- Beranda
- Stories from the Heart
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
...
TS
agityunita
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
Kumpulan Cerpen Sebelumnya
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Memburu Waktu
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Selesai
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Diubah oleh agityunita 15-03-2020 08:05
nona212 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
2.5K
19
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agityunita
#13
Pulang
Ada rindu yang tertahan. Ketika kau telah jauh melangkah. Entah mengapa kata pulang menjadi sesuatu yang paling didambakan. Namun apakah jalan pulang itu akan semulus jalan saat kau pergi? Akankah ia menjadi ujung kebahagiaan atau malah sebaliknya?
***
Setelah lima tahun memutuskan untuk pergi dari segala hiruk pikuk perasaannya sendiri. Devan akhirnya memutuskan untuk pulang. Pulang pada hati yang dia harap masih setia menunggunya.
Tetapi ada rasa tidak yakin dalam hatinya. Akankah ada seseorang yang mau sesetia itu. Menunggu dirinya dalam ketidakpastian. Apakah keputusan untuk pulang ini sudah tepat.
Akankah ia temukan wajah yang masih sama.
Wajah yang selalu ceria, meski hanya dipandang olehnya dari jarak yang jauh. Dia akan jadi salah tingkah. Dan wajahnya memerah.
Devan sangat merindukan Aisha. Tempat pulang yang pernah ia tinggalkan. Sehari sebelum janji suci itu terucap. Dia memilih untuk menundanya. Entah apa yang membuatnya memutuskan hal bodoh itu. Tetapi ada ketidakyakinan yang membuatnya memutuskan untuk pergi sejenak.
Kepergian tanpa air mata memang, tetapi dalam hati seseorang tidak ada yang dapat menebak. Aisha berkata akan menunggu Devan. Tetapi seiring berjalannya waktu, soal hati itu dirasa begitu pelik.
***
Devan akhirnya sampai juga. Di kota ia memulai segalanya. Memperjuangkan sebuah nama. Untuk juga kemudian ia tinggalkan.
Kini ia kembali, dengan sejuta keberanian. Dan setumpuk harapan. Masihkah nama itu akan menjadi miliknya.
Devan berdiri di depan sebuah rumah. Memberanikan diri untuk mengetuk pintunya sambil memanggil nama anak si pemilik rumah. Tak ada yang menyahut, namun terdengar seseorang sedang membuka kunci pintu.
“Devan?!”
***
Tempat pulang yang masih sama. Seperti saat dulu ia tinggalkan. Cantik dan tatapan yang teduh.
“Apa kabar?” tanya devan terdengar begitu basa-basi sekali.
“Menurutmu?” jawab Aisha dengan pertanyaan lagi.
“Maafkan aku, aku baru bisa pulang hari ini, apa kau masih Aisha-ku?”
Aisha tak menjawab. Ia lebih asyik memainkan ujung jilbabnya yang panjang. Membuat Devan merasa sepertinya dia sudah terlambat. Aisha yang dia kenal selalu terbuka padanya. Jika ya, dia akan berkata dengan lantang. Namun kali ini Aisha memilih untuk membenamkan pandangannya, jauh lebih dalam. Hingga terdengar isak.
“Aisha, kamu menangis?”
“Aku senang kamu pulang!’
“Lalu kenapa kamu malah sedih?”
“Kenapa kamu baru pulang sekarang? Kenapa tidak seminggu yang lalu, kenapa tidak sebulan yang lalu atau setahun yang lalu, dua tahun, tiga tahun. Kenapa? Apakah hidup bersamaku begitu sulit bagimu?”
“Maafkan aku, Sha!”
“Maaf, apakah dengan kata maaf semuanya akan kembali seperti semula?”
“Aku akan membayar semua kesalahanku padamu, Sha, aku akan menikahimu!”
“Menikah? Setelah bertahun-tahun kamu pergi, apa kamu pikir aku masih sendiri dan tetap menunggumu?”
Pertanyaan Aisha itu membuat Devan menyesal atas apa yang sudah ia perbuat dahulu. Dia tidak yakin apakah Aisha masih mau menjadi tempat pulangnya. Sorot mata teduh itu berubah menjadi begitu menyedihkan. Ada luka yang tak kunjung sembuh yang terpancar di sana.
Devan tak sampai hati bertanya lebih lanjut perihal status Aisha saat ini. Karena dalam hatinya dia masih berharap untuk dapat meminang Aisha. Dia memilih untuk pergi. Devan berpikir, mungkin kedatangannya yang tiba-tiba membuat Aisha terkejut. Esok dia akan kembali lagi. Dan bertanya dengan penuh keberanian.
***
Aisha sedang membaca buku di teras rumahnya. Sejak Devan kembali, Aisha jadi jarang ke luar rumah. Ia memilih untuk merenung dan memikirkan soal hatinya sendiri. Apakah luka di hatinya sudah pulih? Apakah ia sudah dapat memaafkan Devan? Dan apakah ia akan bersedia melanjutkan hubungannya dengan Devan.
Ponsel Aisha berbunyi, ada pesan yang masuk.
“Assalamualaikum Aisha, malam nanti saya mau datang ke rumahmu!”
Pesan singkat itu datang dari Zaky. Seseorang yang belum lama ini dikenalkan oleh guru mengaji Aisha. Mereka sedang dijodohkan. Dan sepertinya Zaky cukup serius menanggapi perkenalan itu. Dan ini adalah kedatangannya yang ketiga.
Jika Zaky datang, mereka tidak pernah saling mengobrol. Zaky akan lebih memilih untuk berlama-lama mengobrol dengan Ayah Aisha. Namun malam ini, di dalam pesan yang Zaky kirim, dia meminta izin untuk bisa bertemu dengan Aisha juga.
Hati Aisha menjadi tak karuan. Dipenuhi oleh banyak pertanyaan, hati Aisha menjadi deg-degan. Apa yang akan Zaky bicarakan dengannya. Tiba-tiba Aisha teringat pada Devan. Devan telah pulang. Namun Aisha tidak tahu, apakah hatinya masih saja menunggu.
Karena sejak ia mengenal Zaky, dia merasa benar-benar menjadi seorang wanita.
***
Dan malam itu…
Devan datang ke rumah Aisha lebih awal. Namun sama sekali tak berani untuk lebih mendekat apalagi mengetuk pintu rumahnya. Devan hanya mampu memandang rumah Aisha dari kejauhan.
Dan dari kejuahan itu, Devan melihat kedatangan Zaky. Dalam pikirannya, Devan bertanya-tanya. Siapa lelaki itu? Ada urusan apa ia mendatangi rumah Aisha. Tanpa sadar, Devan melangkah mendekati rumah Aisha. Rasa penasarannya telah memberikannya kekuatan dan keberanian.
Devan mengendap-endap seperti maling. Berusaha agar dirinya tidak terlihat. Namun tetap ingin mengetahui siapa laki-laki yang datang ke rumah Aisha.
Lelaki itu adalah Zaky. Kedatangannya disambut oleh orang tua Aisha. Tidak lama kemudian, Aisha ke luar dari dalam rumah sambil membawa minuman. Orang tuanya pun meninggalkan mereka berdua di teras.
Dengan kekhawatiran yang sudah memuncak. Devan pun memberanikan diri keluar dari persembunyiannya.
“Assallamualaikum!”
“Waalaikumsalam, Devan?”
Aisha sedikit terkejut dengan kedatangan Devan. Namun ia berusaha untuk tetap tenang.
Kini di hadapan Aisha, sudah duduk dua laki-laki yang memiliki maksud padanya. Sesekali Devan dan Zaky bertemu pandang. Mereka telah berkenalan, saling menjabat tangan. Berusaha untuk seramah mungkin. Namun aroma persaingan tercium begitu tajam.
“Jadi apa maksudmu mengajakku bicara Zaky?” Aisha memecah keheningan dengan bertanya pada Zaky terlebih dahulu.
“Aku ingin melamarmu!” jawab Zaky dengan kesungguhan.
Yang terkejut bukan hanya Aisha tetapi juga Devan.
Ada penyesalan begitu dalam yang Devan rasakan.
“Kamu?” Aisha memalingkan pandangannya pada Devan yang duduk bersebelahan dengan Zaky.
“Aku hanya ingin pulang pada hati yang dulu setia menantiku!” ucap Devan dengan nada keputusasaan.
“Aku Aisha, Aisha yang baru. Aisha yang tidak lagi pernah menangis jika ia mengingat kejadian lima tahun yang lalu!”
***
Bahwa pulang ternyata tak selalu harus mengetuk pintu yang sama. Bisa saja rumah itu sudah tergadai oleh waktu. Dan bukan milik kita lagi.
Sejak hari itu, Devan memutuskan untuk menjauh. Jawaban Aisha malam itu telah menjadi jawaban bahwa Devan tak lagi punya tempat di hati Aisha.
Dan waktu yang tidak pernah dapat diputar lagi itu, telah menjadi pelajaran berharga bagi seorang Devan.
Aisha pun dengan hati ikhlas menerima pinangan Zaky. Sejak malam itu, sejak kepulangan Devan. Sejak dia mengetahui maksud kedatangan Devan. Hati kecilnya memang menahan rindu yang begitu dalam.
Namun apakah ia akan hidup bersama orang yang pernah meninggalkan nya? Meskipun Devan datang dengan penuh rasa penyesalan. Namun ada yang tak akan pernah benar-benar berubah. Kenangan dan luka yang tertinggal. Akan terus menghantui jika Aisha kembali menerima Devan.
Selesai
0