- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
Setelah beberapa tahun memutuskan untuk beristirahat, akhirnya Beavermoon kembali untuk menyelesaikan apa yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat.
Sedikit bercerita bahwa cerita ini adalah akhir dari serial Aku, Kamu, dan Lemon. Cerita ini tidak lagi mengisahkan tentang Bram, Widya, Dinda, dan yang lainnya. Cerita ini akan mengisahkan tentang sang penulis dari Aku, Kamu, dan Lemon setelah seri Buku Harian Airin berakhir. Bagaimana ia harus menjalani hidup setelah semuanya berakhir, bagaimana ia harus menyelesaikan dan menjelaskan semua cerita yang sudah ia tulis.
Lalu kenapa cerita ini masih menjadi bagian Aku, Kamu, dan Lemon jika sudah tidak ada lagi para tokoh utama dari cerita tersebut? Mungkin, apa yang dirasakan oleh sang penulis bisa menjadi penutup dari serial ini, dengan catatan telah mendapatkan izin dari beberapa orang yang "namanya" pernah tercantum di cerita sebelumnya.
Untuk kalian yang baru bergabung, mungkin bisa baca seri sebelumnya terlebih dahulu sebelum membaca seri terakhir ini.
AKU, KAMU, DAN LEMON
AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Dan bagi kalian yang sudah mengikuti dari seri pertama, selamat datang kembali. Semoga apa yang menjadi pertanyaan selama ini bisa terjawab, jika tidak terjawab maka lebih baik bertanya di kolom komentar. Satu info terakhir, seri ini akan update 3X dalam seminggu (Senin, Rabu, Jum'at) agar tidak terlalu lama. Enjoy!

Spoiler for Index:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Diubah oleh beavermoon 27-06-2020 18:27
i4munited dan 31 lainnya memberi reputasi
32
27.5K
Kutip
395
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#54
Spoiler for Episode 13:
"Lalu?..."
"..."
"Kenapa kamu mau cerita tentang hal itu?" Tanyaku lagi.
Renata masih terdiam setelah ia menceritakan hal tersebut padaku, wajahnya masih tertunduk tanpa ada sedikitpun pergerakan. Yang ku lihat hanya sesekali ia mengusap dinding gelas menggunakan jari telunjuknya. Aku pun meraih gelas tersebut lalu ku letakkan di atas meja bersampingan dengan botol bir yang hampir kosong. Kali ini aku mencoba untuk menggenggam kedua tangannya, sebisa mungkin aku membuatnya kembali menjadi seperti biasa.
"A... Aku..." Renata mulai berbicara terbata-bata, "takut kalau kamu... marah setelah denger cerita itu..."
"..."
"...Aku takut kalau kamu berubah setelah tau cerita itu. Aku takut kalau kamu menjauh setelah tau cerita itu. Aku takut kalau kamu menghilang setelah tau cerita itu." Jawabnya.
"Renata..."
Ia masih tertunduk. Aku mencoba untuk menegakkan wajahnya, dan lagi-lagi aku melihat Renata meneteskan air mata. Jika ku hitung, dalam sehari ia sudah menangis dua kali dan itu adalah jumlah yang cukup banyak bagiku untuk melihat satu orang menangis dalam sehari.
Ku lepas genggaman tanganku, ku seka air mata yang berlinang di pipinya dengan kedua ibu jariku. Kali ini Renata menatapku, entah hanya perasaanku saja atau kali ini tatapannya berbeda dari biasanya. Aku seperti bisa merasakan rasa yang sangat dalam dari tatapannya dan berhasil membuatku terdiam beberapa saat.
Renata menyandarkan tubuhnya padaku dan juga membuatku bersandar pada sofa bedyang sedang kami duduki. Kami diam untuk beberapa saat, tidak ada suara lain di ruangan ini. Mungkin Renata bisa merasakan seberapa cepat detak jantungku kali ini, aku mencoba untuk mengalihkanya dengan mengusap kepalanya pelan.
"Aku punya cerita. Di sebuah hutan hiduplah 3 anak babi berwarna merah muda bernama Mar, May, dan Mann. 3 anak babi itu hidup rukun, mereka selalu bermain bersama setiap hari. 3 anak babi itu..."
Cerita khayalan ini mulai ku dongengkan, entah kenapa di pikiranku saat ini adalah aku harus bisa menghiburnya meskipun dengan semampu daya khayalku. Namun nampaknya itu berhasil, Renata tertarik dengan apa yang aku ceritakan. Terbukti dengan beberapa kali aku bisa melihat senyumnya, bahkan aku pun bisa melihat tertawa kecilnya. Ia pun merubah posisinya, kali ini ia berani untuk menatap wajahku dengan senyuman yang sudah terpampang di wajahnya. Kali ini aku merasa terjebak karena harus menyelesaikan cerita khayalanku secara cepat.
"...Dan akhirnya May bisa kembali ke hutan. 3 anak babi itu kembali bisa bermain dengan riang gembira seperti dulu kala. Tamat." Kataku.
Renata tertawa kecil. Ia mengapresiasi ceritaku dengan tepuk tangan pelan, "Lucu juga suara mereka loncat itu toing, toing, toing."
"Aku..." Aku menggaruk kepalaku, "ngga tau gimana suara anak babi kalau loncat."
Kembalinya Renata seperti biasa, senyumnya, tatapannya sudah kembali seperti Renata yang aku kenal. Renata yang ku kenal adalah seseorang yang selalu menampakkan keceriaannya. Sejenak aku berpikir, mungkin orang yang selalu tampil ceria adalah orang yang sangat bersedih di dalam hatinya. Dan itulah yang membuatku berpikir tentang Renata saat ini.
"Adrian, makasih ya udah mau menghibur aku dengan cerita anak babi itu." Katanya.
Aku hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepala beberapa kali. Renata bangun dari duduknya, ia berjalan menuju dapur. Lalu ia kembali membawa botol bir lain dan memberikannya padaku. Ia kembali duduk, lalu ia memyalakan TV yang ada di ruang tamu.
"Kamu punya rekomendasi film?" Tanyanya.
"Udah pernah nonton Yes Man?" Kataku padanya.
Renata menggelengkan kepalanya. Ia mulai mencari film tersebut, "Oh, Joel di Eternal Sunshine?"
Aku menganggukkan kepala. Dan akhirnya kami mulai menonton film tersebut. Sebenarnya tidak ada alasan spesifik kenapa aku merekomendasikan film itu untuk ditonton malam ini, hanya karena genre film ini adalah komedi. Aku berusaha mencari hiburan agar Renata bisa setidaknya melupakan sebentar kejadian yang baru saja terjadi, dengan film ini aku berharap akan berhasil.
Dan harapanku sesuai. Selama film diputar, Renata sering tertawa bahkan sesekali ia sampai memukulku pelan. Aku pun ikut tersenyum melihat Renata menikmati film tersebut.
"Yah abis..." ia kembali mengambil remot TV, "kamu mau nonton apa lagi?"
"Gantian sekarang kamu yang tentuin mau nonton apa." Kataku.
"Eh iya tadi pagi Lakers main kan? Kamu udah tau hasilnya?" Kata Renata.
"Udah kok, kalah lagi." Jawabku singkat.
"Mau nonton Re-run?"
Dan akhirnya kami menonton tayangan ulang pertandingan tadi pagi. Renata sudah berada di posisi tidur lengkap dengan bantal dan selimut, sedangkan aku hanya menyandarkan tubuhku saja. Aku larut dalam pertandingan dan mengabaikan Renata hingga quarter pertama selesai. Ku tengok di samping kananku, Renata sudah tertidur entah sedari kapan. Ku kenakan selimut padanya secara menyeluruh, lalu ku dekatkan wajahku padanya.
Ku cium keningnya secara perlahan agar tidak membangunkannya, "Semoga kamu selalu bahagia."
Aku pun kembali menonton pertandingan tersebut.
*
Mataku terbuka, beberapa kali aku mengedipkan mata tanpa melakukan pergerakan dari tubuhku. Ku tatap langit-langit, berbeda kali ini. Aku teringat bahwa aku sedang berada di apartemen Renata, bukan di rumahku. Aku menengok ke arah kanan di mana Renata tertidur semalam, ia tidak ada. Aku pun duduk, dan melihat ke arah sekitar.
"Pagi Adrian..."
Renata keluar dari kamarnya, ia bersandar pada pintu sambil melihat ke arahku. Aku pun tersenyum lalu aku kembali berbaring, rasanya masih malas untuk bangun jika hari libur. Renata menghampiriku, ia pun ikut berbaring di sampingku.
"Kamu masih ngantuk?" Tanyanya.
"Ngga sih cuma mau rebahan aja, mumpung libur." Kataku.
Aku memejamkan mata untuk beberapa saat. Aku kembali membuka kedua mataku, ku hadapkan wajahku ke kanan mengarah ke Renata. Ia menatapku, tak ketinggalan senyumnya yang bisa membuatku terdiam. Bukan berarti pikiranku kosong tak berpikir, namun angan-anganku melambung tinggi entah kenapa. Sebentar saja, aku ingin sekedar berangan-angan.
Kedipan mataku cukup untuk menghentikan angan-angan yang bahkan belum ku mulai. Aku tidak mau terjebak dalam keindahan yang semu, aku takut akan berpengaruh pada kehidupan yang nyata ini. Sebuah realita yang bisa menjadi batas antara aku dan Renata. Batas yang sebenarnya bisa saja ku tembus, namun akan ada pengorbanan yang sangat besar. Entah aku, entah Renata, entah kita yang harus berkorban.
Apakah pantas? Sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku jawab, terlalu luas aspek yang ada untuk ku jawab. Terlalu egois jika aku hanya ingin memiliknya, namun terlalu egois juga jika kita hanya berjalan seperti ini. Kembali aku berpikir tentang keegoisan, dimana aku pun sebagai pelaku melakukan sesuatu yang egois dengan membiarkan semua ini terjadi begitu saja. Aku pun sebagai pelaku juga bisa egois jika aku harus memiliki apa yang aku inginkan, termasuk Renata.
"Jangan melamun..."
Kembali pada kenyataan. Di hadapanku ada Renata, seorang wanita yang luar biasa. Seseorang yang mampu membuatku kembali percaya pada cinta. Klise, berlebihan, naif. Ya, memang terlihat seperti itu. Tapi itulah yang aku rasakan, bersama dengannya aku bisa kembali percaya.
"Kamu mau kemana hari ini?" Tanyaku.
"Mau kemana ya?..." sejenak Renata berpikir, "ngga tau, kamu?"
"Kamu mending siap-siap aja, kita berangkat sekarang mumpung masih pagi." Kataku.
"Ini masih setengah 6 Adrian, kita mau kemana?" Tanyanya heran.
Tanpa menjawab pertanyaannya aku pun mencuci muka dan bersiap-siap, Renata yang melihat hal itu pun dengan cepat mulai bersiap-siap. Pukul 6 pagi, kami pun sudah melaju bersama Syailendra. Jalanan masih sangat sepi, mungkin karena ini akhir pekan. Kecepatan motor ini cukup cepat dibandingkan dengan biasanya.
"Tumben kamu ngebut, kita mau kemana emang?" Tanya Renata.
"Rahasia." Jawabku singkat.
Renata hanya bisa mengikutiku tanpa tau tujuan yang sebenarnya. Beberapa jam di perjalanan, aku pun tersadar. Mungkin ini pertama kalinya Renata duduk di atas motor dalam waktu yang lama.
"Kamu pegel ngga?" Tanyaku.
"Lumayan, masih jauh ngga?" Tanyanya.
"Bagi aku sih bentar lagi kita sampai, cuma kalau kamu mau istirahat kita cari tempat makan aja dulu." Kataku.
"Eh, kalau bentar lagi mending lanjutin aja deh. Tanggung kalau kita berhenti dulu." Kata Renata.
Aku pun menuruti permintaannya. Jalanan yang besar, berubah menjadi jalanan yang hanya muat untuk satu mobil. Jika bertemu maka akan bergantian untuk melalui jalanan ini. Pemandangan pun berubah, yang awalnya bangunan-bangunan tinggi menjadi pepohonan yang rindang. Dan akhirnya kami pun tiba setelah menempuh beberapa jam perjalanan. Aku mulai memarkirkan Syailendra di tempat parkiran. Setelah meletakkan helm, kami berjalan beberapa meter hingga Renata menyadari apa tempat ini.
"Pantai?..." raut wajahnya nampak senang, "kamu ngajak aku ke pantai?"
Aku mengangguk sambil tersenyum. Renata menggenggam tanganku lalu berjalan dengan cepat. Aku dan Renata sama-sama melepas sepatu kami, kemudian ia mengajakku untuk berjalan mendekati air.
Ombak pantai pun menyambut kami, dan nampaknya cuaca hari ini pun mendukung dengan panasnya yang tidak terlalu terik. Aku memandangi hamparan laut yang sangat luas, biru, indah, Renata.
"Adrian, sini."
Aku pernah membaca sebuah buku bertuliskan tinta hitam dengan pulpen. Hampir sebagian besar isi buku tersebut menceritakan tentang seseorang yang bisa jatuh cinta hanya dengan sebuah senyuman. Buku itu akhirnya ku tulis ulang, terkadang saat aku kembali menulisnya ada rasa tidak percaya. Bagaimana bisa ia jatuh cinta hanya dengan sebuah senyuman, sebuah hal yang menurutku mustahil untuk mencintai tanpa tau bagaimana orang tersebut.
Semuanya terpatahkan, aku pun akhirnya percaya pada cerita itu. Jatuh cinta hanya dengan sebuah senyuman. Bahkan kata-kata sang penulis pun ikut merasuki alam bawah sadarku.
"Senyuman yang mematikan..."
Aku pun akhirnya menghampiri Renata yang sudah bermain air terlebih dahulu. Tak jarang cipratan air pun melambung tinggi entah dariku, entah dari Renata, hingga membuat pakaian kami sedikit basah.
Hari semakin siang, kami memutuskan untuk menyudahi permainan air karena kebasahan dan juga terik matahari. Renata sudah berganti baju terlebih dahulu di kamar ganti, kemudian ia menghampiriku di bawah pohon kelapa.
"Kamu ngga ganti baju?" Tanyanya.
"Oh kamu udahan? Bentar." Kataku.
Aku membalikkan badanku lalu membuka baju, ku berikan baju basah itu kepada Renata tanpa melihatnya. Lalu aku mengambil baju yang kering dari dalam tas yang kami bawa, dengan cepat aku kembali memakai baju tersebut.
"Aku baru tau kalau kamu suka olahraga." Kata Renata.
Aku membalikkan badan ke arah Renata, "Tau darimana?"
"Your back..." Renata mengalihkan pandangannya ke arah laut, "looks great."
Aku bingung bagaimana harus menanggapi perkataannya barusan. Alhasil tanpa tanggapan, aku mengajak Renata untuk berjalan menuju sebuah rumah makan yang ada di dekat pantai ini. Hanya membutuhkan beberapa menit berjalan untuk kami sampai di rumah makan.
"Ini seenak yang kemarin ngga Adrian?" Tanya Renata.
"Aku dapet rekomendasi katanya di sini enak juga kok." Kataku.
Kami pun mulai memesan makanan di tempat ini. Menunggu beberapa saat sambil memandangi lautan menjadi tidak terasa lama, sampai akhirnya makanan yang kami pesan pun disajikan di atas meja.
"Adrian, ini lebih enak dari tempat kemarin. Sayang banget tempatnya jauh." Kata Renata.
Aku hanya bisa tersenyum kepadanya, lalu kemudian kami menghabiskan semua makanan yang kami pesan. Waktu berjalan lebih cepat dari yang ku bayangkan, siang berganti menjadi sore. Kami keluar dari rumah makan tersebut.
"Kita pulang?" Tanya Renata.
"Not this time..." Aku menggandeng tangan Renata, "satu tempat lagi baru kita bisa pulang."
Kami berjalan menyusuri pantai. Angin lumayan kencang pada sore hari ini, sehingga membuat Renata beberapa kali harus menyeka wajahnya agar tidak tertutup rambutnya. Aku yang melihat hal tersebut langsung merogoh saku celanaku, kemudian ku berikan sebuah karet gelang kepadanya. Hanya karet gelang biasa berwarna merah yang biasa digunakan untuk nasi bungkus.
Renata sempat tersenyum melihat apa yang kuberikan, "Makasih Adrian, aku aja lupa bawa kunciran."
Kami berhenti sejenak, Renata menyempatkan untuk mengikat rambutnya. Ia mengangkat kedua tangannya lalu mengikat rambutnya ke arah belakang. Untuk kalian pembaca cerita ini terutama laki-laki, apakah kalian merasakan hal yang sama ketika melihat seorang perempuan mengikat rambutnya? Coba kalian bayangkan perempuan yang kalian suka sedang mengikat rambut di depan kalian, apakah kalian merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan kali ini? Jika sama berarti saya tidak sendirian.
"Gimana?"
Aku melihat ke arah Renata, rambutnya sudah terkuncir ke belakang dan jujur saja ini pertama kalinya aku melihat gaya rambutnya yang berbeda. Beberapa saat aku terdiam, "Cantik."
Renata tersenyum, dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju tempat terakhir sebelum pulang. Beberapa menit kami berjalan, pemandangan mulai berubah. Dari yang awalnya hamparan pasir menjadi batu-batu karang, namun tidak meninggalkan kesan indah.
Ku gandeng tangannya mendekat ke arah batu karang, kami pun berjalan di sebuah papan kayu memanjang ke arah laut. Beruntungnya tidak banyak orang pada sore ini.
"Wah, aku baru tau di sini ada dermaga." Kata Renata.
Ia berjalan menuju ujung dermaga ini seorang diri, aku hanya mengikutinya dari belakang dengan langkah pelan. Tampak senyuman di wajah Renata yang sedang memandang jauh ke arah lautan.
"Adrian, ini bagus banget." Katanya.
Aku pun berdiri di sampingnya, ikut memandangi hamparan laut yang luas. Kemudian aku menatap wajahnya, "Masih rekomendasi dari orang yang sama, aku juga tau dari dia."
"Emang siapa yang rekomendasi?..." Renata menatapku, "berarti dia tau banget tempat untuk liburan."
"Mungkin kamu tau siapa orangnya." Kataku.
Renata mengernyitkan dahinya, ia nampak berpikir siapa orang yang mungkin ia kenal. Beberapa saat ia terdiam, kemudian ia menatap ke belakang dimana dermaga panjang ini berdiri. Ia membuka matanya lebar, menarik nafas panjang, lalu menutup mulutnya dengan tangannya. Ia kembali menatapku dengan ekspresi tidak percaya, "Widya... Bram..."
Ku anggukkan kepalaku beberapa kali. Dan di sinilah kami sekarang, sebuah tempat yang pernah menjadi saksi. Dua orang yang pernah memendam rasa dan membiarkan perasaan itu begitu saja. Kami pun sama seperti dua orang itu, masih memendam rasa entah sampai kapan. Mungkin saja aku akan lebih dulu mengungkapkan perasaanku padanya, mungkin saja Renata yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya.
*
Ku matikan mesin motor ini, Renata pun terlebih dahulu. Pintu garasi terbuka lalu aku memasukkan motor ke dalamnya. Renata membuka pintu rumah, aku menyusul dari belakang hingga tiba di kamarku. Ku letakkan tas di tempat biasa, kemudian aku duduk di sofa. Renata keluar dari kamar mandi setelah mengganti bajunya.
"Kamu ngga ganti baju?..." Renata memberi baju dari lemariku, "ganti dulu, sini bajunya."
Aku berdiri dengan malas lalu membuka baju dan memberikan kepadanya. Kemudian Renata meletakkan baju kotor di tempatnya selagi aku mengenakan baju yang ia berikan. Aku kembali duduk diikuti oleh Renata.
"Aku masih ngga nyangka kita bisa ke tempat itu. Aku pikir tempat-tempat itu cuma khayalan aja, ternyata beneran ada." Katanya.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Renata meletakkan tas make-up miliknya di atas meja, ia mulai mengeluarkan beberapa alat yang aku tidak tau itu apa. Ku ambil karet gelang yang sore tadi ia kenakan di sana, aku mencoba untuk mengikat rambutnya dari belakang.
"Kamu bisa?" Tanyanya.
"Ngga ada salahnya buat nyoba." Kataku.
Ternyata hal yang menurutku sederhana ini cukup sulit untuk ku lakukan, beberapa kali percobaan ku lakukan namun hasilnya tidak seperti yang ku harapkan.
"Udah nggapapa begitu aja." Kata Renata.
Renata mulai membersihkan wajahnya, entah apa yang ia lakukan. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya selesai. Ia pun membalikkan badannya padaku, ia kembali mempersiapkan alat tersebut.
"Kamu bersihin muka dua kali?" Tanyaku penasaran.
"Ngga, kalau yang ini buat kamu." Katanya.
"Buat aku?..." aku menjauhkan wajahku darinya, "ngga usah lah kamu aja mendingan."
"Ih Adrian, laki-laki tuh harus bersihin muka juga." Katanya.
"Kan udah ada sabun muka di kamar mandi, cukup lah pakai itu aja." Sanggahku lagi.
Renata menatapku dalam diam. Akhirnya aku hanya bisa pasrah membiarkan Renata melakukannya, meskipun hati ini menolak seutuhnya. Rasanya cukup aneh, mungkin karena aku tidak terbiasa dengan hal tersebut.
"Tutup matanya..."
Aku mulai menutup kedua mataku, Renata mulai melakukannya lagi. Terasa cukup dingin ketika bagian mataku dibersihkan, rasa yang benar-benar aneh.
"Tuh kamu liat deh..." Renata memperlihatkan kapas yang baru saja ia gunakan kepadaku, "jadi kamu pikir sabun muka aja cukup?"
Aku membuka mataku lalu melihat kapas tersebut, "Kotor juga ya ternyata."
"Yaudah kamu tutup mata lagi, aku belum selesai." Katanya.
Aku kembali menutup mataku sesuai perintahnya. Aku bisa merasakan ada pergerakan dari sofa ini, mungkin Renata sedang bangun. Aku pun masih menunggu Renata untuk membersihkan wajahku, cukup aneh karena tidak terasa apa-apa.
Kepalaku dihadapkan ke atas dengan kedua tangan Renata di pipiku, aku cukup terkejut ketika ia bukan kembali membersihkan wajahku melainkan ia menciumku. Ku buka mataku dengan cepat, di hadapanku kini ada wajah Renata yang sedang memejamkan mata dan masih menciumku. Ia pun membuka matanya dan memberi jarak antara bibir kami hanya beberapa sentimeter. Kami hanya saling menatap dalam diam, tidak ada suara lain yang dapat ku dengar. Ia mengalungkan tangannya di belakang leherku sedangkan aku mengalungkan tanganku di punggungnya, ia kembali menciumku.
Mungkin hingga saat ini ada yang bertanya, kenapa aku tidak pernah menyatakan perasaanku padanya. Mungkin ada juga yang bertanya kenapa Renata pun tidak menyatakan perasaanya. Atau mungkin ada yang bertanya, kenapa kami bisa melakukan hal yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh pasangan tetapi kami bisa melakukannya meskipun bukan pasangan.
Sederhana, jawabannya aku tidak bisa. Bukan aku tidak mau, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Dan semisal aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya, lantas bagaimana ke depannya?
Aku selalu bercerita bahwa Renata adalah seseorang yang bisa membuatku kembali percaya akan cinta, namun dengan perbedaan yang ku alami saat ini ada rasa takut yang kembali muncul. Bukan rasa takut untuk kehilangan, namun ketakutan untuk terus bersama.
Mungkin kalian pikir perbedaan dalam kebersamaan itu indah, sayangnya tidak semua orang bisa merasakan itu. Bisa saja aku berpikiran positif, dan aku bilang kita bisa bersama dalam perbedaan. Namun semakin ke sini pikiranku lebih ke arah realistis, aku tidak bisa hidup dalam angan-angan layaknya dongeng dengan akhir yang bahagia. Kenyataan yang ku alami saat ini dan keputusan yang ku ambil akan berpengaruh di kehidupanku kelak, Butterfly Effect.
Lantas bagaimana?
***
"..."
"Kenapa kamu mau cerita tentang hal itu?" Tanyaku lagi.
Renata masih terdiam setelah ia menceritakan hal tersebut padaku, wajahnya masih tertunduk tanpa ada sedikitpun pergerakan. Yang ku lihat hanya sesekali ia mengusap dinding gelas menggunakan jari telunjuknya. Aku pun meraih gelas tersebut lalu ku letakkan di atas meja bersampingan dengan botol bir yang hampir kosong. Kali ini aku mencoba untuk menggenggam kedua tangannya, sebisa mungkin aku membuatnya kembali menjadi seperti biasa.
"A... Aku..." Renata mulai berbicara terbata-bata, "takut kalau kamu... marah setelah denger cerita itu..."
"..."
"...Aku takut kalau kamu berubah setelah tau cerita itu. Aku takut kalau kamu menjauh setelah tau cerita itu. Aku takut kalau kamu menghilang setelah tau cerita itu." Jawabnya.
"Renata..."
Ia masih tertunduk. Aku mencoba untuk menegakkan wajahnya, dan lagi-lagi aku melihat Renata meneteskan air mata. Jika ku hitung, dalam sehari ia sudah menangis dua kali dan itu adalah jumlah yang cukup banyak bagiku untuk melihat satu orang menangis dalam sehari.
Ku lepas genggaman tanganku, ku seka air mata yang berlinang di pipinya dengan kedua ibu jariku. Kali ini Renata menatapku, entah hanya perasaanku saja atau kali ini tatapannya berbeda dari biasanya. Aku seperti bisa merasakan rasa yang sangat dalam dari tatapannya dan berhasil membuatku terdiam beberapa saat.
Renata menyandarkan tubuhnya padaku dan juga membuatku bersandar pada sofa bedyang sedang kami duduki. Kami diam untuk beberapa saat, tidak ada suara lain di ruangan ini. Mungkin Renata bisa merasakan seberapa cepat detak jantungku kali ini, aku mencoba untuk mengalihkanya dengan mengusap kepalanya pelan.
"Aku punya cerita. Di sebuah hutan hiduplah 3 anak babi berwarna merah muda bernama Mar, May, dan Mann. 3 anak babi itu hidup rukun, mereka selalu bermain bersama setiap hari. 3 anak babi itu..."
Cerita khayalan ini mulai ku dongengkan, entah kenapa di pikiranku saat ini adalah aku harus bisa menghiburnya meskipun dengan semampu daya khayalku. Namun nampaknya itu berhasil, Renata tertarik dengan apa yang aku ceritakan. Terbukti dengan beberapa kali aku bisa melihat senyumnya, bahkan aku pun bisa melihat tertawa kecilnya. Ia pun merubah posisinya, kali ini ia berani untuk menatap wajahku dengan senyuman yang sudah terpampang di wajahnya. Kali ini aku merasa terjebak karena harus menyelesaikan cerita khayalanku secara cepat.
"...Dan akhirnya May bisa kembali ke hutan. 3 anak babi itu kembali bisa bermain dengan riang gembira seperti dulu kala. Tamat." Kataku.
Renata tertawa kecil. Ia mengapresiasi ceritaku dengan tepuk tangan pelan, "Lucu juga suara mereka loncat itu toing, toing, toing."
"Aku..." Aku menggaruk kepalaku, "ngga tau gimana suara anak babi kalau loncat."
Kembalinya Renata seperti biasa, senyumnya, tatapannya sudah kembali seperti Renata yang aku kenal. Renata yang ku kenal adalah seseorang yang selalu menampakkan keceriaannya. Sejenak aku berpikir, mungkin orang yang selalu tampil ceria adalah orang yang sangat bersedih di dalam hatinya. Dan itulah yang membuatku berpikir tentang Renata saat ini.
"Adrian, makasih ya udah mau menghibur aku dengan cerita anak babi itu." Katanya.
Aku hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepala beberapa kali. Renata bangun dari duduknya, ia berjalan menuju dapur. Lalu ia kembali membawa botol bir lain dan memberikannya padaku. Ia kembali duduk, lalu ia memyalakan TV yang ada di ruang tamu.
"Kamu punya rekomendasi film?" Tanyanya.
"Udah pernah nonton Yes Man?" Kataku padanya.
Renata menggelengkan kepalanya. Ia mulai mencari film tersebut, "Oh, Joel di Eternal Sunshine?"
Aku menganggukkan kepala. Dan akhirnya kami mulai menonton film tersebut. Sebenarnya tidak ada alasan spesifik kenapa aku merekomendasikan film itu untuk ditonton malam ini, hanya karena genre film ini adalah komedi. Aku berusaha mencari hiburan agar Renata bisa setidaknya melupakan sebentar kejadian yang baru saja terjadi, dengan film ini aku berharap akan berhasil.
Dan harapanku sesuai. Selama film diputar, Renata sering tertawa bahkan sesekali ia sampai memukulku pelan. Aku pun ikut tersenyum melihat Renata menikmati film tersebut.
"Yah abis..." ia kembali mengambil remot TV, "kamu mau nonton apa lagi?"
"Gantian sekarang kamu yang tentuin mau nonton apa." Kataku.
"Eh iya tadi pagi Lakers main kan? Kamu udah tau hasilnya?" Kata Renata.
"Udah kok, kalah lagi." Jawabku singkat.
"Mau nonton Re-run?"
Dan akhirnya kami menonton tayangan ulang pertandingan tadi pagi. Renata sudah berada di posisi tidur lengkap dengan bantal dan selimut, sedangkan aku hanya menyandarkan tubuhku saja. Aku larut dalam pertandingan dan mengabaikan Renata hingga quarter pertama selesai. Ku tengok di samping kananku, Renata sudah tertidur entah sedari kapan. Ku kenakan selimut padanya secara menyeluruh, lalu ku dekatkan wajahku padanya.
Ku cium keningnya secara perlahan agar tidak membangunkannya, "Semoga kamu selalu bahagia."
Aku pun kembali menonton pertandingan tersebut.
*
Mataku terbuka, beberapa kali aku mengedipkan mata tanpa melakukan pergerakan dari tubuhku. Ku tatap langit-langit, berbeda kali ini. Aku teringat bahwa aku sedang berada di apartemen Renata, bukan di rumahku. Aku menengok ke arah kanan di mana Renata tertidur semalam, ia tidak ada. Aku pun duduk, dan melihat ke arah sekitar.
"Pagi Adrian..."
Renata keluar dari kamarnya, ia bersandar pada pintu sambil melihat ke arahku. Aku pun tersenyum lalu aku kembali berbaring, rasanya masih malas untuk bangun jika hari libur. Renata menghampiriku, ia pun ikut berbaring di sampingku.
"Kamu masih ngantuk?" Tanyanya.
"Ngga sih cuma mau rebahan aja, mumpung libur." Kataku.
Aku memejamkan mata untuk beberapa saat. Aku kembali membuka kedua mataku, ku hadapkan wajahku ke kanan mengarah ke Renata. Ia menatapku, tak ketinggalan senyumnya yang bisa membuatku terdiam. Bukan berarti pikiranku kosong tak berpikir, namun angan-anganku melambung tinggi entah kenapa. Sebentar saja, aku ingin sekedar berangan-angan.
Kedipan mataku cukup untuk menghentikan angan-angan yang bahkan belum ku mulai. Aku tidak mau terjebak dalam keindahan yang semu, aku takut akan berpengaruh pada kehidupan yang nyata ini. Sebuah realita yang bisa menjadi batas antara aku dan Renata. Batas yang sebenarnya bisa saja ku tembus, namun akan ada pengorbanan yang sangat besar. Entah aku, entah Renata, entah kita yang harus berkorban.
Apakah pantas? Sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku jawab, terlalu luas aspek yang ada untuk ku jawab. Terlalu egois jika aku hanya ingin memiliknya, namun terlalu egois juga jika kita hanya berjalan seperti ini. Kembali aku berpikir tentang keegoisan, dimana aku pun sebagai pelaku melakukan sesuatu yang egois dengan membiarkan semua ini terjadi begitu saja. Aku pun sebagai pelaku juga bisa egois jika aku harus memiliki apa yang aku inginkan, termasuk Renata.
"Jangan melamun..."
Kembali pada kenyataan. Di hadapanku ada Renata, seorang wanita yang luar biasa. Seseorang yang mampu membuatku kembali percaya pada cinta. Klise, berlebihan, naif. Ya, memang terlihat seperti itu. Tapi itulah yang aku rasakan, bersama dengannya aku bisa kembali percaya.
"Kamu mau kemana hari ini?" Tanyaku.
"Mau kemana ya?..." sejenak Renata berpikir, "ngga tau, kamu?"
"Kamu mending siap-siap aja, kita berangkat sekarang mumpung masih pagi." Kataku.
"Ini masih setengah 6 Adrian, kita mau kemana?" Tanyanya heran.
Tanpa menjawab pertanyaannya aku pun mencuci muka dan bersiap-siap, Renata yang melihat hal itu pun dengan cepat mulai bersiap-siap. Pukul 6 pagi, kami pun sudah melaju bersama Syailendra. Jalanan masih sangat sepi, mungkin karena ini akhir pekan. Kecepatan motor ini cukup cepat dibandingkan dengan biasanya.
"Tumben kamu ngebut, kita mau kemana emang?" Tanya Renata.
"Rahasia." Jawabku singkat.
Renata hanya bisa mengikutiku tanpa tau tujuan yang sebenarnya. Beberapa jam di perjalanan, aku pun tersadar. Mungkin ini pertama kalinya Renata duduk di atas motor dalam waktu yang lama.
"Kamu pegel ngga?" Tanyaku.
"Lumayan, masih jauh ngga?" Tanyanya.
"Bagi aku sih bentar lagi kita sampai, cuma kalau kamu mau istirahat kita cari tempat makan aja dulu." Kataku.
"Eh, kalau bentar lagi mending lanjutin aja deh. Tanggung kalau kita berhenti dulu." Kata Renata.
Aku pun menuruti permintaannya. Jalanan yang besar, berubah menjadi jalanan yang hanya muat untuk satu mobil. Jika bertemu maka akan bergantian untuk melalui jalanan ini. Pemandangan pun berubah, yang awalnya bangunan-bangunan tinggi menjadi pepohonan yang rindang. Dan akhirnya kami pun tiba setelah menempuh beberapa jam perjalanan. Aku mulai memarkirkan Syailendra di tempat parkiran. Setelah meletakkan helm, kami berjalan beberapa meter hingga Renata menyadari apa tempat ini.
"Pantai?..." raut wajahnya nampak senang, "kamu ngajak aku ke pantai?"
Aku mengangguk sambil tersenyum. Renata menggenggam tanganku lalu berjalan dengan cepat. Aku dan Renata sama-sama melepas sepatu kami, kemudian ia mengajakku untuk berjalan mendekati air.
Ombak pantai pun menyambut kami, dan nampaknya cuaca hari ini pun mendukung dengan panasnya yang tidak terlalu terik. Aku memandangi hamparan laut yang sangat luas, biru, indah, Renata.
"Adrian, sini."
Aku pernah membaca sebuah buku bertuliskan tinta hitam dengan pulpen. Hampir sebagian besar isi buku tersebut menceritakan tentang seseorang yang bisa jatuh cinta hanya dengan sebuah senyuman. Buku itu akhirnya ku tulis ulang, terkadang saat aku kembali menulisnya ada rasa tidak percaya. Bagaimana bisa ia jatuh cinta hanya dengan sebuah senyuman, sebuah hal yang menurutku mustahil untuk mencintai tanpa tau bagaimana orang tersebut.
Semuanya terpatahkan, aku pun akhirnya percaya pada cerita itu. Jatuh cinta hanya dengan sebuah senyuman. Bahkan kata-kata sang penulis pun ikut merasuki alam bawah sadarku.
"Senyuman yang mematikan..."
Aku pun akhirnya menghampiri Renata yang sudah bermain air terlebih dahulu. Tak jarang cipratan air pun melambung tinggi entah dariku, entah dari Renata, hingga membuat pakaian kami sedikit basah.
Hari semakin siang, kami memutuskan untuk menyudahi permainan air karena kebasahan dan juga terik matahari. Renata sudah berganti baju terlebih dahulu di kamar ganti, kemudian ia menghampiriku di bawah pohon kelapa.
"Kamu ngga ganti baju?" Tanyanya.
"Oh kamu udahan? Bentar." Kataku.
Aku membalikkan badanku lalu membuka baju, ku berikan baju basah itu kepada Renata tanpa melihatnya. Lalu aku mengambil baju yang kering dari dalam tas yang kami bawa, dengan cepat aku kembali memakai baju tersebut.
"Aku baru tau kalau kamu suka olahraga." Kata Renata.
Aku membalikkan badan ke arah Renata, "Tau darimana?"
"Your back..." Renata mengalihkan pandangannya ke arah laut, "looks great."
Aku bingung bagaimana harus menanggapi perkataannya barusan. Alhasil tanpa tanggapan, aku mengajak Renata untuk berjalan menuju sebuah rumah makan yang ada di dekat pantai ini. Hanya membutuhkan beberapa menit berjalan untuk kami sampai di rumah makan.
"Ini seenak yang kemarin ngga Adrian?" Tanya Renata.
"Aku dapet rekomendasi katanya di sini enak juga kok." Kataku.
Kami pun mulai memesan makanan di tempat ini. Menunggu beberapa saat sambil memandangi lautan menjadi tidak terasa lama, sampai akhirnya makanan yang kami pesan pun disajikan di atas meja.
"Adrian, ini lebih enak dari tempat kemarin. Sayang banget tempatnya jauh." Kata Renata.
Aku hanya bisa tersenyum kepadanya, lalu kemudian kami menghabiskan semua makanan yang kami pesan. Waktu berjalan lebih cepat dari yang ku bayangkan, siang berganti menjadi sore. Kami keluar dari rumah makan tersebut.
"Kita pulang?" Tanya Renata.
"Not this time..." Aku menggandeng tangan Renata, "satu tempat lagi baru kita bisa pulang."
Kami berjalan menyusuri pantai. Angin lumayan kencang pada sore hari ini, sehingga membuat Renata beberapa kali harus menyeka wajahnya agar tidak tertutup rambutnya. Aku yang melihat hal tersebut langsung merogoh saku celanaku, kemudian ku berikan sebuah karet gelang kepadanya. Hanya karet gelang biasa berwarna merah yang biasa digunakan untuk nasi bungkus.
Renata sempat tersenyum melihat apa yang kuberikan, "Makasih Adrian, aku aja lupa bawa kunciran."
Kami berhenti sejenak, Renata menyempatkan untuk mengikat rambutnya. Ia mengangkat kedua tangannya lalu mengikat rambutnya ke arah belakang. Untuk kalian pembaca cerita ini terutama laki-laki, apakah kalian merasakan hal yang sama ketika melihat seorang perempuan mengikat rambutnya? Coba kalian bayangkan perempuan yang kalian suka sedang mengikat rambut di depan kalian, apakah kalian merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan kali ini? Jika sama berarti saya tidak sendirian.
"Gimana?"
Aku melihat ke arah Renata, rambutnya sudah terkuncir ke belakang dan jujur saja ini pertama kalinya aku melihat gaya rambutnya yang berbeda. Beberapa saat aku terdiam, "Cantik."
Renata tersenyum, dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju tempat terakhir sebelum pulang. Beberapa menit kami berjalan, pemandangan mulai berubah. Dari yang awalnya hamparan pasir menjadi batu-batu karang, namun tidak meninggalkan kesan indah.
Ku gandeng tangannya mendekat ke arah batu karang, kami pun berjalan di sebuah papan kayu memanjang ke arah laut. Beruntungnya tidak banyak orang pada sore ini.
"Wah, aku baru tau di sini ada dermaga." Kata Renata.
Ia berjalan menuju ujung dermaga ini seorang diri, aku hanya mengikutinya dari belakang dengan langkah pelan. Tampak senyuman di wajah Renata yang sedang memandang jauh ke arah lautan.
"Adrian, ini bagus banget." Katanya.
Aku pun berdiri di sampingnya, ikut memandangi hamparan laut yang luas. Kemudian aku menatap wajahnya, "Masih rekomendasi dari orang yang sama, aku juga tau dari dia."
"Emang siapa yang rekomendasi?..." Renata menatapku, "berarti dia tau banget tempat untuk liburan."
"Mungkin kamu tau siapa orangnya." Kataku.
Renata mengernyitkan dahinya, ia nampak berpikir siapa orang yang mungkin ia kenal. Beberapa saat ia terdiam, kemudian ia menatap ke belakang dimana dermaga panjang ini berdiri. Ia membuka matanya lebar, menarik nafas panjang, lalu menutup mulutnya dengan tangannya. Ia kembali menatapku dengan ekspresi tidak percaya, "Widya... Bram..."
Ku anggukkan kepalaku beberapa kali. Dan di sinilah kami sekarang, sebuah tempat yang pernah menjadi saksi. Dua orang yang pernah memendam rasa dan membiarkan perasaan itu begitu saja. Kami pun sama seperti dua orang itu, masih memendam rasa entah sampai kapan. Mungkin saja aku akan lebih dulu mengungkapkan perasaanku padanya, mungkin saja Renata yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya.
*
Ku matikan mesin motor ini, Renata pun terlebih dahulu. Pintu garasi terbuka lalu aku memasukkan motor ke dalamnya. Renata membuka pintu rumah, aku menyusul dari belakang hingga tiba di kamarku. Ku letakkan tas di tempat biasa, kemudian aku duduk di sofa. Renata keluar dari kamar mandi setelah mengganti bajunya.
"Kamu ngga ganti baju?..." Renata memberi baju dari lemariku, "ganti dulu, sini bajunya."
Aku berdiri dengan malas lalu membuka baju dan memberikan kepadanya. Kemudian Renata meletakkan baju kotor di tempatnya selagi aku mengenakan baju yang ia berikan. Aku kembali duduk diikuti oleh Renata.
"Aku masih ngga nyangka kita bisa ke tempat itu. Aku pikir tempat-tempat itu cuma khayalan aja, ternyata beneran ada." Katanya.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Renata meletakkan tas make-up miliknya di atas meja, ia mulai mengeluarkan beberapa alat yang aku tidak tau itu apa. Ku ambil karet gelang yang sore tadi ia kenakan di sana, aku mencoba untuk mengikat rambutnya dari belakang.
"Kamu bisa?" Tanyanya.
"Ngga ada salahnya buat nyoba." Kataku.
Ternyata hal yang menurutku sederhana ini cukup sulit untuk ku lakukan, beberapa kali percobaan ku lakukan namun hasilnya tidak seperti yang ku harapkan.
"Udah nggapapa begitu aja." Kata Renata.
Renata mulai membersihkan wajahnya, entah apa yang ia lakukan. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya selesai. Ia pun membalikkan badannya padaku, ia kembali mempersiapkan alat tersebut.
"Kamu bersihin muka dua kali?" Tanyaku penasaran.
"Ngga, kalau yang ini buat kamu." Katanya.
"Buat aku?..." aku menjauhkan wajahku darinya, "ngga usah lah kamu aja mendingan."
"Ih Adrian, laki-laki tuh harus bersihin muka juga." Katanya.
"Kan udah ada sabun muka di kamar mandi, cukup lah pakai itu aja." Sanggahku lagi.
Renata menatapku dalam diam. Akhirnya aku hanya bisa pasrah membiarkan Renata melakukannya, meskipun hati ini menolak seutuhnya. Rasanya cukup aneh, mungkin karena aku tidak terbiasa dengan hal tersebut.
"Tutup matanya..."
Aku mulai menutup kedua mataku, Renata mulai melakukannya lagi. Terasa cukup dingin ketika bagian mataku dibersihkan, rasa yang benar-benar aneh.
"Tuh kamu liat deh..." Renata memperlihatkan kapas yang baru saja ia gunakan kepadaku, "jadi kamu pikir sabun muka aja cukup?"
Aku membuka mataku lalu melihat kapas tersebut, "Kotor juga ya ternyata."
"Yaudah kamu tutup mata lagi, aku belum selesai." Katanya.
Aku kembali menutup mataku sesuai perintahnya. Aku bisa merasakan ada pergerakan dari sofa ini, mungkin Renata sedang bangun. Aku pun masih menunggu Renata untuk membersihkan wajahku, cukup aneh karena tidak terasa apa-apa.
Kepalaku dihadapkan ke atas dengan kedua tangan Renata di pipiku, aku cukup terkejut ketika ia bukan kembali membersihkan wajahku melainkan ia menciumku. Ku buka mataku dengan cepat, di hadapanku kini ada wajah Renata yang sedang memejamkan mata dan masih menciumku. Ia pun membuka matanya dan memberi jarak antara bibir kami hanya beberapa sentimeter. Kami hanya saling menatap dalam diam, tidak ada suara lain yang dapat ku dengar. Ia mengalungkan tangannya di belakang leherku sedangkan aku mengalungkan tanganku di punggungnya, ia kembali menciumku.
Mungkin hingga saat ini ada yang bertanya, kenapa aku tidak pernah menyatakan perasaanku padanya. Mungkin ada juga yang bertanya kenapa Renata pun tidak menyatakan perasaanya. Atau mungkin ada yang bertanya, kenapa kami bisa melakukan hal yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh pasangan tetapi kami bisa melakukannya meskipun bukan pasangan.
Sederhana, jawabannya aku tidak bisa. Bukan aku tidak mau, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Dan semisal aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya, lantas bagaimana ke depannya?
Aku selalu bercerita bahwa Renata adalah seseorang yang bisa membuatku kembali percaya akan cinta, namun dengan perbedaan yang ku alami saat ini ada rasa takut yang kembali muncul. Bukan rasa takut untuk kehilangan, namun ketakutan untuk terus bersama.
Mungkin kalian pikir perbedaan dalam kebersamaan itu indah, sayangnya tidak semua orang bisa merasakan itu. Bisa saja aku berpikiran positif, dan aku bilang kita bisa bersama dalam perbedaan. Namun semakin ke sini pikiranku lebih ke arah realistis, aku tidak bisa hidup dalam angan-angan layaknya dongeng dengan akhir yang bahagia. Kenyataan yang ku alami saat ini dan keputusan yang ku ambil akan berpengaruh di kehidupanku kelak, Butterfly Effect.
Lantas bagaimana?
***
Diubah oleh beavermoon 04-03-2020 14:45
oktavp dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas