- Beranda
- Stories from the Heart
Kami dan Senyum pucatmu (Lanjutan Short Stories 2 malam dihotel yg mencekam)
...
TS
embillbelle
Kami dan Senyum pucatmu (Lanjutan Short Stories 2 malam dihotel yg mencekam)
Selamat Pagi, siang, sore dan malam agan agan semua, ijinkan saya untuk kembali membagi cerita picisan berdasarkan apa yang sudah saya sekeluarga alami dengan hadirnya sosok “sederek lain” yang menjadi bagian dari keluarga kecil kami.
Cerita ini merupakan lanjutan dari carita saya sebelumnya yaitu “short stories 2 malam di hotel yg mencekam (End)” , dan disarankan membaca cerita saya sebelumnya dikarenakn cerita yang akan saya sampaikan sekarang masih ada sangkut pautnya dengan Cerita sebelumnya
Bissmillahirrohmanirrohim...cerita ini dimulai.
Pagi yang kacau
Konspirasi awal..
Sedikit flash back
Konspirasi lagee 1
Konspirasi lagee 2
Konspirasi lagee 3
Kejutan..
Kedatangan mereka
Antara jalinan pertemanan yg baru & dia yg tumbang ...
Apalagi nehh ras ??
Sebuah rasa penasaran
Sekilas sosok mahluk lain...
Dia dan masa laluku
Entah apa lagi ...
Dewi Arum
Sebuah kepanikan dan kelegaan
Dini hari yang kelam
Setitik keberanian
Tangismu
Terluka
Kenyataan yang memilukan
Bapak bapak penolong
Candamu
A Failed mission
Sebuah ide
Sebuah kebetulan dan kesengajaan
Seklumit masa lalu 1
Seklumit masa lalu 2
Dena Ayuning Tyas 2
Dena Ayuning Tyas 3
Pertemuan yang tidak diharapkan
Keberhasilan yang tertunda
Sebuah pengakuan
permintaan tolong
Cubit cubitan
Diantara teman temanmu
Gilanya aku
Dipertengahan malam
Mr or mrs Poch ?
Mereka datang
Negotiations that failed
Bluff each other
Pertempuran dengan jasadku
Lanjut Lagi Dab
dia
Tanda itu
Minggu Pagi
Taman Kota
Ronda
In Memoriam
The first step
Looking for clues
First clue
The next first clue
Next step
Uncontrolled
Escape
In your arms
End of the story of this chapter I
End of the story of this chapter II
Update maneh
A Story about me in the past
Cerita ini merupakan lanjutan dari carita saya sebelumnya yaitu “short stories 2 malam di hotel yg mencekam (End)” , dan disarankan membaca cerita saya sebelumnya dikarenakn cerita yang akan saya sampaikan sekarang masih ada sangkut pautnya dengan Cerita sebelumnya
Bissmillahirrohmanirrohim...cerita ini dimulai.
Pagi yang kacau
Konspirasi awal..
Sedikit flash back
Konspirasi lagee 1
Konspirasi lagee 2
Konspirasi lagee 3
Kejutan..
Kedatangan mereka
Antara jalinan pertemanan yg baru & dia yg tumbang ...
Apalagi nehh ras ??
Sebuah rasa penasaran
Sekilas sosok mahluk lain...
Dia dan masa laluku
Entah apa lagi ...
Dewi Arum
Sebuah kepanikan dan kelegaan
Dini hari yang kelam
Setitik keberanian
Tangismu
Terluka
Kenyataan yang memilukan
Bapak bapak penolong
Candamu
A Failed mission
Sebuah ide
Sebuah kebetulan dan kesengajaan
Seklumit masa lalu 1
Seklumit masa lalu 2
Dena Ayuning Tyas 2
Dena Ayuning Tyas 3
Pertemuan yang tidak diharapkan
Keberhasilan yang tertunda
Sebuah pengakuan
permintaan tolong
Cubit cubitan
Diantara teman temanmu
Gilanya aku
Dipertengahan malam
Mr or mrs Poch ?
Mereka datang
Negotiations that failed
Bluff each other
Pertempuran dengan jasadku
Lanjut Lagi Dab
dia
Tanda itu
Minggu Pagi
Taman Kota
Ronda
In Memoriam
The first step
Looking for clues
First clue
The next first clue
Next step
Uncontrolled
Escape
In your arms
End of the story of this chapter I
End of the story of this chapter II
Update maneh
A Story about me in the past
Diubah oleh embillbelle 04-11-2020 22:47
MFriza85 dan 31 lainnya memberi reputasi
30
372.6K
2.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
embillbelle
#2179
Awal Oktober
End of the story of this chapter II
In memoriam adik Ba** ****ra
(01012019)
Sore ini cuaca terlihat mendung ketika mobil suv hitam milik Yusuf dan satu unit mobil ambulans sudah terparkir di depan rumah cik clara,
Aku hanya berdiri tertegun di depan pintu yang masih tertutup bersama pak rt, pak ari yang merupakan sekretaris rt dan pak parman koordinator keamanan rt yang merupakan pensiunan dari korps baret merah terlihat tengah berbincang dengan dua orang pemuda yang telah disiapkan pak rt sebagai petugas penggalian nanti, sedangkan dokter imam sedang berbincang dengan yusuf bersama petugas ambulans yang berusia sekitar lima puluh tahunan di arah kanan depan rumah, entah apa yang meraka bicarakan.
Masalah ini memang sengaja kami rahasiakan dari warga berdasarkan dari kesepakatan rapat pengurus rt di perumahan kami untuk menghindari hal hal yang tidak kami inginkan, sehingga sekarang hanya beberapa warga yang kebetulan melintas terlihat penasaran tetapi tidak berani untuk mendekat dan hanya lewat saja.
Bebarapa saat kemudian yusuf berjalan kearahku bersama dr Imam kemudian berdiri disamping kananku menunggu petugas ambulans yang sedang berjalan kebelakang mobil, membuka pintu belakang kemudian bergegas berjalan ke arah kami sambil menenteng kantung besar berwarna kuning dengan tanda palang merah tepat ditengah -tengahnya. Petugas ini kemudian menganggukkan kepada pelan dihadapan yusuf. Semua terlihat dalam wajah yang tercekam tegang.
“sudah siap pak rt???” tanya yusuf kepada pak rt sambil sedikit memajukan badannya
“sudah pak”
“mana yang bertugas untuk pengalian nanti pak ??”
“itu , sudah saya siapkan dua orang” jawab pak rt sambil menunjuk dua pemuda yang masih berbincang dengan pak parman dengan alat alat penggalian seperti cangkul, linggis, besi kecil dan golok terbungkus rapi di dalam tas ransel usang milik tentara berwarna hijau didepan mereka.
“baik mari kita mulai pak, supaya tidak kemalaman”
“brow.. sudah siap ya, tolong buka pintunya kita segera mulai dan tunjukkan tempat dimana sekiranya tubuh korban di kuburkan” kata yusuf dengan kalimat yang tegas kepadaku
aku hanya mengangguk tanpa kata dan segera membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang sudah diberikan cik clara sebelumnya kepadaku dimalam pendakian dengannya semalam
Tanpa membuang waktu lagi kami segera beranjak dan menuju kamar tamu dimana berdasarkan penerawangan lewat budiman, tubuh ba** dikubur,
setelah kami didalam, bergegas pak rt menutup pintu rumah dan menguncinya, kemudian aku menghidupkan lampu kamar tamu dan ruang tamu supaya terang, karena kurangnya pencahayaan. Tidak berapa lama kemudian kami yang berjumlah delapan orang sudah berada didalam kamar yang luasnya berukuran sekitar enam belas meter.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dua orang yang merupakan penggali yang sudah disiapkan oleh pak rt melakukan penggeseran bed kemudian kami minta letakkan letakkan di ruang tamu, karena menurut petunjuk yang aku dapatkan, bahwa posisi tubuh ba** yang dikuburkan berada di sekitar pojok dan sebelah kanan kamar ini
“Mas lihat …...” seorang penggali berbicara kepadaku sambil menunjuk ke arah pemasangan delapan keramik yang berwarna lebih tua dipasang dua baris dan masing masing baris terdapat emapat kotak keramik dengan warna yang lebih tua dibanding dengan warna keramik lantai yang lama.
“ini mas, disitu nanti penggaliannya” kataku sambil menganggukkan kepalaku,
“nanti kalau sudah selesai keramik yang baru tolong dipasangkan besok pagi ya mas, besok pagi aku kesini untuk membawa bahan bahannya”
“baik mas” jawab mas mas penggali kepadaku sambil mengeluarkan alat alat untuk pembongkaran
Setelah pak RT memimpin doa, akhirnya penggalian dimulai dengan mencukil ke delapan keramik terlebih dahulu,
tiba tiba yusuf menarik tanganku dan berjalan menuju ke ruang tamu
“kalau sampai apa yang lo sampaikan ga bener pie bro”
“argghh..ga tau aku, tapi ga ada salahnya khn kita mencoba”
“lagi pula pak rt juga setuju mengenai pembongkaran ini, berdoa aja semoga apa yang aku lihat pada saat penerawangan itu benar adanya, buktinya ada pemasangan keramik yang beda bukan ???” jawabku meyakinkan diri, walaupun dalam hati berkecamuk rasa was was yang tidak terkira
“iya wis...sini bagi rokoknya” kata yusuf sambil nyengir kepadaku
aku, dr imam dan yusuf berbincang di sofa ruang tamu sedangkan pak rt, pak parman dan pak ari mengawasi proses penggalian yang saat aku lihat baru sampai sekitar betis orang dewasa
sesaat suasana hening tercipta diantara kami bertiga dan hanya suara cangkul yang merobek tanah terdengar dengan jelas sampai ke ruang tamu ini, karena aku terus aja berdoa semoga apa yang kami lakukan ini dapat membuahkan hasil yang kami inginkan
"Jangan khawatir mas, jika kita berniat baik pasti akan ditunjukkan oleh yang maha kuasa” kata dr imam tiba tiba smbil menepuk pahaku, sepertinya dr imam paham apa yang sedang aku rasakan dan pikirkan.
“iya dok semoga” timpalku dengan nada pelan sambil kusunggingkan senyumku
"Ayo agak cepat biar ga keburu larus malam !!!" teriak pak rt tidak terlalu keras sambil menyalakan senter ke arah penggalian dan mengarahkan cahayanya ke dalam lubang
“pak rt ada tulang manusia !!! “ teriak salah satu penggali sambilmenghentikan penggalian pada kedalaman selutut
Yusuf telihat dengan cepat bangkit dari duduknya dan berjalan setengah berlari menuju kamar yang kemudian aku ikuti beserta dokter imam
“mas coba di gali lagi tapi jangan pake cangkul, tapi linggis atau golok, pelan pelan ya jangan sampai terkena tulang korban kalau bisa supaya tidak rusak” teriak yusuf
ke dua orang yang masih didalam lubang kemudian mengorek ngorek lubang dngan hati hati menggunakan linggis dan golok
semakin lama akhirnya terlihat dengan jelas sebentuk tulang rangka utuh seukuran anak anak dengan menggunakan kaos putih yang terlihat kusam dan kotor berlengan pendek dengan gambar lambang superman berwarna merah tepat di dada, dan bercelana panjang catun berwarna abu abu terlihat dengan posisi terbaring lurus
“mas tolong naik aja, biar aku yang turun” kataku kepada dua orang penggali yang sudah menyelesaikan penggaliannya
aku langsung turun dengan hati hati supaya tidak menginjak tulang yang ada di bawahku
dadaku berasa sesak, melihat kondisi tulang rangka yang aku lihat, air mataku tanpa terasa deras mengalir, dengan berlahan aku mengambil tulang yang tersusun dibawahku dengan hati hati dan menempatkan di dalam kantong jenazah yang sudah disiapkan oleh petugas ambulans sebelumnya di tepian lubang.
“brow, pelan pelan, jangan sampai ada yang tertinggal”
“awas geser dikit aku juga mau turun ...” kata yusuf smbil menyusulku turun ke dalam lubang yang hanya sedalam lututku dan membantu mengambili tulang yang tersisa di lubang
Menjelang jam sepuluh malam, pengumpulan tulang kerangka selesai, dilanjutkan dengan mengembalikan kembali tanah galian ke dalam lubang, terlihat pancaraan kelegaan dari kami yang ada di rumah ini, karena apa yang kami lakukan ternyata tidak sia sia,
“brow…….” dengan tersenyum yusuf memberikan dua jempol kepadaku, yang aku balas dengan anggukan dan senyuman
“Bapak bapak sekalian, terima kasih atas semuanya, masalah ini akan saya teruskan supaya terungkap dengan baik nantinya, dan saya mohon pamit untuk mengawal jenasah ini menuju ke rumah sakit” kata yusuf sambil menyalami kami semua
Mobil ambulance berjalan cepat meninggalakan rumah cik clara tanpa menyalakan sirine untuk menghindari penasaran warga kompleks menuju rumah sakit dengan kawalan yusuf yang ada di belakangnya.
“Pak Rt, Dokter Imam, Pak Ari, Pak Parman dan mas mas, terima kasih atas bantuan dan dukungannya mengenai masalah ini, saya sangat hargai semua kebaikan bapak bapak dan mas mas sekalian” kataku sambil menyalami ke lima orang yang ada di depanku
“sama sama mas adit, semoga apa yang sudah kita lakukan ini mendapat balasan yang berlipat oleh Allah SWT ….. Aamiin” jawab Pak rt dengan membalas uluran tanganku
*****
Dengan menunduk dan sambil memasukkan kedua tanganku ke kantong celana jeansku, aku merasakan kedinginan dan rasa rasanya nafas yang aku hembuskan mengeluarkan uap air yang terlihat oleh mata, barangkali hidungku pun sudah memerah karena aku merasakan sedikit berair saat ini,
Gerimis semakin lama berganti agak deras dan kabutpun mulai terlihat turun di seantero kompleks ini, aku segera mempercepat langkah menyusuri jalan kompleks sepulang dari rumah cik clara untuk segera sampai kerumah, merebahkan tubuh yang sangat butuh istirahat, karena dalam beberapa hari secara marathon berupaya untuk segera memecahkan masalah mengenai ba**, dan pada akhirnya apa yang telah aku lakukan membuahkan hasil seperti yang aku inginkan.
“hatchiii…… arhhhhh” aku kembali menyeka cairan bening dari hidung dengan sapu tangan yang selalu aku bawa kemanpun aku berada
aku memejamkan mataku sesaat karena tiba tiba aku merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhku walaupun tidak terlalu kencang
“Deg...” darahku seketika berdesir saat aku rasakan ada sentuhan tangan yang kemudian berganti menjadi genggaman pada tanagn kiriku dengan eratnya
Tapi rasa kagetku serta merta hilang saat aku membuka mataku dengan berlahan,
Aku tersenyum lebar tatkala melihat anak laki laki dengan menggunakan kaos putih berlengan pendek dengan gambar lambang superman berwarna merah tepat di dada dan bercelana panjang catun berwarna abu abu berjalan beriringan denganku sambil menggandeng tangan kiriku dengan erat
terlihat senyuman lepas disana, wajahnya yang bahagia dan berseri begitu jelas terpancar saat kepalanya mendongak kearah wajahku bersamaan belaian angin pada rambutnya yang teriap
sambil tetap berjalan menuju rumahku yang sudah terlihat diujung depan sana, aku membalas tatapan matanya yang berbinar dengan senyuman yang gak pernah lepas dari bibir ini
Hilanglah sudah rasa cape, berganti rasa syukur yang tak terkira kepada Allah SWT atas apa yang aku terima selama ini.
End of the story of this chapter II
In memoriam adik Ba** ****ra
(01012019)
Sore ini cuaca terlihat mendung ketika mobil suv hitam milik Yusuf dan satu unit mobil ambulans sudah terparkir di depan rumah cik clara,
Aku hanya berdiri tertegun di depan pintu yang masih tertutup bersama pak rt, pak ari yang merupakan sekretaris rt dan pak parman koordinator keamanan rt yang merupakan pensiunan dari korps baret merah terlihat tengah berbincang dengan dua orang pemuda yang telah disiapkan pak rt sebagai petugas penggalian nanti, sedangkan dokter imam sedang berbincang dengan yusuf bersama petugas ambulans yang berusia sekitar lima puluh tahunan di arah kanan depan rumah, entah apa yang meraka bicarakan.
Masalah ini memang sengaja kami rahasiakan dari warga berdasarkan dari kesepakatan rapat pengurus rt di perumahan kami untuk menghindari hal hal yang tidak kami inginkan, sehingga sekarang hanya beberapa warga yang kebetulan melintas terlihat penasaran tetapi tidak berani untuk mendekat dan hanya lewat saja.
Bebarapa saat kemudian yusuf berjalan kearahku bersama dr Imam kemudian berdiri disamping kananku menunggu petugas ambulans yang sedang berjalan kebelakang mobil, membuka pintu belakang kemudian bergegas berjalan ke arah kami sambil menenteng kantung besar berwarna kuning dengan tanda palang merah tepat ditengah -tengahnya. Petugas ini kemudian menganggukkan kepada pelan dihadapan yusuf. Semua terlihat dalam wajah yang tercekam tegang.
“sudah siap pak rt???” tanya yusuf kepada pak rt sambil sedikit memajukan badannya
“sudah pak”
“mana yang bertugas untuk pengalian nanti pak ??”
“itu , sudah saya siapkan dua orang” jawab pak rt sambil menunjuk dua pemuda yang masih berbincang dengan pak parman dengan alat alat penggalian seperti cangkul, linggis, besi kecil dan golok terbungkus rapi di dalam tas ransel usang milik tentara berwarna hijau didepan mereka.
“baik mari kita mulai pak, supaya tidak kemalaman”
“brow.. sudah siap ya, tolong buka pintunya kita segera mulai dan tunjukkan tempat dimana sekiranya tubuh korban di kuburkan” kata yusuf dengan kalimat yang tegas kepadaku
aku hanya mengangguk tanpa kata dan segera membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang sudah diberikan cik clara sebelumnya kepadaku dimalam pendakian dengannya semalam
Tanpa membuang waktu lagi kami segera beranjak dan menuju kamar tamu dimana berdasarkan penerawangan lewat budiman, tubuh ba** dikubur,
setelah kami didalam, bergegas pak rt menutup pintu rumah dan menguncinya, kemudian aku menghidupkan lampu kamar tamu dan ruang tamu supaya terang, karena kurangnya pencahayaan. Tidak berapa lama kemudian kami yang berjumlah delapan orang sudah berada didalam kamar yang luasnya berukuran sekitar enam belas meter.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dua orang yang merupakan penggali yang sudah disiapkan oleh pak rt melakukan penggeseran bed kemudian kami minta letakkan letakkan di ruang tamu, karena menurut petunjuk yang aku dapatkan, bahwa posisi tubuh ba** yang dikuburkan berada di sekitar pojok dan sebelah kanan kamar ini
“Mas lihat …...” seorang penggali berbicara kepadaku sambil menunjuk ke arah pemasangan delapan keramik yang berwarna lebih tua dipasang dua baris dan masing masing baris terdapat emapat kotak keramik dengan warna yang lebih tua dibanding dengan warna keramik lantai yang lama.
“ini mas, disitu nanti penggaliannya” kataku sambil menganggukkan kepalaku,
“nanti kalau sudah selesai keramik yang baru tolong dipasangkan besok pagi ya mas, besok pagi aku kesini untuk membawa bahan bahannya”
“baik mas” jawab mas mas penggali kepadaku sambil mengeluarkan alat alat untuk pembongkaran
Setelah pak RT memimpin doa, akhirnya penggalian dimulai dengan mencukil ke delapan keramik terlebih dahulu,
tiba tiba yusuf menarik tanganku dan berjalan menuju ke ruang tamu
“kalau sampai apa yang lo sampaikan ga bener pie bro”
“argghh..ga tau aku, tapi ga ada salahnya khn kita mencoba”
“lagi pula pak rt juga setuju mengenai pembongkaran ini, berdoa aja semoga apa yang aku lihat pada saat penerawangan itu benar adanya, buktinya ada pemasangan keramik yang beda bukan ???” jawabku meyakinkan diri, walaupun dalam hati berkecamuk rasa was was yang tidak terkira
“iya wis...sini bagi rokoknya” kata yusuf sambil nyengir kepadaku
aku, dr imam dan yusuf berbincang di sofa ruang tamu sedangkan pak rt, pak parman dan pak ari mengawasi proses penggalian yang saat aku lihat baru sampai sekitar betis orang dewasa
sesaat suasana hening tercipta diantara kami bertiga dan hanya suara cangkul yang merobek tanah terdengar dengan jelas sampai ke ruang tamu ini, karena aku terus aja berdoa semoga apa yang kami lakukan ini dapat membuahkan hasil yang kami inginkan
"Jangan khawatir mas, jika kita berniat baik pasti akan ditunjukkan oleh yang maha kuasa” kata dr imam tiba tiba smbil menepuk pahaku, sepertinya dr imam paham apa yang sedang aku rasakan dan pikirkan.
“iya dok semoga” timpalku dengan nada pelan sambil kusunggingkan senyumku
"Ayo agak cepat biar ga keburu larus malam !!!" teriak pak rt tidak terlalu keras sambil menyalakan senter ke arah penggalian dan mengarahkan cahayanya ke dalam lubang
“pak rt ada tulang manusia !!! “ teriak salah satu penggali sambilmenghentikan penggalian pada kedalaman selutut
Yusuf telihat dengan cepat bangkit dari duduknya dan berjalan setengah berlari menuju kamar yang kemudian aku ikuti beserta dokter imam
“mas coba di gali lagi tapi jangan pake cangkul, tapi linggis atau golok, pelan pelan ya jangan sampai terkena tulang korban kalau bisa supaya tidak rusak” teriak yusuf
ke dua orang yang masih didalam lubang kemudian mengorek ngorek lubang dngan hati hati menggunakan linggis dan golok
semakin lama akhirnya terlihat dengan jelas sebentuk tulang rangka utuh seukuran anak anak dengan menggunakan kaos putih yang terlihat kusam dan kotor berlengan pendek dengan gambar lambang superman berwarna merah tepat di dada, dan bercelana panjang catun berwarna abu abu terlihat dengan posisi terbaring lurus
“mas tolong naik aja, biar aku yang turun” kataku kepada dua orang penggali yang sudah menyelesaikan penggaliannya
aku langsung turun dengan hati hati supaya tidak menginjak tulang yang ada di bawahku
dadaku berasa sesak, melihat kondisi tulang rangka yang aku lihat, air mataku tanpa terasa deras mengalir, dengan berlahan aku mengambil tulang yang tersusun dibawahku dengan hati hati dan menempatkan di dalam kantong jenazah yang sudah disiapkan oleh petugas ambulans sebelumnya di tepian lubang.
“brow, pelan pelan, jangan sampai ada yang tertinggal”
“awas geser dikit aku juga mau turun ...” kata yusuf smbil menyusulku turun ke dalam lubang yang hanya sedalam lututku dan membantu mengambili tulang yang tersisa di lubang
Menjelang jam sepuluh malam, pengumpulan tulang kerangka selesai, dilanjutkan dengan mengembalikan kembali tanah galian ke dalam lubang, terlihat pancaraan kelegaan dari kami yang ada di rumah ini, karena apa yang kami lakukan ternyata tidak sia sia,
“brow…….” dengan tersenyum yusuf memberikan dua jempol kepadaku, yang aku balas dengan anggukan dan senyuman
“Bapak bapak sekalian, terima kasih atas semuanya, masalah ini akan saya teruskan supaya terungkap dengan baik nantinya, dan saya mohon pamit untuk mengawal jenasah ini menuju ke rumah sakit” kata yusuf sambil menyalami kami semua
Mobil ambulance berjalan cepat meninggalakan rumah cik clara tanpa menyalakan sirine untuk menghindari penasaran warga kompleks menuju rumah sakit dengan kawalan yusuf yang ada di belakangnya.
“Pak Rt, Dokter Imam, Pak Ari, Pak Parman dan mas mas, terima kasih atas bantuan dan dukungannya mengenai masalah ini, saya sangat hargai semua kebaikan bapak bapak dan mas mas sekalian” kataku sambil menyalami ke lima orang yang ada di depanku
“sama sama mas adit, semoga apa yang sudah kita lakukan ini mendapat balasan yang berlipat oleh Allah SWT ….. Aamiin” jawab Pak rt dengan membalas uluran tanganku
*****
Dengan menunduk dan sambil memasukkan kedua tanganku ke kantong celana jeansku, aku merasakan kedinginan dan rasa rasanya nafas yang aku hembuskan mengeluarkan uap air yang terlihat oleh mata, barangkali hidungku pun sudah memerah karena aku merasakan sedikit berair saat ini,
Gerimis semakin lama berganti agak deras dan kabutpun mulai terlihat turun di seantero kompleks ini, aku segera mempercepat langkah menyusuri jalan kompleks sepulang dari rumah cik clara untuk segera sampai kerumah, merebahkan tubuh yang sangat butuh istirahat, karena dalam beberapa hari secara marathon berupaya untuk segera memecahkan masalah mengenai ba**, dan pada akhirnya apa yang telah aku lakukan membuahkan hasil seperti yang aku inginkan.
“hatchiii…… arhhhhh” aku kembali menyeka cairan bening dari hidung dengan sapu tangan yang selalu aku bawa kemanpun aku berada
aku memejamkan mataku sesaat karena tiba tiba aku merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhku walaupun tidak terlalu kencang
“Deg...” darahku seketika berdesir saat aku rasakan ada sentuhan tangan yang kemudian berganti menjadi genggaman pada tanagn kiriku dengan eratnya
Tapi rasa kagetku serta merta hilang saat aku membuka mataku dengan berlahan,
Aku tersenyum lebar tatkala melihat anak laki laki dengan menggunakan kaos putih berlengan pendek dengan gambar lambang superman berwarna merah tepat di dada dan bercelana panjang catun berwarna abu abu berjalan beriringan denganku sambil menggandeng tangan kiriku dengan erat
terlihat senyuman lepas disana, wajahnya yang bahagia dan berseri begitu jelas terpancar saat kepalanya mendongak kearah wajahku bersamaan belaian angin pada rambutnya yang teriap
sambil tetap berjalan menuju rumahku yang sudah terlihat diujung depan sana, aku membalas tatapan matanya yang berbinar dengan senyuman yang gak pernah lepas dari bibir ini
Hilanglah sudah rasa cape, berganti rasa syukur yang tak terkira kepada Allah SWT atas apa yang aku terima selama ini.
“Adik Ba** ****ra, tenang disana ya, aku yakin Allah telah menempatkanmu di tempat yang indah, dimana tempat itu yang ada hanya keceriaan dan kegembiraan bersama para malaikat yang menjagamu……………….”
MFriza85 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tutup