TS
agityunita
Tiga

Part 1
Bandung, 2009
Apa kau pernah menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan percintaan?
Jika belum, maka lihatlah kisahnya, pasti kau tidak akan pernah mau mencobanya.
Seorang gadis dua puluh satu tahun yang hobinya menulis puisi. Sahabat-sahabatnya memanggil dirinya Bya.
Jujur, pasti tidak ada yang pernah mau menjadi orang ketiga termasuk Bya.
Cinta pertamanya sendiri memang bukan cinta yang bisa dibanggakan. Cinta dalam diam, cinta dalam rahasia. Hanya Bya sendiri yang tahu bagaimana rasanya.
Apa karena ini dia memutuskan untuk jadi orang ketiga di hubungan orang lain??? Entahlah...
💗
“Aku lagi berantem sama pacar aku!” Adu Lilac pada Bya suatu hari.
Lilac adalah teman dekat Bya sejak pertama masuk di Universitas hingga sekarang. Bya tahu siapa yang Lilac maksud. Seorang laki-laki yang sudah menjadi pacar Lilac sejak tiga tahun ini dan mereka berencana untuk menikah. Bya memang tidak terlalu mengenal siapa laki-laki itu. Dia hanya tahu dari setiap curhatan Lilac padanya. Karena terlalu seringnya mereka bertengkar, Bya jadi merasa greget sendiri.
“Udah putusin aja!” Saran Bya yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Lilac.
“Jangan dong By, aku kan sayang sama dia.”
“Kalau sayang kenapa isinya berantem melulu?”
“Gak tahu nih, apa karena kita rencana mau nikah ya?”
Entah apa yang dipikirkan Bya. Awalnya dia hanya ingin membantu sahabatnya itu. Dia merasa kasihan jika setiap hari sahabatnya itu terlihat murung karena bertengkar dengan pacarnya.
Malamnya...
Bya mencari tahu siapa pacar Lilac melalui facebooknya. Karena setahu Bya, Lilac mencantumkan sedang berpacaran dengan siapa di biodata akunnya tersebut. Namanya tertera Gera, entah nama asli atau palsu? Pikir Bya.
Bya pun langsung mengirimkan permintaan pertemanan pada akun laki-laki bernama Gera itu. Maksud dalam hati tetap sama, ingin membantu Lilac sahabatnya.
Permintaan pertemanan tak kunjung diterima, mungkin dia bukan maniak facebook pikir Bya. Karena kalau melihat isi berandanya pun, jarang sekali dia membuat status sendiri. Berandanya kebanyakan berisi status Lilac yang menandai akun Si Gera ini.
^Kalau aku jadi Gera, BT juga ya, Fbku jadi banyak sampahnya gini^ Ucap Bya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri mengingat wajah kusut Lilac tadi siang.
Sepertinya ditunggu pun percuma. Akun bernama Gera itu sepertinya tidak sedang dalam keadaan Online. Jadi tidak perlu ditunggu terus. Bya pun beranjak tidur sambil tetap merasa merasa penasaran seperti apa Gera itu?
Keesokan harinya...
Seperti biasa Bya bergegas mandi dan shalat Subuh. Dia tidak mau hari ini telat lagi ikut ujian. Jadi dia bermaksud untuk datang ke kampus lebih pagi dari biasanya. Di tengah perjalanan menuju ke kampus dengan menaiki angkutan umum, Bya iseng membuka akun facebooknya. Dia ingin tahu apakah permintaan pertemanannya sudah diterima atau belum oleh pacar Lilac itu.
Ternyata belum, ya, belum diterima, tetapi ada pesan yang masuk.
°Kamu Abyatina ya, sahabatnya Lilac°
Bya sedikit kaget karena nama lengkapnya disebut. Dan ternyata pesan itu dari Gera.
^Kok malah kirim pesan sih?^tanya Bya dalam hati.
^Bales jangan ya?^Bya merasa bingung sendiri.
°Iya, Aku Abyatina, panggil aja Bya 😊, kamu Gera kan? Pacarnya Lilac?°
Akhirnya Bya memutuskan untuk membalas pesan itu. Balasan yang basa-basi menurutnya. Karena Dia kan memang sudah tahu siapa Gera, tapi kenapa harus tanya lagi?? Tiba-tiba Bya jadi merasa salah tingkah, hatinya menjadi sedikit tak karuan. Bukan karena merasa bersalah telah mengirim pesan pada pacar sahabatnya sendiri, tetapi karena....
°Kamu lagi mau ke kampus ya?°
Karena ini, Bya heran kok Gera bisa tahu dia sedang menuju kampus.
°Boleh Aku antar, Aku naik motor sedang berhenti di halte dekat kampus°
Ini alasan lainnya yang membuat Bya jadi tambah salah tingkah.
^Ini cowok kenapa ya?^ Batin Bya bingung.
Bya memang tidak membalas pesan itu, dia bingung harus menulis apa. Bya hanya memperhatikan keluar jendela karena sebentar lagi halte yang dimaksud akan Ia lewati. Untungnya saat melewati halte itu, angkutan yang dia naiki berjalan tidak terlalu cepat.
^Apa itu Gera ya?^
Bya melihat seorang laki-laki sedang duduk di halte bus yang dimaksud dalam pesan Gera tadi. Tanpa sadar ternyata Bya sudah turun dari angkutan yang dia naiki.
“Gera!” Sapa Bya memastikan bahwa laki-laki itu benar Gera pacar Lilac.
“Oh, hey, Abyatina ya?!”
“Bya!”
Mereka pun berjabatan tangan, berkenalan. Namun entahlah perasaan salah tingkah itu datang lagi. Bya jadi tidak tahu harus bicara apa. Biasanya dia selalu cerewet sekali biarpun pada orang yang baru dikenal, tapi kali ini sungguh tidak ada ide kata-kata yang bisa Ia ucapkan.
“Ayo, Aku antar ke kampus!” Ajak Gera akhirnya membuyarkan lamunan Bya.
“Eh, emang Kamu gak kerja?”
Ya, Bya tahu kalau Gera sudah bekerja dari Lilac. Gera bekerja di salah satu penerbitan yang ada di kota ini.
“Aku kerja, tapi ini masih jam setengah tujuh, masih terlalu pagi.”
Bya ikut melihat layar handphonenya. Entahlah, dia merasa sangat kikuk. Dia hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Gera.
“Lilac gimana?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Bya. Ya, dia memang tiba-tiba teringat pada Lilac. Dia berpikir bukankah seharusnya lelaki ini mengantar Lilac bukan malah menawarkan diri untuk mengantarnya ke kampus.
“Memangnya hari ini Lilac kuliah?”
“Eh, memangnya ini hari apa?
“Hari Sabtu!”
“Oh iya, Lilac gak ada kuliah hari ini.”
Iya, benar juga. Lelaki ini mau mengantarkan Bya ke kampus karena tidak ada Lilac di sana. Obrolan mereka pun berlanjut hingga sampai ke kampus Bya. Bya seperti terhipnotis untuk mengikuti ajakan Gera mengantar dirinya sampai ke kampus. Buktinya tanpa terasa, mereka berdua sudah sampai di tempat parkir kampus.
“Aku sering perhatiin kamu, tapi baru sekarang berani ngobrol kayak gini, aku pikir kamu gak mau kenal sama aku!”
“Eh, kok mikirnya gitu?”
Karena kampus yang masih sepi dan ujian Bya yang pastinya belum dimulai, mereka memutuskan untuk duduk-duduk di kantin kampus Bya.
“Iya, tapi pas semalam kamu mengirim permintaan pertemanan di Facebook, ternyata aku salah, kamu mau kenal sama aku!”
Gera memasang senyum termanisnya, menurut Bya tentunya. Membuat Dia semakin salah tingkah.
“Hmm... Sebenarnya, aku Cuma ingin tahu aja siapa pacar Lilac?”
“Oh, berarti aku yang ke-GeEr-an!” Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, senyum manis di wajah Gera menghilang. Dan entah kenapa Bya menjadi merasa bersalah. Dia ingin mengkoreksi ucapannya, tapi apa, toh memang hanya itu niat dia.
“Aku kasihan sama Lilac.”
Bya mencoba mencari alasan lain agar Gera lebih yakin lagi.
“Memangnya dia kenapa?”
“Kalian sering berantem kan? Dan setiap kalian berantem, Lilac selalu merasa sedih.”
“Oh, soal itu...”
Jawaban singkat Gera membuat Bya mengerutkan dahi. Tapi sayang, dia harus menunda rasa penasarannya karena harus segera masuk ke dalam kelas.
“Lain waktu kita ngobrol lagi, terima kasih udah mengantar aku.” Bya mencoba tersenyun sewajar mungkin sambil meninggalkan Gera.
Tanpa diketahui oleh Bya, Gera sebenarnya berniat menunggu sampai Bya selesai kuliah. Karena sebenarnya hari ini, kerjanya libur.
Entah apa yang Gera pikirkan, sebenarnya bukan Bya saja yang merasa salah tingkah tetapi laki-laki bertumbuh tinggi dan berkulit sawo matang ini pun berlaku demikian.
Dia merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan selama dia berpacaran dengan Lilac, biarpun hubungan mereka sudah berjalan sangat lama.
Menurut Gera, Bya itu beda. Di mata laki-laki duapuluh lima tahun ini, dia melihat Bya bukanlah perempuan manja. Tentu saja dia tahu semua tentang Bya dari pacarnya, Lilac.
Gera memang tidak tahu persis perasaan apa yang sedang hadir saat ini, hanya saja rasa ingin mengenal Bya lebih jauh lagi yang membuatnya berani untuk melakukan hal seperti yang sedang ia lakukan saat ini.
Dua jam berlalu sejak Bya masuk kelas dan mengikuti ujian, akhirnya selesai juga.
Bya keluar dari kelas dan berniat menuju ke kantin karena tiba-tiba dia merrasa lapar, mungkin karena efek ujian yang menurutnya agak sulit.
Belum sampai ke tempat duduk yang dituju, Bya menghentikan langkahnya karena matanya yang mendapati Gera masih duduk di bangku yang sama saat tadi pagi mereka berbincang.
“Gera, kok masih ada d sini?”
“Eh, By, udah selesai ujiannya?”
“Udah, kamu gak kerja?”
“Hehe,sebenarnya hari sabtu itu kerjaku libur, daripada iseng gak tahu mau kemana, jadi ya aku tungguin kamu aja di sini, gak apa-apa kan?”
“Hmm, gak apa-apa sih, emangnya gak ada janji sama Lilac? “
“Gak ada, kalau gak salah dia ada acara keluarga hari ini.”
“Ooh!”
Bya masih memandang wajah Gera dengan wajah bingung. Rasa laparnya tiba-tiba jadi hilang. Sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa. Perasaannya semakin tak karuan.
“Setelah ini kamu ada kelas?”
“Gak, kenapa?”
“Aku lapar, hehe, mau ajak kamu makan, tapi gak di sini!”
“Dimana?”
“Hmm, terserah kamu!”
Bya tertawa, tawa pertamanya sejak tadi pagi. Tanpa sadar dia lakukan dan Gera pun jadi ikut tertawa menutupi ketertarikannya.
Mungkin memang Bya tidak secantik Lilac, tapi Bya memiliki definisi cantik yang lain menurutnya.
Mereka pun meluncur ke tempat makan favorit Bya.
Bya sendiri adalah anak kosan di Bandung ini, sedangkan seluruh keluarganya tinggal di Surabaya. Bya memilih melanjutkan kuliah di Bandung, selain karena memang sengaja mendaftar di salah satu universitas negeri di Bandung, tetapi juga karena Bya termasuk tipe anak yang senang bertualang. Dia bosan sedari kecil tinggal di Surabaya yang terkenal dengan udaranya yang panas itu.
Selama menempuh pendidikan S1 nya di fakultas sastra, gadis yang bernama lengkap Abyatina Nadhifah ini punya tempat makan langganan, selain karena harganya yang ramah di kantong, suasananya juga asyik untuk berlama-lama jika dia merasa bosan sendiri di kosan.
“Nah, kita makan di sini aja ya, enak kok makanannya, murah lagi.”
Bya menjelaskan pada Gera setibanya di tempat makan favoritnya. Gera pun tersenyum menanggapi penjelasan Bya. Baginya entah kenapa, dimana pun bukanlah masalah buatnya, karena yang terpenting baginya saat ini dia bisa mengenal lebih dekat gadis sedikit tomboy yang sedang sibuk memilih menu di depannya.
“Panas-panas gini, enak deh kalau makan baso, kamu mau?”
Bya mendapati Gera sedang melamun sambil menatap lekat dirinya.
“Hey!” Sambil Bya memukul pelan bahu Gera.
“Iya, kenapa?”
^Dia benar melamun^ Batin Bya.
“Mau makan apa? Kalau aku mau makan baso, kamu mau gak?”
“Iya, boleh! “
“Ngelamunin apa sich? Lilac ya?” Goda Bya sambil tertawa.
Yang digoda menggeleng kepala cepat. Karena dia memang tidak sedang memikirkan pacarnya itu.
“Terus ngelamunin apa?” Rasa ingin tahu Bya pun muncul, kali ini tanpa tawa menggoda.
“Aku lihat kamu waktu pertama kali antar Lilac kuliah.”
Gera membuka perbincangan lagi setelah beberapa saat diam karena asyik dengan makanan dan pikiran masing-masing.
“Kok aku baru lihat kamu ya?” Sambil berhehe ria, Bya mencoba mencairkan suasana.
“Hehe, soalnya aku gak pernah lihat kamu dari dekat.”
“Mungkin Lilac takut kamu jadi suka sama aku?”
Bya pun tertawa lebar, diikuti Gera yang sebenarnya mengiyakan kata-kata Bya. Itulah kata yang tepat pikir Gera, dia menyukai Abyatina sahabat pacarnya. Tapi sudut lain hatinya menolak perasaan itu sehingga dia merasa bingung sendiri.
“Lilac sering cerita tentang kamu, sedikit banyak aku jadi tahu gimana kamu.”
“Lilac pasti cerita yang jelek-jelek ya, he he!” Bya selalu menutupi salah tingkahnya dengan menambahkan candaan di setiap kata-katanya.
Dia berusaha sebisa mungkin menutupi kekikukannya.
Pada akhirnya tak ada obrolan yang serius antara mereka. Bya yang senang bercanda memberikan energi yang baru bagi Gera.
Sampai Gera mengantarkan Bya pulang ke kosannya pun mereka hanya berbincang-bincang ringan yang mengalir begitu saja. Tentang film, tentang lagu favorit, tentang kerjaan dan kuliah.
Tapi kesan yang ditinggalkan dari percakapan mereka sepanjang hari ini adalah kesan yang akan membawa mereka pada perasaan baru. Perasaan yang tidak pernah mereka bayangkan akan merasakannya.
💗💗💗
Bersambung....
Part 2
Part 3
Part 4 [Selesai]
@agityunita
Diubah oleh agityunita 18-02-2020 18:11
nona212 dan 18 lainnya memberi reputasi
19
2.3K
23
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agityunita
#10
Tiga_Part 2
Part 2
°Selamat pagi Abyatina 😊°
Bya yang sedang bersiap-siap akan berangkat ke kampus, agak terkejut mendapatkan pesan itu. Dahinya berkerut karena Nomor yang tertera tidak dia kenal. Tetapi saat melihat foto profil yang terpasang di nomor Whatsapp pengirim pesan itu, Bya langsung mengenali siapa orangnya.
“Geranium?!”
Ya, itu pesan dari Gera pacar Lilac. Bya lupa kalau kemarin malam sebelum Gera pulang setelah mengantarkan dirinya, dia meminta nomer Whatsapp milik Bya. Tetapi waktu itu Gera tidak langsung mengirum pesan padanya.
Bukannya membalas pesan Gera tersebut, Bya malah asyik melamun mengingat seharian hari Sabtu itu, dia menghabiskan waktu bersama Gera.
“Kamu suka nulis?” Pertanyaan Gera yang diingat Bya setelah dia meneritakan tentang kuliah dan hobi menulisnya.
“Aku bisa lho, bantuin nerbitin karyanya kalau kamu mau?!” Tawaran Gera yang paling diingat Bya.
Jadi membuat Bya senyum-senyum sendiri sekarang.
Bya memutuskan untuk tidak membalas pesan dari Gera itu. Sudut hatinya yang lain selalu mengingatkan kalau Gera itu pacar Lilac dan dia tidak boleh terlalu dekat dengan Gera.
Bya pun bergegas menuju ke kampusnya.
Sesampainya di kampus, tidak biasanya, Bya mendapati Lilac sudah ada di kantin tidak seperti biasanya.
^Tuh anak biasanya datang siang, jam segini kok udah ada di kantin aja?^
Belum Bya mendekati Lilac untuk mengejutkannya. Malah dia yang mendapatkan kejutan. Ada Gera mendatangi Lilac dengan membawa nampan berisi dua mangkuk bubur ayam.
^Kok ada Gera?^
Seharusnya pertanyaan itu tidak perlu Bya tanyakan. Karena apa salahnya ada Gera di dekat Lilac kan mereka pacaran.
Bya memutuskan untuk mengurungkan niatnya mendekati Lilac, namun sayang Lilac terlanjur melihatnya.
“Bya, mau kemana?”
Bya pun kembali membalikkan badannya dan melambaikan tangan ke arah Lilac.
“Hey!”
Karena memang dia baru datang dan belum ada kelas sepagi ini, Bya tidak punya alasan untuk tidak mendekati Lilac. Bya jadi merasa canggung dengan adanya Gera di situ, tapi tidak dengan Gera, di mata Bya, Gera terlihat biasa saja.
“Pasti kamu heran kan kenapa aku bisa datang sepagi ini?” Selidik Lilac karena melihat wajah aneh Bya.
Bya mencoba bersikap senormal mungkin di hadapan Lilac.
“Kenapa memangnya?”
“Ini nih, Gera, ngajak sarapan dulu di sini, habis itu langsung kerja, iya kan A?” Yang dipanggil Aa oleh Lilac masih asyik dengan buburnya sambil mengangguk mengiyakan penjelasan Lilac.
“Kamu baru lihat kali ini kan pacar aku, cakep gak?” Tanya Lilac, membuat Bya bingung harus menjawab apa. Jelas ini bukan kali pertama dia bertemu Gera. Sabtu kemarin bahkan mereka seharian bersama. Apa dia tega memberitahukan soal itu pada Lilac. Yang ada Bya hanya menggangguk sambil memasang wajah senormal mungkin.
Agar tak semakin tidak karuan perasannya, Bya pun ikut sarapan bubur bersama Lilac dan Gera. Tapi tidak berapa lama, Gera pamitan karena harus berangkat kerja.
“Aku kerja dulu ya!” Pamit Gera pada Lilac.
Bya sama sekali tidak berani menatap ke arah Gera, saat ini dia sedang ingin menunduk saja.
“Iya a, hati-hati ya, jangan lupa nanti sore pulang kerja ke rumah ya!”
“Kalau gak lembur ya!”
“Hmm, Iya deh, Dah Aa!!!”
Lilac menyenggol lengan Bya yang masih asyik dengan bubur di hadapannya.
“Eh, oh, iya, hati-hati!” Kata-kata yang keluar dari mulut Bya karena terkejut.
“Hehe, serius amat makannya?!”
Kali itu dia bersitatap dengan Gera. Gera pun memberikan senyum padanya dan berlalu pergi
^Oh, ya ampun, Dia itu kenapa sih?^ Batin Bya karena melihat senyum manis Gera padanya.^
Setelah itu Bya benar-benar tidak bisa konsentrasi. Paginya sudah begitu sangat ajaib untuknya. Dia seperti tidak sedang menapak tanah, waktu pun berjalan terasa begitu cepat. Bukan karena Gera memberikan senyuman pada dirinya, tetapi lebih kepada rasa bersalahnya pada Lilac karena dia sudah berbohong.
^Oh Lilac, Maafkan Aku^
Hari ini Lilac pulang lebih cepat daripada Bya. Lilac yang mengambil jurusan ekonomi memang kadang punya jadwal tidak sepadat Bya. Apalagi tidak lama lagi, Bya akan segera lulus, memang sih masih kira-kira setahun lagi, tapi waktu sepertinya akan berjalan sangat cepat. Ditambah munculnya Gera secara tiba-tiba. Biarpun sebenarnya tidak begitu, tetapi bagi Bya semuanya masih terasa aneh.
Pukul empat sore, Bya baru akan meninggalkan kampusnya. Dengan menenteng beberapa buku yang dia pinjam dari perpustakaan. Dia berjalan menyusuri tempat parkir menuju gerbang kampus.
Terkejut bukan main saat Bya melihat Gera yang ada di luar gerbang kampusnya.
“Gera!”
“Hey, baru pulang, untung aku gak telat ya?!”
“Heh, maksudnya?”
“Tadinya aku mau WA kamu dulu, tapi takut gak dibales lagi, jadi aku langsung kesini aja, berharap kamu belum pulang, ternyata bener!”
“Kenapa?” Hanya itu yang bisa diucapkan Bya menanggapi penjelasan panjang Gera. Iya, kenapa? Kenapa Gera ada disini? Kenapa bukannya dia harusnya ke rumah Lilac? Bukankah tadi padi dia dengar Lilac meyuruhnya begitu?
“Kenapa apanya? Ya aku mau jemput kamu dan anterin kamu pulang, kenapa? Udah ada yang mau jemput ya? Ya ampun, aku lupa, aku gak pastiin dulu kamu itu udah punya pacar apa belum?”
Panjang lagi kata-kata Gera, membuat Bya semakin bingung.
“Maksud aku bukan itu?”
“Terus apa?”
“Bukannya harusnya kamu ke rumah Lilac?”
“Oh, aku kira apa, aku ke rumah dia setelah antar kamu!” Jawab Gera sambil menyerahkan helm pada Bya.
Tadinya Bya mau menolak, tapi entahlah, dia selalu merasa terhipnotis sama seperti waktu itu. Gera pun mengantar Bya pulang.
“Makasih ya!” Ucap Bya setibanya di depan kosan. Tanpa harus menunggu Gera membalas ucapannya itu. Bya ingin segera masuk karena dia lagi-lagi merasa tak karuan.
“Kamu marah ya sama aku?”
Ucapan Gera menghentikan langkah Bya. Dia memandang laki-laki yang mengenakan hoody itu dengan heran.
“Marah, kenapa?” Tanya Bya akhirnya.
“Habis dari tadi kamu diam saja, gak kayak biasanya, apa kamu marah soal tadi pagi?”
“Tadi pagi?”
“Iya, soal aku yang tumben-tumbenan sarapan di kantin kampus?”
“Gak kok!” Bya menjadi tidak enak hati melihat wajah Gera yang benar-benar merasa bersalah. Sungguh diamnya bukan karena dia sedang marah. Tapi lebih kepada, entahlah, dia sendiri pun bingung tentang perasaannya.
Dan sejak hari itu, entah mengapa, Gera rajin mengirim WA pada Bya. Kadang Bya membalasnya tapi kadang juga tidak. Bya masih belum paham pada sikap Gera pada dirinya. Gera pun jadi rajin mengantar dan menjemputnya setiap hari Sabtu atau sekedar menjemputnya pulang kuliah di hari yang lain. Dan semua itu berjalan jelas tanpa diketahui oleh Lilac.
Bya jadi merasa bingung kadang jika harus berhadapan dengan Lilac. Untung saja karena tugas kuliah yang semakin menumpuk, membuat mereka jarang bertemu. Berganti dengan mengobrol lewat WA, jika tiba-tiba Lilac ingin curhat padanya.
Sudah hampir tiga bulan, Bya dan Gera dekat. Obrolan mereka pun berkembang dan akhirnya menemukan banyak kecocokan.
Seperti suatu malam, tiba-tiba Gera datang ke kosan Bya dan mengajak nya jalan-jalan. Itu kali pertama mereka jalan berdua di tengah rutinitas antar jemput yang selalu Gera lakukan.
Malam itu, Bya diajak oleh Gera ke kawasan Lembang. Ya, mereka menghabiskan malam di sana, mengobrol sambil ditemani bajigur hangat dan roti bakar.
“Lilac gak pernah mau kalau aku ajak ke sini.” Ucap Gera membuka obrolan.
Malam itu langit memang cerah, banyak bintang yang muncul seakan menjadi saksi.
“Kenapa? Padahal di sini asyik lho, tempatnya romantis, hehe!”
Bya mencoba mencairkan suasana, lagi-lagi dengan tawa renyahnya. Jelas dia pun sebenarnya menutupi debar jantungnya yang terasa semakin cepat detaknya.
“Iya, dari pertama aku lihat kamu dulu, aku yakin kamu suka tempat ini!”
“Heh??”
Bya langsung memalingkan pandangannya ke arah Gera. Mungkin dia salah dengar.
“Iya, aku emang ingin ajak kamu ke sini, kamu suka?”
Bya hanya bisa mengangguk.
“Andai aku bertemu kamu tiga tahun yang lalu.”
Bya semakin membelalakan matanya mendengar kata-kata Gera yang masih asyik memandang langit
^Maksud nih cowok apa sih?^ Batin Bya merasa semakin bingung.
“Kamu ngomong apa sih, kan sekarang kamu sama Lilac, kalian juga udah mau nikah.”
“Hmm, andai bisa aku batalkan pernikahan itu?!”
“Apa???”
Jika saat ini dia diperbolehkan pingsan, Bya memilih untuk pingsan saja. Dia merasa tambah pusing mendengar kata-kata Gera yang semakin aneh itu.
“Aku suka sama kamu By!”
Jelaslah sudah perasaan itu kini. Gera berani mengungkapkan perasaannya. Bya hanya bisa diam sambil memandang nanar pada laki-laki di sampingnya.
^Dia nembak aku?^
Terlalu berlebihan memang kesimpulan Bya ini, tetapi memang hanya itu yang terlintas dalam benaknya.
^Aku harus jawab apa? Dia kan pacar Lilac plus calon suaminya^
Kepala Bya terasa penuh, seperti akan meledak. Tiba-tiba Gera tertawa, memecahkan lamunan Bya.
“Haha, By, kamu jangan natap aku kayak gitu dong!” Tawanya perlahan mereda, karena seakan mengambang begitu saja di udara.
Bya masih lekat menatap Gera. Sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan, tetapi tak satu pun kata yang keluar dari mulutnya.
“Maafkan aku By, gak seharusnya aku ungkapin perasaan aku ke kamu, seharusnya aku bisa simpan itu sendiri!”
“Bukan disimpan Gera, tapi dihilangkan!”
Kata-kata itu yang akhirnya keluar dari bibir Bya. Entah kenapa, tiba-tiba ada rasa sesak yang menyerang dadanya sekarang. Matanya juga terasa panas, seperti akan menangis.
^Kenapa harus nangis sih, aku kan gak boleh suka juga sama calon suami Lilac ini^
Pengakuan Bya itu hanya terucap dalam hati, Gera tak tahu atau mungkin tak perlu tahu pikir Bya.
Sejak malam itu, Gera semakin membuktikan rasa cinta nya pada Bya. Di luar dugaan Bya yang seharusnya setelah dia bicara seperti itu, Gera seharusnya menjauhinya bukan malah semakin mendekatinya.
Saat ini Bya jadi benar-benar tak berani bertemu dengan Lilac sahabatnya. Setiap kali diajak hang out bareng, Bya selalu mencoba menolaknya. Biarpun terkadang, pertahanannya runtuh juga jika Lilac terus merengek. Apalagi kadang, Lilac selalu mengajak serta Gera. Makin tak enak hati saja Bya dibuatnya.
Satu waktu, Lilac mengajak Bya pergi ke toko buku, awalnya sebisa mungkin Bya mencari alasan tidak bisa ikut pergi. Tetapi apa daya, dia tidak bisa menolak ajakan sahabatnya itu.
Bya sampai di toko buku lebih dulu daripada Lilac, karena dari kampus dia langsung naik ojek online menuju toko buku yang Lilac maksud.
Cukup lama menunggu, Lilac yang ditunggu tak kunjung datang juga. Bya yang duduk-duduk di cafe dekat toko buku itu dikejutkan dengan pesan yang masuk di WA nya,
~Bya sayang, maaf ya, aku gak bisa dateng, tiba-tiba harus anter mamah ke rumah saudara, tapi aku butuh bukunya. Jadi aku udah suruh Gera buat kasihin ke kamu catatan buku apa aja yang aku butuhin. Tolong bantuin Aa tercinta aku cari bukunya ya 😊😊😊 makasih Bya 😘😘😘~
^Nih anak, awalnya kan aku yang gak mau pergi, eh malah dia sendiri yang gak dateng, terus pake nyuruh-nyuruh Gera lagi^
Apa??? Bya gak sadar sama apa yang dia baca, akhirnya dia kaget sendiri. Gera yang akan datang membawa catatan buku apa saja yang ingin Lilac beli.
^Apa aku pulang aja kali ya???^
Bergegas Bya beranjak keluar dari Cafe itu untuk segera pulang. Pikirnya lebih baik begitu, mumpung Gera belum datang. Tapi sayang, entah mengpa pertemuan dia dengan Gera selalu saja berjalan mulus. Gera sudah ada di tempat parkir toko buku yang tidak jauh dari cafe tempat Bya berdiri sekarang.
Dan mata Gera langsung menangkap keberadaan Bya yang baru saja akan beranjak meninggalkan cafe.
“By!” Gera memanggilnya.
Rasanya Bya ingin berlari saja namun kakinya benar-benar tidak bisa diajak kompromi, dia malah berbalik arah.
“Hey, kata Lilac gak jadi dateng? “
“Jangan gitu dong, dia pasti udah kirim pesan kan?” Sambil Gera menyerahkan catatan yang Lilac maksud.
“Kamu sendiri memangnya gak bisa?”
Gera menggeleng cepat seraya menggandeng tangan Bya. Yang digandeng berusaha melepaskan tapi sayang Gera tidak menghiraukannya. Bya pun menyerah.
^Oh Tuhan, kenapa cinta ini harus kau jatuhkan padanya^
Aku Bya dalam hatinya. Ya, dia juga mencintai Gera, tapi Bya selalu berusaha menyembunyikannya.
Gak butuh waktu lama, semua buku yang dibutuhkan Lilac sudah ada di tangan.
^Aku harus langsung pulang, lama-lama di sini aku bisa makin cinta sama nih cowok^ Dalam hati Bya merencanakan untuk pamit pulang duluan.
“By, aku masih kangen, jangan pulang dulu ya!”
^OMG, apa dia bisa baca pikiran aku ya?^
Bya hanya bisa menepuk keningnya di belakang Gera. Lalu mereka pun mampir di cafe dekat toko buku.
“Ger, kamu jangan gini dong sama aku!”
Bya mencoba memberanikan diri mengungkapkan isi pikirannya.
“Gini gimana?“ Gera pura-pura gak ngerti sama apa hang dimaksud Bya, dia malah asyik menikmati segelas capuchino yang dipesannya.
“Kalau Lilac tahu gimana?”
Suara Bya hampir tak terdengar oleh Gera, kali ini Bya hanya bisa menunduk sambil mengaduk-aduk orange jus di hadapannya.
“Jujur By, aku malah ingin dia tahu!”
Bya kaget mendengar jawaban yang meluncur dengan mudahnya dari bibir Gera.
“Tapi sayang, pernikahan itu harus tetap dilaksanakan.”
Bya tidak tahu harus berkata apa. Genggaman tangan Gera tiba-tiba saja tidak ingin dia lepaskan. Ada luka yang tiba-tiba muncul.
Namun akal sehat Bya mengatakan, semuanya memang harus diselesaikan.
Biarlah perasaan ini tetap seperti ini. Gak perlu ada balasan atau ungkapan apa pun. Baginya Lilac adalah sahabat yang baik. Dia tidak mungkin melukai sahabatnya itu. Mungkin ini hanya nafsu sekilas saja, yang eaok lusa pasti akan hilang. Jika Gera tidak bisa pergi menjauhinya, maka Bya yang harus memutuskan untuk pergi.
Ya, mungkin itu yang terbaik. Dia akan kembali lagi jika Lilac dan Gera sudah resmi menikah.
Dan malam itu, adalah malam terakhir Bya bertemu dengan Gera. Karena setelah itu, dia memutuskan untuk mengajukan cuti pada kampusnya dan kembali ke Surabaya.
💗💗💗
Bersambung....
@agityunita
°Selamat pagi Abyatina 😊°
Bya yang sedang bersiap-siap akan berangkat ke kampus, agak terkejut mendapatkan pesan itu. Dahinya berkerut karena Nomor yang tertera tidak dia kenal. Tetapi saat melihat foto profil yang terpasang di nomor Whatsapp pengirim pesan itu, Bya langsung mengenali siapa orangnya.
“Geranium?!”
Ya, itu pesan dari Gera pacar Lilac. Bya lupa kalau kemarin malam sebelum Gera pulang setelah mengantarkan dirinya, dia meminta nomer Whatsapp milik Bya. Tetapi waktu itu Gera tidak langsung mengirum pesan padanya.
Bukannya membalas pesan Gera tersebut, Bya malah asyik melamun mengingat seharian hari Sabtu itu, dia menghabiskan waktu bersama Gera.
“Kamu suka nulis?” Pertanyaan Gera yang diingat Bya setelah dia meneritakan tentang kuliah dan hobi menulisnya.
“Aku bisa lho, bantuin nerbitin karyanya kalau kamu mau?!” Tawaran Gera yang paling diingat Bya.
Jadi membuat Bya senyum-senyum sendiri sekarang.
Bya memutuskan untuk tidak membalas pesan dari Gera itu. Sudut hatinya yang lain selalu mengingatkan kalau Gera itu pacar Lilac dan dia tidak boleh terlalu dekat dengan Gera.
Bya pun bergegas menuju ke kampusnya.
Sesampainya di kampus, tidak biasanya, Bya mendapati Lilac sudah ada di kantin tidak seperti biasanya.
^Tuh anak biasanya datang siang, jam segini kok udah ada di kantin aja?^
Belum Bya mendekati Lilac untuk mengejutkannya. Malah dia yang mendapatkan kejutan. Ada Gera mendatangi Lilac dengan membawa nampan berisi dua mangkuk bubur ayam.
^Kok ada Gera?^
Seharusnya pertanyaan itu tidak perlu Bya tanyakan. Karena apa salahnya ada Gera di dekat Lilac kan mereka pacaran.
Bya memutuskan untuk mengurungkan niatnya mendekati Lilac, namun sayang Lilac terlanjur melihatnya.
“Bya, mau kemana?”
Bya pun kembali membalikkan badannya dan melambaikan tangan ke arah Lilac.
“Hey!”
Karena memang dia baru datang dan belum ada kelas sepagi ini, Bya tidak punya alasan untuk tidak mendekati Lilac. Bya jadi merasa canggung dengan adanya Gera di situ, tapi tidak dengan Gera, di mata Bya, Gera terlihat biasa saja.
“Pasti kamu heran kan kenapa aku bisa datang sepagi ini?” Selidik Lilac karena melihat wajah aneh Bya.
Bya mencoba bersikap senormal mungkin di hadapan Lilac.
“Kenapa memangnya?”
“Ini nih, Gera, ngajak sarapan dulu di sini, habis itu langsung kerja, iya kan A?” Yang dipanggil Aa oleh Lilac masih asyik dengan buburnya sambil mengangguk mengiyakan penjelasan Lilac.
“Kamu baru lihat kali ini kan pacar aku, cakep gak?” Tanya Lilac, membuat Bya bingung harus menjawab apa. Jelas ini bukan kali pertama dia bertemu Gera. Sabtu kemarin bahkan mereka seharian bersama. Apa dia tega memberitahukan soal itu pada Lilac. Yang ada Bya hanya menggangguk sambil memasang wajah senormal mungkin.
Agar tak semakin tidak karuan perasannya, Bya pun ikut sarapan bubur bersama Lilac dan Gera. Tapi tidak berapa lama, Gera pamitan karena harus berangkat kerja.
“Aku kerja dulu ya!” Pamit Gera pada Lilac.
Bya sama sekali tidak berani menatap ke arah Gera, saat ini dia sedang ingin menunduk saja.
“Iya a, hati-hati ya, jangan lupa nanti sore pulang kerja ke rumah ya!”
“Kalau gak lembur ya!”
“Hmm, Iya deh, Dah Aa!!!”
Lilac menyenggol lengan Bya yang masih asyik dengan bubur di hadapannya.
“Eh, oh, iya, hati-hati!” Kata-kata yang keluar dari mulut Bya karena terkejut.
“Hehe, serius amat makannya?!”
Kali itu dia bersitatap dengan Gera. Gera pun memberikan senyum padanya dan berlalu pergi
^Oh, ya ampun, Dia itu kenapa sih?^ Batin Bya karena melihat senyum manis Gera padanya.^
Setelah itu Bya benar-benar tidak bisa konsentrasi. Paginya sudah begitu sangat ajaib untuknya. Dia seperti tidak sedang menapak tanah, waktu pun berjalan terasa begitu cepat. Bukan karena Gera memberikan senyuman pada dirinya, tetapi lebih kepada rasa bersalahnya pada Lilac karena dia sudah berbohong.
^Oh Lilac, Maafkan Aku^
Hari ini Lilac pulang lebih cepat daripada Bya. Lilac yang mengambil jurusan ekonomi memang kadang punya jadwal tidak sepadat Bya. Apalagi tidak lama lagi, Bya akan segera lulus, memang sih masih kira-kira setahun lagi, tapi waktu sepertinya akan berjalan sangat cepat. Ditambah munculnya Gera secara tiba-tiba. Biarpun sebenarnya tidak begitu, tetapi bagi Bya semuanya masih terasa aneh.
Pukul empat sore, Bya baru akan meninggalkan kampusnya. Dengan menenteng beberapa buku yang dia pinjam dari perpustakaan. Dia berjalan menyusuri tempat parkir menuju gerbang kampus.
Terkejut bukan main saat Bya melihat Gera yang ada di luar gerbang kampusnya.
“Gera!”
“Hey, baru pulang, untung aku gak telat ya?!”
“Heh, maksudnya?”
“Tadinya aku mau WA kamu dulu, tapi takut gak dibales lagi, jadi aku langsung kesini aja, berharap kamu belum pulang, ternyata bener!”
“Kenapa?” Hanya itu yang bisa diucapkan Bya menanggapi penjelasan panjang Gera. Iya, kenapa? Kenapa Gera ada disini? Kenapa bukannya dia harusnya ke rumah Lilac? Bukankah tadi padi dia dengar Lilac meyuruhnya begitu?
“Kenapa apanya? Ya aku mau jemput kamu dan anterin kamu pulang, kenapa? Udah ada yang mau jemput ya? Ya ampun, aku lupa, aku gak pastiin dulu kamu itu udah punya pacar apa belum?”
Panjang lagi kata-kata Gera, membuat Bya semakin bingung.
“Maksud aku bukan itu?”
“Terus apa?”
“Bukannya harusnya kamu ke rumah Lilac?”
“Oh, aku kira apa, aku ke rumah dia setelah antar kamu!” Jawab Gera sambil menyerahkan helm pada Bya.
Tadinya Bya mau menolak, tapi entahlah, dia selalu merasa terhipnotis sama seperti waktu itu. Gera pun mengantar Bya pulang.
“Makasih ya!” Ucap Bya setibanya di depan kosan. Tanpa harus menunggu Gera membalas ucapannya itu. Bya ingin segera masuk karena dia lagi-lagi merasa tak karuan.
“Kamu marah ya sama aku?”
Ucapan Gera menghentikan langkah Bya. Dia memandang laki-laki yang mengenakan hoody itu dengan heran.
“Marah, kenapa?” Tanya Bya akhirnya.
“Habis dari tadi kamu diam saja, gak kayak biasanya, apa kamu marah soal tadi pagi?”
“Tadi pagi?”
“Iya, soal aku yang tumben-tumbenan sarapan di kantin kampus?”
“Gak kok!” Bya menjadi tidak enak hati melihat wajah Gera yang benar-benar merasa bersalah. Sungguh diamnya bukan karena dia sedang marah. Tapi lebih kepada, entahlah, dia sendiri pun bingung tentang perasaannya.
Dan sejak hari itu, entah mengapa, Gera rajin mengirim WA pada Bya. Kadang Bya membalasnya tapi kadang juga tidak. Bya masih belum paham pada sikap Gera pada dirinya. Gera pun jadi rajin mengantar dan menjemputnya setiap hari Sabtu atau sekedar menjemputnya pulang kuliah di hari yang lain. Dan semua itu berjalan jelas tanpa diketahui oleh Lilac.
Bya jadi merasa bingung kadang jika harus berhadapan dengan Lilac. Untung saja karena tugas kuliah yang semakin menumpuk, membuat mereka jarang bertemu. Berganti dengan mengobrol lewat WA, jika tiba-tiba Lilac ingin curhat padanya.
Sudah hampir tiga bulan, Bya dan Gera dekat. Obrolan mereka pun berkembang dan akhirnya menemukan banyak kecocokan.
Seperti suatu malam, tiba-tiba Gera datang ke kosan Bya dan mengajak nya jalan-jalan. Itu kali pertama mereka jalan berdua di tengah rutinitas antar jemput yang selalu Gera lakukan.
Malam itu, Bya diajak oleh Gera ke kawasan Lembang. Ya, mereka menghabiskan malam di sana, mengobrol sambil ditemani bajigur hangat dan roti bakar.
“Lilac gak pernah mau kalau aku ajak ke sini.” Ucap Gera membuka obrolan.
Malam itu langit memang cerah, banyak bintang yang muncul seakan menjadi saksi.
“Kenapa? Padahal di sini asyik lho, tempatnya romantis, hehe!”
Bya mencoba mencairkan suasana, lagi-lagi dengan tawa renyahnya. Jelas dia pun sebenarnya menutupi debar jantungnya yang terasa semakin cepat detaknya.
“Iya, dari pertama aku lihat kamu dulu, aku yakin kamu suka tempat ini!”
“Heh??”
Bya langsung memalingkan pandangannya ke arah Gera. Mungkin dia salah dengar.
“Iya, aku emang ingin ajak kamu ke sini, kamu suka?”
Bya hanya bisa mengangguk.
“Andai aku bertemu kamu tiga tahun yang lalu.”
Bya semakin membelalakan matanya mendengar kata-kata Gera yang masih asyik memandang langit
^Maksud nih cowok apa sih?^ Batin Bya merasa semakin bingung.
“Kamu ngomong apa sih, kan sekarang kamu sama Lilac, kalian juga udah mau nikah.”
“Hmm, andai bisa aku batalkan pernikahan itu?!”
“Apa???”
Jika saat ini dia diperbolehkan pingsan, Bya memilih untuk pingsan saja. Dia merasa tambah pusing mendengar kata-kata Gera yang semakin aneh itu.
“Aku suka sama kamu By!”
Jelaslah sudah perasaan itu kini. Gera berani mengungkapkan perasaannya. Bya hanya bisa diam sambil memandang nanar pada laki-laki di sampingnya.
^Dia nembak aku?^
Terlalu berlebihan memang kesimpulan Bya ini, tetapi memang hanya itu yang terlintas dalam benaknya.
^Aku harus jawab apa? Dia kan pacar Lilac plus calon suaminya^
Kepala Bya terasa penuh, seperti akan meledak. Tiba-tiba Gera tertawa, memecahkan lamunan Bya.
“Haha, By, kamu jangan natap aku kayak gitu dong!” Tawanya perlahan mereda, karena seakan mengambang begitu saja di udara.
Bya masih lekat menatap Gera. Sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan, tetapi tak satu pun kata yang keluar dari mulutnya.
“Maafkan aku By, gak seharusnya aku ungkapin perasaan aku ke kamu, seharusnya aku bisa simpan itu sendiri!”
“Bukan disimpan Gera, tapi dihilangkan!”
Kata-kata itu yang akhirnya keluar dari bibir Bya. Entah kenapa, tiba-tiba ada rasa sesak yang menyerang dadanya sekarang. Matanya juga terasa panas, seperti akan menangis.
^Kenapa harus nangis sih, aku kan gak boleh suka juga sama calon suami Lilac ini^
Pengakuan Bya itu hanya terucap dalam hati, Gera tak tahu atau mungkin tak perlu tahu pikir Bya.
Sejak malam itu, Gera semakin membuktikan rasa cinta nya pada Bya. Di luar dugaan Bya yang seharusnya setelah dia bicara seperti itu, Gera seharusnya menjauhinya bukan malah semakin mendekatinya.
Saat ini Bya jadi benar-benar tak berani bertemu dengan Lilac sahabatnya. Setiap kali diajak hang out bareng, Bya selalu mencoba menolaknya. Biarpun terkadang, pertahanannya runtuh juga jika Lilac terus merengek. Apalagi kadang, Lilac selalu mengajak serta Gera. Makin tak enak hati saja Bya dibuatnya.
Satu waktu, Lilac mengajak Bya pergi ke toko buku, awalnya sebisa mungkin Bya mencari alasan tidak bisa ikut pergi. Tetapi apa daya, dia tidak bisa menolak ajakan sahabatnya itu.
Bya sampai di toko buku lebih dulu daripada Lilac, karena dari kampus dia langsung naik ojek online menuju toko buku yang Lilac maksud.
Cukup lama menunggu, Lilac yang ditunggu tak kunjung datang juga. Bya yang duduk-duduk di cafe dekat toko buku itu dikejutkan dengan pesan yang masuk di WA nya,
~Bya sayang, maaf ya, aku gak bisa dateng, tiba-tiba harus anter mamah ke rumah saudara, tapi aku butuh bukunya. Jadi aku udah suruh Gera buat kasihin ke kamu catatan buku apa aja yang aku butuhin. Tolong bantuin Aa tercinta aku cari bukunya ya 😊😊😊 makasih Bya 😘😘😘~
^Nih anak, awalnya kan aku yang gak mau pergi, eh malah dia sendiri yang gak dateng, terus pake nyuruh-nyuruh Gera lagi^
Apa??? Bya gak sadar sama apa yang dia baca, akhirnya dia kaget sendiri. Gera yang akan datang membawa catatan buku apa saja yang ingin Lilac beli.
^Apa aku pulang aja kali ya???^
Bergegas Bya beranjak keluar dari Cafe itu untuk segera pulang. Pikirnya lebih baik begitu, mumpung Gera belum datang. Tapi sayang, entah mengpa pertemuan dia dengan Gera selalu saja berjalan mulus. Gera sudah ada di tempat parkir toko buku yang tidak jauh dari cafe tempat Bya berdiri sekarang.
Dan mata Gera langsung menangkap keberadaan Bya yang baru saja akan beranjak meninggalkan cafe.
“By!” Gera memanggilnya.
Rasanya Bya ingin berlari saja namun kakinya benar-benar tidak bisa diajak kompromi, dia malah berbalik arah.
“Hey, kata Lilac gak jadi dateng? “
“Jangan gitu dong, dia pasti udah kirim pesan kan?” Sambil Gera menyerahkan catatan yang Lilac maksud.
“Kamu sendiri memangnya gak bisa?”
Gera menggeleng cepat seraya menggandeng tangan Bya. Yang digandeng berusaha melepaskan tapi sayang Gera tidak menghiraukannya. Bya pun menyerah.
^Oh Tuhan, kenapa cinta ini harus kau jatuhkan padanya^
Aku Bya dalam hatinya. Ya, dia juga mencintai Gera, tapi Bya selalu berusaha menyembunyikannya.
Gak butuh waktu lama, semua buku yang dibutuhkan Lilac sudah ada di tangan.
^Aku harus langsung pulang, lama-lama di sini aku bisa makin cinta sama nih cowok^ Dalam hati Bya merencanakan untuk pamit pulang duluan.
“By, aku masih kangen, jangan pulang dulu ya!”
^OMG, apa dia bisa baca pikiran aku ya?^
Bya hanya bisa menepuk keningnya di belakang Gera. Lalu mereka pun mampir di cafe dekat toko buku.
“Ger, kamu jangan gini dong sama aku!”
Bya mencoba memberanikan diri mengungkapkan isi pikirannya.
“Gini gimana?“ Gera pura-pura gak ngerti sama apa hang dimaksud Bya, dia malah asyik menikmati segelas capuchino yang dipesannya.
“Kalau Lilac tahu gimana?”
Suara Bya hampir tak terdengar oleh Gera, kali ini Bya hanya bisa menunduk sambil mengaduk-aduk orange jus di hadapannya.
“Jujur By, aku malah ingin dia tahu!”
Bya kaget mendengar jawaban yang meluncur dengan mudahnya dari bibir Gera.
“Tapi sayang, pernikahan itu harus tetap dilaksanakan.”
Bya tidak tahu harus berkata apa. Genggaman tangan Gera tiba-tiba saja tidak ingin dia lepaskan. Ada luka yang tiba-tiba muncul.
Namun akal sehat Bya mengatakan, semuanya memang harus diselesaikan.
Biarlah perasaan ini tetap seperti ini. Gak perlu ada balasan atau ungkapan apa pun. Baginya Lilac adalah sahabat yang baik. Dia tidak mungkin melukai sahabatnya itu. Mungkin ini hanya nafsu sekilas saja, yang eaok lusa pasti akan hilang. Jika Gera tidak bisa pergi menjauhinya, maka Bya yang harus memutuskan untuk pergi.
Ya, mungkin itu yang terbaik. Dia akan kembali lagi jika Lilac dan Gera sudah resmi menikah.
Dan malam itu, adalah malam terakhir Bya bertemu dengan Gera. Karena setelah itu, dia memutuskan untuk mengajukan cuti pada kampusnya dan kembali ke Surabaya.
💗💗💗
Bersambung....
@agityunita
anwarabdulrojak memberi reputasi
1