Kaskus

Story

agityunitaAvatar border
TS
agityunita
[JTPH] Bertemu Cinta Pertama
    

[JTPH] Bertemu Cinta Pertama 


Bertemu Cinta Pertama 




     Apa yang kau tahu tentang cinta pertama. Apa ia sebuah rasa yang indah atau sesuatu yang menyakitkan? Tapi kenapa semua orang sepertinya senang sekali menceritakan cinta pertama mereka. Meskipun mereka bilang cinta pertama itu tidak selalu berakhir bersama. Tetapi tetap saja cinta namanya. 

     Dan apakah semua orang harus merasakan cinta pertama? Dimana kebanyakan orang bercerita bahwa pertama kali mereka jatuh pada cinta adalah saat mereka masih duduk di bangku sekolah. Terutama SMA.

     Tapi tidak dengan Aira. Sampai usianya menginjak 20 tahun. Ia masih bertanya-tanya bagaimana rasanya cinta pertama itu. Bukan Aira anak yang tertutup. Kawannya banyak, laki-laki ataupun perempuan. Tapi soal siapa yang bisa menjatuhkan hatinya pada cinta, belum ada. 

***

     “Maaf mas, ada apa ya?”

     “Tuch, temen lo, nganterin menu salah melulu!”

     “Oh, biar saya ganti ya mas?” 

     “Gak usah, gue udah gak mood makan di sini!” Si lelaki itu pun pergi meninggalkan cafe.

      Eh, apa nih?

       Aira menemukan buku di atas meja. Oh, apa ini punya laki-laki tadi ya? tanya Aira dalam hatinya. Dia pun langsung membawa buku tersebut. Dan menaruhnya di meja kasir. Siapa tahu si pemilik buku kembali karena sadar ada yang tertinggal.

       Sore harinya, Aira pun memutuskan untuk membawa pulang buku yang tertinggal itu. Ia takut, buku itu dibuang oleh pelayan kafe yang lain. Karena berpikir itu buku yang tidak terpakai. 

***

        Keesokan harinya, 

        Buku yang ternyata berisi sketsa-sketsa gambar itu, Aira bawa serta dalam tasnya, saat kuliah hari ini. Dia berpikir, siapa tahu lelaki itu datang lagi ke cafe tempatnya bekerja. 

         Sesampainya di kampus…

Aira segera bergegas masuk ke kelas. Tapi sebelum sampai di kelasnya, sekilas ia melihat seseorang. Seseorang yang dia hafal cara bicaranya. Lebih tepatnya cara marah-marahnya.

Ah, dia itu kan?

         Iya, dia adalah laki-laki yang sama dengan yang kemarin marah-marah di kafe. Aira jadi greget deh, liat orang kok senengnya marah-marah gitu.

        Tanpa Aira sadari, ia mendekati laki-laki yang sedang bertengkar dengan kawannya itu. Dan dengan beraninya Aira langsung menarik tangannya dan membawa jauh lelaki itu dari pertengkarannya. 

     “Hey, hey, berhenti, kamu mau bawa aku kemana?”

      Eh, Aira langsung berhenti dan menoleh pada orang yang sedang ia genggam tangannya. Dengan cepat Aira melepas gandengannya. 

      Ya, ampun, aku ngapain sih? Sesal Aira sambil memukul keningnya. 

       “Heh, ngapain kamu narik-narik tangan aku, kalau mau kenalan itu bilang baik-baik kali, gak usah culik aku kayak gini!”

       “Apa, kenalan, siapa yang mau kenalan sama kamu, tadi itu, tadi itu… Aku cuma kesel lihat kamu berisik, jadi kamu mau aku buang ke situ!” sambil Aira menunjuk kolam ikan kecil yang tidak jauh dari mereka berdiri. 

Laki-laki itu malah tertawa.

      “Heh, kok malah ketawa, harusnya kamu takut!” 

      “Takut, nih, aku malah rela dilempar ke situ sama perempuan galak semanis kamu!” Yang dibilang manis langsung merasa panas mukanya, Aira pun memutuskan untuk pergi. Ia tidak mau laki-laki itu melihat muka merahnya.

      “Hey, kok malah pergi sich?”

***

         Akhirnya, selesai juga kuliah hari ini. Sebelum menuju ke cafe, Aira memutuskan untuk makan dulu di kantin kampus nya.  

          Tiba-tiba, Seseorang datang seperti habis berlari jauh dan meminum habis es jeruk yang di pesan Aira.

       “Hey, itu kan punya aku?!”

       “Oh, ya ampun, sorry-sorry, habis haus banget sih, aku pesenin lagi ya!’

Laki-laki itu, tidak lain adalah yang tadi pagi Aira tarik tangannya. Tiba-tiba, irama jantung Aira jadi tidak karuan.

      “Hey, kok malah bengong?” 

      “Eh, gak kok!” Aira pun memutuskan untuk pergi saja. Meskipun bakso yang dia makan belum habis.

      “Hey, mau kemana? Tuh baksonya belum habis, kasihan kan, lagian aku kan baru pesan es jeruk lagi, masa harus aku yang ngabisin?”

       Iya juga sih, sayang banget bakso nya, aku juga masih lapar… tapi…

Aira pun duduk kembali, dan meneruskan makan baksonya. Dan ia teringat pada buku sketsa itu.

      “Hey, ini, ini punya kamu kan?”

      “Apa?” 

      “Ini buku kamu kan, kemarin ketinggalan di cafe!” 

      “Oh, ya ampun, aku pikir ilang, makasih ya!”

      “Iya, sama-sama!”

      “Kamu lihat-lihat ya isinya?”

      “Eh, emang gak boleh ya, ya ampun maaf ya!” Aira langsung panik. 

Laki-laki itu malah tertawa. Ia senang melihat wajah Aira yang panik seperti itu.

     “Kamu ngerjain aku ya?”

    “Haha, siapa yang ngerjain kamu, aku kan cuma nanya, ya kalau kamu buka-buka juga gak apa-apa. Aku kan gak bilang gak bokeh!”.

      Iya juga sih, Aira jadi malu sendiri. Ia langsung segera menghabiskan makanan dan minumnya. Dia merasa tidak bisa lama-lama dekat dengan laki-laki ini, bisa sesak nafasnya. 

      “Ya udah, aku duluan!” 

      “Eh, kamu mau ke cafe?”

      “Iya!”

      “Aku ikut!”

Aira tidak bisa melarang laki-laki itu untuk mengikutinya. Dan membuat kerja Aira jadi tidak tenang. Ia seperti merasa terus diperhatikan. Iya, laki-laki itu terus memperhatikannya. Baru saja mereka beradu pandang. Dan laki-laki itu tersenyum ke arahnya.

     “Hey, kamu gak akan pulang?” Aira memberanikan diri bertanya pada laki-laki itu.  

     “Aku kan mau pulang bareng kamu!” 

     “Kok, kenapa?” 

     “Ya gak apa-apa, atau udah ada yang jemput kamu pulang ya? Tapi kayaknya sih gak ada, aku perhatiin kamu kemana-mana sendiri, pasti masih jomblo, hehe!”

     “Kamu suka ngikutin aku ya?”

     “Haha, ngapain, aku kan suka nongkrong di cafe ini, kamu aja yang gak pernah sadar ada cowok seganteng aku duduk di sini!”

      “Ih, pede banget sih!” Aira pun berlalu, ia meninggalkan lelaki yang tertawa itu. Sebentar lagi memang waktunya pulang. 

       Kafe pun tutup dan Aira tidak mendapati laki-laki itu di kursinya. Baguslah, dia pulang duluan. Aira pun ke luar dari cafe.

       “Hey, nyari aku ya!”

Aira kaget, tiba-tiba laki-laki itu ada di hadapannya. Memberikan senyumannya yang manis. Oh, ya ampun, jantung Aira kembali berdetak tak karuan. 

      “Gak, kok, siapa yang nyariin kamu, malah aku seneng kalo kamu udah pulang!” 

      “Oh gitu ya, tapi muka kamu kayak yang seneng lho liat aku!”

Aira segera mengusap wajahnya. Ia jadi salah tingkah, ah ya ampun. Siapa sih laki-laki ini?

        Tanpa ada yang mengiyakan atau menolak. Mereka pun pulang bersama. Naik bus kota. Aira sudah biasa.

***

         Dan sejak saat itu, entah kenapa mereka jadi dekat. Ah, bukan berarti Aira berani lama-lama menatap wajah laki-laki yang ternyata bernama Nandy itu. Nandy yang selalu dengan senang hati menemani Aira, meski Aira tidak pernah memintanya. Dia yang lebih banyak bercerita daripada Aira. 

         Hingga lama-lama, Aira pun merasakan keberadaan Nandy di dekatnya memberi warna baru dalam hari-harinya. Ia sudah tidak merasa canggung lagi. Meskipun wajahnya tetap merah jika beradu pandang dengan Nandy. 

         Apakah Aira sedang jatuh Cinta?

         Jika iya, ini adalah cinta pertamanya. Tapi Aira masih mencoba menampik itu. Dia merasa, Nandy teman yang baik. Meski dia memang tampan. 

Hingga beberapa bulan kemudian….

         “Ra, besok kamu ada acara gak?”

         “Besok, hari minggu ya, kayaknya sih gak, emangnya kenapa?”

         “Besok aku ingin ngajak kamu jalan-jalan, gimana?” 

         “Kemana?”

         “Ya kemana aja, namanya juga jalan-jalan, mau ya!”

         Nandy menggenggam tangan Aira. Yang dipegang tangannya cuma masang wajah merah dan mengangguk perlahan.

         Dan besoknya, mereka pun jalan-jalan. Nandy menggunakan motornya menjemput Aira sekitar pukul 7 pagi.

        “Nan, ini masih pagi lho, dan ini hari minggu, aku masih ngantuk!”

         “Tapi kamu udah mandi kan?” goda Nandy pada Aira dan Ia mendapatkan dorongan lembut dari Aira.

          Mereka pun pergi meninggalkan rumah Aira. Entah mereka mau kemana. 

          Tadi malam, sebelum tidur, Aira memikirkan perasaannya pada Nandy. Dia menerka-nerka, apakah ia menyukai Nandy. Dan itu membuat Naira senyum-senyum sendiri. Dan dia berjanji akan menyimpan ini sendiri saja. Nandy tidak perlu tahu. Aira tidak mau, pertemanan nya dengan Nandy jadi berantakan. Hanya karena perkara jatuh cintanya itu.

         Dan sampailah mereka, di sebuah pantai. Aira yang sedari tadi asyik dengan pikirannya sendiri. Tidak menyangka akan dibawa oleh Nandy sejauh ini.

        “Gimana, kamu suka gak?”

        “Indah banget Nan, aku udah lama gak main ke Pantai, makasih ya!” tanpa sadar Aira merangkul lengan Nandy, karena terlalu senang. Langsung Aira melepaskan tangannya dari lengan Nandy, tapi ditahan oleh Nandy.

        “Gak apa-apa kan kayak gini, kamu tuh kalau dekat aku, kayak yang takut gitu!”

         “Eh, gak kok Nan, aku bukannya takut sama kamu!”

         “Terus kenapa? Malu ya jalan sama aku, kenal sama aku, apalagi kalau aku ajak ngobrol kamu, kayaknya kamu tuh ingin cepat-cepat pergi dari aku!” sambil terus memegang tangan Aira yang melingkar di lengannya, Nandy menunduk. Membuat Aira jadi tak enak hati. 

        “Nan, kamu kok bisa mikir kayak gitu sih? Aku tuh seneng ngobrol sama kamu, aku seneng kok kenal sama kamu, aku juga gak malu kalau dekat-dekat sama kamu!”

        “Beneran?” 

        “Iya, bener!”

        “Kalau gitu, hari ini kita jalan-jalan berdua, kamu harus mau ikut kemana pun aku ajak!”

        “Emang kita masih mau pergi lagi?”

        “Hhmm iya, tapi kita makan siang dulu, tuh ada warung makan, di sana ikan bakarnya enak banget, yuk!” Nandy menggandeng dangan Aira. 

          Ah, Nandy. Aku jadi ingin tahu. Apa kamu juga menyukaiku. Tapi apa aku harus menanyakannya langsung padamu. Ya ampun, bagaimana kalau kamu menertawakan perasaan ku ini. Apalagi ini kali Pertama nya aku jatuh cinta. 

          Selesai makan, Nandy membawa Aira menaiki bukit yang ada di sekitar pantai. 

          “Ra, aku mau kasih kamu sesuatu!”

          “Apa?”

           Nandy memberikan buku sketsanya.

           “Buat kamu!”

           “Buat aku, tapi ini kan buku gambar kamu, nanti kamu gambar pake apa?

           “Kamu tuh lucu banget sih ra!” Nandy menyentuh dagu Aira, membuat wajah Aira memerah. 

           “Aku masih punya banyak kok, lagian itu sketsa lama. Kira-kira dari setahun yang lalu.” 

           “Hmm, makasih kalau gitu Nan, Boleh aku lihat isinya?”

           “Bolehlah, disimpan lho ya, jangan buat bungkus gorengan, hehe!”

           “Ya gak dong Nan, Apalagi isinya…..!” Aira terkejut, melihat lembar demi lembar sketsa itu. Memang warna kertasnya mulai menguning. Mungkin karena yang tadi Nandy Bilang, itu sudah setahun usianya. Tapi, yang lebih membuat Aira tidak dapat berkata apa-apa adalah. Apa yang Nandy gambarkan di setiap lembar kertasnya. Itu adalah gambar dirinya.

              “Ini, aku?” Aira merasa terharu, hampir saja ia membasahi kertas itu dengan air matanya.

             “Iya, Ra, itu kamu… kamu benar waktu kamu bilang aku tukang ngikutin. Karena memang aku sudah memperhatikanmu sejak lama, maafin aku, aku suka sama kamu Ra!” pengakuan Nandy jelas membuat Aira kaget. Tapi tidak dipungkiri jika hatinya merasa senang.

       Cinta pertamanya, ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.

           “Kamu, kenapa malah nangis? Maafin aku Ra, kalau apa yang aku lakuin ini gak kamu suka, kamu gak perlu kasih aku jawaban apa-apa kok, aku cuma mau jujur aja sama kamu!”

Aira menghapus Air matanya. Ia tersenyum pada Nandy. Merangkulkan tangannya di lengan Nandy dengan lebih erat. Dan Menyandarkan kepalanya di bahu Nandy. Untuk pertama kalinya, Nandy yang merasa salah tingkah.

         “Aku nangis karena bahagia Nan, jujur, aku juga suka sama kamu. Aku jatuh cinta sama semua yang kamu lakuin ke aku. Dan kamu cinta pertama buat aku!”

          Bukan Nandy, kalau bertahan serius lama.

          “Wah, jadi aku cinta pertama kamu nih, senangnya, jadi mulai hari ini kita resmi pacaran, ya udah yuk pulang!”

Aira bengong. Sikap romantis Nandy buyar sudah, kembali ke Nandy yang berisik dan sedikit nyeleneh. Tapi Aira Langsung tersadar. Itulah yang membuat ia menyukai Nandy. Berbeda.

            “Nandy, tunggu, siapa bilang kita pacaran” 

            “Akulah, aku kan cinta pertama kamu!” Nandy berlari meninggalkan Aira menuju ke pantai. Dan mereka pun  menghabiskan waktu di sana hingga matahari terbenam. 

Aira senang. Bisa berada dalam dekapan Nandy. Semoga cinta pertamanya ini, juga  menjadi cinta terakhir baginya.


Selesai




Cerita Kedua

Cerita Ketiga

Cerita Keempat

Cerita Kelima

Cerita Keenam

Cerita Ketujuh

Cerita Kedelapan

Cerita Kesembilan

Cerita Kesepuluh

Cerita Kesebelas

Cerita Kedua Belas

Cerita Ketiga Belas

Cerita Keempat Belas

Cerita Kelima Belas


@agityunita




Kumpulan Cerita Selanjutnya
Diubah oleh agityunita 02-03-2020 08:51
Gimi96Avatar border
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 18 lainnya memberi reputasi
17
4K
54
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
agityunitaAvatar border
TS
agityunita
#36
Cerita Ketiga
Menyapa Dunia




      “Selamat ya Aruni, buku pertamamu telah terbit. Semoga ini menjadi awal yang baik untukmu.”


Siapa yang tidak kenal Aruni. Seorang gadis cantik yang dengan keterbatasannya tapi mampu mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis. Namun tentu saja tidak banyak yang tahu. Jika perjalanannya dalam  mewujudkan impian tak semulus yang terlihat oleh banyak orang saat ini.

***

“Run, jangan ngelamun aja, mandi sana!” tegur ibu Aruni, suatu hari.

Saat itu, Aruni memang sedang mulai menulis. Namun dia belum berani menceritakan kesenangannya itu pada siapa pun, termasuk ibunya.

“Iya bu, sebentar lagi.”

“Kamu kenapa sih, ada masalah di sekolah? Teman-temanmu ganggu kamu lagi?”

“Gak kok bu!”

Sejak kecil kaki Aruni sudah mengalami kelainan. Itu yang menyebabkan ia harus menggunakan kursi roda, termasuk saat bersekolah. 

Aruni yang sekarang sudah duduk di bangku SMA, terkadang masih saja diganggu oleh teman-temannya yang iseng. 

Tapi Aruni adalah anak perempuan yang baik hati. Dia tidak pernah marah kepada teman-teman nya itu.

           Apalagi, sejak ia duduk di bangku kelas XII ini, Aruni menyibukkan diri dengan menulis. Awalnya, dia mengikuti lomba menulis puisi yang diadakan oleh sebuah koran. Dari situ, Aruni terus menulis. Dan terus mengirimkan tulisannya ke koran. 

           Meski di awal-awal puisi-puisi yang dia kirim tak kunjung dimuat, tetapi Aruni tidak begitu saja menyerah. Dan terus saja menulis.

Hingga akhirnya, tulisannya pun dimuat dalam salah satu surat kabar. Aruni bukan main senangnya. Apalagi uang yang didapat dari menulis tersebut bisa ia tabung. Demi cita-citanya meneruskan kuliah di bidang sastra.

Dan Aruni pun mulai memberitahukan sang ibu, perihal hobi menulisnya itu. Meski awalnya tidak terlalu suka, tetapi melihat Aruni menjalani semua itu dengan senang. Maka yang bisa dilakukan oleh ibu nya, hanya mendoakan Aruni.

***

        Di tengah keterbatasan nya itu, Aruni berkenalan dengan Galang. Ia adalah redaksi salah satu surat kabar yang begitu baik membantu Aruni. Karena mereka berada di satu kota, untuk pertama kalinya Galang bertemu dengan Aruni di sekolah.

Galang ingin membantu Aruni untuk membuat akun media sosial sendiri. Agar karya-karya yang dibuat Aruni, tidak menguap begitu saja. 

         Dan juga membantu agar Aruni dapat berkenalan dengan banyak orang baru. Terutama yang memiliki minat yang sama dengannya dalam hal menulis puisi. 

Aruni senang bisa mengenal Galang. Dia jadi bisa lebih belajar banyak hal. Tanpa harus pergi jauh dari rumah. Untungnya, dari hasil menulis puisi di surat kabar -surat kabar itu, Aruni bisa membeli handphone baru. Tentu saja yang bisa  mendukung hobi menulisnya.

        Dan benar saja, setelah ia memiliki akun media sosial sendiri, karya Aruni jadi banyak dikenal orang dan mendapatkan apresiasi. Dia pun jadi bisa menambah pengalaman dengan mengikuti lomba-lomba menulis puisi.

Dan Galang tetap menjadi teman yang setia. Selalu memberi semangat jika Aruni mulai merasa buntu tak ada ide. 

         Aruni yang seorang anak tunggal, merasa ada yang menemani dengan adanya Galang. Aruni menganggap Galang seorang kakak yang baik. Meskipun sebenarnya kadang, jika dirasa perhatian Galang terlalu manis menurut Aruni. Aruni pun jadi terbawa perasaan juga. Dia merasa jadi ge-er sendiri. 

***

        Indah hubungannya dengan Galang ternyata tak menular pada perjalanan menulisnya. Setahun sudah Aruni mengikuti berbagai lomba, dan sering sekali menang. Akhirnya Aruni mencoba peruntungan karya-karyanya untuk diterbitkan secara indie. 

         Dengan tabungan yang ada, Aruni berniat untuk mengajukan kumpulan puisi pertamanya untuk diterbitkan. Ya, dia mempercayakannya pada sebuah penerbit yang memasang banyak sekali promo. Dan menyelenggarakan banyak event kepenulisan.

“Kamu yakin Run akan menerbitkan buku pertamamu di sana?” tanya Galang suatu malam saat berkunjung ke rumah Aruni.

“Iya kak, aku yakin, aku kemarin sudah tanya-tanya soal syarat-syarat dan biayanya.”

“Tidak mau aku carikan saja, di kawanku, aku kan bekerja di Surat kabar, jadi banyaklah temanku di penerbitan!”

“Kak Galang itu sudah banyak membantu Aruni, jadi biar Aruni coba sendiri dulu ya, nanti kalau Aruni butuh bantuan kakak, pasti langsung Aruni hubungi!”

“Hati-hati ya Run!”

***

        Dan kata-kata Galang itu seperti sebuah firasat yang tak tertangkap oleh Aruni. Setelah itu Aruni mengirim naskah ke penerbit tersebut. Kemudian ia mentransfer biaya yang harus dibayarkan. Cukup besar. Dan Aruni percaya ini adalah awal yang baik baginya.

         Namun sayang, kepercayaan diri itu harus luntur setelah enam bulan berjalan. Penerbit itu tak kunjung memberi kabar. Saat Aruni menghubungi Penerbit tersebut, semua nomor yang dulu jadi sarana berkomunikasi, tiba-tiba saja tidak dapat dihubungi. 

          Aruni mencoba tenang. Ia mencoba menghubungi Penerbit tersebut melalui akun media sosialnya. Tetapi sama saja tak ada jawaban. Dan yang membuat perasaannya semakin tak karuan, adalah melihat banyaknya komplain yang ditulis oleh para penulis lain di dinding media sosial penerbit tersebut. Tapi tak ada satupun yang dikomentari.

         Di situlah Aruni merasa, dia telah tertipu. Penerbit itu telah membawa kabur uang yang telah ia transferkan untuk biaya penerbitan bukunya. Sungguh hancur hati Aruni. Yang ada dia hanya ingin menangis. Dia pun langsung menghubungi Galang.

Dan dengan senang hati Galang menenami Aruni.

***

       Dari kejadian yang pedih itu. Ibu Aruni sangat marah. Mengapa anaknya begitu ceroboh. Apalagi Galang sudah memperingatkannya. 

Aruni sedih sekali. Hampir saja ia ingin mengurungkan niatnya menjadi seorang penulis. Ia ingin melupakan saja semua mimpi-mimpinya memiliki buku sendiri.

       Aruni jadi banyak melamun. Galang yang datang menemani pun kadang tak dihiraukannya. Lebih sering mengasingkan diri di kamar. Dan kadang lebih memilih menangis untuk mengurangi rasa kecewanya.

“Ganti baju sana, jangan lupa mandi, hari ini ikut denganku!” ajak Galang suatu pagi.

Tapi yang diajak masih enggan beranjak dari kursi di teras rumahnya.

“Memangnya mau kemana?” tanya Aruni akhirnya

“Udah ikut aja, daripada diam dirumah terus!”

Dengan malas akhirnya Aruni Pun menuruti apa yang diperintahkan Galang. 

           Tak beberapa lama, Aruni pun siap untuk pergi. Entah Galang akan membawanya kemana. Ia menurut saja. 

           Dan sampailah mereka di sebuah pantai.

“Ngapain Kak Galang ngajak aku ke sini?”

“Apa kamu sudah tidak suka pantai?”

Yang ditanya hanya memandang kosong ke hamparan laut lepas. Angin laut terasa membuat adem hatinya yang panas. Tak terasa ada hangat yang mengalir di pipinya. 

“Keluarkan semua yang membuatmu sesak Run, menangislah, teriaklah, tapi setelah itu, jadilah Aruni yang baru. Yang lalu biarlah, kita hanya bisa menjadikannya sebagai sebuah pelajaran. Agar tidak jatuh pada lubang yang sama di kemudian hari!”

Aruni makin tersedu. Tapi hatinya terasa lebih lega. Ditambah Galang akhirnya memeluk Aruni. 

Sungguh, Galang adalah kekuatan baru itu. 

*** 

       Pada akhirnya. Aruni mampu bangkit dari rasa kecewanya. Dia mulai menulis lagi. Merevisi semua tulisannya. Memperbaiki segalanya. 

Rasa semangatnya pun bertambah. Karena Galang lebih sering meluangkan waktunya. Terutama jika ia libur kerja. Galang akan membawa Aruni jalan-jalan. Kemana saja. Menurutnya itu akan membuat imajinasi Aruni berkembang lagi seperti dulu. 

       Di tengah kebangkitan itu. Berita menggembirakan pun akhirnya  datang. Sebuah penerbit mayor, tiba-tiba menghubungi Aruni. Dan bilang jika ia tertarik pada jenis tulisan Aruni. Puisi-puisi yang ia tulis dirasa berbeda dari kebanyakan. 

Karena tidak mau tertipu untuk kedua kalinya. Aruni sampai meminta Galang untuk mengantarkannya ke kantor penerbit yang dimaksud. 

        Dan Alhamdulillah, kali ini jalan terang itu benar-benar telah menyambut Aruni. Saat Itu juga aruni menandatangani kontrak penerbitan bukunya. Sungguh, mimpi buruk itu telah berubah menjadi mimpi yang sangat indah.

         Aruni pun berhasil menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya.

***

        Gadis istimewa itu, akhirnya mampu menyapa dunia dengan karyanya. Karena langkahnya jelas tidak akan berhenti di situ. Ia akan terus berkarya. Hingga ia bisa menjadi penulis terkenal. Dan menerbitkan banyak buku best seller.

         Begitu pun Galang, ia akan selalu menjadi penjaga setia Aruni. Hingga Aruni menyadari. Betapa besar rasa sayang dan cinta Galang pada dirinya.




@agityunita
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.