- Beranda
- Stories from the Heart
Noktah Merah Kanvas Berbingkai (Based on True Story)
...
TS
wowonwae
Noktah Merah Kanvas Berbingkai (Based on True Story)
Prolog

Kanvas berukuran 120 x 200 cm itu masih utuh menyandar pada tripod penyangga, putih bersih tanpa sepercikpun warna cat. Sedang cat warna hitam dan merah yang sedari tadi kutuang pada palet tak sedikitpun tersentuh bulu kuas yang berdesak di wadah kaleng dalam berbagai ukuran. Tergeletak di lantai di antara posisi dudukku dan posisi kanvas. Berjam-jam lamanya aku duduk termangu di depannya dalam hening malam beriring suara gesek sayap jangkrik bersahutan. Kicau burung malam sesekali menimpali dalam tempo yang tak pasti.
"Mas..., aku lelah...!"
Suara itu kembali mengiang seolah tepat di telinga bagai bisikan. Lirih mengiba dan beresonansi hingga menggetarkan hati. Suara gadis yang sedari tahun 1991 telah menjadi track list urutan 10 besar dalam memori otakku andai diibaratkan urutan lagu di flash disk. Track list setelah suara orang-orang terdekatku.
Sebatang rokok yang terjepit di antara dua jemari tangan kananku kembali kusedot asapnya kuat-kuat lalu kuhembuskan pelan. Jari-jemari yang seharusnya memegang kuas lalu membalur bulu-bulunya dengan cat dan menyaputkannya pada kanvas sedari tadi, yang ada malah hanya menjapit batang rokok menyala. Dan sampai detik ini sudah batang ke empat dari bungkus ke dua sejak mulai kuambil posisi duduk di depan kanvas.
Bengong di depan kanvas seperti ini sebetulnya bukan hal baru bagiku yang sudah puluhan tahun menerjuni profesi sebagai pelukis. Dan bukan diriku saja yang pernah ngalamin, rekan2 seprofesi juga sering punya cerita sama. Nge-blank bahasa populernya di komunitasku, kondisi dimana otak dan otot sedang tidak sinkron. Jika dipaksakan malah jadi amburadul hasilnya, dipandang tak sedap, dirasa pun tak harmonis. Kalau saja suara itu tak berkali-kali mengiang, biasa kuatasi kondisi seperti ini dengan meditasi. Maka malam ini kuputuskan untuk mencoba lalui tanpa meditasi.
"Mas..., aku lelah...!"
Kembali suara itu terdengar, bukan sayup-sayup lagi melainkan menggema. Kusedot asap batang rokokku kuat-kuat sampai mentok bara apinya menyentuh batang filter, lalu kuhembuskan pelan-pelan. Bayangan wajah si empunya suarapun makin jelas menari-nari dalam angan. Gadis manis yang lugu dan anggun dengan bibir tipis bergincu seadanya.
Lima belas tahun terpaut umurku dengannya, tapi entah mengapa rasa saling suka itu bak virus corona yang menginfeksi tanpa peduli batasan usia. Hinggap begitu saja dalam diri kami berdua, sedari pandangan pertama saat kami berjumpa bahkan. Dan aku telah kalap, terbutakan oleh gelora asmara yang terus bergemuruh menyesakkan dada. Mengingkari segala kenyataan yang ada.
Berkali-kali kusalahkan diriku di larut malam ini, bahkan untuk ke sekian kali yang tak terhitung. Mungkin ini hari adalah puncak rasa sesal itu. Hari dimana segala rasa bercampur aduk seperti adonan kue tetangga dalam pusaran logam pengaduk yang digerakkan oleh mesin mixer bersuaranya bising melengking, hingga kerap membuatku pusing. Hari dimana baru kali ini bangun pagi kuawali dengan menenggak sebutir obat sakit kepala berdosis tinggi. Setelah kutekan tombol keypad handphone pemutus sambungan, bergambar simbol telefon berwarna merah, sebab taktahan dengar isak tangismu di akhir kalimat lirih yang kemudian terekam jelas dalam ingatan. Lalu berputar berulang-ulang seharian, hingga sekarang.
"Mas..., aku lelah...!"

Kanvas berukuran 120 x 200 cm itu masih utuh menyandar pada tripod penyangga, putih bersih tanpa sepercikpun warna cat. Sedang cat warna hitam dan merah yang sedari tadi kutuang pada palet tak sedikitpun tersentuh bulu kuas yang berdesak di wadah kaleng dalam berbagai ukuran. Tergeletak di lantai di antara posisi dudukku dan posisi kanvas. Berjam-jam lamanya aku duduk termangu di depannya dalam hening malam beriring suara gesek sayap jangkrik bersahutan. Kicau burung malam sesekali menimpali dalam tempo yang tak pasti.
"Mas..., aku lelah...!"
Suara itu kembali mengiang seolah tepat di telinga bagai bisikan. Lirih mengiba dan beresonansi hingga menggetarkan hati. Suara gadis yang sedari tahun 1991 telah menjadi track list urutan 10 besar dalam memori otakku andai diibaratkan urutan lagu di flash disk. Track list setelah suara orang-orang terdekatku.
Sebatang rokok yang terjepit di antara dua jemari tangan kananku kembali kusedot asapnya kuat-kuat lalu kuhembuskan pelan. Jari-jemari yang seharusnya memegang kuas lalu membalur bulu-bulunya dengan cat dan menyaputkannya pada kanvas sedari tadi, yang ada malah hanya menjapit batang rokok menyala. Dan sampai detik ini sudah batang ke empat dari bungkus ke dua sejak mulai kuambil posisi duduk di depan kanvas.
Bengong di depan kanvas seperti ini sebetulnya bukan hal baru bagiku yang sudah puluhan tahun menerjuni profesi sebagai pelukis. Dan bukan diriku saja yang pernah ngalamin, rekan2 seprofesi juga sering punya cerita sama. Nge-blank bahasa populernya di komunitasku, kondisi dimana otak dan otot sedang tidak sinkron. Jika dipaksakan malah jadi amburadul hasilnya, dipandang tak sedap, dirasa pun tak harmonis. Kalau saja suara itu tak berkali-kali mengiang, biasa kuatasi kondisi seperti ini dengan meditasi. Maka malam ini kuputuskan untuk mencoba lalui tanpa meditasi.
"Mas..., aku lelah...!"
Kembali suara itu terdengar, bukan sayup-sayup lagi melainkan menggema. Kusedot asap batang rokokku kuat-kuat sampai mentok bara apinya menyentuh batang filter, lalu kuhembuskan pelan-pelan. Bayangan wajah si empunya suarapun makin jelas menari-nari dalam angan. Gadis manis yang lugu dan anggun dengan bibir tipis bergincu seadanya.
Lima belas tahun terpaut umurku dengannya, tapi entah mengapa rasa saling suka itu bak virus corona yang menginfeksi tanpa peduli batasan usia. Hinggap begitu saja dalam diri kami berdua, sedari pandangan pertama saat kami berjumpa bahkan. Dan aku telah kalap, terbutakan oleh gelora asmara yang terus bergemuruh menyesakkan dada. Mengingkari segala kenyataan yang ada.
Berkali-kali kusalahkan diriku di larut malam ini, bahkan untuk ke sekian kali yang tak terhitung. Mungkin ini hari adalah puncak rasa sesal itu. Hari dimana segala rasa bercampur aduk seperti adonan kue tetangga dalam pusaran logam pengaduk yang digerakkan oleh mesin mixer bersuaranya bising melengking, hingga kerap membuatku pusing. Hari dimana baru kali ini bangun pagi kuawali dengan menenggak sebutir obat sakit kepala berdosis tinggi. Setelah kutekan tombol keypad handphone pemutus sambungan, bergambar simbol telefon berwarna merah, sebab taktahan dengar isak tangismu di akhir kalimat lirih yang kemudian terekam jelas dalam ingatan. Lalu berputar berulang-ulang seharian, hingga sekarang.
"Mas..., aku lelah...!"
Jakarta, 16 Januari 1997
Just begining - to be continued Part 2
Diubah oleh wowonwae 16-01-2021 19:10
0
1.1K
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wowonwae
#1
Part 2 Si Gila yang Tergila-gila
Quote:
Percakapan dengan diriku sendiri itu akhirnya ku akhiri, sebelum kusapa mahkluk Tuhan berjuluk perempuan di hadapanku. Telah dia usik kelelakianku berkali-kali dengan keindahan dirinya dan curi-curi pandangnya. Bagiku, keindahan itu bagaikan cincin emas perkimpoian yang melekat di jari manisku yang setia menemani. Sedang curi-curi pandang perempuan itu bagai pintu rumah yang dibuka lebar-lebar saat menyambut kedatangan seorang tamu yang istimewa.
Asal kau tahu, aku terlahir dalam sebuah keluarga sederhana di kampung, dalam asuhan seorang Bapak yang mantan veteran sekaligus santri ngaji dari seorang Kyai kharismatik yang sangat ta'at. Disiplin dan tegas kata para tetangga tentang Bapak, tapi kataku : keras dan ortodok. Beliau tak akan segan menghukum ke empat anaknya tanpa pandang bulu jika berbuat salah, atau lebih tepatnya membelot dari perintah dan nasehat. Sedang Ibuku hanya bisa jadi tempat mengadu, setelah hukuman itu kami jalani dengan isak tangis tersedu.
Sedari kecil aku telah terdidik untuk berpikir masak-masak sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu. Meskipun sesuatu itu hanyalah sebuah permainan anak-anak belaka, atau bahkan sekedar mengikat tali sepatu. Maka percakapan dengan diri sendiri seperti ini telah jadi kebiasaanku sampai ke tiga puluh tahun lebih usia ini telah bertambah. Ya, tak kusangkal kesimpulanmu atas percakapan diri yang baru saja kuceritakan. Akulah memang yang paling sering terkena hukuman Bapak dan kenyang akan teguran dibanding tiga saudara yang lain.
"E..., dik ! Penatarannya masih jauh ?" akhirnya terlontar juga kalimat tanya yang sebetulnya kumaksudkan sebagai sapaan awal.
Perempuan di hadapanku yang lebih tepat disebut gadis itu kutaksir usianya masih cukup belia, sekitaran usia siswa SMA. Kami duduk di bangku berhadap-hadapan dalam sebuah angkot yang membawa kami dalam perjalanan menuju Candi Penataran. Si gadis bersama dua kawan yang duduk di samping kiri-kanannya, pun aku bersama dua kawan pula tetapi duduk terpisah berjauhan.
"Enggak kok mas !" jawab si gadis dengan mata berbinar.
Entah kaget tak menyangka akan kusapa dengan tanya atau senang karena sedari tadi menunggu kusapa, beda tipis tampaknya. Yang jelas, senyumnya membuatku sedikit terpana. Manis sekali ternyata, sungguh tak kusangka. Lelakiku makin terusik saja kurasa.
Mendengar suara jawab yang mengalun di antara bibir tipisnya yang merah merona, aku merasakan seolah kembali memuda, lengkap dengan getar jiwanya yang menggelora. Bagi pelukis sepertiku, kondisi seperti ini kerap memunculkan energi baru, memunculkan gairah berkarya dan berekspresi yang sarat inspirasi. Tapi tidaklah semua pelukis itu seperti diriku, janganlah lantas sebuah kesimpulan tiba-tiba kau bikin, apalagi justifikasi !
"Masih berapa lama ?" tanyaku lagi dengan intonasi suara yang tanpa sadar melembut.
"Ini kita juga ntar turun di sana, barengan aja...!" jawabnya spontan sambil menepuk masing-masing lutut kedua temannya.
Senyumnya makin mengembang, menampakkan gigi-giginya yang bersih dan tersusun rapih. Sedang kedua kawannya celingukan, sebentar menatap si gadis dan aku bergantian.
Kali ini aku tak hanya sedikit terpesona, tapi terkesima. Bukan karena senyumnya, tapi sebab binar matanya yang kian memancar. Bukan pula karena merasa menemukan obyek yang bagus untuk dilukis. Teramat banyak sudah wajah perempuan yang lebih sempurna dari itu pernah kulukis. Aku terkesima karena menangkap kesan dari binar matanya yang seolah menyambut niatku yang hendak mencuri hatinya. Binar mata itu bak binar mata anak kecil yang menyambut ibunya pulang dari pasar, melepas rindu dan berharap dibawakan jajan kesukaan.
"Oh..., baguslah kalau begitu", jawabku dengan mantap sekali.
Bagus yang pertama berarti aku dan kedua kawanku tak mungkin kebablasan menyetop angkot, dan bagus yang kedua berarti si gadis telah kena bidikanku. Setidaknya jika dugaanku salah, hari ini sumber energi baru telah kudapat. Layaknya bara api yang kembali menganga tertiup hembusan angin senja.
Kulempar pandangku ke arah dua kawanku yang duduk agak berjauhan, taktampak sedikitpun mereka memperhatikanku. Hanya melempar pandang ke luar kaca jendela angkot, menikmati obyek sepanjang jalan. Bahkan ketika percakapan dengan tiga dara di depanku berlanjut, tak sedikitpun kulihat mereka peduli, hanya sesekali menoleh. Kami sudah lama berkecimpung dalam dunia seniman, khususnya seni rupa. Mereka paling menyangka bahwa aku sedang mengeksplorasi si gadis buat bakal dijadikan objek lukisan, tak perlu ditanggapi berlebihan.
Quote:
Percakapan diri itu kembali terjadi, 5 menit sebelum kami meneriaki si bapak sopir angkot agar segera menepi. Percakapan yang kerap muncul acap kali hendak kuputuskan sesuatu yang nyrempet-nyrempet bahaya atau terasa ada gelagat yang kurang baik kali ini entah kenapa terasa memuakkan, tak seperti biasa selalu kunikmati. Dan jangan salah kau salah terka, percakapan kali ini bukanlah dengan diriku di awal tadi, melainkan dengan yang lainnya lagi.
Selain sebab kebiasaan sejak kecil yang sudah kuceritakan tadi, percakapan diri itu kian menjadi-jadi seiring makin dalam dunia seni kuselami. Kerja seni yang kutekuni telah menuntutku untuk selalu bercumbu dengan imajinasi. Semakin asyik bercumbu, makin berkualitas karya yang kubuat. Pelukis itu seolah bisa mencipta sendiri dunia baru lengkap dengan segala isinya. Maka jangan heran jika aku mampu bertahan dalam kesendirian berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan hanya dalam sebuah bilik kecil tanpa seorangpun kawan menemani.
Orang-orang mungkin menganggapku depresi, padahal sedang bereksplorasi dengan imajinasi. Bercakap-cakap dengan diri yang beragam, silih berganti. Atau dengan mahkluk-mahkluk dalam dunia baru yang telah kucipta dengan detil. Boleh dibilang lebih parah dari si Smugle dalam trilogi Lord of The Ring yang entah kau pernah baca atau tidak.
Seorang pelukis bisa tak butuh "kau, dia, dan mereka" di dunia nyata sebab ada beribu-ribu "kau, dia serta mereka" di dunia baru yang ia cipta. Sesuatu yang umumnya dibilang khayal, di saat-saat tertentu buatku bisa jadi terbilang nyata. Orang-orang kerap meng-cap ku introvert, atau lebih parah : "anti sosial". Bagiku yang sekolahnya amburadul ini, istilah mereka terlalu rumit. Sebut saja "gila", repot amat ! Toh tak pernah akan kupedulikan. Malahan aku tak perlu kesulitan untuk memahamkan padamu tentang beberapa kawan seprofesiku yang berakhir dengan gila (tanpa tanda kutip). Meski masih saja tetap sulit untuk menjelaskan padamu tentang diriku yang saat ini sedang tergila-gila. Usai berkeliling Candi seharian bersama tiga dara yang salah satunya sukses kubidik, tepat di jantung hatinya.
To be continued...Part 3
Diubah oleh wowonwae 16-01-2021 18:51
0
Tutup