- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
Setelah beberapa tahun memutuskan untuk beristirahat, akhirnya Beavermoon kembali untuk menyelesaikan apa yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat.
Sedikit bercerita bahwa cerita ini adalah akhir dari serial Aku, Kamu, dan Lemon. Cerita ini tidak lagi mengisahkan tentang Bram, Widya, Dinda, dan yang lainnya. Cerita ini akan mengisahkan tentang sang penulis dari Aku, Kamu, dan Lemon setelah seri Buku Harian Airin berakhir. Bagaimana ia harus menjalani hidup setelah semuanya berakhir, bagaimana ia harus menyelesaikan dan menjelaskan semua cerita yang sudah ia tulis.
Lalu kenapa cerita ini masih menjadi bagian Aku, Kamu, dan Lemon jika sudah tidak ada lagi para tokoh utama dari cerita tersebut? Mungkin, apa yang dirasakan oleh sang penulis bisa menjadi penutup dari serial ini, dengan catatan telah mendapatkan izin dari beberapa orang yang "namanya" pernah tercantum di cerita sebelumnya.
Untuk kalian yang baru bergabung, mungkin bisa baca seri sebelumnya terlebih dahulu sebelum membaca seri terakhir ini.
AKU, KAMU, DAN LEMON
AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Dan bagi kalian yang sudah mengikuti dari seri pertama, selamat datang kembali. Semoga apa yang menjadi pertanyaan selama ini bisa terjawab, jika tidak terjawab maka lebih baik bertanya di kolom komentar. Satu info terakhir, seri ini akan update 3X dalam seminggu (Senin, Rabu, Jum'at) agar tidak terlalu lama. Enjoy!

Spoiler for Index:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Diubah oleh beavermoon 27-06-2020 18:27
i4munited dan 31 lainnya memberi reputasi
32
27.2K
Kutip
395
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#15
Spoiler for Episode 6:
"Mas, aku mau pesen Caffe Latte Hotsatu ya, gambarnya angsa."
Aku hanya memandangi Bella yang sedang bertugas di mesin kopi saat ini. Bella pun mulai membuatkan pesanan pelangan. Satu demi satu langkah ia kerjakan dan hasilnya pun memuaskan.
"Good job." Kataku.
Bella tersenyum, lalu aku mengantarkan pesanan itu ke meja pelanggan. Kemudian aku membereskan gelas-gelas kosong yang sudah ditinggal oleh pelanggan, tak lupa aku membersihkan meja tersebut.
Beranjak ke tempat cuci, aku mulai mencuci beberapa gelas dan piring kotor. Setelah itu, ku letakkan di tempat pengering lalu ku letakkan kembali ke tempatnya. Kling! Suara bel dari pintu yang terbuka, aku melihat Ferdi yang masuk bersama dengan Vero.
"Eh aman kan ya semuanya Bel?" Tanya Ferdi mendekati Bella.
"Aman kok Bang..." Bella melambaikan tangan, "Hai Ka Vero."
"Hai Bel. Rame banget kayaknya sore ini." Jawabnya.
"Kayaknya aku belum ngenalin kamu ke Monster yang ada di sini deh." Kata Ferdi.
"Monster?" Tanya Vero bingung.
Ferdi memberi isyarat kepadaku untuk memperkenalkan diri pada Vero. Benar saja, sedari awal Vero mulai ke sini, aku sama sekali belum memperkenalkan diri padanya.
"Ver, ini Adrian si Monster. Adrian, ini Vero PR buat acara kita." Kata Ferdi.
Vero menjabat tanganku, "Kenapa monster? Dia keliatan biasa aja kok sama kayak kalian."
"Memang terlihat seperti orang biasa aja, cuma kalo dia udah marah..." Ferdi memperagakan Hulk semiripnya.
"Iya, Mas Adrian kalau udah marah serem. Dia orang paling baik di sini tapi orang paling nyeremin juga, kayak ada dua orang di dalem badannya. Aku juga bingung." Sahut Bella.
"Mainnya keroyokan nih? Oke deal." Kataku.
Mereka pun tertawa, lantas aku menyuruh Ferdi dan Vero untuk ke halaman belakang karena saat ini meja sudah terisi penuh. Setelah membuatkan minuman untuk mereka, aku pun kembali menuju mesin kasir. Bella yang berada di mesin kopi mendekatiku.
"Kayaknya Bang Ferdi lagi ngedeketin Ka Vero ya?" Tanyanya.
Dengan cepat aku melihat ke arah Bella yang membuatnya pun terkejut, "Kamu cemburu ya?"
"Ng... ga kok, aku cuma nanya aja Mas..." Bella melihat ke arah pintu belakang, "emang Mas Adrian ngga ngerasain itu?"
"Keliatannya gimana Bel?" Tanyaku lagi.
"Kalau sepengamatan aku sih iya Mas, buktinya aja Bang Ferdi setiap ada Ka Vero jadi semangat gitu. Tau sendiri kan biasanya Bang Ferdi gimana." Jelasnya.
"Hati orang ngga ada yang tau Bel, keliatannya aja mungkin kayak semangat gitu tapi kan ngga ada yang tau maksud dari semangatnya apa. Sedikit info aja sih, Ferdi kemarin abis datengin nikahan mantan terakhirnya. Jadi mungkin dia butuh booster atau semacamnya lah aku bingung bahasanya apaan. Jadi..." aku membisik di telinga Bella, "kamu jangan nyerah buat ngedeketin dia."
"Eh ngga apa sih Mas Adrian..." Bella nampak kaget, "mana mungkin aku naksir sama bos sendiri."
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Beberapa jam sudah berlalu, Vero pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Kemudian Ferdi kembali pada tugasnya, tentu saja aku yang mengetahui hal itu pun mendekatinya.
"Jadi udah sampai mana?" Tanyaku.
"Sampai mana apanya?" Tanyanya balik padaku.
"Pura-pura ngga tau lagi, udah jawab aja mumpung lenggang nih." Kataku tanpa melihat ke arahnya.
"Kalau lu nanya soal event, tinggal cari asisten doang. Kalau lu nanya soal Vero ya ngga ada apa-apa." Jawabnya.
"Yakin ngga ada apa-apa?" Kataku meliriknya.
"Si kampret emang..." Ferdi melihat ke sekeliling lalu mendekat ke arahku sambil berbisik, "kacau semuanya."
Aku menatapnya heran dengan menaikkan satu alisku, "Kacau gimana maksudnya?"
"Vero ternyata udah mau nikah..."
"HAH???"
Ucapanku nampaknya terlalu keras sehingga para pelanggan menatap ke arah kami, dengan cepat aku membungkukkan badan sebagai tanda permintaan maaf karena telah mengganggu mereka. Ferdi memukulku beberapa kali, hingga kami memutuskan untuk berbincang sambil jongkok.
"Lu tau darimana dia mau nikah, dia cerita?" Tanyaku pelan.
"Kalau gue runut sih awal dia ke sini gue ngga ada curiga sama dia, sampai akhirnya tadi gue ngeliat dia pakai cincin gitu di jari manis kirinya. Itu kan berarti dia udah dilamar laki-laki lain dong, bener kan?" Jelasnya.
"Ngga melulu gitu juga, cuma mayoritas aja. Berarti dia ngga cerita dong, lu cuma asal nebak doang?" Kataku.
"Gue cuma menganalisa aja. Tapi buktinya waktu itu Dela pas ngasih undangan kesini, dia juga pakai cincin di jari manisnya." Katanya lagi.
"Kecepetan ngambil kesimpulan lu, coba cari tau dulu yang bener. Lagian nih ya..."
"Kalian pada ngapain?"
Bella melihat ke arah kami, begitu pun juga kami melihat ke arahnya.
"Oh ngga, ini..." ku ambil pulpen dari saku kemeja lalu ku letakkan di lantai, "Ferdi nyari ginian aja ngga bisa sampai minta tolong. Kayaknya minusnya udah nambah lagi."
Kami pun kembali berdiri seperti tidak ada apa-apa. Beberapa jam kami lewati hingga akhirnya kedai ini tutup. Aku sudah duduk di atas motor dengan sebatang rokok yang sudah menyala di tangan kanan, Bella dan Ferdi pun keluar setelah mengunci pintu.
"Mas Adrian ikut makan kan?" Tanya Bella.
"Makan? Ngga deh aku langsung pulang aja mau rebahan." Kataku.
"Tumben lu ngga mau ikut?" Tanya Ferdi.
"Rasanya hari ini ngantuk banget, udah kalian berdua aja." Kataku.
Kami pun berpisah di ruko, aku melanjutkan perjalanan menuju rumah. Jalanan yang sama, lampu merah yang sama, pedagang kaki lima yang sama, hingga aku pun tiba di rumah. Aku naik ke lantai atas menuju kamar dengan botol minuman yang sudah ku buka, ku letakkan tas seperti biasa lalu duduk di kursi biasa.
Ting! ku ambil handphone milikku, hanya sempat ku baca namun tak ku balas. Ku letakkan di atas meja dengan cepat. Ting! Ada bunyi itu lagi. Kali ini tak ku baca dan ku biarkan saja, rasanya malas. Ting! Lama-kelamaan bunyi itu cukup mengganggu, akhirnya ku buka kembali handphone milikku.
Pesan dari orang yang sama, ku kira dari beberapa orang. Pesan yang tidak pernah aku balas, pesan yang hanya selalu ku baca tanpa ku beri tanggap. Namun orang ini terus saja menghubungiku, entah apa yang sedang ia inginkan. Aku tetaplah sama, hanya membaca namun tak ku balas.
Aku beranjak menuju kasur sambil membawa sebuah buku, lalu ku letakkan handphone di lantai. Aku bersandar, sesekali menghisap rokok yang sudah menyala di tangan. Halaman demi halaman ku baca dengan seksama, sesekali aku masih mendengar suara dari handphoneku. Namun ku acuhkan begitu saja sambil tetap membaca buku, hingga malam pun lupa pada dirinya.
*
Kling! Suara langkah kaki mendekat, aku tidak sedikit pun mengalihkan pandanganku.
"Syailendra kemana? Kok ngga ada di parkiran?"
Aku pun menoleh, Ferdi sudah ada di hadapanku, "Mogok di perempatan yang ke arah rumah gue, harus nginep pula sehari jadinya gue naik ojol."
"Ini udah waktunya..." Ferdi melewatiku menuju mesin kasir, "Syailendra harus istirahat, cuma bisa dipakai seminggu sekali. Sekarang waktunya untuk yang baru. Beli yang matic-matic aja kayak N*ax atau P*x. Lebih hemat bensin juga dibanding sama Syailendra."
"Pengen sih, cuma..."
"Jangan banyak alesan..." Ferdi memotong pembicaraanku, "apa perlu gue panggil sales kenalan gue buat bawain brosur ke sini? Gue punya kenalan nih."
"Ngga usah lah, ntar biar gue dateng aja ke dealer." Jawabku singkat.
Pintu belakang terbuka, Bella masuk sekembalinya dari makan siang. Lalu ia menghampiriku, "Mas Adrian istirahat gantian."
Ku acungkan jempol padanya, aku pun berlalu melewatinya. Ku letakkan apron di tempat biasa, ku ambil botol minuman dari kulkas, tak ketinggalan bungkus rokok beserta koreknya.
Tidak banyak yang ku lakukan di halaman belakang ini, sesekali aku hanya melihat handphone lalu ku letakkan kembali di saku kemeja. Ku hisap lagi batang rokok yang sudah menyala, ku lakukan berulang-ulang hingga habis menyisakan busanya saja.
30 menit berlalu, aku kembali masuk ke dalam. Suasananya selalu sama, dari awal buka pukul 7 kedai sudah ramai dengan orang-orang kantoran yang menyempatkan untuk mampir atau untuk dibawa menuju kantor. Pukul 10 hingga 11 adalah waktu senggang, dimana pelanggan secara bergantian datang dan pergi.
Pukul 12 hingga 2 adalah waktunya mereka untuk istirahat, namun tidak untuk kami. Terkadang pesanan bisa menumpuk pada waktu tersebut. Berlanjut dari pukul 3 hingga tutup adalah waktu yang tidak bisa ditentukan, kadang pesanan terbilang santai namun kadang bisa seramai siang hari.
Aku pun sudah kembali berdiri di balik mesin kopi ini, melanjutkan pesanan yang tersisa beberapa saja. Satu demi satu pun ku selesaikan dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang sama.
Kling!
Ferdi menyenggolku dengan sikunya, "Heh heh, gila dah ini cewe apa bidadari cantik banget."
Aku tidak mengalihkan pandanganku dari mesin kopi yang sedang ku atur, "Semua pelanggan yang pernah ke sini juga lu bilang gitu semua, bidadari lah, jelmaan putri duyung lah, apa lah."
Ferdi pun menyapa wanita tersebut lalu menanyakan tentang pesanannya. Wanita itu masih melihat-lihat menu yang terpampang di papan belakang kami.
"Aku mau pesen... Adrian?"
"Pesen Adrian?" Tanya Ferdi bingung.
Aku pun menoleh ketika namaku dipanggil, "Renata?"
Ia pun tersenyum lalu kami berjabat tangan. Kemudian aku memperkenalkan Ferdi dan juga Bella.
"Oh jadi temennya Adrian. Oke jadi mau pesen apa?" Tanya Ferdi.
"Biar Adrian aja yang pilihin." Jawabnya.
Aku mengangguk pertanda setuju, kemudian ia pun duduk di salah satu bangku yang kosong. Aku mulai membuatkan minuman untuk Renata, Ferdi pun mendekatiku, "Beneran temen lu itu? Kok gue ngga percaya ya?"
"Maksudnya ngga percaya gimana?" Tanyaku bingung.
"Senin sampai Sabtu lu di sini, hari minggu di rumah. Gimana caranya lu bisa punya temen kayak dia? Cantik, ramah, wah keliatannya sih perfect." Jelas Ferdi.
"Gue pakai bulu perindu."
Aku dan Ferdi pun tertawa membahas tentang hal itu, kemudian minuman pun sudah jadi. Bella sudah siap mengantarkan minuman itu, namun aku memutuskan untuk mengantarkannya sendiri kepada Renata. Bella pun bingung, ia mendekat ke arah Ferdi, "Kok Mas Adrian nganterin minumannya langsung?"
Ferdi meletakkan telapak tangannya di dagunya, "Kalau aku tebak nih kayaknya mereka bukan cuma temen biasa, temen luar biasa. Atau mungkin..."
"Saling suka?" Ucap Bella memotong pembicaraan Ferdi, "atau jangan-jangan mantan?"
Ferdi menggelengkan kepalanya, "Adrian belum punya mantan kayak dia, tipikal Adrian tuh beda banget dari cewe itu."
"Maksudnya gimana Bang?" Tanya Bella.
"Let me explain to you, tapi pertama kamu liat cewe yang lagi ngobrol sama Adrian..." mereka pun memandangiku dan Renata secara diam-diam, "gimana ciri-ciri cewe itu?"
"Ciri-cirinya?..." Bella memperhatikan dengan seksama, "rambutnya panjang warnanya coklat, tingginya ideal lah, kulitnya putih, cantik, ramah tadi pas kenalan."
"Oke, Adrian itu dari dulu mantannya selalu yang pakai kerudung. Entah seleranya berubah atau gimana cuma agak aneh aja kalau cewe itu gebetannya dia." Jelas Ferdi.
Bella mengangguk. Meninggalkan mereka yang sedang membicarakanku, aku membawakan minuman ini kepada Renata. Sebenarnya bukan tugasku untuk mengantarkan jika aku sedang berada di mesin kopi, namun kali ini ku buat pengecualian agar aku bisa berbincang dengan Renata.
"Silahkan..." ku letakkan gelas di hadapannya, "kamu ngga sengaja ke sini atau gimana?"
"Makasih ya Adrian..." ia mengaduk minuman tersebut menggunakan sedotan stainless lalu meminumnya sedikit, "aku ngga sengaja ke sini. Tadinya mau pulang cuma masih agak males. Aku muter-muter aja terus mutusin ke sini, eh ternyata ini tempatnya kamu. Ngomong-ngomong ini enak, apa namanya?"
"Ice Coffee Almond Latte, menu yang paling laris." Jawabku.
Renata melihat sekeliling ruangan ini, sesekali ia menganggukkan kepalanya entah apa maksudnya. Ia kembali meminum minuman itu hingga tersisa setengah dari isi gelas.
"Wajar sih paling laris, ini enak banget. Kamu yang bikin menunya atau gimana?" Tanyanya.
"Aku cukup bangga dengan menyebutkan kalau aku yang nemu racikan ini. Beberapa kali eksperimen, dari awalnya yang seneng sampe mual karena kebanyaka minum susu. Sampe akhirnya hasilnya ngga bohong sih." Jelasku.
"Bener sih, usaha ngga bakalan mengkhianati." Ucap Renata kemudian tersenyum.
Aku menyempatkan diri untuk berbincang lebih lama, namun sepertinya kondisi tidak memungkinkan karena tiba-tiba pelanggan mulai berdatangan sore ini. Aku pun menyadari akan hal itu, lalu ku bilang pada Renata, "Aku balik kerja dulu ya."
Renata mengangguk sambil tersenyum, aku pun berjalan cepat menuju mesin kopi. Pesanan pun mulai ku buat satu persatu, sesekali aku melihat ke arah Renata. Terkadang ia sedang sibuk dengan handphonenya, sesekali kami pun beradu pandang yang kadang membuat kami juga tersenyum.
"Iya gue paham..." Ferdi berbicara pelan padaku tanpa mengalihkan pandangannya dari mesin kasir, "akhirnya setelah sekian lama ada yang bisa gantiin juga."
"Yang harus dibicarain tuh cincinnya Vero maksudnya apa bukan malah ngomongin gue." Kataku.
"Ah bangke lu!"
Aku hanya bisa tertawa menanggapinya. Terkadang pembicaraan ini adalah hiburan kami agar tidak jenuh. Jujur saja, sudah satu tahun melakukan kegiatan yang selalu sama akan muncul rasa jenuh. Namun ini semua bisa terobati dengan tawa yang berasal dari diri kami masing-masing.
"Adrian..."
Aku dan Ferdi melihat ke arah Renata yang memanggilku, "Kenapa Ren?"
"Aku mau pesen Almond Latte lagi ya, bikin nagih." Ucapnya kemudian tersenyum.
Aku pun mengangguk lalu membalas senyumnya. Kami pun kembali melakukan tugas kami masing-masing, dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10. Aku baru menyadari bahwa Renata masih ada di luar sedangkan para pelanggan lain sudah tidak ada. Beres dengan merapihkan semua barang-barang, aku pun langsung menghampirinya.
"Eh kamu masih di sini? Aku kira udah pulang daritadi." Kataku.
"Aku nungguin kamu aja sekalian mau liat kerjaan kamu." Jawabnya.
Ferdi dan Bella pun keluar setelah mengunci pintu.
"Mas Adrian..." Bella melihat ke arah sekeliling parkiran, "Syailendra kemana? Kok aku baru sadar ngga ada di sini?"
"Loh kamu belum tau kalau Syailendra mogok? Aku kira udah tau." Ucap Ferdi.
"Syailendra?" Tanya Renata bingung.
"Itu nama motor aku..." kemudian aku menatap ke arah Bella, "iya, mana harus nginep lagi. Mau ngga mau naik ojol deh selagi dibenerin."
"Yaudah bareng aja lah." Ucap Ferdi.
"Eh ngga usah..."
Aku, Bella dan juga Ferdi menoleh ke arah Renata secara bersamaan.
"Biar aku aja yang anterin Adrian."
"Loh rumah kamu kan ke sana..." aku menunjuk ke arah jalan, "kita kan beda jalur."
"Ya ngga masalah kok." Jawab Renata.
Ferdi menyiku Bella beberapa kali, aku pun yang menyadari akan hal itu hanya bisa memandang malas. Dan akhirnya Ferdi dan Bella pergi terlebih dahulu meninggalkan aku dan Renata di parkiran. Aku menggaruk-garuk kepala beberapa kali hingga menjadi perhatian Renata.
"Kamu kenapa?" Tanyanya.
"Ng... aku ngga enak udah nebeng, dan juga aku...ngga bisa... nyetir..." Kataku.
"Ya ampun Adrian nggapapa kok santai aja, aku kira kamu kenapa. Udah nggapapa biar aku aja yang nyetir." Jawabnya.
Aku pun mengiyakan meskipun rasanya sungkan, lalu kami masuk ke dalam mobilnya. Perjalanan dimulai, aku hanya bisa berdiam diri menatap jalanan yang ada di depanku, sesekali suara lagu dari radio terdengar menemani Renata yang menyetir.
"Are you okay?" Tanyanya menatapku.
Dengan cepat aku menatapnya, "Agak aneh sih, ngga biasanya aku disetirin sama cewe."
"Udah nggapapa..." Renata kembali menatap jalanan, "ngomong-ngomong kamu kenapa ngga bisa nyetir?"
"Aneh ya?" Tanyaku.
"Aneh sih ngga, cuma menurut aku kebanyakan cowo tuh pengen bisa nyetir buat nganterin gebetannya lah, temennya lah, atau keluarga. Tapi ya kebanyakan sih buat gebetannya." Jelasnya.
"Sederhana aja sih, aku ngga suka naik mobil. Ferdi udah maksa aku dulu buat belajar naik mobil, cuma emang dasarnya aku aja yang lebih seneng sama motor jadi ya gini deh." Jawabku.
"Cukup menarik sih, ngga biasanya aku nemu cowo kayak kamu..." Renata kemudian tersenyum, "Oh iya motor kamu selesai kapan?"
"Harusnya sih besok, cuma ada kemungkinan mundur lagi. Tapi semoga aja besok selesai deh." Kataku.
Perjalanan berlanjut, jalanan yang sama, perempatan yang sama, namun kali ini aku tidak sendiri dan tak juga mengendarai Syailendra. Kali ini menggunakan mobil, dengan Renata, tidak seperti biasanya. Tak terasa kami sampai di rumahku, Renata pun memarkirkan mobilnya di depan rumah.
"Makasih ya Ren udah mau nganterin, aku beneran ngga enak." Kataku.
"Adrian, kan udah aku bilang nggapapa." Katanya.
"Kamu mau mampir dulu?" Tanyaku.
"Next time deh aku main ke rumah kamu." Katanya lagi.
Aku pun keluar dari mobilnya, ia pun melambaikan tangan dari dalam mobil dan berlalu menjauh hingga menghilang di belokan jalan. Rasanya masih cukup aneh, tapi aku kembali mengingat perkataan Renata.
*
Pukul 6 pagi, ku masukkan semua perlengkapan yang akan ku bawa. Setelah memeriksa sekali lagi, akhirnya aku turun ke lantai bawah. Ku turuni anak tangga lalu menuju dapur, ku buka kulkas lalu ku ambil botol minuman seperti biasa. Setelah itu ku kenakan sepatuku, ku kunci pintu rumah sebelum ku tinggalkan. Ku ambil handphone dari dalam saku kemeja untuk memesan ojol menuju ruko.
Tin! Tin!
Mataku berpaling dari handphone yang sedang ku genggam, "Renata?"
***
Aku hanya memandangi Bella yang sedang bertugas di mesin kopi saat ini. Bella pun mulai membuatkan pesanan pelangan. Satu demi satu langkah ia kerjakan dan hasilnya pun memuaskan.
"Good job." Kataku.
Bella tersenyum, lalu aku mengantarkan pesanan itu ke meja pelanggan. Kemudian aku membereskan gelas-gelas kosong yang sudah ditinggal oleh pelanggan, tak lupa aku membersihkan meja tersebut.
Beranjak ke tempat cuci, aku mulai mencuci beberapa gelas dan piring kotor. Setelah itu, ku letakkan di tempat pengering lalu ku letakkan kembali ke tempatnya. Kling! Suara bel dari pintu yang terbuka, aku melihat Ferdi yang masuk bersama dengan Vero.
"Eh aman kan ya semuanya Bel?" Tanya Ferdi mendekati Bella.
"Aman kok Bang..." Bella melambaikan tangan, "Hai Ka Vero."
"Hai Bel. Rame banget kayaknya sore ini." Jawabnya.
"Kayaknya aku belum ngenalin kamu ke Monster yang ada di sini deh." Kata Ferdi.
"Monster?" Tanya Vero bingung.
Ferdi memberi isyarat kepadaku untuk memperkenalkan diri pada Vero. Benar saja, sedari awal Vero mulai ke sini, aku sama sekali belum memperkenalkan diri padanya.
"Ver, ini Adrian si Monster. Adrian, ini Vero PR buat acara kita." Kata Ferdi.
Vero menjabat tanganku, "Kenapa monster? Dia keliatan biasa aja kok sama kayak kalian."
"Memang terlihat seperti orang biasa aja, cuma kalo dia udah marah..." Ferdi memperagakan Hulk semiripnya.
"Iya, Mas Adrian kalau udah marah serem. Dia orang paling baik di sini tapi orang paling nyeremin juga, kayak ada dua orang di dalem badannya. Aku juga bingung." Sahut Bella.
"Mainnya keroyokan nih? Oke deal." Kataku.
Mereka pun tertawa, lantas aku menyuruh Ferdi dan Vero untuk ke halaman belakang karena saat ini meja sudah terisi penuh. Setelah membuatkan minuman untuk mereka, aku pun kembali menuju mesin kasir. Bella yang berada di mesin kopi mendekatiku.
"Kayaknya Bang Ferdi lagi ngedeketin Ka Vero ya?" Tanyanya.
Dengan cepat aku melihat ke arah Bella yang membuatnya pun terkejut, "Kamu cemburu ya?"
"Ng... ga kok, aku cuma nanya aja Mas..." Bella melihat ke arah pintu belakang, "emang Mas Adrian ngga ngerasain itu?"
"Keliatannya gimana Bel?" Tanyaku lagi.
"Kalau sepengamatan aku sih iya Mas, buktinya aja Bang Ferdi setiap ada Ka Vero jadi semangat gitu. Tau sendiri kan biasanya Bang Ferdi gimana." Jelasnya.
"Hati orang ngga ada yang tau Bel, keliatannya aja mungkin kayak semangat gitu tapi kan ngga ada yang tau maksud dari semangatnya apa. Sedikit info aja sih, Ferdi kemarin abis datengin nikahan mantan terakhirnya. Jadi mungkin dia butuh booster atau semacamnya lah aku bingung bahasanya apaan. Jadi..." aku membisik di telinga Bella, "kamu jangan nyerah buat ngedeketin dia."
"Eh ngga apa sih Mas Adrian..." Bella nampak kaget, "mana mungkin aku naksir sama bos sendiri."
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Beberapa jam sudah berlalu, Vero pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Kemudian Ferdi kembali pada tugasnya, tentu saja aku yang mengetahui hal itu pun mendekatinya.
"Jadi udah sampai mana?" Tanyaku.
"Sampai mana apanya?" Tanyanya balik padaku.
"Pura-pura ngga tau lagi, udah jawab aja mumpung lenggang nih." Kataku tanpa melihat ke arahnya.
"Kalau lu nanya soal event, tinggal cari asisten doang. Kalau lu nanya soal Vero ya ngga ada apa-apa." Jawabnya.
"Yakin ngga ada apa-apa?" Kataku meliriknya.
"Si kampret emang..." Ferdi melihat ke sekeliling lalu mendekat ke arahku sambil berbisik, "kacau semuanya."
Aku menatapnya heran dengan menaikkan satu alisku, "Kacau gimana maksudnya?"
"Vero ternyata udah mau nikah..."
"HAH???"
Ucapanku nampaknya terlalu keras sehingga para pelanggan menatap ke arah kami, dengan cepat aku membungkukkan badan sebagai tanda permintaan maaf karena telah mengganggu mereka. Ferdi memukulku beberapa kali, hingga kami memutuskan untuk berbincang sambil jongkok.
"Lu tau darimana dia mau nikah, dia cerita?" Tanyaku pelan.
"Kalau gue runut sih awal dia ke sini gue ngga ada curiga sama dia, sampai akhirnya tadi gue ngeliat dia pakai cincin gitu di jari manis kirinya. Itu kan berarti dia udah dilamar laki-laki lain dong, bener kan?" Jelasnya.
"Ngga melulu gitu juga, cuma mayoritas aja. Berarti dia ngga cerita dong, lu cuma asal nebak doang?" Kataku.
"Gue cuma menganalisa aja. Tapi buktinya waktu itu Dela pas ngasih undangan kesini, dia juga pakai cincin di jari manisnya." Katanya lagi.
"Kecepetan ngambil kesimpulan lu, coba cari tau dulu yang bener. Lagian nih ya..."
"Kalian pada ngapain?"
Bella melihat ke arah kami, begitu pun juga kami melihat ke arahnya.
"Oh ngga, ini..." ku ambil pulpen dari saku kemeja lalu ku letakkan di lantai, "Ferdi nyari ginian aja ngga bisa sampai minta tolong. Kayaknya minusnya udah nambah lagi."
Kami pun kembali berdiri seperti tidak ada apa-apa. Beberapa jam kami lewati hingga akhirnya kedai ini tutup. Aku sudah duduk di atas motor dengan sebatang rokok yang sudah menyala di tangan kanan, Bella dan Ferdi pun keluar setelah mengunci pintu.
"Mas Adrian ikut makan kan?" Tanya Bella.
"Makan? Ngga deh aku langsung pulang aja mau rebahan." Kataku.
"Tumben lu ngga mau ikut?" Tanya Ferdi.
"Rasanya hari ini ngantuk banget, udah kalian berdua aja." Kataku.
Kami pun berpisah di ruko, aku melanjutkan perjalanan menuju rumah. Jalanan yang sama, lampu merah yang sama, pedagang kaki lima yang sama, hingga aku pun tiba di rumah. Aku naik ke lantai atas menuju kamar dengan botol minuman yang sudah ku buka, ku letakkan tas seperti biasa lalu duduk di kursi biasa.
Ting! ku ambil handphone milikku, hanya sempat ku baca namun tak ku balas. Ku letakkan di atas meja dengan cepat. Ting! Ada bunyi itu lagi. Kali ini tak ku baca dan ku biarkan saja, rasanya malas. Ting! Lama-kelamaan bunyi itu cukup mengganggu, akhirnya ku buka kembali handphone milikku.
Pesan dari orang yang sama, ku kira dari beberapa orang. Pesan yang tidak pernah aku balas, pesan yang hanya selalu ku baca tanpa ku beri tanggap. Namun orang ini terus saja menghubungiku, entah apa yang sedang ia inginkan. Aku tetaplah sama, hanya membaca namun tak ku balas.
Aku beranjak menuju kasur sambil membawa sebuah buku, lalu ku letakkan handphone di lantai. Aku bersandar, sesekali menghisap rokok yang sudah menyala di tangan. Halaman demi halaman ku baca dengan seksama, sesekali aku masih mendengar suara dari handphoneku. Namun ku acuhkan begitu saja sambil tetap membaca buku, hingga malam pun lupa pada dirinya.
*
Kling! Suara langkah kaki mendekat, aku tidak sedikit pun mengalihkan pandanganku.
"Syailendra kemana? Kok ngga ada di parkiran?"
Aku pun menoleh, Ferdi sudah ada di hadapanku, "Mogok di perempatan yang ke arah rumah gue, harus nginep pula sehari jadinya gue naik ojol."
"Ini udah waktunya..." Ferdi melewatiku menuju mesin kasir, "Syailendra harus istirahat, cuma bisa dipakai seminggu sekali. Sekarang waktunya untuk yang baru. Beli yang matic-matic aja kayak N*ax atau P*x. Lebih hemat bensin juga dibanding sama Syailendra."
"Pengen sih, cuma..."
"Jangan banyak alesan..." Ferdi memotong pembicaraanku, "apa perlu gue panggil sales kenalan gue buat bawain brosur ke sini? Gue punya kenalan nih."
"Ngga usah lah, ntar biar gue dateng aja ke dealer." Jawabku singkat.
Pintu belakang terbuka, Bella masuk sekembalinya dari makan siang. Lalu ia menghampiriku, "Mas Adrian istirahat gantian."
Ku acungkan jempol padanya, aku pun berlalu melewatinya. Ku letakkan apron di tempat biasa, ku ambil botol minuman dari kulkas, tak ketinggalan bungkus rokok beserta koreknya.
Tidak banyak yang ku lakukan di halaman belakang ini, sesekali aku hanya melihat handphone lalu ku letakkan kembali di saku kemeja. Ku hisap lagi batang rokok yang sudah menyala, ku lakukan berulang-ulang hingga habis menyisakan busanya saja.
30 menit berlalu, aku kembali masuk ke dalam. Suasananya selalu sama, dari awal buka pukul 7 kedai sudah ramai dengan orang-orang kantoran yang menyempatkan untuk mampir atau untuk dibawa menuju kantor. Pukul 10 hingga 11 adalah waktu senggang, dimana pelanggan secara bergantian datang dan pergi.
Pukul 12 hingga 2 adalah waktunya mereka untuk istirahat, namun tidak untuk kami. Terkadang pesanan bisa menumpuk pada waktu tersebut. Berlanjut dari pukul 3 hingga tutup adalah waktu yang tidak bisa ditentukan, kadang pesanan terbilang santai namun kadang bisa seramai siang hari.
Aku pun sudah kembali berdiri di balik mesin kopi ini, melanjutkan pesanan yang tersisa beberapa saja. Satu demi satu pun ku selesaikan dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang sama.
Kling!
Ferdi menyenggolku dengan sikunya, "Heh heh, gila dah ini cewe apa bidadari cantik banget."
Aku tidak mengalihkan pandanganku dari mesin kopi yang sedang ku atur, "Semua pelanggan yang pernah ke sini juga lu bilang gitu semua, bidadari lah, jelmaan putri duyung lah, apa lah."
Ferdi pun menyapa wanita tersebut lalu menanyakan tentang pesanannya. Wanita itu masih melihat-lihat menu yang terpampang di papan belakang kami.
"Aku mau pesen... Adrian?"
"Pesen Adrian?" Tanya Ferdi bingung.
Aku pun menoleh ketika namaku dipanggil, "Renata?"
Ia pun tersenyum lalu kami berjabat tangan. Kemudian aku memperkenalkan Ferdi dan juga Bella.
"Oh jadi temennya Adrian. Oke jadi mau pesen apa?" Tanya Ferdi.
"Biar Adrian aja yang pilihin." Jawabnya.
Aku mengangguk pertanda setuju, kemudian ia pun duduk di salah satu bangku yang kosong. Aku mulai membuatkan minuman untuk Renata, Ferdi pun mendekatiku, "Beneran temen lu itu? Kok gue ngga percaya ya?"
"Maksudnya ngga percaya gimana?" Tanyaku bingung.
"Senin sampai Sabtu lu di sini, hari minggu di rumah. Gimana caranya lu bisa punya temen kayak dia? Cantik, ramah, wah keliatannya sih perfect." Jelas Ferdi.
"Gue pakai bulu perindu."
Aku dan Ferdi pun tertawa membahas tentang hal itu, kemudian minuman pun sudah jadi. Bella sudah siap mengantarkan minuman itu, namun aku memutuskan untuk mengantarkannya sendiri kepada Renata. Bella pun bingung, ia mendekat ke arah Ferdi, "Kok Mas Adrian nganterin minumannya langsung?"
Ferdi meletakkan telapak tangannya di dagunya, "Kalau aku tebak nih kayaknya mereka bukan cuma temen biasa, temen luar biasa. Atau mungkin..."
"Saling suka?" Ucap Bella memotong pembicaraan Ferdi, "atau jangan-jangan mantan?"
Ferdi menggelengkan kepalanya, "Adrian belum punya mantan kayak dia, tipikal Adrian tuh beda banget dari cewe itu."
"Maksudnya gimana Bang?" Tanya Bella.
"Let me explain to you, tapi pertama kamu liat cewe yang lagi ngobrol sama Adrian..." mereka pun memandangiku dan Renata secara diam-diam, "gimana ciri-ciri cewe itu?"
"Ciri-cirinya?..." Bella memperhatikan dengan seksama, "rambutnya panjang warnanya coklat, tingginya ideal lah, kulitnya putih, cantik, ramah tadi pas kenalan."
"Oke, Adrian itu dari dulu mantannya selalu yang pakai kerudung. Entah seleranya berubah atau gimana cuma agak aneh aja kalau cewe itu gebetannya dia." Jelas Ferdi.
Bella mengangguk. Meninggalkan mereka yang sedang membicarakanku, aku membawakan minuman ini kepada Renata. Sebenarnya bukan tugasku untuk mengantarkan jika aku sedang berada di mesin kopi, namun kali ini ku buat pengecualian agar aku bisa berbincang dengan Renata.
"Silahkan..." ku letakkan gelas di hadapannya, "kamu ngga sengaja ke sini atau gimana?"
"Makasih ya Adrian..." ia mengaduk minuman tersebut menggunakan sedotan stainless lalu meminumnya sedikit, "aku ngga sengaja ke sini. Tadinya mau pulang cuma masih agak males. Aku muter-muter aja terus mutusin ke sini, eh ternyata ini tempatnya kamu. Ngomong-ngomong ini enak, apa namanya?"
"Ice Coffee Almond Latte, menu yang paling laris." Jawabku.
Renata melihat sekeliling ruangan ini, sesekali ia menganggukkan kepalanya entah apa maksudnya. Ia kembali meminum minuman itu hingga tersisa setengah dari isi gelas.
"Wajar sih paling laris, ini enak banget. Kamu yang bikin menunya atau gimana?" Tanyanya.
"Aku cukup bangga dengan menyebutkan kalau aku yang nemu racikan ini. Beberapa kali eksperimen, dari awalnya yang seneng sampe mual karena kebanyaka minum susu. Sampe akhirnya hasilnya ngga bohong sih." Jelasku.
"Bener sih, usaha ngga bakalan mengkhianati." Ucap Renata kemudian tersenyum.
Aku menyempatkan diri untuk berbincang lebih lama, namun sepertinya kondisi tidak memungkinkan karena tiba-tiba pelanggan mulai berdatangan sore ini. Aku pun menyadari akan hal itu, lalu ku bilang pada Renata, "Aku balik kerja dulu ya."
Renata mengangguk sambil tersenyum, aku pun berjalan cepat menuju mesin kopi. Pesanan pun mulai ku buat satu persatu, sesekali aku melihat ke arah Renata. Terkadang ia sedang sibuk dengan handphonenya, sesekali kami pun beradu pandang yang kadang membuat kami juga tersenyum.
"Iya gue paham..." Ferdi berbicara pelan padaku tanpa mengalihkan pandangannya dari mesin kasir, "akhirnya setelah sekian lama ada yang bisa gantiin juga."
"Yang harus dibicarain tuh cincinnya Vero maksudnya apa bukan malah ngomongin gue." Kataku.
"Ah bangke lu!"
Aku hanya bisa tertawa menanggapinya. Terkadang pembicaraan ini adalah hiburan kami agar tidak jenuh. Jujur saja, sudah satu tahun melakukan kegiatan yang selalu sama akan muncul rasa jenuh. Namun ini semua bisa terobati dengan tawa yang berasal dari diri kami masing-masing.
"Adrian..."
Aku dan Ferdi melihat ke arah Renata yang memanggilku, "Kenapa Ren?"
"Aku mau pesen Almond Latte lagi ya, bikin nagih." Ucapnya kemudian tersenyum.
Aku pun mengangguk lalu membalas senyumnya. Kami pun kembali melakukan tugas kami masing-masing, dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10. Aku baru menyadari bahwa Renata masih ada di luar sedangkan para pelanggan lain sudah tidak ada. Beres dengan merapihkan semua barang-barang, aku pun langsung menghampirinya.
"Eh kamu masih di sini? Aku kira udah pulang daritadi." Kataku.
"Aku nungguin kamu aja sekalian mau liat kerjaan kamu." Jawabnya.
Ferdi dan Bella pun keluar setelah mengunci pintu.
"Mas Adrian..." Bella melihat ke arah sekeliling parkiran, "Syailendra kemana? Kok aku baru sadar ngga ada di sini?"
"Loh kamu belum tau kalau Syailendra mogok? Aku kira udah tau." Ucap Ferdi.
"Syailendra?" Tanya Renata bingung.
"Itu nama motor aku..." kemudian aku menatap ke arah Bella, "iya, mana harus nginep lagi. Mau ngga mau naik ojol deh selagi dibenerin."
"Yaudah bareng aja lah." Ucap Ferdi.
"Eh ngga usah..."
Aku, Bella dan juga Ferdi menoleh ke arah Renata secara bersamaan.
"Biar aku aja yang anterin Adrian."
"Loh rumah kamu kan ke sana..." aku menunjuk ke arah jalan, "kita kan beda jalur."
"Ya ngga masalah kok." Jawab Renata.
Ferdi menyiku Bella beberapa kali, aku pun yang menyadari akan hal itu hanya bisa memandang malas. Dan akhirnya Ferdi dan Bella pergi terlebih dahulu meninggalkan aku dan Renata di parkiran. Aku menggaruk-garuk kepala beberapa kali hingga menjadi perhatian Renata.
"Kamu kenapa?" Tanyanya.
"Ng... aku ngga enak udah nebeng, dan juga aku...ngga bisa... nyetir..." Kataku.
"Ya ampun Adrian nggapapa kok santai aja, aku kira kamu kenapa. Udah nggapapa biar aku aja yang nyetir." Jawabnya.
Aku pun mengiyakan meskipun rasanya sungkan, lalu kami masuk ke dalam mobilnya. Perjalanan dimulai, aku hanya bisa berdiam diri menatap jalanan yang ada di depanku, sesekali suara lagu dari radio terdengar menemani Renata yang menyetir.
"Are you okay?" Tanyanya menatapku.
Dengan cepat aku menatapnya, "Agak aneh sih, ngga biasanya aku disetirin sama cewe."
"Udah nggapapa..." Renata kembali menatap jalanan, "ngomong-ngomong kamu kenapa ngga bisa nyetir?"
"Aneh ya?" Tanyaku.
"Aneh sih ngga, cuma menurut aku kebanyakan cowo tuh pengen bisa nyetir buat nganterin gebetannya lah, temennya lah, atau keluarga. Tapi ya kebanyakan sih buat gebetannya." Jelasnya.
"Sederhana aja sih, aku ngga suka naik mobil. Ferdi udah maksa aku dulu buat belajar naik mobil, cuma emang dasarnya aku aja yang lebih seneng sama motor jadi ya gini deh." Jawabku.
"Cukup menarik sih, ngga biasanya aku nemu cowo kayak kamu..." Renata kemudian tersenyum, "Oh iya motor kamu selesai kapan?"
"Harusnya sih besok, cuma ada kemungkinan mundur lagi. Tapi semoga aja besok selesai deh." Kataku.
Perjalanan berlanjut, jalanan yang sama, perempatan yang sama, namun kali ini aku tidak sendiri dan tak juga mengendarai Syailendra. Kali ini menggunakan mobil, dengan Renata, tidak seperti biasanya. Tak terasa kami sampai di rumahku, Renata pun memarkirkan mobilnya di depan rumah.
"Makasih ya Ren udah mau nganterin, aku beneran ngga enak." Kataku.
"Adrian, kan udah aku bilang nggapapa." Katanya.
"Kamu mau mampir dulu?" Tanyaku.
"Next time deh aku main ke rumah kamu." Katanya lagi.
Aku pun keluar dari mobilnya, ia pun melambaikan tangan dari dalam mobil dan berlalu menjauh hingga menghilang di belokan jalan. Rasanya masih cukup aneh, tapi aku kembali mengingat perkataan Renata.
*
Pukul 6 pagi, ku masukkan semua perlengkapan yang akan ku bawa. Setelah memeriksa sekali lagi, akhirnya aku turun ke lantai bawah. Ku turuni anak tangga lalu menuju dapur, ku buka kulkas lalu ku ambil botol minuman seperti biasa. Setelah itu ku kenakan sepatuku, ku kunci pintu rumah sebelum ku tinggalkan. Ku ambil handphone dari dalam saku kemeja untuk memesan ojol menuju ruko.
Tin! Tin!
Mataku berpaling dari handphone yang sedang ku genggam, "Renata?"
***
Diubah oleh beavermoon 14-02-2020 13:40
oktavp dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas