- Beranda
- Stories from the Heart
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
...
TS
agityunita
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
Kumpulan Cerpen Sebelumnya
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Memburu Waktu
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Selesai
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Diubah oleh agityunita 15-03-2020 08:05
nona212 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
2.5K
19
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agityunita
#9
Februari yang Basah
Jika Hujan pernah membawakan kepada kita sebuah luka. Apakah selamanya kita akan menghindari rintiknya. Dan kehilangan lebih banyak kesempatan.
***
Hira memilih menerobos hujan daripada terlambat sekolah. Alhasil, sampai di kelas, ia basah kuyup. Seluruh mata teman sekelas memandangnya, bibir mereka menahan tawa.
“Apa? Aneh?” sewot Hira.
Memecahkan tawa kawan-kawannya.
Hira memang terkenal anak yang supel dan humoris. Semua kawan menyukainya. Hira baik sekali apalagi soal PR. Dia akan senang hati meminjamkan pada teman yang tidak mengerjakannya.
Saat pelajaran akan dimulai, handphone milik Hira bergetar, ada pesan yang masuk, itu dari Trian. Iya, Trian adalah pacar dari Hira. Baru beberapa bulan saja memang mereka jadian. Tetapi mereka sudah lama saling mengenal.
Trian menanyakan, apakah benar jika tadi pagi Hira datang dengan basah kuyup. Hira tidak tahu harus membalas apa pada Trian. Karena Hira tahu, Trian Pasti akan marah jika tahu ia hujan-hujanan tadi pagi
Entah kenapa, Trian sangat tidak menyukai hujan. Dia akan menghindari untuk pergi kemana pun dan tetap berada di dalam ruangan. Daripada harus menikmati rintikan hujan.
Hira akhirnya memilih untuk tidak membalas apa pun. Dia berencana akan menemui Trian waktu istirahat.
Waktu istirahat pun tiba…
Hira pun keluar kelas. Segera menuju kelas Trian. Tapi baru saja kakinya melangkah keluar, Trian sudah ada di depan kelas Hira. Hira kaget dan berteriak.
“Trian!”
“Kenapa? Kamu mau kemana?”
“Hmm… ya mau ke kelas kamu, eh kamu udah duluan ke sini?”
“Jadi gimana? Kenapa SMS dariku gak dibales?”
“Hmm, itu, aku sengaja, aku mau ngomong langsung ke kamu!”
“Oh, terus jawabannya?”
“iya, tadi itu pagi-pagi udah hujan deras kan, jadi ya terpaksa aku hujan-hujanan!”
Dengan polosnya Hira menjelaskan pada Trian.
Rona wajah Trian langsung berubah dan pergi meninggalkan Hira.
“Hey, Trian!”
Trian tidak menghiraukan panggilan Hira.
***
Dulu, aku sama sepertimu. Sangat menyukai hujan. Aku senang berhujan-hujanan. Aku senang menikmati hujan. Gemericiknya selalu membuatku tenang.
Namun semua itu tiba-tiba saja sirna. Hujan seakan merenggut kebahagiaanku. Entahlah, mungkin aku hanya butuh sesuatu yang bisa aku salahkan. Agar aku tidak harus menyalahkan diriku sendiri.
Saat itu Ibu harus menjemputku di tengah hujan. Karena pandangannya yang terbatas kecelakaan itu pun tak dapat terhindarkan. Dan seketika itu ibu pergi untuk selamanya.
Maka sejak hari itu, aku tidak menyukainya lagi. Aku takut untuk menembus hujan. Aku tidak mau lagi basah kuyup karenanya.
Begitu juga denganmu, aku tidak mau terjadi sesuatu menimpamu. Hanya karena kau selalu memaksakan diri untuk melewati hujan. Tanpa menunggunya reda terlebih dahulu.
***
“Trian, maafin aku ya!” ucap Hira, setelah beberapa hari Trian tak mau bicara dengannya.
Kali ini pun sebenarnya Trian masih mendiamkan Hira. Tapi Hira merasa tak enak.
“Trian, ayolah, mau sampai kapan kamu cuek sama aku kayak gini?” rayu Hira terus.
Trian tetap bergeming. Meski dalam hati sebenarnya Trian sudah memaafkan Hira. Hanya saja, ia senang melihat wajah panik Hira. Cara merayukan agar tidak marah, membuatnya semakin jatuh hati.
“Iya-iya, aku maafin, tapi jangan diulangi lagi ya, aku tuh gak mau kamu kenapa-kenapa!”
“Iya Trian, tapi kamu juga gak bisa terus-terusan gak suka hujan kayak gitu?!”
“Maksudmu?” tanya Trian merasa heran.
“Aku mulai ngerasa kamu berlebihan soal hujan!”
“Hira, kamu tahu kan kenapa aku gak suka hujan?”
“Iya aku tahu Trian, tapi kita hidup di negara yang cuma punya dua musim, kamu tidak bisa menghindari salah satu nya, kamu gak bisa beraktifitas hanya di musim panas saja!”
Trian diam, dia mulai mencium hal tidak baik untuk keberlangsungan hubungannya dengan Hura. Sepertinya kekurangannya yang tidak menyukai hujan, sudah menjadi hal yang kurang nyaman bagi Hira.
Trian menyukai Hira karena dia berpikir, Hira adalah perempuan yang berbeda. Dia yakin hira bisa menerima dirinya apa adanya.
***
Februari beberapa tahun kemudian…
Hujan kembali hadir. Seorang pria yang sudah terlihat lebih dewasa, sedang Berdiri di tepi jendela. Ia masih tidak mau keluar untuk menerobos hujan. Meskipun ini sudah waktunya ia untuk berangkat kuliah.
Tetapi dia mulai berani untuk menikmatinya lagi. Meskipun hanya di balik jendela. Tak ada lagi tawa seseorang yang mau menemaninya. Sejak hari itu, hira memilih pergi meninggalkannya. Baginya Februari menjadi bulan yang basah untuk yang kedua kalinya.
Basah oleh gemericik hujan. Dan basah oleh air mata dalam hatinya. Ia tidak mungkin menangis. Air mata yang keluar dari netranya, sudah terkuras habis sejak Februari yang juga menjadi bulan kehilangannya.
Ia memilih untuk menunggu hujan hingga reda. Menunda banyak aktifitas. Dan berpikir apakah ia akan seperti ini terus. Dan apakah yang telah ia lakukan ini adalah sebuah kesalahan. Apakah tidak bisa berdamai dengan hujan adalah suatu kekurangan yang memalukan.
Dan hujan pun reda…
Trian bergegas menuju kampusnya. Sudah sepi. Kelasnya sudah selesai.
Dan seketika, hujan kembali turun. Trian yang berdiri di tepi lapangan basket pun, sedikit demi sedikit terkena tetesannya.
Sakit. Hujannya berukuran besar-besar jika masih turun satu per satu. Hingga ia menjadi deras. Sensasi rasanya pun berubah, tidak lagi terasa sakit. Ah, ada yang tiba-tiba kembali. Ingatan tentangnya dan hujan saat ia masih kecil. Saat ibunya belum pergi. Saat ia masih senang berhujan-hujanan.
Jika selama ini dia menghindari kuyup karenanya. Kini ia membiarkan hujan membasahi sekujur tubuhnya. Menjernihkan pikirannya. Bahwa hujan dan kesedihan adalah dua hal yang berbeda. Bahwa hujan dan ketakutan adalah hal yang tak sama.
Dan Februari nya yang tetap basah. Tak seharusnya ia kenang karena basahnya air mata. Seharusnya, meskipun di bulan yang sama ia kehilangan orang-orang yang ia kasihi. Pasti Tuhan akan segera menggantinya, dengan yang lebih baik.
“Hey, kamu kenapa hujan-hujanan?” ucap seorang perempuan bertubuh mungil, membawa payung dan memayungi Trian.
Trian pun terkejut, rintikan hujan yang sedang ia nikmati, tersekat oleh payung yang kini melindunginya.
“Siapa kamu?” tanya Trian sedikit ketus, tak berubah.
“Oh, aku, kenalin, aku Rinai!”
***
Dan Februari yang basah, tak selamanya menyajikan kesedihan. Di tempat yang baru. Di waktu yang telah jauh berlari. Trian pun menemukan tambatan hati terbaiknya. Meninggalkan cerita tentang hujan yang memilukan. Tak ada kesedihan apalagi ketakutan. Yang ada hanya kebahagiaan.
Selesai
0