Kaskus

Story

suwokotumdexAvatar border
TS
suwokotumdex
Menikahlah Denganku! (Episode 1)
Menikahlah Denganku! (Episode 1)

Menikahlah Denganku! (Episode 1)


Spoiler for DAFTAR EPISODE:


Cerita ini sudah tamat Volume 1, so nantiin update Volume ke-2, ya! Kalau mau kasih kritik dan saran, monggo silakan emoticon-Shakehand2

Bagi yang mau baca novel ringan ini dalam bentuk komik Webtoon, bisa klik aja di sini

~~~ Selamat Membaca ~~~


EPISODE 1 - Kehidupan Baru di Dunia Lain

Bagaimana bisa aku menerima permintaan konyol seperti itu? Menikah? Arghhh! Aku bahkan belum pernah sekalipun menyentuh wanita. Berada di dekatnya saja sudah cukup membuatku berkeringat dingin. Lantas, bagaimana mungkin aku bisa menikah dan melakukan hal tabu di malamnya.

Tidak! Tidak! Tidak!

Aku masih terlalu muda untuk ternodai, aku terlalu naif untuk mengerti, aku masih terlalu kekanakan untuk menjadi seorang suami, apalagi ayah.

TIDAK!!!

Membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi.

Crasss!

Sebatang anak panah menusuk punggung. Seketika tubuhku limbung, sebelum akhirnya jatuh saat kaki tersangkut akar. Mencium tanah berlumpur, pandanganku mengabur. Rasanya ada yang mengalir di bahu, semakin lama semakin banyak, ditambah rasa nyeri yang kian menjalar. Namun, aku harus terus berlari atau kawanan wanita haus berahi itu berhasil menangkapku. Harus!

Sekelebat bayangan manusia mendadak muncul di depanku. Meski tak terlalu jelas sosoknya. Namun, dia seperti perempuan berasurai panjang berkibar mengikuti gerakannya yang cepat. Tangannya lembut mengangkat kepalaku pelan, lantas sedikit menghentakan telapaknya ke dahiku.
Setelahnya hanya kegelapan yang menutup kesadaran.

***


Aku terlonjak, mengangkat tubuh yang penuh dengan peluh. Dada berdebar tak keruan, dunia serasa berputar, membuat kepala ini pening. Namun, bukan itu yang menjadi masalahnya.
Sekarang di mana aku?

Tempat ini sangat asing. Aku terduduk di atas ranjang kayu, di sebuah ruangan yang berdinding kayu juga.
Lengang, tak ada siapapun, hanya nakas yang di atasnya terdapat jendela dengan gorden terbuka, membuat cahaya dapat masuk, memberikan kehangatan pagi. Selain itu, tak ada apapun lagi.

Sebenarnya apa yang terjadi? Tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat yang aneh ini. Terakhir kali yang kuingat, aku mendadak berada di tengah-tengah sebuah pasar yang seluruhnya berisi wanita saja. Namun, yang lebih mengerikan dari semua itu adalah, mereka mengejarku layaknya zombie haus darah. Namun, mereka lebih menginginkan hubungan badan daripada menyedot darahku. Apa-apaan itu?

Kuusap peluh di wajah, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya hingga aku bisa sampai ke sini. Ya, sebelum aku mendadak terbangun di pasar mengerikan itu.

***


Sebelumnya

Malam yang dingin memaksaku memasukan tangan ke kantung hoodie oranye ini. Meski sudah memakai pakaian rangkap, tetap saja dingin malam ini berhasil menembus sampai ke kulit. Tidak biasanya, padahal Jakarta yang kukenal adalah kota yang panas dan memuakan bagi para pecundang sepertiku.

Haah! Aku jadi ingat lagi tentang sosok payah ini.

Setiap hari kulewati hanya dengan berdiam diri di dalam kamar. Mencari pekerjaan tak pasti lewat dunia maya sudah menjadi rutinitas.

Kadang aku menawarkan jasa kepada para ‘penulis’ malas yang hanya ingin mencari nama tanpa mau berusaha. Mengakui setiap ketikanku sebagai karyanya, tentu saja setelah mereka membayar jasaku sebagai 'penulis hantu'. Penulis yang bekerja di balik bayangan, tanpa mengharapkan namanya dikenal oleh banyak orang. Ya, setidaknya mereka membayar dengan harga yang sesuai. Lagi pula hanya pekerjaan seperti inilah yang bisa dilakukan penunggu kamar sepertiku. Tanpa harus beradu dengan panasnya Jakarta, atau mendapat tekanan dari bos besar, aku sudah cukup bahagia.

Akan tetapi, jika sudah berada di luar seperti ini ... rasanya aku seperti tengah berada di tempat yang sangat asing. Seolah ada mata yang terus mengikuti setiap kaki melangkah. Rasa tidak nyaman yang selalu membawa aura negatif.

Memang, jarak minimarket ini dengan indekos tidak terlalu jauh. Namun, jujur saja tidak ada manusia yang kukenal baik di sini, kecuali pria tua yang bekerja sebagai kasir itu.

Sekantung kresek berisi tiga bungkus mie instan, beberapa butir telur, dan serenteng kopi saset, kuangkat. Setidaknya makanan sederhana ini bisa menemaniku bergadang sampai tiga hari ke depan.

Aku berdiri di bawah lampu jalan, tempat yang sepi membuat otak kembali mengingat kejadian lima tahun silam. Ah, tidak ... aku tidak ingin mengingat akhir dari pertikaian keluarga itu. Hanya luka yang bisa kudapat.

Aku menghela napas panjang membuang segala pikiran negatif. Menoleh ke kanan-kiri, jalanan kecil ini tampak sepi. Tak ada tanda-tanda kendaraan lain yang akan melintas.
Kumelangkah, tapi batinku masih diam. Ada yang tengah memperhatikan dari belakang, seperti sedang mengikuti. Aku berhenti dan memutar tubuh, tak ada siapapun kecuali tiang lampu jalan yang baru kulewati.

Mungkin hanya perasaanku saja.
Namun, saat kembali menghadap ke depan, sesosok perempuan berjubah putih penuh darah dan tanah merah, berambut panjang menutupi muka, dan bau anyir memualkan. Sesaat waktu seperti berhenti, sementara mataku terpaku pada makhluk itu.

"KUNTILANAK!"

Spontan aku meloncat ke arah jalan, dan dengan cepat sebuah benda keras menghantamku. Aku merasakan tubuh ini melayang beberapa detik di udara sebelum akhirnya jatuh menghempas aspal.

Bunyi gemeletak terdengar keras, tulang punggungku seperti remuk.
Aku berusaha bangkit sambil menahan rasa nyeri. Namun, sia-sia. Aku tak mampu bergerak sedikitpun, bahkan untuk berteriak pun tak bisa.
Apa aku akan mati?! Aku sudah tidak kuat lagi.

"Ikutlah denganku!" Suara itu berdengung bersamaan dengan seorang gadis yang tampak siluet berjongkok di sampingku. Ia berambut panjang ... baunya wangi ... mungkinkah dia sesosok malaikat?

Aku meringis, mencoba mengeluarkan suara. "Ka-kamu ... siapa?"

Tak ada jawaban kecuali hentakan pelan di dahi, membuatku hilang kesadaran.

***


"Perempuan itu ... dia yang menolongku dua kali."

Derit suara pintu terbuka, membuat lamunanku seketika buyar. Seorang gadis bergaun hijau, surai kecoklatan menjuntai hingga punggung, berdiri di ambang pintu. Mata indah berbulu lentik, dan manik hazel, beradu dengan mataku.

Seulas senyum terlukis di bibirnya yang ranum.

"Anda sudah bangun?" tanyanya seraya mendekat.

Tunggu, dia perempuan, 'kan? Apa dia akan memaksaku untuk menikahinya seperti sekumpulan wanita mengerikan tadi malam.

"Tidak! Jangan! Aku tidak ingin menikah denganmu!" Spontan aku berteriak.

Aku harus pergi, bagaimana pun juga, aku harus lolos dari tempat ini. Celah, celah ... di mana kau? Ah, di sana. Jendela.

Aku meloncat dari ranjang dan hendak ke luar tapi tangan gadis itu berhasil menahan, dan menarikku ke belakang hingga kami jatuh bersamaan.

Sialan! Kenapa dia lebih kuat.

"Lepaskan aku!"

"Tidak!" teriaknya. Semakin mengetatkan dekapan.

"Aku tidak mau melakukannya, tidak, sampai aku ingin sendiri. Jangan memaksaku untuk menikahimu!"

"Saya tidak akan memaksa Tuan untuk menikah saya, atau melakukan mating dengan Anda. Saya hanya ingin kesehatan Anda kembali pulih!"

Ha?

Aku terdiam sesaat mendengar ucapannya. "A-apa maksudmu? Kau tidak ingin menikahiku?"

"Tenangkan diri Anda, Tuan, biar saya ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Ia meyakinkanku.

Meski aku tidak melihat wajahnya, tapi aku bisa mendengar kejujuran dari mulut gadis ini.

Akhirnya aku mengalah, dan duduk di tepi ranjang. Mendadak aku merasakan nyeri di bahu yang kini berlapis perban.

“Anak panah yang menancap di bahu Anda lumayan dalam, Tuan, membuat lukanya semakin sulit disembuhkan,” jelas gadis itu, ia berdiri di depanku. Senyumnya tak lekang jua.

“Heem ….” Aku mencoba tidak peduli. "Jadi, apa yang ingin kau jelaskan tadi?" Aku memalingkan wajah, tidak terbiasa menatap perempuan.

Gadis itu tak segera menjawab, membuatku harus melirik ke arahnya. Dia berdiri sembari tersenyum simpul ke arahku. Menjinjing sedikit rok lebarnya, menyilangkan kaki, dan sedikit membungkukan badannya. "Izin memperkenalkan diri. Nama saya adalah Reina, penyihir hijau dari daratan Alfterin, siap melayani Anda."

Dia ... kenapa harus melayaniku. Lagi pula apa-apaan pengakuannya itu, penyihir di zaman semodern ini. Jangan bercanda, memang masih ada?

"Tentu Tuan akan menganggap saya hanya bercanda," ucapnya.

Dia bisa membaca pikiranku?

"Jika Anda berpikir saya sedang membaca pikiran Anda. Anda keliru. Saya hanya menebak dari raut wajah Anda." Dia tersenyum simpul, dan sialnya kenapa tampak manis.

Aku menelan ludah, mendadak otak ini memikirkan hal-hal aneh saat mata tak sengaja melirik dadanya yang … wah. Namun, aku harus tetap fokus.

Alfterin ... kira-kira itu nama daerah mana. Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, atau Papua? Sepertinya tidak ada nama seaneh itu di Nusantara.

"Saya mengerti perasaan Anda, Tuan Alex."

Aku mengerutkan dahi. "Ka-kamu tau namaku?"

Gadis itu mangangguk yakin. "Nama Anda, tempat tinggal, keseharian, bahkan masa lalu ... saya tahu semuanya."

Apa dia benar-benar penyihir yang mampu membaca semua tentang diriku?

"Ja-jadi, selama ini kau memata-mataiku?" Wajahku memanas. Rasanya aneh jika ada seorang gadis yang harus repot-repot melihat keseharianku yang membosankan.

"Bukankah terlalu kasar jika Anda memfitnah seseorang yang baru saja menyelamatkan nyawa Anda dengan kata-kata seperti itu?" Reina murung, "sudah menjadi tugas saya untuk mengetahui seluk beluk pria terpilih yang nantinya akan menikahi sang Ratu," lanjutnya.

"Menikahi Ratu? Pria terpilih? Aku?"
Apakah itu tidak berlebihan?

"Benar, Anda lah orangnya, Tuan. Satu-satunya pria yang saat ini bisa memberikan keturunan—"

"Tunggu, tunggu sebentar! Bukannya terlalu cepat jika membicarakan soal pernikahan? Aku masih di bawah umur—"

“Tidak! Justru umur Anda yang sekarang cukup ideal."

Dia malah ganti memotong ucapanku.

"18 tahun, adalah umur yang ideal untuk segera menikah dan membuat keturunan. Demi keberlangsungan negeri ini." Ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah jendela. Membiarkanku dengan segala pertanyaan yang sudah mau meledakan isi kepala.

"Kau bilang demi keberlangsungan negeri ini? Maksudmu apa?"

Reina menghela napas kasar. “Saya ingin menceritakan semuanya kepada Anda, tapi rasanya terlalu mendadak.

"Lebih baik Anda beristirahat dahulu. Jika kondisi Anda sudah lebih baik, saya pasti akan menceritakan semuanya.

“Tentang diri Anda yang masuk ke dunia ini, soal pernikahan, dan juga tentang negeri yang di ambang kepunahan. Semuanya, akan saya jelaskan kepada Anda."
Reina berjongkok dan meraih tanganku. Menggenggamnya erat hingga aku bisa merasakan kulitnya yang hangat dan lembut. Rasa ini, seperti genggaman lembut dari tangan perempuan yang menyelamatkanku malam itu.

“Kau—”

“Tuan.” Reina memotong ucapanku.
Wajahku semakin memanas, mungkin sekarang sudah semerah buah apel. Dadaku berdebar hebat saat Reina mendekatkan wajahnya. Suara yang lembut berbisik ke kupingku.

“Hanya Anda satu-satunya harapan kami.” Sentuhan hangat napas Reina membiusku. Aku hanya mampu menelan ludah.

Perasaan macam apa ini, aku tak bisa menekan otak untuk bekerja secara normal. Mendadak tubuh ini kaku. Fokus hilang.

Reina kembali berdiri, membungkukan badan lantas meminta izin untuk keluar. Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkanku di kamar ini, ia berpesan, "Selamat datang di tanah Fasia yang diberkati ini, Tuan."

***
Diubah oleh suwokotumdex 07-04-2020 23:59
Gimi96Avatar border
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 36 lainnya memberi reputasi
35
11.2K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
suwokotumdexAvatar border
TS
suwokotumdex
#5
EPISODE 2 - Permintaan yang Tidak Masuk Akal
Namaku Alex Elvano, pemuda berusia 18 tahun yang hidupnya menyedihkan, ya, aku mengakuinya sendiri. Semuanya bermula sejak lima tahun silam, dunia seakan berubah dan balik menyerang.

Perpecahan keluarga, dijauhi teman, dan terpaksa hidup sendiri, adalah segelintir masalah hidup yang perlahan tapi pasti mulai kunikmati. Bahkan rasa sakit itu kini menjadi hampa, empati seolah t'lah hilang dari dalam dada.

Dari yang awalnya begitu menyiksa, kini bukan menjadi apa-apa. Terbiasa dengan keadaan yang ada.

Hujatan 'anti-sosial' yang ditujukan padaku kini sudah melekang, bukan karena aku sudah berubah, tapi karena mulut orang-orang itu mungkin sudah bosan. Aku tidak peduli.

Kupikir, hidupku akan terus datar seperti ini. Namun ... malam itu datang.

Decit suara ban terdengar menyayat hati, detik berikutnya cahaya putih membutakan mata, ditambah suara seorang gadis misterius yang seperti menarik tubuh lemas ini. "Ikutlah denganku!"

Aku yakin seorang bidadari tengah menjemput ke surga. Membiarkan diri ini untuk menikmati keindahan yang sebenarnya. Sungguh kebahagiaan yang tiada tara.

Andai takdir berjalan seperti itu, mungkin aku tak perlu merasakan hari ini.

Aku mengangkat tubuh, merasakan hangat pada kulit berkat cahaya dari sang surya. Jendela sudah terbuka, mungkin gadis penyihir itu baru saja masuk ke dalam kamar.

Ah ... bukannya itu tidak sopan? Masuk ke kamar orang lain tanpa permisi. Meski ini rumahnya bukan berarti dia bisa seenak udel untuk keluar masuk. Privasiku seakan tidak dihargai.

Aku mengacak rambut.

Langkah terdengar mendekati pintu, kemudian terbuka. Seorang gadis berwajah oriental dengan manik mata kehijauan menatapku. Namanya Reina Aileena.

"Oh, Tuan Alex sudah bangun?" Dia memasukan seluruh tubuhnya ke dalam kamar, lantas mengambil kursi dan duduk di samping ranjang. Senyum manis mengembang di bibirnya yang ranum.

Aku masih tak dapat menatapnya lebih lama. Kupalingkan wajah melihat hutan di seberang jendela.

"Apakah saya mengganggu Tuan?" tanyanya.

"Tidak." Aku hanya tidak tahu harus bersikap apa. Salah satu fakta bahwa aku tak pandai bicara dengan lawan jenis, menjadi alasan kuat mengapa aku begitu kaku.

"Syukurlah jika begitu." Reina menarik kursi dan duduk di depanku. "Apakah luka di punggung Anda sudah membaik?"

"Yah, lumayan. Berkat sihir anehmu itu, rasa sakitnya mulai tak terasa lagi."

"Syukurlah." Reina semringah.

"Te-terima kasih," bisikku.

"Tak perlu khawatir, Tuan. Anda adalah prioritas saya."

Aku menoleh ke arah Reina. Dia tampak semringah, seperti dugaanku. Aku ragu, apakah ekspresi senang itu tulus dari hati?

Aku menghela napas, bersamaan dengan itu perutku berbunyi. Sesecacing sudah menabuh gendangnya. Cih!

"Memang sudah saatnya untuk sarapan, Tuan. Mari ikut saya."

"Baiklah." Aku mengikuti alur saja mulai dari sini.

***

Dua hari berlalu sejak pertama kali masuk ke dunia bernama Fasia ini. Mendadak bangun di tengah pasar, dikejar-kejar oleh sekelompok wanita, hingga berakhir pada dekapan Reina.

Sekarang, aku masih di bawah pengawasan gadis penyihir itu. Dia berperan seperti seorang maid di rumahnya sendiri. Memanjakanku, bahkan memanggilku 'Tuan'. Kurasa perlakuannya terlalu berlebihan.

"Tuan, apakah sarapan Anda sudah selesai?" Pertanyaan dari Reina membuyarkan lamunanku.

Aku mendorong mangkuk ke tengah meja, nasinya sudah ludes sejak tadi. Kuakui masakan Reina cukup cocok di lidahku.

"Setelah ini kita jadi akan keluar, 'kan?" tanyaku. Reina yang sudah menenteng keranjang menoleh ke arahku. Lantas senyumnya mengembang.

"Tentu saja, jika itu permintaan Anda, saya akan selalu siap untuk menemani."

Reina mendekat dan memberiku sebuah kain hitam yang saat dibuka langsung ketahuan itu apa. "Jubah?"

"Iya. Anda harus memakai ini jika ingin keluar rumah. Demi keamanan Anda," jelas gadis itu.

Aku tak menyangka akan serepot ini hanya untuk keluar.

***

Desa Anvylle, terletak di tengah-tengah hutan besar yang dikenal mematikan. Kota terdekat dari desa ini adalah Lyx, tempat di mana pertama kali aku datang. Meski dikatakan dekat, nyatanya perlu menempuh perjalanan setengah hari untuk menembus hutan hingga sampai ke kota.

Penduduk yang mendiami desa Anvylle kurang lebih dua puluhan orang. Semuanya berjenis kelamin perempuan. Kata Reina, satu-satunya pria yang ada di sini hanyalah aku, tapi mereka tidak tahu. Bahkan Reina merahasiakan ini dari tetua desa.

"Jika mereka tahu ada laki-laki tulen di desa terpencil seperti ini, sudah pasti Anda akan menjadi bahan rebutan," kata Reina.

Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Diperebutkan oleh perempuan sekampung, entah kenapa terdengar lebih mengerikan. Meski harem tapi tetap saja menyiksa, sama seperti kejadian malam lalu, di mana aku harus mati-matian menyelamatkan diri dari sekumpulan wanita haus berahi.

Maka dari itu aku terpaksa memakai jubah panjang yang menutupi sekujur tubuh. Reina juga melakukan teknik sihir untuk menghilangkan bau pria pada diriku, dan menggantinya dengan wewangian seorang wanita. Meski agak risi, tapi ini untuk berjaga-jaga agar lebih aman.

Namun, aku masih tak paham mengenai alasan mengapa mereka selalu mengejar seorang laki-laki. Ditambah aku ini tidak memiliki wajah rupawan bak pangeran dari negeri dongeng. Melainkan pemuda berwajah murung yang tak punya semangat hidup.

"Karena di kerajaan Alfterin, hanya sedikit pria yang bisa hidup," ungkap gadis penyihir itu.

Kami akhirnya berhenti di tempat lapang berumput hijau menyejukan mata. Ditambah angin semilir dan paparan sinar matahari yang menghangatkan. Bukit tertinggi di hutan ini, kata Reina. Gadis itu bilang, ini adalah tempat favoritnya dikala ingin menyendiri.

Kami duduk berdampingan, menghadap ke bukit seberang. Tak banyak kata yang keluar. Aku juga tak tertarik untuk memulai percakapan. Lengang.

"Tuan."

Aku mengangkat wajah, melihat ke arah Reina. Netra kami bertemu untuk beberapa saat sebelum akhirnya aku memalingkan muka.

Degup jantung mendadak berdebar cepat. Ada perasaan aneh yang mejalar ke seluruh tubuh saat mata kami bertemu.

"A-ada apa, Reina?" Lebih baik bertanya.

"Bisakah Tuan melihat wajah saya ketika bertanya?" Suaranya terdengar pelan tapi pasti.

Andai kau tau, aku ingin tapi aku tak bisa!

"Aku—"

Tiba-tiba Reina menarik wajahku mendekat. Sekarang jarak kami terlalu dekat.

"Tuan, tolong lihat saya jika ingin bertanya," bisiknya. Napasnya yang hangat mengenai wajahku yang mungkin sudah semerah cabai.

"Ah, lepas!" Aku menarik diri dan menjauh dari Reina. Ia memiringkan kepalanya seraya memasang wajah polos yang ... ah, sialnya terlalu manis.

"Ada apa, Tuan? Apakah saya menganggu Anda?" Sekarang dia panik.

Aku bersila. Ada yang perlu aku tanyakan. Sesuatu yang lebih serius. "Reina, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?"

Reina terkesiap. "Tentu saja, Tuan, Anda ingin menanyakan apa?"

"Tempo hari, kau bilang ingin menjelaskan padaku tentang semuanya.

"Juga, aku rasa ini cukup aneh sejak awal kedatangan. Mengapa seluruh penduduk di Kerajaan Alfterin bergender wanita, dan mengapa mereka seolah ingin sekali menangkapku? Karena jujur saja aku itu tak setampan pangeran dari negeri dongeng."

"Karena untuk mendapatkan keturunan," pungkas Reina.

"Keturunan?" Aku tak paham.

"Bukankah sebelumnya sudah saya katakan pada Anda, Tuan. Jumlah pria yang ada di kerajaan Alfterin tak terlalu banyak. Mungkin tak lebih dari dua puluh orang termasuk Anda. Karena hal itulah, banyak wanita yang menginginkan keturunan dari sisa pria yang ada, termasuk menangkap Anda.

"Beberapa puluh tahun yang lalu, terjadi sebuah insiden besar di kerajaan Alfterin, di mana seluruh pria yang ada di Alfterin musnah. Itu adalah sebuah kutukan yang benar-benar di luar dugaan." Reina menghentikan ceritanya.

Angin semilir menyapu tubuh gadis itu, rambut kecoklatan panjangnya berkibar. Cahaya dari mentari membuatnya tampak bersinar.

"Kutukan, penyihir ... apakah ini nyata?"

"Tuan sudah melihatnya sendiri bukan, bagaimana dunia ini bekerja." Senyum mengembang di bibir gadis itu.

Jika masih kuanggap mimpi, ini terlalu nyata. Bahkan rasa sakit, luka, sampai debar di dada, semuanya memang nyata.

Reina tampak mempertahankan semyumnya. Poni kecoklatan yang menutupi dahi bergerak liar saat semilir angin menerpa kami. Netra kami bertemu, memberikan arti tak pasti yang semakin kurasa.

Dalam diam, aku menahan dada yang berdetak lebih cepat. Getaran aneh terasa menjalar ke seluruh tubuh. Semakin lama, wajahku memanas. Segera kupalingkan agar tak terbakar.

Sial! Kenapa setiap kali menatap wajahnya, dadaku semakin terpacu. Apa aku menyukainya?

Ah, tidak! Tidak mungkin!

Aku mengacak tudung kepala hingga sedikit berantakan. Mumet!

"Tuan ..."

Aku menoleh ke arah panggilan. Reina menunduk, kulihat pipinya bersemu kemerahan.

"A-ada apa?" Aku berusaha setenang mungkin, meski jantung sudah seperti mau meloncat ke luar.

Reina menggeser duduknya lebih dekat denganku, tidak! Tapi lebih menempel. Tanpa permisi ia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Lagi-lagi tak terduga.

"Tuan ... sebenarnya saya punya satu permintaan," ucap Reina lirih, terdengar samar lantas melanjutkan, "sa-saya ingin 'melakukan' itu dengan A-anda ...."

"Ha? Maksudmu apa?" tanyaku. Tunggu, apa maksud dari permintaannya? Kenapa jadi terasa ambigu di dalam otak ini?

Reina kembali menggeser duduknya, bukan menjauh, tapi beralih duduk bersimpuh di depanku. Wajahnya sudah memerah ... ada apa sebenarnya dengan gadis ini? Dasar aku kurang pengalaman soal perempuan.

Aaa!!! Ini nggak lucu. Momen yang super awkward! Ditambah permintaannya juga sangat ambigu, bikin aku berpikir yang tidak-tidak.

Reina bergeser mendekat dan meraih tanganku, menggenggamnya dengan erat. Kurasakan kulitnya yang halus. Ja-jadi begini rasanya dipegang oleh cewek. Namun, aku tidak peduli dengan itu, aku lebih takut melihat ekspresinya yang tak bisa kujelaskan itu. Apa jangan-jangan dia mau melakukan ritual aneh kepadaku, secara dia kan penyihir.

Ia menghela napas. Mengatup dan membuka mulutnya beberapa kali. Jelas dia juga merasakan canggung. Sebenarnya apa yang ingin dilakukannya? Makin lama semakin menakutkan.

Reina memejamkan matanya, dan mengembuskan napas. Dengan mantap ia berkata, "Tuan Alex Elvano, saya ingin membuat anak dengan Anda!"

Diam.

Lengang.

Dunia seperti berhenti.

Kemudian semilir angin kembali membawa kesadaran ini ke tubuh.

"APAAA?!"

Apa dia sudah gila?!

***
Diubah oleh suwokotumdex 31-03-2020 21:49
ciptawan
cumibakar217
andrian0509
andrian0509 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.