Kaskus

Story

agityunitaAvatar border
TS
agityunita
Tiga
Tiga


Part 1


Bandung, 2009


    Apa kau pernah menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan percintaan?
Jika belum, maka lihatlah kisahnya, pasti kau tidak akan pernah mau mencobanya.

Seorang gadis dua puluh satu tahun yang hobinya menulis puisi. Sahabat-sahabatnya memanggil dirinya Bya.
Jujur, pasti tidak ada yang pernah mau menjadi orang ketiga termasuk Bya.
Cinta pertamanya sendiri memang bukan cinta yang bisa dibanggakan. Cinta dalam diam, cinta dalam rahasia. Hanya Bya sendiri yang tahu bagaimana rasanya.
Apa karena ini dia memutuskan untuk jadi orang ketiga di hubungan orang lain??? Entahlah...

💗

“Aku lagi berantem sama pacar aku!” Adu Lilac pada Bya suatu hari.

Lilac adalah teman dekat Bya sejak pertama masuk di Universitas hingga sekarang. Bya tahu siapa yang Lilac maksud. Seorang laki-laki yang sudah menjadi pacar Lilac sejak tiga tahun ini dan mereka berencana untuk menikah. Bya memang tidak terlalu mengenal siapa laki-laki itu. Dia hanya tahu dari setiap curhatan Lilac padanya. Karena terlalu seringnya mereka bertengkar, Bya jadi merasa greget sendiri.

“Udah putusin aja!” Saran Bya yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Lilac.
“Jangan dong By, aku kan sayang sama dia.”
“Kalau sayang kenapa isinya berantem melulu?”
“Gak tahu nih, apa karena kita rencana mau nikah ya?”

Entah apa yang dipikirkan Bya. Awalnya dia hanya ingin membantu sahabatnya itu. Dia merasa kasihan jika setiap hari sahabatnya itu terlihat murung karena bertengkar dengan pacarnya.


Malamnya...
Bya mencari tahu siapa pacar Lilac melalui facebooknya. Karena setahu Bya, Lilac mencantumkan sedang berpacaran dengan siapa di biodata akunnya tersebut. Namanya tertera Gera, entah nama asli atau palsu? Pikir Bya.
Bya pun langsung mengirimkan permintaan pertemanan pada akun laki-laki bernama Gera itu. Maksud dalam hati tetap sama, ingin membantu Lilac sahabatnya.
Permintaan pertemanan tak kunjung diterima, mungkin dia bukan maniak facebook pikir Bya. Karena kalau melihat isi berandanya pun, jarang sekali dia membuat status sendiri. Berandanya kebanyakan berisi status Lilac yang menandai akun Si Gera ini.
^Kalau aku jadi Gera, BT juga ya, Fbku jadi banyak sampahnya gini^ Ucap Bya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri mengingat wajah kusut Lilac tadi siang.

Sepertinya ditunggu pun percuma. Akun bernama Gera itu sepertinya tidak sedang dalam keadaan Online. Jadi tidak perlu ditunggu terus. Bya pun beranjak tidur sambil tetap merasa merasa penasaran seperti apa Gera itu?


Keesokan harinya...
Seperti biasa Bya bergegas mandi dan shalat Subuh. Dia tidak mau hari ini telat lagi ikut ujian. Jadi dia bermaksud untuk datang ke kampus lebih pagi dari biasanya. Di tengah perjalanan menuju ke kampus dengan menaiki angkutan umum, Bya iseng membuka akun facebooknya. Dia ingin tahu apakah permintaan pertemanannya sudah diterima atau belum oleh pacar Lilac itu.
Ternyata belum, ya, belum diterima, tetapi ada pesan yang masuk.

°Kamu Abyatina ya, sahabatnya Lilac°

Bya sedikit kaget karena nama lengkapnya disebut. Dan ternyata pesan itu dari Gera.
^Kok malah kirim pesan sih?^tanya Bya dalam hati.
^Bales jangan ya?^Bya merasa bingung sendiri.

°Iya, Aku Abyatina, panggil aja Bya 😊, kamu Gera kan? Pacarnya Lilac?°

Akhirnya Bya memutuskan untuk membalas pesan itu. Balasan yang basa-basi menurutnya. Karena Dia kan memang sudah tahu siapa Gera, tapi kenapa harus tanya lagi?? Tiba-tiba Bya jadi merasa salah tingkah, hatinya menjadi sedikit tak karuan. Bukan karena merasa bersalah telah mengirim pesan pada pacar sahabatnya sendiri, tetapi karena....

°Kamu lagi mau ke kampus ya?°

Karena ini, Bya heran kok Gera bisa tahu dia sedang menuju kampus.

°Boleh Aku antar, Aku naik motor sedang berhenti di halte dekat kampus°

Ini alasan lainnya yang membuat Bya jadi tambah salah tingkah.

^Ini cowok kenapa ya?^ Batin Bya bingung.

Bya memang tidak membalas pesan itu, dia bingung harus menulis apa. Bya hanya memperhatikan keluar jendela karena sebentar lagi halte yang dimaksud akan Ia lewati. Untungnya saat melewati halte itu, angkutan yang dia naiki berjalan tidak terlalu cepat.

^Apa itu Gera ya?^

Bya melihat seorang laki-laki sedang duduk di halte bus yang dimaksud dalam pesan Gera tadi. Tanpa sadar ternyata Bya sudah turun dari angkutan yang dia naiki.

“Gera!” Sapa Bya memastikan bahwa laki-laki itu benar Gera pacar Lilac.
“Oh, hey, Abyatina ya?!”
“Bya!”
Mereka pun berjabatan tangan, berkenalan. Namun entahlah perasaan salah tingkah itu datang lagi.  Bya jadi tidak tahu harus bicara apa. Biasanya dia selalu cerewet sekali biarpun pada orang yang baru dikenal, tapi kali ini sungguh tidak ada ide kata-kata yang bisa Ia ucapkan.

“Ayo, Aku antar ke kampus!” Ajak Gera akhirnya membuyarkan lamunan Bya.
“Eh, emang Kamu gak kerja?”

Ya, Bya tahu kalau Gera sudah bekerja dari Lilac. Gera bekerja di salah satu penerbitan yang ada di kota ini.

“Aku kerja, tapi ini masih jam setengah tujuh, masih terlalu pagi.”
Bya ikut melihat layar handphonenya. Entahlah, dia merasa sangat kikuk. Dia hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Gera.

“Lilac gimana?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Bya. Ya, dia memang tiba-tiba teringat pada Lilac. Dia berpikir bukankah seharusnya lelaki ini mengantar Lilac bukan malah menawarkan diri untuk mengantarnya ke kampus.

“Memangnya hari ini Lilac kuliah?”
“Eh, memangnya ini hari apa?
“Hari Sabtu!”
“Oh iya, Lilac gak ada kuliah hari ini.”

Iya, benar juga. Lelaki ini mau mengantarkan Bya ke kampus karena tidak ada Lilac di sana. Obrolan mereka pun berlanjut hingga sampai ke kampus Bya. Bya seperti terhipnotis untuk mengikuti ajakan Gera mengantar dirinya sampai ke kampus. Buktinya tanpa terasa, mereka berdua sudah sampai di tempat parkir kampus.

“Aku sering perhatiin kamu, tapi baru sekarang berani ngobrol kayak gini, aku pikir kamu gak mau kenal sama aku!”
“Eh, kok mikirnya gitu?”

Karena kampus yang masih sepi dan ujian Bya yang pastinya belum dimulai, mereka memutuskan untuk duduk-duduk di kantin kampus Bya.

“Iya, tapi pas semalam kamu mengirim permintaan pertemanan di Facebook, ternyata aku salah, kamu mau kenal sama aku!”
Gera memasang senyum termanisnya, menurut Bya tentunya. Membuat Dia semakin salah tingkah.

“Hmm... Sebenarnya, aku Cuma ingin tahu aja siapa pacar Lilac?”
“Oh, berarti aku yang ke-GeEr-an!” Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, senyum manis di wajah Gera menghilang. Dan entah kenapa Bya menjadi merasa bersalah. Dia ingin mengkoreksi ucapannya, tapi apa, toh memang hanya itu niat dia.

“Aku kasihan sama Lilac.”
Bya mencoba mencari alasan lain agar Gera lebih yakin lagi.
“Memangnya dia kenapa?”
“Kalian sering berantem kan? Dan setiap kalian berantem, Lilac selalu merasa sedih.”
“Oh, soal itu...”
Jawaban singkat Gera membuat Bya mengerutkan dahi. Tapi sayang, dia harus menunda rasa penasarannya karena harus segera masuk ke dalam kelas.
“Lain waktu kita ngobrol lagi, terima kasih udah mengantar aku.” Bya mencoba tersenyun sewajar mungkin sambil meninggalkan Gera.


Tanpa diketahui oleh Bya, Gera sebenarnya berniat menunggu sampai Bya selesai kuliah. Karena sebenarnya hari ini, kerjanya libur.
Entah apa yang Gera pikirkan, sebenarnya bukan Bya saja yang merasa salah tingkah tetapi laki-laki bertumbuh tinggi dan berkulit sawo matang ini pun berlaku demikian.
Dia merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan selama dia berpacaran dengan Lilac, biarpun hubungan mereka sudah berjalan sangat lama.
Menurut Gera, Bya itu beda. Di mata laki-laki duapuluh lima tahun ini, dia melihat Bya bukanlah perempuan manja. Tentu saja dia tahu semua tentang Bya dari pacarnya, Lilac.
Gera memang tidak tahu persis perasaan apa yang sedang hadir saat ini, hanya saja rasa ingin mengenal Bya lebih jauh lagi yang membuatnya berani untuk melakukan hal seperti yang sedang ia lakukan saat ini.
Dua jam berlalu sejak Bya masuk kelas dan mengikuti ujian, akhirnya selesai juga.
Bya keluar dari kelas dan berniat menuju ke kantin karena tiba-tiba dia merrasa lapar, mungkin karena efek ujian yang menurutnya agak sulit.

Belum sampai ke tempat duduk yang dituju, Bya menghentikan langkahnya karena matanya yang mendapati Gera masih duduk di bangku yang sama saat tadi pagi mereka berbincang.
“Gera, kok masih ada d sini?”
“Eh, By, udah selesai ujiannya?”
“Udah, kamu gak kerja?”
“Hehe,sebenarnya hari sabtu itu kerjaku libur, daripada iseng gak tahu mau kemana, jadi ya aku tungguin kamu aja di sini,  gak apa-apa kan?”
“Hmm, gak apa-apa sih, emangnya gak ada janji sama Lilac? “
“Gak ada, kalau gak salah dia ada acara keluarga hari ini.”
“Ooh!”

Bya masih memandang wajah Gera dengan wajah bingung. Rasa laparnya tiba-tiba jadi hilang. Sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa. Perasaannya semakin tak karuan.

“Setelah ini kamu ada kelas?”
“Gak, kenapa?”
“Aku lapar, hehe, mau ajak kamu makan, tapi gak di sini!”
“Dimana?”
“Hmm, terserah kamu!”

Bya tertawa, tawa pertamanya sejak tadi pagi. Tanpa sadar dia lakukan dan Gera pun jadi ikut tertawa menutupi ketertarikannya.
Mungkin memang Bya tidak secantik Lilac, tapi Bya memiliki definisi cantik yang lain menurutnya.

Mereka pun meluncur ke tempat makan favorit Bya.
Bya sendiri adalah anak kosan di Bandung ini, sedangkan seluruh keluarganya tinggal di Surabaya. Bya memilih melanjutkan kuliah di Bandung, selain karena memang sengaja mendaftar di salah satu universitas negeri di Bandung, tetapi juga karena Bya termasuk tipe anak yang senang bertualang. Dia bosan sedari kecil tinggal di Surabaya yang terkenal dengan udaranya yang panas itu.
Selama menempuh pendidikan S1 nya di fakultas sastra, gadis yang bernama lengkap Abyatina Nadhifah ini punya tempat makan langganan, selain karena harganya yang ramah di kantong, suasananya juga asyik untuk berlama-lama jika dia merasa bosan sendiri di kosan.

“Nah, kita makan di sini aja ya, enak kok makanannya, murah lagi.”

Bya menjelaskan pada Gera setibanya di tempat makan favoritnya. Gera pun tersenyum menanggapi penjelasan Bya. Baginya entah kenapa, dimana pun bukanlah masalah buatnya, karena yang terpenting baginya saat ini dia bisa mengenal lebih dekat gadis sedikit tomboy yang sedang sibuk memilih menu di depannya.

“Panas-panas gini, enak deh kalau makan baso, kamu mau?”

Bya mendapati Gera sedang melamun sambil menatap lekat dirinya.

“Hey!” Sambil Bya memukul pelan bahu Gera.
“Iya, kenapa?”

^Dia benar melamun^ Batin Bya.

“Mau makan apa? Kalau aku mau makan baso, kamu mau gak?”
“Iya, boleh! “
“Ngelamunin apa sich? Lilac ya?” Goda Bya sambil tertawa.

Yang digoda menggeleng kepala cepat. Karena dia memang tidak sedang memikirkan pacarnya itu.

“Terus ngelamunin apa?” Rasa ingin tahu Bya pun muncul, kali ini tanpa tawa menggoda.
“Aku lihat kamu waktu pertama kali antar Lilac kuliah.”

Gera membuka perbincangan lagi setelah beberapa saat diam karena asyik dengan makanan dan pikiran masing-masing.

“Kok aku baru lihat kamu ya?” Sambil berhehe ria, Bya mencoba mencairkan suasana.
“Hehe, soalnya aku gak pernah lihat kamu dari dekat.”
“Mungkin Lilac takut kamu jadi suka sama aku?”

Bya pun tertawa lebar, diikuti Gera yang sebenarnya mengiyakan kata-kata Bya. Itulah kata yang tepat pikir Gera, dia menyukai Abyatina sahabat pacarnya. Tapi sudut lain hatinya menolak perasaan itu sehingga dia merasa bingung sendiri.

“Lilac sering cerita tentang kamu, sedikit banyak aku jadi tahu gimana kamu.”
“Lilac pasti cerita yang jelek-jelek ya, he he!” Bya selalu menutupi salah tingkahnya dengan menambahkan candaan di setiap kata-katanya.

Dia berusaha sebisa mungkin menutupi kekikukannya.
Pada akhirnya tak ada obrolan yang serius antara mereka. Bya yang senang bercanda memberikan energi yang baru bagi Gera.
Sampai Gera mengantarkan Bya pulang ke kosannya pun mereka hanya berbincang-bincang ringan yang mengalir begitu saja. Tentang film, tentang lagu favorit, tentang kerjaan dan kuliah.
Tapi kesan yang ditinggalkan dari percakapan mereka sepanjang hari ini adalah kesan yang akan membawa mereka pada perasaan baru. Perasaan yang tidak pernah mereka bayangkan akan merasakannya.

💗💗💗



Bersambung....


Part 2

Part 3

Part 4 [Selesai]


@agityunita 
Diubah oleh agityunita 18-02-2020 18:11
Gimi96Avatar border
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 18 lainnya memberi reputasi
19
2.3K
23
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
agityunitaAvatar border
TS
agityunita
#11
Tiga_Part 3
Surabaya, 2010



    Setahun berlalu sejak Bya memutuskan pergi dari kota tempatnya menuntut ilmu.
Awal-awal kedatangannya di Surabaya, Gera terus mengirimkan pesan padanya. Menanyakan kenapa dia pergi begitu saja tanpa bicara dulu dengannya.
      Gera bilang, semua bisa dibicarakan tetapi kenapa harus dengan pergi meninggalkannya yang Bya pilih.
      Hati Bya benar-benar tak karuan, sampai akhirnya, dia mengganti nomor telepon dan menghilangkan semua akses yang bisa digunakan Gera untuk terus mengirim pesan padanya.
      Dan selama itu pun, Bya kembali menata hatinya.

     Sampai suatu hari, Lilac memberitahunya melalui surat bahwa dia dan Gera akan segera menikah di akhir tahun ini. Dan seharusnya, Bya merasa senang, bukankah memang itu yang dia harapkan. Maka setelah mereka menikah, dia dapat melanjutkan kuliahnya lagi dengan tenang.

      Selama tinggal di Surabaya, Bya menghabiskan waktunya dengan menulis. Meneruskan hobinya yang tertunda. Dia juga aktif di blog yang dia buat dan banyak menulis puisi di sana. Banyak respon baik yang diterima Bya dari para pembaca blognya. Dan itu menjadi penghiburan tersendiri terutama saat akhir-akhir ini, dia menulis beberapa puisi yang terinspirasi dari kisahnya dulu bersama Gera. Bagi Bya masih ada sesak yang tertinggal.

       Tanpa diketahui oleh Bya, salah satu dari banyaknya pembaca yang sering mengunjungi blognya, ada Gera yang selalu dengan setia memberikan komentar pada setiap puisi yang Bya buat.

      Jelas Bya tidak menyadarinya karena Gera tak menyebutkan nama serta foto yang terpajang bukanlah foto dirinya.


Musuh yang Baik

Jangan buat aku tertawa kawan
Atau berjanjilah untuk tidak membuatku menangis
Sekali pun kau bilang kita musuh
Tetapi kata baik tak pernah pergi meninggalkan

Jangan buat aku menyukai lelucon ini teman
Atau berjanjilah untuk tidak pernah mengkhianati siapa pun
Sekali pun aku ucap kau adalah musuh
Tetapi kata baik tak pernah pergi menghilang



     Puisi ini memang bukan puisi pertama yang ada di blog Bya, tetapi ini adalah puisi pertama yang Bya rilis di blognya dalam tema ‘Sebuah Nama Sebuah Cerita'. Dimana nantinya Bya akan menulis beberapa puisinya sambil berusaha mengobati luka di hatinya.

Dan si Anonim itu dengan setia mengomentari puisi buatan Bya termasuk kali ini.


Anonim: Ada ya musuh yang baik? 😅
Abyatina: hehe... Ya, itu cuma judul aja kok 😅


     Abyatina membalas sewajarnya setiap komentar yang diajukan oleh si Anonim. Dia hanya ingin selalu ramah pada setiap pengunjung blognya.


Sebuah Nama Sebuah Cerita


Tentang rasa yang samar dan kini hilang
Rasa yang tidak pernah kita mengerti
Ingatkan pada masa yang sudah terlewati
Sengaja ditinggalkan dan berlalu
Namun tahukah kau, semua itu menjadi pengisi halaman buku kehidupan kita
Akan tetap menjadi kenangan meskipun esok lusa kita lupa



Sekali lagi si anonim itu mengomentari tulisan Abyatina

Anonim: Puisi yang indah 😍 apakah kamu sedang merindukan seseorang??

Kali ini si Anonim memberanikan diri memberikan komentar ke alamat email milik Bya yang tertera di blognya


Dari: Anonim [email=anonim0106@gmail.com]anonim0106@gmail.com[/email]


Kepada: Abyatina [email=abyatinaBy@gmail.com]abyatinaBy@gmail.com[/email]


Kok komentar aku belum dijawab?


Reply


Komentar yang mana?



       Bya sama sekali tidak merasa curiga kepada si anonim itu. Dia menganggap si Anonim ini hanya pembaca biasa saja.
Kalaupun dia berani mengirim email langsung padanya, Bya merasa tenang-tenag saja, dia berpikir sekarang memiliki teman baru.


Salindia


potret
perjalanan waktu
diingat oleh kehidupan
digenggam oleh banyak perasaan

tapi tahukah kau
semua itu hanya cerita lalu
dia tak pernah meninggalkan apa pun
selain kenangan

bahkan sampai hari ini semua adalah pertanyaan
mengapa hari itu pernah ada
mengapa hari ini masih sama
padahal esok lusa hanya akan menjadi klise usang

tetapi biarlah
langit pernah tahu
hujan pernah menjadi saksi
ada yang meninggalkan jejak memori di sana

biarlah kita lupa
biarlah massa itu tertinggal jauh
namun tetap jadi bagian dalam sebuah perjalanan



      Di obrolan kali ini, si Anonim itu mengirimkan komentarnya lewat nomer handphone baru Bya yang tertera di blognya. Kalau saja Bya tahu siapa itu Anonim, pastilah dia sangat memyesal sudah mencantumkan Nomor WA nya di blognya itu.


°Puisi ketiganya di tema kali ini sudah rilis ya?°
^Iya, kamu sudah baca?^


      Bya membalas sewajarnya saja, karena baginya anonim hanya pembaca setia blognya.


Fotografer Amatir


Jejaknya hilang
Hilang juga gambar dirimu
Tak terpasang di langit
Apalagi diingat malam

Mungkin itu pertama kali
Tetapi juga menjadi yang terakhir
Tangan mungilnya pernah menyentuh kamera kesayanganmu

Kini dia pergi
Bersama kenangan sehari
Tak ada yang tahu

Simpan saja di album



        Kali ini si Anonim menanggapi puisi buatan Bya dengan cara yang lain. Dia memberi komentar dengan menulis sebuah puisi.


Frame


Perjalanan dalam satu tujuan
Mungkin tidak akan dapat kembali di waktu yang telah usang
Meski langit pernah tahu
Namun hujan akan selalu meneteskan rindu

Bahkan esok atau lusa nanti
Jejak memori itu akan selalu ada di hati
Biarlah itu selalu ada
Meski tak lagi bertatap muka

Hanya kenangan yang tercipta
Bersama wanita yang pernah dikenal




Abyatina: Kamu pintar bikin puisi juga ya?😊
Anonim: Belajar dari kamu 😄
Abyatina: 😅


     Bya masih belum saja mengetahui siapa Anonim itu sebenarnya, malahan sekarang dia mulai merasa nyaman mengobrol dengan si Anonim itu.


Singgah


Jangan tanya berapa lama
Karena bukan berapa lamanya yang diingat
Tetapi apa yang terbawa

Sebuah hati
Aku sempat ingin membawanya
Namun aku tak ingin jadi orang jahat

Aku biarkan dia hanya singgah
Untuk kemudian bertemu dengan yang mencintainya



Anonim: Kalau boleh tahu, terinspirasi darimana sih puisi yang judulnya singgah ini?


      Bya pun tidak segan-segan untuk menceritakan kisahnya dengan Gera dulu. Karena memang kisah itulah yang telah menginspirasinya.
      Dan Gera si Anonim merasakan perasaan rindunya tak dapat dibendung lagi. Dia seperti ingin langsung menghilang dan berada di samping Bya sekarang juga. Tetapi sepertinya dia harus menahan diri sedikit lagi. Dia yakin, momen itu pasti ada. Momen pertemuannya dengan perempuan yang sangat Ia cinta.
      Gera ingin memastikan sesuatu sebelum dia benar-benar tak bisa lagi berhubungan dengan Bya. Ya, setelah menikah nanti, pastilah hubungan ini pun akan benar-benar berakhir.


Alun-Alun Kota


Janji manis
Janji buruk
Janji baik
Janji yang ditepati

Kami bertemu
Maksud hati
Membayar janji
Kami menghabiskan waktu
Maksud diri
Memenuhi  ikrar

Biarlah alun-alun kota ini yang memeluk erat semua cerita
Biar saja
Kita pergi
Maka berakhir pulalah semuanya

Tak apa...



       Si Anonim masih setia menjadi pembaca puisi-puisi karya Bya. Dan masih setia juga mengomentari. Kali ini si Anonim bertanya lebih jauh lagi, ada yang ingin dia ketahui.


Anonim: Ceritanya alun-alun dimana nih? 😁


      Bya pun menjelaskan dengan detail termasuk berada dimana dia sekarang. Sungguh tidak ada sedikit pun rasa curiga dari Bya tentang si Anonim ini.


Cinta Teman, Bukan Cintaku


Jangan salahkan cinta
Jika dia jatuh
Tepat di hati

Sayangnya dia jatuh di antara aku dan dia
Yang cintanya milik sahabatku

Jangan diteruskan
Bukan cinta namanya jika harus ada hati yang terluka
Aku lebih memilih kawanku
Dan meninggalkan cinta yang kelabu




------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Menjadi Kenangan


Apa yang dapat membuat kita berdamai dengan semua ini
Karena kita percaya
Tidak ada hubungan yang buruk

Kita bisa menjadi Sahabat kemudian
Setelah kalah berdebat dengan ego
Kenangan itu tak pernah salah
Dia sudah tertinggal jauh

Kapan kau butuh aku
Waktu masih bersedia mempertemukan kita
Jangan khianati siapa pun
Karena hati kita kini milik mereka


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Siapa aku


Aku tak pantas lagi memanggilmu sayang
Aku tak ingin lagi memberimu cinta
Cukup hanya kenangan yang terbayang
Siapa aku yang tak cukup pantas memintamu ada


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Soal Genggaman Tangan


Bukan aku lupa
Aku hanya tak ingin ingat lagi
Kapan dan dimana
Tanganku pernah kau genggam

Bukan aku pikun
Aku hanya tak ingin mengenangnya lagi
Apa dan bagaimana
Kau pernah menggenggam jemariku

Biar itu menjadi cerita
Biarkan saja semua itu hanya menjadi kisah
Terlupa
Tertinggal
Tak mengapa
Karena kini jemari kita telah ada yang lebih erat menggenggam
Karena kini tangan kita telah ada yang selalu menggandeng




------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bisikan Hujan


Hujan pernah menjadi saksi perpisahan kita
Hujan pernah menjadi saksi aku melepaskanmu
Lalu apalagi yang perlu dia beri tahu
Bukankah kita sudah tak satu

Hujan mungkin hanya sedang menggodamu
Membawakanmu kenangan yang seharusnya tak membuat risau hatimu
Hujan mungkin sedang ingin bercanda denganmu
Bergurau tentang rasa yang kini semu

Biarkan dia berbisik
Biarkan hujan bernyanyi
Lebih lantang dari jeritanku
Atau lebih deras dari perasaanmu




         Lama si Anonim tak mampir di blog milik Abyatina. Lima puisi dia lewatkan tanpa meninggalkan komentar apa pun.

^Kemana ya si Anonim itu?^

         Rasa penasaran pun mulai muncul dalam hati Bya. Tiba-tiba dia merindukan berbalas pesan dengan si Anonim itu. Sampai tiba-tiba, satu pesan masuk di WA miliknya.
Si Anonim memberikan puisi yang berjudul sama dengan puisi yang terakhir Bya tulis di blognya.


Bisikan Hujan


Rintikan air hujan
Seakan menjadi nada-nada kerinduan
Yang kini hanya menjadi kenangan

Masih sama seperti nada-nada waktu itu
Di kala jemari ini menggenggam tanganmu
Menghabiskan waktu
Yang mungkin akan terulang lagi

Ya, harapan selalu ada
Entah kapan momen itu akan kembali
Hanya waktu yang menuntunku
Untuk berada di hadapanmu




Hanya itu, tak ada obrolan lainnya lagi.


💗💗💗


Bersambung.....


@agityunita 
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.