Kaskus

Story

agityunitaAvatar border
TS
agityunita
[JTPH] Bertemu Cinta Pertama
    

[JTPH] Bertemu Cinta Pertama 


Bertemu Cinta Pertama 




     Apa yang kau tahu tentang cinta pertama. Apa ia sebuah rasa yang indah atau sesuatu yang menyakitkan? Tapi kenapa semua orang sepertinya senang sekali menceritakan cinta pertama mereka. Meskipun mereka bilang cinta pertama itu tidak selalu berakhir bersama. Tetapi tetap saja cinta namanya. 

     Dan apakah semua orang harus merasakan cinta pertama? Dimana kebanyakan orang bercerita bahwa pertama kali mereka jatuh pada cinta adalah saat mereka masih duduk di bangku sekolah. Terutama SMA.

     Tapi tidak dengan Aira. Sampai usianya menginjak 20 tahun. Ia masih bertanya-tanya bagaimana rasanya cinta pertama itu. Bukan Aira anak yang tertutup. Kawannya banyak, laki-laki ataupun perempuan. Tapi soal siapa yang bisa menjatuhkan hatinya pada cinta, belum ada. 

***

     “Maaf mas, ada apa ya?”

     “Tuch, temen lo, nganterin menu salah melulu!”

     “Oh, biar saya ganti ya mas?” 

     “Gak usah, gue udah gak mood makan di sini!” Si lelaki itu pun pergi meninggalkan cafe.

      Eh, apa nih?

       Aira menemukan buku di atas meja. Oh, apa ini punya laki-laki tadi ya? tanya Aira dalam hatinya. Dia pun langsung membawa buku tersebut. Dan menaruhnya di meja kasir. Siapa tahu si pemilik buku kembali karena sadar ada yang tertinggal.

       Sore harinya, Aira pun memutuskan untuk membawa pulang buku yang tertinggal itu. Ia takut, buku itu dibuang oleh pelayan kafe yang lain. Karena berpikir itu buku yang tidak terpakai. 

***

        Keesokan harinya, 

        Buku yang ternyata berisi sketsa-sketsa gambar itu, Aira bawa serta dalam tasnya, saat kuliah hari ini. Dia berpikir, siapa tahu lelaki itu datang lagi ke cafe tempatnya bekerja. 

         Sesampainya di kampus…

Aira segera bergegas masuk ke kelas. Tapi sebelum sampai di kelasnya, sekilas ia melihat seseorang. Seseorang yang dia hafal cara bicaranya. Lebih tepatnya cara marah-marahnya.

Ah, dia itu kan?

         Iya, dia adalah laki-laki yang sama dengan yang kemarin marah-marah di kafe. Aira jadi greget deh, liat orang kok senengnya marah-marah gitu.

        Tanpa Aira sadari, ia mendekati laki-laki yang sedang bertengkar dengan kawannya itu. Dan dengan beraninya Aira langsung menarik tangannya dan membawa jauh lelaki itu dari pertengkarannya. 

     “Hey, hey, berhenti, kamu mau bawa aku kemana?”

      Eh, Aira langsung berhenti dan menoleh pada orang yang sedang ia genggam tangannya. Dengan cepat Aira melepas gandengannya. 

      Ya, ampun, aku ngapain sih? Sesal Aira sambil memukul keningnya. 

       “Heh, ngapain kamu narik-narik tangan aku, kalau mau kenalan itu bilang baik-baik kali, gak usah culik aku kayak gini!”

       “Apa, kenalan, siapa yang mau kenalan sama kamu, tadi itu, tadi itu… Aku cuma kesel lihat kamu berisik, jadi kamu mau aku buang ke situ!” sambil Aira menunjuk kolam ikan kecil yang tidak jauh dari mereka berdiri. 

Laki-laki itu malah tertawa.

      “Heh, kok malah ketawa, harusnya kamu takut!” 

      “Takut, nih, aku malah rela dilempar ke situ sama perempuan galak semanis kamu!” Yang dibilang manis langsung merasa panas mukanya, Aira pun memutuskan untuk pergi. Ia tidak mau laki-laki itu melihat muka merahnya.

      “Hey, kok malah pergi sich?”

***

         Akhirnya, selesai juga kuliah hari ini. Sebelum menuju ke cafe, Aira memutuskan untuk makan dulu di kantin kampus nya.  

          Tiba-tiba, Seseorang datang seperti habis berlari jauh dan meminum habis es jeruk yang di pesan Aira.

       “Hey, itu kan punya aku?!”

       “Oh, ya ampun, sorry-sorry, habis haus banget sih, aku pesenin lagi ya!’

Laki-laki itu, tidak lain adalah yang tadi pagi Aira tarik tangannya. Tiba-tiba, irama jantung Aira jadi tidak karuan.

      “Hey, kok malah bengong?” 

      “Eh, gak kok!” Aira pun memutuskan untuk pergi saja. Meskipun bakso yang dia makan belum habis.

      “Hey, mau kemana? Tuh baksonya belum habis, kasihan kan, lagian aku kan baru pesan es jeruk lagi, masa harus aku yang ngabisin?”

       Iya juga sih, sayang banget bakso nya, aku juga masih lapar… tapi…

Aira pun duduk kembali, dan meneruskan makan baksonya. Dan ia teringat pada buku sketsa itu.

      “Hey, ini, ini punya kamu kan?”

      “Apa?” 

      “Ini buku kamu kan, kemarin ketinggalan di cafe!” 

      “Oh, ya ampun, aku pikir ilang, makasih ya!”

      “Iya, sama-sama!”

      “Kamu lihat-lihat ya isinya?”

      “Eh, emang gak boleh ya, ya ampun maaf ya!” Aira langsung panik. 

Laki-laki itu malah tertawa. Ia senang melihat wajah Aira yang panik seperti itu.

     “Kamu ngerjain aku ya?”

    “Haha, siapa yang ngerjain kamu, aku kan cuma nanya, ya kalau kamu buka-buka juga gak apa-apa. Aku kan gak bilang gak bokeh!”.

      Iya juga sih, Aira jadi malu sendiri. Ia langsung segera menghabiskan makanan dan minumnya. Dia merasa tidak bisa lama-lama dekat dengan laki-laki ini, bisa sesak nafasnya. 

      “Ya udah, aku duluan!” 

      “Eh, kamu mau ke cafe?”

      “Iya!”

      “Aku ikut!”

Aira tidak bisa melarang laki-laki itu untuk mengikutinya. Dan membuat kerja Aira jadi tidak tenang. Ia seperti merasa terus diperhatikan. Iya, laki-laki itu terus memperhatikannya. Baru saja mereka beradu pandang. Dan laki-laki itu tersenyum ke arahnya.

     “Hey, kamu gak akan pulang?” Aira memberanikan diri bertanya pada laki-laki itu.  

     “Aku kan mau pulang bareng kamu!” 

     “Kok, kenapa?” 

     “Ya gak apa-apa, atau udah ada yang jemput kamu pulang ya? Tapi kayaknya sih gak ada, aku perhatiin kamu kemana-mana sendiri, pasti masih jomblo, hehe!”

     “Kamu suka ngikutin aku ya?”

     “Haha, ngapain, aku kan suka nongkrong di cafe ini, kamu aja yang gak pernah sadar ada cowok seganteng aku duduk di sini!”

      “Ih, pede banget sih!” Aira pun berlalu, ia meninggalkan lelaki yang tertawa itu. Sebentar lagi memang waktunya pulang. 

       Kafe pun tutup dan Aira tidak mendapati laki-laki itu di kursinya. Baguslah, dia pulang duluan. Aira pun ke luar dari cafe.

       “Hey, nyari aku ya!”

Aira kaget, tiba-tiba laki-laki itu ada di hadapannya. Memberikan senyumannya yang manis. Oh, ya ampun, jantung Aira kembali berdetak tak karuan. 

      “Gak, kok, siapa yang nyariin kamu, malah aku seneng kalo kamu udah pulang!” 

      “Oh gitu ya, tapi muka kamu kayak yang seneng lho liat aku!”

Aira segera mengusap wajahnya. Ia jadi salah tingkah, ah ya ampun. Siapa sih laki-laki ini?

        Tanpa ada yang mengiyakan atau menolak. Mereka pun pulang bersama. Naik bus kota. Aira sudah biasa.

***

         Dan sejak saat itu, entah kenapa mereka jadi dekat. Ah, bukan berarti Aira berani lama-lama menatap wajah laki-laki yang ternyata bernama Nandy itu. Nandy yang selalu dengan senang hati menemani Aira, meski Aira tidak pernah memintanya. Dia yang lebih banyak bercerita daripada Aira. 

         Hingga lama-lama, Aira pun merasakan keberadaan Nandy di dekatnya memberi warna baru dalam hari-harinya. Ia sudah tidak merasa canggung lagi. Meskipun wajahnya tetap merah jika beradu pandang dengan Nandy. 

         Apakah Aira sedang jatuh Cinta?

         Jika iya, ini adalah cinta pertamanya. Tapi Aira masih mencoba menampik itu. Dia merasa, Nandy teman yang baik. Meski dia memang tampan. 

Hingga beberapa bulan kemudian….

         “Ra, besok kamu ada acara gak?”

         “Besok, hari minggu ya, kayaknya sih gak, emangnya kenapa?”

         “Besok aku ingin ngajak kamu jalan-jalan, gimana?” 

         “Kemana?”

         “Ya kemana aja, namanya juga jalan-jalan, mau ya!”

         Nandy menggenggam tangan Aira. Yang dipegang tangannya cuma masang wajah merah dan mengangguk perlahan.

         Dan besoknya, mereka pun jalan-jalan. Nandy menggunakan motornya menjemput Aira sekitar pukul 7 pagi.

        “Nan, ini masih pagi lho, dan ini hari minggu, aku masih ngantuk!”

         “Tapi kamu udah mandi kan?” goda Nandy pada Aira dan Ia mendapatkan dorongan lembut dari Aira.

          Mereka pun pergi meninggalkan rumah Aira. Entah mereka mau kemana. 

          Tadi malam, sebelum tidur, Aira memikirkan perasaannya pada Nandy. Dia menerka-nerka, apakah ia menyukai Nandy. Dan itu membuat Naira senyum-senyum sendiri. Dan dia berjanji akan menyimpan ini sendiri saja. Nandy tidak perlu tahu. Aira tidak mau, pertemanan nya dengan Nandy jadi berantakan. Hanya karena perkara jatuh cintanya itu.

         Dan sampailah mereka, di sebuah pantai. Aira yang sedari tadi asyik dengan pikirannya sendiri. Tidak menyangka akan dibawa oleh Nandy sejauh ini.

        “Gimana, kamu suka gak?”

        “Indah banget Nan, aku udah lama gak main ke Pantai, makasih ya!” tanpa sadar Aira merangkul lengan Nandy, karena terlalu senang. Langsung Aira melepaskan tangannya dari lengan Nandy, tapi ditahan oleh Nandy.

        “Gak apa-apa kan kayak gini, kamu tuh kalau dekat aku, kayak yang takut gitu!”

         “Eh, gak kok Nan, aku bukannya takut sama kamu!”

         “Terus kenapa? Malu ya jalan sama aku, kenal sama aku, apalagi kalau aku ajak ngobrol kamu, kayaknya kamu tuh ingin cepat-cepat pergi dari aku!” sambil terus memegang tangan Aira yang melingkar di lengannya, Nandy menunduk. Membuat Aira jadi tak enak hati. 

        “Nan, kamu kok bisa mikir kayak gitu sih? Aku tuh seneng ngobrol sama kamu, aku seneng kok kenal sama kamu, aku juga gak malu kalau dekat-dekat sama kamu!”

        “Beneran?” 

        “Iya, bener!”

        “Kalau gitu, hari ini kita jalan-jalan berdua, kamu harus mau ikut kemana pun aku ajak!”

        “Emang kita masih mau pergi lagi?”

        “Hhmm iya, tapi kita makan siang dulu, tuh ada warung makan, di sana ikan bakarnya enak banget, yuk!” Nandy menggandeng dangan Aira. 

          Ah, Nandy. Aku jadi ingin tahu. Apa kamu juga menyukaiku. Tapi apa aku harus menanyakannya langsung padamu. Ya ampun, bagaimana kalau kamu menertawakan perasaan ku ini. Apalagi ini kali Pertama nya aku jatuh cinta. 

          Selesai makan, Nandy membawa Aira menaiki bukit yang ada di sekitar pantai. 

          “Ra, aku mau kasih kamu sesuatu!”

          “Apa?”

           Nandy memberikan buku sketsanya.

           “Buat kamu!”

           “Buat aku, tapi ini kan buku gambar kamu, nanti kamu gambar pake apa?

           “Kamu tuh lucu banget sih ra!” Nandy menyentuh dagu Aira, membuat wajah Aira memerah. 

           “Aku masih punya banyak kok, lagian itu sketsa lama. Kira-kira dari setahun yang lalu.” 

           “Hmm, makasih kalau gitu Nan, Boleh aku lihat isinya?”

           “Bolehlah, disimpan lho ya, jangan buat bungkus gorengan, hehe!”

           “Ya gak dong Nan, Apalagi isinya…..!” Aira terkejut, melihat lembar demi lembar sketsa itu. Memang warna kertasnya mulai menguning. Mungkin karena yang tadi Nandy Bilang, itu sudah setahun usianya. Tapi, yang lebih membuat Aira tidak dapat berkata apa-apa adalah. Apa yang Nandy gambarkan di setiap lembar kertasnya. Itu adalah gambar dirinya.

              “Ini, aku?” Aira merasa terharu, hampir saja ia membasahi kertas itu dengan air matanya.

             “Iya, Ra, itu kamu… kamu benar waktu kamu bilang aku tukang ngikutin. Karena memang aku sudah memperhatikanmu sejak lama, maafin aku, aku suka sama kamu Ra!” pengakuan Nandy jelas membuat Aira kaget. Tapi tidak dipungkiri jika hatinya merasa senang.

       Cinta pertamanya, ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.

           “Kamu, kenapa malah nangis? Maafin aku Ra, kalau apa yang aku lakuin ini gak kamu suka, kamu gak perlu kasih aku jawaban apa-apa kok, aku cuma mau jujur aja sama kamu!”

Aira menghapus Air matanya. Ia tersenyum pada Nandy. Merangkulkan tangannya di lengan Nandy dengan lebih erat. Dan Menyandarkan kepalanya di bahu Nandy. Untuk pertama kalinya, Nandy yang merasa salah tingkah.

         “Aku nangis karena bahagia Nan, jujur, aku juga suka sama kamu. Aku jatuh cinta sama semua yang kamu lakuin ke aku. Dan kamu cinta pertama buat aku!”

          Bukan Nandy, kalau bertahan serius lama.

          “Wah, jadi aku cinta pertama kamu nih, senangnya, jadi mulai hari ini kita resmi pacaran, ya udah yuk pulang!”

Aira bengong. Sikap romantis Nandy buyar sudah, kembali ke Nandy yang berisik dan sedikit nyeleneh. Tapi Aira Langsung tersadar. Itulah yang membuat ia menyukai Nandy. Berbeda.

            “Nandy, tunggu, siapa bilang kita pacaran” 

            “Akulah, aku kan cinta pertama kamu!” Nandy berlari meninggalkan Aira menuju ke pantai. Dan mereka pun  menghabiskan waktu di sana hingga matahari terbenam. 

Aira senang. Bisa berada dalam dekapan Nandy. Semoga cinta pertamanya ini, juga  menjadi cinta terakhir baginya.


Selesai




Cerita Kedua

Cerita Ketiga

Cerita Keempat

Cerita Kelima

Cerita Keenam

Cerita Ketujuh

Cerita Kedelapan

Cerita Kesembilan

Cerita Kesepuluh

Cerita Kesebelas

Cerita Kedua Belas

Cerita Ketiga Belas

Cerita Keempat Belas

Cerita Kelima Belas


@agityunita




Kumpulan Cerita Selanjutnya
Diubah oleh agityunita 02-03-2020 08:51
Gimi96Avatar border
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 18 lainnya memberi reputasi
17
4K
54
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
agityunitaAvatar border
TS
agityunita
#41
Cerita Kedelapan
Ada Apa dengan Pernikahan?




       Undangan pernikahan itu telah tersebar. Segala persiapan itu telah direncanakan dengan matang. Namun entah apa yang terjadi. Sang mempelai pria, membatalkan pernikahan itu, sehari sebelum akad nikah dilaksanakan.

Dan hancurlah hati seorang Fitri. 

       Lelaki yang dia kenal karena perjodohan orang tuanya itu telah meruntuhkan segala mimpinya. Kenapa lelaki itu begitu tega pada dirinya. Padahal, dia sudah mencoba untuk terbuka pada calon suaminya itu. Menceritakan tentang dirinya tanpa ada yang ditutup-tutupi.

        Namun mungkin Allah berkehendak lain. Lelaki itu bukanlah jodoh yang tepat untuk Fitri.

***

       Beberapa bulan sejak batalnya pernikahan itu…

Fitri sudah bisa melanjutkan aktivitas mengajar Taman Kanak-kanak seperti biasa. Fitri sadar, ia tak boleh terus larut dalam kesedihan. Ada banyak hal baik yang bisa ia lakukan. Dan luka itu akan pulih seiring berjalannya waktu.

         Sejak kejadian yang cukup menyedihkan itu. Fitri tidak lagi terlalu memusingkan kapan ia harus menikah. Usianya yang sudah hampir kepala tiga itu, membuat ia memasrahkan segala urusan jodoh nya kepada Allah.

          Fitri sudah lama mengajar di Taman Kanak-kanak dekat rumahnya. Awalnya, ia hanya menjadi guru pembantu saja. Tetapi karena ia begitu menyukai anak-anak, maka ia memilih untuk benar-benar menekuninya.

          Fitri sengaja melanjutkan pendidikannya lagi sebagai guru TK. Ia tidak mau ilmunya setengah-setengah. Ia ingin mengabdikan dirinya dengan penuh rasa cinta pada anak-anak didiknya. Karena merekalah yang mampu mengeluarkan Fitri dari keterpurukkan yang pernah dialaminya.

***

      Hari ini seperti biasa, Fitri mengajar dengan sangat riang. Ia menjadi guru favorit murid-muridnya. Salah satunya, Putri. 

       Entah mengapa tidak seperti biasanya, salah satu muridnya itu tidak mau jauh-jauh dari sisi Fitri. 

“Putri kenapa?” tanya Fitri akhirnya karena merasa khawatir pada murid nya itu.

“Putri takut, Bu!”

“Takut kenapa sayang?” tanya Fitri lagi karena ia tidak mau muridnya itu kenapa-kenapa.

“Kemarin, ayah marah sama Putri!”

Ah, Fitri baru ingat. Di antara teman-temannya yang lain, Putri memang satu-satunya murid yang hanya tinggal dengan ayahnya. Ibu putri sudah lama meninggal.

“Ya sudah, Putri harus ceria lagi ya. Nanti biar Ibu yang bicara sama ayah putri!”

“Terima kasih Bu!” ucap putri sambil memeluk Fitri dengan erat.

           Di antara murid-muridnya yang lain. Putri memang yang sering mengadukan banyak hal pada Fitri. Mungkin karena di rumahnya tak ada sosok seorang ibu, sehingga putri merasa nyaman saat bercerita apa pun pada Fitri. 

           Seperti janji Fitri pada Putri, sepulang sekolah saat ayah Putri datang menjemput, Fitri mengajaknya berbincang sebentar. Ini memang bukan perbincangan yang pertama dengan Pak Yuda, Ayah Putri. Tetapi entah mengapa kali ini dirasakan Fitri ada yang berbeda. Fitri merasa penampilan Pak Yuda hari ini terlihat lebih tampan.

Ah, lamunan macam apa itu. Cepat-cepat Fitri kembali ke fokus masalah yang ingin dibicarakan dengan Ayah Putri itu.

“Selamat siang Pak Yuda, boleh saya bicara sebentar?”

“Oh, iya bu, ada apa?”

“Ini soal Putri hari ini Pak, dia seharian terlihat sedih, baru ceria lagi setelah dia bercerita pada saya. Kalau katanya ayahnya memarahinya.”

“Oh, ya ampun , putri. Iya bu, semalam saya memang agak emosi, karena sampai larut Putri tidak mau tidur. Saya jadi sedikit membentaknya. Meskipun paginya saya sudah meminta maaf pada Putri tapi sepertinya dia masih marah pada saya!” jelas ayah putri

“Oh begitu, maaf ya pak, saya menanyakan ini karena saya sudah janji pada putri untuk bertanya sekaligus Saya memang khawatir pada putri!”

“Terima kasih bu, bu Fitri sudah perhatian sekali dengan putri!”

Tiba-tiba, suasana pun jadi kikuk, sebenarnya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Tapi entah kenapa, kaki keduanya seperti enggan untuk pergi dari tempatnya. 

          Sampai datanglah Putri dan mengajak sang Ayah pulang.

“Yah, kita antar Bu Fitri sekalian pulang yuk!” ucap Putri pada ayahnya.

Memecahkan kekikukan keduanya.

“Eh, tidak usah Putri, ibu bisa pulang sendiri kok, lebih baik sekarang putri pulang duluan sama ayah!”

“Ayolah bu, boleh kan yah?” rengek putri pada Fitri dan ayahnya.

Fitri jadi merasa tak enak hati pada ayah Putri. Karena terus saja di desak oleh Putri, akhirnya Fitri pun bersedia pulang bareng bersama ayah dan anak itu.

Yuda pun sama sekali tidak keberatan untuk mengantar Fitri sampai ke rumahnya.

***

      Dan sejak hari itu, hubungan Fitri dan Yudha bukan lagi sekedar hubungan guru dan wali murid saja. Di luar sekolah, atas permintaan Putri, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Seperti misalnya makan bersama dan jalan-jalan saat hari libur. Sudah seperti keluarga saja. 

      Satu waktu, tanpa kehadiran putri. Yuda sengaja mengajak Fitri untuk makan malam bersama dengan dirinya. Sebenarnya, tanpa Fitri ketahui, Yuda sudah menaruh hati pada Fitri sejak pertama kali mengantar Putri ke sekolah. Entah apa yang membuatnya yakin kalau fitri itu masih single dan mungkin saja bersedia menjadi pengganti ibu bagi putri yang sudah tiada.

        Sebenarnya keinginan itu selalu ditampik oleh Yuda. Karena sepertinya Fitri tidak tertarik pada dirinya. Namun sejak fitri bersedia diantar pulang untuk pertama kalinya. Timbul kepercayaan pada diri yuda, kalau ia punya kesempatan untuk mendekati Fitri. 

         Dan malam ini, ketika mereka bisa menghabiskan waktu berdua saja. Yuda ingin mengutarakan niat hatinya untuk melamar Fitri.

***

      Perasaan Fitri pada Yuda tidak jauh berbeda. Fitri mengakui ia memang sudah jatuh hati pada ayah dari murid kesayangannya itu. Namun trauma kegagalan menikah pada masa yang telah lalu, masih sering menghantui dirinya.

      Berkali-kali Fitri meyakinkan dirinya sendiri bahwa Yuda jawaban dari setiap doanya. Kedekatan dirinya dengan putri pun sudah tidak perlu dibina lagi. Karena kedekatan itu sudah terjalin lama. Fitri menyayangi Putri dengan sangat tulus.

       Hingga akhirnya Fitri pun bersedia dengan senang hati menerima lamaran dari Yuda. Dan mereka berencana tidak akan menunda terlalu lama. Pesta pernikahan yang sederhana adalah impian keduanya.

***

       Namun ada apa dengan takdir pernikahan seorang Fitri? 

Perasaan itu sudah tidak perlu diragukan lagi. Dan hari ini, janji setia pernikahan itu akan diucapkan. Rasa bahagia memenuhi hati Fitri. Dan Fitri berharap perasaan bahagia nya ini pun dirasakan oleh calon suami dan putrinya.

        Dengan kebaya putih yang sederhana. Fitri terlihat begitu cantik. Ia menanti kedatangan Yudha dan Putri dengan hati sedikit tak karuan. Fitri meyakini jika perasaan itu karena dirinya terlalu merasa senang. Dia percaya apa yang akan ia lalui hari ini adalah yang terbaik yang sudah Allah persiapkan untuk dirinya.

         Satu jam telah berlalu. Yuda dan Putri tak kunjung datang. Fitri percaya Yuda akan datang memenuhi janjinya. Jadi niat untuk menghubungi Yuda ia urungkan. Dia hanya akan menunggu. 

Hingga sore menjelang, dan seluruh keluarga mulai gusar karena Yuda tak juga muncul. Fitri pun memutuskan untuk menghubungi Yuda melalui telepon. Dia sudah tidak memikirkan apa Yuda akan datang atau tidak menemuinya.

        Fitri hanya ingin menghilangkan rasa khawatir nya. Ia hanya ingin memastikan keadaan putri atau pun yuda baik-baik saja.

“Hallo, Bu Fitri!” telepon itu putri yang menjawab sambil terisak menangis.

“Putri, kamu kenapa sayang?”

“Maafin putri bu, maafin ayah juga ya, putri gak jadi datang ke rumah ibu hari ini. Ayah mengajak putri ke tempat ibu putri!”

“Oh.. !” hanya itu yang keluar dari mulut Fitri, “Yang penting keadaan Putri dan ayah baik-baik saja kan?” lanjut Fitri lagi.

“Iya ibu, putri dan ayah baik-baik saja. Ayah bilang setelah ke tempat ibunya putri, ayah akan menjemput Bu Fitri!”

Fitri memilih untuk diam. Hatinya sedih Tapi ia bisa apa. Jika yudha memang jodoh yang Allah  persiapkan untuk dirinya. Dia pasti akan datang. Entah kapan.

Tetapi jika mereka tidak berjodoh, hati Fitri sudah lebih dari kuat untuk menerima segala kenyataannya.

***

       Tak perlu ada yang disesali. Ternyata hati selalu butuh proses yang panjang untuk mengobati. Pernikahan Fitri boleh gagal untuk yang kedua kalinya. Tetapi proses yang menjadikannya dewasa lebih ia nikmati.

Hingga satu waktu nanti, hari bahagia itu akan ia jelang bersama orang yang tepat di waktu yang tepat pula.



Selesai
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.