- Beranda
- Stories from the Heart
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
...
TS
agityunita
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
Kumpulan Cerpen Sebelumnya
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Memburu Waktu
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?
Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?
***
Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi.
Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya.
***
Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.
Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.
Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.
Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri.
Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….
***
Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy.
Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni.
Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.
Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.
Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.
“Hey, apa benar kamu Chikal!”
Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia.
“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”
“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”
Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana.
“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”
Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal.
Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana.
“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “
“Aneh, apanya?”
“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”
“Seberapa dekat kalian berdua?”
Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.
“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.
“Kok kamu bisa mikir gitu?”
“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “
“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”
“Aku melamarnya!”
Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.
***
Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan.
Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.
“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!”
Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.
“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”
Angin lembut pun kembali berembus.
“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”
***
Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.
Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya.
“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.
“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”
“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”
Ah chikal, andai kamu tahu…
“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.
“Ini kan buku harian Chania?”
“Oh, kamu tahu?”
“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”
“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”
Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan.
“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.
“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”
Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.
Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.
“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”
“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”
“Aku selalu mencintainya Chia!”
***
Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.
Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.
Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.
Selesai
Cerita Ketujuh Belas
Cerita Kedelapan Belas
Cerita Kesembilan Belas
Cerita Kedua Puluh
Cerita Kedua Puluh Satu
Cerita Kedua Puluh Dua
Cerita Kedua Puluh Tiga
Cerita Kedua Puluh Empat
Cerita Kedua Puluh Lima
Cerita Kedua Puluh Enam
Cerita Kedua Puluh Tujuh
Cerita Kedua Puluh Delapan
Cerita Kedua Puluh Sembilan
Cerita Ketiga Puluh [Selesai]
@agityunita
Diubah oleh agityunita 15-03-2020 08:05
nona212 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
2.5K
19
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agityunita
#6
Musim Dingin di Yogyakarta
Ini Hari pertama aku berada di Kota pelajar, Yogyakarta. Sebuah kota yang baru saja menawarkanku rasa nyaman. Entahlah, aku sendiri bingung. Kenapa aku memilih untuk melanjutkan kuliah di sini. Padahal di kota asalku Jakarta, aku diterima di universitas yang lumayan bagus.
Namun entahlah, apa yang mendorongku untuk tetap memilih kuliah di sini. Seakan ada magnet Yang menarikku. Meskipun aku tahu apa alasan persis dari ini semua. Tetapi aku tidak mau berharap terlalu lebih.
Ada nama yang sengaja kukejar hingga ke sini. Tapi aku tidak tahu, apa dia masih mengingatku. Atau sebenarnya, kita memang tidak saling mengenal. Menyedihkan sekali jika memang benar seperti itu.
***
Mencari seseorang, di tengah kota yang luas. Benar kata pepatah, seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Namun dorongan kuat dalam hatiku tak pernah surut. Maka Aku putuskan untuk mencarinya.
Dia yang kukenal sejak aku masih kecil. Sejak kami masih sama-sama senang bermain sepanjang hari. Dan dia adalah teman bermainku.
Lalu, kenapa aku harus mencarinya hingga ke sini? Sebut saja, aku sedang kehilangan sosoknya. Lebih tepatnya, aku memang tidak pernah berhasil mendapatkan hatinya.
Kami berkawan hingga sama-sama SMA. Masa-masa yang kata sebagian orang adalah yang paling indah. Tapi biasa saja buatku. Karena di masa itu tiba-tiba dia menghilang.
Lalu bagaimana aku tahu, dia ada di Yogyakarta? Tiba-tiba, namanya tercantum di sebuah kotak besar yang diantarkan Pak Pos ke rumahku. Dan disitu, ada surat singkat yang menyatakan jika sekarang dia sedang ada di Yogyakarta.
Kotak besar itu berisi jaketnya yang selalu aku taksir, ingin Aku pinjam, Tapi tak pernah ia berikan. Katanya, itu jaket laki-laki, tak pantas aku memakainya. Dan tiba-tiba dia sengaja mengirimkan jaket kesayangannya itu padaku sebagai hadiah ulang tahun. Aku jadi merasa penasaran.
Maka di sinilah aku sekarang. Menuntut ilmu, sambil berniat mencarinya. Dan aku memutuskan masuk di universitas yang sama dengannya. Berharap kita dapat bertemu tanpa aku harus bersusah payah mencarinya.
Namun sudah sebulan aku di sini, batang hidungnya tak kunjung terlihat. Aku tak tahu dia mengambil jurusan apa. Meski aku tahu ia ingin menjadi apa. Tapi aku tak berani bertanya pada orang-orang yang ada di kampus. Entahlah, aku merasa tak yakin.
***
Dan hari ini, aku sengaja pergi ke kampus menggunakan jaket miliknya, yang ia berikan padaku. Ya, aku sedang memancingnya untuk keluar. Dan berkata, norak banget sih! Dengan nada bicaranya yang khas.
Tapi sampai waktunya aku pulang, dia gak muncul juga. Aku curiga dia bohong soal kuliahnya di sini.
“Hey, kamu Shima?” seseorang yang belum kukenal menegurku di kantin
“Iya, ada apa?”
“Aku cuma mau sampaikan pesan, dari yang punya jaket yang kau pakai itu!”
“Alif?” dia melihatku…
“Iya, jangan norak katanya!”
Aku terbengong-bengong namun terasa senang di hati. Dia benar ada disini dan selalu memperhatikanku. Tapi ada kesalnya juga, kenapa tak keluar menemuiku. Dia malah asyik bersembunyi tapi sempat-sempatnya meledekku.
Belum aku bicara apa-apa, si pembawa pesan sudah pergi tanpa pamit. Aku memanggil nya tapi tak ia dengar.
Padahal aku ingin bertanya, ia sedang ada dimana? Kuliah jurusan apa? Atau kalau perlu aku akan menanyakan nomor telepon dan alamat rumahnya.
Aku jadi berpikir, apa yang menyebabkan ia tak mau bertemu denganku. Mengapa ia harus menyampaikan kata-kata khasnya itu, pada orang lain. Yang rasanya sangat berbeda, tidak seperti jika dia yang mengucapkan. Lalu kenapa Alif? Apa kesalahanku padamu?
***
Hari ini aku berniat benar-benar untuk mencari Alif. Aku ingat, ia sangat senang main basket. Mungkin aku akan menemukan nya di sana. Di Lapangan Basket.
Namun aku tak menemukan sosoknya di sana. Dengan rasa kecewa aku pun memilih untuk mengisi perutku yang keroncongan di kantin. Sambil terus berpikir, kemana lagi aku harus mencarinya.
“Hey, shima, nich ada titipan!”
Laki-laki Yang kemarin,
“Titipan, dari Siapa? Jangan bilang dari Alif, dia dimana sih?”
“Iya ini emang dari dia, tapi kamu gak bakal nemuin dia di sini!”
“Maksudmu?”
Lali-laki itu pergi, meninggalkan bungkusan yang ia bawa di atas meja.
Dan itu adalah susu coklat kesukaanku. Tapi aku tetap gak terima jika harus berhenti mencarinya. Dia pikir aku semudah itu dia sogok. Namun tetap aku merasa aneh. Kenapa laki-laki itu bisa berkata kalau aku tidak akan menemukan Alif di sini. Lalu dimana?
***
Sudah hampir tiga bulan aku kuliah dan kepadatan tugas mulai menyita perhatian. Aku tak lagi rajin dan ngotot untuk menemukan Alif. Aku pikir, jika dia masih menganggapku sahabatnya, dia pasti akan muncul. Dan aku akan sangat merasa senang.
Meskipun, saat aku bilang jika dia masih menganggapku sahabat aku merasa tak terima. Sudah lama perasaan ini berubah padanya. Ditambah dia memberikan jaket kesayangannya padaku. Aku menginginkan jalinan hubungan lebih dari sekedar sahabat. Aku menyukai Alif.
Dan Alif memang tidak ada di kampus itu. Dia memang kuliah di sana. Namun banyak yang bilang dia sedang cuti panjang. Lalu, kemana dia sebenarnya?
***
Hingga akhirnya, kenyataan pahit itu pun harus aku saksikan sendiri.
Satu waktu, aku nekat mengikuti laki-laki yang selalu menitipkan pesan Alif padaku.
Yang akhirnya aku tahu, nama laki-laki itu adalah Arman. Ia sahabat dekat Alif. Termasuk tentangku, ia banyak diceritakan oleh Alif.
Dan sekarang, aku mengikuti Arman masuk ke rumah sakit. Aku pikir, dia ada keperluan menjenguk keluarga sebelum bertemu dengan Alif. Namun ternyata, yang dia temui adalah…
“Alif!” suaraku terlalu keras sebagai seorang yang mengikuti diam-diam.
“Shima, ngapain kamu di sini? Kamu ngikutin aku ya?”
“Alif kenapa?” aku mengabaikan pertanyaan Arman demi melihat Alif yang ada di ruang perawatan intensif. Aku Hanya bisa melihatnya dari kaca besar pembatas ruangan.
“Dia koma, dia terjatuh saat mendaki, dia ingin menghadiahimu bunga edelweis, cukup satu saja katanya, karena dia tahu, apa yang dia lakukan itu tidak benar, tapi dia bilang, dia ingin memberimu sesuatu yang spesial!”
Alif, mengapa kau melakukan itu semua. Aku tak pernah meminta kau memberiku apapun. Aku hanya ingin melihatmu. Selalu dalam keadaan sehat.
Dan aku pun memutuskan untuk masuk ke ruangan itu. Alif, wajahnya memang selalu sedingin itu. Namun kali ini, aku merasa ia tengah membeku.
“Alif, ini aku Shima, kamu bangun ya Lif, aku kangen banget sama kamu!” aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata.
“Alif, lihat dech, jaket punyamu selalu aku pake, makasih ya, akhirnya kamu kasihin ini ke aku, aku suka banget!”
Aku terus menggenggam tangan Alif. Berharap dengan kehadiranku bisa membantunya untuk segera sadarkan diri.
***
Seketika, Yogyakarta seperti dilanda musim dingin. Si wajah dingin itu, pada akhirnya tak pernah menatap wajahku lagi. Entahlah, seketika aku ikut membeku bersama tubuh kakunya.
“Shima, surat dari Alif, bersamaan dengan jaket itu sudah kamu baca kan?” tanya Arman padaku
“Sudah, kenapa?”
“Tapi kamu kok ke Yogyakarta nya lama banget ya?”
“Maksudnya?”
Dan surat itu tak pernah terbaca olehku. Dia terselip begitu saja tertinggal di kotak besar itu. Aku menelepon ke rumah dan menanyakan perihal itu pada ibu. Ibuku pun membantu mencarikan surat itu. Dan aku memintanya untuk juga membacakan.
Dan angin dingin, seperti benar-benar menusuk hatiku. Itu adalah surat Alif tentang ungkapan perasaannya padaku. Disana dia pun meminta aku untuk datang ke Yogyakarta, memberikan jawaban padanya. Apakah aku bersedia menjadi pasangan hidupnya.
Tak terasa, aku meneteskan air mata. Suara ibuku Di ujung telepon sana tak lagi kudengar. Aku merasa lemas seketika. Ternyata Alif, sama sekali tak pernah pergi meninggalkanku. Ia hanya mencari waktu yang tepat, untuk mengatakan semuanya padaku.
Oh Alif…
Selesai
0