- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
Setelah beberapa tahun memutuskan untuk beristirahat, akhirnya Beavermoon kembali untuk menyelesaikan apa yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat.
Sedikit bercerita bahwa cerita ini adalah akhir dari serial Aku, Kamu, dan Lemon. Cerita ini tidak lagi mengisahkan tentang Bram, Widya, Dinda, dan yang lainnya. Cerita ini akan mengisahkan tentang sang penulis dari Aku, Kamu, dan Lemon setelah seri Buku Harian Airin berakhir. Bagaimana ia harus menjalani hidup setelah semuanya berakhir, bagaimana ia harus menyelesaikan dan menjelaskan semua cerita yang sudah ia tulis.
Lalu kenapa cerita ini masih menjadi bagian Aku, Kamu, dan Lemon jika sudah tidak ada lagi para tokoh utama dari cerita tersebut? Mungkin, apa yang dirasakan oleh sang penulis bisa menjadi penutup dari serial ini, dengan catatan telah mendapatkan izin dari beberapa orang yang "namanya" pernah tercantum di cerita sebelumnya.
Untuk kalian yang baru bergabung, mungkin bisa baca seri sebelumnya terlebih dahulu sebelum membaca seri terakhir ini.
AKU, KAMU, DAN LEMON
AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Dan bagi kalian yang sudah mengikuti dari seri pertama, selamat datang kembali. Semoga apa yang menjadi pertanyaan selama ini bisa terjawab, jika tidak terjawab maka lebih baik bertanya di kolom komentar. Satu info terakhir, seri ini akan update 3X dalam seminggu (Senin, Rabu, Jum'at) agar tidak terlalu lama. Enjoy!

Spoiler for Index:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Diubah oleh beavermoon 27-06-2020 18:27
i4munited dan 31 lainnya memberi reputasi
32
27.5K
Kutip
395
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#72
Spoiler for Episode 15:
"Bang Fer, coba liat deh. Mas Adrian kok..."
"Sst!..." Ferdi memotong pembicaraan Bella, "aku tau kemana arah pembicaraan kamu. Kamu belum pernah kan liat Adrian kayak gitu?"
Bella mengangguk beberapa kali, "Emang sebelumnya pernah Bang?"
"Pernah, aku lupa tepatnya kapan tapi udah beberapa tahun yang lalu. Adrian pernah nunjukkin ekspresi itu, aku bener-bener inget ekspresi itu." Kata Ferdi.
Bella menatap ke arah Ferdi begitu juga sebaliknya, "Aku bisa narik kesimpulan kalau Adrian akan patah hati lagi."
"Patah hati? Maksudnya?" Tanya Bella.
"Kamu tau siapa orang yang ada di depan Adrian? Dia bokapnya Renata." Kata Ferdi.
"Papanya Ka Renata? Loh emang Mas Adrian..." Bella membuka matanya cukup lebar, "jadi Mas Adrian... eh tapi kan..."
Ferdi menatap ke arah luar dimana aku berada, "Kamu bingung kan? Aku juga, karena ini pertama kalinya Adrian kayak gini. Adrian dulu adalah orang yang tegas, kalau dia mau apa-apa pasti dia bilang. Begitu juga soal perempuan, kalau dia suka sama perempuan pasti dia bakalan bilang atau kasarnya nembak lah."
Bella mendekat ke arah Ferdi. Ferdi pun kembali menatap Bella, "Tapi untuk kali ini semuanya berubah terbalik. Aku tau dari awal kalau Adrian suka sama Renata, gampang banget ngeliatnya."
"Emang ngeliatnya dari mana kalau mau tau Mas Adrian suka sama perempuan?" Tanya Bella.
Ferdi memegang bahu Bella dengan kedua tangannya, "Mata. Tatapan Adrian berbeda ketika ngeliat seorang perempuan yang dia suka. Mungkin buat orang yang ngga terlalu kenal sama Adrian, itu ngga keliatan. Tapi kalau kamu udah kenal sama Adrian, semuanya nampak jelas."
Bella terpaku menatap Ferdi, dan lama kelamaan Ferdi pun nampak salah tingkah dengan apa yang ia lakukan. Mereka berdua sama-sama membuang pandangan ke arahku lagi.
"Mm... tapi kenapa Mas Adrian harus patah hati? Kan Mba Renata juga suka sama Mas Adrian." Kata Bella.
Bella berhasil membuat Ferdi kebingungan menatapnya, "Iya juga ya, kenapa harus patah hati?"
Meninggalkan Ferdi dan Bella dalam kebingungan yang mereka buat sendiri di dalam, aku masih duduk di bangku teras depan bersama dengan Papanya Renata. Kata-kataku terhenti begitu saja tanpa bisa ku selesaikan. Jika diibaratkan aku seperti sedang diinterogasi oleh pihak berwajib dengan segala bukti yang sudah ia kumpulkan sebelumnya.
"Om udah tau semuanya..."
Tatapan kosongku berubah menjadi sebuah tatapan yang penuh harap, namun apa yang ku harapkan tidak lebih baik dari kekosongan pikiranku sebelumnya.
"...Renata akhirnya cerita semalem, dalam artian awalnya dia selalu nutup-nutupin tentang kamu. Tapi ngga tau gimana caranya, Renata pun cerita semuanya tentang kamu ke Om. Jujur aja awalnya Om kaget banget, tapi lama-kelamaan Om jadi mikir sendiri. Renata sudah besar, dia udah seharusnya dewasa. Dia udah bisa nentuin mana pilihan yang terbaik buat dia. Dan Om pun ngerasain itu semua, ketika kamu masuk ke kehidupannya Renata semuanya berubah. Renata jadi lebih sering senyum yang kadang bikin kita sekeluarga bingung, tapi setelah tau semuanya ya Om cuma bisa bilang terima kasih sama kamu." Jelas Papanya Renata.
Aku masih terdiam, entah kenapa rasanya aku harus menunggu lebih lama untuk membalas perkataan tersebut.
"Mungkin Om cuma mau kasih tau kamu satu hal lagi. Renata mungkin bukan anak yang patuh sama Om dan Tante, tapi Renata adalah orang yang patuh sama Tuhannya." Ucapnya.
Entah bagaimana caranya aku tidak paham, matahari terik siang ini bisa secara tiba-tiba tertutup oleh awan gelap. Angin berhembus lebih kencang dari biasanya, membuat dedaunan dari pohon yang ada di depan ruko dapat gugur begitu saja. Melihat cuaca yang berubah drastis, Papanya Renata memutuskan untuk kembali ke kantor sebelum hujan turun, ia berpamitan denganku.
"Adrian, kamu bisa janji satu hal sama Om?" Tanya Papanya Renata.
"Janji apa Om?" Tanyaku.
"Jangan berubah ke Renata..." ia menyentuh pundakku, "tetap seperti ini."
Ia pun masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan ruko. Aku berjalan pelan menuju teras, sesampainya di teras hujan turun dengan derasnya. Aku kembali masuk ke dalam, tentu saja langkahku diikuti oleh Ferdi dan Bella hanya dengan tatapan mereka. Ferdi memberikan isyarat ke Bella dengan menyenggol dengan siku.
"Mas Adrian tadi ngobrol sama siapa?" Tanya Bella.
"Oh itu..." aku mencoba untuk biasa saja di hadapan mereka, "Papanya Renata. Tadi kamu ngga sempet aku kenalin soalnya kamu lagi sibuk."
Kami kembali melakukan tugas kami masing-masing. Hujan masih deras di luar sana, belum ada lagi pelanggan yang datang karena cuaca, sehingga kami bisa lebih santai dari biasanya. Aku terdiam memandangi hujan dari kaca jendela. Masih ada saja orang yang lalu lalang menerobos derasnya hujan, entah dengan jas hujan, entah dengan mobil, entah menerobos saja dan membiarkan dirinya basah. Cara yang berbeda namun dengan tujuan sama, untuk mencapai sebuah tempat. Mungkin saat ini aku masih menerobos hujan dan membiarkan diriku basah, apakah tubuhku akan baik-baik saja?
"Mas Adrian kenapa sih, kok masuk-masuk jadi agak beda gini?" Tanya Bella.
"Eh Bel ngagetin aja kamu..." aku menatapnya, "nggapapa kok cuma lagi ngeliatin hujan aja."
"Beneran?" Tanya Bella lagi.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Penyamaranku hampir saja ketahuan, mungkin aku harus menyibukkan diri bukannya berdiam menatapi hujan. Tapi sayangnya tidak ada kesibukan yang bisa ku lakukan saat ini, ada niatan hati untuk mengambil buku di dalam tas dan ku baca.
"Bokapnya Renata ngapain?..." Ferdi berbisik pelan kepadaku, "kok lu sampai kayak dulu lagi?"
"Dulu lagi? Maksudnya gimana?" Tanyaku.
"Ekspresi lu sama persis kayak beberapa tahun lalu, pas sama..."
Aku memberi isyarat kepadanya berupa "jempol kejepit" atau ibu jariku ku letakkan di antara jari telunjuk dan jari tengah. Ferdi menghentikan perkataannya karena tau apa yang ku maksud.
"Maksudnya apa sih?"
"Itu maksudnya berarti jangan nyebut sebuah nama, kode yang aku bikin sama Adrian." Kata Ferdi.
"Emang lagi ngomongin siapa?"
"Itu loh Bel, kita lagi ngomongin si..."
Aku dan Ferdi menatap cepat ke arah Bella, yang ternyata ia sudah berada di belakang kami. Kami tidak menyadari bahwa Bella sudah berada di dekat kami.
"He... kayaknya aku salah ya berdiri di sini, maafin ya Mas, Bang." Katanya.
"Yaudah nggapapa lah Bel, kamu udah denger ini." Kataku.
"Jadi, lu kenapa bisa berekspresi kayak dulu lagi?" Tanya Ferdi.
"Gimana ya jelasinnya..." aku menggaruk-garuk kepala, "gue bingung mau cerita darimana."
"Apa ada aku di sini Mas jadinya ngga bisa cerita?" Tanya Bella.
"Ngga Bel santai aja, kamu boleh tau kok..." aku melipat tangan di dada, "gini deh. Ketika kamu pernah percaya, kemudian dikhianati begitu saja sampai kamu kehilangan kepercayaan itu."
Bella memperhatikanku dengan seksama, "Beberapa tahun kamu masih dengan pendirian yang sama, sampai akhirnya ada momen dimana kamu dibuat kembali percaya begitu saja entah gimana caranya. Tapi ada yang mengganjal, ketika percaya itu akan merubah hidupmu dan kamu tau resikonya. Sampai akhirnya, kamu dipaksa untuk memilih di antara dua pilihan, tetap percaya dengan seluruh resikonya atau merubah semuanya sebelum terlambat."
"Yang intinya semua pilihan itu akan menyakitkan kedua belah pihak?" Tanya Ferdi.
Aku mengangguk pelan dengan tatapan kosong. Bella menghela nafasnya pelan, "Kalau merubah semuanya sebelum terlambat kayak win-win solutiongitu ngga sih? Tapi pasti ada pilihan terbaik kan Mas Adrian?"
"Pilihan terbaik dari yang terburuk mungkin ada, kalau win-win solution..."
"Bukan win-win solution juga kalau itu mah..." Ferdi memotong pembicaraanku, "malah kayak menyerah sama keadaan. Kenapa ngga diperjuangin dulu aja? Sampai nanti akhirnya kalau emang ngga bisa juga baru berpisah."
"Kalau bisa mencegah kenapa harus ngerasain sakit dulu baru diobatin." Kataku.
"Tapi itu lebih baik daripada ngga mencoba kan?" Kata Ferdi.
Dua argumentasi kuat pun muncul pada pembicaraan kali ini. Mencegah lebih cepat agar tidak merasakan sakit di kemudian hari adalah argumen yang aku percaya setelah kejadian tadi siang. Jika sudah terlalu lama maka akan terasa berat untuk menjauh.
Lebih baik mencoba terlebih dahulu adalah argumen Ferdi. Setidaknya kita sudah berusaha untuk mencari jalan keluar, urusan bagaimana hasilnya adalah nanti. Yang terpenting adalah kepercayaan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasilnya.
"Tapi bener juga sih kata Bang Ferdi. Lebih baik coba dulu, entah nanti hasilnya gimana. Sekalipun nyakitin, seenggaknya kan udah dicoba. Yang ironis, kalau Mas Adrian mutusin buat mencegah lebih dulu. Padahal kalau mau berusaha sedikit lagi, bisa aja yang Mas Adrian takutin malah berubah menjadi sesuatu yang indah. Iya ngga sih?" Jelas Bella.
"Memang sepemikiran kita..." Ferdi menjabat tangan Bella, "tapi balik lagi semua keputusan ada di tangan lu sendiri. Lu tau lah mana yang terbaik buat lu sendiri."
Aku menganggukkan kepala beberapa kali dengan pelan. Waktu terus berjalan tanpa memikirkan apa yang terjadi pada sekelilingnya, hingga malam pun tiba seperti biasa. Kedai sudah tutup, Ferdi dan Bella sudah lebih dulu meninggalkan tempat ini. Aku pun akhirnya memutuskan untuk pulang setelah sebatang rokok di tangan habis.
Beberapa menit melalui jalanan yang basah karena hujan hingga kecepatanku mengurang dari biasanya. Aku menatap jauh ke depan, ku miringkan kepalaku sesaat, hingga aku memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan.
"Kenapa Ri?" Tanyaku.
"Eh Bang Adrian..." Ari terkejut dengan kehadiranku, "ini ban mobil bocor."
Aku melihat keadaan mobilnya dan benar saja ban belakang kanan mobil ini bocor, "Ada ban cadangan sama alatnya?"
"Ada Bang cuma aku ngga bisa." Katanya.
Aku tersenyum, ku buka helm dan sweater yang ku kenakan. Ku gulung lengan kemeja panjang yang ku kenakan agar tidak kotor. Aku mulai mengambil ban cadangan dan alat-alat yang ada di bagasi mobilnya. Kemudian aku mulai mengganti ban mobil Ari yang bocor dengan ban cadangan, ia memperhatikan dengan seksama langkah demi langkah untuk mengganti ban jika dalam keadaan darurat.
"Selesai..." aku berdiri dengan tegak, "jadi itu caranya buat ganti ban."
Aku meletakkan alat dan bannya ke tempat semula, "Besok langsung ditambal jangan ditunda-tunda, takutnya kejadian lagi jadi sedikit lebih aman."
"Bang Adrian, makasih banyak ya udah mau bantuin." Katanya.
"Santai aja lah, kebetulan pas searah ya sekalian aja." Kataku.
"Nah sekarang aku yang bingung nih buat ngebales Bang Adrian gimana." Kata Ari.
"Udah lah Ri, santai aja kayak sama siapa aja." Kataku.
"Jangan dong Bang Adrian, kalau Ka Renata tau dia bakalan marah." Ucapnya.
"Ya jangan cerita-cerita ke Renata..."
"Please Bang Adrian..." Ari memotong pembicaraanku, "aku traktir aja deh gimana? Please."
Aku menghela nafas, dan pada akhirnya aku mengikuti kemana ia mengendarai mobilnya. Tempatnya pun ternyata tidak terlalu jauh dari tempat kejadian tadi, kami pun masuk ke dalam secara bersamaan.
Menduduki sebuah kursi yang berada dekat dengan jendela, aku mempersilahkan Ari untuk memesankan pesanan untukku. Beberapa menit kami berbincang mengenai otomotif dan sejenisnya, pesanan pun disajikan di atas meja kami. Melanjutkan pembicaraan sambil makan, akhirnya makanan pun habis. Tersisalah gelas berisi bir dan rokok kami masing-masing.
"Kalau tadi Mas Adrian ngga ada, kayaknya aku bakalan towing mobil ke rumah." Kata Ari.
"Lumayan juga biaya buat towing mobil. Tapi sekarang udah tau kan gimana caranya, jadi kalau ada kejadian lagi udah bisa tanpa harus ngeluarin uang buat towing." Kataku.
Ari menganggukkan kepalanya, "Oh iya, gimana sama Ka Renata?"
"Maksud pertanyaannya gimana nih?" Tanyaku.
"Ya maksud aku gimana hubungan Bang Adrian sama Ka Renata? Apa ada perkembangan yang lebih serius?" Tanyanya balik padaku.
"Hmm..." ku hembuskan asap putih dari mulut, "apa jawaban yang kamu harapin dari pertanyaan itu?"
"Kalau berandai-andai, aku maunya Bang Adrian sama Ka Renata jadian. Terus pacaran beberapa tahun, kemudian nikah dan aku punya keponakan deh. Eh, sorry Bang Adrian kayaknya aku ngegampangin banget..." Ari menjabat tanganku pertanda meminta maaf, "mungkin kalau sekarang ya aku pengen yang terbaik aja buat Bang Adrian sama Ka Renata."
Aku mengangguk sambil tersenyum, "Gue pun berharap yang terbaik buat Renata."
"Bentar..." Ari menatapku dengan curiga, "kayak ada sesuatu antara kalian berdua, dan sesuatu itu ngga berjalan dengan baik."
"Oh ya?..." aku mencoba untuk tidak merubah ekspresiku, "coba kasih tau."
"Aku jadi kepikiran sesuatu pas Bang Adrian tadi ngomong. Mungkin ada alasannya kenapa Bang Adrian sama Ka Renata ngga jadian sampai sekarang. Bener kan?..." Ari menegakkan posisi duduknya, "soalnya gini, Ka Renata itu bukan orang yang suka nunggu. Kalau dia udah suka sama seseorang pasti dia bakalan bilang duluan. Tapi itu ngga berlaku ke Bang Adrian. Jadi aku pikir ada sesuatu yang menghambat kalian."
Sebuah informasi lagi yang ku dapatkan tentang Renata, ia bukan perempuan yang harus menunggu tapi ia bisa memulai dahulu untuk menyatakan perasaannya.
"Pernah ngga lu ngerasa..." aku mengambil sebatang rokok, "hilang kepercayaan? Sampai ketika ada orang yang bisa bikin lu kembali percaya, tapi akhirnya lu harus bisa percaya tanpa dia?"
Ari terdiam selagi aku menyalakan sebatang rokok, kemudian ia mengikuti apa yang ku lakukan. Aku sengaja untuk tidak melanjutkan pembicaraanku karena aku ingin membiarkan Ari menanggapi pertanyaanku.
"Aku belum pernah sih Bang." Jawabnya singkat.
"Percaya atau ngga, beberapa tahun lalu gue pernah ngucapin apa yang pernah Renata ucapin. Inget cerita yang waktu itu lu rahasiain?" Kataku.
Ari membuka matanya lebar, "Ngga mau jatuh cinta lagi?"
"Yap, sama persis..." ku minum gelas berisi bir sedikit, "gue jalanin begitu aja ngga peduli, sampai akhirnya Renata datang ke kehidupan gue. Awalnya aneh, lama-kelamaan Renata berhasil bikin gue percaya lagi."
Ari meletakkan rokoknya yang masih menyala di asbak, lalu ia mengarahkan rambutnya ke belakang menggunakan kedua tangannya. Sampai akhirnya ia kembali meraih rokok itu lagi.
"Kenapa harus bisa percaya tanpa Ka Renata?" Tanya Ari.
Aku terdiam menatap Ari, aku memaksanya untuk menebak apa yang baru saja ia tanya. Hingga kemudian ia mematikan rokoknya yang masih panjang di asbak.
"Apa Bang Adrian..."
Aku tersenyum memotong pembicaraannya. Ia menghela nafas panjang dan mungkin ia berucap "Anj*ng!" tanpa bersuara jika aku membaca gerak bibirnya.
"Bang Adrian bisa janji?..." Ari menatapku penuh harap, "ngga akan berubah ke Ka Renata?"
Aku kembali tersenyum mendengar perkataannya, "Entah kebetulan atau gimana, Papamu tadi siang juga bicara kayak gitu."
"Papa? Jadi Papa udah lebih tau?" Tanyanya heran.
Aku mengangguk beberapa kali. Aku pun tidak mengerti kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi dua kali dalam sehari, entah direncanakan atau memang hanya kebetulan belaka. Namun aku percaya ini hanya sebuah kebetulan.
Waktu pun berlalu, kami berpamitan di parkiran dan menuju jalan yang berbeda. Malam semakin jadi, dengan santai aku mengendarai Syailendra menyusuri jalan seperti biasa.
"Hari yang luar biasa." Kataku seorang diri.
Beberapa saat kemudian aku pun tiba di rumah. Rutinitas yang seperti biasa, mengambil minuman dari kulkas, lalu menuju kamar. Aku duduk di sofa, dengan botol minuman yang sama, rokok yang sama, dan buku dari dalam tas. Aku pun kembali melanjutkan membaca buku tersebut, entah sekedar membaca atau aku menemukan sebuah pencerahan dari buku ini.
Ting! Mataku teralih ke layar handphoneku yang menyala. Ku ambil handphone dan membaca pesan yang masuk, butuh waktu bagiku untuk membalas pesan tersebut. Kemudian ku letakkan di atas meja lalu aku kembali membaca buku.
Drrt! Drrt! Pengalihan luar biasa dari handphoneku agar aku tidak membaca buku ini, ku ambil kembali dengan malas.
"Renata?" Kataku seorang diri.
Aku pun menjawab panggilan tersebut. Beberapa kali aku menyapanya namun suaranya tidak jelas, ku putuskan panggilan tersebut lalu aku kembali membaca pesannya.
Dengan cepat aku mengeluarkan Syailendra dari dalam garasi, kemudian aku meninggalkan rumah ini. Aku pun tidak memperdulikan basahnya jalanan kali ini, ku paksa Syailendra mengeluarkan tenaga terbaiknya hingga mencapai batasnya.
"Anj*ng! Udah mentok!" Kataku melihat speedometer.
Beberapa menit berlalu, setelah memarkirkan motor dengan cepat aku berjalan menuju lift. Setibanya di lantai yang ku tuju, aku berjalan lebih cepat. Sambil berjalan aku merogoh saku celana untuk mencari kunci, kemudian ku buka pintu kamar ini. Aku melihat Renata, sedang duduk di sofa dengan gelas anggur beserta isinya.
"Ren..."
"Adriaaaaan..." ia mengangkat kedua tangannya, "sini..."
Aku mendekat ke arahnya, ku lihat wajahnya sudah cukup merah untuk seseorang yang sedang minum dengan kandungan alkohol. Ku sentuh pipinya, lebih hangat dari biasanya karena alkohol.
"Adrian... Kamu mau minum juga kan... Ayo kita... Minum..."
"Ren, udah cukup. Mending sekarang kamu tidur aja." Kataku.
"Ngga... Kita harus minum..."
"Renata, udah cukup. Sekarang..."
Plak! Ia menamparku tepat di pipi kiri, aku benar-benar tidak menduga dengan apa yang baru saja Renata lakukan. Aku dan Renata hanya saling memandang dalam diam, aku mencoba untuk mengerti dengan keadaan saat ini. Renata sudah terpengaruh dengan alkohol, ia bisa melakukan apa saja tanpa menyadarinya.
"Adrian..."
"..."
"Mau sampai kapan?"
"..."
"Mau sampai kapan kita saling membohongi diri kita masing-masing? Mau sampai kapan kita saling nutupin perasaan kita masing-masing?"
".."
"Aku suka sama kamu!"
***
"Sst!..." Ferdi memotong pembicaraan Bella, "aku tau kemana arah pembicaraan kamu. Kamu belum pernah kan liat Adrian kayak gitu?"
Bella mengangguk beberapa kali, "Emang sebelumnya pernah Bang?"
"Pernah, aku lupa tepatnya kapan tapi udah beberapa tahun yang lalu. Adrian pernah nunjukkin ekspresi itu, aku bener-bener inget ekspresi itu." Kata Ferdi.
Bella menatap ke arah Ferdi begitu juga sebaliknya, "Aku bisa narik kesimpulan kalau Adrian akan patah hati lagi."
"Patah hati? Maksudnya?" Tanya Bella.
"Kamu tau siapa orang yang ada di depan Adrian? Dia bokapnya Renata." Kata Ferdi.
"Papanya Ka Renata? Loh emang Mas Adrian..." Bella membuka matanya cukup lebar, "jadi Mas Adrian... eh tapi kan..."
Ferdi menatap ke arah luar dimana aku berada, "Kamu bingung kan? Aku juga, karena ini pertama kalinya Adrian kayak gini. Adrian dulu adalah orang yang tegas, kalau dia mau apa-apa pasti dia bilang. Begitu juga soal perempuan, kalau dia suka sama perempuan pasti dia bakalan bilang atau kasarnya nembak lah."
Bella mendekat ke arah Ferdi. Ferdi pun kembali menatap Bella, "Tapi untuk kali ini semuanya berubah terbalik. Aku tau dari awal kalau Adrian suka sama Renata, gampang banget ngeliatnya."
"Emang ngeliatnya dari mana kalau mau tau Mas Adrian suka sama perempuan?" Tanya Bella.
Ferdi memegang bahu Bella dengan kedua tangannya, "Mata. Tatapan Adrian berbeda ketika ngeliat seorang perempuan yang dia suka. Mungkin buat orang yang ngga terlalu kenal sama Adrian, itu ngga keliatan. Tapi kalau kamu udah kenal sama Adrian, semuanya nampak jelas."
Bella terpaku menatap Ferdi, dan lama kelamaan Ferdi pun nampak salah tingkah dengan apa yang ia lakukan. Mereka berdua sama-sama membuang pandangan ke arahku lagi.
"Mm... tapi kenapa Mas Adrian harus patah hati? Kan Mba Renata juga suka sama Mas Adrian." Kata Bella.
Bella berhasil membuat Ferdi kebingungan menatapnya, "Iya juga ya, kenapa harus patah hati?"
Meninggalkan Ferdi dan Bella dalam kebingungan yang mereka buat sendiri di dalam, aku masih duduk di bangku teras depan bersama dengan Papanya Renata. Kata-kataku terhenti begitu saja tanpa bisa ku selesaikan. Jika diibaratkan aku seperti sedang diinterogasi oleh pihak berwajib dengan segala bukti yang sudah ia kumpulkan sebelumnya.
"Om udah tau semuanya..."
Tatapan kosongku berubah menjadi sebuah tatapan yang penuh harap, namun apa yang ku harapkan tidak lebih baik dari kekosongan pikiranku sebelumnya.
"...Renata akhirnya cerita semalem, dalam artian awalnya dia selalu nutup-nutupin tentang kamu. Tapi ngga tau gimana caranya, Renata pun cerita semuanya tentang kamu ke Om. Jujur aja awalnya Om kaget banget, tapi lama-kelamaan Om jadi mikir sendiri. Renata sudah besar, dia udah seharusnya dewasa. Dia udah bisa nentuin mana pilihan yang terbaik buat dia. Dan Om pun ngerasain itu semua, ketika kamu masuk ke kehidupannya Renata semuanya berubah. Renata jadi lebih sering senyum yang kadang bikin kita sekeluarga bingung, tapi setelah tau semuanya ya Om cuma bisa bilang terima kasih sama kamu." Jelas Papanya Renata.
Aku masih terdiam, entah kenapa rasanya aku harus menunggu lebih lama untuk membalas perkataan tersebut.
"Mungkin Om cuma mau kasih tau kamu satu hal lagi. Renata mungkin bukan anak yang patuh sama Om dan Tante, tapi Renata adalah orang yang patuh sama Tuhannya." Ucapnya.
Entah bagaimana caranya aku tidak paham, matahari terik siang ini bisa secara tiba-tiba tertutup oleh awan gelap. Angin berhembus lebih kencang dari biasanya, membuat dedaunan dari pohon yang ada di depan ruko dapat gugur begitu saja. Melihat cuaca yang berubah drastis, Papanya Renata memutuskan untuk kembali ke kantor sebelum hujan turun, ia berpamitan denganku.
"Adrian, kamu bisa janji satu hal sama Om?" Tanya Papanya Renata.
"Janji apa Om?" Tanyaku.
"Jangan berubah ke Renata..." ia menyentuh pundakku, "tetap seperti ini."
Ia pun masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan ruko. Aku berjalan pelan menuju teras, sesampainya di teras hujan turun dengan derasnya. Aku kembali masuk ke dalam, tentu saja langkahku diikuti oleh Ferdi dan Bella hanya dengan tatapan mereka. Ferdi memberikan isyarat ke Bella dengan menyenggol dengan siku.
"Mas Adrian tadi ngobrol sama siapa?" Tanya Bella.
"Oh itu..." aku mencoba untuk biasa saja di hadapan mereka, "Papanya Renata. Tadi kamu ngga sempet aku kenalin soalnya kamu lagi sibuk."
Kami kembali melakukan tugas kami masing-masing. Hujan masih deras di luar sana, belum ada lagi pelanggan yang datang karena cuaca, sehingga kami bisa lebih santai dari biasanya. Aku terdiam memandangi hujan dari kaca jendela. Masih ada saja orang yang lalu lalang menerobos derasnya hujan, entah dengan jas hujan, entah dengan mobil, entah menerobos saja dan membiarkan dirinya basah. Cara yang berbeda namun dengan tujuan sama, untuk mencapai sebuah tempat. Mungkin saat ini aku masih menerobos hujan dan membiarkan diriku basah, apakah tubuhku akan baik-baik saja?
"Mas Adrian kenapa sih, kok masuk-masuk jadi agak beda gini?" Tanya Bella.
"Eh Bel ngagetin aja kamu..." aku menatapnya, "nggapapa kok cuma lagi ngeliatin hujan aja."
"Beneran?" Tanya Bella lagi.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Penyamaranku hampir saja ketahuan, mungkin aku harus menyibukkan diri bukannya berdiam menatapi hujan. Tapi sayangnya tidak ada kesibukan yang bisa ku lakukan saat ini, ada niatan hati untuk mengambil buku di dalam tas dan ku baca.
"Bokapnya Renata ngapain?..." Ferdi berbisik pelan kepadaku, "kok lu sampai kayak dulu lagi?"
"Dulu lagi? Maksudnya gimana?" Tanyaku.
"Ekspresi lu sama persis kayak beberapa tahun lalu, pas sama..."
Aku memberi isyarat kepadanya berupa "jempol kejepit" atau ibu jariku ku letakkan di antara jari telunjuk dan jari tengah. Ferdi menghentikan perkataannya karena tau apa yang ku maksud.
"Maksudnya apa sih?"
"Itu maksudnya berarti jangan nyebut sebuah nama, kode yang aku bikin sama Adrian." Kata Ferdi.
"Emang lagi ngomongin siapa?"
"Itu loh Bel, kita lagi ngomongin si..."
Aku dan Ferdi menatap cepat ke arah Bella, yang ternyata ia sudah berada di belakang kami. Kami tidak menyadari bahwa Bella sudah berada di dekat kami.
"He... kayaknya aku salah ya berdiri di sini, maafin ya Mas, Bang." Katanya.
"Yaudah nggapapa lah Bel, kamu udah denger ini." Kataku.
"Jadi, lu kenapa bisa berekspresi kayak dulu lagi?" Tanya Ferdi.
"Gimana ya jelasinnya..." aku menggaruk-garuk kepala, "gue bingung mau cerita darimana."
"Apa ada aku di sini Mas jadinya ngga bisa cerita?" Tanya Bella.
"Ngga Bel santai aja, kamu boleh tau kok..." aku melipat tangan di dada, "gini deh. Ketika kamu pernah percaya, kemudian dikhianati begitu saja sampai kamu kehilangan kepercayaan itu."
Bella memperhatikanku dengan seksama, "Beberapa tahun kamu masih dengan pendirian yang sama, sampai akhirnya ada momen dimana kamu dibuat kembali percaya begitu saja entah gimana caranya. Tapi ada yang mengganjal, ketika percaya itu akan merubah hidupmu dan kamu tau resikonya. Sampai akhirnya, kamu dipaksa untuk memilih di antara dua pilihan, tetap percaya dengan seluruh resikonya atau merubah semuanya sebelum terlambat."
"Yang intinya semua pilihan itu akan menyakitkan kedua belah pihak?" Tanya Ferdi.
Aku mengangguk pelan dengan tatapan kosong. Bella menghela nafasnya pelan, "Kalau merubah semuanya sebelum terlambat kayak win-win solutiongitu ngga sih? Tapi pasti ada pilihan terbaik kan Mas Adrian?"
"Pilihan terbaik dari yang terburuk mungkin ada, kalau win-win solution..."
"Bukan win-win solution juga kalau itu mah..." Ferdi memotong pembicaraanku, "malah kayak menyerah sama keadaan. Kenapa ngga diperjuangin dulu aja? Sampai nanti akhirnya kalau emang ngga bisa juga baru berpisah."
"Kalau bisa mencegah kenapa harus ngerasain sakit dulu baru diobatin." Kataku.
"Tapi itu lebih baik daripada ngga mencoba kan?" Kata Ferdi.
Dua argumentasi kuat pun muncul pada pembicaraan kali ini. Mencegah lebih cepat agar tidak merasakan sakit di kemudian hari adalah argumen yang aku percaya setelah kejadian tadi siang. Jika sudah terlalu lama maka akan terasa berat untuk menjauh.
Lebih baik mencoba terlebih dahulu adalah argumen Ferdi. Setidaknya kita sudah berusaha untuk mencari jalan keluar, urusan bagaimana hasilnya adalah nanti. Yang terpenting adalah kepercayaan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasilnya.
"Tapi bener juga sih kata Bang Ferdi. Lebih baik coba dulu, entah nanti hasilnya gimana. Sekalipun nyakitin, seenggaknya kan udah dicoba. Yang ironis, kalau Mas Adrian mutusin buat mencegah lebih dulu. Padahal kalau mau berusaha sedikit lagi, bisa aja yang Mas Adrian takutin malah berubah menjadi sesuatu yang indah. Iya ngga sih?" Jelas Bella.
"Memang sepemikiran kita..." Ferdi menjabat tangan Bella, "tapi balik lagi semua keputusan ada di tangan lu sendiri. Lu tau lah mana yang terbaik buat lu sendiri."
Aku menganggukkan kepala beberapa kali dengan pelan. Waktu terus berjalan tanpa memikirkan apa yang terjadi pada sekelilingnya, hingga malam pun tiba seperti biasa. Kedai sudah tutup, Ferdi dan Bella sudah lebih dulu meninggalkan tempat ini. Aku pun akhirnya memutuskan untuk pulang setelah sebatang rokok di tangan habis.
Beberapa menit melalui jalanan yang basah karena hujan hingga kecepatanku mengurang dari biasanya. Aku menatap jauh ke depan, ku miringkan kepalaku sesaat, hingga aku memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan.
"Kenapa Ri?" Tanyaku.
"Eh Bang Adrian..." Ari terkejut dengan kehadiranku, "ini ban mobil bocor."
Aku melihat keadaan mobilnya dan benar saja ban belakang kanan mobil ini bocor, "Ada ban cadangan sama alatnya?"
"Ada Bang cuma aku ngga bisa." Katanya.
Aku tersenyum, ku buka helm dan sweater yang ku kenakan. Ku gulung lengan kemeja panjang yang ku kenakan agar tidak kotor. Aku mulai mengambil ban cadangan dan alat-alat yang ada di bagasi mobilnya. Kemudian aku mulai mengganti ban mobil Ari yang bocor dengan ban cadangan, ia memperhatikan dengan seksama langkah demi langkah untuk mengganti ban jika dalam keadaan darurat.
"Selesai..." aku berdiri dengan tegak, "jadi itu caranya buat ganti ban."
Aku meletakkan alat dan bannya ke tempat semula, "Besok langsung ditambal jangan ditunda-tunda, takutnya kejadian lagi jadi sedikit lebih aman."
"Bang Adrian, makasih banyak ya udah mau bantuin." Katanya.
"Santai aja lah, kebetulan pas searah ya sekalian aja." Kataku.
"Nah sekarang aku yang bingung nih buat ngebales Bang Adrian gimana." Kata Ari.
"Udah lah Ri, santai aja kayak sama siapa aja." Kataku.
"Jangan dong Bang Adrian, kalau Ka Renata tau dia bakalan marah." Ucapnya.
"Ya jangan cerita-cerita ke Renata..."
"Please Bang Adrian..." Ari memotong pembicaraanku, "aku traktir aja deh gimana? Please."
Aku menghela nafas, dan pada akhirnya aku mengikuti kemana ia mengendarai mobilnya. Tempatnya pun ternyata tidak terlalu jauh dari tempat kejadian tadi, kami pun masuk ke dalam secara bersamaan.
Menduduki sebuah kursi yang berada dekat dengan jendela, aku mempersilahkan Ari untuk memesankan pesanan untukku. Beberapa menit kami berbincang mengenai otomotif dan sejenisnya, pesanan pun disajikan di atas meja kami. Melanjutkan pembicaraan sambil makan, akhirnya makanan pun habis. Tersisalah gelas berisi bir dan rokok kami masing-masing.
"Kalau tadi Mas Adrian ngga ada, kayaknya aku bakalan towing mobil ke rumah." Kata Ari.
"Lumayan juga biaya buat towing mobil. Tapi sekarang udah tau kan gimana caranya, jadi kalau ada kejadian lagi udah bisa tanpa harus ngeluarin uang buat towing." Kataku.
Ari menganggukkan kepalanya, "Oh iya, gimana sama Ka Renata?"
"Maksud pertanyaannya gimana nih?" Tanyaku.
"Ya maksud aku gimana hubungan Bang Adrian sama Ka Renata? Apa ada perkembangan yang lebih serius?" Tanyanya balik padaku.
"Hmm..." ku hembuskan asap putih dari mulut, "apa jawaban yang kamu harapin dari pertanyaan itu?"
"Kalau berandai-andai, aku maunya Bang Adrian sama Ka Renata jadian. Terus pacaran beberapa tahun, kemudian nikah dan aku punya keponakan deh. Eh, sorry Bang Adrian kayaknya aku ngegampangin banget..." Ari menjabat tanganku pertanda meminta maaf, "mungkin kalau sekarang ya aku pengen yang terbaik aja buat Bang Adrian sama Ka Renata."
Aku mengangguk sambil tersenyum, "Gue pun berharap yang terbaik buat Renata."
"Bentar..." Ari menatapku dengan curiga, "kayak ada sesuatu antara kalian berdua, dan sesuatu itu ngga berjalan dengan baik."
"Oh ya?..." aku mencoba untuk tidak merubah ekspresiku, "coba kasih tau."
"Aku jadi kepikiran sesuatu pas Bang Adrian tadi ngomong. Mungkin ada alasannya kenapa Bang Adrian sama Ka Renata ngga jadian sampai sekarang. Bener kan?..." Ari menegakkan posisi duduknya, "soalnya gini, Ka Renata itu bukan orang yang suka nunggu. Kalau dia udah suka sama seseorang pasti dia bakalan bilang duluan. Tapi itu ngga berlaku ke Bang Adrian. Jadi aku pikir ada sesuatu yang menghambat kalian."
Sebuah informasi lagi yang ku dapatkan tentang Renata, ia bukan perempuan yang harus menunggu tapi ia bisa memulai dahulu untuk menyatakan perasaannya.
"Pernah ngga lu ngerasa..." aku mengambil sebatang rokok, "hilang kepercayaan? Sampai ketika ada orang yang bisa bikin lu kembali percaya, tapi akhirnya lu harus bisa percaya tanpa dia?"
Ari terdiam selagi aku menyalakan sebatang rokok, kemudian ia mengikuti apa yang ku lakukan. Aku sengaja untuk tidak melanjutkan pembicaraanku karena aku ingin membiarkan Ari menanggapi pertanyaanku.
"Aku belum pernah sih Bang." Jawabnya singkat.
"Percaya atau ngga, beberapa tahun lalu gue pernah ngucapin apa yang pernah Renata ucapin. Inget cerita yang waktu itu lu rahasiain?" Kataku.
Ari membuka matanya lebar, "Ngga mau jatuh cinta lagi?"
"Yap, sama persis..." ku minum gelas berisi bir sedikit, "gue jalanin begitu aja ngga peduli, sampai akhirnya Renata datang ke kehidupan gue. Awalnya aneh, lama-kelamaan Renata berhasil bikin gue percaya lagi."
Ari meletakkan rokoknya yang masih menyala di asbak, lalu ia mengarahkan rambutnya ke belakang menggunakan kedua tangannya. Sampai akhirnya ia kembali meraih rokok itu lagi.
"Kenapa harus bisa percaya tanpa Ka Renata?" Tanya Ari.
Aku terdiam menatap Ari, aku memaksanya untuk menebak apa yang baru saja ia tanya. Hingga kemudian ia mematikan rokoknya yang masih panjang di asbak.
"Apa Bang Adrian..."
Aku tersenyum memotong pembicaraannya. Ia menghela nafas panjang dan mungkin ia berucap "Anj*ng!" tanpa bersuara jika aku membaca gerak bibirnya.
"Bang Adrian bisa janji?..." Ari menatapku penuh harap, "ngga akan berubah ke Ka Renata?"
Aku kembali tersenyum mendengar perkataannya, "Entah kebetulan atau gimana, Papamu tadi siang juga bicara kayak gitu."
"Papa? Jadi Papa udah lebih tau?" Tanyanya heran.
Aku mengangguk beberapa kali. Aku pun tidak mengerti kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi dua kali dalam sehari, entah direncanakan atau memang hanya kebetulan belaka. Namun aku percaya ini hanya sebuah kebetulan.
Waktu pun berlalu, kami berpamitan di parkiran dan menuju jalan yang berbeda. Malam semakin jadi, dengan santai aku mengendarai Syailendra menyusuri jalan seperti biasa.
"Hari yang luar biasa." Kataku seorang diri.
Beberapa saat kemudian aku pun tiba di rumah. Rutinitas yang seperti biasa, mengambil minuman dari kulkas, lalu menuju kamar. Aku duduk di sofa, dengan botol minuman yang sama, rokok yang sama, dan buku dari dalam tas. Aku pun kembali melanjutkan membaca buku tersebut, entah sekedar membaca atau aku menemukan sebuah pencerahan dari buku ini.
Ting! Mataku teralih ke layar handphoneku yang menyala. Ku ambil handphone dan membaca pesan yang masuk, butuh waktu bagiku untuk membalas pesan tersebut. Kemudian ku letakkan di atas meja lalu aku kembali membaca buku.
Drrt! Drrt! Pengalihan luar biasa dari handphoneku agar aku tidak membaca buku ini, ku ambil kembali dengan malas.
"Renata?" Kataku seorang diri.
Aku pun menjawab panggilan tersebut. Beberapa kali aku menyapanya namun suaranya tidak jelas, ku putuskan panggilan tersebut lalu aku kembali membaca pesannya.
Dengan cepat aku mengeluarkan Syailendra dari dalam garasi, kemudian aku meninggalkan rumah ini. Aku pun tidak memperdulikan basahnya jalanan kali ini, ku paksa Syailendra mengeluarkan tenaga terbaiknya hingga mencapai batasnya.
"Anj*ng! Udah mentok!" Kataku melihat speedometer.
Beberapa menit berlalu, setelah memarkirkan motor dengan cepat aku berjalan menuju lift. Setibanya di lantai yang ku tuju, aku berjalan lebih cepat. Sambil berjalan aku merogoh saku celana untuk mencari kunci, kemudian ku buka pintu kamar ini. Aku melihat Renata, sedang duduk di sofa dengan gelas anggur beserta isinya.
"Ren..."
"Adriaaaaan..." ia mengangkat kedua tangannya, "sini..."
Aku mendekat ke arahnya, ku lihat wajahnya sudah cukup merah untuk seseorang yang sedang minum dengan kandungan alkohol. Ku sentuh pipinya, lebih hangat dari biasanya karena alkohol.
"Adrian... Kamu mau minum juga kan... Ayo kita... Minum..."
"Ren, udah cukup. Mending sekarang kamu tidur aja." Kataku.
"Ngga... Kita harus minum..."
"Renata, udah cukup. Sekarang..."
Plak! Ia menamparku tepat di pipi kiri, aku benar-benar tidak menduga dengan apa yang baru saja Renata lakukan. Aku dan Renata hanya saling memandang dalam diam, aku mencoba untuk mengerti dengan keadaan saat ini. Renata sudah terpengaruh dengan alkohol, ia bisa melakukan apa saja tanpa menyadarinya.
"Adrian..."
"..."
"Mau sampai kapan?"
"..."
"Mau sampai kapan kita saling membohongi diri kita masing-masing? Mau sampai kapan kita saling nutupin perasaan kita masing-masing?"
".."
"Aku suka sama kamu!"
***
Diubah oleh beavermoon 09-03-2020 18:57
oktavp dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas