- Beranda
- Stories from the Heart
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
...
TS
agityunita
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
Kumpulan Cerpen Sebelumnya
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Memburu Waktu
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Selesai
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Diubah oleh agityunita 15-03-2020 08:05
nona212 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
2.5K
19
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agityunita
#15
Bercerita Pada Bidadari
Gelap.
Aku takut
Aku ada dimana?
Cahaya terang menyilaukan pandangannya. Ia menyipitkan matanya karena cahaya yang terlalu menyilaukan.
Pemandangannya begitu indah. Bunga-bunga sedang bermekaran. Warna-warninya begitu memanjakan mata. Lelaki ini belum pernah menemukan tempat seindah ini.
Lalu dia duduk di bawah sebuah pohon rindang. Sambil pandangannya terus melihat ke sekeliling. Dalam hati dan pikirannya masih penuh dengan pertanyaan yang sama. Dia ada dimana?
***
Angin sepoi-sepoi yang dirasa telah membuatnya mengantuk. Namun tidurnya terganggu karena sentuhan seseorang yang membelai rambutnya.
“Siapa kamu?” tanya lelaki itu seraya berdiri dan melangkah menjauh.
“Kamu Radhika?”
“Darimana kamu tahu namaku? Aku tidak mengenalmu!”
“Kamu tidak perlu tahu siapa aku, tetapi yang pasti, aku akan menemanimu di sini!”
“Memangnya ini dimana?”
“Menurutmu?”
“Aku tidak tahu, maka aku bertanya, kamu malah balik tanya!”
Gadis itu tertawa pelan. Radhika melangkahkan kakinya satu per satu untuk pergi dari hadapan perempuan itu.
“Hey, mau kemana? Kamu hanya akan tersesat jika memaksakan diri!”
Radhika pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia kembali duduk. Dia tidak mendekati perempuan itu. Dia merasa tidak mengenalnya.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya perempuan itu pada Radhika.
Radhika hanya menggelengkan kepala.
“Apa kau tidak ingat sama sekali, sebelum kemari kau pergi kemana?”
Radhika mencoba mengingatnya. Namun tak menemukan jawaban apa pun.
***
“Apa kau mempunyai kekasih?”
Perempuan itu berhasil membuat Radhika menoleh padanya.
“Punya, namanya Inara, kami sudah menjalin hubungan selama hampir lima tahun!”
“Apa kau sangat mencintainya?” tanya perempuan itu lagi.
“Pertanyaan aneh macam apa itu, ya jelaslah aku sangat mencintainya!”
“Aku pikir tidak?” sanggah perempuan itu.
“Kenapa?”
“Buktinya sekarang kau berada di sini bersamaku?” dengan senyum manisnya, perempuan itu menggoda Radhika.
“Kalau begitu, pergilah, atau biar aku yang pergi!”
“Sayangnya tempat ini milikku, kau tidak akan pernah dapat pergi kemana pun!”
Radhika mengerutkan dahi. Mencoba mencerna atas pengakuan perempuan itu. Bagaimana mungkin tempat seindah ini hanya dimiliki oleh seorang saja.
“Tidak perlu heran begitu, baiklah, mari ikut denganku, kita bisa mengobrol lebih nyaman di sana!”
Dalam hati Radhika menolak, namun kakinya tidak. Dia mengikuti kemana perempuan itu pergi. Hingga sampailah mereka pada sungai yang berair begitu jernih. Udara yang bertambah segar, dan pemandangan yang begitu indah.
Perempuan itu mengajak Radhika duduk di kursi yang berada di tepian sungai.
“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu sekali lagi!”
“Apa?” jawab Radhika pura-pura kesal.
“Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu berada di dunia ini, apa yang akan kau lakukan bersama kekasihmu itu?”
Tiba-tiba, kepala Radhika terasa begitu berat. Seakan ada sesuatu yang menimpanya. Sekelebat ingatan datang. Ia melihat dirinya sendiri, yang sedang bersiap-siap menuju ke suatu tempat. Dengan menggunakan jas hitam rapi. Namun perjalanan itu harus terhenti.
Radhika berteriak, sambil memegangi kepalanya yang sakit.
“Aku sedang berada dimana? Kau siapa?”
“Jawablah pertanyaanku dahulu, setelah ini kau akan tahu, kau berada dimana dan siapa aku?!”
“Aku akan menikahi Inara, karena aku memang akan melakukannya, tapi kenapa aku malah terdampar di sini, seharusnya aku berada di samping Inara!”
“Berarti kau tidak boleh lama-lama di sini!”
“Apa aku boleh pergi dari sini?”
“Pergilah, kembalilah pada tempatmu, karena memang belum waktunya kau berada di sini!”
Cahaya yang menyilaukan itu pun kembali datang. Sungguh menyilaukan. Untuk kemudian kembali gelap.
***
Tubuh yang kaku dan dingin itu akhirnya bergerak. Seakan ruhnya kembali dari pengembaraan yang panjang. Perlahan mata Radhika terbuka. Nafasnya terasa begitu lega. Dadanya terasa begitu ringan. Ada mukjizat yang Allah berikan.
“Alhamdulillah, Pasien Radhika sudah sadar!”
Kabar baik yang dibawa oleh dokter pun tentu saja menjadi kegembiraan tak terhingga bagi keluarga Radhika, termasuk Inara, calon istri Radhika.
Satu per satu keluarga diperkenankan menemui Radhika.
Yang terakhir giliran Inara. Perlahan dia melangkah. Pakaian kebayanya masih membalut tubuhnya dengan cantik. Namun isak belum benar-benar berhenti.
“Sayang!” panggil Radhika dengan lirih.
“Sayang, alhamdulillah kamu udah sadar, aku takut… !”
“Jangan takut, ada aku!”
“Aku takut, kamu kenapa-kenapa, aku tunggu kamu, tapi kamu tidak kunjung datang!” tangis Inara kembali pecah.
“Aku baik-baik saja sayang, aku malah merasa sudah sehat, tadi aku seperti bertemu seseorang, dia mengingatkanku untuk segera kembali!”
Inara pun memeluk Radhika dengan erat. Kini tangisnya adalah tangis kebahagiaan. Tak henti ia mengucapkan rasa syukur atas kebaikan Allah pada Radhika dan dirinya.
***
Radhika berkata pada dirinya sendiri, mungkin saat dia koma tadi, dia telah mendatangi pintu surga. Mungkin kah perempuan itu bidadari? Namun siapa pun dia, Radhika merasa bersyukur, Allah masih mengizinkan dirinya untuk kembali ke dunia.
Radhika pun sembuh dengan cepat. Dan pernikahan yang tertunda itu pun akhirnya segera dilanjutkan. Inara sangat terlihat bahagia. Hampir saja ia kehilangan orang yang sangat ia cintai. Namun Allah masih berkehendak, kebahagiaan tetap milik mereka berdua.
Obrolan singkat itu, tidak akan pernah Radhika lupakan. Itu juga sebagai pengingat dirinya bahwa, ternyata ia mudah sekali tergoda. Seharusnya ia berteguh hati menggenggam erat yang telah ia pilih. Bersama Inara, Radhika merasa yakin, kehidupannya akan semakin baik lagi.
Selesai
0