- Beranda
- Stories from the Heart
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
...
TS
m60e38
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17

Quote:
Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.
Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.
Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.
Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.
Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.
Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.
Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.
Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari

MAKLUMAT
Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.
Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.
Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku authorakan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.
Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.
Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.
Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.
Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
OVERTURE
Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.
Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.
Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandyadatang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.
Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.
Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.
Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.
Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.
Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.
Quote:
Polling
0 suara
Siapa Karakter Perempuan Favorit Reader dalam Cerita Ini?
Diubah oleh m60e38 04-02-2024 10:41
jamalfirmans282 dan 24 lainnya memberi reputasi
23
305.1K
2.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
m60e38
#2354
Senyuman di Tanah Celebes
SENYUMAN DI TANAH CELEBES
Desingan CFM56-7 yang menempel di sayap selebar 35,79 meter ini terdengar terus berkurang di saat flapsyang menempel di ujung-ujungnya terus turun untuk mencapai posisi terendah yaitu tiga-puluh-derajat. Suara dentuman dari landing gear yang terbuka pun terdengar begitu jelas ketika pesawat pelat merah ini mulai mencapai ketinggian final approaching di arah 03 pada standar navigasi berbasiskan kompas.
WAAA, itu adalah kode ICAO untuk Bandara Sultan Hasanuddin yang berada di Kota Makassar. Kedatanganku ke Makassar sejatinya hanya untuk singgah sementara, karena tujuan utamaku adalah Kota Mamuju. Aku harus menunggu beberapa saat di Makassar sebelum pesawat besutan Bombardier membawaku ke tujuan akhirku yang seharusnya.
Rika, seorang wanita cantik dengan tubuh indah berusia 24 tahun, adalah seseorang yang menemaniku duduk di sebelahku saat ini. Entah bagaimana aku menceritakan siapa ia sebenarnya, tetapi ia memang adalah asisten pribadi yang biasanya menemaniku, menggantikan Cauthelia yang saat ini sudah sibuk dengan kedua anak kami.
“Mas, ini kita nunggu kah?” tanya wanita itu.
“Dua jam lah kira-kira,” ujarku seraya menghela napas, “kita duduk-duduk aja dulu di Starbucks.”
Tiba-tiba, ia menggenggam tanganku dengan begitu erat seraya memejamkan matanya saat daratan terlihat begitu jelas dari kaca jendela yang di samping wanita itu. Dan genggamannya semakin erat saat roda belakang pesawat menyentuh landasan yang sontak memberikan guncangan yang cukup kuat seraya deselerasi tajam yang dihasilkan dari thrust reverser mesin ini.
“Masih takut aja Ka,” ujarku seraya tersenyum memandang wanita yang masih memejamkan matanya itu, “padahal ini udah yang kesekian kalinya.”
“Takut Mas,” ujarnya lirih, “engga tau, pokoknya Rika takut aja.”
Aku tersenyum seraya melepaskan pagutan tangannya, “udah, abis ini kita minum kopi dulu.”
“Gak mau Starbucks ah Mas,” ujarnya manja, “maunya kopi bikinan Mas aja.”
Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum kepadanya, “mana bisa bikin kopi sendiri di sini Ka.”
Ia lalu tertawa kecil, “seneng deh diajak lagi sama Mas Tama.”
Aku menghela napas seraya pesawat ini melakukan taxi merapat ke gedung bandara, “kan ini Elya yang minta, aku sendirian juga gak masalah.”
Ia lalu mengerucutkan bibirnya, “loh kan Mas juga yang mau aku ada di sini, gimana sih?”
Aku tertawa kecil, “emang kapan aku ngajak kamu Ka?”
“Aku mah gak ditemenin juga gak masalah,” ujarku lalu tersenyum kepada wanita yang dadanya saat itu masih bergerak naik turun.
“Mas mah gitu,” ujarnya seraya memukul kecil pundakku, “sok gak butuh deh.”
Aku menggeleng, “kalo bukan karena permintaan Elya, aku gak akan ajak kamu Ka.”
Senyumannya yang begitu khas langsung mengembang, tidak ada tatapan kecewa meskipun bagi sebagian perempuan, ucapan itu sangatlah menyakitkan. Wajahnya seketika memerah saat pagutan matanya tak henti-hentinya menatapku di atas lengkungan bibir merah mudanya yang begitu indah.
---o0o---
Berbeda dari ajakanku barusan, aku memimpin langkah wanita itu menuju Loungeyang berada di lantai dua, ini adalah fasilitas cuma-cuma yang diberikan oleh maskapai pelat merah yang kami tumpangi barusan. Wajah wanita itu langsung terlihat begitu bahagia ketika ia melihat deretan makanan yang disajikan secara prasmanan sesaat setelah resepsionis melihat tiket kami.
“Dua jam ya Mas?” tanyanya seraya tertawa kecil.
“Lah kan tadi di pesawat udah makan Ka,” ujarku seraya menghela napas, “masa iya laper lagi?”
Ia hanya menjulurkan lidahnya, meninggalkan barang bawaannya bersamaku di salah satu sudut ruangan ini. Dan saat ujung pandanganku mengikuti kemana gerakan tubuhnya, indraku dialihkan oleh seseorang yang saat itu juga tengah memandang ke arahku.
Sekejap, ia mengambangkan tangannya di antara keraguan yang begitu terlihat dari bahasa tubuhnya.
Wanita dengan gamis biru muda, masih begitu menawan dengan kacamata full frame yang saat itu masih ia kenakan. Senyuman khasnya bahkan masih membekas begitu lekat di dalam sanubariku, sekejap lalu menyeruakkan segenap kisah yang tiada pernah usai di antara kami berdua.
Ia lalu beranjak dari tempat duduknya, masih dengan senyumannya, ia lalu berjalan ke arahku dengan begitu pasti.
“Tama,” ujarnya, saat tubuh wanita itu hanya berada satu meter di depanku, “ngapain kamu ke sini?”
“Nadine,” ujarku datar, “justru aku yang tanya, ngapain kamu di sini juga.”
Ia tersenyum, “aku ada tugas di Mamuju Tam.”
“Sama,” ujarku singkat, “lagi nungguin pesawat ke Mamuju juga.”
Wajahnya langsung memerah saat aku mengatakan Ibukota Sulawesi Barat adalah tujuan terakhirku saat ini. Senyuman yang sedari tadi merekah, kini semakin mengembang seraya pupil matanya yang membesar itu tidak dapat disembunyikan dari balik kacamata yang ia kenakan saat ini.
“Sendirian Tam?” tanya Nadine, penuh dengan semangat.
Aku menggelengkan kepalaku pelan, “sama Rika.”
“Rika?” tanyanya seraya mengernyitkan dahinya, “pembantu kamu?”
Aku menganggukkan kepalaku pelan, “tahu dari mana namanya Rika?”
Ia menghela napas panjang seraya memandang ke arahku, “Panda yang cerita,” mendadak nada bicaranya berubah seraya pandangan nanarnya yang begitu khas melekat ke arahku, “aku pikir kamu sendirian ke Mamuju Tam.”
Aku tersenyum seraya menggelengkan kepalaku, “Elya yang maksa aku buat ngajak Rika, entah kenapa.”
Wanita itu lalu tersenyum, “mungkin dia tahu kalo aku ada di sini Tam.”
“Soalnya aku sempet hubungin Panda beberapa pekan lalu, dia cerita kamu lagi ada kerjaan di Polewali Mandar.”
Aku menggelengkan kepalaku lagi, “gak mungkin Elya lakuin itu Nad.”
“Aku kenal Elya, siapa dia, dan gak mungkin dia nyegah aku buat ketemu kamu, pasti ini cuma kebetulan aja.”
Ia lalu menghela napas panjang, lalu mendekatkan tubuhnya ke arahku, seraya ia menghempaskannya ke sofa panjang ini. Ada perasaan canggung saat mengetahui wanita ini duduk di sebelahku, saat sudah lebih dari setahun yang lalu aku bertemu dengannya di acara Kedutaan.
Harum tubuhnya masih sama, masih seperti Nadine Helvelina yang kukenal. Lengkap dengan kacamata full frame yang menyembunyikan nanar pandangannya ke arahku. Senyumannya terlihat pahit ketika sepasang bibir merah mudanya tampak sedikit terbuka.
Seperti ada sesuatu yang menahannya untuk mengucapkan lisan dari sana.
“Gimana kabar Harfi, Nad?” tanyaku memecah keheningan.
Ia menganggukkan kepalanya, “dia udah banyak berubah semenjak peristiwa taun kemaren Tam.”
Ingatanku sedikit terbang pada tanggal 18 Maret 2018, ketika aku tidak sengaja bertemu dengan Harfi dan Nadine di sana. Terakhir kuingat, ia mengatakan tidak bahagia, dan terakhir kuingat lagi adalah ia pulang dengan taksi online.
“Dia banyak ngurusin Irina, anak kita. Dia berusaha buat jadi suami yang baik, setelah dia tahu kalo aku masih cinta sama kamu,” ujar wanita ini pelan.
“Bahkan sampai saat ini Tam.”
Kupejamkan mata sesaat, sejalan semua kenangan yang langsung terputar begitu cepat di kepalaku, membawa semua momentum yang telah kulewati bersama wanita ini. Kuhela napas saat kuingat betapa indah senyumannya yang terus terngiang di kepalaku hingga saat ini.
Tidak banyak yang bisa kuutarakan kepada Nadine, sudah terlalu banyak cinta yang singgah di hatiku bahkan hingga saat ini. Dan kurasa, biarpun ia bukanlah milikku, masih selalu ada ruang yang tersisa untuk diisi oleh nama Nadine Helvelina.
Seberat dan sebesar apapun kesalahannya kepada semua gadis yang kucintai.
“Seneng dengernya Nad,” ujarku, tersenyum kepadanya, “berarti sekarang kamu udah bisa raih kebahagiaan yang taun kemaren kamu masih raguin kan?”
Ia mengangguk pelan, “aku bahagia jadi istrinya Harfi, Tam.”
“Dia sekarang masak di rumah, ngurusin anak, kalo aja aku gak ada kewajiban Negara buat ke Mamuju, aku gak akan ke sini sekarang.”
“Itu sumpah kamu ke Negara Nad,” ujarku pelan, “aku bangga ketemu kamu lagi jalanin tugas mulia.”
“Padahal dokter spesialis udah gak ada wajib tugas lagi, tapi kamu tetep setia sama sumpah kamu.”
Wajah wanita itu langsung memerah seraya senyuman manis merekah di bibir merah mudanya. Nadine sudah banyak berubah, ia bukanlah wanita dengan segala egosentris yang menjebaknya di dalam tempurung keniscayaan yang ia buat sendiri atas dasar kebahagiaan semu.
Sungguh, obrolan ringan yang wajar ini membawa perasaan nyaman yang sudah lama membeku menjadi cair. Mengingatkanku kepada masa-masa sepuluh tahun yang lalu ketika aku masih bisa bertemu bebas dengan Nadine, tidak seperti saat ini.
Bahasa tubuhnya pun sekejap berubah, seolah ada instruksi lain di pemrosesan paralel yang ia kerjakan. Ia mulai nyaman duduk di sebelahku, mendekatkan tubuhnya ke arahku, dan reaksiku cukup konservatif saat aku hanya diam, tidak menunjukkan bahasa tubuh apapun kepadanya.
“Loh, ini yang namanya Kak Nadine, bener?” ujar Rika yang saat ini datang dengan membawa sepiring penuh makanan.
Nadine memandang ke arah Rika, ia tersenyum dan menjulurkan tangannya, “Nadine Helvelina,” ujarnya memperkenalkan diri.
Sekejap lalu, Rika meletakkan piringnya di atas meja kopi di depan kami, dan menjabat tangan Nadine dengan tersenyum, “Anrika Talia.”
“Kamu yakin Tam, Panda rekrut dia jadi asisten rumah tangga kamu?” tanya Nadine setelah melihat Rika dengan keheranan.
Aku memandang ke arah Rika, “duduk Ka,” ujarku, “kamu ceritain sama Nadine, kenapa Elya milih kamu.”
Rika menganggukkan kepalanya pelan, ia lalu duduk di sebelah Nadine, menceritakan semua kisah pilunya sebelum ia bertemu dengan Cauthelia di sebuah sudut jalan ketika malam itu tiba. Nadine yang semula antusias mendengarkan cerita itu, akhirnya mulai menunjukkan bahasa empati yang mendalam kepada wanita ini.
“Kamu kuat juga ya Ka,” ujar Nadine, “jadi malu aku yang selalu banyak nuntut ini dan itu.”
Ia tersenyum, “semua orang kan punya ujiannya masing-masing Kak, termasuk aku.”
Aku menanggukkan kepalaku pelan, “kalian akur-akur deh, aku masih mau hubungin tim, kerjaannya belom selesai.”
---o0o---
Jam sudah menunjukkan pukul 10.20, dan itu adalah saatnya Boarding untuk penerbangan maskapai pelat merah yang akan membawa kami menuju Mamuju. Wajah Rika terlihat sedikit pucat ketika Nadine menceritakan bahwa Bombardier CRJ-1000 yang akan kami tumpangi tidak lebih nyaman ketimbang pesawat besutan Airbus tadi.
“Sini Nad, tiket sama koper kamu,” ujarku saat pengeras suara sudah mulai memanggil penumpang tujuan Mamuju.
Wanita itu tersenyum, “masih aja gak berubah Tam. Gimana aku bisa move on kalo kamu masih perhatiin hal-hal kecil begini?” ia lalu menyerahkan tiketnya keapadaku.
“Kamu udah move on Nad,” ujarku pasti, “buktinya ekspresi kamu beda banget sekarang ketimbang dulu.”
Ia tertawa kecil, “yang bikin aku bahagia itu juga gara-gara ketemu kamu, Pap.”
Deg!
Sesak rasanya dadaku ketika mendengar frasa itu teruntai begitu manja dari lisan Nadine. Ia masih Nadine yang sama, sedikitpun tidak berubah saat semua gerak tubuh yang masih saja berbicara bahasa cinta kepadaku, dan itu sedikit membuatku termenung.
Mengapa ia begitu bodoh dahulu dengan melakukan semua hal buruk itu.
Alih-alih merespons ucapannya, aku lebih memilih langsung berjalan membawa koper miliknya, milik Rika, dan milikku sendiri, tanpa menghiraukan celotehan Nadine dan Rika yang tampak terkekeh menertawakan sikapku barusan.
Ah, mengapa aku menjadi salah tingkah begini di depan Nadine?
Apakah memang rasa itu masih selalu terpatri begitu dalam di dalam hatiku?
Kucoba untuk melupakan semua momentum itu, dan melihat ke depan. Tidak ada hal yang dapat kuraih dengan mempertahankan perasaan ini, hanya akan selalu kata sesal dan pengandaian yang tidak akan pernah ada habisnya.
Meskipun aku percaya, bahwa hukum kekekalan cinta itu ada, ia tidak dapat hilang ataupun diciptakan, ia hanya berubah bentuk dari satu ke yang lainnya. Dan perasaan cinta dalam bentuk lain ini lah yang selalu kurasakan kepada Nadine.
Sekali lagi, seberat apapun dan sebesar apapun kesalahannya di waktu yang telah lalu.
---o0o---
Nadine duduk di barisan agak belakang, sementara aku dan Rika di barisan depan. Sama seperti sebelumnya, wanita ini begitu takut, tangannya sangat dingin saat jemari lentiknya memagut jemariku dengan begitu erat. Ia bahkan tidak dapat menyembunyikan wajah pucatnya ketika pesawat ini melakukan push backmenuju ke taxiway.
“Mas,” panggil Rika, “aku takut banget deh, pesawatnya kecil gini.”
Aku mengusap kepalanya, “tenang aja Ka, anggap aja lagi naek mobil sama aku.”
“Ih enggak ih,” sahutnya agak berbisik, “ini kan terbang Mas Tama, gak di darat.”
“Loh, sama kok Ka,” ujarku tertawa kecil, “sama-sama gerak belakang, jadi agak ngesot pas abis naek.”
“Maaaas,” ujarnya lalu mencubit lenganku, “takuutt.”
Wanita itu lantas mendekap tanganku dengan begitu erat, seraya penerbangan yang seharusnya berjalan singkat ini dimulai. Ia bahkan sama sekali tidak melepaskan pagutannya ketika pesawat ini mulai berada di ketinggian jelajah yang semestinya.
---o0o---
Setelah hampir tiga puluh menit mengudara, pesawat berkapasitas 90 orang ini pun menurunkan ketinggiannya, memutari Kota Mamuju untuk mendarat di bandara dengan kode ICAO WAFJ pada arah 23 navigasi berbasis kompas. Tidak ada kata-kata yang terucap dari lisan Rika selain wajahnya yang begitu pucat langsung menghilang ketika pesawat ini sudah terparkir.
Aku menunggu Nadine untuk berada di sebelahku sebelum akhirnya aku turun di belakang kedua wanita tersebut.
Setelah aku mengambil bagasi, aku langsung menuju titik penjemputan di mana staf yang seharusnya menjemput kami sudah berada di posisi. Ia pun langsung menyambut kami seraya memandang ke arah Rika dan Nadine secara bergantian.
“Aku nungguin jemputan dulu Tam,” ujar Nadine, “kamu sama Rika duluan aja.”
Aku menggelengkan kepala, “kamu bareng sama aku Nad.”
“Tapi Tam, kamu kan ketemu orang gede di Sulawesi Barat, gak ada hubungannya sama aku,” ujarnya seraya memandang seragam yang dikenakan oleh staf yang menjemput kami.
“Pak Said,” panggilku kepada staf tersebut.
“Iya Pak Tama,” sahutnya begitu ramah.
“Dinas Kesehatan satu kompleks kan sama tujuan kita?”
Ia menggangguk pasti, “iya Pak, semua instansi pemerintah kan satu kompleks sama kantornya Bapak.”
“Kenalin Pak,” ujarku lalu memandang ke arah Nadine, “beliau dokter yang ada wajib dinas di Provinsi ini, kalo emang bisa Pak Kepala Dinas ditemuin, saya mau ngobrol sebentar.”
“Jangan ah Tam, gak enak aku,” tolak Nadine seraya menggelengkan kepalanya cepat.
“Enggak apa, sekalian aja ketemuan kalo beliau ada di tempat Nad.”
---o0o---
Jam sudah menujukkan pukul 15.30, sepertinya sudah saatnya bagiku untuk mengistirahatkan tubuhku di hotel berbintang empat yang sudah dipesankan oleh rekan kerjaku. Hotel itu terletak di bibir pantai, dan selalu ramai meskipun bukan di masa high season.
Aku meminta Nadine semalam saja berada di hotel tersebut sebelum ia menuju ke rumah dinas yang sudah ditunjuk untuknya selama tiga bulan masa dinasnya sebagai dokter di salah satu wilayah pada Provinsi Sulawesi Barat ini.
“Kamu serius Tam?” tanya wanita itu, nadanya mengambang meskipun aku tahu ada banyak harapan yang ia letakkan ketika ia bertemu denganku tadi di Makassar.
Aku mengangguk, “aku bukain satu kamar buat kamu, besok aku minta staf kantor buat anterin kamu ke tempat dinas kamu Nad.”
Kuserahkan kunci kamar kepada wanita itu, wajahnya sangat merah ketika aku berusaha untuk tidak menyentuh tangannya, “seenggaknya, aku bisa dengerin cerita kamu, kebahagiaan kamu, dan semua yang kamu coba raih saat ini.”
“Banyak hal Tam,” ujarnya pelan, “banyak yang mau aku ceritain ke kamu, dan mungkin kalo malem itu kamu anterin aku pulang, semuanya gak akan begini sekarang.”
“Makasih udah ngertiin aku,” ujarnya, memandangku dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan, hal yang sudah lama sekali tidak kulihat semenjak terakhir bertemu dengannya.
Kusunggingkan senyum simpul, “makanya aku maksa kamu pulang naek taksi online, aku tahu Harfi jealous, dia pikir aku akan rebut kamu lagi.”
“Aku tahu dia langsung pulang pas aku ambilin makan buat kamu waktu itu,” ujarku pelan, “jujur di situ aku ngerasa salah masih memperlakukan kamu layaknya kamu orang yang aku sayangin.”
“Bayangin kalo malem itu aku yang anterin kamu pulang, pasti semuanya gak akan ngebahagiain buat kamu Nad.”
“Satu hal lagi,” ujarku sebelum memagut jemari Rika, “tolong bilang sama Harfi, kalo aku ketemuan sama kamu di sini, biar kepercayaan dia ke kamu tetep kayak dulu.”
Nadine menganggukkan kepalanya pasti, ada senyum bahagia yang merekah begitu indah saat aku meninggalkan wanita itu di lobbyhotel yang ramai ini. Ada sebongkah kebahagiaan di balik cerahnya sorot pandang Nadine yang sudah lama tidak kulihat lagi.
Senyuman bahagia yang sering kulihat saat aku masih bersamanya, bersama menyusuri waktu dengan momentum indah, mengukir miliaran asa yang tidak pernah putus dengan segenap bahagia yang semakin sirna seiring berjalannya kehidupan kami masing-masing.
Senyuman bahagia itu yang terus membekas, menyisakan dinamika yang begitu kuat di kepalaku, memutar segala keindahan yang masih saja berlarian di sudut hatiku untuk seorang wanita bernama Nadine Helvelina.
Sekali lagi, seberat apapun dan sebesar apapun kesalahan Nadine di waktu yang telah terlewati.
“Mas,” panggil Rika yang seketika membuyarkan lamunanku, “waktunya Rika buat ngelayanin Mas Tama.”
jenggalasunyi dan 4 lainnya memberi reputasi
5