Kaskus

Story

agityunitaAvatar border
TS
agityunita
[JTPH] Bertemu Cinta Pertama
    

[JTPH] Bertemu Cinta Pertama 


Bertemu Cinta Pertama 




     Apa yang kau tahu tentang cinta pertama. Apa ia sebuah rasa yang indah atau sesuatu yang menyakitkan? Tapi kenapa semua orang sepertinya senang sekali menceritakan cinta pertama mereka. Meskipun mereka bilang cinta pertama itu tidak selalu berakhir bersama. Tetapi tetap saja cinta namanya. 

     Dan apakah semua orang harus merasakan cinta pertama? Dimana kebanyakan orang bercerita bahwa pertama kali mereka jatuh pada cinta adalah saat mereka masih duduk di bangku sekolah. Terutama SMA.

     Tapi tidak dengan Aira. Sampai usianya menginjak 20 tahun. Ia masih bertanya-tanya bagaimana rasanya cinta pertama itu. Bukan Aira anak yang tertutup. Kawannya banyak, laki-laki ataupun perempuan. Tapi soal siapa yang bisa menjatuhkan hatinya pada cinta, belum ada. 

***

     “Maaf mas, ada apa ya?”

     “Tuch, temen lo, nganterin menu salah melulu!”

     “Oh, biar saya ganti ya mas?” 

     “Gak usah, gue udah gak mood makan di sini!” Si lelaki itu pun pergi meninggalkan cafe.

      Eh, apa nih?

       Aira menemukan buku di atas meja. Oh, apa ini punya laki-laki tadi ya? tanya Aira dalam hatinya. Dia pun langsung membawa buku tersebut. Dan menaruhnya di meja kasir. Siapa tahu si pemilik buku kembali karena sadar ada yang tertinggal.

       Sore harinya, Aira pun memutuskan untuk membawa pulang buku yang tertinggal itu. Ia takut, buku itu dibuang oleh pelayan kafe yang lain. Karena berpikir itu buku yang tidak terpakai. 

***

        Keesokan harinya, 

        Buku yang ternyata berisi sketsa-sketsa gambar itu, Aira bawa serta dalam tasnya, saat kuliah hari ini. Dia berpikir, siapa tahu lelaki itu datang lagi ke cafe tempatnya bekerja. 

         Sesampainya di kampus…

Aira segera bergegas masuk ke kelas. Tapi sebelum sampai di kelasnya, sekilas ia melihat seseorang. Seseorang yang dia hafal cara bicaranya. Lebih tepatnya cara marah-marahnya.

Ah, dia itu kan?

         Iya, dia adalah laki-laki yang sama dengan yang kemarin marah-marah di kafe. Aira jadi greget deh, liat orang kok senengnya marah-marah gitu.

        Tanpa Aira sadari, ia mendekati laki-laki yang sedang bertengkar dengan kawannya itu. Dan dengan beraninya Aira langsung menarik tangannya dan membawa jauh lelaki itu dari pertengkarannya. 

     “Hey, hey, berhenti, kamu mau bawa aku kemana?”

      Eh, Aira langsung berhenti dan menoleh pada orang yang sedang ia genggam tangannya. Dengan cepat Aira melepas gandengannya. 

      Ya, ampun, aku ngapain sih? Sesal Aira sambil memukul keningnya. 

       “Heh, ngapain kamu narik-narik tangan aku, kalau mau kenalan itu bilang baik-baik kali, gak usah culik aku kayak gini!”

       “Apa, kenalan, siapa yang mau kenalan sama kamu, tadi itu, tadi itu… Aku cuma kesel lihat kamu berisik, jadi kamu mau aku buang ke situ!” sambil Aira menunjuk kolam ikan kecil yang tidak jauh dari mereka berdiri. 

Laki-laki itu malah tertawa.

      “Heh, kok malah ketawa, harusnya kamu takut!” 

      “Takut, nih, aku malah rela dilempar ke situ sama perempuan galak semanis kamu!” Yang dibilang manis langsung merasa panas mukanya, Aira pun memutuskan untuk pergi. Ia tidak mau laki-laki itu melihat muka merahnya.

      “Hey, kok malah pergi sich?”

***

         Akhirnya, selesai juga kuliah hari ini. Sebelum menuju ke cafe, Aira memutuskan untuk makan dulu di kantin kampus nya.  

          Tiba-tiba, Seseorang datang seperti habis berlari jauh dan meminum habis es jeruk yang di pesan Aira.

       “Hey, itu kan punya aku?!”

       “Oh, ya ampun, sorry-sorry, habis haus banget sih, aku pesenin lagi ya!’

Laki-laki itu, tidak lain adalah yang tadi pagi Aira tarik tangannya. Tiba-tiba, irama jantung Aira jadi tidak karuan.

      “Hey, kok malah bengong?” 

      “Eh, gak kok!” Aira pun memutuskan untuk pergi saja. Meskipun bakso yang dia makan belum habis.

      “Hey, mau kemana? Tuh baksonya belum habis, kasihan kan, lagian aku kan baru pesan es jeruk lagi, masa harus aku yang ngabisin?”

       Iya juga sih, sayang banget bakso nya, aku juga masih lapar… tapi…

Aira pun duduk kembali, dan meneruskan makan baksonya. Dan ia teringat pada buku sketsa itu.

      “Hey, ini, ini punya kamu kan?”

      “Apa?” 

      “Ini buku kamu kan, kemarin ketinggalan di cafe!” 

      “Oh, ya ampun, aku pikir ilang, makasih ya!”

      “Iya, sama-sama!”

      “Kamu lihat-lihat ya isinya?”

      “Eh, emang gak boleh ya, ya ampun maaf ya!” Aira langsung panik. 

Laki-laki itu malah tertawa. Ia senang melihat wajah Aira yang panik seperti itu.

     “Kamu ngerjain aku ya?”

    “Haha, siapa yang ngerjain kamu, aku kan cuma nanya, ya kalau kamu buka-buka juga gak apa-apa. Aku kan gak bilang gak bokeh!”.

      Iya juga sih, Aira jadi malu sendiri. Ia langsung segera menghabiskan makanan dan minumnya. Dia merasa tidak bisa lama-lama dekat dengan laki-laki ini, bisa sesak nafasnya. 

      “Ya udah, aku duluan!” 

      “Eh, kamu mau ke cafe?”

      “Iya!”

      “Aku ikut!”

Aira tidak bisa melarang laki-laki itu untuk mengikutinya. Dan membuat kerja Aira jadi tidak tenang. Ia seperti merasa terus diperhatikan. Iya, laki-laki itu terus memperhatikannya. Baru saja mereka beradu pandang. Dan laki-laki itu tersenyum ke arahnya.

     “Hey, kamu gak akan pulang?” Aira memberanikan diri bertanya pada laki-laki itu.  

     “Aku kan mau pulang bareng kamu!” 

     “Kok, kenapa?” 

     “Ya gak apa-apa, atau udah ada yang jemput kamu pulang ya? Tapi kayaknya sih gak ada, aku perhatiin kamu kemana-mana sendiri, pasti masih jomblo, hehe!”

     “Kamu suka ngikutin aku ya?”

     “Haha, ngapain, aku kan suka nongkrong di cafe ini, kamu aja yang gak pernah sadar ada cowok seganteng aku duduk di sini!”

      “Ih, pede banget sih!” Aira pun berlalu, ia meninggalkan lelaki yang tertawa itu. Sebentar lagi memang waktunya pulang. 

       Kafe pun tutup dan Aira tidak mendapati laki-laki itu di kursinya. Baguslah, dia pulang duluan. Aira pun ke luar dari cafe.

       “Hey, nyari aku ya!”

Aira kaget, tiba-tiba laki-laki itu ada di hadapannya. Memberikan senyumannya yang manis. Oh, ya ampun, jantung Aira kembali berdetak tak karuan. 

      “Gak, kok, siapa yang nyariin kamu, malah aku seneng kalo kamu udah pulang!” 

      “Oh gitu ya, tapi muka kamu kayak yang seneng lho liat aku!”

Aira segera mengusap wajahnya. Ia jadi salah tingkah, ah ya ampun. Siapa sih laki-laki ini?

        Tanpa ada yang mengiyakan atau menolak. Mereka pun pulang bersama. Naik bus kota. Aira sudah biasa.

***

         Dan sejak saat itu, entah kenapa mereka jadi dekat. Ah, bukan berarti Aira berani lama-lama menatap wajah laki-laki yang ternyata bernama Nandy itu. Nandy yang selalu dengan senang hati menemani Aira, meski Aira tidak pernah memintanya. Dia yang lebih banyak bercerita daripada Aira. 

         Hingga lama-lama, Aira pun merasakan keberadaan Nandy di dekatnya memberi warna baru dalam hari-harinya. Ia sudah tidak merasa canggung lagi. Meskipun wajahnya tetap merah jika beradu pandang dengan Nandy. 

         Apakah Aira sedang jatuh Cinta?

         Jika iya, ini adalah cinta pertamanya. Tapi Aira masih mencoba menampik itu. Dia merasa, Nandy teman yang baik. Meski dia memang tampan. 

Hingga beberapa bulan kemudian….

         “Ra, besok kamu ada acara gak?”

         “Besok, hari minggu ya, kayaknya sih gak, emangnya kenapa?”

         “Besok aku ingin ngajak kamu jalan-jalan, gimana?” 

         “Kemana?”

         “Ya kemana aja, namanya juga jalan-jalan, mau ya!”

         Nandy menggenggam tangan Aira. Yang dipegang tangannya cuma masang wajah merah dan mengangguk perlahan.

         Dan besoknya, mereka pun jalan-jalan. Nandy menggunakan motornya menjemput Aira sekitar pukul 7 pagi.

        “Nan, ini masih pagi lho, dan ini hari minggu, aku masih ngantuk!”

         “Tapi kamu udah mandi kan?” goda Nandy pada Aira dan Ia mendapatkan dorongan lembut dari Aira.

          Mereka pun pergi meninggalkan rumah Aira. Entah mereka mau kemana. 

          Tadi malam, sebelum tidur, Aira memikirkan perasaannya pada Nandy. Dia menerka-nerka, apakah ia menyukai Nandy. Dan itu membuat Naira senyum-senyum sendiri. Dan dia berjanji akan menyimpan ini sendiri saja. Nandy tidak perlu tahu. Aira tidak mau, pertemanan nya dengan Nandy jadi berantakan. Hanya karena perkara jatuh cintanya itu.

         Dan sampailah mereka, di sebuah pantai. Aira yang sedari tadi asyik dengan pikirannya sendiri. Tidak menyangka akan dibawa oleh Nandy sejauh ini.

        “Gimana, kamu suka gak?”

        “Indah banget Nan, aku udah lama gak main ke Pantai, makasih ya!” tanpa sadar Aira merangkul lengan Nandy, karena terlalu senang. Langsung Aira melepaskan tangannya dari lengan Nandy, tapi ditahan oleh Nandy.

        “Gak apa-apa kan kayak gini, kamu tuh kalau dekat aku, kayak yang takut gitu!”

         “Eh, gak kok Nan, aku bukannya takut sama kamu!”

         “Terus kenapa? Malu ya jalan sama aku, kenal sama aku, apalagi kalau aku ajak ngobrol kamu, kayaknya kamu tuh ingin cepat-cepat pergi dari aku!” sambil terus memegang tangan Aira yang melingkar di lengannya, Nandy menunduk. Membuat Aira jadi tak enak hati. 

        “Nan, kamu kok bisa mikir kayak gitu sih? Aku tuh seneng ngobrol sama kamu, aku seneng kok kenal sama kamu, aku juga gak malu kalau dekat-dekat sama kamu!”

        “Beneran?” 

        “Iya, bener!”

        “Kalau gitu, hari ini kita jalan-jalan berdua, kamu harus mau ikut kemana pun aku ajak!”

        “Emang kita masih mau pergi lagi?”

        “Hhmm iya, tapi kita makan siang dulu, tuh ada warung makan, di sana ikan bakarnya enak banget, yuk!” Nandy menggandeng dangan Aira. 

          Ah, Nandy. Aku jadi ingin tahu. Apa kamu juga menyukaiku. Tapi apa aku harus menanyakannya langsung padamu. Ya ampun, bagaimana kalau kamu menertawakan perasaan ku ini. Apalagi ini kali Pertama nya aku jatuh cinta. 

          Selesai makan, Nandy membawa Aira menaiki bukit yang ada di sekitar pantai. 

          “Ra, aku mau kasih kamu sesuatu!”

          “Apa?”

           Nandy memberikan buku sketsanya.

           “Buat kamu!”

           “Buat aku, tapi ini kan buku gambar kamu, nanti kamu gambar pake apa?

           “Kamu tuh lucu banget sih ra!” Nandy menyentuh dagu Aira, membuat wajah Aira memerah. 

           “Aku masih punya banyak kok, lagian itu sketsa lama. Kira-kira dari setahun yang lalu.” 

           “Hmm, makasih kalau gitu Nan, Boleh aku lihat isinya?”

           “Bolehlah, disimpan lho ya, jangan buat bungkus gorengan, hehe!”

           “Ya gak dong Nan, Apalagi isinya…..!” Aira terkejut, melihat lembar demi lembar sketsa itu. Memang warna kertasnya mulai menguning. Mungkin karena yang tadi Nandy Bilang, itu sudah setahun usianya. Tapi, yang lebih membuat Aira tidak dapat berkata apa-apa adalah. Apa yang Nandy gambarkan di setiap lembar kertasnya. Itu adalah gambar dirinya.

              “Ini, aku?” Aira merasa terharu, hampir saja ia membasahi kertas itu dengan air matanya.

             “Iya, Ra, itu kamu… kamu benar waktu kamu bilang aku tukang ngikutin. Karena memang aku sudah memperhatikanmu sejak lama, maafin aku, aku suka sama kamu Ra!” pengakuan Nandy jelas membuat Aira kaget. Tapi tidak dipungkiri jika hatinya merasa senang.

       Cinta pertamanya, ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.

           “Kamu, kenapa malah nangis? Maafin aku Ra, kalau apa yang aku lakuin ini gak kamu suka, kamu gak perlu kasih aku jawaban apa-apa kok, aku cuma mau jujur aja sama kamu!”

Aira menghapus Air matanya. Ia tersenyum pada Nandy. Merangkulkan tangannya di lengan Nandy dengan lebih erat. Dan Menyandarkan kepalanya di bahu Nandy. Untuk pertama kalinya, Nandy yang merasa salah tingkah.

         “Aku nangis karena bahagia Nan, jujur, aku juga suka sama kamu. Aku jatuh cinta sama semua yang kamu lakuin ke aku. Dan kamu cinta pertama buat aku!”

          Bukan Nandy, kalau bertahan serius lama.

          “Wah, jadi aku cinta pertama kamu nih, senangnya, jadi mulai hari ini kita resmi pacaran, ya udah yuk pulang!”

Aira bengong. Sikap romantis Nandy buyar sudah, kembali ke Nandy yang berisik dan sedikit nyeleneh. Tapi Aira Langsung tersadar. Itulah yang membuat ia menyukai Nandy. Berbeda.

            “Nandy, tunggu, siapa bilang kita pacaran” 

            “Akulah, aku kan cinta pertama kamu!” Nandy berlari meninggalkan Aira menuju ke pantai. Dan mereka pun  menghabiskan waktu di sana hingga matahari terbenam. 

Aira senang. Bisa berada dalam dekapan Nandy. Semoga cinta pertamanya ini, juga  menjadi cinta terakhir baginya.


Selesai




Cerita Kedua

Cerita Ketiga

Cerita Keempat

Cerita Kelima

Cerita Keenam

Cerita Ketujuh

Cerita Kedelapan

Cerita Kesembilan

Cerita Kesepuluh

Cerita Kesebelas

Cerita Kedua Belas

Cerita Ketiga Belas

Cerita Keempat Belas

Cerita Kelima Belas


@agityunita




Kumpulan Cerita Selanjutnya
Diubah oleh agityunita 02-03-2020 08:51
Gimi96Avatar border
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 18 lainnya memberi reputasi
17
4K
54
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
agityunitaAvatar border
TS
agityunita
#44
Cerita Kesebelas
Januari



        Dan dia datang lagi. Sebagai pemula Tahun yang baru. Bulan yang selalu kau hindari. Karena terlalu sering ia mendatangkan duka. Akankah Januari kali ini pun seperti itu?

***

     Dhania menenteng tasnya dengan lesu. Semalam dia tak tidur. Memikirkan awal tahun baru nya yang selalu saja horor. 

     Ya, tahun lalu adalah tahun terberat bagi dirinya. Ayah dan ibu Dhania harus pergi meninggalkan dia untuk selamanya. Mereka terkena kecelakaan pesawat saat akan kembali ke Indonesia.

      Ayah Dhania adalah seorang dosen. Sering sekali mendapat undangan ke luar negeri. Sayang tahun itu adalah kepergian mereka. Tak biasanya sang ibu menemani sang ayah bepergian. Namun saat itu, ibunya ingin sekali ikut. Dia bilang Australia kan dekat dari Indonesia.

       Dhania yang anak tunggal pun kini hanya tinggal sendiri. Sebenarnya tidak benar-benar sendiri. Di rumah yang tidak kecil itu ia tinggal bersama dua pembantunya. Yang pertama adalah Mbak Sri dan yang kedua Mas Aji. 

        Tapi meskipun begitu, Dhania tetap saja merasa sendiri. Sesekali dia mengunjungi Tante Maya. Adik satu-satunya sang ayah. Sungguh sedikit sekali keluarganya. Sang Mama sama seperti dirinya, anak tunggal.

        Untung saja Dhania bukan anak yang manja. Meski ia putri satu-satunya, ia adalah gadis yang mandiri. Selama setahun, dia beradaptasi dengan kesendiriannya. Hingga tahun baru dengan bulan Januarinya pun datang lagi. Maka ia pun mengenang segala kesedihan itu. 

***

      Entah mengapa Januari bagi Dhania selalu mengantarkan kesedihan. Januari dua tahun yang lalu, ia harus mengakhiri hubungannya dengan Erlan. 

       Dimana Erlan adalah Cinta pertama Dhania. Mereka menjalin hubungan sejak duduk di bangku SMA. Berlanjut hingga kuliah. 

        Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk saling mengenal. Namun entah mengapa, kata putus itu pun harus dirasakan oleh Dhania. 

        Alasan mereka berpisah sebenarnya sederhana saja. Ada kejenuhan dalam hubungan mereka. Erlan tak kunjung memberikan penjelasan akan dibawa kemana hubungannya dengan Dhania. Tetapi Dhania merasa, seharusnya pernikahan bisa menjadi pilihan bagi mereka berdua. Namun ternyata, tidak dimata Erlan.

          Hingga akhirnya, mereka memilih jalan mereka masing-masing. Dan sejak itu, Erlan tak lagi berkomunikasi dengan Dhania. Ada rasa kecewa dalam hati Dhania. Tampaknya Erlan memang menginginkan perpisahan itu.

***

        Dan kini, di Januari yang baru. Dhania sangat berharap segala keburukan yang sering menghantui bulan pembuka tahun barunya itu, tak perlu terjadi lagi. Dhania ingin dia dapat melewati sepanjang tahunnya tanpa air mata lagi.

         

Hari ke-10 Bulan Januari,,,,

         Segalanya terasa berjalan begitu lancar. Pekerjaan Dhania sebagai penulis freelance pun lebih baik lagi. Dhania Berharap agar terus saja seperti itu.

Hatinya mungkin memang kuat jika harus menerima keburukan sekali lagi. Tapi jika ada pilihan untuk bahagia, kenapa harus memasrahkan diri pada kesulitan.

        Seperti biasa, awal bulan. Banyak pertemuan yang dilakukan Dhania dengan komunitas menulisnya. Mereka menyusun jadwal selama satu tahun. Agar segalanya terarah. Dan kali ini nampak ada yang berbeda. Komunitas menulis yang diikuti Dhania kedatangan anggota baru. 

      Dan di antara banyaknya orang yang mendaftarkan diri pada komunis menulis itu, ada satu orang yang menarik di mata Dhania. Seorang laki-laki dengan rambut agak panjang, diikat ekor kuda. Wajahnya terlihat ramah, dan jika tersenyum ada lesung pipi yang membuatnya semakin manis.

        Siapa dia? Hingga akhirnya namanya disebut dan biodata singkat tentang dirinya. Membuat Dhania semakin terpana. 

Laki-laki itu bernama Januar. Lahir tanggal 1 Januari.

Dhania tidak menyangka. Dan jadi merasa sedikit takut. Akan ada kejutan apa lagi di Bulan Januarinya?

***

Hari ke-15 Bulan Januari…

        Seiring banyaknya kegiatan komunitas menulis yang diikuti Dhania, kedekatannya dengan Januar pun semakin terjalin. Januar yang ternyata juga merupakan anak satu-satunya, seperti Dhania, jadi seperti memiliki adik. 

        Ya untuk sekarang ini, mungkin Januar masih nyaman menganggap Dhania sebatas adiknya saja. Ia bebas bercerita apa saja pada Dhania. 

        Januar memiliki kisah bulan Januari yang bertolak belakang dengan Dhania. Bulan Januari Seorang Januar selalu diisi dengan hal-hal yang indah. Dan ketika Januar mendengar setiap cerita sedih yang Dhania ceritakan. Januar jadi ingin mengubah pandangan Dhania tentang Bulan Januari. Januar akan memberikan Januari yang sangat berkesan untuk Dhania. 

       

Hari ke-20 Bulan Januari...

         Dalam hati Dhania, lahir perasaan-perasaan yang aneh pada Januar. Kenapa Dibilang aneh? Karena Dhania merasa tertarik pada apa yang ada di diri Januar. Tetapi Januar tetap saja menganggap nya sebagai seorang adik. Tidak lebih seperti yang Dhania harapkan. 

         Namun Januar, berhasil membuat Januari Dhania lebih indah. Setiap waktu, Dhania tidak pernah kesepian lagi. Januar selalu ada saat Dhania membutuhkannya. Januar selalu memberikan perhatian yang lebih pada Dhania. 

          Itulah yang membuat Dhania berpikir, apakah hanya sebatas ini hubungannya dengan Januar. Sebenarnya, bagaimana perasaan Januar pada dirinya. Dan Dhania, memutuskan untuk menanyakan nya langsung kepada Januar.

***

 Lima hari sebelum Bulan Januari berakhir….

           Sudah hampir seminggu, Januar menghilang. Sejak Dhania bertanya tentang perasaan Januar pada dirinya. Januar seperti menjauh. Dan sebentar lagi Januari akan berakhir. Dhania berpikir ini pasti Januari nya yang kesekian yang akan meninggalkan jejak kesenduan.

“Sedang apa?” tanya Januar yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Dhani yang sedang melamun sendiri di taman.

“Januar?” tanya Dhania kembali, pertanyaan yang tidak penting yang keluar dari mulutnya karena terlalu terkejut.

            Januar nya yang telah lama tak ia jumpai, kini ada di sampingnya.Tapi Dhania mencoba tenang. Ia tidak mau terlihat begitu senang, apalagi benar-benar mengharapkan kedatangan Januar. 

“Iyalah ini aku, kamu gak suka aku datang?”

“Suka, cuma kaget aja, kemana aja?” tanya Dhania akhirnya

“Ada aja, aku sedang menyiapkan sesuatu untukmu!”

“Apa?”

“Kejutan dong!” 

          Sambil memandang wajah Januar, Dhania mengakui dalam hatinya. Ia merindukan laki-laki itu. Dhania juga hanya bisa bertanya dalam hati, apakah Januar pun merasakan hal yang sama padanya.

“Aku menahan rinduku padamu demi membuktikan padamu bahwa Januari tak selalu meninggalkan kesedihan!”

Penjelasan Januar membuat wajah Dhania merona. Apalagi saat Januar menggenggam tangannya.

“Aku hanya ingin, kamu bahagia!”

          Dhania tersenyum. Hilang semua prasangka buruknya. Entah apa yang akan Januar berikan pada Dhania. Tapi Dhania yakin itu adalah hal yang akan sangat membuatnya bahagia. 


Malam Terakhir di bulan Januari ….

           Sekitar jam delapan pagi, Januar sudah berada di rumah Dhania. Dhania pun sedikit merasa terkejut, namun sejak semalam dia memang tak dapat memejamkan matanya. Dia penasaran, apa yang akan Januar berikan padanya.

“Kita mau kemana sih Jan?” tanya Dhania penasaran

“Kemana pun aku akan mengajakmu, kamu harus percaya, aku akan selalu berada di sampingmu!”

Dhania hanya bisa mengangguk. Menahan rasa penasarannya.

            Hingga sampailah mereka pada tempat yang tak asing untuk Dhania. Januar membawa Dhania ke tempat pemakaman kedua orang tua nya. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipi Dhania. 

            Sudah lama sekali ia tak datang ke tempat ini. 

“Mereka tidak pernah benar-benar pergi dhania!” Januar membuka keheningan, “Mereka selalu ada di hatimu dan di dalam doa-doamu, dan di depan pusara mereka, aku ingin mengatakan sesuatu!” Januar menggenggam jemari dhania begitu erat.

“Aku akan menjadi penjagamu seumur hidupku!” sambil berlutut di hadapan Dhania, Januar menyodorkan sebuah cincin.

“Sungguh, aku meminta izin pada kedua orang tuamu, untuk melamarmu malam ini!”

              Senang dan terharu bercampur dalam benak Dhania. Dengan mata yang masih basah, ia mengangguk dengan penuh kesungguhan. Dan Dhania juga merasa ini adalah Januari terindah bagi dirinya.

“Terima kasih!” hanya ucap sederhana itu yang dapat dhania ucapkan. Dia larut dalam peluk hangat Januar.

             Mereka pun segera meninggalkan pemakaman orang tua Dhania. Dengan rasa bahagia. Dan Januari telah terlewati dengan sangat menakjubkan. Dhania percaya bahwa tak selamanya, Januari nya menyisakan sebuah kesedihan. Bersama Januar ia mewujudkan Januari yang begitu indah.


Selesai
Diubah oleh agityunita 19-02-2020 20:08
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.