- Beranda
- Stories from the Heart
Sekotak Memori.
...
TS
bkuro07
Sekotak Memori.

Prakata
Halo Agan-Aganwati Sekalian! Semoga keselamatan dan kebahagian menyertai agan semua dimanapun berada, mau malam, pagi, siang,sore, kerja, sekolah, kuliah, ngasuh anak dan seterusnya, wakakaka.
Kali ini Ane mau ngeshare tulisan setelah sekian lama menjadi Silent Reader di SFTH.
Lama terpana sama cerita-cerita indah di Forum ini ngebuat ane memutuskan berbagi cerita Ane juga. Bisa dibilang fiksi, bisa dibilang enggak, tergantung dari sudut pandang pembaca. Ane hanya ingin membagikan pengalaman dan kesan dalam cerita ini, Monggo dinikmati cerita Yuma A.K.A Kenny.
Halo Agan-Aganwati Sekalian! Semoga keselamatan dan kebahagian menyertai agan semua dimanapun berada, mau malam, pagi, siang,sore, kerja, sekolah, kuliah, ngasuh anak dan seterusnya, wakakaka.
Kali ini Ane mau ngeshare tulisan setelah sekian lama menjadi Silent Reader di SFTH.
Lama terpana sama cerita-cerita indah di Forum ini ngebuat ane memutuskan berbagi cerita Ane juga. Bisa dibilang fiksi, bisa dibilang enggak, tergantung dari sudut pandang pembaca. Ane hanya ingin membagikan pengalaman dan kesan dalam cerita ini, Monggo dinikmati cerita Yuma A.K.A Kenny.

Prologue
Kisah, sebuah perjalanan panjang yang terjadi selama hidup berlangsung. Terkadang sangat berkesan sampai-sampai tertanam dalam di memori kita, namun terkadang juga sangat memilukan hingga sulit untuk dilupakan.
Ada kisah yang memiliki akhir bahagia dan akhir yang menyedihkan. Gue iri dengan dua akhir kisah tersebut, karena semua sudah jelas, menjaga atau berjuang kembali. Disini, gue terduduk di sebuah balkon menatap luas tempat yang menjadi saksi bisu kisah yang tertancap dalam di memori gue.
Angin sepoi-sepoi yang berdesir menyisir rambut gue yang mulai panjang itu menghantar gue jauh ke masa lalu, masa yang menyenangkan, masa SMA.
Diawali dengan senyuman manisnya yang selalu membuat gue terpesona, gue yang ditemani secangkir kopi dan sebungkus kretekan serta sebuah kotak abu-abu bergambar Kamen Rider era Heisei dari tahun 2000 sampai 2019 kembali menuliskan bagaimana kisah ini berawal.

Spoiler for RULES:
1. Dilarang ngerusuh, toxic beserta spesiesnya. Ingat, kedamaian adalah hak yang harus diperjuangkan sebagai manusia yang beradab!
2. Dilarang bukalapak, buka tokoped, pelangsing penumbuh badan apalagi penghilang jakun dan jangan sekali kali mencoba buka yang lain-lain sebelum ada surat izinnya dari instansi terkait.
3. Dilarang share gambar, link, yang berbau SARA dan segala macam bentuk belahan. Sayangi pohon, abis dibikin tissue buat jomblo.
4. Yang kena friendzone, KASIAN DEH LO!

Spoiler for ALAT TEMPUR:
-KOPI yang gak usah terlalu manis, karena cerita ini dapat menyebabkan gula darah naik, termesyem-mesyem sesaat serta goncangan bathin.
-BATRE FULL biar gak gantung tengah jalan, kayak perasaan si doi ke kamu.
-CEMILAN boleh apapun asalkan jangan yang pedas, cukup mulut tetangga aja yang pedas, kita gak usah.
-INDOMIE buat yang lapar karena indomie seleraku.
-MUSIK sebagai pengiring susana suka maupun duka, asal di kondisikan. Contoh: jangan putar lagu cinta satu malam waktu Yuma di kejar bencong.
-ALARM buat yang suka lupa waktu, lupa ibadah, lupa kulitnya, dan lupa skripsi yang musti di revisi.
Sekian dan terimakasih.

Spoiler for QnA:
Q: Fiksi bukan neh?
A: Udah dibilang tergantung sudut pandang pembaca.
Q: Bumbu-bumbunya gimana?
A: Gue bukan lagi masak pecel ayam.
Q: Cewek-ceweknya cakep gak?
A: Rate S+ semua, mereka bukan sebatas fisik aja, tapi dari segi karakter akan berkembang sejalan cerita jadi makin cakep.
Q: Motivasi lo apa gan bikin cerita?
A: Gue suka berbagi, dengan bercerita gue bisa mengetahui beragam hal yang ada.
Q: Kalo lo suka berbagi, boleh dong cewek lo bagi gue?
A: GUE HANTAM BIJI LO PAKE MAINAN KAMEN RIDER!

Spoiler for ARK 1: Menemukan Yuna:
PART 1 KEMBALI
PART 2A BUKAN
PART 2B BUKAN
PART 3A MAUNYA APA
PART 3B MAUNYA APA
PART 4A KENCAN DENGAN KNIGHT
PART 4B KENCAN DENGAN KNIGHT
PART 5 TEARS OF DESPAIR
PART 6 REGRET
PART 7 NOT ALONE
Monggo ninggalin jejaknya gan sama bantu sundul terus sampe jebol, terima cendol maupun bata yang penting hepi! But, Rate 5 pliss





Polling
Poll ini sudah ditutup. - 7 suara
Siapakah Yang Jadi Tambatan Hati Yuma?
Hezel Aruna
43%
Tessa Arini
14%
Olive Zeta
14%
Bhita Tiffany
0%
Jenni Celia
29%
Rena Naomi
0%
Diubah oleh bkuro07 02-03-2020 03:35
nona212 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
3.1K
Kutip
25
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bkuro07
#1
Part 1
Spoiler for Satu: Kembali:
Satu: Kembali.
KERINGAT dan cipratan darah yang membasahi leher seragam gue cukup ngebuat gue risih. Di waktu yang panas begini kenapa gue yang harus dihukum habis dipukulin sama anak kelas 11 gegara gue cuma negor mereka yang bertindak seenak jidat ke Joni dari 12 IPA.
Enggak sepantasnya mereka berlaku sangat kurang ajar ke Joni yang memiliki ‘maaf’ kekurangan dalam kondisi mentalnya. Jujur gue bukan superhero dan gak terlalu peduli sama sekitar, tapi tindakan mereka bener-bener ngebuat gue habis kesabaran.
“Pak! Saya udah bilang, yang mulai mukulin saya duluan mereka, dan saya cuma sendiri waktu itu. Seharusnya Bapak berpikir dong apa tindakan saya ini bener atau salah! Apa sepatutnya mereka begitu sama Kak Joni?” bela gue di hadapan Pak Mulyo guru BK yang sedang menginterogasi gue perihal masalah ini dan memutuskan hukuman apa yang cocok untuk gue karena berantem disekolah.
“Saya tau yang kamu lakukan itu benar, masalahnya kamu mukulin mereka sampai babak belur di jam sekolah dan itu bukanlah hal yang mencerminkan sikap seorang pelajar yang patut ditiru, saya rasa hukuman skorsing satu minggu itu tidak begitu berat untuk kamu dan cukup untuk membuat kamu jera.”
“Ya gak bisa gitu dong Pak! Kalau saya gak bertindak, mereka bakal menjadi-jadi dan menganggap orang-orang kayak Joni sebagai pelampiasan mereka! Seharusnya bapak ngerti dong!” jawab gue yang masih tidak terima dengan keputusannya.
Kemudian pintu ruangan BK yang semula tertutup terbuka dan datanglah wanita paruh baya yang enggak bukan Ibunya Joni yang berjalan dengan sangat geram ke hadapan Pak Mulyono menggebrak meja dan memaki-makinya.
Sebelum itu kejadian, gue udah ngacir keluar dan duduk di sebuah bangku yang ada di taman belakang sekolah. Ditempat yang di penuhi pohon itu gue beristirahat setelah lepas dari semua masalah ini. Gue yakin Ibu Joni akan ngebela gue dan meminta kebijakan sekolah untuk tidak menghukum gue.
Baru dua minggu gue pindah ke sekolah ini udah ada aja kejadian yang mengancam posisi gue disini. Emang bener kata orang-orang, di sekolah yang dibilang cukup elit ini isinya cuma orang-orang yang bertindak sebagai calon penindas yang lemah, terbukti dari kejadian ini. Tapi gak semuanya juga yang begitu, masih ada juga kok yang baik dan klop sama gue, contohnya Eki dan Riko yang jadi temen main gue di kota ini.
Selain itu, di sekolah elit ini gue ngerasa males ngeliat gelagat anak-anak sini, dan juga soal seragam SMA putih abu-abu yang berasa sangat flexibel di sekolah gue yang lama kini berganti dengan kemeja item dengan blazer maroon berdasi sama celana warna khaki ini ngebuat gue kurang nyaman.
Kepindahan gue ke kota yang menjadi tempat masa kecil gue dulu ini karena Bokap dipindahin tugas lagi kesini dan Nyokap pengen pulang lagi ke kota asalnya, awalnya gue menolak untuk pindah karena gue bosan idup nomaden mulu. Kita harus ngemulai hidup baru, lingkungan baru, orang baru dan suasana baru melebur menjadi satu. Tapi Bokap dan Nyokap terus maksa sampai gue juga lunak kepala dan nurut sama mereka.
Tapi, ada satu hal yang ngebuat gue pengen ikut mereka pindah yang nggak lain kangen dengan memori masa kecil dan seorang teman, Kak Yuna.
Cuma Kak Yuna yang jadi temen gue di rumah dari TK sampai kelas 4 SD sebelum gue pindah. Orangnya lebih tua 3 tahun dari gue, baik, ramah dan cantik dengan postur badan berisi, tapi masih enak diliat. Kak Yuna akrab banget sama gue, sampai-sampai selalu tau apa yang gue mau dan gue suka, salah satunya Kamen Rider. Dia sering nonton bareng, main bareng bahkan ngerti soal semua seluk-beluk serial Tokusatsu dari Jepang itu.
Haah! Tapi sejak kepindahan gue kesini lagi gue masih belum sempet ketemu dia, gue beneran penasaran bagaimana wujud dia setelah enam taun gak ketemu. Apa dia masih kayak dulu yang suka Kamen Rider atau bermetamorfosa menjadi gadis zaman now layaknya gadis lain? Gue gak tau.
Gue terperanjat dari lamunan gue, tersadar akan satu hal. Kalau dipikir-pikir, kayaknya gak mungkin dia masih SMA dan pasti sekarang udah kuliah ke kota lain. Apa mungkin dia kuliah menjadi alasan gue gak ketemu dia sama sekali?
Berbagai pertanyaan itu gue simpan kembali setelah ngeliat Ibu Joni datang dan duduk di samping gue.
“Disini rupanya, udah capek Tante keliling sekolah nyari kamu. Terima kasih ya buat pertolongan kamu ke Joni nak...” Ibunya menggantung pertanyaan karena gak tau nama gue.
“Kenny tante, sama-sama.” Jawab gue sambil tersenyum.
“Oh, nak Kenny makasih lagi ya, tanpa kamu mungkin Joni bakal di bully terus sama mereka. Kenny, soal hukuman kamu tante udah bilangin kalau kamu gak salah dan gak dapat hukuman. Yah, mungkin tante gak bisa ngebales kamu tapi makasih dan ini yang bisa tante kasih sama
kamu.” Ucap ibu Joni menyodorkan amplop coklat yang gue yakin berisi duit.
“Gak usah repot tante, aku bertindak udah sewajarnya kok.” Jawab gue menolak secara halus. Mungkin terdengar klise, tapi gue tegaskan gue enggak nolak kok, gue cuma enggak mau jadi tukang pukul bertarif, hehehe kambing.
“Tante maksa, makasih banget ya. Tante pergi dulu, kalau ada apa-apa lagi kamu bisa hubungin tante.” Ibu Joni menulis nomernya di amplop tadi dan menyelipkannya di saku blazer gue setelah itu berlalu.
Seperti yang gue bilang, gue enggak nolak sama sekali! Setelah Ibu Joni ngilang gue langsung buka amplopnya setelah ngeliat kiri-kanan buat memastikan kondisi aman dari murid lain yang berlalu lalang dan mendapat setumpuk Soekarno-Hatta yang berbaris mantap!
Anjerr, gue gak nyangka kalau bakal segede ini! Padahal serius, gue tulus kok nolong Joni. Terserah sih orang nanggepinnya gimana tapi yang namanya rezeki haram buat ditolak, dosa! Sebelum gue memasukan amplop itu lagi ke saku gue save dulu nomor ibunya karena gue tahu dia orang yang cukup berpengaruh di sekolah ini dan mungkin bakal menyelamakan gue dikemudian hari.
Gue liat jam tangan udah menunjukkan waktu pulang sekolah. Gue pun berdiri dan bersiap mengambil tas buat pulang, tapi sebelum itu gue terpaku akan suatu hal. Yaitu segerombolan cewek-cewek yang cantik pake banget dan sensasional melewati sebuah lorong yang ada di depan gue. Semua juga tau, kalau di setiap sekolah itu ada geng yang berisi orang-orang populer yang digilai satu sekolah dan ini adalah mereka, Ratu penguasa dari SMA ini.
‘The Flo’ begitulah para Ratu penguasa ini dipanggil oleh penduduk sekolah ini secara, mereka semua keliatan cantik-cantik dan menawan memancarkan aura berkeliauan. Satu kata yang gue rasakan saat ini, terpesona.
Gue juga tau kok mereka berlima itu siapa aja. Ada Jenni juara olimpiade matematik 2 tahun berturut-turut, Olive ketua OSIS, Rena solois sekolah yang selalu menang kompetisi, Bhita anak ketua yayasan dan Hezel si selebgram sekaligus model yang udah di endorse beragam produk. Mereka berdandan sesuka mereka kayak rambut di warnain, enggak berseragam lengkap dan pake make up, seakan di sekolah ini ada peraturan yang tidak tertulis kalau murid-murid boleh berpenampilan sesuka mereka dan itu emang kebukti karena gue gak pernah ngedenger ada anak yang dihukum soal penampilan.
Dari mereka semua gue terttuju sama Hezel Aruna. Ya dia keliatan lebih menarik dari mereka berlima, seperti yang gue jelasin sebelumnya! Tapi bukan hanya itu daya tariknya, seolah gue ngerasa kalau Kakak kelas ini memiliki sesuatu yang sangat dekat dengan gue.
Gue ngaku tertarik tapi bukan berarti gue suka, gue tau kok mulai dari level kepiting yuyu mainan tuyul kayak gue sampai level Jenglot Batara Karang original kayak kapten tim basket dan sejenisnya naksir dia, pengambaran absurd, hehehehe, maaf.
Mereka sempat ngelirik gue saat berlalu, dengan tatapan merendahkan ya. Udah bukan rahasia umum lagi kalau pemguasa kayak mereka bakal ngerendahin murid seperti gue, secara tampilan gue yang urakan khas Bad Boy dan habis berantem. Mungkin The Flo yang notabene adalah anak kelas 12 udah melabeli gue sebagai berandalan brengsek yang musti di tendang bareng ke dalam lubang neraka!
Dari semua tatapan itu, cuma Hezel yang menatap gue beda. Dia menatap gue senyum sambil mengerling. Hangat, sampai kehangatan itu meresap di dalam dada gue. Setelah mereka berlalu gue ngerasa mencelos dan berasap. Kenapa dada ini begitu sesak waktu mendapat senyum itu, campur aduk gak karuan.
“WEISS!! Kamen Rider kita balik dari misi kemanusiaan nih! Selamat ya sob, gimana tadi urusannya? Kelar?” kata Eki menyambut dan ngelempar gue pake tas.
“Udah semua, pada ancur rata tu banci perempatan gue bikin, hehehe.” Jawab gue menerima lemparan itu dan berjalan bareng Eki sama Riko.
“Mantep deh sob! Jadi pengen ikutan mukul gue, hehehe. Eh, Joni gimana?” tambah Riko betulin rambutnya.
“Masih shock kayaknya, tapi gue jamin mereka gak bakal gangguin dia lagi gegara salah satu dari mereka ada yang patah giginya gegara gue tampol tadi.” Jawab gue masang helm fullface berwarna hitam yang di belakangnya gue tempelin stiker logo Kamen Rider Ryuki dan menaiki Yamaha R15 hitam merah yang udah gue kasih stripping naganya Ryuki, Dragreder. Mungkin inilah alasan kenapa Eki sama Riko manggil gue Kamen Rider.
“Keren dah lo! Eh ini kita mau kemana dulu? Bete gue langsung pulang.” Kata Eki menstarter Honda Civic warna abu-abu doff modifnya dengan si Riko yang duduk manis disampingnya.
“Ya nongkrong dulu lah, ini kebetulan gue dapet! Ntar semua gue yang traktir.” Gue dengan songongnya mengeluarkan amplop tadi.
“Siap bos!” sorak mereka serempak.
Sekedar pengambaran aja, penampilan Kenny Devana ya bisa di bilang cukup urakan dengan rambut ikal cepak yang cukup panjang untuk anak SMA, kalo soal bentuk fisik sih gue Indonesia banget. Eki matanya cukup irit tapi jernih ngeliat cewek dengan badan badak dan Riko tiang listrik item berjalan korslet mirip begal. Itulah pengambaran tentang bentukan rupa kami bertiga yang merupakan trio yang cukup bodoh dan sedikit brengsek nan bahagia buat di ketawain.
Kalo soal dia yang mampu memberi hangat di dada gue, Hezel Aruna memiliki paras bak bidadari jatuh dari surga berambut hitam gelombang yang di ombre pink bercampur blonde ala gadis milenial, gue gak ngerti juga kenapa cewek-cewek pada suka rambut yang berwarna labil gitu. Buat soal fisik dia model banget! Kulit putih kayak orang Jepang, tinggi semampai dengan lekuk indahnya yang di balut kemeja sama rok seragam diatas lutut, stoking item tinggi dan make kalung choker yang melilit leher jenjangnya sama beberapa aksesoris yang ngebuat dia semakin memikat hati.
Saat ini gue sedang nongkrong di salah satu kafe yang terletak di sebuah Mall. Ya gue tau terdengar klise karena Mall merupakan tempat lazim yang dituju murid kayak gue sehabis dianiaya kurikulum di sekolah buat nongkrong.
Di meja ini sudah penuh dengan beragam cemilan dan makanan berat yang udah abis kami sikat bertiga, seolah kami tidak peduli dengan sekitar dan menganggap lagi di rumah. Gue tebak, orang yang ada disini nganggap kami udah pada sarap dan musti cepat di tangani supaya ketertiban tetap terjaga, tapi mereka memilih untuk tetap diam karena sadar, GUE SULTANNYA! (Gue dengan bangga masang kacamata item sambil ngelempar lembaran seribuan ke udara kembalian dari uang yang gue pake buat ngasih pakan dua brengsek ini.)
Saat ketawa-ketiwi bareng mereka, seberkas gue ngeliat sepasang murid yang familiar dengan seragam khas sekolah gue, setelah gue perhatiin itu adalah...
Hezel.
Dia lagi gandengan mesra dengan cowok keren yang gue yakin itu juga dari kalangan atas. Terasa sedikit menghentak sih tapi apa boleh buat, toh gue juga udah nekenin sendiri tadi kalo kalangan kepiting yuyu manian tuyul kayak kami bertiga gak bakal mungkin menggaet cewek selevel Hezel. Walaupun begitu, gue juga gak bobrok banget ya! Ada juga kok yang khilaf naksir gue.
Ya meski begitu, saat ini gue belum punya pikiran buat punya seorang yang sering disebut pacar dan mengabaikan beragam bentuk usaha Tessa supaya gue juga tertarik. Alasannya simpel, gue cuma pengen ketemu Kak Yuna dan semua ini terjadi karena sosok Kak Yuna yang membayangi gue gimana seorang cewek semestinya.
“Sob, lo kenapa bengong?” Eki membuyarkan lamunan gue dengan lemparan keripik yang mengenai hidung gue.
“Wah, nyari ribut ni badak Gambia!” balas gue kesal melempar Eki pake sendok.
“Santai Ken, ntar lo lempar gitu nancep diperutnya trus kempes gimana? Gak ada lagi sob bantalan kita buat tidur, Hahaha.” Tambah Riko ngakak habis ngeliat tampang kesel Eki.
“Gue cabut dulu ya ada perlu nih.” Gue mengambil tas dan keluar dari kafe meninggalkan mereka tanpa peduli lagi soal uang gue keluarkan diatas meja.
Entah apa yang menggerakan gue mencari Hezel, gue mencoba berjalan mencari sosok dia yang menghilang di kerumuan orang, selintas gue melihat dia memasuki sebuah toko hobby. Tanpa pikir panjang gue mengikuti dia, sosok itu menghilang lagi di toko yang cukup luas ini, perhatian gue teralihkan akan sesuatu yang gue cari selama ini.
Action figure langka!
Akhirnya, setelah penantian yang sangat panjang, satu dus yang berisi action figure lengkap dengan aksesorisnya ada di tangan gue! Puas hati dapetnya. Saking gue senengnya nimang-nimang itu dus, gue gak sengaja nabrak seseorang di belakang gue sampai itu dus kesayangan jatuh di lantai. Seketika jantung gue serasa menghilang ketika bunyi memilukan dus yang beradu dengan lantai itu terdengar.
Orang yang gue tabrak itu barangnya juga jatuh, setelah gue perhatikan ternyata dus kita sama. What The Heck! Sekarang ada dua dus yang jatuh di lantai! Gue langsung ngeliat ke orang yang gue tabrak itu dan ternyata itu dia!
Hezel dengan sigap mengambil dusnya dan menyembunyikan di belakang badannya. Terlihat raut kesal di wajahnya dan ingin segera menampar gue gegara enggak sengaja menyikut dadanya, menyadari gue salah gue langsung tertunduk dan bersiap jika ada sebuah kerusakan yang terjadi pada kepala gue setelah tamparan itu melandas di muka gue. Tapi semua itu untungnya gak kejadian.
“Heh! Lain kali jalan itu jangan meleng!” bentaknya kasar.
“Iya Kak, maaf.” Jawab gue masih tertunduk.
“Maaf-maaf, lo kata semua itu bisa benerin ini kotak yang rusak?”
He? Dia gak marah gitu gue nyikut pusakanya? Malah marah karena dusnya sedikit lecet. Apa dia juga menganggap benda ini begitu berharga kayak gue?
“Anu, ya maaf Kak, kan enggak sengaja.” Gue mulai menegakkan kepala menatapnya.
Sumpah, dia beneran cantik! Mata belo yang indah sama bibir tipis itu menghipnotis gue untuk menatapnya seksama. Gue ngeliat gak ada sedikit pun kekurangan di wajah yang meskipun enggak di kasih make up pun gak bakal kekurangan nilainya itu.
“Ya udah lah ya, gue juga gak mau manjangin masalah. Lain kali berandal kayak lo bikin gue kesel lagi, abis lo!” ancamnya meninggalkan gue.
Gue melirik kebelakang, melihat punggungnya. Dia berjalan pun masih anggun dengan menenteng dus nya. Aneh emang, cewek se-hits dia juga doyan Kamen Rider? Bisa jadi itu buat adeknya atau siapa aja di keluarganya masih bocah, tapi mengingat harganya yang cukup ngebuat gue cuma makan rempeyek sebulan penuh, rasanya gak mungkin barang kolektor ini buat mainan.
Bodo ah, yang penting gue udah minta maaf dan udah mengikuti pergerakan kaki gue mencari dia. Intinya apa yang gue pengen hari ini udah dapet, dan itu menjadi kepuasan tersendiri. Selain itu gue juga udah gak sabar mendisplay barang ini di rumah.
Gue berkendara menembus padatnya lalu lintas dengan motor gue, pikiran gue bercabang pada Hezel, gue masih bingung dengan apa yang gue rasakan tentang semua kejadian hari ini yang menyangkut soal dia.
Namun, semua itu terhenti saat gue melewati sebuah rumah yang menjadi bagian cerita gue masa kecil, rumah Kak Yuna.
Pohon besar itu masih kokoh berdiri di halamannya, pohon yang sering jadi tempat main gue bareng dia dulu. Entah itu main ayunan, rumah pohon, petak umpet ataupun yang lain. Gue ngerasa itu memori yang indah, senang dan ceria saat itu.
Suasana rumah ini pun juga sangat berbeda. Dulu suasananya terasa hangat dan bikin nyaman, namun sekarang berganti suram, malahan berasa kayak rumah angker. Apa ya yang terjadi selama gue enggak disini?
“Makanannya diatas meja ya.” Kata Bunda ketika gue mencium pipinya saat dia sibuk menonton.
“Kamu habis berantem lagi!?” tanya Bunda gue cemas menyadari ada beberapa luka dan memar di muka gue.
“Hahaha, biasa Bun.” Jawab gue santai sambil menyantap makanan terenak di dunia bikinan wanita nomor satu di hidup gue.
“Serius! Kamu habis ngapain sampai begini?” Bunda memutar wajah gue mendapat kepastian kenapa muka gue bisa begini.
“Ya gitu deh Bun, tadi ada anak yang di bully di sekolah. Ya aku jadi kesel gegara gak ada yang peduli sama dia, aku rasa mereka pantas aku pukulin ya jadi ini imbasnya dikit.” Terang gue masih lahap makan.
“Kamu lawan berapa orang sih?”
“Empat kalo gak salah, satu pingsan, satu lagi giginya patah yang lain ancur.”
“Ampun deh Bunda sama kamu, senengnya berantem mulu, enggak peduli dimanapun, ini sekolah yang baru lho harusnya kamu bisa lebih baik disini jangan kayak yang lama, jadi tukang pukul terus. Jadi Bunda kapan nih kesekolah kamu?” kata bunda mulai melunak karena apa yang gue lakukan itu benar.
“Tenang Bun, yang aku lakuin kan bener jadi gak di hukum.”
“Dasar berandal, udah jangan berantem lagi ya.” Bunda mengacak-acak rambut gue.
“Gak janji ya, hehehe. Aku kamar dulu ya Bun.” Gue langsung ngacir ke kamar.
Inilah kamar gue, loteng yang dulu di sulap menjadi kamar. Luas sih tapi langit-langitnya miring, beda sama kamar gue yang dulu ada di bawah. Sekarang udah jadi garasi. Tapi gak papa deh, disini gue ngerasa damai banget dan bebas melihat ke semua penjuru. Kebiasaan gue di kamar ini ketika gue gundah (Atau galau istilahnya hehehe) yaitu mengayunkan sebelah kaki gue diantara pagar pembatas di balkon kecil itu sambil melamun bebas, berusaha mengosongkan pikiran.
“Kak Yuna, kamu dimana sih sekarang? Aku pengen ketemu.” Kata gue entah pada siapa di sore yang mendung itu sambil menatap sebuah album masa ceria gue dulu bersama Kak Yuna. Gue udah enggak memikirkan tentang Hezel saat ini.
Album ini sendiri sebenarnya udah sedikit rusak kemakan waktu, warna dari fotonya sudah pudar dan bernoda, sehingga wajah-wajah yang ada disana pudar. Gue bahkan udah lupa bagaimana wajah Kak Yuna secara spesifik.
Aneh memang, merindukan seseorang yang wajahnya terlupakan. Tapi itu mungkin yang namanya perasaan, tidak peduli rupa, yang penting cerita yang menjadi kenangannya.
Di sini keliatan rumahnya, masih sepi...
****
Diubah oleh bkuro07 25-02-2020 06:54
ranala32 memberi reputasi
1
Kutip
Balas