- Beranda
- Stories from the Heart
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)
...
TS
syrmey
KHURAFAT (kontrak dengan Setan)

Helloo agan dan aganwati! selamat datang di trit ane. Kali ini, ane akan membagikan tulisan pertama ane yang bergenre HOROR
INDEX
Quote:
PROLOG
Suara derap langkah kaki terdengar dari kejauhan. Di rumah, malam itu begitu gelap. Kirei masih meraba-raba mencari lilin, biasan cahaya rembulan yang menembus celah-celah jendela cukup membantu Kirei untuk menemukan kotak penyimpanan barang-barang apabila diperlukan dalam keadaan darurat.
Kirei hanya menemukan satu buah lilin yang kemudian diletakkannya di atas meja untuk menerangi gelapnya malam. Rangga belum pulang kalau jam segini, biasanya kalau perusahaan sibuk-sibuk Rangga tidak sempat untuk pulang. Dia biasanya menginap di hotel, karena jarak rumah dan tempatnya bekerja lumayan membutuhkan waktu yang lama. Mbok Kinasih-lah yang selalu menemani Kirei, sang majikan jika suaminya tidak ada di rumah.
Suara derap langkah kaki itu sekarang semangkin jelas terdengar oleh Kirei, tanpa ada suara yang mengetuk pintu. Tiba-tiba gagang pintu itu pun berputar, Kirei benar-benar merasa ketakutan. Degup jantungnya semangkin tak karuan. Kirei tidak bisa melihat bayangan wajah itu dengan jelas. Akhirnya ia memutar balik badannya untuk mengambil lilin yang berada di dekat Kirei, untuk melihat siapa orang yang berdiri di sana. Saat cahaya lilin di arahkan ke depan pintu, tidak ada orang. 'Siapa tadi?'pikir Kirei. Sambil perpikir Kirei kembali menuju tempat tidurnya.
Baru selangkah Kirei berjalan, "Non, makanan di bawah sudah siap!" ucap Mbok Kinasih.
Suara mbok Kinasih yang tiba-tiba muncul seketika membuat Kirei melonjak kaget, "Astagfirullah mbok, bikin kaget aja. Lain kali ketuk pintu dulu kenapa?"
"Maaf Non, tadi saya lihat pintu Non Kirei sudah terbuka jadi saya langsung masuk saja Non"
"Ya sudah Mbok. Sebentar lagi saya turun"
"Baik non. Mbok turun dulu"
Mbok Kinasih kemudian menutup kembali pintu kamar Kirei yang sebelumnya terbuka. Sebelum menikmati santap malam buatan mbok Kinasih, Kirei terlebih dulu mengganti baju dengan baju piyama.
Kreekk..
Kirei mulai memutar gagang pintu untuk turun ke lantai bawah. Namun, saat itu juga tiba-tiba ada sosok laki-laki berdiri tepat di depannya. Ia sungguh menakutkan, sinar wajahnya sama sekali tidak tampak. Rambutnya juga panjang, disisi pipinya dipenuhi janggut yang panjang.
"Siapa kamu?" tanya Kirei panik.
"Mau apa kamu?" tanya Kirei kembali.
Sosok itu semangkin mendekat ke arah Kirei. "Stop! Jangan mendekat!" teriak Kirei.
Wajah Kirei terlihat semangkin panik, ketakutan, tubuhnyapun seperti sulit digerakkan, kaku. Ia mengamati sosok di depannya tanpa berkedip.
"Mana suamimu? Sesungguhnya dia telah melanggar perjanjian denganku. Sampai saat ini dia belum memenuhi apa yang menjadi hakku. Kalau sampai dia belum juga datang kepadaku, maka lihatlah aku sendiri yang akan bertindak. Sampaikan pesan ini padanya"
"Tidak! Suamiku tidak melakukan apa-apa! Kau pasti salah orang!" teriak Kirei. "Sekarang cepat pergi dari hadapanku sekarang!" pinta Kirai dengan keras, disisa-sisa kekuatan dan keberaniannya.
Tiba-tiba sosok di depan Kirei menarik tangannya keras-keras.
"Lepas! Lepaskan aku!" ucap Kirei.
"Tolong!...tolong!" teriak Kirei. Itu adalah suara terakhir Kirei yang menggema di ruangan itu. Tubuhnya sekarang ambruk.
"Non...Non...bangun" suara itu begitu jelas ditelinga Kirei.
Kirei akhirnya terbangun dengan peluh di seluruh tubuhnya. "Syukurlah, ini cuman mimpi, terima kasih mbok sudah membangunkan saya"
"Iya Non. Non mengigau ya?"
"Tadi saya mimpi buruk sekali Mbok."
Pandangan Kirei langsung tertuju pada jam beker yang berada di nakas samping kanan Kirei. "Sudah jam 3 pagi" ucap Kirei lirih.
"Mbok, apa Rangga sudah pulang?"
"Oh Den Rangga belum pulang dari semalam Non"
"Oh begitu ya Mbok"
"Non, sebaiknya cuci muka kemudian sholat tahajud, supaya terhindar dari pengaruh yang buruk-buruk Non"
"Iya mbok, terima kasih. Kalau begitu Mbok silahkan turun saya mau ke kamar mandi dulu"
Sebelum bangkit dari tempat tidurnya, Kirei meraup sebuah gelas berisi air putih. Ia sangat kehausan, tenaganya seperti terkuras. Tangan Kirei sedikit terlihat gemetar saat memegang gelas kaca di tangan kanannya. Kirei berdiam diri sejak. Ia teringat kembali mimpinya, 'apa maksud mimpi itu? Kenapa dia mencari Rangga?' ucap Kirei dalam hati.
Kirei tak mau larut dalam mimpinya semalam, karena mungkin itu hanya ilusi yang bekerja di otaknya. Ia kemudian bangkit, lalu berjalan menuju kamar mandi.
~Bersambung...
Diubah oleh syrmey 29-03-2020 06:27
nona212 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
9K
54
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
syrmey
#43
KHURAFAT (Kontrak dengan Setan)
CHAPTER 5 - Kematian Misterius
Pemirsa di mana pun Anda berada sekarang saya dan tim reporter sudah berada di lokasi kejadian.
Di mana telah ditemukannya sesosok mayat wanita yang tewas dengan kondisi mengenaskan, dibagian mulutnya robek sementara disekujur tubuhnya dipenuhi luka cakaran. Peristiwa ini terjadi di kediaman rumah mewah milik pebisnis terkenal bernama Derian Rangga Ahsanvedi alias Rangga.
Saat ini polisi masih berusaha menyelidiki kasus tewasnya perempuan berinisial F, dari penuturan istri pemilik rumah, bahwa F baru bekerja selama 7 hari di rumahnya. Ia datang ke rumah ini menawarkan diri untuk menjadi pembantu demi pengobatan ibunya yang sedang sakit. F ini juga dikabarkan belum menikah.
Demikian informasi yang dapat saya sampaikan langsung dari TKP. Saya Gradela dan juru kamera Jimmy melaporkan, kembali ke studio, Patrya.
Iya pemirsa demikian tadi liputan eksklusif da...
Di mana telah ditemukannya sesosok mayat wanita yang tewas dengan kondisi mengenaskan, dibagian mulutnya robek sementara disekujur tubuhnya dipenuhi luka cakaran. Peristiwa ini terjadi di kediaman rumah mewah milik pebisnis terkenal bernama Derian Rangga Ahsanvedi alias Rangga.
Saat ini polisi masih berusaha menyelidiki kasus tewasnya perempuan berinisial F, dari penuturan istri pemilik rumah, bahwa F baru bekerja selama 7 hari di rumahnya. Ia datang ke rumah ini menawarkan diri untuk menjadi pembantu demi pengobatan ibunya yang sedang sakit. F ini juga dikabarkan belum menikah.
Demikian informasi yang dapat saya sampaikan langsung dari TKP. Saya Gradela dan juru kamera Jimmy melaporkan, kembali ke studio, Patrya.
Iya pemirsa demikian tadi liputan eksklusif da...
Belum selesai berita itu menayangkan tentang kasus tewasnya seorang wanita, Kenan langsung mematikan LED TV di depannya. Niat untuk nonton bareng Laliga Spanyol bersama teman-temannya juga dia tunda.
Kenan menuju kamar, mengambil sebuah jaket yang tergantung di dalam lemari. Sebuah jaket kulit berwarna coklat yang terbuat dari kulit hewan. Kenan menekan-nekan layar handphone dengan lincah mencari nomor seseorang yang akan ia tuju. Frekuensi gelombang khusus berusaha menyambungkan ke base transceiver station, kemudian terdengar 'nomor yang anda tuju sedang sibuk'. Tanpa pikir panjang Kenan langsung pergi ke garasi mengeluarkan mobil jeep berwarna putih.
Eyang Nisratih begitu terkejut dengan peristiwa yang terjadi di rumah menantunya. Dengan erat Eyang Nisratih mendekap cucunya. Mereka masih di kamar, Kirei melarang Izam untuk turun dan meminta Eyang Nisratih untuk menemani Izam di kamar.
Eyang masih mencoba menghubungi Kenan. Menurutnya dia-lah satu-satunya orang yang baik dan bisa menolongnya saat ini. Dia tidak mungkin meminta bantuan dengan Rangga karena dia sedang di Singapura.
Ddrrrttt... Ddrrrttt
HandphoneKenan yang berada di atas dasbor mobil bergetar tanda ada panggilan masuk. Sembari menyetir mobil tangan kanan Kenan berusaha menggapai handsfree agar bisa berkomunikasi dengan aman sambil kedua tangannya tetap menyetir mobil.
"Halo Eyang"
"Iya Kenan. Kenan Eyang boleh minta tolong ke kamu supaya bisa segera ke rumah Kirei. Ini gawat Kenan"
"Iya Eyang, Kenan sudah liat beritanya di televisi dan sekarang saya sudah di jalan menuju rumah Kirei, Eyang"
"Syukurlah. Eyang tunggu di rumah ya Nak"
Dari kajauhan tampak sebuah sorot lampu mobil memasuki pekarangan rumah tempat kejadian. Mobil itu berwarna putih, sejenis minubus, di depannya bertuliskan AMBULANCE. Beberapa orang di dalam mobil keluar dengan membawa tandu dan kantong jenazah. Kemungkinan, mayat itu akan di bawa untuk segera di otopsi baru kemudian dikembalikan ke keluarga.
Berselang dua menit, sebuah sorot lampu tajam datang kembali kali ini mobil jeep yang barusan datang. Sebenarnya hari belum terlalu malam. Jam masih menunjukkan pukul 5 sore tapi langit sudah begitu gelap.
Kenan keluar dari mobil lalu berjalan sedikit berlari menaiki sekitar 5 anak tangga sebelum tepat sampai ke teras rumah. Saat masuk, mata Kenan sedikit was-was memandangi ruangan sekitar. Ia belum tahu harus ke mana dan di mana Eyang sekarang. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Mbok Kinasih.
"Mbok!" ucap laki-laki itu.
Mbok Kinasih sedikit kaget saat mendapati seorang pria masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
"Kamu siapa! Tolong jangan ganggu saya dan keluarga ini! Kami tidak tau apa-apa!" Mbok Kinasih menutup matanya dengan kedua tangan sambil memundurkan secara perlahan kakinya.
Kenan tak menyangka Mbok Kinasih menunjukkan ekpresi ketakutan yang luar biasa ketika melihatnya, tapi ia mencoba memaklumi mengingat kejadian naas hari ini.
"Mbok! Mbok! tenang Mbok ini saya Kenan. Yang kemarin singgah ke sini yang mengantar Eyang, majikan Mbok dan saya ini juga temannya Kirei!" kata Kenan berusaha menjelaskan dan menenangkannya.
Mendengar penjelasan itu, baruslah Mbok Kinasih sedikit tenang.
"Mbok di mana kamarnya Eyang?"
"Di-di lantai dua Den, di kamarnya Den Izam"
"Oke makasih Mbok" sembari menepuk pelan bahu Mbok Kinasih.
Kenan berjalan menuju tangga, tangannya memegang railing tangga yang terbuat dari rangka besi. Ia sedikit takut-takut akan terjatuh karena menaiki anak tangga sembari berlari.
Tok...tok...tok
Suaranya dari luar. Eyang Nisratih sudah menduga bahwa itu suara ketukan tangan Kenan. Dia barusan datang. Langsung saja Eyang Nisratih membuka kenop pintunya.
Ketika pintu itu dibuka nampak Eyang Nisratih dengan ekpresi wajah yang cemas. Kenan yang melihatnya berusaha untuk menenangkan Eyang dan mengatakan kalau semua pasti akan baik-baik saja.
Mata Kenan berpendar mencari Izam. "Anak Kirei di mana Eyang?"
"Itu" telunjuknya mengarah ke bilik yang merupakan ruangan bermain Izam.
"Eyang sebenarnya ada apa?"
Mereka masih berdiri di depan pintu kamar. Eyang yang merasa kurang nyaman menarik tangan Kenan supaya pembicaraan itu di lakukan di dalam saja. Sekarang, keduanya sudah duduk di kursi kayu yang terbuat dari rotan. Kursi itu memang segaja diletakkan di kamar supaya penghuninya bisa duduk sembari menonton televisi.
"Kejadian itu terulang lagi" kata Eyang mengigit bibir bawahnya, tanda kecemasan itu hadir.
Kenan merubah posisi duduknya, dengan kepala sedikit dimajukan supaya bisa mendengar suara Eyang "Maksudnya?"
Eyang menghela napas, "Dulu kejadian yang sama pernah terjadi, dan ini adalah peristiwa yang ke tiga"
"Berarti peristiwa semacam ini sudah pernah terjadi Eyang?"
"Iya" jawabnya lirih. "Korban pertama adalah Jalal, yang merupakan tangan kanan saya untuk menyelidiki Rangga waktu itu. Dia ditemukan tewas mirip dengan kejadian saat ini. Kedua, Nina pembantu rumah ini juga ditemukan tewas tenggelam di kolam belakang. Ketiga, Fitri wanita yang baru 7 hari bekerja juga tewas di sini"
Kenan menyatukan kedua telapak tangannya lalu menaruhnya di bawah dagu. Baru lima detik ia melakukannya, pikirannya sekarang mengarah ke Kirei. "Eyang, Kirei di mana?"
"Dia masih di bawah. Ayo kita ke sana!" ajak Eyang Nisratih
Mereka berjalan menuruni lantai dua menuju wilayah samping rumah, tempat kejadian. Sementara, tim medis masih berada di sana.
Kirei menatap miris tubuh pembantunya yang terbujur kaku. Perawat mulai mengangkat mayat yang dalam keadaan mengenaskan masih tertutup dengan kain berwarna putih. Mereka memasukkannya ke dalam kantong jenazah berwarna kuning dan memandunya menuju mobil ambulans.
"Rei" tangan Kenan mendarat di pundak Kirei.
Dengan perlahan mata Kirei memutar untuk melihat jari tangan yang melekat di bahunya. Setelah memastikan itu tangan manusia, ia menoleh ke belakang, mendongak melihat manusia itu berdiri.
"Lo, di sini Key"
"Iya gue di sini, buat nemanin lo"
Kenan menatap wajah Kirei dengan teduh. Ia melihat wajah Kirei seperti kelelahan, mungkin beberapa jam berturut-turut ia meladeni beberapa pertanyaan yang dilemparkan wartawan kepadanya belum lagi polisi dan pihak medis.
Kirei mendekap erat pinggang Kenan. Kali ini Kirei memiliki hasrat untuk memeluk temannya itu. Tangan Kenan belum membalas pelukan Kirei, perasaannya degdegan sudah sekian lama sejak Kirei menikah dia belum pernah mendapat dekapan ini lagi dari Kirei.
"Jangan khawatir, lo pasti bisa lewatin ini semua" ucapnya mencoba menabahkan, bersamaan dengan itu kedua tangan Kenan membalas dekapan Kirei.
Perlahan Kirei melepas pelukannya. "Saat ini gue harus menghadapi semuanya sendiri sebelum Rangga pulang kembali ke sini"
Tangan Kenan sekarang memegang kedua pundak Kirei. Mereka saling berhadap-hadapan, "Nggak, lo nggak sendiri. Ada gue. Gue akan disamping lo selama Rangga belum kembali"
Suara sirine mobil ambulans mulai menyala. Perlahan menjauh dan akhirnya suara itu menghilang. Kenan membimbing Kirei untuk masuk ke dalam rumah. Karena malam juga sudah terlalu pekat
. Kenan menuju kamar, mengambil sebuah jaket yang tergantung di dalam lemari. Sebuah jaket kulit berwarna coklat yang terbuat dari kulit hewan. Kenan menekan-nekan layar handphone dengan lincah mencari nomor seseorang yang akan ia tuju. Frekuensi gelombang khusus berusaha menyambungkan ke base transceiver station, kemudian terdengar 'nomor yang anda tuju sedang sibuk'. Tanpa pikir panjang Kenan langsung pergi ke garasi mengeluarkan mobil jeep berwarna putih.
Eyang Nisratih begitu terkejut dengan peristiwa yang terjadi di rumah menantunya. Dengan erat Eyang Nisratih mendekap cucunya. Mereka masih di kamar, Kirei melarang Izam untuk turun dan meminta Eyang Nisratih untuk menemani Izam di kamar.
Eyang masih mencoba menghubungi Kenan. Menurutnya dia-lah satu-satunya orang yang baik dan bisa menolongnya saat ini. Dia tidak mungkin meminta bantuan dengan Rangga karena dia sedang di Singapura.
Ddrrrttt... Ddrrrttt
HandphoneKenan yang berada di atas dasbor mobil bergetar tanda ada panggilan masuk. Sembari menyetir mobil tangan kanan Kenan berusaha menggapai handsfree agar bisa berkomunikasi dengan aman sambil kedua tangannya tetap menyetir mobil.
"Halo Eyang"
"Iya Kenan. Kenan Eyang boleh minta tolong ke kamu supaya bisa segera ke rumah Kirei. Ini gawat Kenan"
"Iya Eyang, Kenan sudah liat beritanya di televisi dan sekarang saya sudah di jalan menuju rumah Kirei, Eyang"
"Syukurlah. Eyang tunggu di rumah ya Nak"
Dari kajauhan tampak sebuah sorot lampu mobil memasuki pekarangan rumah tempat kejadian. Mobil itu berwarna putih, sejenis minubus, di depannya bertuliskan AMBULANCE. Beberapa orang di dalam mobil keluar dengan membawa tandu dan kantong jenazah. Kemungkinan, mayat itu akan di bawa untuk segera di otopsi baru kemudian dikembalikan ke keluarga.
Berselang dua menit, sebuah sorot lampu tajam datang kembali kali ini mobil jeep yang barusan datang. Sebenarnya hari belum terlalu malam. Jam masih menunjukkan pukul 5 sore tapi langit sudah begitu gelap.
Kenan keluar dari mobil lalu berjalan sedikit berlari menaiki sekitar 5 anak tangga sebelum tepat sampai ke teras rumah. Saat masuk, mata Kenan sedikit was-was memandangi ruangan sekitar. Ia belum tahu harus ke mana dan di mana Eyang sekarang. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Mbok Kinasih.
"Mbok!" ucap laki-laki itu.
Mbok Kinasih sedikit kaget saat mendapati seorang pria masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
"Kamu siapa! Tolong jangan ganggu saya dan keluarga ini! Kami tidak tau apa-apa!" Mbok Kinasih menutup matanya dengan kedua tangan sambil memundurkan secara perlahan kakinya.
Kenan tak menyangka Mbok Kinasih menunjukkan ekpresi ketakutan yang luar biasa ketika melihatnya, tapi ia mencoba memaklumi mengingat kejadian naas hari ini.
"Mbok! Mbok! tenang Mbok ini saya Kenan. Yang kemarin singgah ke sini yang mengantar Eyang, majikan Mbok dan saya ini juga temannya Kirei!" kata Kenan berusaha menjelaskan dan menenangkannya.
Mendengar penjelasan itu, baruslah Mbok Kinasih sedikit tenang.
"Mbok di mana kamarnya Eyang?"
"Di-di lantai dua Den, di kamarnya Den Izam"
"Oke makasih Mbok" sembari menepuk pelan bahu Mbok Kinasih.
Kenan berjalan menuju tangga, tangannya memegang railing tangga yang terbuat dari rangka besi. Ia sedikit takut-takut akan terjatuh karena menaiki anak tangga sembari berlari.
Tok...tok...tok
Suaranya dari luar. Eyang Nisratih sudah menduga bahwa itu suara ketukan tangan Kenan. Dia barusan datang. Langsung saja Eyang Nisratih membuka kenop pintunya.
Ketika pintu itu dibuka nampak Eyang Nisratih dengan ekpresi wajah yang cemas. Kenan yang melihatnya berusaha untuk menenangkan Eyang dan mengatakan kalau semua pasti akan baik-baik saja.
Mata Kenan berpendar mencari Izam. "Anak Kirei di mana Eyang?"
"Itu" telunjuknya mengarah ke bilik yang merupakan ruangan bermain Izam.
"Eyang sebenarnya ada apa?"
Mereka masih berdiri di depan pintu kamar. Eyang yang merasa kurang nyaman menarik tangan Kenan supaya pembicaraan itu di lakukan di dalam saja. Sekarang, keduanya sudah duduk di kursi kayu yang terbuat dari rotan. Kursi itu memang segaja diletakkan di kamar supaya penghuninya bisa duduk sembari menonton televisi.
"Kejadian itu terulang lagi" kata Eyang mengigit bibir bawahnya, tanda kecemasan itu hadir.
Kenan merubah posisi duduknya, dengan kepala sedikit dimajukan supaya bisa mendengar suara Eyang "Maksudnya?"
Eyang menghela napas, "Dulu kejadian yang sama pernah terjadi, dan ini adalah peristiwa yang ke tiga"
"Berarti peristiwa semacam ini sudah pernah terjadi Eyang?"
"Iya" jawabnya lirih. "Korban pertama adalah Jalal, yang merupakan tangan kanan saya untuk menyelidiki Rangga waktu itu. Dia ditemukan tewas mirip dengan kejadian saat ini. Kedua, Nina pembantu rumah ini juga ditemukan tewas tenggelam di kolam belakang. Ketiga, Fitri wanita yang baru 7 hari bekerja juga tewas di sini"
Kenan menyatukan kedua telapak tangannya lalu menaruhnya di bawah dagu. Baru lima detik ia melakukannya, pikirannya sekarang mengarah ke Kirei. "Eyang, Kirei di mana?"
"Dia masih di bawah. Ayo kita ke sana!" ajak Eyang Nisratih
Mereka berjalan menuruni lantai dua menuju wilayah samping rumah, tempat kejadian. Sementara, tim medis masih berada di sana.
Kirei menatap miris tubuh pembantunya yang terbujur kaku. Perawat mulai mengangkat mayat yang dalam keadaan mengenaskan masih tertutup dengan kain berwarna putih. Mereka memasukkannya ke dalam kantong jenazah berwarna kuning dan memandunya menuju mobil ambulans.
"Rei" tangan Kenan mendarat di pundak Kirei.
Dengan perlahan mata Kirei memutar untuk melihat jari tangan yang melekat di bahunya. Setelah memastikan itu tangan manusia, ia menoleh ke belakang, mendongak melihat manusia itu berdiri.
"Lo, di sini Key"
"Iya gue di sini, buat nemanin lo"
Kenan menatap wajah Kirei dengan teduh. Ia melihat wajah Kirei seperti kelelahan, mungkin beberapa jam berturut-turut ia meladeni beberapa pertanyaan yang dilemparkan wartawan kepadanya belum lagi polisi dan pihak medis.
Kirei mendekap erat pinggang Kenan. Kali ini Kirei memiliki hasrat untuk memeluk temannya itu. Tangan Kenan belum membalas pelukan Kirei, perasaannya degdegan sudah sekian lama sejak Kirei menikah dia belum pernah mendapat dekapan ini lagi dari Kirei.
"Jangan khawatir, lo pasti bisa lewatin ini semua" ucapnya mencoba menabahkan, bersamaan dengan itu kedua tangan Kenan membalas dekapan Kirei.
Perlahan Kirei melepas pelukannya. "Saat ini gue harus menghadapi semuanya sendiri sebelum Rangga pulang kembali ke sini"
Tangan Kenan sekarang memegang kedua pundak Kirei. Mereka saling berhadap-hadapan, "Nggak, lo nggak sendiri. Ada gue. Gue akan disamping lo selama Rangga belum kembali"
Suara sirine mobil ambulans mulai menyala. Perlahan menjauh dan akhirnya suara itu menghilang. Kenan membimbing Kirei untuk masuk ke dalam rumah. Karena malam juga sudah terlalu pekat
Bersambung...
Diubah oleh syrmey 07-02-2020 06:06
ariefdias dan 2 lainnya memberi reputasi
3