- Beranda
- Stories from the Heart
[JTPH] Bertemu Cinta Pertama
...
TS
agityunita
[JTPH] Bertemu Cinta Pertama
Bertemu Cinta Pertama
Apa yang kau tahu tentang cinta pertama. Apa ia sebuah rasa yang indah atau sesuatu yang menyakitkan? Tapi kenapa semua orang sepertinya senang sekali menceritakan cinta pertama mereka. Meskipun mereka bilang cinta pertama itu tidak selalu berakhir bersama. Tetapi tetap saja cinta namanya.
Dan apakah semua orang harus merasakan cinta pertama? Dimana kebanyakan orang bercerita bahwa pertama kali mereka jatuh pada cinta adalah saat mereka masih duduk di bangku sekolah. Terutama SMA.
Tapi tidak dengan Aira. Sampai usianya menginjak 20 tahun. Ia masih bertanya-tanya bagaimana rasanya cinta pertama itu. Bukan Aira anak yang tertutup. Kawannya banyak, laki-laki ataupun perempuan. Tapi soal siapa yang bisa menjatuhkan hatinya pada cinta, belum ada.
***
“Maaf mas, ada apa ya?”
“Tuch, temen lo, nganterin menu salah melulu!”
“Oh, biar saya ganti ya mas?”
“Gak usah, gue udah gak mood makan di sini!” Si lelaki itu pun pergi meninggalkan cafe.
Eh, apa nih?
Aira menemukan buku di atas meja. Oh, apa ini punya laki-laki tadi ya? tanya Aira dalam hatinya. Dia pun langsung membawa buku tersebut. Dan menaruhnya di meja kasir. Siapa tahu si pemilik buku kembali karena sadar ada yang tertinggal.
Sore harinya, Aira pun memutuskan untuk membawa pulang buku yang tertinggal itu. Ia takut, buku itu dibuang oleh pelayan kafe yang lain. Karena berpikir itu buku yang tidak terpakai.
***
Keesokan harinya,
Buku yang ternyata berisi sketsa-sketsa gambar itu, Aira bawa serta dalam tasnya, saat kuliah hari ini. Dia berpikir, siapa tahu lelaki itu datang lagi ke cafe tempatnya bekerja.
Sesampainya di kampus…
Aira segera bergegas masuk ke kelas. Tapi sebelum sampai di kelasnya, sekilas ia melihat seseorang. Seseorang yang dia hafal cara bicaranya. Lebih tepatnya cara marah-marahnya.
Ah, dia itu kan?
Iya, dia adalah laki-laki yang sama dengan yang kemarin marah-marah di kafe. Aira jadi greget deh, liat orang kok senengnya marah-marah gitu.
Tanpa Aira sadari, ia mendekati laki-laki yang sedang bertengkar dengan kawannya itu. Dan dengan beraninya Aira langsung menarik tangannya dan membawa jauh lelaki itu dari pertengkarannya.
“Hey, hey, berhenti, kamu mau bawa aku kemana?”
Eh, Aira langsung berhenti dan menoleh pada orang yang sedang ia genggam tangannya. Dengan cepat Aira melepas gandengannya.
Ya, ampun, aku ngapain sih? Sesal Aira sambil memukul keningnya.
“Heh, ngapain kamu narik-narik tangan aku, kalau mau kenalan itu bilang baik-baik kali, gak usah culik aku kayak gini!”
“Apa, kenalan, siapa yang mau kenalan sama kamu, tadi itu, tadi itu… Aku cuma kesel lihat kamu berisik, jadi kamu mau aku buang ke situ!” sambil Aira menunjuk kolam ikan kecil yang tidak jauh dari mereka berdiri.
Laki-laki itu malah tertawa.
“Heh, kok malah ketawa, harusnya kamu takut!”
“Takut, nih, aku malah rela dilempar ke situ sama perempuan galak semanis kamu!” Yang dibilang manis langsung merasa panas mukanya, Aira pun memutuskan untuk pergi. Ia tidak mau laki-laki itu melihat muka merahnya.
“Hey, kok malah pergi sich?”
***
Akhirnya, selesai juga kuliah hari ini. Sebelum menuju ke cafe, Aira memutuskan untuk makan dulu di kantin kampus nya.
Tiba-tiba, Seseorang datang seperti habis berlari jauh dan meminum habis es jeruk yang di pesan Aira.
“Hey, itu kan punya aku?!”
“Oh, ya ampun, sorry-sorry, habis haus banget sih, aku pesenin lagi ya!’
Laki-laki itu, tidak lain adalah yang tadi pagi Aira tarik tangannya. Tiba-tiba, irama jantung Aira jadi tidak karuan.
“Hey, kok malah bengong?”
“Eh, gak kok!” Aira pun memutuskan untuk pergi saja. Meskipun bakso yang dia makan belum habis.
“Hey, mau kemana? Tuh baksonya belum habis, kasihan kan, lagian aku kan baru pesan es jeruk lagi, masa harus aku yang ngabisin?”
Iya juga sih, sayang banget bakso nya, aku juga masih lapar… tapi…
Aira pun duduk kembali, dan meneruskan makan baksonya. Dan ia teringat pada buku sketsa itu.
“Hey, ini, ini punya kamu kan?”
“Apa?”
“Ini buku kamu kan, kemarin ketinggalan di cafe!”
“Oh, ya ampun, aku pikir ilang, makasih ya!”
“Iya, sama-sama!”
“Kamu lihat-lihat ya isinya?”
“Eh, emang gak boleh ya, ya ampun maaf ya!” Aira langsung panik.
Laki-laki itu malah tertawa. Ia senang melihat wajah Aira yang panik seperti itu.
“Kamu ngerjain aku ya?”
“Haha, siapa yang ngerjain kamu, aku kan cuma nanya, ya kalau kamu buka-buka juga gak apa-apa. Aku kan gak bilang gak bokeh!”.
Iya juga sih, Aira jadi malu sendiri. Ia langsung segera menghabiskan makanan dan minumnya. Dia merasa tidak bisa lama-lama dekat dengan laki-laki ini, bisa sesak nafasnya.
“Ya udah, aku duluan!”
“Eh, kamu mau ke cafe?”
“Iya!”
“Aku ikut!”
Aira tidak bisa melarang laki-laki itu untuk mengikutinya. Dan membuat kerja Aira jadi tidak tenang. Ia seperti merasa terus diperhatikan. Iya, laki-laki itu terus memperhatikannya. Baru saja mereka beradu pandang. Dan laki-laki itu tersenyum ke arahnya.
“Hey, kamu gak akan pulang?” Aira memberanikan diri bertanya pada laki-laki itu.
“Aku kan mau pulang bareng kamu!”
“Kok, kenapa?”
“Ya gak apa-apa, atau udah ada yang jemput kamu pulang ya? Tapi kayaknya sih gak ada, aku perhatiin kamu kemana-mana sendiri, pasti masih jomblo, hehe!”
“Kamu suka ngikutin aku ya?”
“Haha, ngapain, aku kan suka nongkrong di cafe ini, kamu aja yang gak pernah sadar ada cowok seganteng aku duduk di sini!”
“Ih, pede banget sih!” Aira pun berlalu, ia meninggalkan lelaki yang tertawa itu. Sebentar lagi memang waktunya pulang.
Kafe pun tutup dan Aira tidak mendapati laki-laki itu di kursinya. Baguslah, dia pulang duluan. Aira pun ke luar dari cafe.
“Hey, nyari aku ya!”
Aira kaget, tiba-tiba laki-laki itu ada di hadapannya. Memberikan senyumannya yang manis. Oh, ya ampun, jantung Aira kembali berdetak tak karuan.
“Gak, kok, siapa yang nyariin kamu, malah aku seneng kalo kamu udah pulang!”
“Oh gitu ya, tapi muka kamu kayak yang seneng lho liat aku!”
Aira segera mengusap wajahnya. Ia jadi salah tingkah, ah ya ampun. Siapa sih laki-laki ini?
Tanpa ada yang mengiyakan atau menolak. Mereka pun pulang bersama. Naik bus kota. Aira sudah biasa.
***
Dan sejak saat itu, entah kenapa mereka jadi dekat. Ah, bukan berarti Aira berani lama-lama menatap wajah laki-laki yang ternyata bernama Nandy itu. Nandy yang selalu dengan senang hati menemani Aira, meski Aira tidak pernah memintanya. Dia yang lebih banyak bercerita daripada Aira.
Hingga lama-lama, Aira pun merasakan keberadaan Nandy di dekatnya memberi warna baru dalam hari-harinya. Ia sudah tidak merasa canggung lagi. Meskipun wajahnya tetap merah jika beradu pandang dengan Nandy.
Apakah Aira sedang jatuh Cinta?
Jika iya, ini adalah cinta pertamanya. Tapi Aira masih mencoba menampik itu. Dia merasa, Nandy teman yang baik. Meski dia memang tampan.
Hingga beberapa bulan kemudian….
“Ra, besok kamu ada acara gak?”
“Besok, hari minggu ya, kayaknya sih gak, emangnya kenapa?”
“Besok aku ingin ngajak kamu jalan-jalan, gimana?”
“Kemana?”
“Ya kemana aja, namanya juga jalan-jalan, mau ya!”
Nandy menggenggam tangan Aira. Yang dipegang tangannya cuma masang wajah merah dan mengangguk perlahan.
Dan besoknya, mereka pun jalan-jalan. Nandy menggunakan motornya menjemput Aira sekitar pukul 7 pagi.
“Nan, ini masih pagi lho, dan ini hari minggu, aku masih ngantuk!”
“Tapi kamu udah mandi kan?” goda Nandy pada Aira dan Ia mendapatkan dorongan lembut dari Aira.
Mereka pun pergi meninggalkan rumah Aira. Entah mereka mau kemana.
Tadi malam, sebelum tidur, Aira memikirkan perasaannya pada Nandy. Dia menerka-nerka, apakah ia menyukai Nandy. Dan itu membuat Naira senyum-senyum sendiri. Dan dia berjanji akan menyimpan ini sendiri saja. Nandy tidak perlu tahu. Aira tidak mau, pertemanan nya dengan Nandy jadi berantakan. Hanya karena perkara jatuh cintanya itu.
Dan sampailah mereka, di sebuah pantai. Aira yang sedari tadi asyik dengan pikirannya sendiri. Tidak menyangka akan dibawa oleh Nandy sejauh ini.
“Gimana, kamu suka gak?”
“Indah banget Nan, aku udah lama gak main ke Pantai, makasih ya!” tanpa sadar Aira merangkul lengan Nandy, karena terlalu senang. Langsung Aira melepaskan tangannya dari lengan Nandy, tapi ditahan oleh Nandy.
“Gak apa-apa kan kayak gini, kamu tuh kalau dekat aku, kayak yang takut gitu!”
“Eh, gak kok Nan, aku bukannya takut sama kamu!”
“Terus kenapa? Malu ya jalan sama aku, kenal sama aku, apalagi kalau aku ajak ngobrol kamu, kayaknya kamu tuh ingin cepat-cepat pergi dari aku!” sambil terus memegang tangan Aira yang melingkar di lengannya, Nandy menunduk. Membuat Aira jadi tak enak hati.
“Nan, kamu kok bisa mikir kayak gitu sih? Aku tuh seneng ngobrol sama kamu, aku seneng kok kenal sama kamu, aku juga gak malu kalau dekat-dekat sama kamu!”
“Beneran?”
“Iya, bener!”
“Kalau gitu, hari ini kita jalan-jalan berdua, kamu harus mau ikut kemana pun aku ajak!”
“Emang kita masih mau pergi lagi?”
“Hhmm iya, tapi kita makan siang dulu, tuh ada warung makan, di sana ikan bakarnya enak banget, yuk!” Nandy menggandeng dangan Aira.
Ah, Nandy. Aku jadi ingin tahu. Apa kamu juga menyukaiku. Tapi apa aku harus menanyakannya langsung padamu. Ya ampun, bagaimana kalau kamu menertawakan perasaan ku ini. Apalagi ini kali Pertama nya aku jatuh cinta.
Selesai makan, Nandy membawa Aira menaiki bukit yang ada di sekitar pantai.
“Ra, aku mau kasih kamu sesuatu!”
“Apa?”
Nandy memberikan buku sketsanya.
“Buat kamu!”
“Buat aku, tapi ini kan buku gambar kamu, nanti kamu gambar pake apa?
“Kamu tuh lucu banget sih ra!” Nandy menyentuh dagu Aira, membuat wajah Aira memerah.
“Aku masih punya banyak kok, lagian itu sketsa lama. Kira-kira dari setahun yang lalu.”
“Hmm, makasih kalau gitu Nan, Boleh aku lihat isinya?”
“Bolehlah, disimpan lho ya, jangan buat bungkus gorengan, hehe!”
“Ya gak dong Nan, Apalagi isinya…..!” Aira terkejut, melihat lembar demi lembar sketsa itu. Memang warna kertasnya mulai menguning. Mungkin karena yang tadi Nandy Bilang, itu sudah setahun usianya. Tapi, yang lebih membuat Aira tidak dapat berkata apa-apa adalah. Apa yang Nandy gambarkan di setiap lembar kertasnya. Itu adalah gambar dirinya.
“Ini, aku?” Aira merasa terharu, hampir saja ia membasahi kertas itu dengan air matanya.
“Iya, Ra, itu kamu… kamu benar waktu kamu bilang aku tukang ngikutin. Karena memang aku sudah memperhatikanmu sejak lama, maafin aku, aku suka sama kamu Ra!” pengakuan Nandy jelas membuat Aira kaget. Tapi tidak dipungkiri jika hatinya merasa senang.
Cinta pertamanya, ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
“Kamu, kenapa malah nangis? Maafin aku Ra, kalau apa yang aku lakuin ini gak kamu suka, kamu gak perlu kasih aku jawaban apa-apa kok, aku cuma mau jujur aja sama kamu!”
Aira menghapus Air matanya. Ia tersenyum pada Nandy. Merangkulkan tangannya di lengan Nandy dengan lebih erat. Dan Menyandarkan kepalanya di bahu Nandy. Untuk pertama kalinya, Nandy yang merasa salah tingkah.
“Aku nangis karena bahagia Nan, jujur, aku juga suka sama kamu. Aku jatuh cinta sama semua yang kamu lakuin ke aku. Dan kamu cinta pertama buat aku!”
Bukan Nandy, kalau bertahan serius lama.
“Wah, jadi aku cinta pertama kamu nih, senangnya, jadi mulai hari ini kita resmi pacaran, ya udah yuk pulang!”
Aira bengong. Sikap romantis Nandy buyar sudah, kembali ke Nandy yang berisik dan sedikit nyeleneh. Tapi Aira Langsung tersadar. Itulah yang membuat ia menyukai Nandy. Berbeda.
“Nandy, tunggu, siapa bilang kita pacaran”
“Akulah, aku kan cinta pertama kamu!” Nandy berlari meninggalkan Aira menuju ke pantai. Dan mereka pun menghabiskan waktu di sana hingga matahari terbenam.
Aira senang. Bisa berada dalam dekapan Nandy. Semoga cinta pertamanya ini, juga menjadi cinta terakhir baginya.
Selesai
Cerita Kedua
Cerita Ketiga
Cerita Keempat
Cerita Kelima
Cerita Keenam
Cerita Ketujuh
Cerita Kedelapan
Cerita Kesembilan
Cerita Kesepuluh
Cerita Kesebelas
Cerita Kedua Belas
Cerita Ketiga Belas
Cerita Keempat Belas
Cerita Kelima Belas
@agityunita
Kumpulan Cerita Selanjutnya
Diubah oleh agityunita 02-03-2020 08:51
nona212 dan 18 lainnya memberi reputasi
17
4K
54
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agityunita
#39
Cerita Keenam
Kepingan Persahabatan
Jika harus ada yang berakhir di dunia ini, apakah persahabatan juga menjadi salah satunya. Ia yang dulu terjalin begitu indah. Hanya karena sedikit konflik saja, pecah begitu saja. Awalnya mungkin hanya retakan tetapi derasnya emosi membuat pertahannya jebol juga.
***
Anneke melamun di kamarnya. Ia baru saja kembali dari kuliahnya di Singapura. Kuliahnya masih beberapa semester lagi. Tapi liburan kali ini. Ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Kamar ini, kamar semasa SMA nya. Masa SMA yang menyenangkan namun harus berakhir dengan kehampaan. Sambil memperhatikan beberapa foto yang menempel di dinding dekat meja belajarnya. Masih ada satu gambar dirinya dan sahabatnya yang tertinggal. Karena yang lainnya entah sudah berakhir dimana.
Malam itu dengan wajah penuh derai air mata. Ia merobek-robek semua foto dirinya bersama Kaisar.. Malam dimana ia juga kehilangan Annisa, adik sepupunya. Sebenarnya, Annisa seumuran dengan Anneke hanya saja karena ia adik ibu Anneke, maka ia tetap saja adik bagi Anneke.
Karena usia yang sama mereka jadi begitu dekat. Termasuk saat Annisa bersekolah di tempat yang sama dengan Anneke. Membuat hubungan mereka menjadi lebih erat. Dan Anneke menganggap Annisa adalah saudara satu-satunya yang paling mengerti dirinya. Karena Anneke adalah anak tunggal.
Namun, ikatan persaudaraan itu harus terputus begitu saja. Annisa pergi untuk selamanya dan itu disebabkan oleh keteledoran sahabat Anneke, Kaisar. Itulah yang menyebabkan persahabatan mereka merenggang, retak dan hancur berantakan.
Dan kini, untuk pertama kalinya Anneke merindukan persahabatannya. Setelah lama mereka tak berjumpa, ingin rasanya bisa tertawa bersama lagi. Seperti dulu. Dimana kamu Kaisar?
***
Kaisar bersiap akan berangkat ke kampus. Dengan menggunakan motor, hari ini ia harus datang tepat waktu. Ada banyak ujian di kelasnya. Setelah beberapa bulan memutuskan untuk cuti kuliah, Kaisar bertekad untuk menyelesaikan kuliahnya. Dan pergi ke Singapura.
Ada hal yang sejak lama ingin ia selesaikan. Tentang hatinya, tentang persahabatannya. Sambil terus melaju kencang, pikiran laki-laki ini dipenuhi oleh momen menyenangkan yang pernah ia lalui bersama Anneke. Kaisar selalu merindukannya.
Hari ini, semua dirasa berjalan lancar. Kaisar tidak terlambat ke kampus dan ia mampu mengerjakan ujiannya dengan baik. Kaisar tidak tahu, ada yang sedang memperhatikannya. Saat ia akan beranjak pulang, ada seseorang yang hanya mampu melihatnya dari jauh. Menatapnya dengan penuh rasa rindu tetapi juga masih ada benci yang tersisa.
Hatinya menyuruh ia mendekati Kaisar dan bertanya bagaimana kabarnya. Tetapi kakinya seperti tertancap di temparnya berdiri. Ia hanya mampu menjawab segala tanyanya dengan perkiraan saja. Kaisar terlihat baik-baik saja. Jadi Anneke meyimpulkan, tidak ada yang berubah dari laki-laki itu.
Yang tampak dari luar tak selalu sesuai dengan yang berada di dasar hati terdalam. Anneke tidak tahu, bagaimana perjuangan seorang Kaisar untuk bisa bertahan dan kembali dari keterpurukannya.
Kehilangan dua orang yang sangat ia cintai sudah menjadi hukuman baginya. Kepergian Annisa yang sangat ia sadari adalah karena kelalaiannya. Telah membuat ia merasa sangat begitu bersalah. Itu juga yang membuat Anneke kemudian menjauhinya dengan rasa benci yang tersembunyi.
***
“Siapa tuch Ke?” tanya Kaisar saat pertama ia melihat Annisa di rumah Anneke.
“Adik sepupu, Annisa namanya!” jelas Anneke.
“Kenalin dong!” pinta Kaisar akhirnya.
Sebagai sahabat yang baik dan sangat mengenal Kaisar. Anneke tidak merasa keberatan jika pada akhirnya, Annisa bersama dengan Kaisar.
Pertama, kaisar memang belum memiliki kekasih. Kedua, Anneke mengerti betul bagaimana sifat keduanya. Dan menurut Anneke mereka berdua itu cocok.
Dan sejak hari perkenalan itu, Kaisar dan Annisa benar-benar menjadi dekat. Entah mereka sudah menjadi sepasang kekasih atau belum tapi keduanya sering terlihat bersama. Kaisar pun jadi rajin datang ke rumah Anneke, hanya untuk numpang ngobrol dengan Annisa.
Katanya, daripada nongkrong diluar, kan lebih aman berlama-lama di rumah saudara sendiri.
Dan Anneke selalu membalas alasan klise itu dengan mengatakan, mereka melakukan itu, hanya untuk membuat dirinya iri dan menghemat pengeluaran.
Jika sudah begitu, mereka akan menghabiskan waktu bertiga untuk mengobrol, meskipun kehadiran Anneke sedikit mengganggu.
***
Namun sayang, kebahagiaan itu hanya bertahan dalam kurun waktu satu tahun saja. Seperti roda yang selalu berputar. Pun dengan kebahagiaan harus lekas ditukar dengan kesedihan dan kehilangan.
Malam itu, seperti biasa, sepasang kekasih Kaisar dan Annisa. Selesai menghabiskan waktu mereka untuk menggoda kesendirian Anneke. Kali ini mereka pulang cukup larut.
Saat di jalan menuju rumah Annisa, entah kenapa Kaisar merasa mengantuk sekali. Begitu juga dengan Annisa. Dia mempercayakan perjalanan pulangnya pada sang kekasih. Dia menyandarkan kepalanya di punggung kaisar, tidak terlalu memperhatikan cara kaisar mengendarai motornya.
Tiba-tiba, Kaisar terkejut. Matanya yang mengantuk langsung terbelalak karena di depannya truk besar yang berlawanan arah. Dengan spontan Kaisar langsung membantingkan stang motornya ke arah kiri. Membuat ia dan Annisa terpelanting. Annisa yang juga terkejut, tidak sempat menyadari apa yang telah terjadi. Tubuhnya telah jatuh beradu dengan jalanan. Setelahnya ia tak sadarkan diri. Kaisar pun mengalami luka yang cukup parah pada lengan dan kepalanya. Tetapi keadaannya tetap lebih baik daripada Annisa.
Mereka pun segera dibawa oleh Ambulance Rumah sakit terdekat. Saksi mata atas kejadian itu yang menelepon rumah sakit itu.
Mereka segera masuk UGD dan mendapatkan penanganan pertama. Namun sayang, tanpa ada yang menyadari. Ternyata setiba di rumah sakit tersebut, nyawa Annisa sudah tidak tertolong.
Dan Kaisar yang saat itu antara sadar atau tidak, tidak dapat berbuat apa-apa selain menangis. Dan tidak percaya atas apa yang terjadi pada Annisa.
Berita duka itu pun, segera sampai di telinga Anneke. Bersama ibunya, Anneke langsung mendatangi rumah sakit tempat Kaisar dan Annisa berada.
Hati Anneke hancur seketika. Baginya Annisa bukan hanya saudara sepupu. Mereka sudah benar-benat sangat dekat. Anneke yang anak tunggal merasa memiliki adik sekaligus kakak. Dan kini, ia harus kehilangan dengan cara tragis.
***
Waktupun cepat berlalu, pertemuan terakhir dengan Kaisar adalah saat pemakaman Annisa. Anneke berteriak histeris karena tidak memperkenankan Kaisar untuk mendekati pusara saudara sepupunya itu.
Persahabatan yang terjalin sejak mereka SMP, harus terpecah dengan cara tragis seperti ini. Anneke bukan tak mengingat semua kenangan manis mereka. Dia hanya tidak menyangka, kenapa peristiwa ini harus menimpa dua orang yang sangat ia sayangi.
***
Dan hari ini, untuk pertama kalinya, ia merindukan persahabatannya dengan Kaisar. Tapi Anneke hanya mampu memperhatikan laki-laki itu dari jauh saja. Di satu sisi sebenarnya ia ingin bergegas berlari dan memeluk Kaisar. Tapi dalam sudut hatinya yang lain, peristiwa yang telah lalu itu masih saja menghantui.
Anneke merasa, mungkin ia mampu memaafkan apa yang sudah Kaisar perbuat. Tetapi untuk menyatukan kepingan persahabatan yang sudah lama berserakan. Rasanya ia tak mampu. Dari jauh, Anneke tersenyum dengan sangat tulus. Ia mendoakan Kaisar semoga sahabatnya itu selalu dalam keadaan baik.
Seperginya Anneke, Kaisar melihat sekilas keberadaan Anneke. Namun perempuan cantik itu telah berlaku. Ia pun tak punya hati untuk mengejarnya. Kaisar bertekad akan menemui sahabatnya itu nanti. Mendatanginya secara langsung. Dan berharap masih ada kepingan persahabatan mereka yang masih bisa diselamatkan.
*****
@agityunita
aimannurrozikyn memberi reputasi
1