Kaskus

Story

shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
INDIGO
INDIGO

Hy, Guys! Jumpa lagi di thread terbaru. Kali ini, based on true story. Please, jangan nanya-nanya ini kisah siapa, jangan nebak-nebak apakah saya si anu, atau keppoin apapun itu. Semua demi kelancaran saya menulis, karena mood sangat mempengaruhi 😊 Terhitung sampai detik ini, saya masih suka menggantungkan cerita, karena begitu banyaknya ide cerita lain yang ingin saya tuangkan lewat aksara. By the way, ini tapi gak pake mikir, sih 😂 karena nulisnya ngalir gitu aja. Ada misterinya, ada sakit hatinya, ada asmaranya, banyak bakalan yang disajikan dalam ceritanya. Oh ya, saya sangat tidak menyukai silent reader, so ... beri react, rate, dan komentar, cendol-cendol jan lupa, karena saya tak akan mungkin melanjutkan cerita tanpa adanya respon atau peminat tulisan. Makasih sebelumnya! emoticon-Big Kiss

----
Spoiler for Indeks:


Part 1:

Berawal dari tahun 1997 yang bertepatan dengan Hari Lebaran. Setiap menjelang hari H, kami sekeluarga, yang terdiri dari aku, adik, serta kedua orangtua, selalu mengunjungi rumah nenek --ibu dari ayah-- yang berada di luar kota. Tujuannya tak lain, bersilaturahmi sekaligus merayakan Hari Raya bersama-sama. Kebetulan keluarga dari ayah adalah keluarga besar, oleh karena itu pasti selalu ramai suasana di rumah sana. Pada saat itu, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dan adikku kurang lebih berusia tiga tahun. Kita selalu menghabiskan waktu mudik sampai cutian ayah selesai, tentu juga ibu bisa bersantai memikirkan nasib sekolahku, sebab bertepatan juga dengan waktu liburan sekolah.

Tempat tinggal nenek ada di perbatasan salah satu profinsi Jawa. Dimana ketika kami berkendara dan sudah sampai di kotanya, maka kami masih harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk tiba di lokasi. Sebenarnya kampungnya tak terlalu pelosok, tapi bagiku sangat primitif. Bangunan yang rata-rata masih berdinding papan kayu, lantai yang masih berupa tanah, pintu dan atap yang pendek, serta lampu penerangan di tiap-tiap rumah yang kebanyakan memakai cemprong. Aku beruntung nenekku sendiri memakai lampu petromaks di beberapa ruangan meski lantai rumahnya hanya berupa plesteran. Di saat aku benar-benar merasa takut saat menatap jalan pedesaan yang suram, aku bisa menyesuaikan terangnya cahaya dari pompa pada tuas di bagian bawah lampu petromaks, hingga sirna pula lah perasaan takut itu karena merasa aman.

Sebenarnya, aku tak pernah menyukai berada di sana. Selain karena daerah yang minim penerangan, untuk beli apa-apa juga lumayan jauh. Satu lagi pengalaman yang dulu-dulu ... setiap malam tidurku tak pernah bisa nyenyak. Di belakang rumah nenek ada barongan (kebun luas yang terdapat banyak pohon bambu dan semak belukar), dan suara-suara hewan malam begitu mendebarkan kala merasuk membran telinga.

Dari perasaan gak betahnya berkunjung di rumah nenek, ada juga rasa senang yang paling kunanti-nanti saat berada di sini, yaitu bertemu dengan Mbah Narti. Mbah Narti adalah adik dari nenekku. Ia tak mempunyai keturunan. Menurut cerita yang kudengar, ayahku dulu pernah dibantu dibesarkan olehnya sehingga bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, Mbah Narti adalah dukun bayi tersohor pada zamannya. Ia bisa dibilang orang yang sangat kaya sekampung. Rumahnya berbeda sendiri dari yang lain. Sudah bangunan tembok, sudah berubin, pun memiliki sawah luas dan ternak yang banyak. Kenapa aku suka dengannya? Karena ia paling antusias menyambut kedatanganku. Royal, dan doyan memijat. Setiap aku bertandang ke rumahnya, Mbah Narti selalu menyediakan alas untukku berbaring. Memijatnya juga lama sekali, dan selalu membuat ketagihan. Selain kerap memberi uang, jajanan satu kresek penuh selalu dibelikannya. Terkadang, jiwa tak bisa membohongi bila sayangku lebih besar terhadap Mbah Narti daripada nenek sendiri.

Karena keluarga besar dari berbagai kota bersamaan datang dan berkumpul di rumah nenek, keluargaku pun diminta Mbah Narti tidur di rumahnya. Tentu kami juga sudah biasa, karena ayah memang dari dulu dekat sekali padanya. Jadi, setiap malam kami bermalam di rumah Mbah Narti, paginya kami kembali ke rumah nenek. Kebetulan rumah mereka bersebelahan.

Ada sesuatu yang janggal kurasakan pada saat pertama kalinya aku bermalam. Entah kenapa, malam itu aku tak bisa tidur. Beruntung aku melihat Mbah Narti masih terjaga di depan TV, sedang menikmati teh dalam wadah besar. Oh, ya ... teh di daerah sana kalau bikin, asli pait. Tehnya langsung dimasukkan di wadah, diseduh bersamaan tanpa disaring. Jadi, banyak bulir yang ngambang gitu di atasnya. Kadang bisa tertelan juga kalau gak hati-hati minum.

Oke, lanjut! Malam itu, ketika hendak menemui Mbah Narti di depan, aku begitu syok menatap di kursi yang ada di sebelah siMbah. Ada seorang perempuan duduk di sana. Berkebaya merah, memakai jarik, dengan tudung transparan warna senada di kepala. Masih muda sepertinya, terlihat dari kulitnya yang sekilas kutatap masih kencang. Tatapan kami bertemu, dan dia langsung menyingkir dari tempat. Anehnya, menyingkirnya nggak keluar rumah, tapi masuk ke ruang tengah, dan tak pernah keluar lagi hingga tengah malam. Kebetulan aku begadang saat itu dengan Mbah Narti.

Perempuan itu pun sering kujumpai wara-wiri di kamar Mbah Narti pada malam-malam berikutnya. Terkadang ada anak perempuan, usianya sepertinya lebih dewasa dariku, suka mengintip dari balik gebyok (sebuah papan penyekat besar dan tinggi yang terbuat dari kayu jati, dulu digunakan sebagai pemisah antara ruang tamu dengan ruang tengah). Senyum-senyum menampakkan separuh wajahnya melihatku. Kukira mereka itu tetangga yang sering bertandang ke rumah, tapi setelah kutanyakan pada Mbah Narti, beliau menjawab, "Kuwi dulurmu! Cah wedok kuwi puterine." (itu saudaramu. Bocah perempuan itu anaknya)

Agak aneh, sih! Karena baru kali ini aku melihat saudara yang wajahnya seperti itu. Belum pernah kujumpai sebelumnya. Namun, aku teringat, ayah pernah bercerita jika punya saudara yang merantau di Kalimantan sana, dan jarang pulang. Mungkin saja itu saudara dari Kalimantan! Anehnya, saat aku bercerita pada ayah dan ibu, ayah menampik jika saudaranya di Kalimantan itu pulang. "Mungkin tetangga," ujar ayah datar. Nenekku pun menimpali, "Mbah Narti sekarang banyak ngelanturnya kalau ngomong, Nduk. Benar ayahmu, mungkin tetangga sedang main itu."

Aku yang memang masih polos, percaya-percaya saja dan tak pernah berpikiran jauh ....

Di suatu siang, saat aku bermain di rumah Mbah Narti seorang diri, entah kenapa tiba-tiba saja ia bicara ngelantur, "Mbah nelangsa, Nduk. Hidup seperti begini-begini saja. Punya apa-apa juga tak bahagia. Apalagi semenjak ditinggal Mbah kung, rasanya sudah malas hidup."

Kurang lebih seperti itu yang bisa kucerna perkataannya. Maklum, bahasa jawanya terlalu halus, kadang susah dimengerti. Apalagi pada saat itu aku masih kecil dan belum seberapa mengerti.

Lalu, setelah berkata begitu, ia membelai rambutku berkali-kali. Mencium juga. Ini yang paling malas saat bertemu Mbah Narti. Aku melihat susur di mulutnya saja sudah bergidik geli, apalagi di dekatkan ke wajah seperti itu.

Setelah puas melayangkan ciuman bertubi-tubi, Mbah Narti lalu masuk ke dalam, berpesan menyuruhku menunggu. Aku sendiri sedang asyik menonton TV. Oh ya, di rumah nenek tak ada TV, jadi aku selalu mainnya kemari jika ingin nonton. Terkadang, bisa bersamaan dengan Budhe dan keluarga ayah yang lainnya. Namun, kali ini aku nonton sendiri, karena keluarga sedang sibuk masak-masak besar.

Beberapa menit kemudian, Mbah Narti muncul sambil membawa sesuatu dalam bungkusan. Setelah dibuka, ternyata sebuah gelang dari tali yang ada jahitan kain kotak kecil warna hitam di tengahnya. Ia menyodorkannya padaku. Ingin menolak karena tak suka, tapi tangan tua itu terburu melingkarkan gelang itu ke tanganku. Kucoba pegang kain kotak hitam itu. Seperti ada batu kecil di dalamnya. Mbah Narti berpesan, agar jangan sampai aku membuka kain kotak hitam itu. Aku pun mengangguk saja.

"Iki gawe kenang-kenangan yo, Nduk? Sesuk yen simbah ra ono, kowe ben kelingan simbah terus," ujarnya lagi. Aku pun terdiam melihat gelang yang dikenakannya di tanganku. Aduh, benar-benar tak suka sekali!

Setelah berpamitan pulang, diam-diam kulepas gelang itu dari tanganku, menyimpannya dalam saku celana. Niat hati ingin kubuang, tapi takut Mbah Narti tahu. Aku khawatir kecewa, jadi kubawa saja. Mengingat, besok aku sekeluarga akan pulang. Rencananya akan kubuang gelang itu di tengah perjalanan.

Malamnya, entah kenapa, ibu melarangku tidur di rumah Mbah Narti. Rupanya, para keluarga besar sedang rame mengobrolkannya yang memang belakangan sering ngelantur. Kata mereka, Mbah Narti tengah pusing membagi hartanya pada sepupu-sepupu lain. "Aku ditawari sama Mbah Ti, kamu mau gak merawat sapi dan kambingku? Kalau mau rawat, ambil saja bawa pulang," tukas Budhe Rusni pada kami.

"Lalu, samean jawab apa?" tanya ayah penasaran.

"Ya kujawab, 'nggak ah. Nanti yang lain ngiri' ... trus dia jawab lagi, 'semua sudah kubagi. Hartaku masih banyak. Aku juga gak punya anak, aku khawatir besok kalau mati, semuanya ini gimana' ... gitu bilangnya."

"Nah, yang diomong mati-mati terus, sih!" seloroh Om Anang.

"Lah, kan? Tadi malah bilang, 'sesuk aku yen mati, omah iki openono, yo?" (besok kalau aku meninggal, rumah ini kamu rawat, ya!) Mbak Nanik membalas.

"Masa' bilang begitu?"

"Iya. Malah berkata, 'jatahku urip gari sedilut' ... gitu," sahut Mbak Nanik lagi.

Gara-gara obrolan malam yang unfaedah, kami semua saling takut, hingga tak pernah berani ketemu Mbah Narti keesokan harinya. Mungkin memang Mbah Narti sudah merasa. dan semua itu adalah pertanda ia mau pamit. Wallahu'alam, keesokan harinya, ketika fajar baru menyingsing, tetangga depan rumah yang biasanya disuruh mencarikan rumput Mbah Narti, berteriak-teriak menemui kami dengan wajah gugup.

"Mbah Narti terpeleset di kamr mandi! Mbah Narti terpeleset di kamar mandi!"

Sontak, kami semua kaget dan segera berhamburan melihat ke lokasi.

Oke, skip!

Di sini, aku akan mulai menceritakan keanehan yang terjadi semenjak pulang dari rumah nenek. Oh, ya ... aku lupa membuang gelang dari Mbah Narti saat perjalanan pulang. Aku juga nggak paham arti 'sikep' dalam istilah jawa pada saat itu. Sepeninggal Mbah Narti, semua keluarga saling ramai mencari sikep yang dimaksud. Katanya harus dibuang, paling tidak dibakar. Semua almari, kasur, dilingkap satu persatu demi mencari benda yang dimaksud. Tak pelak, mereka di antaranya saling menuduh satu sama lain karena tak ada yang mengaku. Mbah Narti memang pernah berpesan, bahwa 'jimat'-nya akan diberikan pada salah satu keturunan nenek. Banyak yang menuding ayah, karena ayah adalah satu-satunya kesayangan Mbah Narti. Oh ya, akibat dari semua ini, keluargaku pernah lama lost komunikasi sama keluarga yang lain. Sebenarnya mereka biasa-biasa saja, tapi yang paling menyebalkan dan tak terima adalah Pakdhe Kurdi.

Sebenarnya, apa alasan Pakdhe Kurdi begitu berambisi menanyakan barang tersebut?
Diubah oleh shirazy02 29-02-2020 14:20
nona212Avatar border
bukhoriganAvatar border
husnamutiaAvatar border
husnamutia dan 42 lainnya memberi reputasi
39
29.6K
238
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
#98
Part 8
Saat itu, mendung menggelayut. Ayah membelokkan setir ke sebuah rumah makan di ujung perbatasan kabupaten. Rehat sejenak, katanya. Terlihat sekali memang, jika ayah benar-benar letih. Ya, semalam sebelum para kerabat ngajak ke pantai, ayah memang tak tidur sama sekali.

Hal yang membuatku aneh adalah, perubahan penglihatanku terhadap rumah makan tersebut. Sebelumnya, ketika masih berada dalam mobil, rumah makan itu tampak sangat bagus, dengan bangunan gaya modern dan banyak tanaman-tanaman hias di antaranya. Namun, saat aku menurunkan kaki dari mobil, yang tampak di penglihatanku adalah sebuah gubuk tua yang terbuat dari sesek (seperti anyaman dari potongan bambu), dengan atap genting tapi sudah rusak sekali, lalu di depannya itu ada kubangan (seperti danau tapi ukurannya gak sebesar itu).

"Kenapa diam, Sinan?" Mbak Nanik menarik tanganku yang saat itu enggan untuk masuk. "Kamu nggak lapar?" tanyanya lagi.

Ayah yang mengetahuiku bergeming di tempat, lantas segera menggandeng agar berjalan bersamanya. Sambil melangkah, kupejamkan mataku erat dan berdoa segala macam, sebisaku. Hati terus bergetar tak karuan, diiringi rasa takut yang bukan main. Sampai di dalam pun, suasana lebih buruk lagi. Dua makhluk tinggi besar dengan hanya memakai sebuah penutup kemaluan, seperti kain yang dibentuk wiru lalu dililitkan, semacam begitulah. Keduanya berjaga di dekat pintu masuk. Tak kelihatan wajahnya, karena menghadap ke depan. Sosok berpakaian putih yang orang biasa sebut kuntilanak, nangkring di kayu penyangga atas sambil mengayunkan kedua kakinya. Lalu, banyak anak kecil berlarian kesana-kemari. Tertawanya benar-benar tak nyaman sekali. Sampai pelayan tiba dan menuliskan pesanan pun, aku tak tahu apa-apa, karena lebih memilih membenamkan wajah pada lipatan kedua tangan yang bertumpu pada meja.

"Sinan, baksonya datang, tuh! Dipesankan ayah bakso, habis kamu diam saja dari tadi diajak ngomong." Mbak Nanik menggoyang kecil bahuku, agar aku berubah posisi.

"Sinan, kamu tidur? Ayo makan dulu!" Kali ini dengan terpaksa aku membuka kedua mata, saat ayah berkata. Namun, betapa kagetnya saat kedua mata melihat jelas dua sosok menyeramkan penuh bulu, kecil sepertiku, sedang menyambut di hadapan. Tentu aku histeris dan berteriak, "Aaahh!!"
Para saudara saling menatap karena bingungnya. Tak pelak mereka kemudian melempar tanya. Sementara dua bocah berbulu lebat itu menjauh, memilih berdiri di samping Pakdhe. Kagetnya, keduanta saling berebut memakan hidangan milik Pakdhe. Jadi, sepenglihatanku, piring itu dimakan bertiga. Pakdhe, dan dua makhluk aneh tersebut. Nakalnya, mereka bergantian posisi memakan makanan di piring kerabatku yang lain. Alih-alih untu makan, adanya mual terasa perutku saat menatap. Dan ... muntah-muntah kemudian.

Sepertinya, ayah paham situasi saat melihatku bersikap aneh. Ia jadi mengurungkan untuk makan. Sama sepertiku.

"Jam nanggung, kalian habiskan makanannya dulu. Aku mau shalat," pamit ayah, setelah sebelumnya menatap arloji.

"Lah, kamu sendiri nyapoo kok gak makan?" Pakdhe Tarjo membalas, sambil sibuk dengan tusuk gigi di tangannya. Ayah menggeleng pelan, tanpa menjawab apa pun. Setelah itu, beliau pergi keluar.

Melihat ayah pergi, tentu aku ingin sekali turut. Tapi, aku sendiri takut. Takut jika nantinya di luar bakal ketemu makhluk lebih seram lagi.

"Sinan, ayo keluar, yuk! Pakdhe gerah." Akhirnya, ajakan dari Pakdhe kuturuti, meski perasaan masih tak karuan.


"Pakdhe, bisa nyetir mobil nggak?" Lirih, kuungkapkan sebuah tanya pada Pakdhe Tarjo yang sedang bersandar di pilar kayu yang hampir patah itu (sepenglihatanku).

"Nggak, Sinan. Lahwong, Pakdhe ra weruh mesin, kok. Eneng opo? (gak tau mesin. Ada apa?)" Ganti Pakdhe yang memberiku tanya, sambil menatapku dengan dahi berkerut. Aku sendiri tak menjawab. Diam, sambil mengalihkan pandang pada para kerabat yang masih sibuk menghabiskan makanan.

"Trus, yang nyupir kemarin, siapa?" tanyaku lagi.

"Lah, kan, bojone Nanik." Pakdhe menjawab datar.

Aku tersentak tiba-tiba saat sebuah tangan mendarat ke bahu. Ayah dengan wajah cemasnya, lalu menggiringku agak menjauh dari Pakdhe. "Nak," serunya lirih.

"Kamu masih bisa melihat makhluk halus?" lanjutnya lagi. Langsung saja aku mengangguk, setelahnya mendekap ayah erat. Tak terasa, buliran bening menetes ke pipi. Ayah kemudian istighfar, sambil terus mengusap rambut legamku.

"Sabar, sabar! Nanti ayah pikirkan di rumah, bagaimana cara agar kamu tak terus-menerus seperti ini. Kupikir setelah diruqyah waktu itu, kamu sudah bebas, Nak," ujarnya lagi. Kali ini, ayah bersimpuh sambil mengusap air mataku. "Ayah akan bantu dengan doa. Ayah tak mengerti harus bagaimana. Kamu jangan bercerita apa-apa dulu sama mereka sampai kita balik rumah, ya? Takutnya mereka tak nyaman perjalanan," pinta ayah kemudian. Aku pun mengangguk. Tampak senyum terulas dari bibir ayah, lalu ia menggandengku lagi, menghampiri keluarga yang ternyata semuanya sudah berkumpul di depan.

Jam menunjukkan pukul 18.25 WIB, ketika gerimis menemani perjalanan pulang kami. Perasaanku sudah sangat tak enak saat itu, sampai aku menyuruh suami Mbak Nanik yang bisa nyetir, untuk duduk di depan bersama ayah. Di saat semua duduk dengan antengnya, bahkan ada yang tertidur, aku malah berdiri tak tenang dengan mata fokus menatap jalanan.

"Sinan, mau duduk depan? Sini pangku om!" Suami Mbak Nanik berseru. Tegas, aku menggeleng.

Jalanan saat itu berkabut tebal. Sangat tebal, sampai rambu-rambu peringatan baru nampak saat mobil berjarak satu meter. Saat itu, kita sedang berada hampir separuh perjalanan, di tengah hutan. Jalanan waktu itu begitu buruk, terjal, apalagi belum ada marka di sepanjang jalan yang membelah hutan. Sepi sekali, seakan hanya mobil kami yang lewat. Benar-benar perjalanan yang mendebarkan, karena kita tak tahu betul, mana jalan dan mana jurang.

Di sepanjang perjalanan itu, tampak olehku sosok berjajar sepanjang tepi jalan. Banyak sekali. Serupa manusia, tapi aku tahu betul tak akan ada manusia iseng berdiri seperti itu di jam-jam dan cuaca buruk seperti ini. Serentak, mereka melambai, dan ternyata ayah dan suami Mbak Nanik juga melihat semua itu. Keduanya saling berbincang, setelah sebelumnya beristighfar. Membuat seisi mobil gempar bukan main.

"Bismillah, kita berdoa bersama, ya!" tukas ayah lirih.

Sampai melewati sebuah jembatan, lagi-lagi kami bertemu sosok tinggi besar berbulu lebat, dengan tanduk dan mata merah, menghadang mobil kami. Ayah bukannya berhenti, malah tancap gas menabrak sosok tersebut. Mungkin hanya aku yang tahu, entahlah. Aku tak berani panik pada saat itu. Mengingat jalur yang begitu berbahaya, terdapat banyak kelokan tajam. Baru tahu di dewasa ini, ternyata jalanan yang begitu ekstreem yang pernah kita lewati memiliki jalur ketinggian 1300 dpl. Ya jalanannya, ya penunggunya ... lumayan horror semuanya!

Di saat cemas melanda, suami Mbak Nanik malah semakin mempertegang suasana. "Itu awas nabrak! Belok kanan!"

Di depan kami memang tampak begitu gelap, seolah sedang melihat tebing. Sedangkan di sisi kanan, tampak terang berkabut.

"Belok, Paklik! Awas!!!" Mbak Nanik begitu gemetar. Saking takutnya, suami Mbak Nanik sampai merebut kendali setir. Namun, ayah menampik keras tangannya. Dan, kami semua berteriak histeris dalam mobil.

"Aaaaaaaaaaaaaahhhhhh!!"

Seperti terpental dalam dimensi lain, dada kami berhentak begitu singkat. Aneh tapi nyata, kami selamat! Mbak Nanik dan anaknya hampir menangis tadinya. Merasa janggal, suami Mbak Nanik lalu menilik spion. "Ya Allah, kenapa tadi aku mau merebut setir? Ternyata belokan ke kanan itu jurang! Astaghfirullah!!" Terasa kembang kempis dadanya saat berkata.

"Aku tadi juga merasa aneh, padahal aku hapal medan ini. Belum waktunya belok kanan, tapi penglihatan kita dikaburkan seolah kita harus belok ke kanan. Kalau saja kamu berhasil merebut setir, mungkin kita sudah dibawa ke alam lain," tukas ayah.

"Terus disambi doa, semoga kita selamat sampai tujuan." Mbak Nanik membalas dengan mulut bergetar.

Kini, kami melewati turunan. Sepanjang perjalanan berkelok, sebuah mobil mogok di sisi kiri. Seorang lelaki dan istrinya yang tengah menggendong bayi, melambai pada kami sambil berteriak. Tiba-tiba, ayah memelankan laju mobil.

"Ayah, lanjut terus!" cegahku. Kutatap, wajah keduanya lebam dan mengeluarkan darah, padahal mobil utuh tak kenapa-kenapa. Keluarga tadinya meminta berhenti, mengingat ada bayi yang digendong, jadi kasihan. Beruntung ayah lebih mendengarkanku, sehingga kembali tancap gas melaju.

"Itu bukan orang." Hanya itu jawaban ayah. Semuanya terdiam kemudian.

Antara percaya tak percaya, ayah meminta lewat gunung tadinya demi mempersingkat waktu agar sampai rumah. Eeh, malah seperti dikerjain. Tak ada macet, tak ada apa, perjalanan yang ditempuh hampir empat jam-an.

"Tahu begini, tadi lewat jalan umum saja. Cuma dua jam setengah, tapi mata aman, gak liat aneh-aneh," gerutunya saat sampai di rumah. Beliau langsung menenggak minuman di kulkas begitu kasar, sampai tumpah meluber ke leher. Ibu dan Budhe Narti tertawa saja saat mendengar cerita dari kami.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Willy (anak Mbak Nanik), senyum-senyum sendiri tiada henti dengan mata tak lepas melirik ke atas. Sebelumnya ia tidur di mobil padahal. Semua keluarga jadi panik dibuatnya. Apalagi aku!

----

(Kentaaaaanng, readers! Selamat berimajinasi sendiri, kira-kira Willy kenapa, yakk?) emoticon-Ngakak
Diubah oleh shirazy02 25-01-2020 04:04
hendra024
forlano
kicquck
kicquck dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.