- Beranda
- Stories from the Heart
CINTA DAN PETAKA? (HORROR REAL STORY)
...
TS
caffeine.seeker
CINTA DAN PETAKA? (HORROR REAL STORY)

Hallo para kaskuser dimanapun berada. Izinkan saya untuk bercerita tentang pengalaman hidup saya sendiri. Ya, Setelah cukup lama berada pada zona "silent reader" di kaskus ini, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan kisah saya sendiri. Semoga kisah yang saya tuliskan ini memiliki manfaat bagi yang membacanya entah sebagai hiburan atau referensi pembelajaran.
Nama tokoh dan tempat kejadian dalam cerita ini akan saya samarkan untuk menjaga privasi masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya.
Sebelumnya mohon maaf apabila tulisan saya jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknis maupun pemilihan kata, karena ini thread pertama saya. Silahkan berkomentar apapun selama tidak mengandung ujaran kebencian dan menyudutkan pihak tertentu, Support dan masukan positif dari agan semua akan sangat membantu perkembangan thread ini dan juga bagi saya untuk lebih baik kedepannya.
Kisah yang akan saya tuliskan ini adalah kisah nyata yang saya alami kurang lebih 9 tahun lalu tepatnya di rentang tahun 2011. pada tahun itu adalah tahun pertama saya masuk kuliah, dan menjadi awal mula dari semua kisah ini.
Nantinya saya akan menceritakan kisah ini ke dalam beberapa part yang akan saya update secara berkala, saya juga akan berusaha menceritakannya sedetail mungkin dari awal hingga akhir kejadian yang saya alami ini.
Terima kasih dan selamat menikmati kisah saya
Spoiler for Prologue:
Spoiler for Part I - awal masuk kampus:
PART INDEX
PART-II
PART-III
PART-IV
PART-V
PART-VI
PART-VII
PART-VIII
PART-IX
PART-X
PART-XI
PART-XII
PART-XIII
PART-XIV
PART-XV
PART-XVI
PART-XVII
PART-XVIII
PART-XIX
Diubah oleh caffeine.seeker 19-12-2021 18:57
sirluciuzenze dan 44 lainnya memberi reputasi
45
30.7K
206
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
caffeine.seeker
#56
PART XI
Setelah kejadian della yang mengalami kerasukan, keesokan harinya uwak mengatakan akan memagari rumah ini dengan "pagar gaib". Entah bagaimana bentuknya pagar gaib ini, aku sama sekali tidak paham, tapi uwak mengatakan jika fungsinya adalah untuk menjaga atau mencegah agar hal2 negatif atau mahluk2 yg memiliki aura hitam tidak bisa masuk kembali ke rumah ini.
Kondisi della pun sudah berangsur pulih, namun dia seperti masih menyimpan trauma tersendiri, setelah kejadian itu della tidak berani untuk tidur sendiri, setiap malam ibu lah yg menemani della tidur di kamarnya. 3 hari setelah kejadian itu uwak berencana untuk pulang ke rumahnya, setelah memastikan kondisi 3 hari ini sudah kondusif dan tidak ada gangguan2 lainnya, baik gangguan di rumah ini dan juga pada diri della, dan uwak juga sudah memagari rumah ini dengan "pagar gaib", sebelum pulang uwak juga berpesan agar della jgn dibiarkan sendiri apalagi sampai pikirannya kosong.
Siang itu setelah kepulangan uwak, aku menemani della di rumah sendirian, karena bapak dan ibu mengantarkan uwak pulang. aku coba hibur dia agar dia cepat melupakan kejadian2 yg dia alami sebelumnya. Meskipun kejadian aneh sudah tidak lg terjadi, tapi aku melihat Della yg sekarang berbeda dengan della yg sebelumnya aku kenal, tatapan matanya pun juga berbeda. Mungkin karena pikiran dan hatinya saat ini belum sepenuhnya baik.
"Dell, km laper kan pasti? Aku masakin ya, gini2 aku bisa loh masak" candaku ke della untuk sekedar menghiburnya. Della pun hanya merespon ucapanku tadi dengan senyuman manis nya.
"Atau km mau aku belikan sesuatu? Km lagi kepengen apa? " tanyaku lagi, mencoba membujuknya untuk makan. Namun lagi2 della hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, setelah itu matanya kembali terpaku ke arah TV.
"Yaudah sini aku pijitin aja yaa, biar km rileks".. Ucapku seraya memijit kakinya. Sampai akhirnya della pun tertidur.
Tak lama hp ku berbunyi, ternyata telfon dari bapak.
"Assalamualaikum nak, ini bapak dan ibu sedang di perjalanan, tp terhambat karna ada longsor, jadi kami ndak bisa lewat".
Bapak mengabari kalau perjalanan mereka saat ini ke rumah uwak terhambat karena baru saja terjadi longsor yg menutup akses jalan masuk ke desa tempat tinggal uwak, akses itu adalah jalan masuk satu2nya menuju kediaman uwak.
"Waalaikumsalam pak, apa longsornya parah pak? tapi semua baik2 saja kan pak??? " tanyaku pada bapak.
"Ya nak, kami gakpapa, paling ya nanti pulangnya agak lamaa karna harus menunggu evakuasi sisa2 longsor, ohyaa bapak pesan kalau bisa km jgn keluar rumah dulu ya nak, ini pesan jg dari uwak, jangan sampai della ditinggal sendirian karna kondisinya blm stabil "
"Baik pak, kebetulan della saat ini jg sedang tidur. kalau gitu bapak juga hati2 ya"
Kututup telfon dari bapak, Dari penjelesan bapak tadi sepertinya bapak dan ibu akan terlambat kembali ke rumah karena harus menunggu sampai jalan itu bisa dilalui kembali. Sebenarnya saat ini aku berencana pergi ke minimarket untuk sekedar membeli cemilan, namun mengingat pesan bapak akhirnya hal tersebut urung aku lakukan. Aku hanya sesekali ke teras rumah untuk merokok dan menikmati secangkir kopi, karena della pun saat ini sedang tertidur.
Tak terasa hari sudah menjelang magrib, bapak dan ibu masih blm kembali ke rumah, sementara della masih tertidur. Aku berniat untuk membangunkan della, krn tidak baik juga tidur di waktu menjelang waktu magrib.
"Dell, bangun dulu yu, sudah mau magrib nih" ucapku pada della yg masih tertidur. Tapi berkali-kali ku coba membangunkannya della tetap tidak merespon, kaki dan tangan della pun terasa dingin saat itu. Anehh, padahal della tidak tidur di ruangan ber AC, kenapa bisa sedingin ini kaki dan tangannya. Akhirnya aku putuskan untuk menunaikan sholat magrib terlebih dahulu, nanti setelah sholat aku coba kembali membangunkan della, pikirku saat itu.
Setelah selesai sholat, aku coba kembali membangunkan della. Berkali kali ku coba membangunkannya della masih belum jg terbangun. Aku mulai panik, karena tubuh della saat ini makin terasa dingin. Dan ada hal yg janggal, saat aku coba usap rambutnya, aku mendapati ada beberapa helai rambut della yg berwarna putih seperti rambut beruban. Ini aneh karena sebelumnya aku tidak pernah mendapati rambut della yg beruban seperti ini. Jujur aku bingung saat ini, dan kondisinya aku hanya berdua dgn della di rumah. Sebetulnya Aku ingin sekali menelfon bapak, tapi aku takut membuatnya khawatir karna posisi mereka yg saat ini sedang di jalan.
Akhirnya aku berinisiatif untuk mencoba membacakan beberapa ayat suci yg aku bisa, aku bacakan tepat di sebelah della yg msh dalam kondisi tidur. Perasaan takut saat itu mulai mendominasi dalam diriku, namun aku sadar saat ini aku satu2nya orang yg bisa menjaga della, sebisa mungkin aku coba lawan perasaan takut tersebut, setidaknya sampai bapak dan ibu kembali ke rumah.
Tak terasa waktu sudah menunjukan jam 9 malam, aku masih duduk menemani della yg belum juga terbangun. Segala cara sudah aku lakukan untuk membangunkannya tapi sejauh ini tidak ada hasil yg kudapat. Ditengah kebingunganku, terdengar seperti ada suara org yg membuka gembok pagar depan. Pikirku itu adalah bapak, legaa rasanya perasaanku saat itu akhirnya mereka kembali. Sontak aku segera ke depan untuk membukakan pintu. Namun ketika aku membuka pintu rumah, tak ada satu orangpun yg aku dapati di depan rumah.
Aku msh coba melihat ke berbagai arah depan rumah, namun tetap tidak ada siapapun. Sampai akhirnya aku putuskan untuk menutup pintu dan kembali ke dalam. Namun belum sampai pintu rumah kututup rapat, suara itu terdengar lagi, kali ini terdengar lbh keras, seperti orang yg sedang marah dan mengguncang guncangkan pintu pagar. Aku merasakan takut untuk kembali membuka pintu dan keluar, namun ada rasa penasaran ingin melihat siapa atau apa yg memainkan pintu pagar. Akhirnya kuputuskan untuk mengintip dari sela2 pintu yg kubuka sedikit. Saat itu lah aku terperangah seolah tidak percaya apa yg baru saja kulihat dengan mata kepalaku, sesosok mahluk kurus bertelanjang dada dengan tangannya yg begitu panjang sedang mengoyang goyangkan pintu pagar, seperti hendak masuk namun terhalang sesuatu. Aku tidak begitu jelas melihat wajahnya krn kurangnya penerangan. Tubuhku terasa lemas saat itu, pertama kalinya aku melihat sesuatu yg aku sendiri tidak dapat menjelaskannya.
Sampai akhirnya mahluk itu hilang dengan sendirinya, dan Aku segera mengunci pintu dan kembali ke ruang tengah bersama della. Sekujur badanku terasa lemas saat ini, dan keringat dingin bercucuran. Aku masih tak menyangka dengan apa yg baru saja aku lihat di depan rumah. Pikiranku semakin tidak menentu saat ini, ditambah kekhawatiran karena bapak yg belum juga kembali sampai saat ini, della pun jg msh blm terbangun.
Setelah kejadian della yang mengalami kerasukan, keesokan harinya uwak mengatakan akan memagari rumah ini dengan "pagar gaib". Entah bagaimana bentuknya pagar gaib ini, aku sama sekali tidak paham, tapi uwak mengatakan jika fungsinya adalah untuk menjaga atau mencegah agar hal2 negatif atau mahluk2 yg memiliki aura hitam tidak bisa masuk kembali ke rumah ini.
Kondisi della pun sudah berangsur pulih, namun dia seperti masih menyimpan trauma tersendiri, setelah kejadian itu della tidak berani untuk tidur sendiri, setiap malam ibu lah yg menemani della tidur di kamarnya. 3 hari setelah kejadian itu uwak berencana untuk pulang ke rumahnya, setelah memastikan kondisi 3 hari ini sudah kondusif dan tidak ada gangguan2 lainnya, baik gangguan di rumah ini dan juga pada diri della, dan uwak juga sudah memagari rumah ini dengan "pagar gaib", sebelum pulang uwak juga berpesan agar della jgn dibiarkan sendiri apalagi sampai pikirannya kosong.
Siang itu setelah kepulangan uwak, aku menemani della di rumah sendirian, karena bapak dan ibu mengantarkan uwak pulang. aku coba hibur dia agar dia cepat melupakan kejadian2 yg dia alami sebelumnya. Meskipun kejadian aneh sudah tidak lg terjadi, tapi aku melihat Della yg sekarang berbeda dengan della yg sebelumnya aku kenal, tatapan matanya pun juga berbeda. Mungkin karena pikiran dan hatinya saat ini belum sepenuhnya baik.
"Dell, km laper kan pasti? Aku masakin ya, gini2 aku bisa loh masak" candaku ke della untuk sekedar menghiburnya. Della pun hanya merespon ucapanku tadi dengan senyuman manis nya.
"Atau km mau aku belikan sesuatu? Km lagi kepengen apa? " tanyaku lagi, mencoba membujuknya untuk makan. Namun lagi2 della hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, setelah itu matanya kembali terpaku ke arah TV.
"Yaudah sini aku pijitin aja yaa, biar km rileks".. Ucapku seraya memijit kakinya. Sampai akhirnya della pun tertidur.
Tak lama hp ku berbunyi, ternyata telfon dari bapak.
"Assalamualaikum nak, ini bapak dan ibu sedang di perjalanan, tp terhambat karna ada longsor, jadi kami ndak bisa lewat".
Bapak mengabari kalau perjalanan mereka saat ini ke rumah uwak terhambat karena baru saja terjadi longsor yg menutup akses jalan masuk ke desa tempat tinggal uwak, akses itu adalah jalan masuk satu2nya menuju kediaman uwak.
"Waalaikumsalam pak, apa longsornya parah pak? tapi semua baik2 saja kan pak??? " tanyaku pada bapak.
"Ya nak, kami gakpapa, paling ya nanti pulangnya agak lamaa karna harus menunggu evakuasi sisa2 longsor, ohyaa bapak pesan kalau bisa km jgn keluar rumah dulu ya nak, ini pesan jg dari uwak, jangan sampai della ditinggal sendirian karna kondisinya blm stabil "
"Baik pak, kebetulan della saat ini jg sedang tidur. kalau gitu bapak juga hati2 ya"
Kututup telfon dari bapak, Dari penjelesan bapak tadi sepertinya bapak dan ibu akan terlambat kembali ke rumah karena harus menunggu sampai jalan itu bisa dilalui kembali. Sebenarnya saat ini aku berencana pergi ke minimarket untuk sekedar membeli cemilan, namun mengingat pesan bapak akhirnya hal tersebut urung aku lakukan. Aku hanya sesekali ke teras rumah untuk merokok dan menikmati secangkir kopi, karena della pun saat ini sedang tertidur.
Tak terasa hari sudah menjelang magrib, bapak dan ibu masih blm kembali ke rumah, sementara della masih tertidur. Aku berniat untuk membangunkan della, krn tidak baik juga tidur di waktu menjelang waktu magrib.
"Dell, bangun dulu yu, sudah mau magrib nih" ucapku pada della yg masih tertidur. Tapi berkali-kali ku coba membangunkannya della tetap tidak merespon, kaki dan tangan della pun terasa dingin saat itu. Anehh, padahal della tidak tidur di ruangan ber AC, kenapa bisa sedingin ini kaki dan tangannya. Akhirnya aku putuskan untuk menunaikan sholat magrib terlebih dahulu, nanti setelah sholat aku coba kembali membangunkan della, pikirku saat itu.
Setelah selesai sholat, aku coba kembali membangunkan della. Berkali kali ku coba membangunkannya della masih belum jg terbangun. Aku mulai panik, karena tubuh della saat ini makin terasa dingin. Dan ada hal yg janggal, saat aku coba usap rambutnya, aku mendapati ada beberapa helai rambut della yg berwarna putih seperti rambut beruban. Ini aneh karena sebelumnya aku tidak pernah mendapati rambut della yg beruban seperti ini. Jujur aku bingung saat ini, dan kondisinya aku hanya berdua dgn della di rumah. Sebetulnya Aku ingin sekali menelfon bapak, tapi aku takut membuatnya khawatir karna posisi mereka yg saat ini sedang di jalan.
Akhirnya aku berinisiatif untuk mencoba membacakan beberapa ayat suci yg aku bisa, aku bacakan tepat di sebelah della yg msh dalam kondisi tidur. Perasaan takut saat itu mulai mendominasi dalam diriku, namun aku sadar saat ini aku satu2nya orang yg bisa menjaga della, sebisa mungkin aku coba lawan perasaan takut tersebut, setidaknya sampai bapak dan ibu kembali ke rumah.
Tak terasa waktu sudah menunjukan jam 9 malam, aku masih duduk menemani della yg belum juga terbangun. Segala cara sudah aku lakukan untuk membangunkannya tapi sejauh ini tidak ada hasil yg kudapat. Ditengah kebingunganku, terdengar seperti ada suara org yg membuka gembok pagar depan. Pikirku itu adalah bapak, legaa rasanya perasaanku saat itu akhirnya mereka kembali. Sontak aku segera ke depan untuk membukakan pintu. Namun ketika aku membuka pintu rumah, tak ada satu orangpun yg aku dapati di depan rumah.
Aku msh coba melihat ke berbagai arah depan rumah, namun tetap tidak ada siapapun. Sampai akhirnya aku putuskan untuk menutup pintu dan kembali ke dalam. Namun belum sampai pintu rumah kututup rapat, suara itu terdengar lagi, kali ini terdengar lbh keras, seperti orang yg sedang marah dan mengguncang guncangkan pintu pagar. Aku merasakan takut untuk kembali membuka pintu dan keluar, namun ada rasa penasaran ingin melihat siapa atau apa yg memainkan pintu pagar. Akhirnya kuputuskan untuk mengintip dari sela2 pintu yg kubuka sedikit. Saat itu lah aku terperangah seolah tidak percaya apa yg baru saja kulihat dengan mata kepalaku, sesosok mahluk kurus bertelanjang dada dengan tangannya yg begitu panjang sedang mengoyang goyangkan pintu pagar, seperti hendak masuk namun terhalang sesuatu. Aku tidak begitu jelas melihat wajahnya krn kurangnya penerangan. Tubuhku terasa lemas saat itu, pertama kalinya aku melihat sesuatu yg aku sendiri tidak dapat menjelaskannya.
Sampai akhirnya mahluk itu hilang dengan sendirinya, dan Aku segera mengunci pintu dan kembali ke ruang tengah bersama della. Sekujur badanku terasa lemas saat ini, dan keringat dingin bercucuran. Aku masih tak menyangka dengan apa yg baru saja aku lihat di depan rumah. Pikiranku semakin tidak menentu saat ini, ditambah kekhawatiran karena bapak yg belum juga kembali sampai saat ini, della pun jg msh blm terbangun.
sirluciuzenze dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Tutup