- Beranda
- Stories from the Heart
INDIGO
...
TS
shirazy02
INDIGO

Hy, Guys! Jumpa lagi di thread terbaru. Kali ini, based on true story. Please, jangan nanya-nanya ini kisah siapa, jangan nebak-nebak apakah saya si anu, atau keppoin apapun itu. Semua demi kelancaran saya menulis, karena mood sangat mempengaruhi 😊 Terhitung sampai detik ini, saya masih suka menggantungkan cerita, karena begitu banyaknya ide cerita lain yang ingin saya tuangkan lewat aksara. By the way, ini tapi gak pake mikir, sih 😂 karena nulisnya ngalir gitu aja. Ada misterinya, ada sakit hatinya, ada asmaranya, banyak bakalan yang disajikan dalam ceritanya. Oh ya, saya sangat tidak menyukai silent reader, so ... beri react, rate, dan komentar, cendol-cendol jan lupa, karena saya tak akan mungkin melanjutkan cerita tanpa adanya respon atau peminat tulisan. Makasih sebelumnya!

----
Spoiler for Indeks:
Part 1:
Berawal dari tahun 1997 yang bertepatan dengan Hari Lebaran. Setiap menjelang hari H, kami sekeluarga, yang terdiri dari aku, adik, serta kedua orangtua, selalu mengunjungi rumah nenek --ibu dari ayah-- yang berada di luar kota. Tujuannya tak lain, bersilaturahmi sekaligus merayakan Hari Raya bersama-sama. Kebetulan keluarga dari ayah adalah keluarga besar, oleh karena itu pasti selalu ramai suasana di rumah sana. Pada saat itu, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dan adikku kurang lebih berusia tiga tahun. Kita selalu menghabiskan waktu mudik sampai cutian ayah selesai, tentu juga ibu bisa bersantai memikirkan nasib sekolahku, sebab bertepatan juga dengan waktu liburan sekolah.
Tempat tinggal nenek ada di perbatasan salah satu profinsi Jawa. Dimana ketika kami berkendara dan sudah sampai di kotanya, maka kami masih harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk tiba di lokasi. Sebenarnya kampungnya tak terlalu pelosok, tapi bagiku sangat primitif. Bangunan yang rata-rata masih berdinding papan kayu, lantai yang masih berupa tanah, pintu dan atap yang pendek, serta lampu penerangan di tiap-tiap rumah yang kebanyakan memakai cemprong. Aku beruntung nenekku sendiri memakai lampu petromaks di beberapa ruangan meski lantai rumahnya hanya berupa plesteran. Di saat aku benar-benar merasa takut saat menatap jalan pedesaan yang suram, aku bisa menyesuaikan terangnya cahaya dari pompa pada tuas di bagian bawah lampu petromaks, hingga sirna pula lah perasaan takut itu karena merasa aman.
Sebenarnya, aku tak pernah menyukai berada di sana. Selain karena daerah yang minim penerangan, untuk beli apa-apa juga lumayan jauh. Satu lagi pengalaman yang dulu-dulu ... setiap malam tidurku tak pernah bisa nyenyak. Di belakang rumah nenek ada barongan (kebun luas yang terdapat banyak pohon bambu dan semak belukar), dan suara-suara hewan malam begitu mendebarkan kala merasuk membran telinga.
Dari perasaan gak betahnya berkunjung di rumah nenek, ada juga rasa senang yang paling kunanti-nanti saat berada di sini, yaitu bertemu dengan Mbah Narti. Mbah Narti adalah adik dari nenekku. Ia tak mempunyai keturunan. Menurut cerita yang kudengar, ayahku dulu pernah dibantu dibesarkan olehnya sehingga bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, Mbah Narti adalah dukun bayi tersohor pada zamannya. Ia bisa dibilang orang yang sangat kaya sekampung. Rumahnya berbeda sendiri dari yang lain. Sudah bangunan tembok, sudah berubin, pun memiliki sawah luas dan ternak yang banyak. Kenapa aku suka dengannya? Karena ia paling antusias menyambut kedatanganku. Royal, dan doyan memijat. Setiap aku bertandang ke rumahnya, Mbah Narti selalu menyediakan alas untukku berbaring. Memijatnya juga lama sekali, dan selalu membuat ketagihan. Selain kerap memberi uang, jajanan satu kresek penuh selalu dibelikannya. Terkadang, jiwa tak bisa membohongi bila sayangku lebih besar terhadap Mbah Narti daripada nenek sendiri.
Karena keluarga besar dari berbagai kota bersamaan datang dan berkumpul di rumah nenek, keluargaku pun diminta Mbah Narti tidur di rumahnya. Tentu kami juga sudah biasa, karena ayah memang dari dulu dekat sekali padanya. Jadi, setiap malam kami bermalam di rumah Mbah Narti, paginya kami kembali ke rumah nenek. Kebetulan rumah mereka bersebelahan.
Ada sesuatu yang janggal kurasakan pada saat pertama kalinya aku bermalam. Entah kenapa, malam itu aku tak bisa tidur. Beruntung aku melihat Mbah Narti masih terjaga di depan TV, sedang menikmati teh dalam wadah besar. Oh, ya ... teh di daerah sana kalau bikin, asli pait. Tehnya langsung dimasukkan di wadah, diseduh bersamaan tanpa disaring. Jadi, banyak bulir yang ngambang gitu di atasnya. Kadang bisa tertelan juga kalau gak hati-hati minum.
Oke, lanjut! Malam itu, ketika hendak menemui Mbah Narti di depan, aku begitu syok menatap di kursi yang ada di sebelah siMbah. Ada seorang perempuan duduk di sana. Berkebaya merah, memakai jarik, dengan tudung transparan warna senada di kepala. Masih muda sepertinya, terlihat dari kulitnya yang sekilas kutatap masih kencang. Tatapan kami bertemu, dan dia langsung menyingkir dari tempat. Anehnya, menyingkirnya nggak keluar rumah, tapi masuk ke ruang tengah, dan tak pernah keluar lagi hingga tengah malam. Kebetulan aku begadang saat itu dengan Mbah Narti.
Perempuan itu pun sering kujumpai wara-wiri di kamar Mbah Narti pada malam-malam berikutnya. Terkadang ada anak perempuan, usianya sepertinya lebih dewasa dariku, suka mengintip dari balik gebyok (sebuah papan penyekat besar dan tinggi yang terbuat dari kayu jati, dulu digunakan sebagai pemisah antara ruang tamu dengan ruang tengah). Senyum-senyum menampakkan separuh wajahnya melihatku. Kukira mereka itu tetangga yang sering bertandang ke rumah, tapi setelah kutanyakan pada Mbah Narti, beliau menjawab, "Kuwi dulurmu! Cah wedok kuwi puterine." (itu saudaramu. Bocah perempuan itu anaknya)
Agak aneh, sih! Karena baru kali ini aku melihat saudara yang wajahnya seperti itu. Belum pernah kujumpai sebelumnya. Namun, aku teringat, ayah pernah bercerita jika punya saudara yang merantau di Kalimantan sana, dan jarang pulang. Mungkin saja itu saudara dari Kalimantan! Anehnya, saat aku bercerita pada ayah dan ibu, ayah menampik jika saudaranya di Kalimantan itu pulang. "Mungkin tetangga," ujar ayah datar. Nenekku pun menimpali, "Mbah Narti sekarang banyak ngelanturnya kalau ngomong, Nduk. Benar ayahmu, mungkin tetangga sedang main itu."
Aku yang memang masih polos, percaya-percaya saja dan tak pernah berpikiran jauh ....
Di suatu siang, saat aku bermain di rumah Mbah Narti seorang diri, entah kenapa tiba-tiba saja ia bicara ngelantur, "Mbah nelangsa, Nduk. Hidup seperti begini-begini saja. Punya apa-apa juga tak bahagia. Apalagi semenjak ditinggal Mbah kung, rasanya sudah malas hidup."
Kurang lebih seperti itu yang bisa kucerna perkataannya. Maklum, bahasa jawanya terlalu halus, kadang susah dimengerti. Apalagi pada saat itu aku masih kecil dan belum seberapa mengerti.
Lalu, setelah berkata begitu, ia membelai rambutku berkali-kali. Mencium juga. Ini yang paling malas saat bertemu Mbah Narti. Aku melihat susur di mulutnya saja sudah bergidik geli, apalagi di dekatkan ke wajah seperti itu.
Setelah puas melayangkan ciuman bertubi-tubi, Mbah Narti lalu masuk ke dalam, berpesan menyuruhku menunggu. Aku sendiri sedang asyik menonton TV. Oh ya, di rumah nenek tak ada TV, jadi aku selalu mainnya kemari jika ingin nonton. Terkadang, bisa bersamaan dengan Budhe dan keluarga ayah yang lainnya. Namun, kali ini aku nonton sendiri, karena keluarga sedang sibuk masak-masak besar.
Beberapa menit kemudian, Mbah Narti muncul sambil membawa sesuatu dalam bungkusan. Setelah dibuka, ternyata sebuah gelang dari tali yang ada jahitan kain kotak kecil warna hitam di tengahnya. Ia menyodorkannya padaku. Ingin menolak karena tak suka, tapi tangan tua itu terburu melingkarkan gelang itu ke tanganku. Kucoba pegang kain kotak hitam itu. Seperti ada batu kecil di dalamnya. Mbah Narti berpesan, agar jangan sampai aku membuka kain kotak hitam itu. Aku pun mengangguk saja.
"Iki gawe kenang-kenangan yo, Nduk? Sesuk yen simbah ra ono, kowe ben kelingan simbah terus," ujarnya lagi. Aku pun terdiam melihat gelang yang dikenakannya di tanganku. Aduh, benar-benar tak suka sekali!
Setelah berpamitan pulang, diam-diam kulepas gelang itu dari tanganku, menyimpannya dalam saku celana. Niat hati ingin kubuang, tapi takut Mbah Narti tahu. Aku khawatir kecewa, jadi kubawa saja. Mengingat, besok aku sekeluarga akan pulang. Rencananya akan kubuang gelang itu di tengah perjalanan.
Malamnya, entah kenapa, ibu melarangku tidur di rumah Mbah Narti. Rupanya, para keluarga besar sedang rame mengobrolkannya yang memang belakangan sering ngelantur. Kata mereka, Mbah Narti tengah pusing membagi hartanya pada sepupu-sepupu lain. "Aku ditawari sama Mbah Ti, kamu mau gak merawat sapi dan kambingku? Kalau mau rawat, ambil saja bawa pulang," tukas Budhe Rusni pada kami.
"Lalu, samean jawab apa?" tanya ayah penasaran.
"Ya kujawab, 'nggak ah. Nanti yang lain ngiri' ... trus dia jawab lagi, 'semua sudah kubagi. Hartaku masih banyak. Aku juga gak punya anak, aku khawatir besok kalau mati, semuanya ini gimana' ... gitu bilangnya."
"Nah, yang diomong mati-mati terus, sih!" seloroh Om Anang.
"Lah, kan? Tadi malah bilang, 'sesuk aku yen mati, omah iki openono, yo?" (besok kalau aku meninggal, rumah ini kamu rawat, ya!) Mbak Nanik membalas.
"Masa' bilang begitu?"
"Iya. Malah berkata, 'jatahku urip gari sedilut' ... gitu," sahut Mbak Nanik lagi.
Gara-gara obrolan malam yang unfaedah, kami semua saling takut, hingga tak pernah berani ketemu Mbah Narti keesokan harinya. Mungkin memang Mbah Narti sudah merasa. dan semua itu adalah pertanda ia mau pamit. Wallahu'alam, keesokan harinya, ketika fajar baru menyingsing, tetangga depan rumah yang biasanya disuruh mencarikan rumput Mbah Narti, berteriak-teriak menemui kami dengan wajah gugup.
"Mbah Narti terpeleset di kamr mandi! Mbah Narti terpeleset di kamar mandi!"
Sontak, kami semua kaget dan segera berhamburan melihat ke lokasi.
Oke, skip!
Di sini, aku akan mulai menceritakan keanehan yang terjadi semenjak pulang dari rumah nenek. Oh, ya ... aku lupa membuang gelang dari Mbah Narti saat perjalanan pulang. Aku juga nggak paham arti 'sikep' dalam istilah jawa pada saat itu. Sepeninggal Mbah Narti, semua keluarga saling ramai mencari sikep yang dimaksud. Katanya harus dibuang, paling tidak dibakar. Semua almari, kasur, dilingkap satu persatu demi mencari benda yang dimaksud. Tak pelak, mereka di antaranya saling menuduh satu sama lain karena tak ada yang mengaku. Mbah Narti memang pernah berpesan, bahwa 'jimat'-nya akan diberikan pada salah satu keturunan nenek. Banyak yang menuding ayah, karena ayah adalah satu-satunya kesayangan Mbah Narti. Oh ya, akibat dari semua ini, keluargaku pernah lama lost komunikasi sama keluarga yang lain. Sebenarnya mereka biasa-biasa saja, tapi yang paling menyebalkan dan tak terima adalah Pakdhe Kurdi.
Sebenarnya, apa alasan Pakdhe Kurdi begitu berambisi menanyakan barang tersebut?
Diubah oleh shirazy02 29-02-2020 14:20
husnamutia dan 42 lainnya memberi reputasi
39
29.6K
238
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
shirazy02
#172
Part 12
Aku sedang mengerjakan tugas sekolah ketika tiba-tiba Budhe datang membawakan sebuah kabar aneh. Sayup-sayup kudengarkan dari balik pintu kamar. Katanya, Yu Warsi sudah dua hari ini tidak sadarkan diri. Oke, di sini aku mau jelasin. Yu Warsi pernah sakit. Aku lupa dulu penyebabnya apa, ada yang bilang stroke, ada yang bilang diabetes, yang pasti badannya kek mati separuh. Bukan atas sama bawah, melainkan samping kanan-kiri, dan yang bisa digerakkan adalah bagian badan sisi kiri (baik tangan maupun kaki)
Yu Warsi sebenarnya ada hubungan keluarga sama ibu, tapi jauh (dari urutan mbah-mbah'an begitulah istilahnya). Kita dekat karena rumahnya sebelahan sama rumah Budhe, yakni berjarak lima rumah pula dari rumahku.
Perlahan, kudekati pintu kamar, lalu menempelkan telinga pada celah yang sedikit mengintip. Kupasang telinga baik-baik, dan sebisa mungkin tak terdengar oleh mereka.
"Lho? Bukannya habis opname itu udah bisa gerakin tangan dua-duanya, ya?" Suara ibu terdengar menyahut.
"He'em. Semingguan 'kan dia pulang dari Rumah Sakit, dan udah bisa ngomong meski masih butuh kursi roda. Cuma ya itu ... sekarang makin memburuk sepertinya. Dua hari ini dia merem terus. Diajak bicara nggak mau ngomong, modelnya kayak tidur panjang gitu, lho."
"Lahwong udah dua hari, kenapa baru ngabarin sekarang, sih, samean!"
"Aku lho baru tahu ini tadi. Anak dan suaminya terkesan menutupi. Kalo nggak karena aku datang berkunjung, mana tahu kejadian bakal begini."
"Trus ... kenapa nggak dibawa balik langsung ke Rumah Sakit?"
"Kata suaminya, sih, nggak usah. Percuma, dia bilang."
"Walah, gimana, sih!"
Aku langsung menutup pelan pintu kamar. Rapat. Alih-alih agar tak mengganggu konsentrasi belajar. Tak ada guna juga mendengarkan. Namun, baru saja mengambil duduk, suara ibu berseru bersamaan dengan derit pintu kamar yang terkuak. "Sinan, kita lihat Yu Warsi, yuk?"
Ajakan yang sangat tak kuinginkan.
"Memang kenapa, Bu?" Aku pura-pura tak mendengar obrolan yang tadi.
"Itu ... Yu Warsi sakit lagi. Ibu merinding, Sinan. Dia kayak orang koma."
Kuembuskan napas panjang kemudian. Lalu lekas mengemasi buku di meja, berikut dengan semua alat tulis. Dengan lesu, aku beranjak, bersiap menuruti ajakan ibu yang mendadak. Kuambil jaket yang tergantung di hanger, lantas mengenakan ke tubuh. Minggu ini masih ditemani cuaca mendung. Sebenarnya, malas sekali untuk bepergian, meskipun dekat.
"Yuk, Bu!" Kugelayutkan sebelah tangan pada lengan ibu, yang kemudian digiringnya menuju luar rumah. Aku, ibu, juga Budhe, sama-sama berjalan menuju rumah Yu Warsi pagi itu.
Kutatap tapak kaki yang seakan alot untuk melangkah. Ya, dari dulu aku enggan menatap perempuan tua yang terkenal sombong nan celamitan itu. Bukan tanpa sebab, Yu Warsi dulu lah orang yang paling suka mengompori para tetangga jika keluarga kami menggunakan pesugihan. Terlebih saat desus adanya batu merah delima itu. Baru kutahu belakangan jika mustika tersebut digadang-gadang mampu mendatangkan rezeki bagi pemiliknya. Pantas dulu banyak yang berebut untuk memiliki.
Sampai detik ini, mulut sumbarnya itu tak pernah bisa kulupakan. Dimana ketika ia dengan entengnya menyindir orangtua di depan mata orang banyak, bahkan ada aku sendiri diantaranya. Ia mungkin lupa, jika aku dulu adalah bocah yang sudah berusia delapan tahun. Atau ia tak sadar, bahwa anak seusia itu mempunyai daya ingat yang tajam, bahkan bukan anak kecil lagi yang notabene tak mengerti apa yang dikatakannya. Bisa jadi memang ia sengaja berkata demikian di depanku, agar aku mengadukan pada orangtua? Polosnya, aku memendam semua dengan sendirinya. Aku sadar posisi orangtuaku yang memendam luka pada saat itu.
Ibu mulai melepas sandal saat kami tiba di teras rumah Yu Warsi. Berikut dengan Budhe. Namun, tak tahu kenapa, hawa berbeda tiba-tiba kurasakan saat aku menarik napas di depan rumahnya. Bau seperti tanah yang lembab habis terkena hujan, lalu seperti aroma bunga-bunga kuburan yang menyeruak.
"Bu, aku di sini saja, ya?" pintaku. Aku tak mengerti, tapi timbjl sebuah keraguan saat aku mulai melangkah di lantai rumah itu. Di lain sisi, malas saja jika harus masuk dan melihat kondisi beliau.
"Ayo, masuk! Hei, apa kamu tak sungkan?" Ibu menyahut dengan mata sedikit dipelototkan. Akhirnya, mau tak mau, aku jadi menurutinya masuk ke dalam.
Hawa tak biasa semakin terasa saat kaki mulai menginjak lantai ruang tamu. Aroma bunga yang tadi sudah hilang. Berganti dengan gumpalan seperti asap warna hitam, tapi cerai-berai, berputar-putar di sekeliling. Rupanya, di pojokan sudah tertata sebuah kasur di sana, lengkap beserta beberapa potong pakaian di sisi. Dan tentu saja, perempuan tua itu tergolek tak sadar di pembaringan. Aku tak berani memandang, bahkan kepingan asap hitam yang memenuhi ruang tamu seakan berputar dalam pandanganku.
Melihat kedatangan kami, suami Yu Warsi tergopoh dari belakang rumah menuju ruang tamu. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Jadi, rumah Yu Warsi masih bergaya rumah lawas. Dimana mulai dari saat kami masuk ke ruang tamu, maka kami juga akan melihat tembus ke bagian dapur pula, meski rumah itu panjangnya sekian. Dan anehnya, seperti ada sebuah sekat gelap terpampang pada bagian belakang rumah. Asap-asap yang tadi keluar dari sana.
"Sudah lama? Maaf, ngasih makan bebek di belakang." Suami Yu Warsi menyalami tangan ibu dan budhe, lalu menyuruh duduk. Ibuu dan Budhe bersamaan menghempaskan dirinya ke pembaringan Yu Warsi. Sementara aku, memilih berdiri di dekat pintu.
"Lah, iya ... begini-begini saja Mbakyu-mu," ucap suami Yu Warsi dengan muka yang tampak lelah.
"Kok, begini-begini saja, Cak? Kenapa tak dibawa ke Rumah Sakit?" tanya ibu.
"Halah, sama saja dengan rawat jalan. Aku tak bisa menjaga dia penuh kalau harus ke Rumah Sakit. Aku juga kerja. Anak-anak bisa apa? Mereka masih sekolah." Suami Yu Warsi diam sejenak, menyodorkan beberapa makanan yang diambilnya dari buffet pada kami. Lalu berkata lagi, "Kalau begini 'kan, enak. Bisa diurus, disambi istirahat nyaman. Saudara juga gak jauh-jauh. Mereka juga lebih nyaman membantu ngurus di rumah, daripada di Rumah Sakit. Jauh, buat wara-wirinya."
Selagi mereka berbincang, aku masih saja fokus menatap ke bagian belakang rumah. Leherku bertambah menyengat rasanya, hingga dahaga yang kemudian kurasakan. Semakin mata menatap jauh, mencoba menangkap rasa ingin tahu dari belakang rumah Yu Warsi, semakin pening tiba-tiba rasa kepala. Keringat terasa mengucur di bagian punggung. Entahlah, pikiranku mulai menduga-duga. Jangan-jangan Yu Warsi sakit, karena ulah seseorang?
Selagi badan panas seakan terbakar, kulihat, semua orang tampak baik-baik saja. Aku mulai menundukkan pandang, menahan rasa pening di kepala yang semakin menjadi. Ah, apa vertigoku kumat mendadak? Atau, ada energi lain yang membuatku seperti ini?
"Sinan, kamu kenapa?" Suara ibu berseru tiba-tiba.
"Ah, enggak, Bu. Sedikit pusing, mungkin kemarin kurang tidur. Tapi nggak papa, kok," jawabku asal.
"Wajahmu tiba-tiba pucat?" tanya ibu kembali.
"Enggak. Nggak apa," balasku. Kucoba bergumam dalam hati, menanyakan 'apa yang terjadi padaku?' Jikapun ada energi dari makhluk tak kasat mata yang menginginkanku begini, pasti ada yang menjawab suara batinku.
Tapi, ini tak ada apapun. Bahkan sosok satupun!
Seketika, aku teringat ucapan guruku kemarin. Mungkin benar, vertigoku kambuh. Lantas, kutegakkan paksa kepalaku, sambil menatap lurus sejauh mata memandang. Tentu menatap lurus, berarti menatap ke sekat misterius tersebut. Semakin kutatap jauh apa yang ada di depan sana, semakin berubah melebar sekat hitam yang tampak. Tadinya hanya seukuran pintu, tahu-tahu membeaar. Lalu, samar-samar, kutangkap sebuah sosok wanita tua setengah sangkuk badannya. Berdaster, dengan ikat rambut cemong khas jaman dulu. Kagetnya, sosok tersebut menyerupai Yu Warsi. Namun, wajahnya pucat, dan tatapannya sendu di belakang sana. Aku separuh bergidik menatapnya, hingga tak berani berkedip.
Sosok yang menyerupai Yu Warsi mulai berjalan mendekat. Aku hanya menelan ludah. Sampai lima meter di depanku, ia menghentikan langkahnya. Kemudian tersedu dan melambai, sembari memanggil namaku. Semakin kupaksa menatap lamat, semakin jelas sosok Yu Warsi yang sedang meratap. "Tolong aku, Sinan! Tolong! Semua salahku. Aku minta maaf." Suaranya parau terdengar. Sekali aku mengerjapkan mata, sosok itu kemudian lenyap di hadapan. Namun, suara-suara itu masih tertinggal di pendengaran.
Tolong, tolong, tolong! Satu kata itu berkelibat terus mengiangi telinga, sampai-sampai bukannya tersadar, malah pening kepalaku terasa. Kucoba tundukkan lagi wajahku. Terpejam sejenak, lalu memaksa lagi melihat ke arah yang sama. Kini berganti, sebuah kepala yang wajahnya merah melepuh seperti terbakar, melayang cepat dari jauh sana ke arahku. Dan ... aaaaahhhhhh!!
"Sinan! Ada apa, sih?" Ibu mulai kesal, sehingga mengoyak kasar lengan kananku. Kembali aku tersadar, dengan napas tersengal yang begitu menggebu. Budhe lalu datang dari belakang, mengambilkanku minum. Dengan gemetar, kutampik gelas tersebut hingga pecah berceceran ke lantai.
"Sinan?!! Kamu ini kenapa?" Mata ibu semakin membulat sempurna menatapku. Masih, aku bergeming di tempat dengan mata penuh air.
Huh-hah-huh ... dan masih menstabilkan detak jantung yang berdegub begitu kencang.
Suami Yu Warsi dan Budhe menatap heran ke arahku, masih aku tak bisa berkata apapun. Hanya terbata mengucapkan maaf. Kali ini, kupalingkan wajahku pada perempuan tua yang tergeletak di ranjang. Ia masih tidur dengan pulasnya, sampai tak percaya aku dengan apa yang barusan terjadi.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Nanti barangkali butuh bantuan, datang ke rumah, ya?" Menyadari ada yang aneh, ibu lalu berpamitan pulang. Ibu salamkan sebuah amplop di tangan suami Yu Warsi, kemudian menggandengku ke luar rumah.
"Ada apa, Sinan? Mampir dulu, yuk, ke rumah Budhe?" ucap Budhe lirih. Spontan aku menggeleng. Kukatakan padanya, kepala mendadak pusing, lantas kutarik cepat tangan ibu untuk melangkah pergi. Benar saja ... setelah keluar dari rumah, hawa panas yang tadi langsung menghilang. Aneh ternyata.
Kupastikan, ada sesuatu di rumah Yu Warsi ....
****
"Maksud kamu, Yu Warsi sakit itu diguna-guna?" Ibu membelalakkan matanya seolah tak percaya mendengar apa yang kukata.
"Aku tak tahu, Bu. Aku tak bisa menyimpulkan itu. Hawanya benar-benar tidak enak di sana. Panas. Panas banget," jawabku. Ibu tak berkata lagi, hanya mengedarkan pandangan.
"Katakan pada keluarganya. Suruh undang kyai atau orang pintar, yang pasti, ada sesuatu pada Yu Warsi." Setelah berkata begitu, lalu aku beringsut, segera pergi menuju kamar. Kutinggalkan ibu sendirian di depan TV yang seakan merenung, entah memikirkan apa. Aku tak mau lama-lama membahas. Masih syok.
Cklek!
Kuputar kunci pintu kamar dengan pelan, kemudian menghempas kasar tubuh ke pembaringan. Masih tak bisa fokus berpikir. Tadinya, sama sekali tak ingin ikut campur masalah kesehatan Yu Warsi. Namun, entah kenapa, aku tak tega jika harus diam saja mengalami kejadian yang tadi. Benar-benar.jadi kepikiran.
Rasa gundah terus menghinggapi. Lagi, aku bangkit dan langsung menuju pintu. Ketika jemari mulai memutar kunci tersebut, muncul pergerakan aneh yang tiba-tiba saja menggetarkan tangan kananku. Sebuah pergerakan yang muncul tanpa disadari ... begitu hebat, hingga bahuku terguncang dengan dahsyatnya.
Aaahhh! Aku terpental hingga jatuh beberapa meter. Gila! Apa yang terjadi? Bahkan, ini terjadi di rumahku sendiri!
"Sinan? Kamu tak apa? Suara apa yang gaduh tadi?" Ibu mencoba membuka pintu kamar. Sadar pintu tak bisa dibuka, lantas ia mengetuk keras dengan suara paniknya. "Sinan? Buka! Ada apa? Kamu kenapa?"
Dan, suatu keanehan terjadi. Tiba-tiba, ibu dengan mudahnya langsung saja membuka pintu kamar tersebut, padahal awalnya masih terkunci.
"Sinan, ada apa?" Ibu mengoyak tubuhku yang tak berdaya di atas kasur. Mendadak lunglai, seakan tak ada tenaga sedikit pun. Aku bisa mendengar apa yang ibu kata, tapi aku kini sedang bergulat dalam batin yang dilanda kebingungan. 'Kamu siapa? Perlihatkan sosokmu! Apa maumu?' gumamku.
Sosok seorang wanita tiba-tiba muncul menembus pintu. Ia berambut lurus panjang, berhidung mancung, kulit kuning langsat, dengan bibir tipis dan kening jenong. Wanita bertubuh sedang itu tersenyum, menganggukkan pelan kepalanya, lalu berkata, "Pengikutku akan terus mengganggumu, karena kamu mengusik ketenanganku."
'Siapa kamu? Apa kamu yang membuat Yu Warsi sakit?'
Ia tersenyum lagi, lalu menggeleng, "Tujuanku hanya padamu. Bukan orang yang kau sebut."
'Lalu kenapa aku? Apa salahku?' tanyaku lagi. Sosok berparas ayu dengan pakaian penari itu, hanya tersenyum lagi. Ia berbalik sambil menyabetkan selendangnya ke arahku. Spontan aku mengerang. Bersamaan dengan itu, sosoknya pun hilang.
"Auh, auh!" Aku mengaduh kesakitan. Bibirku tiba-tiba saja tak bisa digerakkan. Mendadak miring sebelah, teringat bibir orang stroke.
Di sebelahku, ibu masih menangis menanyai. "Ada apa, Sinan? Ada apa? Ayo ngomong!"
"Uu ... auu ai'in oang ia." Tangis pertamaku luruh saat mulutku tak bisa berkata dengan benar. Ini akibat senggolan selendang perempuan tadi!
"Ya Allaah, Sinaaaaannn? Kamu kenapa tak bisa bicara, Nak? Bibir kamu kenapa jadi petot begitu?" Ibu semakin mengeraskan tangisannya. Ah, aku jadi pusing sendiri. Ini bukan waktunya untuk meratapi apa yang terjadi.
Cepat-cepat, aku berlari menuju meja belajar. Mengambil buku dan bolpoin. Dengan mulut yang masih miring ke kanan, kutuliskan sesuatu dalam kertas, lalu kusodorkan kertas tersebut pada ibu.
"Me-memanggil orang pintar?" Ibu membaca dengan raut heran. "Ini untuk Yu Warsi tadi? Atau ...." Belum sempat ibu melanjutkan omongannya, kurebut kembali kertas itu, dan menulis 'UNTUK AKU. POSISIKU SEDANG TAK BAIK, IBU. TOLONG!'
Selesai membaca itu, bukannya lekas pergi, ibu malah pingsan di tempat. Segera aku beringsut meminta pertolongan. Namun, lagi-lagi tanganku kesetrum saat mencoba memegang pintu.
Ya, Tuhan! Aku semakin menangis menjadi-jadi. Bagaimana mungkin aku diam saja di sini, ayah dan adik tak jua pulang-pulang dari memancing.
'Mbak Farida ... Mbak ... tolong aku!' Dalam kesedihan, kucoba panggil Farida untuk menemuiku.
Berhasilkah aku?
(Kira-kira, berhasil nggak, ya, Gaeeess? Coret-coret krisanmu di bawah, yuk!
)sulkhan1981 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Tutup