ah, ingatanku saat itu masih belum begitu jelas, baru 5 tahun belakangan ini aku dapat mengingat jelas tiap kejadian dan percakapan yang terjadi.
Aku sangat sayang pada majikanku karena dia selalu merawat dan mengandalkanku untuk membawanya kemana saja. Aku dinamakan Bombi karena aku seperti bom-bom car, suka menyenggol kendaraan lain. Wajar, kalian pasti paham bagaimana cara membelah kemacetan di ibukota. Bagiku, bekas-bekas luka di sekujur tubuhku ini menandakan kegagahanku, sama seperti bekas luka pada pendekar atau ksatria dalam kisah superhero.
Namun, hampir 3 tahun ini istri dan anak majikanku tidak pernah menaikiku. Aku hanya bertemu anak lelaki majikanku sesekali, itu pun hanya dua hingga tiga kali dalam sebulan. Lima tahun lalu, pertama kalinya aku mendengar istri dan majikanku saling memaki. Bisa jadi lengkingan suara mereka yang mempertajam semua ingatanku akhir-akhir ini. Dua tahun berturut-turut mereka tak henti-hentinya melontarkan sumpah serapah yang aku sendiri tidak tahu apa sebabnya, terkadang diakhiri tangisan istri majikanku, terkadang juga diselesaikan dengan umpatan yang amat sangat kasar dan pintuku dibanting keras sekali. Sakit rasanya.
Sejak itu pula perangai majikanku berubah, dia lebih sering menghisap rokok, pulang larut malam, mudah naik pitam. Efeknya adalah aku lebih sering mencium kendaraan lain dan bekas lukaku jelas bertambah. Luka itu sama seperti milik majikanku saat mengantarkan istri dan anaknya ke sebuah rumah di pinggiran kota Jakarta dan mereka tidak pernah kembali lagi ke rumah majikanku.
Sejak itu, suasana menjadi lebih sepi hanya kebiasaan merokok majikanku yang tidak hilang. Sesekali aku diajak ke pinggir pantai saat tengah malam tiba, kadang juga aku diajak ke parkiran tempat hiburan malam, parkiran hotel dan garasi. Di garasi itu tidak pernah lama, paling cepat hanya dua jam kalaupun lama yaaah, sekitar tiga jam dan selalu membawa wanita, tapi nampaknya itu bukan rumah. Karena ada lelaki berseragam yang menghampiri majikanku ketika masuk garasi dan meminta uangnya.
Beberapa jenis wanita mengisi kursi depan di sebelah majikanku. Mulai dari yang memakai rok pendek, mini dress, hot pants, wedges shoes, stiletto. Tapi mereka semua tidak pernah menaikiku lebih dari tiga kali, sampai akhirnya ada yang melewati rekor itu.
Dia berbeda. Wanita ini tidak pernah menggunakan pakaian yang kurang bahan. Pakaiannya tertutup dan rambutnya terbungkus kain. Aku bisa merasakan aroma wangi parfum Elie Saab yang memenuhi kabinku. Wanita ini juga sering menggunakan sun visor-ku, sekedar untuk mengurangi silaunya sinar matahari sore atau berkaca pada cermin hanya untuk membetulkan lipstiknya. Lipstik kesukaannya adalah MAC Matte dan Maybelline Superstay Matte Ink. Kedua lipstik ini tidak meninggalkan bekas di bibir atau pipi majikanku.
Perangai majikanku menjadi lebih lembut, aku jarang mencium ataupun menyenggol kendaraan lain, bahkan kuperhatikan senyumnya lebih lebar. Mereka senang sekali bercerita sambil berpegangan tangan, sesekali wanita itu menyenderkan kepalanya di pundak majikanku.
Hari ini, majikanku sedang bersama wanita itu. Dia menjemput wanita itu dari tempat kerjanya untuk pulang ke rumah. Hujan besar mengguyur Jakarta, disertai kilatan-kilatan petir yang menyambar-nyambar. Kulihat mereka lebih banyak terdiam, hanya genggaman tangan mereka yang makin kuat. Mereka mulai berdebat, tapi tidak saling memaki. Wanita itu kemudian menangis dan menutup mukanya dengan kedua tangannya.
Majikanku menepikan mobilnya di pinggir jalan, dekat sebuah komplek perumahan. Hampir tidak ada kendaraan lain yang melintas. Yang terdengar hanya air hujan yang menubruk tubuhku dan suara isak tangis wanita itu. Majikanku berusaha menenangkan wanita itu dengan merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Wanita itu kemudian memagutkan bibirnya ke bibir majikanku. Mereka berhenti berciuman setelah satu menit.
“I love you, Mas,” kata wanita itu
“I love you more. Aku nggak akan pernah buat kamu menangis seperti ini,” kata majikanku.
Mereka melanjutkan berciuman, isak tangis perempuan itu terhenti, berganti desah nafas mereka berdua yang semakin berat, sabuk pengaman dilepaskan dan satu persatu pakaian mereka pun tanggal. Majikanku memundurkan bangkunya untuk memberi tempat lebih pada wanita itu.
Sekarang wanita itu berada di atas majikanku. Tubuh mereka bersatu, mereka bermandikan peluh dalam kondisi dingin seperti ini.
Kata-kata seperti “I love you” keluar dari kedua mulut mereka disertai desahan erotis dan lenguhan-lenguhan yang baru kali ini kudengar di dalam kabinku. Majikanku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Aku membantu majikanku dengan mengimbangi gerakan naik turun mereka, agar orang lain tidak mencurigai aktivitas mereka dari luar. Kuusahakan seminimal mungkin aku terlihat berguncang.
Aktivitas mereka diakhiri lengkingan tinggi dari keduanya, lalu tisu pun diambil agar cairan mereka tidak membasahi jok kulitku yang agak mengelupas. Semerbak aroma asin dan amis memenuhiku. Mereka pun berpakaian kembali, setelahnya pun mereka masih saling berciuman dan berpegangan tangan lebih erat.
Majikanku memacuku pelan dan berhati-hati, entah karena hujan atau ingin berlama-lama dengan wanita itu. Mereka tidak berbicara satu sama lain selama 60 menit hingga sampai ke depan rumah wanita itu. Majikanku melepaskan genggaman tangannya, membuka kunci pintuku. Kedua tangan majikanku ditempelkan pada wanita itu, mata mereka beradu dan dicumbunya lagi bibir wanita itu.
“Aku nggak cuma sayang, tapi aku cinta kamu. Hari ini aku kembalikan kamu ke suamimu, jangan pernah dia menyakiti hatimu dan tubuhmu lagi. Aku akan menunggumu,” kata majikanku.
Bulir air mata menetes lagi dari pipi wanita itu, diiringi sebuah anggukan.
Sambil nunggu update cerpen baru, silakan simak
Kumpulan cerpen sebelumnya:
ASMARA 45 MENIT
INDEX:
cerpen 1: BOMBI
cerpen 2 :1 Hari, 3 Makna
Cerpen 3 : SATE KAMBING
Diubah oleh wadonsubur 25-08-2021 14:23
bebyzha dan 14 lainnya memberi reputasi
15
53.5K
Kutip
37
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wadonsubur
#20
Quote:
Layaknya dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang , bandara adalah tempat dimana ada perpisahan dan pertemuan. Muara berkumpulnya perasaan bahagia saat bertemu orang terkasih sekaligus pemandangan mengharu biru ketika melepas orang yang tersayang. Tempat dimana rindu tersemai.

Quote:
Rania Wibisana
“Penumpang yang terhormat, sebentar lagi pesawat akan segera mendarat di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Tidak ada perbedaan waktu antara Yogyakarta dan Jakarta. Untuk anda yang transit dan akan melanjutkan penerbangan selanjutnya, silakan melapor di counter terdekat. Terima kasih telah memilih terbang bersama kami,” kata pramugari melalui pengeras suara yang ada di cabin crew.
Kalimat itu yang sudah kutunggu-tunggu dari tadi, bolak balik aku melirik jam tangan kulit Guess milikku selama berada dalam pesawat, sekarang sudah pukul 1 siang. Penerbangan selama satu jam lima belas menit ini terasa lama bagiku, namun penantian ini akan terbayarkan dengan indah. Aku akan bertemu dengan Randy Satrio Koeswara, pria yang paling mengerti akan diriku. Terbayangkan pelukan hangatnya dengan aroma parfum Bvlgari Aqua kesukaanku, sudah empat hari aku bertugas Yogyakarta dan tidak bertemu dengannya.
Begitu pesawat mendarat dan parkir, aku bergegas mengambil koper kecilku di bagasi kabin. Langkahku kupercepat begitu memasuki garbarata, kunyalakan ponselku dan segera mengirim pesan singkat pada Randy.
Kupercepat lagi langkahku , aku ingin segera bertemu pria berambut ikal, dengan tinggi 178 cm, bermata coklat tua dan senyumnya yang selalu membuatku meleleh. Randy telah membiuskku, cintanya memabukanku, bersamanya menjadi candu untukku.
Langkahku semakin kupercepat hingga setengah berlari saat melihat siluet Randy di pintu kedatangan T3 bandara Soekarno Hatta. Aku menabrak tubuhnya, meraih pinggangnya untuk bisa memeluk sepuasnya. Randy tak kalah antusias, kepalaku didekatkan ke dada bidangnya, mengacak-acak rambutku dan menciumi pelipisku.
“Aku kangen kamu pake banget, Rania,” ujarnya pelan.
“Aku juga…” bisikku di telinganya sambil menjinjit dan kemudian mendaratkan bibirku di pipinya. Lipstik merah marunku meninggalkan bekasnya.
Randy menggenggam erat tanganku hingga ke parkiran, pembicaraan ringan mengalir dari kedua mulut kami, senyum tersungging menghiasi wajah kami. Begitu masuk di mobil, Randy melumat bibirku dalam-dalam. Ciuman penuh hasrat ini selalu kurindukan, tidak ingin aku melepasnya cepat-cepat.
“Rania Wibisana, kita makan yuk. Laper nih, pengen makan bareng kamu biar lebih lahap,” kata Randy setelah melepaskan bibirnya.
“Hayuk, aku juga udah laper. Kita ke tempat biasa aja yah. Bentar aku kabarin orang rumah dulu,” kataku.
“Okay, take your time sayang,” ujar Randy sambil mengusap-usap rambut panjangku.
“Penumpang yang terhormat, sebentar lagi pesawat akan segera mendarat di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Tidak ada perbedaan waktu antara Yogyakarta dan Jakarta. Untuk anda yang transit dan akan melanjutkan penerbangan selanjutnya, silakan melapor di counter terdekat. Terima kasih telah memilih terbang bersama kami,” kata pramugari melalui pengeras suara yang ada di cabin crew.
Kalimat itu yang sudah kutunggu-tunggu dari tadi, bolak balik aku melirik jam tangan kulit Guess milikku selama berada dalam pesawat, sekarang sudah pukul 1 siang. Penerbangan selama satu jam lima belas menit ini terasa lama bagiku, namun penantian ini akan terbayarkan dengan indah. Aku akan bertemu dengan Randy Satrio Koeswara, pria yang paling mengerti akan diriku. Terbayangkan pelukan hangatnya dengan aroma parfum Bvlgari Aqua kesukaanku, sudah empat hari aku bertugas Yogyakarta dan tidak bertemu dengannya.
Begitu pesawat mendarat dan parkir, aku bergegas mengambil koper kecilku di bagasi kabin. Langkahku kupercepat begitu memasuki garbarata, kunyalakan ponselku dan segera mengirim pesan singkat pada Randy.
Quote:
Sayang, pesawatnya baru aja mendarat. See ya very soon, I miss you so much
Sent to Randy. Friday 9 Feb, 01:01 PM
Sent to Randy. Friday 9 Feb, 01:01 PM
Kupercepat lagi langkahku , aku ingin segera bertemu pria berambut ikal, dengan tinggi 178 cm, bermata coklat tua dan senyumnya yang selalu membuatku meleleh. Randy telah membiuskku, cintanya memabukanku, bersamanya menjadi candu untukku.
Langkahku semakin kupercepat hingga setengah berlari saat melihat siluet Randy di pintu kedatangan T3 bandara Soekarno Hatta. Aku menabrak tubuhnya, meraih pinggangnya untuk bisa memeluk sepuasnya. Randy tak kalah antusias, kepalaku didekatkan ke dada bidangnya, mengacak-acak rambutku dan menciumi pelipisku.
“Aku kangen kamu pake banget, Rania,” ujarnya pelan.
“Aku juga…” bisikku di telinganya sambil menjinjit dan kemudian mendaratkan bibirku di pipinya. Lipstik merah marunku meninggalkan bekasnya.
Randy menggenggam erat tanganku hingga ke parkiran, pembicaraan ringan mengalir dari kedua mulut kami, senyum tersungging menghiasi wajah kami. Begitu masuk di mobil, Randy melumat bibirku dalam-dalam. Ciuman penuh hasrat ini selalu kurindukan, tidak ingin aku melepasnya cepat-cepat.
“Rania Wibisana, kita makan yuk. Laper nih, pengen makan bareng kamu biar lebih lahap,” kata Randy setelah melepaskan bibirnya.
“Hayuk, aku juga udah laper. Kita ke tempat biasa aja yah. Bentar aku kabarin orang rumah dulu,” kataku.
“Okay, take your time sayang,” ujar Randy sambil mengusap-usap rambut panjangku.
Quote:
Sayang, flightku nanti jam empat sore. Makan malem nggak usah nunggu aku yah. Nanti kukabarin lagi, pengen cepet sampai rumah. Miss you
:
Sent to Husband. Friday 9 Feb, 01:16 PM
: Sent to Husband. Friday 9 Feb, 01:16 PM
Quote:
Randy Satrio Koeswara
Segelas hot Americano yang sudah dingin dan banana cake menemaniku di sudut kedai kopi yang berada di ruang tunggu T3 bandara Soekarno-Hatta. Aku menyandarkan tubuhku di kursi kayu yang kududuki sambil memainkan ponselku. Sudah sekitar satu setengah jam aku berada disini, menunggu perempuan bernama Rania Wibisana yang selalu membuatku rindu. Wajah cantiknya, wangi rambutnya yang panjang tergerai, serta sifat manjanya yang muncul saat bersamaku. Sebentar lagi rinduku terhapuskan setelah empat hari tidak bertatap muka dengannya.
Aku bergegas meninggalkan kedai kopi dan berjalan menuju gerbang kedatangan. Aku menunggu Rania, aku tak sabar ingin segera memeluk tubuhnya, merasakan lagi kecupan bibirnya dengan lidah yang menari di dalam rongga mulutku. Aku meraih ponselku, kukirimkan pesan singkat.
Quote:
Sayang, aku sudah bandara yah. Aku ngopi dulu sambil nunggu kamu, safe flight yah. See you soon, miss you so bad.
Sent to Rania W. Friday 9 Feb, 11:30 AM
Sent to Rania W. Friday 9 Feb, 11:30 AM
Segelas hot Americano yang sudah dingin dan banana cake menemaniku di sudut kedai kopi yang berada di ruang tunggu T3 bandara Soekarno-Hatta. Aku menyandarkan tubuhku di kursi kayu yang kududuki sambil memainkan ponselku. Sudah sekitar satu setengah jam aku berada disini, menunggu perempuan bernama Rania Wibisana yang selalu membuatku rindu. Wajah cantiknya, wangi rambutnya yang panjang tergerai, serta sifat manjanya yang muncul saat bersamaku. Sebentar lagi rinduku terhapuskan setelah empat hari tidak bertatap muka dengannya.
Quote:
Sayang, pesawatnya baru aja mendarat. See ya very soon, I miss you so much
Sender Rania W. Friday 9 Feb, 01:01 PM
Sender Rania W. Friday 9 Feb, 01:01 PM
Aku bergegas meninggalkan kedai kopi dan berjalan menuju gerbang kedatangan. Aku menunggu Rania, aku tak sabar ingin segera memeluk tubuhnya, merasakan lagi kecupan bibirnya dengan lidah yang menari di dalam rongga mulutku. Aku meraih ponselku, kukirimkan pesan singkat.
Quote:
Hi dear, sudah sampai di rumah mamah kamu? Jangan lupa makan siang yah. Miss you already.
Sent to Lalita. Friday 9 Feb, 01:04 PM
Sent to Lalita. Friday 9 Feb, 01:04 PM
Quote:
Lalita Ayu
Pagi ini menjadi langkah besar bagiku. Aku akan pergi ke Surabaya, ke rumah mamah untuk menenangkan diriku. Pertengkaran dengan suamiku semakin tidak berujung. Aku membawa sebuah koper besar dan tas jinjing, Randy yang membantu membawanya hingga di counter check-in. Randy adalah pria yang pernah kutinggalkan demi suamiku yang ternyata ringan tangan. Pria baik inilah yang masih mau menemaniku dan menerima keluh kesahku walau aku pernah menyakitinya.
Randy lah yang mengobati luka-luka fisik dan batinku. Sebulan lalu tak sengaja aku bertemu lagi di rumah sahabatku yang juga adiknya, Jeanny Arianne Koewara dengan keadaan muka babak belur hasil perbuatan suamiku sendiri. Amarahnya yang pernah berapi-api padaku luluh seketika melihat kondisiku. Dia pula yang menghapus lukaku dan menemaniku hingga saat ini.
Aku menggenggam erat tangannya selama di bandara. Aku enggan melepasnya lagi. Tapi saat berpisah pun tiba juga ketika nomor penerbanganku dipanggil untuk boarding. Aku memandang wajah teduh pria yang masih menghujani dengan perhatian dan kasih sayang. Aku memeluk tubuhnya erat-erat.
“Kamu baik-baik yah disana. Semoga masalahmu cepat selesai dan pikiranmu tenang lagi. Aku disini nunggu kamu,” bisik Randy di telingaku sambil mengelus rambut pendekku.
Pelukanku makin erat, aku tidak bisa berkata-kata, hanya bisa memandang wajah Randy dengan mata berkaca-kaca. Kemudian Randy menyentuh daguku, memagut bibirku dengan lembut.
Setelah mengusap air mata, aku berjalan menuju pintu pemeriksaan kedua. Aku menoleh ke belakang dan Randy melambaikan tangannya.
Kumatikan ponselku, menyimpannya dalam tas kulit Fossil warna coklat milikku dan kukencangkan sabuk pengamanku. Dari jendela pesawat kulihat perlahan-lahan kota Jakarta nampak mengecil dan hanya ada awan putih menghampar di langit biru.
Pagi ini menjadi langkah besar bagiku. Aku akan pergi ke Surabaya, ke rumah mamah untuk menenangkan diriku. Pertengkaran dengan suamiku semakin tidak berujung. Aku membawa sebuah koper besar dan tas jinjing, Randy yang membantu membawanya hingga di counter check-in. Randy adalah pria yang pernah kutinggalkan demi suamiku yang ternyata ringan tangan. Pria baik inilah yang masih mau menemaniku dan menerima keluh kesahku walau aku pernah menyakitinya.
Randy lah yang mengobati luka-luka fisik dan batinku. Sebulan lalu tak sengaja aku bertemu lagi di rumah sahabatku yang juga adiknya, Jeanny Arianne Koewara dengan keadaan muka babak belur hasil perbuatan suamiku sendiri. Amarahnya yang pernah berapi-api padaku luluh seketika melihat kondisiku. Dia pula yang menghapus lukaku dan menemaniku hingga saat ini.
Aku menggenggam erat tangannya selama di bandara. Aku enggan melepasnya lagi. Tapi saat berpisah pun tiba juga ketika nomor penerbanganku dipanggil untuk boarding. Aku memandang wajah teduh pria yang masih menghujani dengan perhatian dan kasih sayang. Aku memeluk tubuhnya erat-erat.
“Kamu baik-baik yah disana. Semoga masalahmu cepat selesai dan pikiranmu tenang lagi. Aku disini nunggu kamu,” bisik Randy di telingaku sambil mengelus rambut pendekku.
Pelukanku makin erat, aku tidak bisa berkata-kata, hanya bisa memandang wajah Randy dengan mata berkaca-kaca. Kemudian Randy menyentuh daguku, memagut bibirku dengan lembut.
Setelah mengusap air mata, aku berjalan menuju pintu pemeriksaan kedua. Aku menoleh ke belakang dan Randy melambaikan tangannya.
Quote:
Aku sudah di dalam pesawat yah dear. Nanti aku kabari lagi. Doakan semua baik-baik saja. I will miss you.
Sent to Randy S. Friday 9 Feb, 10:10 AM
Sent to Randy S. Friday 9 Feb, 10:10 AM
Kumatikan ponselku, menyimpannya dalam tas kulit Fossil warna coklat milikku dan kukencangkan sabuk pengamanku. Dari jendela pesawat kulihat perlahan-lahan kota Jakarta nampak mengecil dan hanya ada awan putih menghampar di langit biru.
Diubah oleh wadonsubur 11-03-2020 16:12
oceu dan kholil1107 memberi reputasi
2
Kutip
Balas