TS
biadabcuk
You

BODOH
Nilai yang berupa tulisan dapat membuat mereka menilai kemampuan otak seseorang.
PRESTASI
Sebuah trofi dapat membuat mereka tersenyum, bangga dari hasil yang mereka capai
CINTA
Itulah yang gue butuhkan, gue akan lakukan apapun itu untuk mendapatkan cinta, gue nggak butuh nilai, gue nggak butuh trofi, karena bagi gue cintalah segalanya.
Salah..
Iya gue salah, motivasi gue untuk mendapatkan cinta ternyata salah, gue terlalu melukai mereka dengan cinta gue, hingga akhirnya sesosok malaikat bagi gue, membuat gue sadar.
Cinta adalah kasih dan sayang
Kasih adalah keindahan dan sayang adalah ketulusan
Hingga akhirnya gue paham, kasih membuat gue hilang arah, dan sayang membuat gue tau arah.
INDEX
PART 1 SALAH
PART 2 SEPI
PART 3 TEMAN
PART 4INDAHNYA HIDUP
PART 5 SALSA
PART 6 RUMIT
PART 7 KELUARGA KECIL
PART 8 WANITA
FLASHBACK
PART 9CIUMAN
PART10 LIBURAN
PART 11 JOMBLO KAMPRET
PART 12 ROHIS
PART 13 ELUSAN SAKTI
PART 14 MEREKA
PART 15 KATROK
PART 16
PART 17 AYE AYE
16+
PART 18 DUA WANITA
PART 19 WANITA
PART 20 RUTINITAS
PART 21 PERNYATAAN
PART 22 MINGGAT
PART 23 WANITA LAGI
PART 24 LIA PONAKAN SEREM
PART 25 HIDUP KEMBALI
PART 26 GUNUNG UNGARAN BAGIAN 1
PART 27 GUNUNG UNGARAN BAGIAN 2
PART 28 GUNUNG UNGARAN BAGIAN 3
PART 29 PESONA GUNUNG UNGARAN
PART 30 PULANG DAN TRAGEDI
POV Ratna
PART 31 MULAI BERBICARA
PART 32 TANGIS NADIA
PART 33 BIRU MUDA
PART 34 BERSAMAMU
PART 35 BERSAMAMU
KEHIDUPAN BARU
LEMBARAN BARU
PART 36 ES TEH MANIS
PART 37 MATA
PART 38 TANGIS RATNA
PART 38 APALAH AKU
PART 39 HARI
PART 40 HELM
PART 41 MALAM YANG INDAH
PART 42 ROTI DAN SENYUMMU
PART 43 MUDIK
PART 44 PAGI
PART 45 MEREKA
PART 46 CURHAT INDRI
PART 47 LIA
PART 48 BRIAN
PART 49 KENTANG
PART 50 PERANG
PART 50 VOKALIS
PART 51 JAZ
PART 52 ULANG TAHUN
PART 53 Bingung
PART 54 SECERCAH KEPASTIAN
Diubah oleh biadabcuk 06-06-2023 20:06
nwansaa dan 73 lainnya memberi reputasi
72
124.1K
797
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
biadabcuk
#497
Pagi
Berjalan limaratus meter bukan halangan bagi seorang Andi untuk tetap bersekolah, semangatnya menggapai harim Harim lebih besar ketimbang rasa lelah yang ia rasakan.
Tiga bulan berlalu sebuah kendaraan roda dua terpampang di depan rumah saat Andi pulang sekolah, Andi mengira itu motor ayahnya. namun nasib berkata lain saat sang bunda tersenyum tulus menenteng kunci di depan rumah dan berkata.
"Ini kado khitan dari ayah dan bunda"
Seketika air mata bahagia mengalir di pipi Andi, andi pun memeluk bundanya.
"Ayah kamu ada job di Jakarta, do'ain ayah ya dek biar kita bisa setara sama sodara sodara bunda" bunda mengelus elus rambut sang buah hati
Dan dari situ andi sadar bahwa hasrat ayah andi pengen sukses supaya bisa setara sama sodara sodara bunda yang emang dari brojol udah tajir.
Dibalik istri yang cantik ada seseorang pria gagah pekerja keras, tangan kaki dan otak di dedikasikan untuk kebahagiaan keluarga nya. Kini tinggal Andi menikmati hasil kerja keras beliau, namun Andi tetaplah andi, seseorang yang tidak suka dengan kemewahan meskipun itu sudah tersedia di depan mata, Andi masih menjadi sosok yang suka dengan kata "traktir" huahaha dasar mlarat squad.
Gue njiiirrr...
Kembali di pagi hari saat sang biadab menggeber motor dua tak nya.
Saat asik menggeber empiz seseorang wanita berdiri tepat di belakang sang biadab, tangannya terangkat, telinga sang biadab pun merasakan jeweran kunfu hasle..
"Berisiiik"
"Adoooh sakkiiit" gue menggosok gosok telinga gue.
Tiba tiba konci empiz di ambil mbak Indri, mbak Indri lari ke dalam rumah, sesegera gue kejar.
Indri
"Eh eh, gue pegang gelas nih, tumpah lho"
"Sini'in" gue berusaha mengambil konci dari tangannya.
"Ambil aja kalo bisa"
Gue ngangkat tangan
"Kok nyerah" ucap Indri
"Takut kejadian kayak sinetron sinetron, ntar ujung2nya cium ciuman"
"Hahahahaha" kurang lebih 5 menitan Indri ngakak sampe batuk batuk..
Gue berjalan kekamar tanpa mempedulikan Indri yang masih ngakak, gue ambil sarung dan baju Koko.
"Mbak kemasjid dulu ya" mbak Indri masih ngakak.
Berjalan dan menggerakkan kedua tangan menuju masjid, sampai di masjid gue bertemu wanita yang selalu membatu gue saat kursi roda menjadi alat bantu jalan gue. Jihan, ya.. wanita yang terlalu indah untuk jadi pujaan hati anak SMA. Jihan melihat gue dan memberikan senyum.
Pulang dari masjid dengan sendal yang sama.
lagi lagi mata kita bertemu, berjalan keluar menuju gerbang masjid gue berhenti, Jihan juga berhenti melihat gue.
"Jihan" ucap gue pelan dan tersenyum
"Andi" Jihan membalas senyum gue
Duhhh kenapa mendadak mulut gue nggak bisa kayak dulu ya. Susah buat memulai obrolan.
"Jihan" panggil gue.
"Apa ndi, kok kayaknya ada yang mau diomongin" balas jihan halus
"Mmbb, mau tanya tukang bubur kacang ijo udah naik haji belom"
Mendadak Jihan menutup mulutnya, kedua pundaknya bergerak naik turun
•inilah yang di namakan ketawa sopan, menutup mulutnya dengan tangan dan sedikit mengeluarkan suara•
"Jihan gimana kabarnya" gue berkata sambil menggaruk garuk kepala yang nggak gatal.
"Alhamdulillah baik, kamu bukannya di Jakarta ya" tanya Jihan
"Iya gue pulang buat ketemu lu" blegedesss kenapa mulut gue tiba tiba nyimpang gini yak
"Maaf Jihan, maksutnya mau ngurus rumah" balas gue cepat sambil menahan malu
Lagi lagi Jihan menutup mulutnya.
"Gue anterin pulang yuk" ajak gue
Momen yang sering kita berdua lakukan saat di pagi hari setelah subuh. Jujur sebenarnya gue cinta sama jihan, kapan gue merasakan itu? Saat setengah badan gue merasakan sakit. Jihan adalah orang yang paling pengertian. Bahkan. Bahkan. Bahkan melebihi orang tua gue saat itu. Dia selalu bantu gue mendorong kursi roda, dia wanita pertama yang mengembalikan senyum gue saat bela hilang dari hati gue. Dia yang selalu membuat gue semangat bangun awal subuh.. dia seseorang pertama yang menyimpan cerita sang biadab saat sang biadab bingung mau cerita ke siapa! Dia yang selalu memberi cerita baru setiap harinya.
tapi gue merasa nggak pantes kalo ngutara'in rasa gue, karena gue sadar gue ba*ngan, gue kotor. Biarlah gue belajar dari dia cara menjadi lebih baik, biarlah sesekali hati gue merasa sangat nyaman saat bersama dia meskipun hanya sementara.
"Betah di sana ndi" tanya Jihan
Gue mengangguk,
"Kamu masuk ipa apa ips nah"
Lagi lagi Jihan menutup mulutnya, mungkin karena gue masih seperti yang dulu, saat gue mulai akrab dengan Jihan, gue bingung mau manggil dia apa"jih,han" sontak gue balik aja gue panggil dia "nah" saat itu juga Jihan sama ngakak sopan.
"Aku masuk ips kok" balas jihan
"Whatttt"
"Kenapa ndi" Jihan heran
"Kok nggak IPA, biasanya kan orang kalo pinter milihnya IPA" jawab gue
"Aku nggak suka ngitung ngitung, capek" balas jihan polos.
Wohoho, belum jadi emak emak dia, kalo udah jadi emak emak bakal demen dia ngitung, huahaha
"Aku juga nggak suka ngitung ngitung kok nah" bales gue
"Kenapa" tanya Jihan
"Karena aku nggak butuh banyak angka karena angka satu saja cukup buatku tau siapa wanita tercantik di dunia ini" awokwok ucap gue sambil melihat Jihan
Bugg. Jihan memukul pelan gue menggunakan sajadah sambil mulutnya di tutup lagi.
"Mampir dulu ndi" tawar Jihan
"Maaf Jihan, gue mau tidur, capek, barusan dari Jakarta" balas gue
"Yaudah met istirahat ya Andi" ucap Jihan lembut
"Iya makasih Jihan, assalamualaikum"
Gue pun berjalan pulang
Sesampainya di rumah gue melihat sosok manusia tidur di atas kursi panjang dengan tangan di lipat, gue pun menyelimuti Indri. Gue taruh sarung di kamar.
Treng teng teng.... Bohohoho. Segerrr
Kekanan atau ke kiri, nampaknya empiz minta belok ke kiri.
Ting tong...
Gue masuk ke rumah ber cat silver, dirumah nampak kedua orang tua bocah yang akan gue temui, setelah basa basi, sambil nyomot roti bakar gue masuk ke kamar si bocah.
Ahh imut banget ni bocah, pakai stelan tidur bermotif hello Kitty warna pink dengan selimut motif bunga.
Gue kapit hidungnya pelan, belom ada reaksi. Gue goyang goyangkan pundaknya..
"BANGUN WOOOYYY, DUHUR" huahaha seketika tuh bocah bangun.
Ciiiitttt
Addoohhhh
Gue
"Pipi gue sakit dodoool"
"Nggak kira kira ya lu teriak" ucap Anis menggosok gosok telinganya
"Hahahaha, anak gadis jam segini masih molor"
Anis
"Bodoamat, dari pada anak setan tiba tiba ngilang"
"Hahahaha ndasmu, bangun wooyy sekolah nggak lu"
Anis
"Males"
Ting Ting Ting, bunyi nyaring henfone Anis.
Dari pembicaraan yang gue denger Anis ngomong pake sayang sayangan. Huahaha
Gue
"Cieeee, cieee, jok Abang kosong lho neng"
Anis
"Bodoamat, enakan naik mobil wlee"
Gue
"Huahahaha, yaudah gue ngojek di tempat Laen dah, daaa aniis"
Anis
"Sono Sono, husss huss"
Treng teng teng.. 200 meter roda empiz ini berputar, sampailah gue di depan rumah bercat silver juga? Kok sama? Yaiyalah cuk, dimana mana komplek perumahan warna catnya sama, kecuali yang punya rumah senep sama warnanya terus dikasih no bocor bocor hahaha
Pas gue mau tekan tombol bel nya, gue tiba tiba berpikir, aah kalo gue anter entar ada gosip di sekolah. Kasian Jihan juga kalo dia di taksir cowok terus gara gara gue cowok yang naksir Jihan jadi cemburu, entar baku hantam. Aah udahlah batal..
"Hayyooo mau kemana" tiba tiba suara harim mengagetkan gue saat kepala gue mau menoleh
" Eee Jihan, dari beli bubur di Samin ya" tanya gue
"Iya" jawab Jihan
"Udah naik haji belom dia"
Jihan menutup mulutnya lagi, namun tangannya gemetar, waaaah bahaya, dia masih pegang mangkuk. Gue pun meraih mangkuknya..
"Ngapain sih dari tadi ketemu gue ketawa Mulu nah" tanya gue
"Kamu lucu tauuu"
Edododo elololo kadal goreng mangut kadal, pujian ini, muka aing pasti kek yuyu rebus. Huahaha
Gue garuk garuk kepala yang nggak gatal
"Yuk masuk, gue bawa'in"
Masuklah gue sama Jihan berdua di rumah, nampak kedua orang tua Jihan duduk di meja makan, gue pun langsung salim
"Kapan kamu pulang le" tanya ibunya Jihan
"Tadi pagi bude"
"Kenapa pulang, mau pindah lagi, atau mau ketemu Jihan" goda bapaknya Jihan
"Mau buat lokalisasi om" jawab gue asal nyablak
"Hahaha, cah gendeng(bocah nggak waras)" jawab pak de
Gue kaget saat Jihan cuman makan bubur.
"Nah, kok lu makan bubur doang" tanya gue
"Takut gemuk"
Huahahaha gue ngakak sampe batuk batuk, bude pun memberi gue minum, Jihan mukanya cemberut.
"Lu nggak usah diet juga cakep kok nah"
Jihan mukanya memerah, dibarengi buburnya habis Jihan berjalan ke kamar, kesempatan gue buat cabut. Karena gue takut kalo suruh nganterin.
Gue
"Bude, pak de, saya pamit dulu, mau beres beres rumah"
Bude
"Loooh, mumpung kamu disini anterin Jihan sekalian"
Waduuh, moddar kwe
Lima belas menit gue menunggu, Jihan udah cakep menggunakan baju hari sabtu, rok panjang, dan jilbab.
Duileee cakep mahmuuud cakep abiiis Harim satu nie..
"Cepeet di jaaak, Lanang po Ra kwe (cepeet diajak laki nggak kamu)" ucap bapaknya Jihan
Gue pun menawarkan Jihan
"Mbbb nah, gue anterin mau nggak" tanya gue
"Nggak usah ndi, aku bareng papah aja" ucap Jihan
Wohohoho, seorang biadab dua kali di tolak.
"Yaudah jihan gue cabut yak" ucap gue, dan gue pun Salim sama orang tuanya jihan
"Kamu nggak marah kan ndi" Jihan terlihat cemas
"Enggaaak, tadi cuman basa basi doang, lagian gue takut kalo rok lu masuk ke gear motor gue" jawab gue dengan senyuman tanpa adanya raut kecewa.
Gue melihat raut muka nggak enak karena menolak di wajah Jihan
"Nggak usah khawatir nah, tenang ajaa udaah nanti malem gue jajanin bakso di bang kumis" jawab gue yang membuat Jihan tersenyum
Haaaah treng teng teng teng... Menyusuri pagi di kota tercinta menggunakan motor kesayangan, menghentakkan gas menuju sekolah, hasrat akan bertemu kedua sahabat gue menggebu gebu.
Dan pass saat gue sampai di dekat sekolah, suara motor laknat terdengar, semakin dekat semakin dekaaat dan
PLAKKK
Gue tampol helm full face nya.
Kata kata mutiara pun terdengar.
"Woooo setaaan, ngapain lu balik" kamipun bersalaman ala sahabat, salaman ribet.
"Gue mau buka lestoran oseng oseng kadal"
"Huahahaha, ndasmu, yok masuk" jawab panjol
"Ogah, eh nomor lu mana" kami pun bertukar nomor telfon
"Dah Sono masuk, sekolah yang bener biar jadi orang bener, salam buat Arif" ucap gue..
Treng teng teng, gue betot lagi gas empiz er menuju rumah Tante bohay, pasti jam segini Tante intan habis nganterin salsa. Cocoklah tipis tipisss huahahaha
Tiga bulan berlalu sebuah kendaraan roda dua terpampang di depan rumah saat Andi pulang sekolah, Andi mengira itu motor ayahnya. namun nasib berkata lain saat sang bunda tersenyum tulus menenteng kunci di depan rumah dan berkata.
"Ini kado khitan dari ayah dan bunda"
Seketika air mata bahagia mengalir di pipi Andi, andi pun memeluk bundanya.
"Ayah kamu ada job di Jakarta, do'ain ayah ya dek biar kita bisa setara sama sodara sodara bunda" bunda mengelus elus rambut sang buah hati
Dan dari situ andi sadar bahwa hasrat ayah andi pengen sukses supaya bisa setara sama sodara sodara bunda yang emang dari brojol udah tajir.
Dibalik istri yang cantik ada seseorang pria gagah pekerja keras, tangan kaki dan otak di dedikasikan untuk kebahagiaan keluarga nya. Kini tinggal Andi menikmati hasil kerja keras beliau, namun Andi tetaplah andi, seseorang yang tidak suka dengan kemewahan meskipun itu sudah tersedia di depan mata, Andi masih menjadi sosok yang suka dengan kata "traktir" huahaha dasar mlarat squad.
Gue njiiirrr...
Kembali di pagi hari saat sang biadab menggeber motor dua tak nya.
Saat asik menggeber empiz seseorang wanita berdiri tepat di belakang sang biadab, tangannya terangkat, telinga sang biadab pun merasakan jeweran kunfu hasle..
"Berisiiik"
"Adoooh sakkiiit" gue menggosok gosok telinga gue.
Tiba tiba konci empiz di ambil mbak Indri, mbak Indri lari ke dalam rumah, sesegera gue kejar.
Indri
"Eh eh, gue pegang gelas nih, tumpah lho"
"Sini'in" gue berusaha mengambil konci dari tangannya.
"Ambil aja kalo bisa"
Gue ngangkat tangan
"Kok nyerah" ucap Indri
"Takut kejadian kayak sinetron sinetron, ntar ujung2nya cium ciuman"
"Hahahahaha" kurang lebih 5 menitan Indri ngakak sampe batuk batuk..
Gue berjalan kekamar tanpa mempedulikan Indri yang masih ngakak, gue ambil sarung dan baju Koko.
"Mbak kemasjid dulu ya" mbak Indri masih ngakak.
Berjalan dan menggerakkan kedua tangan menuju masjid, sampai di masjid gue bertemu wanita yang selalu membatu gue saat kursi roda menjadi alat bantu jalan gue. Jihan, ya.. wanita yang terlalu indah untuk jadi pujaan hati anak SMA. Jihan melihat gue dan memberikan senyum.
Pulang dari masjid dengan sendal yang sama.
lagi lagi mata kita bertemu, berjalan keluar menuju gerbang masjid gue berhenti, Jihan juga berhenti melihat gue.
"Jihan" ucap gue pelan dan tersenyum
"Andi" Jihan membalas senyum gue
Duhhh kenapa mendadak mulut gue nggak bisa kayak dulu ya. Susah buat memulai obrolan.
"Jihan" panggil gue.
"Apa ndi, kok kayaknya ada yang mau diomongin" balas jihan halus
"Mmbb, mau tanya tukang bubur kacang ijo udah naik haji belom"
Mendadak Jihan menutup mulutnya, kedua pundaknya bergerak naik turun
•inilah yang di namakan ketawa sopan, menutup mulutnya dengan tangan dan sedikit mengeluarkan suara•
"Jihan gimana kabarnya" gue berkata sambil menggaruk garuk kepala yang nggak gatal.
"Alhamdulillah baik, kamu bukannya di Jakarta ya" tanya Jihan
"Iya gue pulang buat ketemu lu" blegedesss kenapa mulut gue tiba tiba nyimpang gini yak
"Maaf Jihan, maksutnya mau ngurus rumah" balas gue cepat sambil menahan malu
Lagi lagi Jihan menutup mulutnya.
"Gue anterin pulang yuk" ajak gue
Momen yang sering kita berdua lakukan saat di pagi hari setelah subuh. Jujur sebenarnya gue cinta sama jihan, kapan gue merasakan itu? Saat setengah badan gue merasakan sakit. Jihan adalah orang yang paling pengertian. Bahkan. Bahkan. Bahkan melebihi orang tua gue saat itu. Dia selalu bantu gue mendorong kursi roda, dia wanita pertama yang mengembalikan senyum gue saat bela hilang dari hati gue. Dia yang selalu membuat gue semangat bangun awal subuh.. dia seseorang pertama yang menyimpan cerita sang biadab saat sang biadab bingung mau cerita ke siapa! Dia yang selalu memberi cerita baru setiap harinya.
tapi gue merasa nggak pantes kalo ngutara'in rasa gue, karena gue sadar gue ba*ngan, gue kotor. Biarlah gue belajar dari dia cara menjadi lebih baik, biarlah sesekali hati gue merasa sangat nyaman saat bersama dia meskipun hanya sementara.
"Betah di sana ndi" tanya Jihan
Gue mengangguk,
"Kamu masuk ipa apa ips nah"
Lagi lagi Jihan menutup mulutnya, mungkin karena gue masih seperti yang dulu, saat gue mulai akrab dengan Jihan, gue bingung mau manggil dia apa"jih,han" sontak gue balik aja gue panggil dia "nah" saat itu juga Jihan sama ngakak sopan.
"Aku masuk ips kok" balas jihan
"Whatttt"
"Kenapa ndi" Jihan heran
"Kok nggak IPA, biasanya kan orang kalo pinter milihnya IPA" jawab gue
"Aku nggak suka ngitung ngitung, capek" balas jihan polos.
Wohoho, belum jadi emak emak dia, kalo udah jadi emak emak bakal demen dia ngitung, huahaha
"Aku juga nggak suka ngitung ngitung kok nah" bales gue
"Kenapa" tanya Jihan
"Karena aku nggak butuh banyak angka karena angka satu saja cukup buatku tau siapa wanita tercantik di dunia ini" awokwok ucap gue sambil melihat Jihan
Bugg. Jihan memukul pelan gue menggunakan sajadah sambil mulutnya di tutup lagi.
"Mampir dulu ndi" tawar Jihan
"Maaf Jihan, gue mau tidur, capek, barusan dari Jakarta" balas gue
"Yaudah met istirahat ya Andi" ucap Jihan lembut
"Iya makasih Jihan, assalamualaikum"
Gue pun berjalan pulang
Sesampainya di rumah gue melihat sosok manusia tidur di atas kursi panjang dengan tangan di lipat, gue pun menyelimuti Indri. Gue taruh sarung di kamar.
Treng teng teng.... Bohohoho. Segerrr
Kekanan atau ke kiri, nampaknya empiz minta belok ke kiri.
Ting tong...
Gue masuk ke rumah ber cat silver, dirumah nampak kedua orang tua bocah yang akan gue temui, setelah basa basi, sambil nyomot roti bakar gue masuk ke kamar si bocah.
Ahh imut banget ni bocah, pakai stelan tidur bermotif hello Kitty warna pink dengan selimut motif bunga.
Gue kapit hidungnya pelan, belom ada reaksi. Gue goyang goyangkan pundaknya..
"BANGUN WOOOYYY, DUHUR" huahaha seketika tuh bocah bangun.
Ciiiitttt
Addoohhhh
Gue
"Pipi gue sakit dodoool"
"Nggak kira kira ya lu teriak" ucap Anis menggosok gosok telinganya
"Hahahaha, anak gadis jam segini masih molor"
Anis
"Bodoamat, dari pada anak setan tiba tiba ngilang"
"Hahahaha ndasmu, bangun wooyy sekolah nggak lu"
Anis
"Males"
Ting Ting Ting, bunyi nyaring henfone Anis.
Dari pembicaraan yang gue denger Anis ngomong pake sayang sayangan. Huahaha
Gue
"Cieeee, cieee, jok Abang kosong lho neng"
Anis
"Bodoamat, enakan naik mobil wlee"
Gue
"Huahahaha, yaudah gue ngojek di tempat Laen dah, daaa aniis"
Anis
"Sono Sono, husss huss"
Treng teng teng.. 200 meter roda empiz ini berputar, sampailah gue di depan rumah bercat silver juga? Kok sama? Yaiyalah cuk, dimana mana komplek perumahan warna catnya sama, kecuali yang punya rumah senep sama warnanya terus dikasih no bocor bocor hahaha
Pas gue mau tekan tombol bel nya, gue tiba tiba berpikir, aah kalo gue anter entar ada gosip di sekolah. Kasian Jihan juga kalo dia di taksir cowok terus gara gara gue cowok yang naksir Jihan jadi cemburu, entar baku hantam. Aah udahlah batal..
"Hayyooo mau kemana" tiba tiba suara harim mengagetkan gue saat kepala gue mau menoleh
" Eee Jihan, dari beli bubur di Samin ya" tanya gue
"Iya" jawab Jihan
"Udah naik haji belom dia"
Jihan menutup mulutnya lagi, namun tangannya gemetar, waaaah bahaya, dia masih pegang mangkuk. Gue pun meraih mangkuknya..
"Ngapain sih dari tadi ketemu gue ketawa Mulu nah" tanya gue
"Kamu lucu tauuu"
Edododo elololo kadal goreng mangut kadal, pujian ini, muka aing pasti kek yuyu rebus. Huahaha
Gue garuk garuk kepala yang nggak gatal
"Yuk masuk, gue bawa'in"
Masuklah gue sama Jihan berdua di rumah, nampak kedua orang tua Jihan duduk di meja makan, gue pun langsung salim
"Kapan kamu pulang le" tanya ibunya Jihan
"Tadi pagi bude"
"Kenapa pulang, mau pindah lagi, atau mau ketemu Jihan" goda bapaknya Jihan
"Mau buat lokalisasi om" jawab gue asal nyablak
"Hahaha, cah gendeng(bocah nggak waras)" jawab pak de
Gue kaget saat Jihan cuman makan bubur.
"Nah, kok lu makan bubur doang" tanya gue
"Takut gemuk"
Huahahaha gue ngakak sampe batuk batuk, bude pun memberi gue minum, Jihan mukanya cemberut.
"Lu nggak usah diet juga cakep kok nah"
Jihan mukanya memerah, dibarengi buburnya habis Jihan berjalan ke kamar, kesempatan gue buat cabut. Karena gue takut kalo suruh nganterin.
Gue
"Bude, pak de, saya pamit dulu, mau beres beres rumah"
Bude
"Loooh, mumpung kamu disini anterin Jihan sekalian"
Waduuh, moddar kwe
Lima belas menit gue menunggu, Jihan udah cakep menggunakan baju hari sabtu, rok panjang, dan jilbab.
Duileee cakep mahmuuud cakep abiiis Harim satu nie..
"Cepeet di jaaak, Lanang po Ra kwe (cepeet diajak laki nggak kamu)" ucap bapaknya Jihan
Gue pun menawarkan Jihan
"Mbbb nah, gue anterin mau nggak" tanya gue
"Nggak usah ndi, aku bareng papah aja" ucap Jihan
Wohohoho, seorang biadab dua kali di tolak.
"Yaudah jihan gue cabut yak" ucap gue, dan gue pun Salim sama orang tuanya jihan
"Kamu nggak marah kan ndi" Jihan terlihat cemas
"Enggaaak, tadi cuman basa basi doang, lagian gue takut kalo rok lu masuk ke gear motor gue" jawab gue dengan senyuman tanpa adanya raut kecewa.
Gue melihat raut muka nggak enak karena menolak di wajah Jihan
"Nggak usah khawatir nah, tenang ajaa udaah nanti malem gue jajanin bakso di bang kumis" jawab gue yang membuat Jihan tersenyum
Haaaah treng teng teng teng... Menyusuri pagi di kota tercinta menggunakan motor kesayangan, menghentakkan gas menuju sekolah, hasrat akan bertemu kedua sahabat gue menggebu gebu.
Dan pass saat gue sampai di dekat sekolah, suara motor laknat terdengar, semakin dekat semakin dekaaat dan
PLAKKK
Gue tampol helm full face nya.
Kata kata mutiara pun terdengar.
"Woooo setaaan, ngapain lu balik" kamipun bersalaman ala sahabat, salaman ribet.
"Gue mau buka lestoran oseng oseng kadal"
"Huahahaha, ndasmu, yok masuk" jawab panjol
"Ogah, eh nomor lu mana" kami pun bertukar nomor telfon
"Dah Sono masuk, sekolah yang bener biar jadi orang bener, salam buat Arif" ucap gue..
Treng teng teng, gue betot lagi gas empiz er menuju rumah Tante bohay, pasti jam segini Tante intan habis nganterin salsa. Cocoklah tipis tipisss huahahaha
Diubah oleh biadabcuk 09-03-2020 21:36
oktavp dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup