- Beranda
- Stories from the Heart
Cinta Bersemi di Kedai Serabi
...
TS
suciasdhan
Cinta Bersemi di Kedai Serabi
Kumpulan Cerita Romantis Bikin Baper

Sumber: gambar di sini
Sepagi ini kedai Mak Otih sudah penuh sesak. Serabi buatan Mak Otih memang yang paling terkenal di desa Cipedes ini. Penganan yang terbuat dari campuran tepung terigu yang gurih dan air kelapa, banyak diburu oleh warga desa ini dan menjadi alternatif pilihan untuk sarapan. Cara memasaknya yang masih tradisional—menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat serta kayu bakar di bawahnya untuk mematangkan serabinya—membuat serabi ini memiliki rasa dan aroma yang khas. Varian serabinya hanya dua macam, yaitu topping oncom sangrai untuk rasa asin, dan serabi disiram kuah gula merah atau kinca untuk yang rasa manis. Bahkan, untuk serabi topping oncom bisa ditambahkan telur agar rasanya semakin gurih.
Sopi mengamati tangan Mak Otih yang menyendok adonan serabi ke dalam wajan tanah liat dengan cekatan. Adonan yang masih cair itu kemudian ditaburi oncom sangrai. Asap mengepul dari sana. Aroma serabi yang hampir matang membuat gadis itu menelan saliva berulang kali. Perutnya semakin keroncongan. Terbayang di mulutnya rasa legit kuah kinca bercampur dengan kue serabi yang gurih, lezat rasanya.
Empat orang pemuda iseng mulai melirik nakal ke arah Sopi yang terlihat cantik. Salah satu dari mereka mulai menggodanya.
"Hai, Neng geulis, sendirian aja nih. Boleh Akang temenin?"
"Akang mah mau langsung kenalan aja, boleh enggak?" Seorang pemuda lainnya mulai mendekati Sopi. Sementara dua pemuda yang lainnya hanya tertawa-tawa.
Sopi mulai jengah dengan gangguan dari keempat pemuda itu. Bahkan salah satunya yang tadi minta kenalan mulai berani mencolek lengannya. Segera saja Sopi menepis tangan jahil pemuda jangkung berambut keriting itu. Memangnya aku ini sabun colek apa? pikir Sopi, kesal.
"Widih, si Eneng meuni sombong ih. Belum tahu ya kita ini siapa? Kita teh F4, tapi bukan pemeran di drama Meteor Garden ya. Saya Firman, itu Fikri, Farid, dan Ferdi." Pemuda berkaus biru donker berlogo salah satu superhero terkenal di dunia, menunjuk ke arah ketiga temannya sambil ikut mendekat ke arah Sopi.
Sopi masih membisu, dalam hati ia geram dengan tingkah para pemuda itu. Perempuan di kedai ini kan banyak, kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini? gumamnya.
Melihat gadis itu beranjak dari tempat duduknya, hendak berlalu dari kedai, keempat pemuda itu malah semakin gencar menggodanya.
"Mau ke mana Neng? Buru-buru amat. Kita kan belum saling mengenal. Tukeran nomor hp aja belum, udah mau pergi. Rumahnya di mana sih? Akang antar ya. Tenang, dijamin aman, selamat sampai tujuan." Pemuda berkaus hitam bergambar logo band Linkin Park mengejar Sopi dan menggenggam tangan gadis itu.
Sopi berusaha melepaskan diri, tetapi genggaman tangan pemuda itu malah semakin kuat. Ia meringis kesakitan. Keempat pemuda itu tertawa puas.
"Heii, kalian! Lepaskan gadis itu. Belum tahu ya kalau dia itu pacar saya? Seenaknya main antar pacar orang. Yuk, Neng Akang antar." Suara seorang lelaki tampan berdandan ala Kabayan berhasil menghalau keempat pemuda itu. Mereka pun menjauh dari Sopi. Setelah berpamitan pada Emaknya yang tengah membalikkan serabi dari wadah, pemuda itu pun berjalan beriringan dengan sang gadis.
"Yuk, Neng. Enggak usah takut, saya mah bukan lelaki cunihin seperti mereka. Kalau mau jahil ke perempuan, saya selalu ingat sama Emak. Gimana kalau Emak juga digodain kayak gitu? Saya pasti marah besar," ucap lelaki itu setelah agak menjauh dari kedai.
Dalam hati, Sopi memuji ucapan pemuda di sampingnya yang sangat santun dan hormat memperlakukan ibunya. Yang jadi istrinya, sudah pasti akan diperlakukan dengan baik juga. Sopi malu sendiri, dan buru-buru menepis pikiran yang baru saja terlintas di benaknya. Mereka berjalan berdampingan. Keduanya sama-sama merasa canggung, tak ada yang berani membuka percakapan. Hanya sesekali mereka saling beradu pandang, kemudian sama-sama tersenyum dan menunduk, malu. Hingga tiba di tempat tujuan pun, mereka masih diam seribu bahasa.
Sementara itu, Pak Asep yang sedari tadi merasakan perasaannya tak enak, selalu terbayang wajah putri cantiknya. Rasa kuatir menggelayuti pikirannya, takut sesuatu menimpa Sopi. Sesekali ia menatap ke arah jalan, mencari sosok yang membuat hatinya gelisah. Tidak berapa lama, ia melihat gadis itu. Namun, ia tidak sendirian, seorang pemuda jangkung terlihat berjalan di sampingnya.
"Hei, pemuda, siapa kamu? Kenapa tampang anakku seperti ketakutan begitu? Hmm, mau macam-macam ya sama anak Jawara Pencak Silat ini? Hayu lah, Bapak mah enggak takut. Kita tandang di lapang sebelah!" Pak Asep sudah pasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang sosok yang terlihat sebagai ancaman bagi putri tersayangnya. Sopi dan Aden pun bengong.
Dengan kekuatan penuh, Pak Asep bersiap melayangkan pukulan ke arah pemuda tampan yang sedang berdiri di samping putrinya.
“Daddy—Daddy, calm down.” Sopi menghalangi serangan ayahnya dengan menggenggam tangan pria paruh baya itu yang sudah bulat terkepal dengan sempurna.
“Minggir, Sopi. Biar dia merasakan bogem mentah Bapak. Walau Bapakmu ini sudah tua, tapi Bapak masih kuat. Ayo sini, pemuda, lawan!” Pak Asep menghempaskan tangan Sopi yang menghalanginya.
“Pak Asep? Ini benar Pak Asep kan? Alhamdulillah, akhirnya kita ketemu juga.” Aden mencium punggung tangan pria di hadapannya yang napasnya masih tak beraturan. Emosi memenuhi rongga dadanya. Kedua matanya memelotot ke arah pemuda itu.
“Apa-apaan kamu? Diajak tanding malah cium tangan? Nyalimu ciut, Jang?” Pak Asep menghempaskan tangan Aden dengan kasar.
“Bapak lupa ya? Ini teh Aden, putranya Mak Otih. Dulu waktu SD Aden kan belajar pencak silat dari Bapak. Wah senangnya masih bisa berjumpa dengan guru bela diri favorit Aden.”
Mendengar penuturan pemuda yang berdiri di hadapannya, perlahan-lahan emosi Pak Asep menurun. “Jadi, ini Aden? Masya Allah, meuni kasep. Maafkan Bapak yang terlalu kuatir dengan keselamatan putri Bapak satu-satunya. Maklum, sejak Ibunya meninggal, hanya dia yang Bapak miliki di dunia ini. Bapak enggak mungkin lupa, hanya tadi mah pangling aja, sampai-sampai enggak ngenalin. Kamu kan yang pernah ngompol, ketakutan karena Bapak bentak, hahaha. Terus kamu itu terkenal paling cengeng di antara murid-murid Bapak yang lain. Kesenggol sedikit saja nangis kejer.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak bekas murid pencak silatnya itu.
Aden tersipu malu sambil melirik gadis cantik di sampingnya yang sedang bengong menyaksikan percakapan antara dirinya dan Pak Asep. “Jadi, Eneng ini teh putrinya Bapak?” lanjutnya.
“Iya, ini namanya Sopi, anak Bapak. Hayu atuh masuk, kita ngobrol-ngobrol di dalam. Sopi suguhkan makanan sama minuman.”
Sopi beranjak menuju dapur menyiapkan suguhan untuk sang tamu. Sementara itu Aden dan sang Ayah sudah duduk di kursi ruang tamu. Sesekali, Pak Asep melirik Aden yang mencuri pandang ke arah Sopi. Sepertinya pemuda itu tertarik pada putrinya. Sebuah senyuman tersungging di bibir lelaki paruh baya itu. Sementara Aden, yang kepergok sedang curi-curi pandang, jadi salah tingkah. Hatinya mengakui perempuan itu memang cantik, hanya dandanannya saja yang menurutnya terlalu berlebihan alias menor. Andai gadis itu berdandan sederhana, aura kecantikannya akan terpancar alami. Tidak berapa lama, Sopi muncul dengan baki berisi dua gelas teh manis dan beberapa stoples berisi kue kering juga makanan ringan.
“Ayo—ayo dimakan, Den,” tawar Pak Asep setelah Sopi menaruh semua bawaannya di atas meja.
“Eh iya, ngomong-ngomong serabi pesanan Bapak mana?” Kali ini pandangan mata pria itu beralih pada Sopi.
“My mood is going down, Daddy. So maafkan Sovia yang tak jadi membelinya.”
Aden menatap heran gadis yang duduk di samping Pak Asep. Buset, bukan hanya dandanannya yang lain, cara bicaranya juga aneh, gumamnya.
“Kok bisa?” Kening Pak Asep berkerut. Tak mengerti dengan kalimat yang diucapkan putrinya barusan. Sejurus kemudian, lelaki itu manggut-manggut menyimak cerita putrinya.
“Duh, Den. Maafkan Bapak yang sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Terima kasih telah menyelamatkan putri Bapak." Sudah waktunya Sopi punya pendamping hidup, yang akan melindunginya dari marabahaya, gumam Pak Asep dalam hati sambil menatap lekat-lekat Aden yang sedang mencuri pandang ke arah wajah Sopi. Untung saja, pemuda ini baik hati, jadi dia tetap membiarkan Aden memandang wajah Sopi sampai puas. Kalau pemuda culas yang melakukannya, pasti sudah dia gibas tanpa ampun sampai kapok.
***
“Daddy, ini kopinya.”
“Terima kasih, Sopi.” Gadis cantik itu mengangguk dan beranjak hendak menuju kamarnya.
“Sopi, mau ke mana? Sini duduk dulu sebentar, Bapak mau bicara.”
“Daddy, Sovia mau ke kamar, belum beres merapihkan alis.”
“Bentar doang kok. Enggak nyampe lima belas menit.” Pak Asep menyeruput kopinya. “Sopi, kopi buatan kamu mengingatkan Bapak sama almarhumah Ibumu. Racikannya sama-sama enak. Rasa kopi dan gulanya seimbang, pas.”
Sopi tersenyum melihat Ayahnya yang begitu penuh penghayatan menyeruput kopinya, terlihat sekali pria paruh baya itu menikmati setiap tegukan cairan hitam itu yang masuk ke kerongkongannya.
“Jadi begini, Geulis. Kamu sekarang sudah besar. Kuliah pun sudah selesai.” Pak Asep menatap wajah putri tersayangnya sebelum ia melanjutkan bicara. Pria itu tampak memutar otak mencari kalimat yang pas untuk menyampaikan maksudnya pada Sopi. “Sudah saatnya Bapak melepasmu, Sopi,” lanjutnya.
“Maksud Daddy?” Sopi tercengang mendengar ucapan lanjutan dari Ayahnya. Dahinya berkerut, tak paham dengan arah pembicaraan sang Ayah.
“Begini, Neng. Maksud Bapak—kamu—sudah waktunya kamu punya pendamping hidup.”
“What? Jadi maksud Daddy Sovia harus segera married? Menikah begitu? No, Daddy!”
“Dengar dulu Sopi. Bapak sudah pikirkan matang-matang hal ini. Bapak ....”
“Tapi, Daddy. Sovia enggak mau berpisah dari Daddy.” Sopi mulai terisak.
“Jangan nangis atuh, Neng. Bapak kan jadi ikut sedih. Setelah menikah nanti Sopi boleh kok tinggal di sini. Lagian calon kamu juga tinggalnya deket-deket sini kok.” Pak Asep mengelus lembut punggung putri tercintanya itu.
“Memangnya siapa orangnya, Daddy?” tanya Sopi, heran. Keningnya berkerut, seolah mencari siapa sosok pemuda yang tinggal di dekat sini. Ia menggelengkan kepalanya, nihil. Tak satu pun wajah lelaki yang bisa terbayang di benaknya.
“Kamu mau kan Bapak nikahkan sama Aden?” Pak Asep malah balik bertanya.
Sopi terperanjat mendengar Ayahnya menyebut nama itu. “What? Daddy enggak salah jodohin Sovia sama dia? Orangnya ganteng sih, tapi dandanannya persis seperti si Kabayan. Jangan-jangan dia juga pemalas, sama seperti Kabayan itu.”
“Sopi, kamu ingat waktu dia melindungi kamu dari pemuda-pemuda yang mengganggu?” Sopi mengangguk. “Nah, Bapak rasa dia bisa menjaga kamu dengan baik. Kesan pertama melihat dia, Bapak yakin dia anak yang baik, tidak seperti kebanyakan pemuda lainnya.”
Sopi tertegun. Pak Asep membiarkan gadis itu hanya diam saja, mungkin putrinya sedang mencoba meresapi semua ucapannya. Hanya helaan napas gadis cantik itu yang sesekali terdengar.
Setelah hening beberapa saat, tak lama kemudian, Sopi pun buka suara, “Baiklah, Daddy, beri Sovia waktu untuk berpikir.” Gadis itu menyeret langkahnya menuju kamar, meninggalkan Pak Asep yang di hatinya tengah berharap sang putri mau menerima rencana perjodohan ini.
Satu jam berlalu. Namun, tak ada tanda-tanda Sopi keluar dari kamarnya. Pak Asep pun merasa heran. Ia mulai mengetuk pintu kamar Sopi.
“Sopi, Neng, sarapan yuk.” Tak ada sahutan. “Geulis, Bapak udah bikinin telor ceplok kesukaan kamu. Kita makan bareng yuk.” Tetap tak ada sahutan. “Sopi, lagi apa di dalam? Masih dandan atau lanjutin mimpi? Masa baru juga bangun udah tidur lagi.”
Karena tak terdengar juga sahutan dari Sopi, Pak Asep membuka pintu kamar yang ternyata tak dikunci oleh pemiliknya. Namun, betapa kagetnya Pak Asep saat ia tak menemukan putrinya di dalam kamar itu. Ia mendapati jendela kamar putrinya terbuka lebar.
“Sopi? Kamu di mana, Nak? Ini mah ngajak Bapak main petak umpet ya?” Pak Asep mulai berkeliling ke seluruh ruangan, tetapi tetap saja ia tak menemukan putrinya. “Duh, Sopi. Kamu teh ke mana atuh? Bapak jadi kuatir.” Pak Asep memutuskan kembali ke kamar Sopi, siapa tahu di sana dia bisa menemukan petunjuk. Netra Pak Asep jatuh pada secarik kertas di atas nakas yang berisi tulisan tangan Sopi.
Daddy, maaf, Sovia gak bermaksud bikin Daddy cemas. Sovia hanya kesal mendengar rencana Daddy. Biarlah Sovia bertemu jodoh Sovia dengan sendirinya. Dan Sovia akan menikah setelah benar-benar merasa siap. Don’t worry Daddy, saat Daddy membaca surat ini, Sovia sudah berada di rumah Grandma.
Setelah membaca surat itu, Pak Asep yang sedari tadi pikirannya kalut, kini merasa lega. Bergegas lelaki itu melangkah ke luar hendak menyusul Sopi ke rumah Mak Onah. Wanita itu tampak sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya. Ia merasa heran saat dari kejauhan tampak putranya sedang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Wanita itu pun menyuruh putranya masuk dan menyodorkan segelas air putih yang langsung diteguk habis oleh Pak Asep.
“Heh, nyari apaan kamu teh? Tuh minum udah Emak ambilin. Kalau cemilan mah kebetulan lagi kosong.” Mak Onah memandang heran putranya yang mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumahnya.
“Mak, Sopi ada di sini?” Kembali Pak Asep mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di rumah Emaknya.
Kening Mak Onah berkerut, heran dengan pertanyaan putranya. “Kalian kan tinggal serumah, kok nanya Sopi ke Emak?”
“Jadi, Sopi enggak ada di sini?” Pak Asep malah balik bertanya. Wajahnya mulai terlihat panik. Ia pun bangkit dari duduknya.
“Mau ke mana, Sep? Ada apa sebenarnya?” Asep menyerahkan surat yang ditulis Sopi kepada Mak Onah. Sejurus kemudian wanita itu membacanya dengan saksama. Raut wajahnya tampak serius.
“Seharusnya sudah sejam yang lalu dia tiba di sini,” ucap Mak Onah pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Duh, Sopi teh ke mana atuh ya, Mak?” Hati Pak Asep semakin diliputi rasa kuatir. Peluh mulai bercucuran di pelipisnya. Raut wajah Mak Onah pun sama-sama tegang, ikut merasakan kegelisahan yang sedang melanda putranya.
“Makanya, ini kan bukan zaman Siti Nurbaya. Kamu teh meuni seenaknya jodoh-jodohin Sopi.”
Pak Asep menyesali tindakannya, hingga membuat gadis itu pergi dari rumah. Kini entah di mana putrinya berada. Tak berapa lama, ia pun pamit untuk mencari putri kesayangannya. Namun, Mak Onah yang juga merasa sangat kuatir akan keberadaan cucunya, minta untuk ikut mencari. Akhirnya, mereka berdua berjalan menyusuri desa, berharap menemukan sosok cantik yang sangat dicintai.
“Sep, ngapain kamu bawa Emak ke kedai ini? Kamu belum sarapan? Kenapa tadi enggak makan di rumah Emak atuh?!” Mak Onah tampak kesal saat putranya membawa dia ke kedai serabi milik orang yang sangat dibencinya. Dulu, Mak Otih pernah berusaha merebut sang suami. Untunglah almarhum suaminya itu setia, sehingga tidak tergoda sedikit pun. Matanya menerawang, senyumnya terkembang ketika membayangkan sosok gagah perkasa sang suami yang mirip Gatotkaca.
Pak Asep memandang heran Mak Onah yang memasang muka cemberut. Sungguh, ia tak mengerti mengapa Ibunya begitu membenci Mak Otih dan sama sekali tak mau makam kue serabi yang terkenal lezat ini.
“Assalamuaalaikum, Mak. Aden ada?” Pak Asep mencium takzim punggung tangan Mak Otih. Mak Onah memalingkan wajah melihatnya. Sebal.
“Waalaikumsalam, ada, sebentar ya, Den, Aden, ada yang nyari nih!” teriak Mak Otih. Tidak berapa lama, Aden pun keluar.
“Eh, Pak Asep, ada apa Pak?” Aden mencium tangan Pak Asep, kemudian ia hendak mencium punggung tangan Mak Onah, namun Neneknya Sopi itu tak membalas uluran tangan pemuda ganteng itu.
“Sep, Emak mah pulang aja ya, panas lama-lama berada di sini. Kabari Emak kalau Sopi sudah ditemukan.” Mak Onah melangkahkan kakinya lebar-lebar, bergegas meninggalkan kedai itu, diiringi tatapan bengong Pak Asep dan pandangan heran Aden juga Mak Otih.
“Maafin Emak saya, ya. Beliau lagi sakit gigi, jadinya agak sensitif begitu.” Pak Asep mencoba mencari alasan atas sikap Mak Onah.
Aden memandang heran ke wajah mantan guru pencak silatnya yang kelihatan tegang itu. Pak Asep menceritakan tentang kepergian Sopi dari rumah yang katanya mau minggat ke rumah Nenek, tetapi gadis itu tak diketahui ke mana rimbanya. Setelah pamit pada Mak Otih, mereka berdua pun berangkat menyusuri setiap sudut desa mencari keberadaan gadis cantik itu.
***
“Duh, Den, kita harus cari ke mana lagi ya? Belum terlihat tanda-tanda keberadaan Sopi. Kamu di mana atuh Geulis? Baik-baik aja kan di sana?” Pak Asep terlihat sangat cemas. Wajahnya membiaskan kelelahan. Namun, ia tepiskan rasa itu. Kuatir akan keadaan putrinya lebih besar dibandingkan apapun juga.
“Sabar, Pak, kita belum menyusuri seluruh ruas jalan desa ini. Udah Zuhur, Pak. Kita salat dulu di masjid itu yuk, sambil memanjatkan doa buat Neng Sopi juga.” Aden menunjuk sebuah mesjid besar yang terletak di ujung gang.
Pak Asep mengangguk lemah. Tidak berapa lama, mereka berdua sudah berbaur dengan orang-orang, khusyuk menunaikan salat Zuhur berjamaah di mesjid itu serta memanjatkan doa untuk Sopi.
“Den, kita istirahat sebentar di sini.” Pak Asep menenggak air mineral di dalam botol, kemudian ia menyodorkan satu botol lagi pada Aden. “Nih, minum dulu, Den.”
“Terima kasih, Pak. Oh, ya, boleh Aden tanya-tanya tentang Neng Geulis?” ucap Aden dengan nada ragu dan malu-malu.
“Tentu saja, biar lebih tahu tentang calon istrimu.” Pak Asep memandang wajah pemuda calon menantunya itu, yang raut wajahnya sedang tampak merah jambu itu.
Pipi Aden bersemu merah, hatinya berdesir aneh. “Pak, ngomong-ngomong sejak kapan Ibunya Neng Sopi meninggal?”
“Ibunya meninggal saat melahirkan dia. Makanya Bapak selalu berusaha membahagiakan dia, kasihan sejak kecil dia enggak merasakan kasih sayang seorang Ibu.” Netra Pak Asep berkaca-kaca. Sekelebat bayang wajah sang istri muncul di pelupuk matanya.
Aden manggut-manggut, “Lantas, Pak—maaf sebelumnya kalau Aden lancang, tetapi Aden penasaran sama dandanan juga gaya bicara Neng Geulis yang—maaf, terlihat aneh.”
“Hahaha, iya dia memang unik. Logat bicaranya dan dandanannya seperti itu sejak lulus kuliah jurusan sastra Inggris. Bapak juga enggak tahu dia dapat pengaruh dari mana.” Pak Asep tergelak membayangkan style dandanan dan gaya bicara putri semata wayangnya itu.
Oh, pantesan atuh si Eneng teh begitu. Sekali lagi Aden manggut-manggut.
“Makanya, Den, kalau memang kalian ditakdirkan berjodoh, Bapak titip Sopi ya. Selama ini Bapak belum maksimal membimbing dia, terutama dalam hal agamanya. Tolong, bimbing dia untuk lebih mengenal Islam.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak Aden.
Aden mengangguk. “Pak, udah enggak capek kan? Kita lanjutkan mencari Neng Sopi yuk.”
Pak Asep mengangguk, kemudian dua laki-laki itu beranjak dari teras mesjid. Berdua mereka melangkah meninggalkan mesjid, melanjutkan pencarian.
***
Baca cerpen lainnya di sini:
[Link DISINI[URL=]link di sini[/URL]


Sumber: gambar di sini
Sepagi ini kedai Mak Otih sudah penuh sesak. Serabi buatan Mak Otih memang yang paling terkenal di desa Cipedes ini. Penganan yang terbuat dari campuran tepung terigu yang gurih dan air kelapa, banyak diburu oleh warga desa ini dan menjadi alternatif pilihan untuk sarapan. Cara memasaknya yang masih tradisional—menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat serta kayu bakar di bawahnya untuk mematangkan serabinya—membuat serabi ini memiliki rasa dan aroma yang khas. Varian serabinya hanya dua macam, yaitu topping oncom sangrai untuk rasa asin, dan serabi disiram kuah gula merah atau kinca untuk yang rasa manis. Bahkan, untuk serabi topping oncom bisa ditambahkan telur agar rasanya semakin gurih.
Sopi mengamati tangan Mak Otih yang menyendok adonan serabi ke dalam wajan tanah liat dengan cekatan. Adonan yang masih cair itu kemudian ditaburi oncom sangrai. Asap mengepul dari sana. Aroma serabi yang hampir matang membuat gadis itu menelan saliva berulang kali. Perutnya semakin keroncongan. Terbayang di mulutnya rasa legit kuah kinca bercampur dengan kue serabi yang gurih, lezat rasanya.
Empat orang pemuda iseng mulai melirik nakal ke arah Sopi yang terlihat cantik. Salah satu dari mereka mulai menggodanya.
"Hai, Neng geulis, sendirian aja nih. Boleh Akang temenin?"
"Akang mah mau langsung kenalan aja, boleh enggak?" Seorang pemuda lainnya mulai mendekati Sopi. Sementara dua pemuda yang lainnya hanya tertawa-tawa.
Sopi mulai jengah dengan gangguan dari keempat pemuda itu. Bahkan salah satunya yang tadi minta kenalan mulai berani mencolek lengannya. Segera saja Sopi menepis tangan jahil pemuda jangkung berambut keriting itu. Memangnya aku ini sabun colek apa? pikir Sopi, kesal.
"Widih, si Eneng meuni sombong ih. Belum tahu ya kita ini siapa? Kita teh F4, tapi bukan pemeran di drama Meteor Garden ya. Saya Firman, itu Fikri, Farid, dan Ferdi." Pemuda berkaus biru donker berlogo salah satu superhero terkenal di dunia, menunjuk ke arah ketiga temannya sambil ikut mendekat ke arah Sopi.
Sopi masih membisu, dalam hati ia geram dengan tingkah para pemuda itu. Perempuan di kedai ini kan banyak, kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini? gumamnya.
Melihat gadis itu beranjak dari tempat duduknya, hendak berlalu dari kedai, keempat pemuda itu malah semakin gencar menggodanya.
"Mau ke mana Neng? Buru-buru amat. Kita kan belum saling mengenal. Tukeran nomor hp aja belum, udah mau pergi. Rumahnya di mana sih? Akang antar ya. Tenang, dijamin aman, selamat sampai tujuan." Pemuda berkaus hitam bergambar logo band Linkin Park mengejar Sopi dan menggenggam tangan gadis itu.
Sopi berusaha melepaskan diri, tetapi genggaman tangan pemuda itu malah semakin kuat. Ia meringis kesakitan. Keempat pemuda itu tertawa puas.
"Heii, kalian! Lepaskan gadis itu. Belum tahu ya kalau dia itu pacar saya? Seenaknya main antar pacar orang. Yuk, Neng Akang antar." Suara seorang lelaki tampan berdandan ala Kabayan berhasil menghalau keempat pemuda itu. Mereka pun menjauh dari Sopi. Setelah berpamitan pada Emaknya yang tengah membalikkan serabi dari wadah, pemuda itu pun berjalan beriringan dengan sang gadis.
"Yuk, Neng. Enggak usah takut, saya mah bukan lelaki cunihin seperti mereka. Kalau mau jahil ke perempuan, saya selalu ingat sama Emak. Gimana kalau Emak juga digodain kayak gitu? Saya pasti marah besar," ucap lelaki itu setelah agak menjauh dari kedai.
Dalam hati, Sopi memuji ucapan pemuda di sampingnya yang sangat santun dan hormat memperlakukan ibunya. Yang jadi istrinya, sudah pasti akan diperlakukan dengan baik juga. Sopi malu sendiri, dan buru-buru menepis pikiran yang baru saja terlintas di benaknya. Mereka berjalan berdampingan. Keduanya sama-sama merasa canggung, tak ada yang berani membuka percakapan. Hanya sesekali mereka saling beradu pandang, kemudian sama-sama tersenyum dan menunduk, malu. Hingga tiba di tempat tujuan pun, mereka masih diam seribu bahasa.
Sementara itu, Pak Asep yang sedari tadi merasakan perasaannya tak enak, selalu terbayang wajah putri cantiknya. Rasa kuatir menggelayuti pikirannya, takut sesuatu menimpa Sopi. Sesekali ia menatap ke arah jalan, mencari sosok yang membuat hatinya gelisah. Tidak berapa lama, ia melihat gadis itu. Namun, ia tidak sendirian, seorang pemuda jangkung terlihat berjalan di sampingnya.
"Hei, pemuda, siapa kamu? Kenapa tampang anakku seperti ketakutan begitu? Hmm, mau macam-macam ya sama anak Jawara Pencak Silat ini? Hayu lah, Bapak mah enggak takut. Kita tandang di lapang sebelah!" Pak Asep sudah pasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang sosok yang terlihat sebagai ancaman bagi putri tersayangnya. Sopi dan Aden pun bengong.
Dengan kekuatan penuh, Pak Asep bersiap melayangkan pukulan ke arah pemuda tampan yang sedang berdiri di samping putrinya.
“Daddy—Daddy, calm down.” Sopi menghalangi serangan ayahnya dengan menggenggam tangan pria paruh baya itu yang sudah bulat terkepal dengan sempurna.
“Minggir, Sopi. Biar dia merasakan bogem mentah Bapak. Walau Bapakmu ini sudah tua, tapi Bapak masih kuat. Ayo sini, pemuda, lawan!” Pak Asep menghempaskan tangan Sopi yang menghalanginya.
“Pak Asep? Ini benar Pak Asep kan? Alhamdulillah, akhirnya kita ketemu juga.” Aden mencium punggung tangan pria di hadapannya yang napasnya masih tak beraturan. Emosi memenuhi rongga dadanya. Kedua matanya memelotot ke arah pemuda itu.
“Apa-apaan kamu? Diajak tanding malah cium tangan? Nyalimu ciut, Jang?” Pak Asep menghempaskan tangan Aden dengan kasar.
“Bapak lupa ya? Ini teh Aden, putranya Mak Otih. Dulu waktu SD Aden kan belajar pencak silat dari Bapak. Wah senangnya masih bisa berjumpa dengan guru bela diri favorit Aden.”
Mendengar penuturan pemuda yang berdiri di hadapannya, perlahan-lahan emosi Pak Asep menurun. “Jadi, ini Aden? Masya Allah, meuni kasep. Maafkan Bapak yang terlalu kuatir dengan keselamatan putri Bapak satu-satunya. Maklum, sejak Ibunya meninggal, hanya dia yang Bapak miliki di dunia ini. Bapak enggak mungkin lupa, hanya tadi mah pangling aja, sampai-sampai enggak ngenalin. Kamu kan yang pernah ngompol, ketakutan karena Bapak bentak, hahaha. Terus kamu itu terkenal paling cengeng di antara murid-murid Bapak yang lain. Kesenggol sedikit saja nangis kejer.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak bekas murid pencak silatnya itu.
Aden tersipu malu sambil melirik gadis cantik di sampingnya yang sedang bengong menyaksikan percakapan antara dirinya dan Pak Asep. “Jadi, Eneng ini teh putrinya Bapak?” lanjutnya.
“Iya, ini namanya Sopi, anak Bapak. Hayu atuh masuk, kita ngobrol-ngobrol di dalam. Sopi suguhkan makanan sama minuman.”
Sopi beranjak menuju dapur menyiapkan suguhan untuk sang tamu. Sementara itu Aden dan sang Ayah sudah duduk di kursi ruang tamu. Sesekali, Pak Asep melirik Aden yang mencuri pandang ke arah Sopi. Sepertinya pemuda itu tertarik pada putrinya. Sebuah senyuman tersungging di bibir lelaki paruh baya itu. Sementara Aden, yang kepergok sedang curi-curi pandang, jadi salah tingkah. Hatinya mengakui perempuan itu memang cantik, hanya dandanannya saja yang menurutnya terlalu berlebihan alias menor. Andai gadis itu berdandan sederhana, aura kecantikannya akan terpancar alami. Tidak berapa lama, Sopi muncul dengan baki berisi dua gelas teh manis dan beberapa stoples berisi kue kering juga makanan ringan.
“Ayo—ayo dimakan, Den,” tawar Pak Asep setelah Sopi menaruh semua bawaannya di atas meja.
“Eh iya, ngomong-ngomong serabi pesanan Bapak mana?” Kali ini pandangan mata pria itu beralih pada Sopi.
“My mood is going down, Daddy. So maafkan Sovia yang tak jadi membelinya.”
Aden menatap heran gadis yang duduk di samping Pak Asep. Buset, bukan hanya dandanannya yang lain, cara bicaranya juga aneh, gumamnya.
“Kok bisa?” Kening Pak Asep berkerut. Tak mengerti dengan kalimat yang diucapkan putrinya barusan. Sejurus kemudian, lelaki itu manggut-manggut menyimak cerita putrinya.
“Duh, Den. Maafkan Bapak yang sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Terima kasih telah menyelamatkan putri Bapak." Sudah waktunya Sopi punya pendamping hidup, yang akan melindunginya dari marabahaya, gumam Pak Asep dalam hati sambil menatap lekat-lekat Aden yang sedang mencuri pandang ke arah wajah Sopi. Untung saja, pemuda ini baik hati, jadi dia tetap membiarkan Aden memandang wajah Sopi sampai puas. Kalau pemuda culas yang melakukannya, pasti sudah dia gibas tanpa ampun sampai kapok.
***
“Daddy, ini kopinya.”
“Terima kasih, Sopi.” Gadis cantik itu mengangguk dan beranjak hendak menuju kamarnya.
“Sopi, mau ke mana? Sini duduk dulu sebentar, Bapak mau bicara.”
“Daddy, Sovia mau ke kamar, belum beres merapihkan alis.”
“Bentar doang kok. Enggak nyampe lima belas menit.” Pak Asep menyeruput kopinya. “Sopi, kopi buatan kamu mengingatkan Bapak sama almarhumah Ibumu. Racikannya sama-sama enak. Rasa kopi dan gulanya seimbang, pas.”
Sopi tersenyum melihat Ayahnya yang begitu penuh penghayatan menyeruput kopinya, terlihat sekali pria paruh baya itu menikmati setiap tegukan cairan hitam itu yang masuk ke kerongkongannya.
“Jadi begini, Geulis. Kamu sekarang sudah besar. Kuliah pun sudah selesai.” Pak Asep menatap wajah putri tersayangnya sebelum ia melanjutkan bicara. Pria itu tampak memutar otak mencari kalimat yang pas untuk menyampaikan maksudnya pada Sopi. “Sudah saatnya Bapak melepasmu, Sopi,” lanjutnya.
“Maksud Daddy?” Sopi tercengang mendengar ucapan lanjutan dari Ayahnya. Dahinya berkerut, tak paham dengan arah pembicaraan sang Ayah.
“Begini, Neng. Maksud Bapak—kamu—sudah waktunya kamu punya pendamping hidup.”
“What? Jadi maksud Daddy Sovia harus segera married? Menikah begitu? No, Daddy!”
“Dengar dulu Sopi. Bapak sudah pikirkan matang-matang hal ini. Bapak ....”
“Tapi, Daddy. Sovia enggak mau berpisah dari Daddy.” Sopi mulai terisak.
“Jangan nangis atuh, Neng. Bapak kan jadi ikut sedih. Setelah menikah nanti Sopi boleh kok tinggal di sini. Lagian calon kamu juga tinggalnya deket-deket sini kok.” Pak Asep mengelus lembut punggung putri tercintanya itu.
“Memangnya siapa orangnya, Daddy?” tanya Sopi, heran. Keningnya berkerut, seolah mencari siapa sosok pemuda yang tinggal di dekat sini. Ia menggelengkan kepalanya, nihil. Tak satu pun wajah lelaki yang bisa terbayang di benaknya.
“Kamu mau kan Bapak nikahkan sama Aden?” Pak Asep malah balik bertanya.
Sopi terperanjat mendengar Ayahnya menyebut nama itu. “What? Daddy enggak salah jodohin Sovia sama dia? Orangnya ganteng sih, tapi dandanannya persis seperti si Kabayan. Jangan-jangan dia juga pemalas, sama seperti Kabayan itu.”
“Sopi, kamu ingat waktu dia melindungi kamu dari pemuda-pemuda yang mengganggu?” Sopi mengangguk. “Nah, Bapak rasa dia bisa menjaga kamu dengan baik. Kesan pertama melihat dia, Bapak yakin dia anak yang baik, tidak seperti kebanyakan pemuda lainnya.”
Sopi tertegun. Pak Asep membiarkan gadis itu hanya diam saja, mungkin putrinya sedang mencoba meresapi semua ucapannya. Hanya helaan napas gadis cantik itu yang sesekali terdengar.
Setelah hening beberapa saat, tak lama kemudian, Sopi pun buka suara, “Baiklah, Daddy, beri Sovia waktu untuk berpikir.” Gadis itu menyeret langkahnya menuju kamar, meninggalkan Pak Asep yang di hatinya tengah berharap sang putri mau menerima rencana perjodohan ini.
Satu jam berlalu. Namun, tak ada tanda-tanda Sopi keluar dari kamarnya. Pak Asep pun merasa heran. Ia mulai mengetuk pintu kamar Sopi.
“Sopi, Neng, sarapan yuk.” Tak ada sahutan. “Geulis, Bapak udah bikinin telor ceplok kesukaan kamu. Kita makan bareng yuk.” Tetap tak ada sahutan. “Sopi, lagi apa di dalam? Masih dandan atau lanjutin mimpi? Masa baru juga bangun udah tidur lagi.”
Karena tak terdengar juga sahutan dari Sopi, Pak Asep membuka pintu kamar yang ternyata tak dikunci oleh pemiliknya. Namun, betapa kagetnya Pak Asep saat ia tak menemukan putrinya di dalam kamar itu. Ia mendapati jendela kamar putrinya terbuka lebar.
“Sopi? Kamu di mana, Nak? Ini mah ngajak Bapak main petak umpet ya?” Pak Asep mulai berkeliling ke seluruh ruangan, tetapi tetap saja ia tak menemukan putrinya. “Duh, Sopi. Kamu teh ke mana atuh? Bapak jadi kuatir.” Pak Asep memutuskan kembali ke kamar Sopi, siapa tahu di sana dia bisa menemukan petunjuk. Netra Pak Asep jatuh pada secarik kertas di atas nakas yang berisi tulisan tangan Sopi.
Daddy, maaf, Sovia gak bermaksud bikin Daddy cemas. Sovia hanya kesal mendengar rencana Daddy. Biarlah Sovia bertemu jodoh Sovia dengan sendirinya. Dan Sovia akan menikah setelah benar-benar merasa siap. Don’t worry Daddy, saat Daddy membaca surat ini, Sovia sudah berada di rumah Grandma.
Setelah membaca surat itu, Pak Asep yang sedari tadi pikirannya kalut, kini merasa lega. Bergegas lelaki itu melangkah ke luar hendak menyusul Sopi ke rumah Mak Onah. Wanita itu tampak sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya. Ia merasa heran saat dari kejauhan tampak putranya sedang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Wanita itu pun menyuruh putranya masuk dan menyodorkan segelas air putih yang langsung diteguk habis oleh Pak Asep.
“Heh, nyari apaan kamu teh? Tuh minum udah Emak ambilin. Kalau cemilan mah kebetulan lagi kosong.” Mak Onah memandang heran putranya yang mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumahnya.
“Mak, Sopi ada di sini?” Kembali Pak Asep mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di rumah Emaknya.
Kening Mak Onah berkerut, heran dengan pertanyaan putranya. “Kalian kan tinggal serumah, kok nanya Sopi ke Emak?”
“Jadi, Sopi enggak ada di sini?” Pak Asep malah balik bertanya. Wajahnya mulai terlihat panik. Ia pun bangkit dari duduknya.
“Mau ke mana, Sep? Ada apa sebenarnya?” Asep menyerahkan surat yang ditulis Sopi kepada Mak Onah. Sejurus kemudian wanita itu membacanya dengan saksama. Raut wajahnya tampak serius.
“Seharusnya sudah sejam yang lalu dia tiba di sini,” ucap Mak Onah pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Duh, Sopi teh ke mana atuh ya, Mak?” Hati Pak Asep semakin diliputi rasa kuatir. Peluh mulai bercucuran di pelipisnya. Raut wajah Mak Onah pun sama-sama tegang, ikut merasakan kegelisahan yang sedang melanda putranya.
“Makanya, ini kan bukan zaman Siti Nurbaya. Kamu teh meuni seenaknya jodoh-jodohin Sopi.”
Pak Asep menyesali tindakannya, hingga membuat gadis itu pergi dari rumah. Kini entah di mana putrinya berada. Tak berapa lama, ia pun pamit untuk mencari putri kesayangannya. Namun, Mak Onah yang juga merasa sangat kuatir akan keberadaan cucunya, minta untuk ikut mencari. Akhirnya, mereka berdua berjalan menyusuri desa, berharap menemukan sosok cantik yang sangat dicintai.
“Sep, ngapain kamu bawa Emak ke kedai ini? Kamu belum sarapan? Kenapa tadi enggak makan di rumah Emak atuh?!” Mak Onah tampak kesal saat putranya membawa dia ke kedai serabi milik orang yang sangat dibencinya. Dulu, Mak Otih pernah berusaha merebut sang suami. Untunglah almarhum suaminya itu setia, sehingga tidak tergoda sedikit pun. Matanya menerawang, senyumnya terkembang ketika membayangkan sosok gagah perkasa sang suami yang mirip Gatotkaca.
Pak Asep memandang heran Mak Onah yang memasang muka cemberut. Sungguh, ia tak mengerti mengapa Ibunya begitu membenci Mak Otih dan sama sekali tak mau makam kue serabi yang terkenal lezat ini.
“Assalamuaalaikum, Mak. Aden ada?” Pak Asep mencium takzim punggung tangan Mak Otih. Mak Onah memalingkan wajah melihatnya. Sebal.
“Waalaikumsalam, ada, sebentar ya, Den, Aden, ada yang nyari nih!” teriak Mak Otih. Tidak berapa lama, Aden pun keluar.
“Eh, Pak Asep, ada apa Pak?” Aden mencium tangan Pak Asep, kemudian ia hendak mencium punggung tangan Mak Onah, namun Neneknya Sopi itu tak membalas uluran tangan pemuda ganteng itu.
“Sep, Emak mah pulang aja ya, panas lama-lama berada di sini. Kabari Emak kalau Sopi sudah ditemukan.” Mak Onah melangkahkan kakinya lebar-lebar, bergegas meninggalkan kedai itu, diiringi tatapan bengong Pak Asep dan pandangan heran Aden juga Mak Otih.
“Maafin Emak saya, ya. Beliau lagi sakit gigi, jadinya agak sensitif begitu.” Pak Asep mencoba mencari alasan atas sikap Mak Onah.
Aden memandang heran ke wajah mantan guru pencak silatnya yang kelihatan tegang itu. Pak Asep menceritakan tentang kepergian Sopi dari rumah yang katanya mau minggat ke rumah Nenek, tetapi gadis itu tak diketahui ke mana rimbanya. Setelah pamit pada Mak Otih, mereka berdua pun berangkat menyusuri setiap sudut desa mencari keberadaan gadis cantik itu.
***
“Duh, Den, kita harus cari ke mana lagi ya? Belum terlihat tanda-tanda keberadaan Sopi. Kamu di mana atuh Geulis? Baik-baik aja kan di sana?” Pak Asep terlihat sangat cemas. Wajahnya membiaskan kelelahan. Namun, ia tepiskan rasa itu. Kuatir akan keadaan putrinya lebih besar dibandingkan apapun juga.
“Sabar, Pak, kita belum menyusuri seluruh ruas jalan desa ini. Udah Zuhur, Pak. Kita salat dulu di masjid itu yuk, sambil memanjatkan doa buat Neng Sopi juga.” Aden menunjuk sebuah mesjid besar yang terletak di ujung gang.
Pak Asep mengangguk lemah. Tidak berapa lama, mereka berdua sudah berbaur dengan orang-orang, khusyuk menunaikan salat Zuhur berjamaah di mesjid itu serta memanjatkan doa untuk Sopi.
“Den, kita istirahat sebentar di sini.” Pak Asep menenggak air mineral di dalam botol, kemudian ia menyodorkan satu botol lagi pada Aden. “Nih, minum dulu, Den.”
“Terima kasih, Pak. Oh, ya, boleh Aden tanya-tanya tentang Neng Geulis?” ucap Aden dengan nada ragu dan malu-malu.
“Tentu saja, biar lebih tahu tentang calon istrimu.” Pak Asep memandang wajah pemuda calon menantunya itu, yang raut wajahnya sedang tampak merah jambu itu.
Pipi Aden bersemu merah, hatinya berdesir aneh. “Pak, ngomong-ngomong sejak kapan Ibunya Neng Sopi meninggal?”
“Ibunya meninggal saat melahirkan dia. Makanya Bapak selalu berusaha membahagiakan dia, kasihan sejak kecil dia enggak merasakan kasih sayang seorang Ibu.” Netra Pak Asep berkaca-kaca. Sekelebat bayang wajah sang istri muncul di pelupuk matanya.
Aden manggut-manggut, “Lantas, Pak—maaf sebelumnya kalau Aden lancang, tetapi Aden penasaran sama dandanan juga gaya bicara Neng Geulis yang—maaf, terlihat aneh.”
“Hahaha, iya dia memang unik. Logat bicaranya dan dandanannya seperti itu sejak lulus kuliah jurusan sastra Inggris. Bapak juga enggak tahu dia dapat pengaruh dari mana.” Pak Asep tergelak membayangkan style dandanan dan gaya bicara putri semata wayangnya itu.
Oh, pantesan atuh si Eneng teh begitu. Sekali lagi Aden manggut-manggut.
“Makanya, Den, kalau memang kalian ditakdirkan berjodoh, Bapak titip Sopi ya. Selama ini Bapak belum maksimal membimbing dia, terutama dalam hal agamanya. Tolong, bimbing dia untuk lebih mengenal Islam.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak Aden.
Aden mengangguk. “Pak, udah enggak capek kan? Kita lanjutkan mencari Neng Sopi yuk.”
Pak Asep mengangguk, kemudian dua laki-laki itu beranjak dari teras mesjid. Berdua mereka melangkah meninggalkan mesjid, melanjutkan pencarian.
***
Baca cerpen lainnya di sini:
[Link DISINI[URL=]link di sini[/URL]

Diubah oleh suciasdhan 30-06-2020 09:33
novianalinda dan 79 lainnya memberi reputasi
80
14.6K
634
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
suciasdhan
#48
Buka Hati

Sumber gambar: google.com
I Want You To Be Mine
17 Juli 2018, hari pertama masa orientasi mahasiswa baru di kampus
Namaku Yura, aku berasal dari Bandung, tepatnya daerah Cimahi. Saat ini aku tercatat sebagai mahasiswa baru di salah satu kampus keguruan dan ilmu pendidikan yang terletak di kota Cimahi.
Sebelum perkuliahan dimulai, sama seperti kampus-kampus lainnya, di kampusku pun ada masa orientasi mahasiswa baru atau dikenal dengan istilah ospek yang diadakan selama tiga hari lamanya. Di kampusku ini ada tiga jurusan yaitu bahasa Inggris, PPKN, dan olahraga. Aku memilih masuk jurusan bahasa Inggris, karena dari sejak SMA aku suka mata pelajaran bahasa Inggris.
Di masa orientasi hari pertama ini belum begitu banyak yang kukenal. Aku hanya baru akrab dengan dua orang mahasiswa yang sekelas denganku, yang pertama Alina, dengan yang satu ini aku sudah merasa tak asing lagi, dia sahabatku sejak SMA dan sekarang masuk ke kampus yang sama, dan sekelas pula, yang kedua kenalan baruku yang berasal dari Kuningan, namanya Sheryl. Dengan dua orang inilah aku merasa nyaman dan tak sungkan untuk berbagi cerita, suka maupun duka. Hari pertama masa orientasi pun telah dimulai, semua mahasiswa dari ketiga jurusan dikumpulkan dalam satu aula serta diberi sambutan-sambutan dan penjelasan seputar kampus.
18 Juli 2018, hari kedua masa orientasi mahasiswa baru di kampus
Masa orientasi sudah memasuki hari kedua, berbeda dengan hari pertama, yang kegiatannya banyak diisi oleh para dosen beserta jajarannya, di hari kedua ini, banyak diisi oleh senior-senior atau dikenal dengan sebutan kakak tingkat.
Mahasiswa baru sudah dibagi ke dalam kelompok dan setiap kelompok ada satu orang senior yang bertindak sebagai mentor. Alhamdulillah aku satu kelompok dengan dua teman yang sudah akrab denganku, Alina dan Sheryl. Memang kami bertiga sudah ditakdirkan berjodoh kali ya, bagaikan ban becak yang tak terpisahkan, he…he…he. Hari kedua ini seru, karena banyak simulasi dan challenge atau games dari kakak tingkat. Seperti mengumpulkan banyak tanda tangan dari senior, tapi harus menjawab pertanyaan atau diberi challenge terlebih dahulu.
Mentor kelompokku bernama Kak Aldo, dia mahasiswa semester akhir jurusan olahraga. Orangnya ramah, baik hati, dan bertanggung jawab sebagai mentor. Dia selalu mengecek keadaan setiap anggota di kelompokku. Perawakannya tinggi, kulitnya hitam manis, dan dia orangnya humoris. Entah mengapa setiap kali aku melihatnya, ada desir aneh yang muncul dalam dada, setiap dia bicara padaku, rasanya lidah ini kelu untuk menjawabnya, bahkan aku tak sanggup menatap matanya yang teduh itu. Mungkinkah ini yang dinamakan love at the first sight?
Ah aku buru-buru membuang pikiran itu, aku tak ingin tergesa menyimpulkan perasaanku ini, biar waktu yang akan menjawabnya. Ada pula rasa tak suka saat tampak Kak Aldo sering terlihat berdua dengan Kak Vera, salah satu mentor juga, dia mahasiswa semester 6 jurusan bahasa Inggris. Mereka terlihat begitu dekat dan akrab. Mungkinkah aku cemburu? Duhai hati ada apa gerangan denganmu? Mengapa pula harus cemburu, aku tak berhak untuk itu, karena aku bukan siapa-siapa Kak Aldo.
“Cie yang dari tadi merhatiin Kak Aldo, khusyuk gitu sampai-sampai kita dicuekkin dari tadi, kayaknya ada yang agak cemburu juga nih,” ledek Alina sambil menyikut tanganku.
Sheryl menambahkan, “woow, ada yang cinta lokasi nih rupanya, prikitiiiw!”
“Hush apaan sih kalian?” Gurauan mereka membuat pipiku bersemu merah.
“Yura sayang, aku itu sahabatmu sejak SMA, aku tahu kok gelagat kamu seperti apa kalau sedang jatuh cinta, besok ada challenge bikin surat cinta buat mentor, manfaatkan ya siapa tahu Kak Aldo punya perasaan yang sama, nothing is impossible bukan?” ucap Alina yang diaminkan oleh Sheryl.
“Aamiin, semangat ya, nanti malam bikin kata-katanya yang puitis, biar bisa jadi the best letter dan dibacakan di depan.”
“Kalian ini ngaco ah,” hatiku berdebar kencang mendengar ledekan-ledekan kedua temanku itu, Kak Aldo, desir indah dalam dada itu kembali hadir saat aku menggumamkan namanya, mungkinkah aku jatuh cinta padanya?
19 Juli 2018, hari ketiga masa orientasi mahasiswa baru di kampus
Hari terakhir masa orientasi, hari ini mahasiswa baru ditantang untuk menulis surat cinta buat mentor yang disukai. Entah aku memperoleh kekuatan dari mana, hingga aku memberanikan diri membuat surat untuk Kak Aldo. Padahal kalau bertemu secara langsung, jangankan berkata-kata, menatap matanya pun aku tak sanggup. Tak kusangka namaku dipanggil ke depan karena suratku dinilai the best dan harus membacakannya di depan semuanya.
Kedua temanku memberi semangat. Entah bagaimana wajahku saat ini, yang jelas aku malu, aku tak menyangka terpilih dan membacakan surat hasil tulisanku, jantungku berdebar kencang, keringat dingin bercucuran, ingin rasanya lari saja, setelah menghela napas berkali-kali, akhirnya dengan suara bergetar kubaca untaian kata demi kata yang kutulis dalam suratku itu. setelah aku selesai membacakan suratku, semua yang ada di aula itu bertepuk tangan, perasaanku lega bercampur dengan rasa malu dan senang setelah selesai membacanya, sempat kulirik Kak Aldo yang berdiri tak jauh dari tempatku berdiri, ekspresinya biasa-biasa saja, ada sedikit perasaan kecewa menyeruak.
Kali ini aku melihat ke arah Kak Vera. Ada tatapan tak suka yang kutangkap dari pandangan matanya, dalam hati mulai bertanya-tanya mungkinkah Kak Aldo dan Kak Vera berpacaran? Sedih rasanya bila ternyata jawabannya iya.
***
Sejak masa orientasi itu, tak dapat kupungkiri, aku memang menyukainya Sosoknya yang humoris dan rajin shalat, membuatku semakin tertarik padanya. Setiap hari rasanya aku selalu memikirkan Kak Aldo, bahkan dalam tidur pun dia selalu hadir sebagai bunga indah di mimpi-mimpiku.
Apalagi kedua sahabatku selalu memberiku semangat untuk memperjuangkan cinta ini, membuat aku ada sedikit rasa percaya diri untuk terus maju dan mempertahankan perasaanku padanya, walaupun mungkin nanti ada rintangannya, akan kuhadapi, aku yakin aku pasti bisa.
Cerita yang beredar disini, kebanyakan mahasiswa jurusan bahasa Inggris yang kelasnya dihuni banyak perempuan selalu saja berjodoh dengan mahasiswa jurusan olahraga yang kelasnya dihuni banyak laki-laki, tak sedikit yang di kampusnya berpacaran dan berakhir di pelaminan alias menikah. Walaupun ada juga satu dua yang berjodoh dengan mahasiswa PPKN, tapi jumlahnya dapat dihitung dengan jari, saking sedikitnya, he… he…he. Di dalam hati aku berdo’a semoga aku dan Kak Aldo bisa berjodoh.
Suatu hari Alina dan Sheryl dibuat panik, kaget, dan cemas, melihat aku sedang menangis sendirian di pojok kantin.
“Yura kenapa, kamu sakit?” tanya Alina sambil meraba dahiku. Aku menggeleng.
“Kenapa nangis, ada yang nyakitin kamu?” tanya Sheryl, sahabatku yang satu lagi. Untuk kedua kalinya aku menggeleng. “Lalu kenapa nangis?”
Aku menjawab dengan terisak. “Aku nggak tahan Al, Sher, setiap hari melihat kedekatan Kak Aldo sama Kak Vera, tadi aku sempat lihat mereka berdua asyik ngobrol sambil ketawa-ketawa gitu, apa mereka memang pacaran ya?”
“Sabar Yura, siapa tahu mereka cuma temenan. Eh iya beberapa bulan lagi kan Kak Aldo mau wisuda, saranku, sebelum Kak Aldo keluar dari kampus ini, mendingan kamu coba ungkapin perasaan kamu. Siapa tahu dia punya perasaan yang sama,” ucap Alina.
“Aku nggak berani, Al, kalau aku ditolak gimana, aku gak siap dan nggak akan sanggup menghadapinya.” Air mata masih merembes di pipi.
“At least setelah kamu ungkapin, kamu nggak akan penasaran lagi kan? Yang penting kamu udah berusaha, masalah hasilnya, itu gimana nanti deh, daripada kamu terus-menerus tersiksa dengan perasaanmu sendiri. Sebelum Kak Aldo wisuda, coba beranikan diri ungkapin perasaan kamu, kalau dia keburu keluar dari kampus ini, kamu bakalan nyesel lho nggak sempet bicara soal perasaan kamu. Nggak harus to the poin ngomong kayak nyatain gitu sih. Bisa dimulai dengan kasih perhatian-perhatian kecil ke dia, kayak bawain dia bekal makanan atau apalah.” Sheryl menambahkan.
Mendengar usul dari kedua sahabatku itu muncul kembali semangatku untuk memperjuangkan cinta ini. Duhai diri, mengapa sulit untuk berkata jujur padanya tentang rasaku ini?
***
Hari ini, aku melangkahkan kaki ke kampus dengan penuh semangat. Aku memberanikan diri membawa bekal sandwich dari rumah yang aku buat sendiri untuk Kak Aldo. Dalam hatiku bertekad, aku harus berani memulainya, bismillah.
Jantungku berdegup kencang saat kulihat Kak Aldo sedang duduk sendiri di pinggir lapangan kampus. Ketika aku hendak menghampiri Kak Aldo dan bersiap memberikan sandwich yang ada dalam wadah berbentuk kotak berwarna biru di tanganku, bersamaan dengan itu pula Kak Vera menghampiri Kak Aldo dan memberikan sebotol soft drink serta menyuapkan sepotong roti bakar ke dalam mulut Kak Aldo. Tampak dalam pandangan mataku Kak Aldo kelihatan bahagia menerima perhatian dan perlakuan Kak Vera barusan.
Menyaksikan hal itu, sakit rasanya hati ini bagai tersayat pisau. Aku langsung membuang sandwichnya ke tempat sampah dan bergegas berlari ke dalam kelas. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menangis, rasanya perasaanku seketika hancur berkeping-keping.
Alina dan Sheryl menatapku dengan iba dan berusaha meredakan tangisku.
“Sabar ya, percaya deh kalau Alloh mentakdirkan kalian berjodoh, apapun rintangannya, Alloh pasti menyatukan kalian,” kata Alina sambil mengusap punggungku.
“Iya Yura, Alloh hanya sedang mempersiapkan waktu yang tepat untuk suatu saat nanti mempersatukan kalian." Sheryl memelukku.
***
Sejak peristiwa kemarin, hari ini aku tidak masuk kuliah. Aku demam dan merasakan pusing yang amat sangat. Sekujur badanku rasanya sakit, yang lebih sakit lagi hati ini. Mataku sembab, karena semalaman aku menangis dan hanya berdiam diri di kamar. Mama dan Papa berkali-kali mengetuk pintu untuk mengajakku makan.
“Yura makan dulu yuk.” Suara lembut mama mengajakku makan.
“Yura ada apa, sini keluar dan cerita sama Papa, kayak waktu kecil dulu kamu sering berceloteh tentang banyak hal, atau kamu lagi sakit? Yuk periksa ke dokter,” ajak Papa.
Aku tetap tak bicara, suaraku parau. Tak berapa lama, kembali mama mengetuk pintu kamar dan memberitahukan sesuatu,
“Yura, ada dua teman kuliahmu tuh nanyain.”
Kudengar suara langkah Mama menjauh dari pintu kamar dan tak lama kemudian Mama terdengar berbicara.
“Sebentar ya, Yura nya lagi di kamar.”
Aku yakin teman kuliah yang menjengukku itu pasti Alina dan Sheryl. Buru-buru kubuka pintu kamar dan bergegas menghambur ke ruang tamu menemui mereka. Ternyata benar itu mereka. Aku setengah berlari menghampiri dan memeluk keduanya.
“Memangnya salah ya perasaanku ini? jatuh cinta itu kok rasanya tersiksa dan sakit begini,” curhatku di sela-sela isak tangis.
“Sudah Yura. Nggak ada yang salah dengan perasaan kamu. Cinta itu anugerah lho, Alloh pun nggak melarang kita untuk jatuh cinta.” Alina berusaha menenangkanku.
“Iya Yura, biarlah waktu yang bicara, biarlah waktu yang menjawab, kalau Kak Aldo ditakdirkan untukmu, suatu saat nanti kalian pasti akan bersatu, ini hanya soal waktu,” Sheryl menambahkan.
“Kasihan mama papamu mencemaskan keadaanmu, putri mereka satu-satunya. s
Sekarang makan ya, terus minum obat, badanmu panas begini.” Aku menuruti perintah Alina.
“Besok mumpung libur kuliah, yuk kita jalan-jalan ke Cimahi Mall, ada film baru lho yang seru buat ditonton,” ajak Sheryl dengan nada menghibur. Aku hanya mengangguk lemah.
***
Keesokan harinya, Alina dan Sheryl mengajakku jalan-jalan ke Cimahi Mall. Kondisi fisikku sekarang ini sudah agak membaik, hanya suasana hatiku yang masih belum sepenuhnya pulih. Walaupun aku merasa malas dan enggan, kuterima saja ajakan kedua sahabatku itu. Tak tega rasanya menolak ketulusan hati mereka yang berusaha menghiburku.
Setibanya di Cimahi Mall, kami makan dulu di salah satu food court yang ada di mall tersebut. Sesekali aku menanggapi gurauan-gurauan kedua sahabatku dengan senyum yang dipaksakan.
“Hei, lihat, itu Kak Vera, 'kan. Tapi sama siapa ya, kok mesra gitu. Wah .... Wah .... Wah, ada yang nggak beres nih. Di kampus sama Kak Aldo, di luaran sama cowok lain, ini namanya menduakan." Alina menunjuk ke arah kak Vera yang tengah berjalan bergandengan mesra dengan seorang cowok tinggi dan berkulit putih.
“Iya ya, kayaknya tuh cowok bukan anak kampus kita deh." Netra Sheryl terus mengamati kedua sejoli itu.
“Kita ikuti yuk, terus kita foto, buat bukti dan memberi tahu Kak Aldo soal ini,” ucap Alina sambil bersiap-siap menjepretkan kamera ponselnya ke arah mereka.
“Jangan Al." Aku mencegahnya.
“Lho …. lho …. lho, kenapa? Ini kesempatan emas buat kamu memperjuangkan cinta kamu sama Kak Aldo. Biar Kak Aldo terbuka mata hatinya, dan tahu cewek macam apa Kak Vera sebenarnya.” Alina berkata dengan nada berapi-api.
“Nggak usah Al, biar Kak Aldo tahu dengan sendirinya. Nggak usah dari mulut kita. Aku gak tega kalau lihat Kak Aldo terluka.”
“Lah, justru kalau dibiarkan, Kak Aldo akan semakin terluka.” Sheryl menatapku iba.
Aku hanya terdiam. Entah apa yang harus kulakukan. Perasaanku saat ini campur aduk tak karuan.
***
Hari ini aku kembali masuk kuliah. Keadaanku sudah lebih membaik dari hari-hari sebelumnya. Aku sangat bersyukur punya dua sahabat yang rasanya sudah seperti saudara sendiri, yang selalu saling berbagi dalam suka maupun duka. Hal inilah yang membuatku bisa segera pulih dari keterpurukanku.
Saat aku sedang duduk melamun sendiri, tiba-tiba kedua sahabatku yang entah datang dari arah mana mengagetkanku serta membuatku segera tersadar dari lamunanku. Yang satu menepuk pundakku, yang satu lagi menutup mataku dengan kedua tangannya.
“Surprise, selamat ulang tahun Yura cantik, wish you all the best ya!” seru Alina.
“Tiup lilinnya dan potong kuenya sambil make a wish ya.” Sheryl menyodorkan kue tart yang ada di tangannya ke arahku.
Aku melirik hp ku untuk melihat tanggalnya. Ya ampun, aku sampai lupa hari ulang tahunku sendiri. Terharu rasanya. Netraku mulai berkaca-kaca. Kupeluk kedua sahabatku itu bergantian.
“Eh Yura, aku punya berita penting lho buat kamu. This is a good news for you. Mau tahu nggak?” tanya Alina membuatku penasaran.
“Kak Aldo udah putus lho sama Kak Vera, katanya sih Kak Aldo melihat dengan mata kepalanya sendiri Kak Vera lagi jalan berdua sama cowok yang waktu itu pernah kita lihat.” Sheryl menjelaskan membuat rasa penasaranku seketika menguap.
“Yes Yura, it’s your turn. Ini kesempatan kamu buat deketin Kak Aldo dan menyatakan perasaan kamu selama ini.”
Aku membisj mendengar berita yang disampaikan kedua sahabatku itu. Entah aku harus senang, entah harus sedih. Yang pasti saat ini Kak Aldo sedang terluka.
“Udah sana, nggak usah kelamaan mikir, samperin gih, Kak Aldo lagi duduk di depan mesjid tuh." Jari telunjuk Sheryl menuding ke arah cowok berjaket biru yang sedang termenung sendirian.
Alina menarik tanganku untuk berdiri. Aku beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Kak Aldo. Langkahku sedikit ragu. Kulihat Kak Aldo yang sedang duduk melamun sendiri. Sepertinya sudah beberapa hari ini aku tak memperhatikan Kak Aldo, dan pada hari ini di hadapanku tampak sosok Kak Aldo yang lain dari biasanya. Kak Aldo yang ramah, Kak Aldo yang humoris, Kak Aldo yang matanya teduh kini berubah menjadi Kak Aldo yang berwajah murung, tatapan matanya kosong, kelihatan sekali Kak Aldo sedang terpuruk, hatinya tengah terluka, aku memberanikan diri menyapanya.
“Kak, boleh aku duduk disitu?”
“Ya silahkan.” Kak Aldo berusaha tersenyum padaku walau ku tahu itu sebuah senyuman yang dipaksakan.
”Kak, aku ikut sedih mendengar berita tentang Kakak sama Kak Vera, Kakak yang tabah ya, tapi aku yakin suatu saat nanti Kakak bakal ketemu sama perempuan yang dengan tulus mencintai Kakak dan gak akan menyakiti hati Kakak, soalnya Kakak kan orang yang baik, pasti bakal dipertemukan sama perempuan yang baik pula.”
Entah mendapat kekuatan dari mana hingga aku lancar berkata-kata di depan Kak Aldo.
“Makasih Yura, mungkin saat ini Kakak belum bisa membuka hati buat perempuan lain. Kakak perlu waktu untuk menata kembali hati Kakak, untuk saat ini Kakak masih belum siap, Kakak perlu menyembuhkan luka hati Kakak dulu, untuk sementara ini hati Kakak tertutup buat yang namanya cinta mungkin satu atau dua tahun ke depan, yah sampai hati Kakak sembuh,” Kak Aldo beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi.
Aku kembali menangis mendengar ucapan Kak Aldo tadi. Pupus sudah harapanku, rasanya tak ada lagi yang harus aku perjuangkan, kedua sahabatku segera menghampiriku.
“Sabar Yura, Kak Aldo sedang terluka, setelah dia sembuh dia pasti membuka hatinya buat kamu, percaya deh kalau sudah jodoh tak akan lari kemana.”
***
September 2018
Duhai diri ubahlah arusmu jadi arah yang dia sukai
Rendahkanlah hatimu
Duhai alam hujani dia dengan cinta dan hatinya yang terbuka
Aku menyayanginya
Dan terbukalah hatimu ada jalan untukku milikimu sayangimu
Biar reda hatiku, aku punya kasih yang lama kuramu untuk kamu (Buka Hati¬ by Yura Yunita)
Telah berulang kali kuputar lagu ini dari pemutar musik di gawaiku. Entah sudah berapa kali aku mendengarkan lagu indah ini melalui headset yang kupasang di telingaku. Malam ini di luar hujan rintik-rintik menambah syahdu suasana hatiku yang ditemani lagu ini.
Lagu inilah yang menggambarkan perasaanku padamu, pada lelaki yang sejak aku melihatnya di kampus mampu membuat hatiku berdesir aneh. Lelaki yang telah membuat jantungku berdebar tak karuan saat aku menatapnya walau hanya dari kejauhan. Betapa lirik-liriknya mewakili segenap rasa dalam relung hatiku padamu.
Rasa suka dalam hati ini kian menjelma menjadi rasa kagum dan semakin hari semakin berkembang menjadi rasa cinta dan sayang. Ya, aku telah jatuh cinta padanya sejak pertama berjumpa dan kini aku menyayanginya. Ada rasa rindu bercampur cemas kala tidak berjumpa walaupun hanya satu hari. Selalu ingin tahu kabar dia, keadaan dia, setiap detik, menit, jam, pikiranku hanya dipenuhi oleh sosok itu. Satu-satunya lelaki yang mampu mengalihkan duniaku, yang sanggup membuat hatiku menjadi tak menentu dan rasa ini tak pernah hilang, tak pernah padam meski waktu berputar, rasa ini semakin kuat menjalari seluruh ruang di hatiku, dan aku takkan pernah berhenti. Hingga detik ini aku hanya bisa menunggu, menanti walau tak pasti, entah suatu saat nanti kau akan menyadarinya atau mungkin tidak sama sekali.
Bulir bening mulai menetes di pipi. Andai waktu bisa diputar ulang, tak akan kusia-siakan kesempatan untuk meraihnya.
***
6 Oktober 2018, Aula Kampus
Hari ini di aula kampusku ada sekitar kurang lebih 400 orang mahasiswa dari tiga jurusan sedang diwisuda, termasuk Kak Aldo. Aku mengikuti setiap prosesi wisudanya dari awal sampai akhir dengan khidmat dan hati yang berbunga-bunga.
Berkali-kali aku menatap cincin emas yang melingkar di jari manisku sebelah kiri. Aku tak percaya, bagaikan mimpi tapi ini nyata, setelah melalui luka dan air mata, kini bahagia menghampiriku.
Tepatnya 1 Oktober 2018, Kak Aldo beserta keluarganya datang ke rumahku, dan memintaku menjadi Pendamping Wisuda atau disingkat PW, bukan hanya itu saja, Kak Aldo melamarku menjadi calon istrinya. 1 Oktober merupakan hari paling bersejarah dalam hidupku. Hari di mana lelaki yang kusayangi melamarku di depan seluruh keluarga besarku. Hari di mana Kak Aldo dan aku mengukir sejarah sebagai pasangan yang sudah bertunangan. Beberapa bulan lagi kami akan melangsungkan pernikahan.
Kak Aldo sebenarnya sudah tahu kalau aku suka padanya sejak aku menulis surat pada waktu masa orientasi itu.
Lanjutan
Baca cerpen lainnya:
Indeks Link
Diubah oleh suciasdhan 06-02-2020 11:06
abellacitra dan 5 lainnya memberi reputasi
6