- Beranda
- Stories from the Heart
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
...
TS
dissymmon08
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
SELAMAT DATANG AGAN SISTA
Halo! 
Selamat berjumpa kembali dengan gue dalam rangka melanjutkan JILID IV kemarin yang gue akhiri di tengah alias Mid-season Finale. Udah berasa kayak cerita series bule The Walking Dead, Nancy Drew, etcyak? Hahaha. Karena berbagai pertimbangan, gue memutuskan untuk menyelesaikan di sana. Hapunten ya agan sista! Semoga agan sista bisa memahaminya...
Ga pernah gue lupa untuk selalu ngucapin terima kasih atas dukungan dan apresiasi agan sista selama ini! Makin hari, makin bikin semangat gue aja untuk terus melanjutkan cerita gue ini yang (kayaknya) masih panjang. Hehehe.
Masih melanjutkan tema cerita di JILID IV gue sebelumnya, insya Alloh di JILID IV 2.0 ini gue akan menjawab bagaimana kondisi ibu gue, bagaimana hubungan gue dengan Bang Firzy, bagaimana pendidikan gue, bagaimana pekerjaan gue, dan banyak puzzle-puzzle lainnya yang belum terjawab. Dengan semangat 'tak boleh ada kentang di antara kita' yang tak hentinya diucapkan oleh agan sista, insya Alloh juga gue akan melanjutkan sampai selesai (semoga tanpa hambatan) di thread gue yang ini.
Kembali lagi gue ingatkan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue dan (kayaknya masih akan) beberapa kali nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita lanjutan gue kali ini. Gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!
Dengan segala kerendahan hati gue yang belajar dari thread sebelumnya, kali ini gue memohon agan sista untuk membaca juga peraturan mengenai thread ini yang kayaknya banyak di-skip (karena dinilai ga penting), terutama mengenai kepentingan privasi dan spoiler. Semoga dengan kerja sama semuanya, membuat thread ini semakin bikin nyaman dan betah untuk jadi tempat nongkrong agan sista semuanya

Selamat berjumpa kembali dengan gue dalam rangka melanjutkan JILID IV kemarin yang gue akhiri di tengah alias Mid-season Finale. Udah berasa kayak cerita series bule The Walking Dead, Nancy Drew, etcyak? Hahaha. Karena berbagai pertimbangan, gue memutuskan untuk menyelesaikan di sana. Hapunten ya agan sista! Semoga agan sista bisa memahaminya...
Ga pernah gue lupa untuk selalu ngucapin terima kasih atas dukungan dan apresiasi agan sista selama ini! Makin hari, makin bikin semangat gue aja untuk terus melanjutkan cerita gue ini yang (kayaknya) masih panjang. Hehehe.
Masih melanjutkan tema cerita di JILID IV gue sebelumnya, insya Alloh di JILID IV 2.0 ini gue akan menjawab bagaimana kondisi ibu gue, bagaimana hubungan gue dengan Bang Firzy, bagaimana pendidikan gue, bagaimana pekerjaan gue, dan banyak puzzle-puzzle lainnya yang belum terjawab. Dengan semangat 'tak boleh ada kentang di antara kita' yang tak hentinya diucapkan oleh agan sista, insya Alloh juga gue akan melanjutkan sampai selesai (semoga tanpa hambatan) di thread gue yang ini.
Kembali lagi gue ingatkan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue dan (kayaknya masih akan) beberapa kali nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita lanjutan gue kali ini. Gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!

Dengan segala kerendahan hati gue yang belajar dari thread sebelumnya, kali ini gue memohon agan sista untuk membaca juga peraturan mengenai thread ini yang kayaknya banyak di-skip (karena dinilai ga penting), terutama mengenai kepentingan privasi dan spoiler. Semoga dengan kerja sama semuanya, membuat thread ini semakin bikin nyaman dan betah untuk jadi tempat nongkrong agan sista semuanya

![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/12/26/10712020_20191226010201.jpg)
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (THE SERIES):
Spoiler for INDEX:
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for PERATURAN:
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 37 suara
Kepikiran untuk mulai post JILID I... Setuju kah?
Boleh juga Mi dicoba.
49%
Nanti aja, Mi.
51%
Diubah oleh dissymmon08 15-09-2020 12:11
padasw dan 90 lainnya memberi reputasi
85
171K
2.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dissymmon08
#281
KISAH TENTANG F: PERJUANGAN BERSAMA (PART 08)
Gue dan Bang Firzy sama-sama ijin ke orang tua kami terkait ide kami untuk mudik ke rumah kakek gue naik motor. Kami berdua memutuskan untuk ga cerita sama keluarga kami kalau kami mau ke rumah kakeknya Bang Firzy di Kota T, Jawa Timur. Karena mereka pasti menentang kami dan ga akan pernah kasih kami ijin kemana-mana lagi. Jadi kami bilang kalau abis dari rumah kakek gue, kami akan lanjut ke Yogyakarta untuk liburan. Boong lagi deh jadinya. Maaf. Huhuhu. Soalnya kami mau kasih kejutan ke kakek neneknya Bang Firzy yang kebetulan tahun ini ga bisa dijenguk sama keluarganya Bang Firzy.
Setelah mendapatkan ijin, kami pun mulai mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan. Mulai dari penginapan, titik istirahat, perlengkapan yang harus dibawa, dan yang pasti kelengkapan motornya juga harus dipersiakan. Kami beli buff, pelindung dada untuk Bang Firzy, ganti rantai motor, servicemotor, sarung tangan, dan perlengkapan lainnya. Kami pun bawa baju secukupnya aja. Gue berniat nyuci baju pas nantinya udah sampe di rumah kakek neneknya Bang Firzy. Karena kami cuman satu hari satu malam aja di rumah kakek nenek gue nantinya.
Kami bener-bener excited dengan ide mudik bersama ini. Ini adalah pengalaman pertama kali di hidup gue bisa mudik saat lebaran ke rumah kakek gue dan kakek nenek pacar gue NAIK MOTOR! Entah di lain taun depan gue bisa mudik begini lagi apa ga.
Tanpa terasa, waktu keberangkatan kami pun tiba. Gue dan Bang Firzy melaksanakan sholat eid dulu di rumah kami masing-masing. Baru setelahnya kami pamit untuk berangkat ke rumah kakek gue. Harusnya, sebelum malam kami udah sampe di sana. Soalnya tanpa tol. Perjalanan dengan motor ini bisa lebih lama dari biasanya.
Alhamdulillahnya, jalanan di hari H Idul Fitri saat itu bener-bener lengang. Kayaknya belum banyak pemudik jam segitu atau udah banyak pemudik yang berangkat di hari-hari sebelumnya. Maklum, pasti kepikiran sama jatah cuti lebarannya yang terbatas. Syukur banget gue dapet jatah cuti 9 hari (termasuk cuti bersama) karena gue banyak nabung lembur di bulan-bulan sebelumnya. Demi keberangkatan kami ini. Begitu juga Bang Firzy yang banyak ambil job di freelance dia demi nambah uang untuk keberangkatan kami. Insya Alloh semua udah terencana dengan baik.
“Assalamualaikum, Aki…” kata gue saat kami udah sampe di depan rumah kakek gue. Saat itu udah sore hari tapi masih terang.
Kakek gue lagi tinggal di rumah baru dia bareng istrinya yang baru di daerah Subang, Jawa Barat. Ya, kakek gue menikah lagi dan ini pernikahan ketiga kakek gue. Nenek pertama gue udah meninggal saat gue duduk di bangku SD, nenek kedua gue meninggal saat gue duduk di bangku SMA. Dan kakek gue kembali menikah dengan nenek baru kami ini, janda yang ditinggal meninggal suaminya. Kakek gue menikahinya agar uang pensiunan kakek gue ini bisa untuk menghidupi nenek baru gue ini nantinya, evensaat kakek gue nanti udah ga ada selama nenek baru gue ga menikah lagi.
Nenek gue yang baru ini belum tau banyak tentang cucu dan anak-anak kakek gue. Maklum, mereka baru aja menikah sebelum puasa kemarennya. Itu pun tanpa menghadirkan seluruh anaknya. Cuman dihadiri sama anak pertama dan anak kedua alias uwa gue doang. Tanpa ada cucu satu pun yang hadir. Jadi, emang gue belum deket sama nenek gue ini.
“Waalaikumsalam…” jawab kakek gue dari dalem rumah. Beliau ternyata lagi duduk di ruang tamu sambil baca koran. Kakek gue emang masih suka membaca walaupun usianya udah cukup lanjut. Kakek gue jalan ke depan rumah dan benerin posisi kacamatanya untuk melihat gue lebih jelas. “EMI? YA ALLOH! KATA MAMA PAPA KAMU, KALIAN GA BISA DATENG? SINI MASUUUK!” Kakek gue keliatan super excited ngeliat kedatangan gue. Gue langsung dirangkul masuk ke dalem rumah.
Tapi mendadak gue berenti.
“Ki… Emi kesini ajak Firzy.” kata gue. Gue nengok ke belakang gue. Bang Firzy udah berdiri dengan canggungnya sambil ngegendong tas carrier dan kedua helm kami.
“Eh iya, Pirji. Calonnya, Emi.” Oke, ini bikin awkward moment antara gue dan Bang Firzy. CALON DONG DIKATA DOI. Buset! “Sini ayo masuk…” Kakek gue juga merangkul Bang Firzy untuk masuk ke dalem rumah kakek gue. Biasanya kami emang suka langsung masuk kamar singgasana gue, KALAU di rumah kakek gue yang biasanya. Ini rumah baru beliau, gue ga bisa maen asal masuk aja kan.
Seperti tamu kebanyakan, kami pun duduk di ruang tamu. Soalnya kami belum tau, apa kami dapet kamar apa ga. Walaupun kami pun ga keberatan kalau harus tiduran di depan TV dengan kasur lipet. Namanya juga lagi kumpul keluarga.
Gue duduk di samping kakek gue. Duduk bersebelahan dengan dia. Gue seneng banget-banget bisa punya waktu ngobrol bareng sama kakek gue. Soalnya biasanya kakek gue udah sibuk ngobrol sama uwa, bokap, atau paman bibi gue. Bahkan biasanya kakek gue juga ngobrol sama cucu-cucu yang lain. Ga bisa full fokus sama gue. Jadi quality time kami kebanyakan via telepon doangan. Tapi kali ini, AKI MILIK GUE! Hahaha. Karena sodara dan sepupu gue yang lain belum pada dateng. Katanya sih pada datengnya malem atau besoknya. Toh acara kumpul keluarga gue emang jadinya H2 lebaran. Ga lupa, nenek gue pun ikut nimbrung sama kami sekalian mengenal cucunya yang satu ini. Hahaha.
Kami ngobrol tentang segala hal. Walaupun fokus utamanya ke Bang Firzy sih. Soalnya sebelumnya kan gue sama Bang Firzy kebanyakan jalan-jalan daripada ngobrol bareng. Ini pertama kalinya Bang Firzy bisa ngobrol bareng banyak sama kakek gue.
“Jadi, besok siang aku sama Bang Firzy langsung pergi lagi ya, Ki. Kita udah janjian sama temennya Bang Firzy di Yogyakarta soalnya.” Maaf, Ki. Emi boong untuk ini.
“Yogya? Nginep dimana nanti di Yogya?” tanya kakek gue ke arah Bang Firzy. Ya wajar sih kakek gue minta jawaban ke Bang Firzy. Gue emang ga pernah sama sekali ke daerah Jawa Tengah hingga Timur sendirian seumur hidup gue. Pernah waktu gue pergi sama Bimo dkk ke Yogya dulu tapi kakek gue kan ga tau gue jalan-jalan begitu. Pernah juga waktu kecil gue ikut acara komplek rumah gue yang ziarah ke makam Wali Songo. Itu pun satu komplek naik bus, ga sendirian begini. Gue diitung sendiri karena Bang Firzy itu completely stranger bagi kakek gue.
“Di Yogya nanti ketemu sama temen-temen yang lain, Ki. Jadi janjian di sana, nginep di rumah keluarga temen yang ada di sana.” Oke, keboongan lain yang jadi keboongan ciri khas kami kayaknya : nginep di rumah temen. Maaf ya, Ki. Emi diajarin Bang Firzy boong masalah ini. Hahaha.
“Hmm… Kamu tau jalannya?”
“Searah sama jalur mudik saya kalau mau ke Kota T, rumah kakek saya kok, Ki. Jadi, insya Alloh saya hapal dan terbiasa sama rutenya. Paling nanti yang rada belum hapal jalannya itu dari sini untuk motong jalur tengah ke arah Yogya-nya, Ki.” Kemudian Bang Firzy dan kakek gue diskusi panjang tentang ancang-ancang arah jalan yang mesti ditempuh kami untuk sampe ke Yogyakarta.
Jujur, pengetahuan mereka berdua tentang arah jalan ini bener-bener ketjeh. Apalagi ingetan kakek gue yang udah tua ini, masih encer bener. Dulu ternyata kakek gue demen jalan-jalan juga naik motor. Makanya beliau hapal banyak jalan. Ini sesuatu hal yang baru gue tau. Gue diem aja merhatiin obrolan mereka. Nenek gue kembali ke belakang entah untuk ngapain itu. Nenek baru gue itu keliatan masih cukup gesit untuk melakukan aktivitas rumah tangga sendiri. Saat gue nawarin bantuin pun, beliau menolak. Kakek gue jadinya minta gue untuk ngobrol sama beliau aja.
Awalnya obrolan kami agak kaku dan Bang Firzy keliatan canggung banget ditanyain ini itu bahkan mengemukakan pendapat dia. Tapi seiring berjalannya waktu, Bang Firzy dan kakek gue mulai akrab. Gue suka gimana mereka ternyata nyambung ngebahas banyak hal.
Tanpa terasa, udah hampir malam. Gue dan Bang Firzy diarahin untuk bawa barang kami ke dalam kamar. Kamar tamu di rumah kakek gue cuman satu. Di depan kamar itu, ada kasur lipet untuk tiduran di depan TV. Ruang tamunya pun cukup gede kalau mau ngegelar kasur lipet juga di sana. Rumah kakek gue yang baru ini ga sebesar rumah lama dia. Tapi kakek gue keliatan nyaman di sini, karena mungkin kalau harus sendirian di rumah lamanya, selalu mengenang memorinya dengan almarhum nenek pertama gue. Soalnya kakek gue tinggal di rumah berbeda juga dengan nenek kedua gue.
“Kamu sama Pirji tidur di sini aja ya… Punten kalau kasurnya kasur kapuk, ga kasur busa kayak di rumah ya. Wayahna atuh namanya juga di kampung. Sok atuh istirahat dulu… Nanti makan abis Nini sama Aki dari Mesjid nya?” Gue bingung mau jawab gimana soalnya saat itu gue lebih fokus ke pernyataan kalau gue dan Bang Firzy bakalan tidur bareng di kamar tamu RUMAH KAKEK GUE.
TIDUR BARENG LHO! BUSET! GA TAKUT TERJADI HAL YANG SANGAT AMAT DIINGINKAN APA TERJADI DI ANTARA KAMI???
Tapi karena kami ga enak sama kakek dan nenek gue, belum lagi nanti kalau sodara dan sepupu gue yang lain ikutan dateng terus kepengen tidur di kamar, jadi kami sengaja ga nutup pintunya. Bang Firzy udah tiduran di kasur aja pas dikasih kamar begini. Kayaknya dia beneran cape banget pengen selonjoran. Sedangkan gue main handphone sambil beralaskan sajadah di lantai.
“Beneran gapapa nih kita tidur bareng di kamar begini?” tanya Bang Firzy sambil natap langit-langit kamar. “Gue ga mau sampe ga dapet restu cuman gara-gara dipikir kelewatan ngedeketin lu lho, Mi.”
“Lha? Kok jadi salah gue? Berasa gue yang kepengen banget bisa tidur sekamar sama lu! Ini kan yang minta kakek nenek gue...”
“Emang lu ga mau sekamar sama gue lagi?” Bang Firzy nengok ke arah gue.
“Ya mau aja sih. Hmm. Emang lu ga mau?”
“baik kalo gue nolak.”
“Nah! Hahaha.”
“Tapi gue ga mau nanti jadi omongan di keluarga lu. Mending gue tidur di ruang tamu aja dah. Enak sofanya. Gede juga buat dipake tiduran. Lu tidur di sini sama sepupu atau sodara lu yang laen kek…”
“Ya gampang itu mah. Kalau lu gapapa, yaudah. Asal jangan sampe sakit aja. Umur udeh tua juga. Perjalanan kita masih panjang lho! Masih ada 1 sampe 2 hari lagi lu mesti full nyetir motor.”
"Bangs*t! Kenapa bawa-bawa umur???"
"Beneran kuat?"
“Ya kan 1 sampe 2 hari itu nanti bisa tidur di hotel. Sekamar pasti kan? Di sini biar gue tidur di luar aja.”
“Hmm." Gue ngeliatin Bang Firzy berusaha ngeliat apa dia serius dengan pernyataannya. "Yaudah… Monggo.”
“Well. Kita tetep jadinya tidur bareng.”
“Yap.” jawab gue singkat.
“Terus kita berdua dikunciin dari luar sama kakek nenek lu.”
“Yap.” Masih dijawab singkat sama gue.
“Terus lu sama sekali ga tau kalau 3 rumah yang ada di tanah ini semuanya punya kakek lu.”
“Yap.” Masih gue nih ya.
“Dan lu juga ga tau kalau sodara lu pada dateng besok karena mereka ga mau nginep di sini.”
“Yap.” Oke, udah tau kan siapa yang jawab begini? Gue.
“Daaaaaaaan sodara lu yang barusan dateng, tidurnya di rumah sebelah”
“Iyaaaap.” Gue masang ekspresi nangis ke arah Bang Firzy.
“Hebat! Surprise!” Bang Firzy ngebanting badannya ke kasur.
Saat itu udah hampir tengah malem. Gue dan Bang Firzy udah mulai ngantuk-ngantuk saat kami ngobrol sama kakek nenek gue dan dua keluarga sodara gue yang dateng sekitar jam 9 malam tadi. Sama-sama cape kayaknya, makanya jadi udah pada ngantuk-ngantuk juga pas ngobrol.
Nenek gue ngajak tidur kita semua. Beliau nganterin kakek ke kamar dan nganterin dua keluarga sodara gue ke rumah sebelah yang ternyata rumah almarhum kakak dari nenek gue ini. Rumahnya cuman diisi sama istrinya beliau dan banyak kamar kosong. Sedangkan rumah sebelah kami yang satu lagi masih diisi keluarga adik dari nenek gue. Gue dan Bang Firzy berniat ikut sodara gue itu, kebetulan ada sepupu gue. Tapi kakek gue minta kami tetep di kamar sebelumnya dan langsung tidur di sana. Beliau pun melarang Bang Firzy untuk tidur di ruang tamu.
Nenek gue juga yang nganterin kami sampai masuk ke dalem kamar dan nutup pintu kamar kami. Untung kami ga kebelet ke kamar mandi, soalnya pintu kamar yang kami pake ini ditutup dari luar oleh nenek gue. Semoga aja ga beneran dikunci, soalnya gue ga akan bisa tidur kalau belum bersih-bersih. Ya, pintu kami ditahan dari luar sama nenek gue.
“Coba lu cek, beneran dikunci ga?” bisik Bang Firzy sambil nunjuk ke arah pintu.
“Sebentar…” Gue jalan ke arah pintu dan ngebuka sedikit pintu kamarnya.
Ngeeeeeeekkkk. Yak, pintunya bunyi gaes!
“Emi?” sapa seseorang dari arah dapur, di samping kamar kami.
“Sial! Nenek gue beloman tidur toh? Masih di dapur?” kata gue dalem hati.
“Iya, Nek?”
“Kamu mau kemana? Ke kamar mandi?”
“Ah ga Nek, tadi lupa mau ngecek sepatu aku di luar udah dibawa masuk apa belum.” Oke, itu alesan terlogis yang keluar dari mulut gue.
Nenek gue menghampiri gue. “Ah seinget Nini mah udah dibawa masuk. Da Nini udah ngunti panto na…” Dan gue sukses nyusahin nenek gue untuk jalan ke depan rumah buat ngecek sepatu gue. “Udah dimasukin ku Nini nya, Mi…” teriak nenek gue dari depan rumah.
“Makasih, Ni…” Gue jalan nyusulin nenek gue. “Nini ga tidur? Emi abis ini mau tidur kok, Ni.”
“Nini kalau belum beres rumah, belum bisa tidur.”
“Emang apa yang belum beres? Udah malem banget lho, Ni…”
“Tinggal nyuci piring…”
“Sini biar Emi yang ngelanjutin nyuci piringnya… Nini tidur aja ya? Besok pagi kan bisa lanjut beberes rumah lagi. Kan besok mau banyak orang dateng, masa Nini bangunnya kesiangan karena malem ini tidur kemaleman?”
Nenek gue terdiam dan senyum ke arah gue. Beliau megang pipi gue. “Yaudah Nini tidur dulu ya… Kamu abis nyuci piring langsung tidur, jangan nambah kerjaan ngurus rumah juga. Kan besok teh kamu mau lanjut ke Yogya na?”
“Siap, Ni… Ayo tidur Nininya…” Gue mengantarkan nenek gue ke depan kamarnya. Sedangkan gue lanjut ke dapur untuk nyuci piring.
Kurang lebih 10 menit gue nyuci piring. Setelahnya gue nyapu dan ngepel, baru lanjut tidur. Tidur di kamar yang sama dengan Bang Firzy.
Saat gue buka pintu, gue liat Bang Firzy udah ketiduran dengan handphoneada di genggaman tangannya. “Kayaknya dia ketiduran sambil main handphone gara-gara nungguin gue beberes tadi…” kata gue.
Gue pun ambil bantal dan guling yang ada, kemudian tidur dengan arah yang berbeda dengan Bang Firzy. Kaki Bang Firzy setara dengan kepala gue, sedangkan kaki gue setara dengan kepala dia. Sengaja, jadi kalau misalnya nenek gue bangunin gue atau sodara maupun sepupu gue maen ngebuka pintu, ga langsung ngeliat kami tidur sebelahan. Oke, sebelum tidur emang bisa jaga jarak denga nada guling di antara kami, tapi kalau udah tidur kan siapa yang bisa jamin tangan si Kang Sayur satu itu ga akan jajan kemana-mana ya kan? Hahaha.
Setelah mendapatkan ijin, kami pun mulai mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan. Mulai dari penginapan, titik istirahat, perlengkapan yang harus dibawa, dan yang pasti kelengkapan motornya juga harus dipersiakan. Kami beli buff, pelindung dada untuk Bang Firzy, ganti rantai motor, servicemotor, sarung tangan, dan perlengkapan lainnya. Kami pun bawa baju secukupnya aja. Gue berniat nyuci baju pas nantinya udah sampe di rumah kakek neneknya Bang Firzy. Karena kami cuman satu hari satu malam aja di rumah kakek nenek gue nantinya.
Kami bener-bener excited dengan ide mudik bersama ini. Ini adalah pengalaman pertama kali di hidup gue bisa mudik saat lebaran ke rumah kakek gue dan kakek nenek pacar gue NAIK MOTOR! Entah di lain taun depan gue bisa mudik begini lagi apa ga.
Tanpa terasa, waktu keberangkatan kami pun tiba. Gue dan Bang Firzy melaksanakan sholat eid dulu di rumah kami masing-masing. Baru setelahnya kami pamit untuk berangkat ke rumah kakek gue. Harusnya, sebelum malam kami udah sampe di sana. Soalnya tanpa tol. Perjalanan dengan motor ini bisa lebih lama dari biasanya.
Alhamdulillahnya, jalanan di hari H Idul Fitri saat itu bener-bener lengang. Kayaknya belum banyak pemudik jam segitu atau udah banyak pemudik yang berangkat di hari-hari sebelumnya. Maklum, pasti kepikiran sama jatah cuti lebarannya yang terbatas. Syukur banget gue dapet jatah cuti 9 hari (termasuk cuti bersama) karena gue banyak nabung lembur di bulan-bulan sebelumnya. Demi keberangkatan kami ini. Begitu juga Bang Firzy yang banyak ambil job di freelance dia demi nambah uang untuk keberangkatan kami. Insya Alloh semua udah terencana dengan baik.
XOXOXO
“Assalamualaikum, Aki…” kata gue saat kami udah sampe di depan rumah kakek gue. Saat itu udah sore hari tapi masih terang.
Kakek gue lagi tinggal di rumah baru dia bareng istrinya yang baru di daerah Subang, Jawa Barat. Ya, kakek gue menikah lagi dan ini pernikahan ketiga kakek gue. Nenek pertama gue udah meninggal saat gue duduk di bangku SD, nenek kedua gue meninggal saat gue duduk di bangku SMA. Dan kakek gue kembali menikah dengan nenek baru kami ini, janda yang ditinggal meninggal suaminya. Kakek gue menikahinya agar uang pensiunan kakek gue ini bisa untuk menghidupi nenek baru gue ini nantinya, evensaat kakek gue nanti udah ga ada selama nenek baru gue ga menikah lagi.
Nenek gue yang baru ini belum tau banyak tentang cucu dan anak-anak kakek gue. Maklum, mereka baru aja menikah sebelum puasa kemarennya. Itu pun tanpa menghadirkan seluruh anaknya. Cuman dihadiri sama anak pertama dan anak kedua alias uwa gue doang. Tanpa ada cucu satu pun yang hadir. Jadi, emang gue belum deket sama nenek gue ini.
“Waalaikumsalam…” jawab kakek gue dari dalem rumah. Beliau ternyata lagi duduk di ruang tamu sambil baca koran. Kakek gue emang masih suka membaca walaupun usianya udah cukup lanjut. Kakek gue jalan ke depan rumah dan benerin posisi kacamatanya untuk melihat gue lebih jelas. “EMI? YA ALLOH! KATA MAMA PAPA KAMU, KALIAN GA BISA DATENG? SINI MASUUUK!” Kakek gue keliatan super excited ngeliat kedatangan gue. Gue langsung dirangkul masuk ke dalem rumah.
Tapi mendadak gue berenti.
“Ki… Emi kesini ajak Firzy.” kata gue. Gue nengok ke belakang gue. Bang Firzy udah berdiri dengan canggungnya sambil ngegendong tas carrier dan kedua helm kami.
“Eh iya, Pirji. Calonnya, Emi.” Oke, ini bikin awkward moment antara gue dan Bang Firzy. CALON DONG DIKATA DOI. Buset! “Sini ayo masuk…” Kakek gue juga merangkul Bang Firzy untuk masuk ke dalem rumah kakek gue. Biasanya kami emang suka langsung masuk kamar singgasana gue, KALAU di rumah kakek gue yang biasanya. Ini rumah baru beliau, gue ga bisa maen asal masuk aja kan.
Seperti tamu kebanyakan, kami pun duduk di ruang tamu. Soalnya kami belum tau, apa kami dapet kamar apa ga. Walaupun kami pun ga keberatan kalau harus tiduran di depan TV dengan kasur lipet. Namanya juga lagi kumpul keluarga.
Gue duduk di samping kakek gue. Duduk bersebelahan dengan dia. Gue seneng banget-banget bisa punya waktu ngobrol bareng sama kakek gue. Soalnya biasanya kakek gue udah sibuk ngobrol sama uwa, bokap, atau paman bibi gue. Bahkan biasanya kakek gue juga ngobrol sama cucu-cucu yang lain. Ga bisa full fokus sama gue. Jadi quality time kami kebanyakan via telepon doangan. Tapi kali ini, AKI MILIK GUE! Hahaha. Karena sodara dan sepupu gue yang lain belum pada dateng. Katanya sih pada datengnya malem atau besoknya. Toh acara kumpul keluarga gue emang jadinya H2 lebaran. Ga lupa, nenek gue pun ikut nimbrung sama kami sekalian mengenal cucunya yang satu ini. Hahaha.
Kami ngobrol tentang segala hal. Walaupun fokus utamanya ke Bang Firzy sih. Soalnya sebelumnya kan gue sama Bang Firzy kebanyakan jalan-jalan daripada ngobrol bareng. Ini pertama kalinya Bang Firzy bisa ngobrol bareng banyak sama kakek gue.
“Jadi, besok siang aku sama Bang Firzy langsung pergi lagi ya, Ki. Kita udah janjian sama temennya Bang Firzy di Yogyakarta soalnya.” Maaf, Ki. Emi boong untuk ini.
“Yogya? Nginep dimana nanti di Yogya?” tanya kakek gue ke arah Bang Firzy. Ya wajar sih kakek gue minta jawaban ke Bang Firzy. Gue emang ga pernah sama sekali ke daerah Jawa Tengah hingga Timur sendirian seumur hidup gue. Pernah waktu gue pergi sama Bimo dkk ke Yogya dulu tapi kakek gue kan ga tau gue jalan-jalan begitu. Pernah juga waktu kecil gue ikut acara komplek rumah gue yang ziarah ke makam Wali Songo. Itu pun satu komplek naik bus, ga sendirian begini. Gue diitung sendiri karena Bang Firzy itu completely stranger bagi kakek gue.
“Di Yogya nanti ketemu sama temen-temen yang lain, Ki. Jadi janjian di sana, nginep di rumah keluarga temen yang ada di sana.” Oke, keboongan lain yang jadi keboongan ciri khas kami kayaknya : nginep di rumah temen. Maaf ya, Ki. Emi diajarin Bang Firzy boong masalah ini. Hahaha.
“Hmm… Kamu tau jalannya?”
“Searah sama jalur mudik saya kalau mau ke Kota T, rumah kakek saya kok, Ki. Jadi, insya Alloh saya hapal dan terbiasa sama rutenya. Paling nanti yang rada belum hapal jalannya itu dari sini untuk motong jalur tengah ke arah Yogya-nya, Ki.” Kemudian Bang Firzy dan kakek gue diskusi panjang tentang ancang-ancang arah jalan yang mesti ditempuh kami untuk sampe ke Yogyakarta.
Jujur, pengetahuan mereka berdua tentang arah jalan ini bener-bener ketjeh. Apalagi ingetan kakek gue yang udah tua ini, masih encer bener. Dulu ternyata kakek gue demen jalan-jalan juga naik motor. Makanya beliau hapal banyak jalan. Ini sesuatu hal yang baru gue tau. Gue diem aja merhatiin obrolan mereka. Nenek gue kembali ke belakang entah untuk ngapain itu. Nenek baru gue itu keliatan masih cukup gesit untuk melakukan aktivitas rumah tangga sendiri. Saat gue nawarin bantuin pun, beliau menolak. Kakek gue jadinya minta gue untuk ngobrol sama beliau aja.
Awalnya obrolan kami agak kaku dan Bang Firzy keliatan canggung banget ditanyain ini itu bahkan mengemukakan pendapat dia. Tapi seiring berjalannya waktu, Bang Firzy dan kakek gue mulai akrab. Gue suka gimana mereka ternyata nyambung ngebahas banyak hal.
Tanpa terasa, udah hampir malam. Gue dan Bang Firzy diarahin untuk bawa barang kami ke dalam kamar. Kamar tamu di rumah kakek gue cuman satu. Di depan kamar itu, ada kasur lipet untuk tiduran di depan TV. Ruang tamunya pun cukup gede kalau mau ngegelar kasur lipet juga di sana. Rumah kakek gue yang baru ini ga sebesar rumah lama dia. Tapi kakek gue keliatan nyaman di sini, karena mungkin kalau harus sendirian di rumah lamanya, selalu mengenang memorinya dengan almarhum nenek pertama gue. Soalnya kakek gue tinggal di rumah berbeda juga dengan nenek kedua gue.
“Kamu sama Pirji tidur di sini aja ya… Punten kalau kasurnya kasur kapuk, ga kasur busa kayak di rumah ya. Wayahna atuh namanya juga di kampung. Sok atuh istirahat dulu… Nanti makan abis Nini sama Aki dari Mesjid nya?” Gue bingung mau jawab gimana soalnya saat itu gue lebih fokus ke pernyataan kalau gue dan Bang Firzy bakalan tidur bareng di kamar tamu RUMAH KAKEK GUE.
TIDUR BARENG LHO! BUSET! GA TAKUT TERJADI HAL YANG SANGAT AMAT DIINGINKAN APA TERJADI DI ANTARA KAMI???
Tapi karena kami ga enak sama kakek dan nenek gue, belum lagi nanti kalau sodara dan sepupu gue yang lain ikutan dateng terus kepengen tidur di kamar, jadi kami sengaja ga nutup pintunya. Bang Firzy udah tiduran di kasur aja pas dikasih kamar begini. Kayaknya dia beneran cape banget pengen selonjoran. Sedangkan gue main handphone sambil beralaskan sajadah di lantai.
“Beneran gapapa nih kita tidur bareng di kamar begini?” tanya Bang Firzy sambil natap langit-langit kamar. “Gue ga mau sampe ga dapet restu cuman gara-gara dipikir kelewatan ngedeketin lu lho, Mi.”
“Lha? Kok jadi salah gue? Berasa gue yang kepengen banget bisa tidur sekamar sama lu! Ini kan yang minta kakek nenek gue...”
“Emang lu ga mau sekamar sama gue lagi?” Bang Firzy nengok ke arah gue.
“Ya mau aja sih. Hmm. Emang lu ga mau?”
“baik kalo gue nolak.”
“Nah! Hahaha.”
“Tapi gue ga mau nanti jadi omongan di keluarga lu. Mending gue tidur di ruang tamu aja dah. Enak sofanya. Gede juga buat dipake tiduran. Lu tidur di sini sama sepupu atau sodara lu yang laen kek…”
“Ya gampang itu mah. Kalau lu gapapa, yaudah. Asal jangan sampe sakit aja. Umur udeh tua juga. Perjalanan kita masih panjang lho! Masih ada 1 sampe 2 hari lagi lu mesti full nyetir motor.”
"Bangs*t! Kenapa bawa-bawa umur???"
"Beneran kuat?"
“Ya kan 1 sampe 2 hari itu nanti bisa tidur di hotel. Sekamar pasti kan? Di sini biar gue tidur di luar aja.”
“Hmm." Gue ngeliatin Bang Firzy berusaha ngeliat apa dia serius dengan pernyataannya. "Yaudah… Monggo.”
XOXOXO
“Well. Kita tetep jadinya tidur bareng.”
“Yap.” jawab gue singkat.
“Terus kita berdua dikunciin dari luar sama kakek nenek lu.”
“Yap.” Masih dijawab singkat sama gue.
“Terus lu sama sekali ga tau kalau 3 rumah yang ada di tanah ini semuanya punya kakek lu.”
“Yap.” Masih gue nih ya.
“Dan lu juga ga tau kalau sodara lu pada dateng besok karena mereka ga mau nginep di sini.”
“Yap.” Oke, udah tau kan siapa yang jawab begini? Gue.
“Daaaaaaaan sodara lu yang barusan dateng, tidurnya di rumah sebelah”
“Iyaaaap.” Gue masang ekspresi nangis ke arah Bang Firzy.
“Hebat! Surprise!” Bang Firzy ngebanting badannya ke kasur.
Saat itu udah hampir tengah malem. Gue dan Bang Firzy udah mulai ngantuk-ngantuk saat kami ngobrol sama kakek nenek gue dan dua keluarga sodara gue yang dateng sekitar jam 9 malam tadi. Sama-sama cape kayaknya, makanya jadi udah pada ngantuk-ngantuk juga pas ngobrol.
Nenek gue ngajak tidur kita semua. Beliau nganterin kakek ke kamar dan nganterin dua keluarga sodara gue ke rumah sebelah yang ternyata rumah almarhum kakak dari nenek gue ini. Rumahnya cuman diisi sama istrinya beliau dan banyak kamar kosong. Sedangkan rumah sebelah kami yang satu lagi masih diisi keluarga adik dari nenek gue. Gue dan Bang Firzy berniat ikut sodara gue itu, kebetulan ada sepupu gue. Tapi kakek gue minta kami tetep di kamar sebelumnya dan langsung tidur di sana. Beliau pun melarang Bang Firzy untuk tidur di ruang tamu.
Nenek gue juga yang nganterin kami sampai masuk ke dalem kamar dan nutup pintu kamar kami. Untung kami ga kebelet ke kamar mandi, soalnya pintu kamar yang kami pake ini ditutup dari luar oleh nenek gue. Semoga aja ga beneran dikunci, soalnya gue ga akan bisa tidur kalau belum bersih-bersih. Ya, pintu kami ditahan dari luar sama nenek gue.
“Coba lu cek, beneran dikunci ga?” bisik Bang Firzy sambil nunjuk ke arah pintu.
“Sebentar…” Gue jalan ke arah pintu dan ngebuka sedikit pintu kamarnya.
Ngeeeeeeekkkk. Yak, pintunya bunyi gaes!
“Emi?” sapa seseorang dari arah dapur, di samping kamar kami.
“Sial! Nenek gue beloman tidur toh? Masih di dapur?” kata gue dalem hati.
“Iya, Nek?”
“Kamu mau kemana? Ke kamar mandi?”
“Ah ga Nek, tadi lupa mau ngecek sepatu aku di luar udah dibawa masuk apa belum.” Oke, itu alesan terlogis yang keluar dari mulut gue.
Nenek gue menghampiri gue. “Ah seinget Nini mah udah dibawa masuk. Da Nini udah ngunti panto na…” Dan gue sukses nyusahin nenek gue untuk jalan ke depan rumah buat ngecek sepatu gue. “Udah dimasukin ku Nini nya, Mi…” teriak nenek gue dari depan rumah.
“Makasih, Ni…” Gue jalan nyusulin nenek gue. “Nini ga tidur? Emi abis ini mau tidur kok, Ni.”
“Nini kalau belum beres rumah, belum bisa tidur.”
“Emang apa yang belum beres? Udah malem banget lho, Ni…”
“Tinggal nyuci piring…”
“Sini biar Emi yang ngelanjutin nyuci piringnya… Nini tidur aja ya? Besok pagi kan bisa lanjut beberes rumah lagi. Kan besok mau banyak orang dateng, masa Nini bangunnya kesiangan karena malem ini tidur kemaleman?”
Nenek gue terdiam dan senyum ke arah gue. Beliau megang pipi gue. “Yaudah Nini tidur dulu ya… Kamu abis nyuci piring langsung tidur, jangan nambah kerjaan ngurus rumah juga. Kan besok teh kamu mau lanjut ke Yogya na?”
“Siap, Ni… Ayo tidur Nininya…” Gue mengantarkan nenek gue ke depan kamarnya. Sedangkan gue lanjut ke dapur untuk nyuci piring.
Kurang lebih 10 menit gue nyuci piring. Setelahnya gue nyapu dan ngepel, baru lanjut tidur. Tidur di kamar yang sama dengan Bang Firzy.
Saat gue buka pintu, gue liat Bang Firzy udah ketiduran dengan handphoneada di genggaman tangannya. “Kayaknya dia ketiduran sambil main handphone gara-gara nungguin gue beberes tadi…” kata gue.
Gue pun ambil bantal dan guling yang ada, kemudian tidur dengan arah yang berbeda dengan Bang Firzy. Kaki Bang Firzy setara dengan kepala gue, sedangkan kaki gue setara dengan kepala dia. Sengaja, jadi kalau misalnya nenek gue bangunin gue atau sodara maupun sepupu gue maen ngebuka pintu, ga langsung ngeliat kami tidur sebelahan. Oke, sebelum tidur emang bisa jaga jarak denga nada guling di antara kami, tapi kalau udah tidur kan siapa yang bisa jamin tangan si Kang Sayur satu itu ga akan jajan kemana-mana ya kan? Hahaha.
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
27
![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/10/10/10712020_20191010014133.jpg)

dan 
